Seperti Mata Dewa(Ta)

IMG-20180304-WA0179

Perkebunan Teh Dewata|© Komunitas Aleut

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Saya mungkin tak punya keberuntungan untuk memperoleh kemewahan berlibur ke tempat-tempat eksotis yang penuh sanjung dan publisitas, namun saya mendapat kehormatan untuk dapat ikut dalam perjalanan momotoran dengan Komunitas Aleut dan Djelajah Priangan.

Bagi saya perjalanan bersama mereka bagaikan berpergian ke Wakatobi atau Bali. “Semua rasa hanya ada dalam pikiranmu,” begitu ujar orang yang paling dituakan di Komunitas Aleut pernah berkata. Maksudnya mungkin kita sendiri yang dapat memberi arti bagi perjalanan dan pengalaman yang kita dapatkan. Baca lebih lanjut

Jalinan Wisata Jalur Kereta Api Mati & Wisata Perkebunan Rancabali, Ciwidey (Bagian I)

Oleh : Rizka Fadhilla (@rizka_fdhlla)

Berikut ini ringkasan cerita heritage tour dengan judul “Susur Jejak Spoorwegen Bandjaran-Tjiwidej” yang diselenggarakan oleh kelompok mooibandoeng dua minggu lalu. Para peserta tour tidak hanya datang dari Bandung atau sekitarnya, tapi beberapa sengaja datang bergabung dari Jakarta. Sebagian peserta adalah para travel blogger yang cukup aktif di media sosial.

Menyimak pembukaan kegiatan sebelum berangkat dari Kedai Preanger di Jalan Solontongan 20D, tour ini sepertinya tidak melulu berbicara soal sejarah kereta api di Priangan, tapi juga tentang kemungkinan pengembangan wisata sejarah di kawasan Bandung Selatan. Paling sedikit, ada dua potensi wisata sejarah yang menarik, yaitu wisata sejarah kereta api dan wisata sejarah perkebunan. Selain itu ada berbagai potensi wisata alam lainnya, termasuk touring, yang tidak terlalu banyak dibahas dalam program ini. Baca lebih lanjut

Ciletuh: Ratusan Kilometer yang Basah

Oleh: Nurul Fatimah (@nurulf90)

“Lu kudu bikin catetan rul. Kudu! Setiap detil tempatnya, ambil foto yang banyak, nulis!”

Begitu kiranya isi kepala menghadapi kesempatan ke-5 untuk susur pantai. Ini yang ke-5, tapi pertama bagi saya. Bayangkan. Empat kali saya harus absen diiringi ketabahan mengunduh dan melihat tiap gambar yang dibagikan di linimasa oleh kawan-kawan saya.

Susur pantai. Jelas bukan dari namanya? Kami beberapa motor iringi-iringan menyusur ratusan kilo menjauhi Bandung. Target kali ini, Ciletuh. +200 Km ke arah barat Kota Bandung. Nama Ciletuh menjadi banyak diperbincangkan setelah kawasan tersebut diakui UNESCO sebagai geopark nasional. Perjalanan dirancang tiga hari dua malam. Dimulai Jumat malam, 26 Januari 2018.

Tapi, hari Jumat saya harus pulang telat. Pekerjaan sebagai buruh pabrik masih meminta untuk mengutamakan dan menuntaskan supply sebelum bersenang-senang. Maka jadilah saya batal berangkat di hari itu. Pukul 21.00 WIB kawan-kawan lain mulai melaju dari Solontongan dalam rintikan hujan, saya mengiringinya dengan doa-doa keselamatan. Baca lebih lanjut

“Spirit” Max I. Salhuteru dari Sinumbra-Sperata

“Spirit” Max Salhuteru dari Sinumbra-Sperata

Max I. Salhuteru | Photo Komunitas Aleut

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@alexxxari)

Seperti sudah jadi sebuah kewajiban atau fardhu setiap rombongan khafilah musyafir Komunitas Aleut berkelana ke Sperata-Sinumbra, Ciwidey, selalu singgah ke kue balok Bah Ason. Nama lengkapnya Sonbahsuni, letaknya jongkonya di pinggir pasar dekat perempatan Pabrik Sinumbra dengan jalan ke arah Perkebunan Nagara Kana’an. Jadi bukanlah fardhu ain atau fardhu kifayah tapi fadhu Bahsuni lebih tepatnya.

Di sebrang jongko kue balok Bah Ason terdapat sebuah mesjid yang pada dindingnya terpasang dua prasasti. Prasasti yang paling besar merupakan prasasti pendirian mesjid. Di sana tertulis beberapa nama yang telah berjasa dalam pendirian Mesjid. Namun yang paling menarik adalah terdapat satu nama yang rasanya bukan nama orang sunda, yakni Max I. Salhuteru. Baca lebih lanjut

Dewata yang Masih Menjadi Misteri

Oleh: Aozora Dee (@aozora_dee)

Ngaleut Dewata. Bali? Sepertinya bukan. Ya memang bukan karena Dewata yang dimaksud di sini adalah nama sebuah perkebunan teh di daerah Gunung Tilu, Bandung, sekitar 30 km dari Ciwidey. Kebun seluas 600 ha ini merupakan pemasok bahan baku untuk brand Lipton dan brand lainnya di luar negeri. Keindahan tersembunyi yang harus dicapai dengan melewati jalanan yang sangat rusak. Itulah yang aku baca sekilas tentang Dewata dari berbagai sumber di internet.

Minggu, 30 April 2017 kami berangkat ke Dewata. Kedai Preanger di Jl. Solontongan yang menjadi titik kumpul keberangkatan sudah mulai dipenuhi teman-teman yang akan ikut ngaleut. Terlihat motor-motor sudah berbaris rapi di depan kedai. Motor-motor jarang dicuci bahkan jarang di-service tapi layak jalan dan tetap bisa diajak melewati medan apapun. Asli! Ini bukan ngebagus-bagusin motornya anak Aleut tapi jika kamu mau bukti, silahkan ikut gabung dan lihat sendiri penampakan asli motor mereka.

Rute awal adalah rute aman karena itu masih daerah perkotaan. Kedai – Batununggal – Mengger – Dayeuhkolot – Cisirung – Sayuran – Rancatungku bisa dilewati dengan baik. Begitu masuk ke Bandasari, perjalanan mulai memasuki tahap siaga satu. Jalanan sudah mulai menampakan permukaan kasarnya, kami mulai menemukan jalan berlubang dan genangannya. Terlebih jalan ini baru pertama kali kami lewati sehingga kami sedikit mengandalkan GPS.

Tiba di Leuweung Datar, maka dimulailah perjalanan yang sesunguhnya. Sudah tidak bisa diprediksi bagaimana bentuk jalannya selanjutnya. Leuweung Datar tak sedatar namanya. Dikiranya datar tapi ini malah kebalikannya. 20 motor yang ikut ngaleut harus melewati tanjakan ini. Masya allah… Baca lebih lanjut

Pengalaman Menarik Di Ngaleut Dewata

Oleh: Mey Saprida Yanti (@meysaprida)

Gelap, dingin, mencekam. Tidak pernah terpikir sebelumnya akan mengalami ketiga hal tersebut secara berbarengan, saat ngaleut ke Perkebunan Teh Dewata bersama Komunitas Aleut di penghujung April kemarin. Kalau pulangnya malam hari, saya sih sudah menduga, karena esok hari adalah May Day, libur di hari senin.

Sebelum mulai Ngaleut, beberapa teman sudah mempelajari peta. Rencananya kami akan melalui jalur yang tidak biasa. Belum ada teman yang pernah melaluinya, kecuali dari Buahbatu ke Cangkuang via Mengger.

Dewata, selain nama perkebunan the, juga merupakan nama Gunung. Kebun teh Dewata berada di sekitaran Gunung Tilu yang merupakan hutan konservasi, sehingga banyak hewan yang dilindungi di dalamnya.

Pukul 07.17 menjadi waktu kumpul kami. Sebetulnya diharapkan semua bisa datang lebih pagi karena beberapa jalur yang akan dipilih belum pernah dilewati sebelumnya. Kalau sampai pergi terlalu siang, dijamin semua pegiat akan pulang larut malam.

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 08.00. Semua tampak bersemangat untuk memulai perjalanan. Ada beberapa teman baru yang bergabung, perjalanan didominasi oleh kaum hawa berhijab, membuat para lelaki semakin bersemangat untuk memulai perjalanan. Pengalaman baru telah menanti kami di sana, perjalanan yang kami lalui pasti menjadi perjalanan indah yang tidak terlupakan. Baca lebih lanjut

Ngaleut Sinumbra: Bagian 1 (Cibuni Estate)

Oleh: Warna Sari (@rie1703) dan Chyntiami Ayu Dewi (@chyntiami)

Ini catatan seadanya aja dari mengikuti kegiatan perayaan ulangtahunan Komunitas Aleut yang ke-11 tanggal 20 dan 21 Mei kemarin ke Sinumbra. Di dalam poster kegiatan yang selalu ada setiap minggu itu, judul Ngaleutnya memang begitu saja, “Ngaleut Sinumbra” ditambah keterangan kecil “Refleksi 11 Tahun Komunitas Aleut.” Pun engga banyak tambahan informasi tentang apa saja yang akan dilakukan selama di Sinumbra. Entah kegiatan seperti apa yang namanya refleksi itu. Paling-paling setelah bertanya langsung ke cp Aleut saja baru dapat sedikit bayangan, itu pun di ujung jawabannya ditambahkan keterangan “Ini rundownnya engga fix kok, bisa tiba-tiba berubah tergantung spontanitas di lapangan nanti.”

Okelah, saya putuskan saja untuk ikut Ngaleut Sinumbra ini. Paling engga, satu kegiatan sudah pasti bisa diikuti, yaitu Kelas Literasi pekan ke-94 yang diberi judul “Sejarah Perkebunan Teh.” Saya suka teh dan saya suka suasana perkebunan teh, dua hal ini sudah cukup jadi alasan buat mengikuti kegiatan Komunitas Aleut di Sinumbra. Lagi pula, seminggu ini pekerjaan di kantor bener-bener padat, dan mengikuti kegiatan Komunitas Aleut seperti biasanya sudah bisa jadi jaminan untuk refreshing yang menyenangkan. Iya, semua kegiatan Komunitas Aleut yang rutin setiap minggu itu memang selalu menyenangkan, nah apalagi kalo edisi spesial seperti ini.

Sabtu pagi, saya dan sekitar 18 kawan lain sudah siap berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut di Kedai Preanger, Jl. Solontongan 20-D Buahbatu, menggunakan 10 buah motor biasa, kebanyakan sih motor matik. Jalur yang akan kami lalui sudah diumumkan, yaitu Cibaduyut – Rancamanyar – Cilampeni – Ciwidey – Rancabali – Cibuni dan nanti akan ada kawan lain yang bergabung di sekitar Margahayu. Perjalanan di jalur yang sudah sangat umum ini sangat lancar, engga ada macet atau kepadatan kendaraan kecuali sedikit saja di pusat kota Ciwidey. Katanya jalur biasa ini dipilih supaya cepat sampai di Rancabali dan punya lebih banyak waktu eksplorasi daerah di sekitar perkebunan teh nanti. Baca lebih lanjut

Ngaleut Déwata: Tanjakan, Halimun, jeung Béntang

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Panon poé geus meleték di belah wétan, basa kuring hudang tuluy gura-giru indit ka cai. Minggu, 30 April 2017, kuring saparakanca rék ngaleut ka Déwata. Indit téh tangtu waé kudu isuk-isuk, da ari pabeubeurang mah pamohalan, teuing boa iraha balik deui ka Buahbatu. Cai karasa nyecep kana awak, ma’lum da teu unggal poé kuring mandi isuk-isuk téh, sasarina mah biasa wé mun geus deukeut ka waktu lohor.

Barudak geus jul-jol, sawaréh aya nu anyar, munggaran milu ngaleut. Kira wanci ngaluluh taneuh, rombongan geus siap, nya teu lila bring waé ka belah kidul. Eureun sajongjonan di POM béngsin Sékélimus, teu lila tuluy méngkol ka arah Batununggal, mapay Mengger, tuluy bras ka Jalan Mohamad Toha. Palasari, Cisirung, Rancamanyar diliwatan. Wahangan Ci Tarum katempo coklat kawas bajigur. “Tah, ieu Ci Tarum heubeul, mun itu Ci Tarum anyar,” ceuk kuring ka Méy. Nu dibéré nyaho padu ngabetem, sigana keur ngaregepkeun.

Mun momotoran kieu kuring sakapeung sok kapikiran méré ngaran ka motor sorangan nu geus dibabawa kaditu-kadieu. Ti Sedep, Cikajang, Pameungpeuk, Bayah, Cisalak, Brebes, Majenang, jeung patempatan séjénna ku motor kuring geus katincak. Bagéan handapna geus rujad basa diteunggar ku batu sagedé orok di leuweung saméméh Papandayan. Tapi naon kira-kira pingaraneunana? Mun motor Akay geus boga ngaran nyaéta Si Kuya, tapi motor kuring mah nepi ka anyeuna can boga asma. Kungsi kapikiran rék dibéré ngaran “Aya Jalan Komo Meuntas”, tapi panjang teuing, jeung asa kurang merenah wé deuih. Cag, tunda heula sual ngaran motor, anyeuna urang tuluykeun carita lalampahanna.   Baca lebih lanjut

Menutup April di Rancabolang

Oleh: Chyntiami Ayu Dewi (@chyntiami)

Minggu 30 April 2017, Komunitas Aleut mengadakan kegiatan rutinnya, kali ini berjudul Ngaleut Dewata. Konon Dewata adalah nama sebuah perkebunan teh di kawasan Ciwidey yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya, kali ini para peserta datang lebih awal, mungkin karena mereka merasakan apa yang Neneng rasakan, tak sabar menantikan kejutan apa yang ada di Ngaleut Dewata ini. Kami sudah berada di titik kumpul yang telah ditentukan sebelumnya oleh Komunitas Aleut, di Kedai Preanger, Jalan Solontongan 20-D Buahbatu sejak pukul 07.00 pagi.

Sekitar pukul 08.00 briefing sudah berlangsung, sama seperti briefing-briefing sebelumnya yang meliputi acara perkenalan, pembagian pasangan di perjalanan, dan peyampaian gambaran umum rute yang akan dilewati. Ya, Neneng berpasangan dengan Teh Dewi. Tepat pukul 08.30 Neneng mulai meluncurkan motor matik bersama 20 motor lainnya melewati rute yang telah ditentukan.

Check Point pertama adalah pom bensin di Jl. Sekelimus. Kami semua diwajibkan untuk mengisi bahan bakar terlebih dahulu. Kemudian kami memutar arah memasuki perumahan Batununggal, lalu keluar di Mengger, melewati pabrik coklat yang membuat Neneng lapar seketika. Motor terus melaju ke arah Cisirung-Sayuran-Rancamanyar-Bojongwaru-Rancaengang-Doton-Gandasari-Gandasoli Kidul. Di jalur ini kami sudah mendapat suguhan pemandangan hamparan sawah dan gunung. Neneng yakin ini baru pemanasannya saja karena jalanan yang dilalui masih bisa dibilang sangat mulus dalam kategori Ngaleut Alam.

Kami berhenti sebentar di sebelah tukang kue balok di Rancatungku sebelum menyeberang ke arah Babakan Peuteuy. Kue balok! Sial kue itu mengingatkan kembali pada rasa lapar yang tadi sempat terlupakan. Neneng ditawari kantong hitam berisi kue balok oleh seorang kawan untuk pengganjal lapar. Neneng mengambil satu dan langsung melahapnya. Sialnya, gigitan terakhir kue itu malah membuat lapar semakin membuas.

Baca lebih lanjut

Aku, Kalian, dan Pengalaman Menuju Dewata

Oleh: Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhirama)

Minggu pagi di saat matahari masih malu-malu untuk menampakan diri. Saya dan rekan-rekan Komunitas Aleut sudah bersemangat untuk momotoran ke Dewata. Dewata kali ini bukanlah sebuah tempat berpantai dengan pasir putih dan ratusan bikini berjemuran. Dewata yang akan kami singgahi kali ini adalah sebuah perkebunan teh yang terletak di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Kami berkumpul di Kedai Preanger, Jalan Solontongan 20-D, sekitar pukul 7.30. Sebelum berangkat tentunya alangkah baiknya memastikan lagi semua perlengkapan tak ada yang ketinggalan. Setelah kawan-kawan datang semua dan telah dapat partner untuk mengarungi perjalanan kali ini, maka bersiaplah petualangan akan dimulai. Saya pun mendapat partner Teteh dari Gagak yang datang sedikit terlambat karena menunggu mamang Gojek. Total 20 motor yang ikut momotoran kali ini dengan massa sejumlah 38 orang.

Baca lebih lanjut