Rasia Bandoeng

WhatsApp Image 2016-08-03 at 6.51.43 PM

RASIA BANDOENG
atawa 
Satu percinta-an yang melanggar peradatan “Bangsa Tiong Hoa” satu cerita yang benar terjadi di kota Bandung dan berakhir pada tahon 1917.

Diceritaken oleh Chabanneau *******

Diterbitkan pertama kali oleh Gouw Kim Liong, tahun 1918
Dicetak oleh Drukkerij Kho Tjeng Bie & Co., Batavia
Diterbitkan ulang dengan penambahan oleh Ultimus

Disalin dan diberi catatan oleh Komunitas Aleut!
Disunting oleh Ridwan Hutagalung
Rancangan sampul oleh Ridwan Hutagalung

Novel Rasia Bandoeng pertama kali terbit pada tahun 1918 secara bersambung dan seluruhnya terdiri dari tiga jilid.

Novel ini memang sempat heboh pada masanya karena isinya yang mengungkap sebuah kisah nyata hubungan cinta terlarang sesama marga Tionghoa di Bandung tempo dulu.

Sudah lama isi novel Rasia Bandoeng menjadi perhatian Komunitas Aleut, tidak melulu karena isi ceritanya tetapi juga karena banyaknya nama tempat yang disebutkan di situ. Di awal tahun 2016 ini Komunitas Aleut mengemas novel Rasia Bandoeng dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti Ngaleut Rasia Bandoeng, Tjerita Boekoe, dan terakhir, menerbitkan ulang novel lama itu dalam bentuk yang Anda terima sekarang ini.

Untuk penerbitan ulang novel Rasia Bandoeng ini, ketiga jilid yang semula terpisah sekarang digabung menjadi satu buku saja. Pada isi naskah dilakukan sedikit perubahan ejaan lama ke dalam ejaan baru, selebihnya disalin sesuai dengan aslinya. Selain itu ada tambahan catatan kaki untuk berbagai istilah yang sudah tidak umum sekarang, serta lampiran artikel investigatif oleh Lina Nursanty Rasia Bandoeng yang pernah dimuat secara serial di HU Pikiran Rakyat.

Penerbit : Ultimus
Cetakan : 1, Jun 2016
Pengarang: Chabanneau *******
Halaman : 296
Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
ISBN : 978-602-8331-75-3

Harga umum 85,000

Pemesanan: 0859-7490-5769
Atau datang langsung ke
Kedai Preanger
Jl. Solontongan No.20-D, Buahbatu,
Bandung 40264

Harga di Kedai Preanger 75,000

Pernik KAA 2015

WhatsApp Image 2016-08-03 at 6.51.43 PM (1)

Pernik KAA 2015; Serba-serbi Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika 1955.
Catatan Liputan Komunitas Aleut!
Penyunting: Ridwan Hutagalung

Nugent dalam bukunya Creative History (1967) menjawab pertanyaan mengapa kita perlu mempelajari sejarah dari dua segi, yaitu bagaimana sejarah itu dapat menolong kita untuk hidup dan bagaimana sejarah itu dapat menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk menjawab pertanyaan tersebut Nugent mengatakan dengan tegas bahwa “Know other peoples, know yourself”.

Sejarah sebagai pengalaman manusia memberikan berbagai alternatif untuk memilih begitu banyak cara hidup (a multitude of ways). Setiap orang adalah produk masyarakat dan masyarakat adalah produk masa lampau, produk sejarah. Dengan mempelajari sejarah kita akan mampu menghindari berbagai kesalahan dan kekurangan masyarakat masa lampau untuk kemudian memperbaiki masa depan.

Sejarah juga selalu melahirkan panggung bagi orang-orang besar. Namun demikian, tak banyak yang mencatat peran orang-orang di balik layar panggung sejarah. Ada banyak peristiwa kecil di balik panggung sejarah. Peristiwa-peristiwa itu terangkai menuju pada peristiwa besar. Peristiwa kecil menentukan kesuksesan aktor di panggung sejarah.

Di balik hingar bingar Peringatan ke-60 Tahun KAA Tahun 2015 ada banyak peristiwa sejarah. Ribuan warga Kota Bandung, mulai dari usia dini, remaja, hingga lanjut usia bergemuruh mengumandangkan gema Dasasila Bandung. Setiap warga mempunyai caranya tersendiri untuk menghormati lahirnya Nilai-nilai Luhur Dasasia Bandung.

Buku ini telah merekam dengan baik semua peristiwa di balik layar itu. Tak hanya mengabadikan peristiwa sejarah, namun lebih dari itu Komunitas Aleut! telah melestarikan ruh gotong royong warga Kota Bandung yang masih terus menyala-nyala. Gotong royong adalah ruh kreatif Konferensi Asia Afrika.

Penerbit : Ultimus
Cetakan : 1, Mei 2016
Penulis: Ridwan Hutagalung (ed.)
Halaman : 222
Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
ISBN : 978-602-8331-73-9

Harga Rp.65.000

Pemesanan: 0859-7490-5769

Atau datang langsung ke
Kedai Preanger
Jl. Solontongan No.20-D, Buahbatu
Bandung 40264

#InfoAleut: Kelas Literasi Pekan ke-57 dan Ngaleut Tjikembang

Selamat hari berakhir pekan, Aleutians! Seperti yang sudah-sudah, di hari ini kami akan bagikan dua info kegiatan mingguan Aleut yang warbyasak serunya😀

WhatsApp Image 2016-08-26 at 8.14.01 AM

Kegiatan pertama adalah Kelas Literasi pekan ke-57. Di hari Sabtu ini, Kelas Literasi memiliki tema “Mencatat Perjalanan”, jadi kita akan bersama-sama meresensi buku yang berkaitan dengan perjalanan,. Kalau teman-teman punya buku yang dimaksud dan tertarik gabung, langsung saja merapat ke Taman Lansia Bandung mulai pukul 13.00 WIB. Kalau ga punya buku tapi pengen ikut meresensi, bisa juga kontak 0896-8095-4394/LINE @FLF1345R untuk minjem koleksi dari Pustaka Preanger, atau Aleutians juga bisa buat hadir untuk menyimak dan berdiskusi kok🙂

WhatsApp Image 2016-08-26 at 8.14.01 AM

Sedangkan di hari Minggu pagi kita akan “Ngaleut Tjikembang”. Di Ngaleut kali ini, kita akan momotoran ke wilayah selatan Bandung untuk menelusuri jejak kina di daerah Cikembang. Selain itu, kita juga akan mampir ke hulu Ci Tarum di Cisanti. Seru yes?🙂

Kalau kawan-kawan tertarik untuk bergabung, langsung aja konfirmasi kehadiran via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R (jangan lupa pakai “@”), lalu kumpul di KedaiPreanger (Jl. Solontongan No. 20D) pukul 07.00 WIB. Jangan lupa cantumkan juga keterangan bermotor atau tidak saat konfirmasi, dan siapkan uang untuk masuk ke Cisanti.

Ayo ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, mantan, rekan kerja, boss, atau gebetanmu agar kegiatan minggu ini semakin seru. Sampai jumpa🙂

Revisi dalam Buku “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” Edisi Pertama

Oleh: Tegar Sukma A. Bestari (@teg_art)

DSCF4736.JPG

Buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA edisi revisi adalah buku biografi pertama yang saya miliki. Buku yang memang memperkenalkan saya pada sosok Soekarno, tentu saja dari sisi Cindy Adams yang mewawancarai Soekarno dalam pembuatannya. Saya sulit menilai apakah buku biografi ini seimbang dalam penyampaian informasinya, karena mengenal Soekarno tentu tidak bisa hanya dari buku ini saja melainkan harus membaca buku lainnya seperti buku dengan judul “Kuantar ke Gerbang”, buku-buku yang ditulis oleh Soe Hok Gie dan buku-buku lain.

Buku biografi Soekarno ini diterbitkan pertama kali dalam Bahasa Inggris dengan judul “SUKARNO: AN AUTOBIOGRAPHY” pada tahun 1965, lalu pertama kali diterjemahkan oleh Major Abdul Bar Salim dan diterbitkan pada tahun 1966 dengan judul “BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA”.

DSCF4733.JPG

Yang menjadi perhatian utama saya terhadap buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA ini adalah terdapat tulisan EDISI REVISI *2007* pada cover bukunya, maka jelas ada perbaikan terhadap buku ini. Pemikiran awal saya permasalahan revisi ini hanya terdapat pada ejaan yang disesuaikan saja, dan itu bukan permasalahan mendasar tentu saja.

Setelah saya mulai membaca, halaman awal pada buku ini terdapat kata sambutan dari Ketua Umum Yayasan Bung Karno yaitu Guruh Sukarno Putra. Dalam sambutan inilah terkuak permasalahan sangat penting yang tertulis dalam buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA edisi pertama tahun 1966. Salain adanya kesalahan dalam penerjemahan juga ada alinea tambahan yang tidak ada dalam versi berbahasa inggris, dan yang fatal adalah alinea tambahan ini menggambarkan Soekarno yang mendiskriditkan peran Hatta dan Sjahrir. Konon permasalahan 2 alinea tambahan ini  sempat memanaskan kedua keluarga proklamator.

Setelah halaman sambutan dari Guruh, dalam buku revisi ini ada tulisan dari Asvi Warman Adam tentang Kesaksian Bung Karno. Dalam tulisan ini Asvi Warman Adam menuliskan bahwa penambahan 2 alinea tambahan di buku terbitan pertama itu terdapat di halaman 341, namun setelah saya cek tidak ada satu alineapun yang dimaksud. Karena saya sangat penasaran, saya cari 2 alinea yang dimaksud dan saya dapatkan di halaman 332 bab 26 dengan judul Proklamasi bukan di halaman 341. Berikut saya catut 2 alinea tambahan yang saya dapat dari buku terbitan pertama,

“Hatta tidak ada,” kataku. ,,Saja tidak mau mengutjapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada.” (hal: 331)

2 alinea tambahannya sbb, (hal : 332)

DSCF4740.JPG

Agar terbaca jelas, saya salin sbb,

Tidak ada orang jang berteriak ,,Kami menghendaki Bung Hatta”. Aku tidak memerlukannja. Sama seperti djuga aku tidak memerlukan Sjahrir jang menolak untuk memperlihatkan diri disaat pembatjaan Proklamasi. Sebenarnja aku dapat melakukannja seorang diri, dan memang aku melakukannja sendirian. Didalam dua hari jang memetjahkan uratsjaraf itu maka peranan Hatta dalam sedjarah tidak ada.

Peranannja jang tersendiri selama masa perdjoangan kami tidak ada. Hanja Sukarnolah jang tetap mendorongnja kedepan. Aku memerlukan orang jang dinamakan ,,pemimpin” ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannja oleh karena aku orang Djawa dan dia orang Sumatra dan dihari-hari jang demikian itu aku memerlukan seorang dari Sumatra. Dia adalah djalan jang paling baik untuk mendjamin sokongan dari rakjat pulau jang nomor dua terbesari di Indonesia.

Dalam detik jang gawat dalam sedjarah inilah Sukarno dan tanah air Indonesia menunggu kedatangan Hatta.

Kita bandingkan sekarang dengan edisi revisi tahun 2007. Alinea yang dimaksud ini terdapat pada hal 267.

DSCF4742.JPG

Berikut saya catut

“Hatta belum datang,” kataku. “aku tidak akan mau membacakan proklamasi tanpa Hatta.”

Pada momen yang kritis dalam sejarah ini, Sukarno dan Indonesia menunggu kedatangan Hatta.

Dalam edisi revisi, 2 paragraf yang mendiskriditkan Hatta dan Sjahrir sudah hilang, namun mari kita lihat sekarang di buku sumbernya, yaitu “SUKARNO: AN AUTOBIOGRAPHY” karena kedua buku itu menerjemahkan sumber yang sama.

Dalam buku versi Bahasa inggris ini saya menemukan alinea yang dimaksud terdapat di hal. 219. Dengan isi alinea,

DSCF4741.JPG

“Hatta is not present,” I said. “I will not read the Proclamation without Hatta.”

At this crucial moment ini history, Sukarno and Indonesia waited for Hatta to show up.

Setelah bisa membandingkan ketiga buku ini dapat dipastikan bahwa memang ada penambahan 2 alinea pada cetakan pertama, dan hingga saat ini tidak diketahui siapa yang menambahkan alinea tambahan itu. Menurut sambutan yang disampaikan oleh Guruh Sukarno Putra pada buku edisi revisi pun tampaknya keluarga Soekarno tidak terlalu mengambil pusing terkait penambah 2 alinea itu.

Sisi lain yang menarik dari buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA edisi pertama juga ada tulisan tangan persetujuan tentang penerbitan yang ditandatangani langsung oleh Cindy Adams dan Soekarno.

DSCF4743.JPG

Berikut isinya,

New York: Nov 1965

……………..of Gunung Agung- who will publish this book in Indonesian, Japanese, Chinese and the Afro Asian Countries with my blessing—

Cindy Adams

I agree with the publication of this book in above mentioned languages

Soekarno

9/2 66

Juga adanya sambutan dari Mantan Presiden Indonesia, Soeharto

DSCF4745.JPG

Untuk yang ini sedikit sulit dibaca haha, tapi alinea terakhir dari surat Soeharto ini isinya,

Semoga para pembatja dapat memperoleh peladjaran jang berguna bagi tanah air, negara dan Bangsa.

 

Tautan asli: https://ngalamundinahalimun.wordpress.com/2016/08/04/revisi-dalam-buku-penyambung-lidah-rakyat-indonesia-edisi-pertama/

Dilema Si Pemain Rana

Oleh: Nurul Fatimah (@fatnurulll)

Baterai sudah full charged. Memori card sudah diformat. Setengah tujuh masih dua menit lagi. Tapi di luar, motor sudah menderu. Siap dikebut sepagi itu.

Kami bertemu di Solontongan. Di sebuah kedai di ujung pertigaan. Sudah sekian orang duduk berbincang sambil menunggu yang lain datang. Pagi itu, setelah sehari sebelumnya Bandung diguyur hujan, kami akan melancong ke Padalarang.

Dan…Inilah ngaleut. Bersama 20 motor, kami menuju Sanghyang Heuleut.

Kau perlu tau, kawan. Banyak hal yang perlu disiapkan sebelum memutuskan datang. Berpakaianlah senyaman mungkin. Nyaman untuk mendaki. Nyaman untuk menerjang arus. Nyaman untuk merangkak. Bersiaplah untuk terjembab, terjatuh, terpeleset. Setidaknya kau harus ikhlas untuk lecet.

Gemuruh arus sungai Citarum lah yang pertama menyapa. Mata ini bahagia. Sungguh. Melihat sungai dengan debit yang deras, dengan bibir sungai yang masih berbatu cadas. Kamipun mulai menapak lebih jauh. Masuk ke kawasan rerimbunan pohon dan semak. Jalan tanah yang semalaman terguyur hujan. Sesekali menanjak. Sesekali melompat. Sesekali memanjat.

Sebuah goa menganga di bawah tebing. Papan penanda menyebutnya “Sanghyang Poek”. Goa dengan panjang sekitar 400m itu gelap dan licin. Penuh stalaktit dan stalakmit. Beberapa masih meneteskan air tanda proses pembentukan masih berlangsung. Bentuknya bermacam. Tebayang waktu yang dibutuhkan bagi air untuk menetes dan membentuk satu gugusan bebatuan baru. Tak hanya meruncing, beberapa bahkan berkilau. Membuat kami pasrah terpukau.

Mulut goa di ujung lainnya membawa kami ke jalur yang lebih ganas. Berjalan melawan arus sungai dengan hamparan bebatuan yang makin edan. Beberapa sisi bahkan tajam. Sesekali kami berhenti. Mengambil nafas untuk bekal melangkah lagi. Atau mengulurkan tangan untuk memberi kekuatan. Atau menjabat erat untuk menyalurkan semangat. Entahlah, yang pasti kami tetap melawan arus.

Mata ini sudah banyak merekam. Tapi kamera di tangan masih bungkam. Diafragma didiamkan menganga. Hanya sesekali saja telunjuk ini menyentuh rana. Padahal tepat di depan mata, seorang kawan terpeleset. Sungguh indah ketika karenanya, air menjadi terciprat. Muka penuh sebalnya akhirnya mengumpat. Harusnya dalam rima ini aku tuliskan “keparat!”. Tapi apa daya, hanya “anjiiiiirrrrr” yang kawan itu ingat. Menyedihkan, karena semua itu terlewat.

Bukan tak beralasan kamera itu hanya dibiarkan menggantung di leher. Bahkan setelahnya ia sempurna masuk kembali dalam tas. Medan terlalu keras! Sudah beberapa kali ayunannya terantuk batu. Mengguratkan sedikit tanda di sebelah lensa. Masih untung bukan tercemplung. Hanya tergores. Ter-go-res. Oke cukup.

Dalam dunia per-foto-an, momen menarik bisa dikejar, ditunggu, atau bahkan diciptakan. Tapi kau tahu kawan, yang spontan itu lebih memuaskan. Ada masa dimana kita bahagia karena dapat mengungkap sebuah cerita. Terlebih mengabadikan apa yang orang lain tak punya kenangannya. Tak lihat, tak dengar, dan tak rasa. Kepuasan yang sebagian orang menyebutnya “berbangga”. Padahal yang semacam itu hanya soal waktu yang berkompromi dengan keberuntungan. Bukan teknik atau jenis kamera yang digunakan.

Dan…

Pada titik itu aku dilema!

Inginnya menangkap peristiwa. Tapi apadaya semua hanya mungkin direkam mata.

Ya, biarkan saja lah. Toh perjalanan sudah terlalu mainstream untuk selalu diabadikan. Biar sesekali otak yang bekerja. Sibuk menyimpan kenangannya. (NF)

 

Tautan asli: http://fathimahnurul.blogspot.co.id/2016/08/dilema-si-pemain-rana.html

“Ojo kapok, le”

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Sejak tahun 1949 jasadnya telah terkubur. 26 Juli kemarin dia baru ulang tahun. Dalam catatan yang paling moderat, selama hidupnya, setidaknya ada delapan orang perempuan yang menjadi bribikan Chairil Anwar. Mereka, perempuan-perempuan yang di-birahi-kan oleh penyair bohemian itu, menurut Majalah Historia—saya sertakan juga penggalan puisi yang dibuat untuk masing-masing perempuan (kecuali Hapsah), adalah sebagai berikut:

  1. Ida Nasution: “Bagaimana? / Kalau Ida mau turut mengabur / Tidak samudra caya tempatmu menghambar” (Ajakan)
  1. Sri Ayati: “Kepada Sri / Sepi di luar / Sepi menekan mendesak / Lurus Kaku Pohonan / Tak bergerak / Sampai ke puncak / Sepi memagut / Tak satu kuasa melepas renggut” (Hampa)
  1. Dian Tamaela: “Dalam sunyi malam ganggang menari / Menurut beta punya tifa / Pohon pala / Badan perawan jadi / Hidup sampai pagi tiba” (Cerita Buat Dien Tamaela)
  1. 4.Gadis Rasid: “Kita terapit / Cintaku / Mengecil Diri / Kadang bisa mengisar setapak / Mari kita lepas / Kita lepas jiwa mencari jadi merpati” (Buat Gadis Rasid)
  1. Tuti Artic: “Kau pintar benar bercium / Ada goresan tinggal terasa / Ketika kita bersepeda kuantar kau pulang / Panas darahmu / Sungguh lekas kau jadi dara / Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang” (Tuti Artic)
  1. Karinah Moordjono: “Ah! Tercebar rasanya diri / Membubung tinggi atas kini / Sejenak saja / Halus rapuh ini jalinan kenang / Hancur hilang belum dipegang” (Kenangan)
  1. Sumirat: “Buat Miratku! Ratuku! / Kubentuk dunia sendiri / Dan kuberi jiwa segala / Yang dikira orang mati di alam ini! / Kucuplah aku terus / Kucuplah / Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam hidupku.” (Sajak Putih)
  1. Hapsah Wiriaredja: “Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi menteri pendidikan dan kebudayaan.” (Bukan penggalan puisi, tapi perkataan Chairil kepada istrinya. Dan Gajah adalah panggilan sayangnya kepada Hapsah karena badannya gemuk)

Chairil ini kiranya—jika mengacu pada buku besar peminum kopinya Ikal di buku “Cinta di Dalam Gelas”, adalah seorang player: minum kopi pahit, makin pahit kopinya makin berliku petualangannya. Hidupnya penuh intaian mara bahaya. Cinta berantakan. Istri minggat. Dan kekasih berkhianat di atas tempat tidur mereka sendiri! Tetapi orang-orang seperti ini tetap mencoba dan mencipta. Mereka adakalanya menang gilang gemilang, namun sekalinya kalah langsung tumbang tersuruk-suruk. Delapan bribikan bukan jumlah sedikit, bung! Bahkan sumber lain menyebutkan totalnya ada 13!

Terjatuh dan bangun lagi memang bukan hanya urusan amor, di ladang kehidupan lain pun hal ini kerap terjadi: kuliah DO, bisnis kena tipu, kerja di PHK, iman longsor, bertengkar dengan orangtua, mau mandi tak ada sabun, gosok gigi melamun pasta diganti sabun muka, belajar naik motor nabrak kambing senewen yang hendak kawin, ngambil rendang dapat lengkuas, dll. Medan laga di mana-mana, peluang terluka menganga setiap saat, tapi seperti kata pepatah lama, “apa yang tak bisa membunuhmu akan membuatmu lebih kuat.”

Barangkali sebagian orang menyangka bahwa PAT (Pramoedya Ananta Toer, red.) telah menjadi seorang penantang sejak lahir sampai liang lahat. Tak sepenuhnya keliru, ia memang keras sejak zaman perang sampai akhir hayatnya. Mendekam di bui dan dibuang ke Pulau Buru dengan total 14 tahun adalah alasan serius untuk membuat PAT seperti itu. Tapi dalam sekerat perjalanan hidupnya, PAT juga pernah begitu sentimental, dan tak kuasa menolak “permintaan” ayahnya untuk pulang kampung. Tak ada bantahan, tak ada perlawanan, yang tersisa hanya parade kenang-kenangan hidup yang mengular ke belakang di sepanjang rel kereta api. Dalam “Bukan Pasar Malam” PAT menggambarkan hidup dan batin manusia seperti ini:

“Gundukan tanah merah yang tinggi, yang selalu kulihat di zaman Jepang dulu bila aku bepergian ke Blora juga, kini tinggal seperempatnya. Diendapkan oleh hujan. Dicangkuli. Diseret oleh air hujan. Tiba-tiba saja terasa ngeri olehku melihat gundukan tanah merah di statiun Jatinegara itu. Bukankah hidup manusia ini tiap hari dicangkul, diendapkan, dan diseret juga seperti gundukan tanah merah itu?”

Dicangkul, diendapkan, diseret! Siapa yang tak mengalami hal itu? Konon pengalaman seperti itulah yang membuat orang semakin dewasa atau bahkan trauma. Tapi bukankah hidup tak pernah surut ke belakang? Selain yang kita simpan di lemari ingatan, bukankah hidup hanya bentangan jalan ke depan sampai bertemu titik akhir? Chairil tak sepenuhnya lancar jaya dalam bertualang, namun ia terus membuat halaman-halaman baru sampai akhirnya usai dan menyerah di Karet Bivak. PAT apalagi, 14 tahun hidup dalam semesta purba penjara dan telinganya menjadi tuli karena dihajar popor senapan: ia terus berkarya. Masa tuanya dihabiskan dengan hobi membakar sampah sampai ajal menjemput di tahun 2006 sebagai penanda bahwa “pasar malam” telah berakhir.

Seorang kawan baru telah cukup lama bercerai. Anaknya—bocah paling lucu se-Yogyakarta tinggal bersama (mantan) istri. Sesekali saja bocah itu mengunjungi bapaknya. Belum lama kawan baru itu menulis status di laman FB: setiap lebaran, ibu-bapaknya yang penuh kasih terhadap anak lanang yang rumah tangganya berantakan itu selalu mengulang sebuah pesan, “Ojo kapok le.”

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.co.id/2016/08/ojo-kapok-le.html

#InfoAleut: Kelas Literasi Pekan Ke-56 dan Ngaleut Braga

Wilujeng dinten Sabtu! Es yusuel, di hari ini kami akan bagikan dua info kegiatan mingguan Aleut yang bakal buat Aleutians penasaran😀

WhatsApp Image 2016-08-16 at 3.22.33 PM

Kegiatan pertama adalah Kelas Literasi pekan ke-56. Di hari Sabtu ini, kegiatannya adalah meresensi buku-buku khusus dari Seri Buku Tempo. Kalau teman-teman punya buku yang dimaksud dan tertarik gabung, langsung saja merapat ke Taman Balaikota Bandung mulai pukul 13.00 WIB. Kalau ga punya buku tapi pengen ikut meresensi, bisa juga kontak 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R untuk minjem koleksi dari Pustaka Preanger🙂

WhatsApp Image 2016-08-18 at 11.49.53 PM

Sedangkan di hari Minggu pagi kita akan “Ngaleut Braga”. Sesuai dengan judulnya, di Ngaleut kali ini kita akan main ke wilayah elit Bandung di masa lalu. Selesai Ngaleut, temen-temen bisa lanjut ke Festival KEUKEN. Seru kan?🙂

Kalau kawan-kawan tertarik untuk bergabung, langsung aja konfirmasi kehadiranmu via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R (jangan lupa pakai “@”) lalu kumpul di sisi barat Gedung Merdeka (dekat Jl. Sukarno) pukul 07.30 WIB.

Ayo ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, mantan, rekan kerja, boss, atau gebetanmu agar kegiatan minggu ini semakin seru. Sampai jumpa🙂

Novel Terjemahan Pustaka Jaya

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

“Kita perlu karya sastra dari negara-negara lain untuk mengembangkan wawasan dan merangsang gagasan kita. Tanpanya, kita bukan cuma mengerdil, namun kelaparan,” tulis kritikus Magnus Linklater, yang saya kutip dari pengantar novel Piramid terjemahan Marjin Kiri–satu penerbit keren yang merasa prihatin karena hari ini kita nyaris tak lagi mengenal perkembangan sastra dunia kontemporer, berbeda dengan masa awal dan pertengahan abad ke-20.

Abdul Moeis menerjemahkan karya klasik Don Quixote. Setelah diumumkan sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 1913, novel Rabindrath Tagore segera ada terjemahannya oleh Muhammad Yamin. Soekarno membaca kemudian mengutip Dante di sana-sini. Bahkan kaum Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an dengan songongnya memproklamasikan diri sebagai “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia.” Sampai kini pun, kegiatan penerjemahan buku memang enggak pupus di Indonesia, namun porsinya makin lama makin diserbu novel remaja dan populer. Idealnya, penerbit-penerbit besar dengan dana melimpah semestinya memberi perhatian pada sastra bermutu, bukan melulu tunduk pada pasar. Perlu hadir penerbit yang “menerbitkan buku baik” seperti Pustaka Jaya.

Siapa enggak kenal Pustaka Jaya? Menyebut namanya, paling tidak ada dua hal yang paling kita ingat. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama besar sastrawan Ajip Rosidi yang membesarkannya. Pustaka Jaya bisa dibilang sebagai tonggak baru pasca Balai Pustaka, Gunung Agung, Djambatan, dan penerbit-penerbit tua lainnya yang mulai kehabisan nafas. Penulis luar beserta karya-karyanya macam Nikolai Gogol, Fyodor Dostoyevski, Jean-Paul Sartre, John Steinbeck, Emile Zola, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran, Yasunari Kawabata, dan pengarang lainnya diperkenalkan dengan begitu masif. Dengan penerjemah yang enggak main-main, beberapa merupakan penulis kenamaan seperti Sapardi Djoko Damono, NH Dini, Asrul Sani. “Saya punya hutang pada Pustaka Jaya. Tanpanya, saya pasti akan sangat terlambat berkenalan dengan kesusastraan dunia,” sebut esais kondang Zen RS. Belakangan, Kepustakaan Populer Gramedia kembali menerbitkan beragam seri sastra dunia hasil terjemahan Pustaka Jaya (mungkin karena pertimbangan ekonomis, entahlah).

cp4ge8sueaaew0_

Sejak digagas, buku-buku Pustaka Jaya sudah sering dibahas dalam Kelas Literasi Komunitas Aleut! Maka, pada Sabtu 6 Agustus 2016, menginjak pekan ke-54, diusunglah tema “Literasi Pustaka Jaya” yang digelar di Taman Cibeunying. Kebanyakan yang diresensi adalah novel-novel terjemahan.

Saya enggak ikut meresensi, sehingga (sengaja) datang telat. Saat tiba, si mungil Hamdan telah membahas hasil pembacaannya akan novel Notsume Soseki berjudul seperti lagu lawas Element, Rahasia Hati, kemudian diskusi melebar soal penulis Jepang dan fenomena bunuh diri-meski Soseki bukan salah salah satunya. Hamdan sendiri adalah kawan yang sering memanggil saya Murakami, saya jadi bertanya-tanya apakah Ajip Rosidi dipanggil Kawabata juga karena mengagumi dan menerjemahkan karya penulis Jepang ini.

Dataran Tortilla-nya John Steinbeck yang diterjemahkan Djokolelono memang bajingan. Kegokilan Steinbeck dialihbahasakan dengan apik oleh orang yang mencipta beragam slogan asyik; Terus Terang Philips Terang Terus, Susu Saya Susu Bendera, Pria Punya Selera. Pengarang Ahmad Tohari mengakui bahwa lahirnya trilogiRonggeng Dukuh Paruk sangat dipengaruhi dari hasil pembacaannya pada novel Dataran Tortilla ini. Mbak Nurul yang kebagian merensensi novel ini juga mengiyakan karena menikmati pembacaannya. Kalau saja bukan karena untuk diresensi, saya bacanya bakal dilama-lamain, ungkap wong Bantul itu.

Berbeda dengan Tintin yang mendapat Cinta Pertama-nya Ivan Turgenev, dan mengaku menyerah di tengah jalan karena enggak terlalu paham konteks latarnya. Memang, seringnya saya pun bakal menikmati cerita dalam novel klasik justru setelah membaca di seperempat akhirnya, harus memaksakan diri beradaptasi dengan semesta cerita. Novel klasik Rusia sendiri terkenal berkat kehebatannya dalam menyampaikan beragam konsep psikologi dan hubungan manusia yang kompleks lewat jalan kisah.

Tahun 1980-an Ajip Rosidi pergi ke Jepang dan mendelegasikan Pustaka Jaya kepada orang lain. Sayang beribu sayang, sejak saat itu Pustaka Jaya terpuruk. Pustaka Jaya yang tadinya memiliki standar buku-buku baik yang hendak dicetak, mulai bergeser ke memenuhi selera pasar. Karena semakin merugi, Ir. Ciputra berniat menyarankan Pustaka Jaya ditutup saja. Lalu sekembali dari Jepang, ia menahan keinginan Ir. Ciputra dan lalu membeli saham Pustaka Jaya yang ada di tangan Ir. Ciputra dan berupaya mengembalikan kejayaan Pustaka Jaya. Tapi waktu demi waktu, Pustaka Jaya semakin meredup. Untuk menghidupi Pustaka Jaya, cukup sering Ajip Rosidi menjual hartanya, seperti lukisan untuk menyambung umur Pustaka Jaya. “Saya ingin Pustaka Jaya bisa hidup, sehat, agar buku-bukunya dibeli oleh umum. Dan buku-buku itu penting dilihat dari segi kebudayaan,” tegas Ajip Rosidi.

Kondisi perbukuan banyak merugi dengan kompetisi yang makin berat, lebih-lebih di negara bernama Indonesia. Rezim bestsellerism telah banyak menimbulkan krisis keuangan penerbit-penerbit lama, seperti Djambatan, Balai Pustaka, dan sekarang Pustaka Jaya. “Menulis adalah sebuah bisnis mengerikan, dan menyedihkan,” sebut pengarang Amerika, Ann Patchett, “Tetap bertahan. Itu lebih baik daripada apa pun di dunia.” Haruskah saya berganti nama jadi Ajip dan mengakuisisi Pustaka Jaya?

 

Tautan asli: https://yeaharip.com/2016/08/17/novel-terjemahan-pustaka-jaya/

#InfoAleut: Kelas Literasi Pekan ke-55 dan Ngaleut Sanghyang Heuleut

Selamat berakhir pekan! Seperti yang sudah-sudah, di hari ini kami akan bagikan dua info kegiatan mingguan Aleut yang bakal buat Aleutians penasaran dan pengen ikut😀

WhatsApp Image 2016-08-11 at 1.04.44 PM

Kegiatan pertama adalah Kelas Literasi pekan ke-55. Untuk minggu ini, kegiatannya akan sedikit berbeda karena yang diresensi adalah… blog! Ya, para peserta akan meresensi blog yang telah dibaca, blog punya kawannya, atau blog favoritnya. Kalau Aleutians belom sempet baca blog atau ga punya blog yang mau diresensi, boleh banget kok datang untuk menyimak resensi lisan dan ikut berdiskusi seputar blog atau topik blog yang dibahas.🙂

Langsung saja merapat hari ini ke Taman Parterre Universitas Pendidikan Indonesia (Jl. Dr. Setiabudhi No. 229) mulai pukul 13.00 WIB.

WhatsApp Image 2016-08-12 at 7.54.20 AM

Sedangkan di hari Minggu malam kita akan “Ngaleut Sanghyang Heuleut”. Sesuai dengan judulnya, di Ngaleut kali ini kita akan berkunjung ke salah satu tempat kekinian di luar Kota Bandung. Tak hanya itu, kita juga akan ngojay alias berenang di sana. Seru kan?🙂

Kalau kawan-kawan tertarik untuk bergabung, langsung aja konfirmasi kehadiranmu via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @flf1345r (jangan lupa pakai “@”) lalu kumpul di Kedai Preanger (Jl. Solontongan No. 20-D) pukul 07.00 WIB. Cantumkan juga keterangan bawa motor atau tidak, dan Aleutians yang bawa motor bawa helm dua ya.

Oh iya, jangan lupa juga bawa pakaian ganti. Kan bodor juga kalau nanti udah basah-basahan tapi ga ada baju dan daleman ganti.😀

Ayo ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, mantan, rekan kerja, boss, atau gebetanmu agar kegiatan minggu ini semakin seru. Sampai jumpa🙂