#InfoAleut: Telusur Pantai Selatan Jawa Barat Bersama Tim Djeladjah Priangan

Selamat malam, Aleutians! Hari ini adalah jadwal mimin buat membagikan #InfoAleut untuk pekan ini🙂
whatsapp-image-2016-12-09-at-6-43-52-pm
Di libur panjang akhir pekan ini, Komunitas Aleut bersama Tim Djeladjah Priangan akan melangsungkan Telusur Pantai Selatan Jawa Barat di tanggal 9-12 November 2016. Aleut bersama Tim Djeladjah Priangan akan berangkat malam ini. Nah, berhubung di hari Sabtu dan Minggu kami masih akan ada di perjalanan, jadi kegiatan Kelas Literasi Pekan Ke-72 dan Ngaleut akan dilangsungkan di sana🙂
 
Tenang, di minggu depannya kita bakal Ngaleut seperti biasanya kok. Jadi kawan-kawan yang gak ikut Kelas Literasi dan Ngaleut di minggu ini bisa gabung di pekan depan, tentunya dengan tema yang bakalan seru😀
 
Selamat merayakan long weekend, Aleutians🙂

#InfoAleut: Kelas Literasi Pekan Ke-71 dan Ngaleut Kampung Blekok

Selamat pagi, Aleutians! Hari ini adalah jadwal mimin buat membagikan dua kegiatan mingguan Aleut yang dijamin bakal berlangsung seru🙂

2016-12-03-kl-71

Kegiatan pertama adalah Kelas Literasi Pekan Ke-71 yang berjudul “Petite Histoire” di hari Sabtu besok. Dalam Kelas Literasi kali ini, kita akan membahas dan mendiskusikan buku-buku yang masku ke dalam kategori petite histoire (sejarah kecil) dan termasuk definisi tentang sejarah kecil.

Bagi kawan-kawan yang tertarik bergabung, bisa menghubungi nomor CP 0896-8095-4394/LINE @FLF1345R dan datang ke Gedung Indonesia Menggugat (Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5) hari Sabtu besok pukul 13.00 WIB. Aleutians juga bisa buat hadir untuk sekadar ikut menyimak dan berdiskusi kok😀

2016-12-04-blekok-habis

Sedangkan di hari Minggu, kita akan Ngaleut Kampung Blekok. Dalam Ngaleut kali ini, kita akan kembali bermain ke Kampung Blekok, yang sesuai nama kampungnya, menjadi rumah dari burung blekok. Kampung ini juga adalah titik populasi terakhir burung blekok di Kota Bandung. Namun mohon maaf, kuotanya sudah habis :)

Jangan lupa ajak kawan, kekasih, istri, keluarga, tetangga, atau gebetanmu agar kegiatan minggu ini bisa dinikmati beramai-ramai dan semakin seru. Sampai jumpa😀

Surat dari Kertasarie Untuk Merdeka

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Hendi, Manda, dan motor jadulnya

Hendi, Manda, dan motor jadulnya

Dear Deka…

Kita sudah lama berada di sini, di Bandung. Kota yang kita cintai, kota yang penuh dengan memori. Aku yakin, kecintaanmu pada kota ini begitu besar, sama halnya denganku. Bagaimana tidak, kita sama-sama angkatan 1900-an bukan? Hehehe… Kita merasakan pahit dan manisnya perkembangan zaman, dari zaman kolonial sampai zaman milenium sekarang. Selain itu, yang bagiku menggelitik, kita masih diberikan umur untuk menyaksikan orang-orang beradu argumen tentang letak geografis kita. Kau yang berada di pusat kota, menjadi penanda kesombongan sebagian orang untuk sekedar bilang “Aku masih masuk anak kota, bukan Bandung”. Padahal aku dan kau tak pernah mempermasalahkan hal itu. Kita sama-sama cinta Bandung. Arghhh lucu sekali…

Aku tahu, kau berada di titik keramaian, yang tak jarang menjadi tempat orang-orang untuk berkencan. Dan aku, aku yang berada jauh di selatan, hanya berteman dengan hehijauan. Bahkan orang-orang yang berpapasan denganku seperti lupa untuk sekedar menyapa.

Itu tak terjadi sekarang saja, kau memang sudah ditakdirkan untuk selalu ceria dengan kaki-kaki penuh kemenangan. Coba kau putar lagi ingatanmu ke masa lalu, kau begitu disayang orang-orang Belanda. Kau selalu dikelilingi orang-orang kaya. Groote Postweg dan Bragaweg bagian selatan tempat kau menancapkan alamat adalah jalan tersohor. Bandingkan dengan daerah tempatku berpijak yang jarang sekali didekor.

Tapi tak apa, aku sudah terbiasa. Justru aku khawatir bila kau tiba-tiba ingin menemaniku di sini. Atau justru bertukar peran denganku? Arghh janganlah, kita kan bukan tokoh di cerita-cerita fiktif. Surat ini pun tak bermaksud untuk itu. Coba bayangkan jika kau menemaniku di sini? Kau yang tak pernah sendiri tentunya akan merasa asing. Kau akan kehilangan teman dekatmu; Preanger, Homann, GEBEO, Majestic dan teman-teman lainnya. Selain itu, aku juga yakin mereka akan merasa kehilanganmu. Bukankah kalian sudah bersahabat cukup lama?

Beruntung beberapa bulan ke belakang ada salah satu Komunitas dari Bandung yang menyinggahiku, aku sangat senang sekali. Setelah aku stalking blog dan Instagramnya ternyata mereka juga sering menyambangimu, namanya Komunitas Aleut! Tentu kau mengenalnya bukan? Tiap Minggu mereka berkegiatan, akhir-akhir ini kegiatan yang sering mereka lakukan adalah mendalami perkampungan kota. Terakhir aku lihat di Instagramnya mereka menelusuri blok tahu di daerah Cibuntu. Hmmm… Kapan ya aku didatangi lagi oleh mereka?

Oiya, salah satu yang masih aku ingat dari kedatangan mereka saat itu adalah ketika Hendi—salah satu anggota Komunitas Aleut!—meminta izin untuk berfoto dengan seorang anggota lainnya bernama Manda tepat di depan aku. Mereka berdua berfoto ditemani motor butut jadul. Nampak serasi, mungkin mereka berpacaran. Kamu harus tau, Deka, aku senang bisa didatangi oleh mereka, oleh Hendi, Manda, dan motor butut jadulnya.

Deka…

Sebenarnya aku ingin menyapa dan menyuratimu tahun lalu, saat kau dikunjungi oleh banyak orang. Termasuk orang-orang penting di negeri ini. Berita tentangmu di media begitu mendominasi, foto-foto elok nan cantik tak jarang ada di timeline-ku. Memang, saban hari ada saja berita atau foto-fotomu terpampang di Instagramku. Namun tahun lalu terasa lain. Kau begitu istimewa, kau begitu dipuja-puja layaknya dewa.

Aku tak iri, justru aku merasa senang. Kau dirawat oleh kenangan, kau dirawat karena perjuangan. Aku di sini hanya butuh teman untuk berbagi, dan kiranya surat ini menjadi awal bagi kita untuk selalu tetap berkomunikasi.

Ku tunggu balasanmu, Deka.

 

 

Pangalengan, 24 November 2016

 

Tautan asli: https://blogakay.wordpress.com/2016/11/24/surat-dari-kertasarie-untuk-merdeka/

Mengais Sampah Demi Rupiah

Oleh: Willy Akhdes (@willyakhdes)

Mengais sampah demi rupiah

Awan hitam yang sedari tadi menggantung di langit Kota Bandung akhirnya tumpah menjadi hujan. Bulir-bulirnya jatuh bergulir dari angkasa, mengencingi segala sesuatu di bawahnya, termasuk hamparan rumput sintetis Alun-Alun Kota Bandung. Seorang pria setengah baya yang dari tadi menggeledah tiap-tiap tong sampah yang ada di pinggir taman itu harus segera menepi ke sebuah bangunan untuk berteduh. Dengan bergegas, ia menyeret sebuah kantong plastik besar yang dari tadi dibawanya.
Heru Santoso, anggaplah namanya begitu, mulai membongkar kantong plastik besar bawaanya sambil menunggu hujan reda. Ia memilah barang-barang hasil pungutannya, memisahkan antara benda-benda plastik dengan kaleng dan kertas. Hasil pungutannya hari ini belum seberapa, tidak lebih dari 4 kilogram. Dengan harga beli barang bekas dan rongsokan plastik, kertas dan kaleng di pengepul sekitar Rp 2.000 – Rp 2.500 per kilogram, maka pendapatannya hari itu tidak lebih Rp 10.000. Jika tong dan bak sampah yang rutin tiap hari dibongkarnya itu sedang berbaik hati, biasanya ia mendapatkan penghasilan sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000 tiap harinya. Musim liburan dan akhir pekan, disaat produksi sampah meningkat, adalah masa panen baginya. Namun, musim penghujan begini seringkali mempersingkat jam kerja, yang akhirnya ikut menurunkan produktivitasnya.
*   *   *
Heru Santoso adalah satu dari ratusan pemulung yang diperkirakan aktif di Kota Bandung. Mereka berkeliaran di pusat keramaian, pasar dan tempat pembuangan sampah. Mereka mengais sampah untuk mendapatkan rupiah. Setiap harinya, mereka mengais sampah mulai sebelum matahari terbit dan belum akan berhenti sebelum matahari tenggelam. Dari tumpukan sampah tersebut mereka peroleh limbah plastik, kertas atau kaleng yang bernilai ekonomis. Beberapa pengepul barang bekas dan rongsokan menerima hasil pulungan mereka setiap hari.
Di tengah menurunnya kesempatan kerja formal dan meningkatnya angka pengangguran, jadi pemulung merupakan salah satu pilihan profesi. Pemulung menjadi alternatif profesi baru oleh sebagian orang yang tersingkirkan oleh berbagai kebijakan pemerintah dan sektor ekonomi lainnya. Namun demikian keberadaan pemulung oleh pemerintah hingga saat ini masih dipandang sebagai profesi yang tidak berkontribusi pada proses pembangunan, bahkan sebagian masyarakat menganggap bahwa pemulung adalah pihak yang perlu dicurigai keberadaannya. Padahal aktivitas mereka memungut kembali limbah yang masih bisa dimanfaatkan setidaknya ikut mengurangi masalah sampah. Kota Bandung yang memproduksi 1.200 ton sampah tiap harinya setidaknya terbantu dengan keberadaan mereka yang memungkinkan berlangsungnya industri daur ulang. Beberapa industri daur ulang plastik di Kota Bandung, membutuhkan 5-8 kwintal limbah plastik tiap harinya. Limbah plastik tersebut akan dicacah menggunakan mesin penghancur untuk menghasilkan bubur plastik yang menjadi bahan baku tali pastik, alat-alat kerajinan maupun perkakas plastik lainnya.
Sebagian besar pemulung di kota bandung adalah tunawisma. Mereka datang dari kota dan pelosok di Pulau Jawa. Heru, misalnya, berasal dari Cirebon dan baru tiga bulan mencoba peruntungannya di kota ini setelah sebelumnya berkeliaran di beberapa kota pantai utara dan selatan Pulau Jawa.
Sebab mereka hidup di jalanan, seringkali aparat tidak bisa membedakan mereka dengan para gepeng dan gelandangan. Di Yogyakarta, Pemprov memberikan seragam khusus untuk para pemulung sehingga mereka tidak terjaring operasi penertiban gelandangan. Selain itu, Dinas Sosial Pemprov DIY memberikan penyuluhan kesehatan dan estetika. Hal demikian adalah salah satu cara begaimana pemerintah menghargai pemulung sebagai sebuah profesi yang patut.
*   *   *
Dari tumpukan limbah yang sudah dipilah dari plastik kerjanya, Heru mengeluarkan sebuah kotak yang berisi beberapa sisa makanan yang dipungutnya dari tempat pembuangan sisa makanan di sejumlah kedai dan rumah makan. Lalu ia menyantapnya dengan nikmat dan tanpa keraguan sama sekali. Selama ia masih menemukan makanan sisa yang bisa dimakan dan mengenyangkan, maka ia tidak akan membelanjakan penghasilannya untuk membeli makanan di warung. Ia memilih untuk mengumpulkan uangnya agar suatu saat bisa dikirim ke kampungnya di Cirebon.

Pak Heru dengan plastik kerjanya

 

Perda Kota Bandung

Tautan asli: http://willy-akhdes.blogspot.co.id/2016/11/mengais-sampah-demi-rupiah.html

___

Tulisan ini merupakan bagian dari Kelas Literasi Pekan Ke-67 dengan tema Jurnalisme Warga I yang berlangsung pada 5 November 2016 dan telah dibahas di Kelas Literasi Pekan Ke-68 dengan tema Jurnalisme Warga II pada 12 November 2016