Rasia Bandoeng

WhatsApp Image 2016-08-03 at 6.51.43 PM

RASIA BANDOENG
atawa 
Satu percinta-an yang melanggar peradatan “Bangsa Tiong Hoa” satu cerita yang benar terjadi di kota Bandung dan berakhir pada tahon 1917.

Diceritaken oleh Chabanneau *******

Diterbitkan pertama kali oleh Gouw Kim Liong, tahun 1918
Dicetak oleh Drukkerij Kho Tjeng Bie & Co., Batavia
Diterbitkan ulang dengan penambahan oleh Ultimus

Disalin dan diberi catatan oleh Komunitas Aleut!
Disunting oleh Ridwan Hutagalung
Rancangan sampul oleh Ridwan Hutagalung

Novel Rasia Bandoeng pertama kali terbit pada tahun 1918 secara bersambung dan seluruhnya terdiri dari tiga jilid.

Novel ini memang sempat heboh pada masanya karena isinya yang mengungkap sebuah kisah nyata hubungan cinta terlarang sesama marga Tionghoa di Bandung tempo dulu.

Sudah lama isi novel Rasia Bandoeng menjadi perhatian Komunitas Aleut, tidak melulu karena isi ceritanya tetapi juga karena banyaknya nama tempat yang disebutkan di situ. Di awal tahun 2016 ini Komunitas Aleut mengemas novel Rasia Bandoeng dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti Ngaleut Rasia Bandoeng, Tjerita Boekoe, dan terakhir, menerbitkan ulang novel lama itu dalam bentuk yang Anda terima sekarang ini.

Untuk penerbitan ulang novel Rasia Bandoeng ini, ketiga jilid yang semula terpisah sekarang digabung menjadi satu buku saja. Pada isi naskah dilakukan sedikit perubahan ejaan lama ke dalam ejaan baru, selebihnya disalin sesuai dengan aslinya. Selain itu ada tambahan catatan kaki untuk berbagai istilah yang sudah tidak umum sekarang, serta lampiran artikel investigatif oleh Lina Nursanty Rasia Bandoeng yang pernah dimuat secara serial di HU Pikiran Rakyat.

Penerbit : Ultimus
Cetakan : 1, Jun 2016
Pengarang: Chabanneau *******
Halaman : 296
Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
ISBN : 978-602-8331-75-3

Harga umum 85,000

Pemesanan: 0859-7490-5769
Atau datang langsung ke
Kedai Preanger
Jl. Solontongan No.20-D, Buahbatu,
Bandung 40264

Harga di Kedai Preanger 75,000

Pernik KAA 2015

WhatsApp Image 2016-08-03 at 6.51.43 PM (1)

Pernik KAA 2015; Serba-serbi Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika 1955.
Catatan Liputan Komunitas Aleut!
Penyunting: Ridwan Hutagalung

Nugent dalam bukunya Creative History (1967) menjawab pertanyaan mengapa kita perlu mempelajari sejarah dari dua segi, yaitu bagaimana sejarah itu dapat menolong kita untuk hidup dan bagaimana sejarah itu dapat menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk menjawab pertanyaan tersebut Nugent mengatakan dengan tegas bahwa “Know other peoples, know yourself”.

Sejarah sebagai pengalaman manusia memberikan berbagai alternatif untuk memilih begitu banyak cara hidup (a multitude of ways). Setiap orang adalah produk masyarakat dan masyarakat adalah produk masa lampau, produk sejarah. Dengan mempelajari sejarah kita akan mampu menghindari berbagai kesalahan dan kekurangan masyarakat masa lampau untuk kemudian memperbaiki masa depan.

Sejarah juga selalu melahirkan panggung bagi orang-orang besar. Namun demikian, tak banyak yang mencatat peran orang-orang di balik layar panggung sejarah. Ada banyak peristiwa kecil di balik panggung sejarah. Peristiwa-peristiwa itu terangkai menuju pada peristiwa besar. Peristiwa kecil menentukan kesuksesan aktor di panggung sejarah.

Di balik hingar bingar Peringatan ke-60 Tahun KAA Tahun 2015 ada banyak peristiwa sejarah. Ribuan warga Kota Bandung, mulai dari usia dini, remaja, hingga lanjut usia bergemuruh mengumandangkan gema Dasasila Bandung. Setiap warga mempunyai caranya tersendiri untuk menghormati lahirnya Nilai-nilai Luhur Dasasia Bandung.

Buku ini telah merekam dengan baik semua peristiwa di balik layar itu. Tak hanya mengabadikan peristiwa sejarah, namun lebih dari itu Komunitas Aleut! telah melestarikan ruh gotong royong warga Kota Bandung yang masih terus menyala-nyala. Gotong royong adalah ruh kreatif Konferensi Asia Afrika.

Penerbit : Ultimus
Cetakan : 1, Mei 2016
Penulis: Ridwan Hutagalung (ed.)
Halaman : 222
Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
ISBN : 978-602-8331-73-9

Harga Rp.65.000

Pemesanan: 0859-7490-5769

Atau datang langsung ke
Kedai Preanger
Jl. Solontongan No.20-D, Buahbatu
Bandung 40264

#InfoAleut: Kelas Literasi Pekan Ke-61 dan Ngaleut Gunung Sadu

Hari Jumat telah tiba. Artinya, hari ini mimin akan share dua info kegiatan mingguan Aleut yang sayang banget untuk dilewatin Yuk simak🙂

whatsapp-image-2016-09-23-at-11-41-12-am

Kegiatan pertama minggu ini adalah Kelas Literasi Pekan ke-61 yang berjudul “Bandung Kota Buku”. Dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Bandung ke-206, buku-buku yang akan dibahas minggu ini adalah buku yang bercerita tentang Kota Bandung🙂

Bagi kawan-kawan yang tertarik bergabung, bisa menghubungi nomor CP 0896-8095-4394/LINE @FLF1345R dan datang ke Perpustakaan KedaiPreanger hari Sabtu besok pukul 13.00 WIB. Aleutians yang minggu ini ga sempet baca buku juga bisa buat hadir untuk sekadar ikut menyimak dan berdiskusi kok😀

whatsapp-image-2016-09-23-at-11-41-12-am-1

Sedangkan di hari Minggu, kita akan Ngaleut Gunung Sadu. Tepat di hari jadi Kota Bandung, kita bakal melihatnya dari ketinggian dan juga dari kejauhan. Selain itu, kita juga bakal lihat dan main di taman yang lagi hits di sana. Dijamin asik deh🙂

Kalau kawan-kawan tertarik untuk bergabung, langsung aja konfirmasi kehadiran via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R (jangan lupa pakai “@”), lalu kumpul di KedaiPreanger (Jalan Solontongan No. 20D) pukul 07.30 WIB. Saat konfirmasi, sertakan keterangan bermotor atau tidak. Bagi yang bermotor, mohon membawa dua helm ya🙂

Jangan lupa ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, atau gebetanmu sekalian agar kegiatan minggu ini bisa dinikmati beramai-ramai. Sampai jumpa🙂

Kampung PU di Cibangkong, Bandung

Oleh: Asep Suryana

Orang-orang pasti mengira kami para “olegun”. Hari Minggu 3 September 2016 blusukan keluar masuk gang di Kelurahan Cibangkong Bandung, melintas tempat pemakaman umum, dan menyusuri sungai yang airnya hitam pekat. Ya, dengan berbekal sedikit keterangan, waktu itu sebenarnya ingin mengetahui keberadaan Kampung Cikapundung Kolot. Salah satu kampung tua di kawasan yang menjadi Kota Bandung sekarang ketika ibukota Kabupaten Bandung pindah dari Krapyak awal abad ke-19. Konon penduduk Kampung Cikapundung Kolot ikut membantu pembuatan Jalan Raya Pos yang melintasi kota baru Bandung.

Namun apa daya para orang tua yang kami tanya selalu merujuk ke sungai Cikapundung Kolot bukan Kampung Cikapundung Kolot. Alih-alih menemukan kampung tersebut teman Komunitas Aleut yang memimpin “ekspedisi” Mang Irfan mendapat informasi dari seorang penduduk di Pasar Cibangkong bahwa ada kampung yang disebut Pulo Unrus atau dikenal juga dengan Kampung PU. Langsung bayangan kami ke Pulau Onrust di Kepulauan Seribu. Pulau Onrust pernah menjadi tempat karantina perjalanan haji zaman kolonial. Pernah juga digunakan untuk penanganan penderita kusta dan pernah juga digunakan sebagai penjara. Entah bagaimana yang benar menulis Kampung PU tersebut, karena tidak ada papan nama satupun.

Jembatan rel kereta api jalur Cikudapateuh-Ciwidey di atas kanal baru Cikapundung Kolot belakang Trans Studiao Mall. Jalur ini resmi ditutup tahun 1975 dan menjadi pembatas antara Kelurahan Cibangkong sebelah barat dan Kelurahan Maleer di sebelah timur. (Foto Agus Sidiq/Komunitas Aleut)

Menurut salah satu penduduk sungai yang mengalir di belakang Trans Studio Mall adalah kali baru dari sungai Cikapundung Kolot dan dibuat tahun 1982. Kedua sungai ini bermuara di sebelah timur yaitu di Sungai Cibeunying. Bedanya Cikapundung Kolot bermuara sekira 10 meter sebelah utara pintu air, sedangkan sungai yang dibuat tahun 1982 bermuara 100 meter selatan pintu air arah hilir.

Peta kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal Kota Bandung (dari http://kecamatanbatununggal.com)

Ada pula seorang penduduk yang telah lama tinggal di Kampung PU sejak tahun 1960an ketika berumur 11 tahun memberitahu bahwa Pulo Unrus dahulu dimiliki seorang Belanda. Namun beliau telah kembali ke negaranya. Kalau dilihat dari Google Maps kampung itu seolah dikelilingi air, seperti sebuah pulau. Kampung sebelah baratnya adalah babakan Garut.

Kampung PU secara administratif adalah RW 11 Kelurahan Cibangkong. Adalah Pak Suharjiman penduduk setempat yang memelopori swadaya pengelolaan sampah tahun 1998. Beliau mendapat bimbingan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum (PU). Mungkin karena inilah banyak orang menyebut daerah itu Kampung PU dan ada yang memelesetkan PU dengan Pulo Unrus alih-alih Pulau Onrust.

Cibangkong (Google Maps)

 

Tautan asli: http://asep-bandung.blogspot.co.id

Catatan Perjalanan: Ngaleut Cikapundung Kolot

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

WhatsApp Image 2016-09-04 at 08.14.51

Kami mulai berjalan beriringan menuju Cikapundung Kolot

Saya tak mengenal betul nama-nama sungai di kawasan Bandung, hanya beberapa saja. Sungai Citarum dan Cikapundung salah duanya. Sungai Ci Tarum tentu saja saya kenal ketika guru (entah SD atau SMP) yang menyebutkan sebagai sungai terpanjang di Jawa Barat. Kedua, Sungai Ci Kapundung, saya kenal ketika saya sering melintasi Jalan Asia Afrika, lalu masuk ke Jalan Ir. Sukarno (dulu bernama Jl. Cikapundung Timur). Selain itu, saya kurang begitu kenal tentang sungai-sungai yang berada di Bandung. Apalagi di daerah lain.

Kegiatan Ngaleut di Minggu pertama bulan September sepertinya akan berjalan biasa saja. Tapi tidak bagi saya, saya yang sebelumnya mengikuti Kamisan ala Aleut, di mana rancangan kegiatan untuk hari Sabtu dan Minggu dilaksanakan di Kamis malam itu membuat saya mengetahui lebih awal informasi yang akan diselenggarakan oleh teman-teman Komunitas Aleut untuk kegiatan weekend ini. Ketika beberapa teman mungkin mengetahui informasi di hari Jum’at atau Sabtu. Saya tahu lebih awal, Kamis malam. Mungkin ini menjadi keuntungan saya mengikuti Kamisan. Sebagai catatan, Kamisan ini terbuka untuk umum juga loh, untuk semua pegiat Aleut.

Ngaleut Cikapundung Kolot. Tema untuk Ngaleut minggu itu. Berbeda dengan Ngaleut-Ngaleut biasanya yang saya ikuti. Walaupun beberapa teman sudah mengetahui tentang keberadaan kampung Cikapundung Kolot, yang mana kampung tersebut menjadi salah satu kampung tertua di Kota Bandung. Ternyata setelah saya dan teman-teman lainnya telusuri, banyak hal-hal yang tak terduga. Pun begitu dengan beberapa teman baru yang baru ikut bergabung. Mereka begitu antusias mengikuti kegiatan Minggu ini.

Berkumpul di halaman depan Masjid Trans Studio Mall, seperti biasa kami melakukan sesi perkenalan. Pukul 08.00 kami mulai berangkat ke titik pertama. Kami berhenti sejenak di atas rel mati sekitaran TSM. Rel kereta yang dulu menghubungkan Bandung dan Ciwidey itu kini tinggal kenangan. Menurut pemaparan Arya, di pinggir Jalan Gatot Subroto berdekatan dengan Gg. Cinta Asih, dulunya ada sebuah halteu. Tanpa banyak bertanya ini itu saya hanya membayangkannya saja.

WhatsApp Image 2016-09-05 at 11.36.37

Rel mati sebelum masuk Gang Cinta Asih, konon dahulu rel ini menghubungkan antara Bandung dan Ciwidey

Masuk ke Gang Cinta Asih, kami menyusuri jalur rel mati yang melintasi perumahan warga. Sesekali beberapa teman berdialog dengan warga sekitar. Tak jarang warga setempat menyapa dengan halus “timana bade kamana jang?” Tanya salah seorang warga. Kami menjawab dengan tak kalah halus “biasa bu, ngaleut” jawab kami dengan tak serentak. Sepanjang jalan Gang Cinta Asih, kami menyusuri pemukiman warga yang bersebelahan dengan mall TSM. Ternyata panjang juga mall TSM ini, sepanjang menyusuri gang tersebut bangunan yang menjadi bagian mall masih terlihat. Di ujung gang, kami mendapati jembatan kecil yang dulunya sering dilalui oleh kereta api.

foto1

Beberapa dari kami mengambil foto di titik ini, sedangkan saya mencoba melintasi jembatan rel kereta. Ini kembali mengingatkan masa kecil saya, ketika masa-masa SMP yang tiap harinya menuju sekolah dengan berjalan di atas rel. Tak jarang pula saya melintas di atas jembatan rel seperti yang saya lakukan di sekitar Gang Cinta Asih itu.

Wanci haneut moyan membuat kami yang menjejaki gang-gang sekitar merasa santai dan nyaman. Berbincang bersama sesama pegiat, berkomunikasi dengan warga, sampai tertawa cekikikan ketika ada hal-hal yang kami anggap lucu. Termasuk saat itu, di mana ada kejadian yang menggelitik bagi saya, juga bagi teman lainnya.

Sebelum Jembatan Opat dan Jembatan Cikapundung Kolot, seorang kawan bernama Irfan dengan inisiatif dan percaya diri mencoba menggali informasi dari seorang bapak-bapak berbatik, dibalut rompi dan juga berkaca mata hitam yang sedang berdiri di jembatan. Bapak-bapak tersebut seperti sedang mengawasi aliran sungai. Irfan bertanya untuk meminta informasi kepadanya “Pak, upami Cikapundung Kolot teh ieu?” Bapak tersebut dengan wajah belagu bak seorang penguasa yang sedang menjaga kawasannya menimpali “Apa? Hah,,, apa? Iya ini” Irfan kembali bertanya, “Upami walungan ieu brasna kamana?”. “Langsung ka laut” jawabnya. Saya yang saat itu sedang berada di dekat Arfin sedikit bertanya-tanya. Langsung ke laut? Agak aneh. Tak lama si bapak kembali menuturkan pernyataan yang membuat Irfan terkaget-kaget, yang intinya “Kalau mau tanya-tanya, sana ke bagian Informasi, jangan di sini. Saya raja di sini” dengan mimik muka seperti seorang penguasa ia menyergah Irfan yang mungkin menurutnya banyak tatanya.

Sebelum menyudahi percakapan dengan si bapak tersebut, salah satu warga yang baru keluar dari rumahnya sedikit berteriak kepada kami. “Tong nanya ka si eta a, rada gelo eta mah” si ibu memberikan penjelasan sambil telunjuknya ditempelkan ke kening yang menandakan kalau orang tersebut adalah orang gila.

Sadar dengan kesalahannya, Irfan dan juga kami langsung mengakhiri percakapan dengan si bapak. Setelah beberapa langkah menjauh dari si bapak itu. Kami tertawa terbahak-bahak. Bahkan cenderung tertawa keras nan lepas, “Ai sia ngawawancara olegun, boa sarua olegunna” saya menghardik Irfan. Oiya, olegun adalah panggilan kami untuk orang gila. Irfan tertawa, saya tertawa, kami semua tertawa. Sungguh kejadian yang sangat menghibur.

Setelah kejadian lucu itu, kami melewati Cibangkong Lor, menuju pasar Cibangkong. Kami hendak menuju Jalan 17 Agustus, kembali saya mendapati orang-orang yang bikin saya tertawa. Sebelum pasar Cibangkong, saya bertanya kepada seorang pedagang makanan ringan. “Teh upami jalan 17 Agustus palih mana?” Si teteh itu menjawab “Oh… lurus weh a, caket pasar ke aya pertigaan terus belok kiri” Saya sedikit tersenyum ketika melihat tangan si teteh ini. Dia menunjukkan arah belok kiri tapi dengan tangan ke arah kanan. Hahaha…

Tak lama kami sampai di pasar Cibangkong. Ada yang sedikit kontras ketika saya sampai di pasar Cibangkong ini. Pasar yang satu ini berdampingan dengan Alfamart. Bagi saya ini sesuatu yang bertolak belakang. Pasar yang identik dengan harga murah, bertransaksi dengan tawar menawar, adanya komunikasi dua arah antara pembeli dan penjual, justru berdampingan dengan minimarket yang tak ada tawar menawar harga, komunikasi antara pembeli dan penjual yang terbatas dan lain sebagainya. Kontras.

Akhirnya kami mendapati Jalan 17 Agustus, tapi karena satu dan lain hal kami tak menyusurinya, kami justru melewati gang lain. Kali ini kami akan menuju kampung PU atau Pulau Unrust di kawasan Jalan Cibangkong. Sebelum ke sana, saya berhenti sejenak di warung pinggir anak sungai Ci Kapundung sedangkan teman-teman yang lain dengan tempo yang santai mulai bergerak maju. Ketika saya membeli rokok di warung tersebut, saya berbincang ringan dengan sang pemilik warung. Ibu Adim, begitu ketika saya tanya namanya. Beliau mengira saya, juga teman-teman lainnya adalah mahasiswa. Bagi saya yang tidak sempat mengalami masa-masa perkuliahan, senang saja disebut mahasiswa. Hahaha. Sang Ibu sedikit curhat kepada saya, “A, mahasiswa?” tanyanya “Sanes bu,  saya dari Komunitas Aleut, bu. Komunitas pengapresiasi sejarah” timpal saya. Belum sempat saya berbicara lebih jauh, sang ibu sudah memotong dengan sedikit keluhan “Cik, a, pangbejakeun kanu gaduh Bandung, ka Ridwan Kamil, ieu kumaha kitu sampah, di payun teh kan aya penampungan sampah. Tah sok aya oge anu dudurukan di dinya. Da atuh nu miceun sampah kadinya teh ti mana-mana. Ibu sok sesek napas mun aya haseup durukan lebet ka bumi” katanya. Saya tak bisa berkata apa-apa, hanya mendengarkan sang ibu yang sedang bercerita setengah curhat itu. “Duh, bu sesah upami abdi mah…”….. “Nya atuh jang kumaha weh atuh” kembali Bu Adim memotong pembicaraan. “Ari pas bade pencoblosan dongkap kadieu kotka someah. Ari ayeuna tara aya jol deui kadieu” tuturnya. Saya hanya mengangguk-ngangguk. Tak lama saya pamit dan berlalu, sang Ibu mempersilakan sambil mewanti-wanti.

Setelah itu saya mengejar beberapa kawan untuk melanjutkan perjalanan, tepatnya ke kampung Pulo Unrust. Lagi, kami mendapati seorang warga bernama Pak Asep, atau nama pendeknya pak Aep. Beliau sudah tinggal di kampung ini sejak tahun 1960. Ketika kami bertanya tentang Pulo Unrust, Pak Aep menuturkan kalau PU (Pulau Unrust) terletak di sebelah timur Babakan Garut, di utara Cikapundung Kolot dan selatannya kanal baru Cikapundung Kolot (1982). Tanah itu dipunyai orang Belanda bernama nyonya Mistem. Tetapi kemudian pulang ke Belanda dengan membawa pegawainya yang setia bernama Pak Udin. Pak Udin pun meninggalnya di Belanda. Urusan PU termasuk sewa tanah diurus putra Pak Udin, bernama Pak Halim. Pak Aep menyebutkan kalau anak dari Pak Halim sekarang tinggal di Jalan Halimun. Beliau berdinas di ITB, tapi entah sebagai apa, katanya. Selain itu Pak Aep menambahkan sekarang PU sedang didodoho oleh Podomoro.

foto4

Gapura menuju Kampung Pulo Unrust dan Pak Aep beserta temannya yang kami ajak ngobrol

Pak Aep yang kami wawancara saat itu adalah seorang yang bisa saya sebut peramal. Hahaha… Entahlah, namun dari obrolan kami dengannya dia dengan lancar menuliskan nama-nama orang dengan nomor ramalan yang sudah dia hafal. Dengan kertas dan pulpen yang dia bawa, dia menuliskan nama salah satu teman untuk dihitung. Arghh… saya tak mengerti tentang yang begini. Tapi beliau dengan rinci mengitung tiap huruf di nama seorang teman. Obrolan kami begitu cair, ngaler ngidul, dan sesekali diselingi tawa. Lumayan lama kami ngobrol tentang Pulau Unrust dan hal lainnya dengan Pak Aep. Sebelum mengakhiri obrolan, tak lupa kami berterima kasih lalu bersalaman.

Setelah menyusuri gang-gang, berkomunikasi dengan warga, tertawa bersama dan lain sebagainya, kami menuju titik pertemuan kembali. Kali ini untuk sharing pengalaman selama Ngaleut, tentunya banyak hal saya dan teman-teman utarakan. Sebelum sesi sharing dimulai, kembali saya mendapatkan suasana yang berbeda. Seperti di tulisan saya sebelumnya tentang https://blogakay.wordpress.com/2016/08/26/saya-bersama-braga-di-dua-hari-yang-berbeda kali ini saya kembali mendapatkan suasana Bandung yang bertolak belakang. TSM dengan hiruk-pikuk keramaian, serta bis-bis besar yang parkir dengan rapi, bertolak belakang dengan kampung-kampung di sekitarnya. Seperti menegaskan kalau kampung tersebut ditutupi atau disembunyikan oleh bangunan-bangunan besar nan megah itu.

Bandung… oh Bandung… !!!

 

Tautan asli: https://blogakay.wordpress.com/2016/09/05/catatan-perjalanan-ngaleut-cikapundung-kolot/

Yang Asing di Kampung Cikapundung Kolot

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Mungkin saya terlalu lama jalan-jalan di pusat kota Bandung hingga merasa asing saat berjalan-jalan di Kampung Cikapundung Kolot. Saya asing dengan senyum ramah nan tulus yang diberikan warga kampung. Saya juga merasa asing saat mereka kenal nama dan alamat tetangga mereka.

Tidak hanya terasing saja, saya juga melihat hal-hal yang jarang saya temukan di pusat kota. Warga duduk santai di depan rumah mereka yang saling berimpitan. Tidak hanya duduk saja, mereka juga mengobrol segala hal. Ibu-ibu membicarakan gosip artis terkini. Anak-anak menceritakan sinetron atau kartun yang terkini. Bapak-bapak berbagi cerita pekerjaan dan peliharaan mereka.

Tidak hanya itu saja yang membuat saya asing, saya juga merasa asing saat beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang bisa bercerita tentang lingkungan tempat tinggalnya. Misalnya, seorang kakek yang bercerita tentang asal muasal Pulo Unrust dan Sungai Cikapundung Kolot. Atau seorang ibu rumah tangga yang menceritakan fungsi dan tujuan biodigester dekat rumahnya.

Seasing ini kah saya dengan Kampung Cikapundung Kolot? Padahal kampung ini berlokasi dekat dengan mall yang menjadi tempat saya mencari hiburan. Aneh ya?

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2016/09/13/yang-asing-di-kampung-cikapundung-kolot/

#InfoAleut: Kelas Literasi Pekan Ke-60 dan Ngaleut Sapuran-Cikudapateuh

Selamat berakhir pekan, Aleutians! Setelah minggu lalu kita refreshing di daerah Ciater, Minggu ini kita bakal balik lagi buat menyusuri sudut Kota Bandung. Ayo simak #InfoAleut-nya🙂

whatsapp-image-2016-09-15-at-6-12-52-pm

Kegiatan pertama adalah Kelas Literasi Pekan ke-60. Kalau beberapa minggu terakhir ini Kelas Literasi ada tema tertentu, di minggu ini kita bebas dari tema. Artinya, setiap kawan bebas bawa buku apa saja yang bakal diresensi di hari Sabtu ini. Mau itu tentang sejarah, sastra, filsafat, atau buku diktat sekalipun🙂

Bagi kawan-kawan yang tertarik bergabung, bisa menghubungi nomor CP 0896-8095-4394/LINE @FLF1345R dan datang ke Gedung Indonesia Menggugat (Jl. Perintis Kemerdekaan) pukul 13.00 WIB. Aleutians yang minggu ini ga sempet baca buku juga bisa buat hadir untuk sekadar ikut menyimak dan berdiskusi kok😀

whatsapp-image-2016-09-16-at-2-08-13-am

Sedangkan di hari Minggu, kita akan Ngaleut Sapuran Cikudapateuh. Di Ngaleut kali ini, kita berkenalan dan menelusuri jejak salah satu perkampungan yang menjadi hidup setelah ada jalur kereta di kawasan ini. Ngaleut ini juga masih jadi bagian kegiatan Komunitas Aleut dalam menyambut Hari Jadi Kota Bandung ke-206. Dijamin seru deh🙂

Kalau kawan-kawan tertarik untuk bergabung, langsung aja konfirmasi kehadiran via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R (jangan lupa pakai “@”), lalu kumpul di SPBU Pertamina 34-40236 (Jl. Laswi No. 140, dekat perempatan Laswi-Gatsu) pukul 07.00 WIB. Disarankan menggunakan alas kaki dan pakaian yang nyaman agar bisa enjoy selama berjalan kaki nanti😀

Jangan lupa ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, atau gebetanmu sekalian agar kegiatan minggu ini bisa dinikmati beramai-ramai. Sampai jumpa🙂

Sungai, Sneakers, dan Jalur Menanjak Itu: Perjuangan Mencapai (dan Pulang Dari) Sanghyang Heulut

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Sepatu sneakers sudah menjadi bagian dari hidupku. Dari jaman masih duduk di bangku SD sampai dengan lulus kuliah, sepatu sneakers tidak pernah hilang dari rak sepatu (ya of course beli baru setiap 1-2 tahun sekali). Pergi ke sekolah, kampus, mall, tempat-tempat wisata lainnya, sepasang sneakers selalu menemani; well, walaupun kehadirannya seringkali tergantikan oleh flat shoes dan heels di beberapa acara tertentu. Buatku, memakai sneakers bahkan lebih nyaman daripada memakai running shoes. Karenanya, sneakers selalu jadi pilihanku ketika melakukan perjalanan jauh-dekat, basah-kering, menanjak-menurun.

Di hari Minggu 14 Agustus 2016 silam, aku dan rekan-rekan dari Komunitas Aleut melakukan perjalanan menuju Sanghyang Heuleut yang berada di daerah PLTA Saguling, Rajamandala, Kab. Bandung Barat. Di rumah aku sempat terdiam barang 10 menitan, memikirkan alas kaki apa yang harus kupakai hari itu. Aku sama sekali tidak tahu kondisi jalanan seperti apa yang akan aku hadapi. Hmm.. sandal gunung atau sneakers? Tapi nanti kaki gosong karena momotoran, sneakers aja deh. Ya, hanya karena alasan takut kaki gosong kepanasan, aku pilih sneakers. Pathetic.

Perjalanan hari itu lumayan panas. Dalam hati aku bersyukur karena memakai sneakers. Alhamdulillah, at least kaki gak gosong, pikirku sambil memandang lokasi pertama perjalanan kami, Sanghyang Tikoro. Yap, untuk mencapai Sanghyang Heuleut, ada dua lokasi shanghyang-shanghyang yang kami lewati. Sanghyang Tikoro ini, shanghyang pertama, merupakan sebuah gua yang di dalamnya mengalir sungai menuju bawah tanah. Sanghyang Tikoro seringkali dikaitkan dengan legenda Danau Bandung Purba. Terlepas dari benar atau tidaknya perihal tersebut, Sanghyang Tikoro layak untuk dikunjungi. Coba deh ke sana dan perhatikan mulut gua tersebut. Seperti mulut orang yang menganga lebar dengan aliran sungai yang seperti air minum, masuk ke tenggorokan dan pergi entah ke mana.

Puas mendengarkan pemaparan tentang Sanghyang Tikoro dari Pak Abang, aku dan teman-teman meneruskan perjalanan ke Sanghyang Heuleut. Setelah sebelumnya ngobrol-ngobrol dengan para pedagang sekitar, muncullah keyakinan bahwa lokasi tujuan dapat ditempuh kurang lebih 1,5 jam saja. Terlena dengan jalanan aspal yang membentang di depan mata, aku kira jalanan menuju Sanghyang Heuleut memang akan selalu semulus itu. Kan jadi ingin ketawa ya…

Memasuki kawasan belakang pipa besar PLTA Saguling, kami mulai berjalan di pinggiran melawan arus sungai. Jalanan tentu saja tidak beraspal dan semulus tadi. Tanah, bebatuan, dan rumput menjadi pemanis wajib jalanan yang kami lewati. Wajar tentunya, tapi karena semalam hujan, ada beberapa titik yang licin dan tergenang air. Cukup untuk membuatku loncat-loncat kecil demi menghindari sepatu basah atau kotor kena lumpur. Nah, setelah kurang lebih berjalan sejauh 1KM di tengah udara panas ngaheab, kami bertemu dengan Sanghyang Poek, sanghyang yang kedua.

Sanghyang Poek merupakan sebuah gua purbakala yang terbentuk di kawasan batu gamping. Bentuknya landscape miring-miring gimana gitu, jadi ketika kami masuk ke dalamnya, seringkali kami harus berjalan sambil menunduk. Di dalamnya, terdapat stalakmit dan stalaktit yang buricak burinong kayak berlian… Berkelap-kelip indah, apalagi ketika terkena sinar lampu/senter. Gua ini gelap, banget, dan licin, banget. Terhitung tiga empat kali aku tergelincir ketika berjalan di dalam gua. Ya tas berat, ya harus pegang senter, ya sneakers licin… Mulai timbul penyesalan mengapa tadi pagi tidak pada sandal gunung saja… Ah, tapi banyak juga kok yang tergelincir. Berarti bukan masalah sepatunya, emang bebatuannya saja yang licin.

Di ujung gua, cahaya matahari menerobos, menyesuaikan mata dengan pemandangan sungai dan bebatuan yang menakjubkan. Yah, sayang sekali kemarin malam hujan, jadi air tidak begitu jernih. Tapi tetap saja, buatku pemandangan seperti ini baru bisa kunikmati setelah 22 tahun lamanya hidup di dunia. Tak lama menikmati pemandangan aliran sungai, beberapa orang di depan memanggil untuk turun ke bawah, ke sungai. Yap, ke sungai. Ternyata, untuk mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus melewati sungai ini.

Loncat sana sini, menghindari air sana sini, menapaki batu sana sini, semuanya aku lakukan dengan penuh debaran. Bebatuan licin karena semalam hujan. Aliran air pun terlihat lebih deras dari biasanya. Aku takut tergelincir, takut jatuh. Kalau nanti jatuh, terus basah, terus sakit, terus benjol, gimana? Kalau sneakersku basah, gimana? Aku tidak membawa sandal, karena itu dag-dig-dug rasanya sepanjang perjalanan. Tapi memang dasar namanya Chika, sehati-hati apapun, pasti jatuh juga. Bukan rasa sakit atau malu yang aku rasakan; lucu. Saking lucunya, saat terbangun dari jatuh, aku dan Akay malah tertawa keras. Duh, memang dasar olegun.

Tenang, aku tidak akan menyalahkan siapapun untuk rute perjalanan luar biasa menuju Sanghyang Heuleut ini. Seharusnya, berdasarkan pengalaman miris sebelumnya, aku harus siap sedia memakai sandal gunung di setiap perjalanan. Gak usahlah sok tampil kece dengan sneakers. Toh ujung-ujungnya berlumpur, ujung-ujungnya basah, ujung-ujungnya pulang dimarahin mamah. So, untuk para pembaca yang mau mencapai Sanghyang Heuleut dari Sanghyang Poek, gunakanlah alas kaki terbuka dan anti selip, yah. Budayakan sandal gunung!

“Berapa puluh menit lagi kira-kira, Bang?”, tanyaku sambil mencuci sepatu di pinggiran sungai untuk kali pertama seumur hidup, sementara yang lain beristirahat di sebuah warung.

“Yah sekitar 20-30 menit lagi lah dari sini.” Katanya, terdengar menenangkan dan meyakinkan. Ah, tapi memang dasar, seharusnya aku tahu perjalanan tidak akan secepat dan semudah yang dikatakannya. Lebih dari 40 menit kami berjalan, mendaki, melewati hutan, bebatuan, aliran sungai, aliran keringat, aliran keluhan dan sumpah serapah… sampai pada akhirnya kami melihat sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang lengkap dengan warung di pinggirannya. Ah, Sanghyang Heuleut!

Jadi, Sanghyang Heuleut ini merupakan sebuah danau kecil indah yang tersembunyi di antara gunung di kawasan PLTA Saguling. Legendanya sih, ini adalah danau tempat dayang sumbi dan bidadari-bidadari lainnya mandi tuh… Karena keindahannya, banyak orang yang sengaja mau capek-capek datang kemari. Itu tuh, traveller gaul di Instagram kan banyak yang posting foto Sanghyang Heuleut yang indah banget itu… Sayangnya, kami datang setelah hujan cukup deras semalam. Karena itu, kami harus cukup puas hanya dengan bermain air dan bercengkrama melepas rasa lelah dari perjalanan tadi.

Karena hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk segera pulang sebelum jalanan menjadi gelap. Berat rasanya untuk meninggalkan Sanghyang Heuleut. Well,berat rasanya menapaki kembali jalanan jahanam itu. Rasanya tenaga terkuras habis hanya dengan memikirkan perjalanan pulang. Untungnya, kami sepakat untuk melalui jalan kedua (tidak melewati sungai) untuk kembali ke parkiran. Jalanannya melintasi gunung, katanya. Aku tersenyum memandang sneakersku, kamu ga akan kotor dan basah lagi, Alhamdulillah. Bye sungai dan bebatuan jahanam~

Kutarik lagi ucapan syukur yang sebelumnya aku ucapkan. Perjalanan pulang kami lebih mengerikan dari perjalanan perginya! Jalanan menanjak yang tak ada habisnya harus kami lewati sepanjang perjalanan. Naik, naik, naik, dan terus naik sampai keringat dan nafas habis. Yang muda dan berbadan kecil terus berada di depan, yang sudah berumur dan jarang olahraga tertinggal jauh di bawah. Rasa lelah perjalanan pergi yang masih tersisa 50% bertambah 150% karena jalan menanjak itu. Mengingatnya saja membuatku lelah dan pegal…

Keluar dari jalur pendakian, kami berada jauh di atas pipa-pipa besar PLTA. Kemiringan 45o yang membuat kepala pusing luar biasa harus aku tahan supaya tidak jatuh terguling. Oleng sedikit, bisa gawat. Kelompokpun terbagi dua, mereka yang pergi melalui jalur ke atas, dan mereka yang ambil cepet menuju jalur bawah… Sebagai anak muda yang tak boleh takut akan hal baru, aku coba jalur bawah. Dah hasilnya?? Mual. Capek, mual, pusing, haus, berkeringat, kaki lecet karena pake sneakers basah tanpa kaos kaki, tas berat… Ya ampun Chika, jadi anak kota gini-gini amat sih.

Well,

Setelah perjalanan parkiran-Sanghyang Heuleut-parkiran yang mengenaskan itu, walaupun sudah 2 minggu lamanya berlalu, masih terbayang setiap langkahnya di pikiran. Licinnya, gelapnya, panasnya, jauhnya, menanjaknya, basahnya, pusingnya, jatuhnya, keindahannya, kesegarannya, segalanya.

Ketika mendengar pengalaman perjalananku, teman-teman sering bertanya, “Kok kamu bisa sih kayak gitu, Chik?? Aku sih ga akan kuat da mau pulang aja.” Yah, akupun tidak tahu. Kadang merasa diri ini bego dan olegun. Tapi tanpa perjalanan seperti itu, hidup sepertinya akan sarat akan kenangan. Tidak akan ada hal yang dikenang dan ditertawakan bersama teman seperjalanan.  Tidak akan ada teguran khawatir dari mamah yang hariwang setiap aku pulang ke rumah dalam keadaan mengenaskan. Tidak akan ada cemberut sambil nyikat sneakers yang semakin hari warnanya semakin luntur karena keseringan dicuci.

Yang jelas, tanpa perjalanan dan kenangan itu, tidak akan ada tulisan dan pengalaman untuk dibagikan. Karena perjalanan-perjalanan si anak kota yang penuh kebodohan itulah, blog ini ada dan terus hidup.

 

Tautan asli: http://anakotastory.blogspot.co.id/2016/08/sungai-sneakers-dan-jalur-menanjak-itu.html

Americano, Indocafe dan Secangkir Sepi

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

coffee

1

Bisa saja saya menikamnya dengan pisau dapur, dan yang ia perbuat justru membalas senyum. Mungkin sedikit meringis, dengan tetap penuh jatmika. Sikap kalem yang hanya dimiliki para bestari, ketenangan yang serupa permukaan kopi yang sering ia bikin. Selepas maghrib, bersama saya sebagai seorang teman ngobrol yang payah, entah kenapa perbincangan kami mengarah soal perbedaan Americano dengan long black. Saya sendiri lupa penjelasannya, keduanya sama-sama kopi berair, hanya berbeda soal mana yang pertama dimasukan, air dulu, atau kopi dulu. Dia lalu bertanya tentang siapa saja penulis yang suka ngopi. Hmm, banyak sih, jawab saya, Camus, Albert Camus, dia doyan bengong di kedai kopi. Terus Flaubert, lanjut saya, dia sehari minum kopinya bisa sampai 50 gelas, dan mati karena ginjalnya rusak. Perlu dikoreksi: Bukan Gustave Flaubert, tapi Honore de Balzac, saya salah sebut. Kalau Murakami suka ngopi? tanyanya. Minum wine dan ngebir dia mah, sebut saya, langsung terpikir kalau kami berdua sudah seperti protagonis dalam novel Dengarlah Nyanyian Angin dengan dialog sok intelek ini. Dia sendiri sering memanggil saya dengan nama belakang penulis Jepang itu, entah olok-olok yang benar, karena Murakami sendiri berarti desa atas. Apakah dia mengejek kalau saya orang udik, saya yakin dia enggak tahu akan hal ini. Penulis dari rahim Kabupaten mah kebanyakan pemurung, puji seorang kawan lain, ditujukan bagi saya. Si barista mungil bernama Hamdan ini pun orang Kabupaten. Harusnya saya bersyukur dipanggil Murakami. Perbincangan kami ini berada di depan Alfamart persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Alkateri, sebelah barat Mesjid Agung. “Kopi di Alfamart lebih bagus ketimbang Circle K.”, nasihatnya suatu kali, hasil analisanya sendiri. Di malam lain, dia menanyakan sesuatu yang konyol, kalau diberi kesempatan kencan buta semalam mau sama idola K-pop siapa? Dasom member Sistar, saya asal sebut. Dia menggeleng enggak tahu siapa, tentu. Bukan kenapa-kenapa, karena idol cantik itu punya cita-cita bikin buku kumpulan esai sebelum menginjak 30. Dengan Americano racikan Hamdan, dan mungkin dia berbaik hati bakal menyetelkan musik jazz, tentu soal tulis menulis ini bakal jadi bahasan yang setidaknya bisa membuat saya bisa bicara. Klise a la drama Korea, memang; skenario yang halusinatif, iya.

2

Seperti orang yang duduk di hadapan saya, selalu dibuat iri oleh manusia yang bisa merangkai dua ratus tiga puluh kata per menit. Saya setia menjadi pendengar bualan Iwang, namun mencuri pandang ke arah Jalan Solontongan beserta lalu lalangnya. Hanya dengan menonton laju gerak manusia, sering muncul pemikiran mengada-ada. Kehidupan, bagi saya, seperti ketika kau hendak menyeberang jalan, melirik kanan-kiri, memastikan bahwa kau akan selamat sampai seberang jalan, namun saat melangkah tanpa disangka-sangka sebuah Boeing 747 mendarat darurat dan menggilasmu. Hidup sialan ini hanya sekumpulan kesialan, ketidaksialan dan kesia-siaan. Ah, tahu apa saya soal hidup? Hanya bocah manja yang hobi mengeluh. Pria yang sedang mendongeng di hadapan saya, yang usianya dua kali lipat dari saya, tentu lebih mengerti, setidaknya punya lebih banyak pengalaman. Saya membayangkan apakah saya bisa menginjak usianya. Suatu kali saya mengetes soal kepribadian di internet, dan mendapati kalau Jim Morrison dan Kurt Cobain berbagi watak dengan saya, mati di usia 27 mungkin suatu kehormatan. Semakin menua, saya justru jadi seorang bajingan pembenci diri. “Haruskah aku bunuh diri atau minum secangkir kopi?”, ujar seorang pemikir dari Prancis. Ah, nampaknya saya perlu ngopi.

“Rip, ga ngopi?”, Iwang selalu inisiatif menawari. Saya beri selembar lima ribu pada Iwang. Indocafe atau ABC Susu, pinta saya. Dia enggak masuk ke dalam Kedai Preanger, tentu, melainkan membelinya di kios kecil di seberang jalan. Dia menyeberang, sialnya enggak ada pesawat jatuh. Selain tangan saya sendiri, Iwang adalah lelaki bejat yang sering meremas penis saya, entah apa motifnya, yang pasti ini sudah bisa dipidanakan sebagai kasus pelecehan seksual. Hobinya emang omong cabul, dia bahkan pernah membeberkan pengalaman pribadinya, saat masa muda penuh berahinya, dan meminta saya untuk menuliskan ceritanya. Memang sebiru Almost Transparent Blue-nya Murakami. Ryu bukan Haruki. Anjing, saya makin iri dengan pengalaman percintaannya. Iwang balik sambil membawa dua gelas plastik berisi cairan coklat panas, juga dua linting rokok yang disembunyikan di sakunya. “Mana kembaliannya?”, tanya saya bercanda. Dia terkekeh, selalu begitu. Kami sama-sama menyesap cairan berasa kopi ini. Jika bokep mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka kopi jagung pun enggak ubahnya kopi betulan. Iwang sendiri ketika mencicipi Americano, atau kopi tubruk Lanang saya, justru mengeluarkan ekspresi muka serupa kukus.

3

Bagus. Kopi bagus untukmu. Ada kafein di dalamnya. Kafein, kami di sini. Kafein menempatkan si pria di atas kuda si wanita dan si wanita dalam kubur si pria. – The Sun Also Rise, Ernest Hemingway

Di Kedai Preanger. Sinar matahari pagi memaksa masuk lantai dua Kedai Preanger. Berhasil bikin saya makin enggak nyaman untuk melanjutkan tidur. Saya terbangun seperti kecoa besar tertelungkup, yang membutuhkan sebuah ledakan bom hidrogen untuk bisa menjauhkan saya dari ranjang usang itu. Akay sudah duduk di depan laptopnya, terpampang Microsoft Word di layar. Ada segelas kopi panas di atas meja sampingnya. Saya bangkit, dan tanpa minta izin langsung menyeruputnya. Bukannya menghardik, dia malah bertanya: “Rip, ajarin bikin dialog lah.”. Saya enggak menjawab, pura-pura masih mengantuk. Rupanya dia sedang menulis cerpen.

Beberapa minggu sebelumnya, Kelas Literasi mengkhususkan untuk saling meresensi blog masing-masing, saya sengaja enggak ikut mendaftarkan diri. Aneh memang, lewat blog ini saya tentu saja menulis agar dibaca orang, tapi di sisi lain ada perasaan enggak nyaman ketika tulisan saya dibaca orang, tentu soal resiko disalahpahami dan dihakimi. Saya juga semakin bingung soal kenapa saya menulis, kenapa saya ngeblog, lebih jauh kenapa saya hidup, mereka yang menyebut dirinya penulis harusnya dikasihani, termasuk diri saya ini. Dan jika membandingkan dengan blog kawan lain, justru saya merasa malu akan blog ini. Mereka bisa menulis dengan jujur, dengan bahasa asyik. Lebih-lebih blog kepunyaan Akay, yang berkat salah satu postingannya bisa mendatangkan tambatan hatinya.

Setelah tulisan si pria tentang si gadis, mereka melepas rindu dengan bertemu. Di suatu malam Minggu di bagian luar Kedai Preanger. Saya dan Iwang memperhatikan dari dalam. Iwang mungkin sembari memikirkan pacar jauhnya di Ciamis. Akay mengantar pulang si gadis yang menyisakan segelas latte yang masih penuh. Saya, tentu tanpa minta izin, menyesap latte itu, menonton jalan Solontongan yang kali ini lenggang, dan berharap ada kucing lewat yang bisa diajak bicara. Hanya ada malam.

 

Tautan asli: https://yeaharip.com/2016/08/25/americano-indocafe-dan-secangkir-sepi/

___

Tulisan ini merupakan bagian dari Kelas Literasi dengan tema “Bercerita Antar Aleutians”. Bagi Aleutians lain yang tertarik untuk menulis hal serupa, tulisannya bisa dikirim ke komunitasaleut@gmail.com.