Dongeng Bandung #28: Bandung Dulu dan Sekarang – Bagian-2

Irfan Pradana

_______ didongengkan di Perpustakaan Rasia Bandoeng _______

Bagian II

Kita berada di Bandung sekitar tahun 1875. Saat itu, Societeit Concordia oleh beberapa orang kadang dipelesetkan menjadi Discordia (mungkin karena keributan yang setiap saat bisa terjadi antar anggotanya, sebuah fenomena yang sebenarnya lebih sering ditemui di kota-kota kecil!). Tempat itu dulunya berupa bangunan kayu tua milik bupati (dalem bintang) yang dipinjamkan untuk dijadikan soos (klub/tempat berkumpul). Lokasinya berdiri di tempat yang kini menjadi bagian depan toko de Vries & Co., tepat di seberang Jalan Braga (Bragaweg). Di pinggir jalan raya utama tersebut, soos ini memiliki ciri khas kubah segi enam, tempat diletakkannya meja obrolan yang sangat berat dilengkapi cincin besi (untuk pijakan kaki), serta kursi-kursi kokoh yang modelnya sudah tak lagi kita jumpai sekarang.

Kiri: Kantor J.R. de Vries & Co. Di sini juga ada toko buku dan percetakan “De Vries & Fabricius” serta kantor koran De Preanger-bode. Tahun pembuatan foto tidak jelas, tapi di sekitar peralihan abad ke-20. Koleksi Wereldmuseum Amsterdam. Kanan: Societeit Conordia pada tahun 1905. Foto koleksi KITLV-1400376.

Setiap awal malam, orang bisa menemukan “Paman Joost” sedang menikmati bittertje (minuman keras pahit/gin) miliknya. Ia selalu saja berdebat dengan pelayan klub soal takaran minumannya—kadang dirasa terlalu kuat, lalu diubah menjadi terlalu hambar, lalu diubah lagi menjadi terlalu pahit, sehingga akhirnya ia harus menenggak segelas gin lagi untuk menyeimbangkannya! Ia adalah sosok pria tua yang menyenangkan, berperawakan kurus, dengan rambut, kumis, dan jenggot yang sudah beruban. Jika ia tertawa, siapa pun pasti ikut tertawa, betapapun pusingnya kepala Anda akibat mabuk semalam.

Lahan tempat bangunan soos yang sekarang berdiri itu, dulunya adalah milik seorang pribumi. Di atasnya berdiri sebuah rumah papan tua tempat seorang fotografer keliling bernama Wöllusch menjalankan profesinya setiap kali ia singgah di Bandung. Saat itu (sekitar tahun 1879), tempat tersebut berstatus dijual seharga ƒ 700. Belakangan, pengurus Concordia akhirnya membelinya.

Sejarah mengenai soos dan kawasan “Braga” ini mungkin sudah cukup banyak diketahui, terutama tentang bagaimana bangunan-bangunannya didirikan sepotong demi sepotong. Saya katakan sepotong demi sepotong, karena baik gedung soos maupun Aula Braga (Bragazaal) memang dibangun secara bertahap sesuai kebutuhan masa itu.

Tokoh yang memberikan dorongan awal bagi berdirinya kawasan Braga tak lain adalah Residen Van Vleuten. Di lahan yang sekarang ditempati oleh gedung-gedung milik firma Dunlop, dulunya terdapat sebuah hotel dan toko sepatu milik Bingel. Pria ini sebenarnya bisa saja menjadi orang yang sangat kaya raya, namun sayang ia terlalu banyak “berkorban untuk Bacchus” (dewa anggur/terlalu sering mabuk). Konon, ia meminum jenis minuman keras yang berbeda-beda setiap bulannya; misalnya bulan Januari khusus minum bir, bulan Februari khusus anggur port, dan seterusnya. Ketika ia meninggal, rumah-rumahnya dan seluruh lahan tempat bangunan Dunlop, garasi Altman, dan garasi ten Westen (di sebelah barat rumah kontrolir) saat ini berdiri, harus dijual secara lelang publik untuk melunasi utang hipotek. Setiap persil tanah saat itu laku terjual sekitar ƒ 3.500.

Firma Dunlop di Groote Postwe pada tahun 1905. Foto KITLVV 1400394.

Lahan Dunlop tersebut dibeli oleh Tuan van Wijk, yang sekitar dua tahun kemudian menjualnya kembali kepada Dunlop seharga ƒ 7.500. Lahan garasi Altman dibeli oleh Tuan Meijer, yang kemudian menyerahkannya kepada firma Rauch dengan harga ƒ 10.000. (Di rumah ketiga saat itu tinggallah penerima tamu bernama Houtkamp). Sementara itu, persil tanah milik Onderling Belang dan lahan yang kini dihuni Tuan Eilers dulunya adalah milik Dr. Rupert, yang kemudian pindah dari Bandung ke Garut untuk mendirikan sebuah sanatorium di sana.

Seperti yang telah disebutkan, “Braga” diprakarsai oleh Residen Van Vleuten. Beliau adalah sosok yang sangat ketat soal urusan kedinasan dan menuntut bawahannya untuk menjalankan tugas sebaik-baiknya, sesuatu yang sebenarnya wajar saja. Namun, para pegawai di kantor pemerintah saat itu punya kebiasaan datang tidak teratur. Ada yang datang pukul 8.30, ada yang pukul 9.00, bahkan ada yang pukul 9.30; suasananya sangat santai dan bebas. Tapi kebebasan itu tidak berlangsung lama, karena pada suatu pagi, sang Residen sudah berdiri di gerbang kantor sambil memegang arlojinya. Setiap pegawai yang telat mendapat teguran keras, dan Residen menegaskan bahwa mereka semua harus sudah berada di kantor tepat pukul 8 pagi! Meskipun keras di jam kerja, di luar jam dinas beliau adalah sosok pria yang sangat menyenangkan dan berjasa besar dalam menghidupkan kehidupan sosial di kota ini.

Korps musik soos yang ada saat ini juga lahir pada masa Residen Van Vleuten. Bertepatan dengan acara pacuan kuda, seingat saya pada tahun 1881, tiga orang musisi keliling tiba di Bandung. Mereka bertugas memainkan musik untuk menyemarakkan suasana—formasi mereka terdiri dari seorang pemain harpa, pemain biola, dan pemain suling (seorang paman bersama dua keponakannya). Karena mereka menyajikan musik dansa yang begitu luar biasa, manajemen soos akhirnya mengontrak mereka selama setahun, dan kontrak tersebut terus diperpanjang setiap tahunnya. Dua dari mereka (sang paman mengundurkan diri beberapa tahun kemudian dan kembali ke kampung halamannya) sepertinya tidak pernah menyesali kontrak tersebut dan tetap menetap di daerah ini hingga sekarang.

Bentuk Hotel Homann zaman dulu sebelum diubah menjadi bentuk modern yang sekarang kita kenal. Foto oleh KH Verschoor tahun 1910. Koleksi KITLV 155145.

Ada sebuah “tren” masa itu yang kini sudah tak pernah terlihat lagi, yaitu kebiasaan iseng memindahkan barang di malam hari. Misalnya saja, candaan menggulingkan pilar-pilar bangunan. Pernah pada suatu pagi, hampir semua pilar Hotel Homann ditemukan berjejer rebah di tanah layaknya tentara yang tewas di sepanjang jalan. Atau, jika Anda bangun pagi dan pergi ke beranda depan, kadang Anda akan menemukan meja, kursi, dan pot bunga milik tetangga berada di teras Anda; sementara barang-barang Anda sendiri bisa ditemukan pindah ke rumah tetangga sebelah atau bahkan di seberang jalan. “Pemindahan” barang-barang ini selalu dilakukan secara diam-diam sebagai hiburan lanjutan bagi mereka yang pulang larut malam dari soos dengan perut yang tidak sepenuhnya kosong dari alkohol.

Jalan Braga lama sebelum dipenuhi oleh pertokoan modern. Foto dibuat oleh K.H. Verschoor tahun 1911. Koleksi KITLV 155117

Jalan Braga pada waktu itu masih bernama Pedatiweg (Jalan Pedati)—nama ini bahkan masih bisa ditemukan di peta-peta ukur tanah versi lama. Di sisi kiri dan kanan jalan sebagian besar hanya berisi rumah-rumah pribumi dan warung-warung yang terbuat dari bambu, diselingi oleh beberapa rumah yang disewa dan dihuni oleh orang-orang Eropa.

Pasar Baru (Pasar Baroe) dulunya juga merupakan tempat yang sangat kumuh dan berantakan. Suatu hari, seingat saya pada tahun 1883, terjadi kebakaran besar di sana, terutama di bagian barat kantor pos, yang pada akhirnya “membersihkan” dan merapikan seluruh area tersebut.

Pada tahun ’81–’82, wabah penyakit ternak (veepestcordon) membawa banyak perwira dan personel militer ke Bandung. Sebuah barikade penjagaan bambu membentang melintasi wilayah Priangan, dari Utara ke Selatan. Saat itu harga sangat mahal; dua buah cabai saja dihargai satu sen, dan semua barang lainnya menyesuaikan. Bisa dibayangkan bahwa para pemborong proyek tidak pulang dengan tangan kosong ketika urusan itu selesai. Kehadiran militer ini juga menjadi masa keemasan bagi para wanita muda di Bandung. Banyak putra Dewa Mars (prajurit) yang hatinya tertambat di sini, banyak “bunga” yang dipetik, dan banyak janji suci pernikahan yang diikrarkan. Orang pribumi (Kromo) mungkin akan mendeskripsikan masa itu dengan kalimat: “moesim ramé sekali.”

Setiap malam pada masa itu, Anda bisa mendengar para penjaga kampung (kampongwacht) memukul kentongan bambu mereka; terkadang suaranya begitu sayup hingga terbawa ke dalam tidur Anda. Pos-pos penjagaan ada di setiap sudut jalan, dan biasanya dijaga oleh dua orang warga kampung. Jika mereka tidak sedang tertidur (suatu hal yang jarang terjadi), mereka akan meneriaki setiap orang yang lewat dengan sapaan khas “harda” (siapa di sana/berhenti). Jika Anda hanya pejalan malam biasa yang tidak punya niat buruk, Anda cukup membalasnya dengan “pring” (teman). Para penjahat atau pembuat onar, tentu saja, akan langsung mengambil langkah seribu jika mendengar teguran itu.

Menjelang akhir musim kemarau (Oostmoeson), tumpukan kerikil sebesar kepala anak-anak sering diletakkan berderet di pinggir jalan. Jika suasana sedang gelap dan Anda kurang memperhatikan, Anda bisa saja tersandung bebatuan itu dan jatuh terpelanting ke luar jalur jika berjalan terlalu menepi.

Tumpukan kerikil itu sebenarnya semacam pertanda peringatan agar orang bersiap-siap mengencangkan sabuk penahan perut. Sebab, begitu hujan pertama turun, material-material tersebut akan langsung disebar ke tengah jalan, dan Anda mau tidak mau harus melaluinya dengan kereta kuda melewati bebatuan tajam yang belum rata itu (karena saat itu mesin penggiling jalan berbahan bakar uap sama sekali belum dikenal!).

Tak jarang, di jalanan yang baru disebar batu itu, kereta akan melambung tinggi ke atas. Kepala Anda akan lebih dulu membentur atap terpal kereta dengan keras, disusul hempasan menyakitkan saat Anda jatuh kembali ke rangka kursi. Jika ada orang yang mudah emosi berada di dalam kendaraan tersebut, tak butuh waktu lama bagi Anda untuk mendengar makian-makian kasar menggema ke angkasa. (Bersambung)

Tinggalkan komentar