Akhir Tragis Mentor Putera Sang Fajar

Proses Permakaman Schoemaker di Pandu

Prosesi Pemakaman C.P Wolff Schoemaker (Foto dari buku Arsitektur Tropis Modern karya Van Dulleman)

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada tanggal 22 Mei 1949, setidaknya ada enam koran yang memuat berita mengenai kematian C.P. Wolff Schoemaker, profesor Technische Hoogeschool (THS) dan arsitek bangunan-bangunan terkenal di Hindia Belanda, terutama Bandung. Koran Het Dagblad, Het Nieuwsblad voor Sumatra, dan De Locomotief Semarang menuliskan berita meninggalnya Wolff Schoemaker dalam satu-dua paragraf ringkas yang isinya hampir sama, yakni tanggal meninggalnya serta jabatan terakhirnya. Hanya Algemeen Handelsblad yang menurukan berita duka cukup lengkap, mulai dari gelar kehormatan hingga perjalanan karirnya ikut dibahas dalam tulisannya. Namun, tetap saja berita-berita kematian tersebut tidak menggambarkan dengan jelas bagaimana sang professor meninggal.

Sebagian informasi mengenai hal tersebut kemudian saya temukan di buku berjudul Arsitektur Tropis Modern: Karya dan Biografi C. P. Wolff Schoemaker. Sang arsitek meninggal di tempat tidurnya setelah lama menderita sakit. Dalam buku yang sama disebutkan bahwa penyakit menggerogoti tubuh Schoemaker hingga penglihatannya memburuk dan kesulitan berjalan. Menurut riwayat penyakitnya Wolff sempat menderita rasa sakit akut di perutnya yang kemudian dioperasi ketika dia berada di Belanda.

Namun, penyebab kematian Schoemaker tidak hanya datang dari penyakit yang merusak fisiknya, ada hal-hal lain yang juga menggerogoti mentalnya. Dalam sebuah surat antara janda Richard Schoemaker dengan Jettie, istri terakhir Schoemaker, diceritakan tentang Schoemaker yang perlahan-lahan hanyut ke dalam kebingungan secara mental. Berita tentang tewas sang adik, Richard Schoemaker dalam kancah PD II di Eropa, suasana Perang pada Masa Bersiap dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia, diperparah dengan situasi ekonomi keluarga , berperan besar dalam memburuknya kesehatan Schoemaker hingga kematiannya.

Baca juga “Richard Leonard Arnold Schoemaker”

Akhir yang tragis jika melihat kehidupan morat-marit serba kekurangan Wolff Schoemaker di akhir hayatnya. Kehidupannya pada masa sebelum perang dapat dikatakan mewah dan serba berkecukupan. Dia adalah arsitek langganan bagi mereka kaum sosialita pada zamannya, contohnya Villa Isola pesanan Sang Taipan Media, Dominique Williem Barrety. Karya-karyanya yang lain tak kalah megah dan indah seperti Grand Hotel Preanger, Observatorium Bosscha, Schowburg Societiet Concordia dan Bioskop Majestic. Belum lagi jika melihat karirnya sebagai profesor di Technische Hoogeschool dan pengaruhnya di komunitas seni.

Namun kehidupannya pada rentang tahun 1942-1949 adalah bayangan semu dari periode sebelum perang yang nyaman. Perabot dan harta bendanya sedikit demi sedikit dijual untuk menopang kehidupan Schoemaker dan keluarganya. Dia tinggal di lantai atas bangunan Hellerman di Bragaweg. Sementara itu, rumahnya di Van Gallenweg (kini Jl.Lamping kini) sempat disewakan kepada Palang Merah Swedia ketika periode bersiap kemudian terbakar habis tak bersisa. Masih ditambah dengan “salah urus” penghasilan Schoemaker oleh istri keempatnya.

Kehidupan Wolff Schoemaker yang sulit, cukup terbantu ketika Sukarno sering membeli karya seni buatan dosennya ketika kuliah di THS. Diceritakan bahwa dalam sekali kunjungan, seluruh lukisan di dinding rumahnya bisa habis diborong oleh Sukarno. Namun, tetap saja kondisi kehidupan Schoemaker tidak senyaman keadaannya ketika masa sebelum perang dan berbagai penyakit terus menggerogotinya.

Baca juga “Tak Sekadar Makam – Menilik Makam Pandu bersama Aleut”

Hingga akhirnya pada tanggal 22 Mei 1949, Sang Arsitek akhirnya meninggal. Schoemaker dimakamkan di Pandoekerkhof. Dia tidak dimakamkan secara Islam seperti yang telah dijanjikan Sukarno, melainkan secara Kristen Katolik. Keluarganya di Hindia Belanda, teman-teman, dan pejabat tinggi ikut datang menghadiri prosesi pemakaman Wolff Schoemaker.

Nisan Schoemaker di Pandu

Makam Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker (Edo/Komunitas Aleut)

Nisan Wolff Schoemaker dikatakan didesain oleh Sukarno. Di nisan tersebut, terukir teks seperti berikut:

“Hier Rust

Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker

Ridder in de orde van de Nederlandse leeuw in leven officier van de genie hoogleraar aan de Technische Hoogeschool te Bandoeng

Geb: Te Banjoebiroe-Ambarawa 25 Juli 1882

Overl: Te Bandoeng 22 Mei 1949″

Begitulah akhir tragis Charles Prosper Wolff Schoemaker, mentor sekaligus professor Sukarno.

Baca juga artikel lainnya dari mengenai tokoh inspiratif di Bandung

(komunitasaleut.com – vss/alx)

 

 

Iklan

Terjerat Puncak Eurad

WhatsApp Image 2018-11-25 at 6.05.54 AM

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Neng Rahmah terjerat tipu daya Gan Andung. Terpikat bujuk rayu Sang Jejaka justru membuat hidupnya tersiksa dan sengsara. Cinta buta membuatnya tega meninggalkan kedua orang tua yang sebenarnya melindunginya dari pesona dusta Si Durjana.

Nasib kemudian menyeretnya hingga tiba di Puncak Eurad, batas antara Bandung dengan Karawang. Baca lebih lanjut

Menuju Mangir, Menyusur Pantai Selatan Jawa

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Wanci janari di satu masjid di Padaherang. Begitu benar pepatah Arab yang diamini Hemingway, bahwa tak ada teman duduk paling setia selain buku. Naskah drama Mangir yang disusun Pram menemani saya terjaga. Mimpi buruk Machiavelli termanifestasi dalam tragedi itu. Kekerasan dan dusta adalah bahasa paling nyaring serta lugas buat manusia, Senapati paham benar. Cinta antara Ki Ageng Mangir Baca lebih lanjut

Jejak Langkah Sanghyang Heleut

IMG-20180716-WA0028

Sanghyang Heleut / Foto Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhi_rama)

Asap knalpot menyembur ke muka. Hitam pekat, bau, perih di mata. Sialnya waktu itu saya memakai helm tanpa kaca. Jadi bisa dibayangkan asap tersebut langsung menyerempet pori-pori kulit di muka. Ini lebih buruk dari bau kentut. Alasan inilah yang membuat saya tidak menyukai jalan Citatah, Padalarang. Baca lebih lanjut

Senja di Pantai Laut Selatan Pulau Jawa Bagian 2

Baca: Senja di Pantai Laut Selatan Pulau Jawa Bagian 1

Starr_080606-7010_Eretmochelys_imbricata

Karena malam semakin gelap, seperempat panjang pantai hampir tak kelihatan. Tetapi sejauh kami masih bisa kenali benda, tampak empat badan gelap, gemuk merayap di atas pantai. Bunyi gemercakpun tak sampai ke telinga kecuali deruan sayup-sayup redam empasan laut. Tiba-tiba terdengar cipatran air di bawah tempat kami: sebuah Baca lebih lanjut

Senja di Pantai Laut Selatan Pulau Jawa Bagian 1

 

Kata pengantar

Dalam abad ke-19, Junghuhn menjalajahi Pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Sesuai kebiasaan ilmuwan, ia mencatat secara detail jenis tumbuhan, gunung, tanah, batu-batuan yang ia jumpai selama penjelajahannya. Bahkan, dengan liris ia menjelaskan perawakan sebuah pohon atau keadaan hutan. Kata “schoon” yang pada dasarnya Baca lebih lanjut