Apa Arti Nisan Makam?

Oleh: Agus Sidik Permana (@as.permana)

Selalu tepat waktu, itulah yang sedang saya dan teman-teman pegiat Aleut lainnya lakukan. Memang mengubah kebiasaan yang sudah mengakar dan mungkin sudah menjadi budaya ini sangat susah. Begitupun dengan Ngaleut kali, walaupun di poster sudah ditulis waktu kumpul 07.22 WIB namun tetap saja ada beberapa teman yang datang terlambat. Dan kegiatan pun molor 50 menit dari waktu yang sudah ditetapkan.

Walaupun belum lama gabung dengan Komunitas Aleut dan sering ikut kegiatan Ngaleut, namun Ngaleut kali ini sangatlah berbeda dari yang sebelum-sebelumnya yang bertema tentang kampung perkotaan dan kolonial. Kali ini kami Ngaleut ke Sirnaraga, sebuah tempat permakaman umum muslim yang berada sangat dekat dengan Bandara Husein Sastranegara.

Di TPU muslim tersebut dimakamkan beberapa tokoh terkenal, contohnya Gatot Mangkoepradja, Soeratin Sosrosoegondo, Otto Sumarwoto, Hartono Rekso Dharsono, Milica Adjie (Isteri Ibrahim Adjie), dan ada juga seorang penyanyi yang dimakamkan disana yaitu Poppy Yusfidawati atau lebih dikenal dengan nama Poppy Mercury.

Selain dari tokoh-tokoh diatas saya juga mendapati ada makam dengan nama Rd. Bratakoesoema yang tertulis kelahiran 1888 bahkan ada juga makam yang dijuluki mbah panjang yang wafatnya tertulis tahun 1602. Sangat menarik untuk ditelusuri dan di-crosscheck lagi tentang sejarah dua orang tersebut, mungkin akan saya ceritakan di lain waktu.

Melihat keadaan permakaman di TPU Muslim Sirnaraga yang begitu penuh dan terlihat jelas sekali perbedaan antara orang yang berada dan orang yang tidak punya. Hanya dengan melihat nisan makam dan pagar yang mengelilinginya saja kita sudah bisa membedakan.

Ada sebesit pemikiran yang mengganggu dalam kepala saya, sebegitu pentingkah makam itu bernisan bagus dan dipagar. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk semua itu? Padahal tidak menutup kemungkinan ada orang-orang di sekitarnya yang masih merasa kesusahan bahkan untuk sesuap nasi saja. Bagi saya sendiri hal tersebut sangat minim manfaat selain hanya untuk gengsi dan estetika belaka.

Melihat hal tersebut saya sempat mempunyai pikiran jika saya meninggal nanti, saya akan memilih untuk dikremasi saja. Agar orang-orang yang saya tinggalkan tak perlu pusing memilih nisan yang bagus untuk saya, agar tidak ada pemborosan biaya yang sia-sia untuk hal tersebut. Namun sepertinya hal tersebutpun akan menemui perdebatan yang panjang bagi mereka yang saya tinggalkan karena hal itu terkait dengan tidak diperbolehkannya kremasi dalam agama yang saya anut.

Sekitar empat jam saya berkeliling-keliling TPU Muslim Sirnaraga, melihat bermacam-macam makam yang ada. Hal itu membuat saya berpikir tentang kematian, karena kematian ini bukan lagi soal siap atau tak siap, bukan tentang sudah mempunyai bekal atau belum. Melainkan tentang bagaimana saya bisa meyakinkan diri saya bahwa semuanya akan baik-baik saja walau saya sudah tidak ada, semuanya akan berjalan seperti biasa walau saya sudah tak bersama mereka.

Karena malaikat maut itu selalu tepat waktu, tidak seperti kita yang dengan mudah bisa mencari alasan untuk datang terlambat.

Karena di Sirnaraga Kamu tak Bisa Lagi Mengeluh

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Hembusan angin di pagi hari serta merdunya desahan gerimis membasahi Jalan Pajajaran, Kota Bandung. Aku tak terlalu risau, juga tak perlu mengeluh pada semburat langit pagi yang sudah beberapa hari ini seolah menyuruhku berselimut. Cuaca seperti ini sudah akrab denganku. Ya, pilihannya hanya dua; kalau tidak gelap ya terang. Aku nikmati pagi itu sambil ngobrol dengan kawan di sebelahku, sebut saja si A.

“Wihh sepertinya ada orang meninggal nih. Coba lihat, gerombolan orang-orang itu mendekati kita” ujarku pada si A.

“Mana mana?” Si A menimpali sambil lirik kanan-kiri.

“Oiya ya… singkirkan selimutmu, segera cuci muka agar kau terlihat segar !” Si A memerintah.

“Oke, saat ada yang bergerombol seperti ini, dalam cuaca seperti apapun, kita memang harus terlihat segar,” jawabku.

“Iya iya.” Si A menggerutu sambil sedikit melirik lagi pada rombongan itu.

Aku dan si A saling bertatapan, siap memberikan senyum terbaik bagi gerombolan orang yang tengah menghampiri kami.

Dengan cuaca gerimis di pagi hari dan dinginnya Sirnaraga yang tak bermentari, tak mungkin ada orang-orang yang berniat berziarah. Kecuali ada yang meninggal bukan?” tanyaku pada si A.

Si A mengangguk. Kami senang karena akan ada asupan nutrisi baru yang akan kami peroleh.

Nyatanya, dugaan kami salah. Kami salah menduga karena ternyata gerombolan yang berjalan beriringan itu hanya sekumpulan orang yang dengan berani menembus gerimis dan dinginnya pagi untuk sekadar mencari tahu dan menggali informasi tentang permakaman Sirnaraga, sekaligus berziarah kepada orang-orang atau tokoh-tokoh penting. Tak hanya itu, mereka pun memerhatikan keadaan tempat kami tinggal. Mungkinkah mereka sedang memilih tempat yang cocok untuk kami temani suatu saat nanti?

***

Untungnya berbagai macam pohon serta makam tak bisa bicara, bisa dibayangkan bagaimana jika mereka bisa bicara. Saya rasa mungkin mereka akan saling mengeluh setiap hari. Ya, mereka bisa mengeluh karena kedinginan, kepanasan, dan hal-hal lainnya yang membuat mereka tak nyaman. Makam yang marah kepada si pohon karena tidak bisa meneduhinya. Atau sebaliknya, si pohon yang marah kepada si makam karena tidak memberikan nutrisi yang cukup untuknya.

Itu baru satu persoalan, belum lagi kalau tangisan makam-makam yang disebabkan karena mereka tak pernah disambangi oleh sanak famili. Jangankan seminggu sekali, setahun sekali di saat hari raya Idul Fitri pun mereka tak ditengoki. Si pohon terganggu, si makam terus menunggu.

Saya tak memiliki sanak keluarga yang dimakamkan di TPU Sirnaraga. Tentu itu bukan berarti saya tidak boleh menengok makam-makam yang berada di sana. Permakaman yang berada di dekat Bandara Husein Sastranegara ini, walaupun berada di tengah kota, nyatanya hanya ramai di saat-saat tertentu. Saat Idul Fitri salah satunya. Saya yang menyambangi permakaman ini di hari Minggu, 12 Februari 2017 beserta 18 orang teman dari Komunitas Aleut, bertujuan untuk menggali informasi tentang orang-orang atau tokoh-tokoh yang cukup penting yang dimakamkan di sini. Di mana letak makamnya, atau bagaimana kondisi makamnya saat ini.

Saya dan kawan-kawan masuk ke permakaman ini melalui pintu 1, perlu diketahui bahwa akses masuk ke permakaman yang menurut warga sekitar mempunyai luas sekitar 26 hektar ini memiliki beberapa pintu masuk. Nah, pintu masuk 1 ini berada tidak jauh dengan pintu masuk 2 yang berada di sekitar Jalan Pajajaran.

Makam Gatot Mangkoepradja yang tidak jauh dari pintu masuk 1 adalah makam pertama yang saya dan kawan-kawan Aleut sambangi. Mengingat sosok beliau membuat saya harus menggali dan mencari tahu kembali tentang hal-hal apa saja yang berkaitan dengan beliau. Menurut beberapa sumber yang saya dapat melalui Internet, Gatot Mangkoepradja adalah tokoh yang bergabung dengan Partai Nasional Indonesia pimpinan Ir.  Soekarno yang berdiri pada bulan Juli 1927. Karena menjunjung tinggi konsep revolusi Indonesia, Gatot dan Soekarno dijebloskan ke Penjara Banceuy, Bandung. Mengingat perjuangannya kala bersama Soekarno, kami sedikit berdiskusi kecil di samping makam beliau. Saya sempat memotret makam beliau, namun ada yang berbeda saat saya melihat tahun lahirnya di makam dengan tahun lahir yang banyak beredar di Internet. Di makam tertulis bahwa Gatot Mangkoepradja lahir di tahun 1901, sedangkan yang beredar di internet menyebutkan bahwa Gatot lahir di tahun 1898. Butuh diskusi dan pengamatan lebih lanjut mengenai hal ini.

Setelah itu, kami melanjutkan untuk berkunjung ke makam Soeratin. Di makam Soeratin ini ingatan saya dibuat berimajinasi akan perjuangannya mendirikan PSSI. Ya, beliau adalah pendiri dan ketua PSSI pertama. Bapak Alan, salah satu penjaga makam di Sirnaraga yang sedang membersihkan rumput sempat saya wawancarai. Menurutnya, makam Soeratin ini ramai dikunjungi oleh orang-orang penting jika ulang tahun PSSI atau ulang tahun Soeratin saja. Di luar itu, mereka, orang-orang penting itu atau para petinggi PSSI itu tak pernah menziarahi makam ini.

Dalam artikel yang saya baca di panditfootbal.com http://panditfootball.com/cerita/204762/mengenang-soeratin-bagian-i-soeratin-dan-sepenggal-episode-masa-revolusi yang diceritakan sebanyak 3 bagian ini, saya mendapat gambaran tentang sosok Soeratin. Beliau mendirikan PSSI di Yogyakarta pada tanggal 19 April 1930. Dalam artikelnya itu disebutkan bahwa:

“Tujuan PSSI mendidik rakyat dengan perantaraan voetbalsport, adalah tujuan pula dikejar oleh bangsa kita semuanya. Salah satu dari pada alat itu adalah sport. Sebab yang ternyata lebih banyak digemari adalah voetbalsport, maka kita yang insyaf sport itu bagi kemanusiaan, telah mencoba turut bekerja guna kepentingan Indonesia, dengan mengatur pergerakan sport itu menurut cara organisasi yang sempurna. – Ir. Soeratin Sosrosoegondo

Setelah mendatangi makam Soeratin, kami mulai mendatangi makam-makam lain yang berada di Blok A. Luasnya permakaman Sirnaraga membuat makam ini mempunyai blok-blok tertentu, menurut pemaparan salah seorang warga saat saya sedang berteduh dan menikmati secangkir kopi yang dipesan di penjual sekitar makam, TPU Sirnaraga ini ternyata mempunyai tempat-tempat yang memang sudah di-blok-kan. Dari blok A sampai blok N. Namun untuk lebih rincinya kami harus benar-benar menelusurinya, sayangnya karena keterbatasan waktu hal itu tak dapat kami lakukan.

Kami mulai melanjutkan ke makam-makam lainnya. Dari makam Milica Adjie, yang merupakan istri dari Ibrahim Adjie (Panglima Kodam III/Siliwangi 1960-1966) sampai kunjungan kami pada makam Poppy Yusfidawati atau lebih dikenal dengan nama Poppy Mercury yang merupakan penyanyi asal Bandung angkatan 90-an yang terkenal di eranya. Selain makam-makam tersebut, saya juga beberapa kali menyaksikan makam-makam lain, salah satunya makam dengan nama Moh. Djatie yang lahir pada tanggal 5 Maret 1900 dan wafat tanggal 29 Mei 1960. Saya tak tahu siapa beliau, namun yang menarik perhatian dan masih menjadi tanda tanya adalah selain karena tahun lahirnya yang tergolong tua, di atas nama di nisannya terdapat logo bulan dan bintang.

Selain itu, kami juga ngobrol dengan warga sekitar saat kami berteduh karena hujan yang tak kunjung reda. Obrolan saya dan teman-teman dengan warga sekitar itu mencakup banyak hal: dari mulai pertanyaan luas permakaman, siapa saja tokoh tokoh yang dikubur di permakaman, sampai pertanyaan seberapa sering daerah dekat permakaman terkena banjir. Obrolan saya dengan warga sekitar itu saya lakukan di pinggir Ci Tepus.

Jalannya acara pagi itu berjalan cukup lancar meski hujan kerap kali membuat kami sedikit harus berhati-hati karena licin. Acara ditutup dengan sesi sharing. Dalam sesi ini setiap teman-teman menyampaikan pengalaman, pengamatan, dan hal-hal yang didapat selama acara berlangsung.

Sambil berjalan menuju parkiran motor saya sedikit merenung. Mengunjungi permakaman Sirnaraga ini mengingatkan saya pada kematian. Kelak saya akan seperti pohon dan makam itu, yang tak lagi bisa bicara, yang tak lagi bisa mengeluh.

#InfoAleut: Kelas Literasi “Reportase” dan Ngaleut Astana Anyar

Selamat hari Jumat, Aleutians! Seperti biasa, hari ini admin mau share dua info kegiatan Aleut yang sayang kalau dilewatkan. Mari disimak 😀
 
whatsapp-image-2017-02-17-at-3-52-45-pm
Kegiatan pertama adalah Kelas Literasi Pekan Ke-82 dengan tema “Reportase”. Dalam KL pekan ini, kita akan membahas tulisan beberapa kawan yang menuliskan reportase kegiatan Ngaleut Sirnaraga di minggu lalu. Selain soal tulisan, ada juga diskusi soal apa pengertian reportase dan seperti apa proses kreatif dalam penulisannya. Bagi kawan-kawan yang tertarik, langsung saja datang ke Perpustakaan KedaiPreanger (Jl. Solontongan No. 20-D) besok siang pukul 13.27 WIB.
whatsapp-image-2017-02-17-at-3-52-45-pm-1
 
Sedangkan di hari Minggu kita bakalan Ngaleut Astana Anyar. Masih satu tema dengan minggu lalu, dalam Ngaleut kali ini kita akan main ke TPU Astana Anyar yang merupakan salah satu pemakaman umum muslim tertua di Kota Bandung. Sekiranya kawan-kawan tertarik untuk ikutan, langsung saja konfirmasikan dirimu via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R (jangan lupa pake “@”) dan kumpul di Alfamart Kopo 62 (setelah Jl. Babakanasih) pukul 07.33 WIB. Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, serta jangan lupa untuk menggunakan lotion atau spray anti-nyamuk untuk menangkal serangan nyamuk selama Ngaleut yes 😀
 
Jangan lupa ajak kawan, keluarga, kekasih, tetangga, atau gebetan untuk ikutan supaya acaranya bisa semakin seru. Sampai jumpa! 😀

[Catatan] Rasia Bandoeng: Asal Usul Nama Jalan

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

whatsapp-image-2017-02-14-at-14-09-01-1

Alkisah, pada awal abad 20, hiduplah pasangan suami istri bernama Soeridjan dan Bi Emi di Bandung. Rumah mereka di sekitar Tegallega. Pekerjaan mereka ialah mengurus rumah plesiran (bordil) dan isinya. Entah karena terkenalnya rumah plesiran mereka atau apa, kawasan sekitar rumah bordil milik mereka dikenal dengan nama Ijan yang diambil dari nama Soeraidjan.

Beberapa kilometer dari kawasan bernama Ijan, terdapat satu ruas gang bernama Gang Kapitan. Nama Kapitan untuk gang ini berasal dari jabatan pemilik rumah panjang yang berada di pinggir gang ini. Nama pemilik rumah itu ialah Tan Joen Liong yang memiliki jabatan sebagai Kapitan Titulair Tionghoa (jabatan yang diperolehnya setelah dia meninggal) di Bandung.

Seberang mulut Gang Kapitan, terdapat gang agak besar bernama Gang Sim Tjong (sekarang Gang Wangsa). Penamaan Gang Sim Tjong ini sama seperti penamaan Gang Kapitan, yakni dipengaruhi rumah di sekitarnya. Nama pemilik rumah di samping gang ini adalah Tan Sim Tjong.

Cerita asal muasal tiga titik itu saya dapatkan saat mengikuti kegiatan NgAleut Rasia Bandoeng fatsal II yang dilaksanakan Komunitas Aleut dan dipandu oleh Arioyono Wahyu. Tapi apa hanya tiga titik itu saja yang memiliki asal muasal ceritanya? Tentu tidak! Ketiga titik itu hanya sebagian kecil dari cerita yang termuat dari NgAleut Rasia Bandoeng.

 

Tautan asli: https://regularvecco.wordpress.com/2017/02/14/catatan-rasia-bandoeng-asal-usul-nama-jalan/

#InfoAleut: Kelas Literasi “Media Televisi” dan Ngaleut Sirnaraga

Selamat siang, Aleutians. Seperti biasanya di hari Jumat ini kami mau share dua info kegiatan mingguan Komunitas Aleut yang bakalan sayang banget kalau sampai kelewatan.

16508887_934773333320135_5452839287338152803_n

Di hari Sabtu besok akan berlangsung Kelas Literasi Pekan Ke-81 dengan tema “Media Televisi”. Dalam KL kali ini kita bakal ngobrol dan diskusi seputar pertelevisian nasional dari kaca mata personal para peserta. Bagi kawan-kawan yang tertarik, langsung saja datang ke Perpustakaan KedaiPreanger (Jl. Solontongan No. 20-D) besok siang pukul 13.00 WIB.

16641125_934773373320131_3213012219205143648_n

Sedangkan di hari Minggu kita bakal Ngaleut Sirnaraga. Dalam Ngaleut kali ini, kita akan main ke salah satu TPU Muslim terbesar di Kota Bandung untuk mencari tahu tokoh-tokoh yang dimakamkan di sana. Kalau kawan-kawan tertarik untuk gabung, langsung saja konfirmasikan dirimu via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R (jangan lupa pake “@”) dan kumpul di Alfamart Jl. Pajajaran (Dekat Jl. Rama) pukul 07.22 WIB.

Oh iya, para peserta juga diharapkan untuk menyiapkan lotion anti-nyamuk dan payung/topi ya. Biar nanti makin enjoy saat Ngaleut yes. 😀

Jangan lupa ajak kawan, keluarga, kekasih, tetangga, atau gebetan untuk ikutan supaya acaranya bisa semakin seru. Sampai jumpa!

Lost In Manteos Dina Hiji Waktos

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

_mg_8721

“Kalau Jerman dulu ngeruntuhin Tembok Berlin, kita malah bangun Tembok Berlin sendiri di kampung”, begitu cerita Kang Edi dari Manteos. Manteos ini bukanlah sebuah daerah di dataran latin sana, nama ini merupakan sebuah kampung yang letaknya hanya sekitar 5 menit berkendara dari Jl. Dago Bandung. Memang di kawasan tersebut terdapat sebuah tembok besar dan memanjang membentengi salah satu bagian kampung. Bedanya, bila Tembok Berlin di Jerman berfungsi untuk memisahkan, Tembok Berlin di Manteos justru berfungsi untuk mempersatukan. Tempat ini merupakan ruang publik yang sering digunakan warga dan anak-anak untuk beraktivitas. Tembok Berlin yang ikonik ini menjadi satu dari sekian banyak hal menarik yang saya temukan saat berkunjung ke Kampung Manteos. Sedikit meminjam branding campaign yang sering disuarakan National Geographic yaitu “let’s get lost”, menjelajahi dan menyesatkan diri pada setiap lekuk dari Kampung Manteos yang bagaikan labirin memberikan sebuah pengalaman tak terlupakan.

Perkampungan kota di Bandung tentunya bukan hanya Manteos saja, sebelumnya saya bersama dengan Komunitas Aleut pernah juga mengunjungi Cikapundung Kolot yang hilang, Blok Tempe yang revolusional, serta Cibuntu yang ternama. Namun tentu setiap kampung yang kami kunjungi memiliki keunikan yang membawa cerita baru dalam setiap episodenya. Keunikan Kampung Manteos ini terletak dari struktur perkampunganya yang didirikan di Lembah Sungai Cikapundung, sehingga dari kejauhan kampung ini akan terlihat seperti rumah yang bertumpuk. Tampilannya sering digambarkan sebagai Rio De Janeiro-nya Kota Bandung, atau mungkin boleh saja kalau kita sebut Rio De Janeiro Van Bandoeng.

Nama Manteos memang terdengar seperti diambil dari bahasa Spanyol, saya berpikir bahwa nama tersebut memang merupakan sebuah wilayah yang berada di Spanyol atau Amerika Latin, bahkan sempat juga berpikir bahwa nama tersebut merupakan nama seorang pesepakbola yang bermain di La Liga. Walau ternyata bukan nama seorang pesepakbola, salah seorang kawan dari Komunitas Aleut mengatakan nama tersebut konon diambil dari seorang preman yang dulu tinggal di sana bernama Don Manteos. Kemungkinan nama Manteos tersebut merupakan adaptasi dari nama Mathius yang tergubah oleh lidah Sunda. Namun versi lain mengatakan bahwa Manteos dulunya merupakan nama sebuah gedung yang berdiri tak jauh dari kampung yang disebut Main House, lagi-lagi dikarenakan kearifan lidah lokal, maka warga menyebutnya dengan sebutan Manteos.

whatsapp-image-2017-02-09-at-6-38-17-pm

Begitu memasuki area Kampung Manteos, warna-warna cerah mulai menggoda sudut mata untuk memindai tampilan wajah kampung yang ngejreng ini. Mural berbentuk segitiga warna-warni pada setiap penjuru dinding rumah yang kami temui di sekeliling Bale Warga memang sangat mencolok. Desain mural berbentuk segi tiga dipilih dengan alasan agar ketika cat pada dinding mulai memudar atau rusak, maka akan mudah diperbaiki oleh seluruh warga, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Inisiasi untuk menggambar mural di sekeliling kampung datang dari tim Alumni Arsitektur Unpar tahun ’91. Proses penggambaran mural ini masih berlangsung hingga seluruh penjuru kampung berhasil terwarnai di akhir maret 2017 nanti.

_mg_8675

Tak hanya dindingnya yang berwarna-warni, hidangan yang disajikan untuk kami saat itu pun sangat berwarna dan cukup memberikan bekal untuk mengarungi perjalanan keliling kampung. Kelepon, getuk dan secangkir bajigur hangat, kombinasi tepat yang sedikit mengobati kerinduan saya akan jajanan tradisional. Mungkin sudah bertahun-tahun lamanya lidah saya tak merasakan getuk yang ditaburi kelapa serut seperti ini. Cemilan-cemilan ini tentunya sudah sangat sulit ditemukan di penjuru Kota Bandung.

_mg_8677

Tak jauh dari Bale Warga, terdapat konsep pembangunan Kampung Manteos yang disajikan melalui infographic apik yang ditempel di salah satu dinding rumah warga yang cukup membuat kami terpukau. Karena dalam kunjungan kami ke berbagai kampung kota selama ini, baru di Kampung Manteos saja sebuah planning concept diinformasikan dengan cukup baik. Hal ini menandakan keseriusan berbagai pihak yang mendukung kemajuan pengembangan kampung ini.

img_20170205_091751

Mungkin benar kata seorang kawan yang menjuluki Kampung Manteos ini sebagai kampung seribu tangga, karena sepertinya kami menuruni anak tangga yang takkan ada habisnya. Padahal ini baru turun, bisa dibayangkan saat kami kembali naik ke area Bale Warga nantinya. Di tengah jalan, kami juga menemukan selang yang jumlahnya cukup banyak berada di samping setiap jalan yang kita lewati. Saat kita telusuri, selang-selang tersebut mengarah pada sebuah ruangan kecil di sebuah bangunan. Pak Yayat, seorang warga yang menemani perjalanan kami mengatakan bahwa di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah mata air. Dari mata air inilah warga mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari mereka, karena warga Kampung Manteos memang tidak dipasok air ledeng.

_mg_8721

Akhirnya kami pun tiba di Tembok Berlin yang melegenda. Dan nampak semua warga di sini pun kompak menyebut tembok ini dengan sebutan Tembok Berlin. Awalnya tembok ini dibangun untuk digunakan sebagai jalan mobil, namun ternyata karena pembangunannya kurang tersampaikan dengan baik kepada warga lainnya, akhirnya pembangunan tembok ini terbengkalai. Dari tembok ini pun kami dapat melihat panorama Kota Bandung dari sudut yang tak pernah kami jumpai sebelumnya. Kami dapat melihat rumah-rumah kecil yang bertumpuk dan mengelilingi beberapa raksasa beton yang mulai mengisi langit kota ini.

img_20170205_090820

Dari Tembok Berlin kami beranjak turun sampai menemukan aliran air Sungai Cikapundung. Hal baru yang saya temukan di sini adalah warna aliran air Cikapundung yang terbilang masih cukup bening. Walau sejak tahun 2005 warga sudah tak pernah menggunakan aliran air ini untuk mandi dan mencuci baju karena mulai kotor, air Sungai Cikapundung yang mengalir di samping Kampung Manteos cukup bersih bila dibandingkan dengan daerah aliran air Sungai Cikapundung yang melintasi Jl. Asia Afrika dan sudah terlihat seperti air bajigur. “Nah bajigur yang tadi kalian minum teh langsung kita ambil dari sini, cuma kita panasin aja”, canda Kang Edi yang kemudian disambut gelak tawa seluruh peserta ngaleut Manteos.

_mg_8767

Walau sudah tidak dipergunakan untuk mandi dan mencuci pakaian, warga masih sering berkegiatan di bantaran sungai. Saat itu saya melihat anak-anak yang tadi berlarian di Tembok Berlin sedang berlomba melempar batu di pinggir sungai. Beberapa meter di sampingnya, terdapat dua pemuda yang terlihat asyik dengan kail pancingnya. Saya sempat bertanya pada salah satu pemuda tersebut, “Kang laukna seueur kitu?”. “Oh lumayan da ayaan keneh, seueur”, jawabnya. Hal ini menandakan aliran air di dekatnya masih memiliki kualitas yang cukup baik, hingga ikan masih dapat hidup di dalamnya.

_mg_8773

Hal lain yang cukup menarik perhatian saya di aliran Sungai Cikapundung yang melintasi Manteos adalah terdapat banyak sekali batuan datar di pinggir sungai. “Ya dulu warga mencuci pakaian di batu-batu itu”, ujar Pak Yayat yang dijuluki white lion oleh kawan-kawannya karena rambutnya yang sudah memutih seluruhnya. Saya pun sempat melihat kabel-kabel yang melintasi bagian atas sungai dengan jumlah cukup banyak. Sebelum saya mulai bertanya, nampaknya Pak Yayat sudah menangkap raut kebingungan di wajah saya. “Nah yang itu bukan kabel, itu selang air yang berfungsi mengambil air dari sela-sela cadas. Selain dari mata air tadi, ada beberapa warga yang mendapatkan air dari aliran air yang mengalir di antara batuan cadas”, tambah Pak Yayat.

Selain itu, rupanya terdapat beragam kisah unik yang menghiasi warga Kampung Manteos yang tinggal di bantaran Sungai Cikapundung ini. Salah satunya adalah kisah tentang leuwi beurit yang seringkali mengeluarkan suara mirip gamelan di malam hari. Kisah lainnya datang dari satu jembatan yang menjadi jalan satu-satunya warga untuk menyeberang sungai. Dahulu jembatan besi tersebut pernah hilang selama beberapa hari setelah hujan yang cukup deras. Awalnya warga menyangka kalau jembatan tersebut hanyut oleh banjir, namun setelah menelusuri sungai, jembatan tersebut tidak ditemukan. Setelah berhari-hari, dengan ajaib jembatan tersebut kembali muncul di tempat semula, hanya saja dengan bentuk yang melengkung dari bentuk yang sebelumnya lurus.

_mg_8782

Jembatan ajaib tadi menjadi titik perhentian terakhir kami dalam penjelajahan Kampung Manteos, sebelum kembali ke Tembok Berlin untuk berkumpul bersama kawan-kawan yang lain. Setelah semua peserta ngaleut berhasil finish di Tembok Berlin, Ipin salah seorang kawan kami yang merupakan ahli tumbuhan menceritakan pengalamannya menemukan banyak sekali tumbuhan obat di sekeliling Kampung Manteos. Yang jelas bukan nama-nama tumbuhan yang bisa saya hapal dalam sekali dengar, kecuali tumbuhan Kikorejat yang mampu menyembuhkan sakit mata.

_mg_8793

Setelah mendengarkan paparan Ipin soal kekayaan flora yang dimiliki oleh Kampung Manteos, acara dilanjutkan dengan game. Dan baru kali ini saya mengikuti kegiatan ngaleut dengan agenda game di dalamnya. Game ini pun dipandu oleh warga Kampung Manteos dan cukup membuat saya terkesan. Dari kepiawaiannya dalam memimpin game, saya rasa mereka sudah rutin memberikan game pada setiap rombongan yang berkunjung sebagai bagian tour de Manteos.

_mg_8871

Tour De Manteos hari ini ditutup oleh penampilan anak-anak dari Kampung Manteos yang sudah berlatih semalaman. Nantinya mereka akan tampil kembali dalam sebuah acara yang akan diselenggarakan tanggal 18 Maret 2017 nanti. Selain itu, saat ini beberapa pemuda kampung sedang mengikuti pelatihan juga untuk menjadi barista. “Nantinya bakal ada kedai kopi keren di Manteos, tunggu tanggal mainnya”, cerita Kang Edi yang menjadi jubir sejak pagi tadi.

Kang Edi dan warga Kampung Manteos lainnya memang mengharapkan kampung mereka dapat lebih banyak dikenal dan dikunjungi orang. Program-program menarik telah mereka siapkan untuk membuat kunjungan ke Kampung Manteos menjadi berkesan. Salah satu program yang disiapkan adalah membuat amazing race dengan rute keliling Kampung Manteos ini. Keunikan struktur kampung yang berundak-undak akan menjadi tantangan tersendiri bagi peserta race yang berpartisipasi. Tertarik bertualang menjelajahi lekuk tubuh Kampung Manteos? Langsung datang saja ke Kampung Manteos yang terletak di Kecamatan Coblong, tepat di belakang bangunan Komplek Dinas Psikologi Angkatan Darat. Let’s Get Lost in Manteos!

_mg_8898

Manteos, Kampung Seribu Tangga di Lembah Ci Kapundung

Oleh: Anggi Aldila Besta (@anggicau)

Anak-anak Kampung Manteos (dok: Komunitas Aleut)

Anak-anak Kampung Manteos (dok: Komunitas Aleut)

Entah beberapa orang dari seluruh warga Kota Bandung yang mengenal nama Manteos,  apalagi kalau ternyata Manteos ini adalah nama sebuah kampung di Kawasan Bandung Utara. Bagi saya, sebenarnya nama ini pun masih asing setidaknya dua tahun ke belakang. Padahal jarak dari rumah ke kampung ini tidak sampai 11 km apabila ditarik garis lurus. Kampung ini memiliki lorong-lorong gang sempit dilengkapi dengan undakan-undakan  tangga kecil yang terhubung satu sama lain, menjadikan Manteos seperti labirin yang berada di sebuah lembah. Tapi siapa sangka kalau kampung ini menyimpan banyak cerita menarik, cerita yang selalu disampaikan orang tua ke generasi berikutnya. Terutama cerita soal Ci Kapundung.

Nama Manteos sendiri berasal dari nama Matius, seorang tuan tanah warga Belanda yang mempunyai tanah di kawasan Kampung Manteos saat ini. Akan tetapi ada juga warga yang bilang kalau Manteos itu berasal dari kata Main House, karena dulunya di sekitar kampung ini ada penginapan milik orang Amerika yang sekarang menjadi gedung di komplek Dinas Psikologi Angkatan Darat. Namun sepertinya pendapat ini diragukan karena gedung tersebut dulunya dikenal sebagai Villa Mei Ling. Villa ini dulu dimiliki oleh orang Tiong Hoa yang juga seorang pedagang beras bernama Ang Eng Kan.

Secara wilayah, Kampung Manteos berada di Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. Sangat dekat sekali posisinya dari Kantor Kecamatan maupun Polsek Coblong. Di kampung ini, masyarakat asli dan pendatang sudah berbaur. Apabila disimpulkan secara kasar, bagian bawah kampung banyak dihuni oleh pendatang, sedangkan bagian atasnya masih banyak penduduk asli yang telah bermukim sejak lama, seperti yang Pak Edi (tokoh pemuda setempat) bilang, “Saya itu diproses di sini, sampai sekarang punya anak masih tetap di Manteos”.

Layaknya permukiman yang dekat dengan sungai, terkadang semua kebutuhan yang berhubungan dengan air masih memanfaatkan sungai. Warga di sini pun seperti itu: mandi, cuci, dan kakus semua dilakukan di bantaran Ci Kapundung. Tapi itu dulu, saat air Ci Kapundung masih bersih dan tidak menyebabkan gatal-gatal. Sekarang untuk MCK, warga mendirikan WC umum yang berada di sekitar sungai maupun yang berada di tengah kampung. WC umum yang di dekat sungai menggunakan sumber air dari mata air di seberang kampung yang dialirkan melalui selang selang kecil yang melintas di atas Ci Kapundung, namun sebaliknya untuk WC yang berada di tengah permukiman sumber airnya memanfaatkan mata air yang ada di Manteos, ci nyusu kalau kata orang Sunda .

Keinginan yang kuat dari para tokoh warga kampung Manteos yang ingin kampungnya tidak mau dicap sebagai kampung kumuh, akhirnya membuahkan hasil. Pertemuan dengan para alumni Arsitektur UNPAR yang peduli terhadap kondisi kampung di perkotaan, membuat geliat kampung ini hidup kembali. Berbagai metode untuk membuat kampung menjadi sebuah kampung kreatif diajarkan kepada para warga. Dengan menggandeng perusahaan cat, warga diajak membuat mural di sekitar kampung  yang membuat pemandangan kampung lebih berwarna. Para ibu diajarkan cara membuat kue-kue dengan belajar langsung ke pabrik kue di kawasan Bojongkoneng. Sedangkan seni teater menjadi favorit bagi para pemuda dan anak-anak.

Kota Bandung sering dijadikan barometer sebagai kota yang penuh kreatifitas, menuntut warganya untuk selalu melahirkan ide-ide kreatif, tidak terkecuali dengan pembangunan kawasan perkampungan kota yang masih banyak tersebar di pusat Kota Bandung. Ada beberapa program yang ditujukan untuk perkembangan kampung di perkotaan, contohnya pembelian lahan-lahan kosong yang bisa dijadikan ruang aktifitas warga. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan warga bergerak sendiri mencari dana untuk membeli lahan kosong yang akan dijadikan ruang publik, seperti para tokoh Manteos yang berkeinginan membeli sebidang tanah kosong di kawasan ”Tembok Berlin” untuk dijadikan ruang interaksi warga yang lebih luas. [Anggi]