#InfoAleut: Kelas Literasi “Resensi Buku” dan Ngaleut Pabuntelan

Hai, malam ini kami hadir untuk membagikan dua info kegiatan mingguan Aleut yang dijamin bakalan rame 😀
 
Di hari Sabtu besok akan berlangsung Kelas Literasi Pekan Ke-86 dengan tema “Resensi Buku”. Kalau kemarin-kemarin Kelas Literasi-nya bertema, untuk kali ini temanya bebas. Jadi kalau kawan-kawan lagi baca buku apapun minggu ini, bisa langsung gabung buat membahas bukunya bersama-sama. Kalau tertarik, langsung saja datang ke Mr. Katsu (Jl. Martanegara No. 94) besok siang pukul 13.44 WIB.
 
Info kedua nih. Di hari Minggu kita bakal Ngaleut Pabuntelan. Kita bakal touring lagi kayak minggu lalu ke daerah selatan Bandung, kali ini untuk melihat sisa dan jejak-jejak di masa kerajaan. Kalau pengen ikutan, langsung saja konfirmasi via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R (jangan lupa pake “@”) dan kumpul di Kedai Preanger (Jl. Solontongan No. 20-D) pukul 07.17 WIB.
 
Mari bergabung 🙂

Berziarah ke Makam RE Kerkhoven

Oleh: Hevi Fauzan (@hevifauzan)

Rabu, 1 Maret 2017, untuk pertama kali, saya berkesempatan berziarah ke makan Kerkhoven di Gambung. Di sana, terdapat 3 makam, yaitu makam Rudolph Eduard Kerkhoven, Jenny, dan satu makam lagi yang kemungkinan sebagai tempat peristirahat pengasuh anak-anak mereka. Perjalanan ini terwujud bersama rekan-rekan dari Komunitas Aleut.

Perkebunan teh Gambung berada di Desa Cisondari, Kecamatan PasirJambu. Dari Bandung, tempat ini bisa diakses melalu jalan raya yang menghubungkan Soreang dan Ciwidey. Dari SPBU Pasirjambu, kita harus berbelok ke kiri, menuju Gunung Tilu.

Sempat dihentikan hujan dan berteduh di warung yang juga sebuah tempat penggilingan biji kopi, kami berempat masuk ke kompleks pusat penelitian teh dan kina. Setelah melewati pintu utama dan beberapa pos satpam, kami harus berhenti di dekat pabrik dan memarkirkan kendaraan di sana. Ternyata, untuk masuk ke makam, pengunjung harus membayar sekian rupiah. Pihak perkebunan memberikan list fasilitas apa saja yang bisa digunakan oleh pengunjung, termasuk list harga didalamnya. Untuk masuk ke kompleks makam Keluarga Kerkhoven yang letaknya terpencil di belakang, pengunjung harus membayar Rp. 15.000 rupiah/orang bagi WNI dan 50.000/orang bagi non-WNI.

Sosok R.E. Kerkhoven bagi saya, menepiskan sosok para penjajah yang selalu digambarkan datang untuk mengeksploitasi alam Nusantara dan manusianya. Rudolph Eduard (R.E.) datang ke Gambung sebagai pengusaha muda yang bekerja keras mengubah lahan Gambung, dari lahan bekas penanaman kopi yang terbengkalai, menjadi lahan teh di kaki gunung Tilu di bulan November 1873.

Dalam kamus Sunda yang disusun R.A. Danadibrata di halaman 204, Gambung mempunyai arti kata yang sama dengan gamblung. Gambung berarti sawah atau kebun yang tidak diolah atau dipelihara karena ditinggalkan oleh pemiliknya. Danadibrata kemudian memberi tambahan, bahwa tanah yang ditinggal bukan berarti tidak bisa diolah (atau gersang), karena kata untuk tanah yang ada dalam keadaan ini disebut garung.

Dalam buku Sang Juragan Teh yang disusun Hella Haasse, perjuangan R.E. untuk membuka Gambung salah satunya adalah dengan membersihkan akar-akar tanaman kopi. Tanaman tersebut merupakan sisa tanaman kopi di masa Preangerstelsel yang kemudian ditinggal setelah sistem tanam paksa itu berakhir. Di Priangan, tanam paksa diterapkan jauh hari sebelum Cultuurstelsel diterapkan di Hindia. Adalah kopi, menjadi tanaman yang membawa masyarakat Priangan pada kondisi yang menyedihkan sejak tahun 1720.

Lokasi makam Keluarga Kekhoven berada di belakang perkebunan. Letaknya tidak jauh dari rumah mereka yang kini telah dihancurkan dan diganti dengan bangunan baru. Pemandangan Gunung Tilu akan menjadi teman dalam perjalanan menuju makam yang tidak memakan waktu lama. Dari kejauhan, makam R.E. Kerkhoven sudah terlihat dengan warna nisan dan jirat merah muda yang terang.

R.E. Kerkhoven, dengan jiwa wirausaha dan tekad yang kuat datang ke Hindia Belanda, menyusul keberhasilan keluarganya yang membuka perkebunan teh di Priangan, seperti sang paman Eduard Julius Kerkhoven yang membuka perkebunan teh di Sinagar, atau Rudolph Albertus Kerkhoven, ayah RE yang membuka perkebunan di Arjasari, Banjaran, Kabupaten Bandung. Keluarga ini juga melahirkan generasi pekebun teh lain yang terkenal, seperti K.A.R. Boscha atau K.F. Holle.

Dengan kerja kerasnya itulah, R.E. muda akhirnya berhasil membangun usahanya di Gambung, berupa perkebunan yang menghasilkan teh berkualitas.

Keadaan kompleks makam terlihat cukup bersih. Makam R.E. berada di tengah dengan nisan bertuliskan nama, tanggal lahir, dan tanggal meninggal. Di sebelah kiri, terdapat makam istrinya, Jenny Roosegaarde Bisschop, yang merupakan cicit gubernur jenderal Hindia Belanda dan “pendiri” kota Bandung, Daendels. Di antara dua makam sejoli suami dan istri ditanami beberapa tanaman, salah satunya tanaman yang memiliki bunga merah menyala yang menarik perhatian, Anthurium Andraeanum.

Di sebelah kanan, rada jauh dari kedua makam tersebut, terdapat makam yang dibangun tanpa nisan.

Pasangan R.E. dan Jenny tinggal bersama di Gambung setelah mereka menikah di tahun 1878. Mereka dikaruniai 5 putra, antara lain Ru, Edu, Emile, Bertha, dan Karel. Jenny sendiri meninggal secara memilukan. Disinyalir depresi karena kesepian, Jenny meninggal di tahun 1907.

Kompleks makam sendiri ada di bawah pohon besar nan rindang. Saya hanya tahu nama pohon Rasamala yang ada di dekat makam R.E., karena nama pohon memang tertulis di sana. Tidak jauh dari kompleks makam, dibangun juga kandang penangkaran kera. Kompleks makam sendiri tidak terlalu gelap karena berada di pinggir perkebunan teh dengan pemandangan Gunung Tilu yang berdiri megah.

Setelah lewat seperminum teh, kami lalu memutuskan untuk pulang ke Bandung, melalui jalur Gambung-Banjaran via Lamajang.

 

Tautan asli: http://pahepipa.com/berziarah-ke-makam-re-kerkhoven/

Orang Boer jadi Bandoenger

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Maret 1903, tibalah 20 orang berkulit putih di pelabuhan Tanjungpriok. Sebagian dari mereka berkumis tebal, sebagian lagi tidak. Ada yang terlihat sepuh, dan ada pula yang muda. Tapi mereka punya satu kesamaan, yakni sama-sama orang Boer yang ikut Perang Boer.

Sebelum tiba di Hindia Belanda, mereka mendekam di Penjara Welikada, Colombo. Setelah bebas dari penjara, mereka mendapat pilihan antara kembali ke Afrika Selatan atau tinggal di Hindia Belanda. Dan rupanya mereka memilih Hindia Belanda.

Nah, kembali ke Boer-er yang baru tiba di Tanjungpriok.

Setelah tiba di Tanjungpriok, mereka meneruskan perjalanan ke arah Bandung. Tujuan mereka sederhana, yakni mencoba peruntungan dan memulai hidup baru.

Setelah tiba di Bandung, 20 boer-er ini membuka usaha. Ada yang berternak sapi di Pangalengan dan Lembang. Ada pula yang berternak kuda Australia di Parongpong. Dan sebagian dari mereka membuka perkebunan di Tatar Priangan.

Tapi apa itu saja bentuk usaha mereka? Tentu tidak.

Di Kota Bandung, orang-orang Boer itu ikut mendirikan Bandoengsche Melk Centrale dan De Eerste Nederlandsche Indische Spaarkas en Hypotheekbank (DENIS).

Bayangkan jika mereka semua tidak memilih tinggal di Hindia Belanda atau spesifiknya Bandung. Apa yang akan terjadi dengan tempo kini.

#InfoAleut: Kelas Literasi “Poster Aleut Bagian Dua” dan Ngaleut Mukapayung

Hai selamat malam. Masih belum punya rencana di akhir pekan? Daripada mati gaya, mending habiskan akhir pekanmu bersama Aleut 😀
 
Hari Sabtu besok kita punya Kelas Literasi “Poster Aleut Part Two”. Kalau kemarin udah bahas beberapa contoh poster kegiatan Komunitas Aleut, nah kalau besok kita bakal belajar dan nyobain bikin posternya, alias learning by doing. Langsung aja merapat ke KedaiPreanger pukul 13.43 WIB 😀
 
Di hari Minggu kita bakal touring ke alam dalam “Ngaleut Mukapayung”. Yes, di Ngaleut ini kita bakal main dan menyusuri salah satu wilayah di daerah Cililin ini. Sekiranya tertarik, langsung konfirmasikan kehadiranmu via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R dan kumpul di KedaiPreanger pukul 07.17. Tambahkan juga keterangan bawa motor atau tidak.
 
Para peserta jangan lupa bawa jas hujan dan pakaian ganti, dan bagi Aleutians yang bawa motor wajib bawa dua helm.
 
Ayo gabung, tiada kesan tanpa kehadiranmu 😀

Peninggalan Jepang di Binong Jati Bandung

Oleh: Hevi Fauzan (@pahepipa)

 

 

“Tidak ada yang tidak mungkin, asal kita punya kemauan. Kalau kita lihat gunung Manglayang, gunung itu akan terlihat tinggi. Tapi kalau kita berusaha untuk mendakinya, maka gunung itu akan ada di bawah mata kaki kita.” – Bapak Suherlan, di Binong Jati, Minggu, 26 Februari 2017.

Penjajahan terkadang memberikan mimpi buruk pada daerah yang dijajahnya. Eksploitasi, baik alam maupun manusia seringkali menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat. Indonesia pernah mengalami mimpi buruk itu. Berabad lamanya, Nusantara menjadi ladang eksploitasi bangsa asing, dari Eropa, sampai Jepang.

Namun, ada pula para filantropis dari negara kolonial yang memberi sedikit manfaat bagi daerah penjajahnya. Di Indonesia, kita mengenal K.A.R. Bosscha misalnya, pengusaha teh dari Malabar, Pangalengan, yang memberi sumbangan fasilitas ilmu pengetahuan di Kota Bandung. Atau Multatuli, yang tulisannya berhasil menggugah semangat Politik Etis di Belanda sana. Bagi Indonesia, kolonialisme dapat dikatakan sebagai salah satu pintu masuknya modernisme, pendidikan, dan faham nasionalisme yang berujung pada kesadaran akan berbangsa di Hindia Belanda.

Sisa-sisa pembangunan di masa penjajahan pun menjadi fasilitas yang sampai kini bisa diamanfaatkan, seperti jalur kereta api, atau jalan-jalan antar kota di Pulau Jawa. Di Kota Bandung, terserak banyak sekali sisa-sisa peninggalan kolonial, terutama Belanda. Fasilitas-fasilitas fisik tersebut banyak yang masih bisa digunakan sampai sekarang.

Selain fasilitas fisik ternyata kita akan menemukan hal non fisik yang ditinggalkan bangsa kolonial. Hal-hal ini bisa berupa percampuran budaya antara budaya lokal dengan budaya pihak kolonial.

Di Bandung, ada daerah bernama Binong Jati. Daerah ini terkenal akan kerajinan rajutan. Rajutan yang dihasilkan bahkan dijual sampai ke luar negeri. Bermacam aneka rajutan ada di sini, dari yang termurah sampai yang berharga cukup tinggi. karena kualitas rajutan yang mumpuni, beberapa merk ternama mempunyai vendor di sini.

Menurut Haji Suherlan, yang ditemui Komunitas Aleut, Minggu 28 Februari 2017, keahlian merajut masyarakat Binong Jati pada awalnya di dapat dari pendidikan formal di masa penjajahan Jepang. Bapak Suherlan menjelaskan, pada masa itu, keahlian rajut merupakan keahlian yang diajarkan oleh sekolah Jepang yang berada di daerah Simpang Lima, Bandung. Pendidikan tersebut dikatakan olehnya sebagai bentuk kepedulian berapa gelintir orang Jepang akan pendidikan di Bandung.

“Keahlian rajut didapat dari guru orang Jepang. Tidak semuanya penjajah, ada juga yang berinisiatif bersosialisasi membantu masyarakat, mengajarkan baca tulis, dan memberi kesan bagus,” ujar pak Suherlan kepada Komunitas Aleut.
Jepang adalah negara yang menjajah Indonesia dalam medio 1942 sampai 1945. Banyak sekali kisah menyedihkan di saat nusantara berada di bawah “saudara tua” nya itu. Walaupun menjajah hanya 3,5 tahun, namun praktek Romusha atau Jugun Ianfu menjadi bukti kekejaman mereka saat itu.

“Nama sekolahnya Naito, gedung Naito ada di sekitar Panghegar dan Simpang Lima. Keahlian ini diajarkan oleh orang Jepang, pake tangan bukan mesin. Kemudian dikembangkan oleh ibu dan oleh saya diekonomikan,” papar pria yang sempat keliling Bandung untuk menjajakan hasil keahliannya itu.

 

Ibu Hajah Wari, ibu dari pak Suherlan kemudian mengajarkan cara merajut kepada masyarakat sekitar. Pria kelahiran 1961 ini menyebut nama Otong Sobur, seorang pengusaha yang mempunyai bangunan niaga di Jalan Dalem Kaum Bandung, sebagai salah satu murid ibunya yang paling sukses. Keahlian ini kemudian menjadi keahlian dan industri turun temurun yang telah menyentuh generasi ketiga.

Menurut data Koperasi Sentra Industri Rajutan Binong Jati (KIRB), terdapat 120 unit usaha di tahun 2014, dengan jumlah pekerja 1.440 orang. Dalam jurnal Trikonomia, Darusman dan Rostiana dari Universitas Pasundan menuliskan bahwa industri rajutan di Binong Jati dimulai pada tahun 1965. Di tahun 1975, jumlah perusahaan rajut menjadi 3 unit usaha dan mencapai puncaknya di tahun 1999 dengan 225 unit usaha dan menyerap 1745 tenaga kerja. Tidak heran, jika daerah yang pintu masuknya ada di Jalan Gatot Subroto ini, terkenal sebagai daerah penghasil rajutan.

Sebagai pengusaha yang telah mengecap manis dan pahitnya usaha rajutan di Bandung. Putra ke 10 pasangan Haji Bona dan Hajah Wari ini tidak segan membagikan ilmu rajutnya kepada orang lain, tanpa takut usahanya tersaingi. Kini, Haji Suherlan pun menjadi instruktur kerajinan rajut yang mengirim guru-guru rajut ke tempat lain, seperti Jawa Tengah, Sumatera, dan Kalimantan.

*Foto dan rekaman percakapan merupakan dokumen dari Komunitas Aleut

 

Tautan asli: http://pahepipa.com/peninggalan-jepang-di-binong-jati-bandung/

#InfoAleut: Kelas Literasi “Poster Aleut” dan Ngaleut Leuwibandung

whatsapp-image-2017-02-27-at-3-04-48-pm
Selamat pagi, Aleutians. Hari ini akan berlangsung Kelas Literasi Pekan Ke-84 dengan tema “Poster Aleut”. Kita akan membahas beberapa poster yang pernah tayang dan juga ngobrol soal proses kreatif pembuatannya. Mangga langsung saja ke @kedaipreanger pukul 13.31 WIB.
 
whatsapp-image-2017-03-03-at-9-42-48-pm
Sedangkan di hari Minggu kita akan Ngaleut Leuwibandung. Apa itu Leuwibandung dan mana saja daerah yang kita jelajahi nanti? Langsung saja gabung dengan konfirmasi via teks ke 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1354R dan langsung kumpul di @kedaipreanger pukul 07.46 WIB.
 
Pertanyaan lebih lanjut bisa kontak ke nomor yang barusan sudah disebut yes. Sampai jumpa 😀

Merajut Asa di Sentra Rajut Binongjati

Oleh: Agus Sidik Permana (@as.permana)

Kali ini akan kuceritakan pengalamanku Ngaleut di daerah Binongjati. Binongjati, nama itu memang tak asing lagi di telingaku, karena itu merupakan jalan tikus yang selalu kuambil jika Jalan Ibrahim Adjie macet parah.

Sudah lama juga kudengar bahwa daerah itu merupakan kawasan sentra industri rajutan, bahkan ada salah dua teman sekolahku yang berasal dari sana tapi mereka sudah tidak tinggal di sana karena sudah berkeluarga dan memiliki rumah di daerah lain di Kabupaten Bandung.

whatsapp-image-2017-02-26-at-8-21-42-am

Setelah melewati Pasar Binongjati yang ternyata cukup ramai juga di hari Minggu pagi, walaupun seorang kawan berkata pasar ini kalah saing dengan pasar Kiaracondong yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari pasar Binongjati, kami akhirnya menemui beberapa plang usaha rajut yang ternyata pada hari Minggu banyak yang tutup.

Setelah beberapa kawan coba bertanya ke beberapa orang di sekitar sana, akhirnya kami mendapatkan orang yang dapat bercerita banyak tentang sentra industri rajut. Beliau bernama Pak Suherlan, beliau bercerita bahwa keahlian beliau merajut itu didapatkan dari ibunya. Yang dulu, sambung beliau, ibunya mendapatkan keahlian tersebut dari sekolah jepang yang bernama Naito. Mungkin kegiatan merajut itu seperti ekstrakurikuler pada sekolah jaman sekarang.

whatsapp-image-2017-02-26-at-8-53-04-am

Pak Suherlan juga berkisah bagaimana beliau memperlakukan karyawannya. Beliau tidak memakai istilah karyawan saat salah seorang kawan bertanya tentang berapa jumlah karyawannya. Anak asuh, begitulah beliau menyebutnya. Dan beliau tidak takut membagi ilmunya dari mulai merajut hingga memasarkannya, bahkan jika anak didiknya tersebut kesulitan untuk memasarkannya beliau bersedia untuk menampung dan mencarikan pembeli untuk hasil produksi anak didiknya.

whatsapp-image-2017-02-26-at-9-00-50-am

Hampir satu jam lebih kami habiskan mengobrol dengan Pak Suherlan, namun rasa penasaran kami tetap tidak terpuaskan karena kami tidak bisa melihat produksi rajut langsung dengan mata kami. Setelah pamit kepada Pak Suherlan, kami pun melanjutkan Ngaleut dan tujuan berikutnya adalah koperasi walaupun kami tahu bahwa koperasi pun tutup di hari Minggu, namun hal itu tidak menyurutkan semangat kami.

Saat sampai, tenyata memang benar koperasinya tutup. Namun semangat kami untuk melihat pengrajin rajut bekerja ternyata bisa terbayar juga karena di sebelah bangunan koperasi tersebut ada bangunan yang diisi beberapa pengrajin rajut yang sedang bekerja. Setelah mengobrol memperkenalkan diri, kami pun diijinkan masuk dan bisa melihat langsung cara kerja mesin rajut.

whatsapp-image-2017-02-26-at-10-59-07-am

Beberapa kawan mencoba untuk mengoperasikan mesin rajut tersebut, beberapa lagi bertanya ini itu pada beberapa pengrajin. Setelah puas dengan semua itu kami melanjutkan kembali perjalanan untuk pulang.

Sepanjang perjalanan pulang aku menyusuri gang demi gang yang ada di Binongjati dan aku mendapatkan hampir setiap rumah yang kulewati adalah pengrajin rajut, hal itu terbukti dari tumpukan hasil produksi dan sebagian terlihat mesin-mesin rajutnya.

Satu pelajaran yang ku ambil di Ngaleut kali ini adalah tentang sosok Pak Suherlan yang tidak pelit dalam membagi ilmu usaha dan tidak takut tersaingi oleh anak asuhnya. Secara tidak langsung dia sudah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya. Entah pengalaman hidup seperti apa yang telah beliau alami hingga mempunyai pemikiran seperti itu dan yang paling membuatku kaget beliau hanya lulusan sekolah menengah atas, coba bandingkan dengan para sarjana yang baru lulus serta sibuk mempersiapkan lembar demi lembar surat lamaran untuk bekerja di perusahaan ternama di Nusantara ini.

Maka, Pak Suherlan adalah tamparan keras bagi para sarjana itu yang tidak memikirkan untuk membuka lapangan pekerjaan. [Agus]

whatsapp-image-2017-02-26-at-10-40-55-am