Ngaleut Momotoran ke Sumedang

Oleh Asep Ardian

Dari Cadas Pangeran, ke Cut Nyak Dhien, sampai ke tempat peristirahatan terakhir raja-raja Sumedang.

Sebelum melakukan perjalanan ini, saya mengenal Sumedang hanya dari kesenian Kuda Renggongnya, yang ketika saya kecil sesekali mengikuti iring-iringan Kuda Renggong jika di daerah saya ada orang kaya yang disunat. Setelah beranjak dewasa, pandangan tentang Sumedang sedikit bertambah setelah mendengar beberapa kisah tentang Kerajaan Sunda yang berhubungan dengan latar sejarah Sumedang.

Saat ikut momotoran dengan Komunitas Aleut ini, mantap sudah, saya dapat mendengar dan melihat jauh lebih banyak lagi.

Perjalanan kami mulai jam 07.30 dari Bandung dengan rombongan berjumlah lima motor. Sabtu pagi itu cuaca Bandung begitu cerah, dari daerah Ancol, kami menyusuri jalanan Soekarno Hatta yang lengang, melintasi jalanan Cibiru, lalu lewat UNPAD, Cileunyi, dan menyusuri jalanan berkelok Bandung-Palimanan yang sejuk. Lalu sampailah kami di tempat tujuan kami yang pertama, sebuah monumen di Cadas Pangeran.

Dua patung berwarna tembaga berdiri tegak di antara dua jalur jalan. Jalan Cadas Pangeran baru dan Cadas Pangeran lama. Keadaan sekitar tugu cukup bersih dan terawat, saya tak melihat vandalisme ataupun tebaran sampah. Warung-warung berjejer di sebelah kiri jalannya. Jika kita beristirahat di sana, mungkin akan begitu khidmat menikmati secangkir kopi dengan sesekali mengobrol dengan warga setempat tentang mitos-mitos yang beredar di sana. Namun sayang, kami tak sempat ngopi, karena kami harus langsung menuju ke tujuan selanjutnya yang tak jauh dari sana, yaitu patok pembangunan Cadas Pangeran.

Tak jauh dari sana terlihat dua lereng indah yang mengapit jalanan yang tak begitu lebar. Di sisi kanannya terlihat sebuah patok berwarna oranye mencolok yang didirikan untuk mengenang pembangunan jalan tersebut. Dan rombongan kami berhenti di sebelah kanan jalan.

Karena kontur jalan yang berkelok, membuat kami harus berhati-hati jika parkir di tempat ini, tempatnya cukup sempit, apalagi mendengar dari polisi setempat bahwa suka ada kendaraan yang melawan arus dari arah Sumedang yang mengakibatkan sering terjadi kecelakaan.

Kami pun turun dan memperhatikan patok yang menempel di tebing batu itu:

“ONDER LEIDING VAN RADEN DEMANG MANGKOEPRADJA EN ONDER TOEZICHT VAN PANGERAN KOESOEMADINATA AANGELEGT 1811 DOORGEKAPT 26 NOVEMBER TOT MAART 1812”

“DIBAWAH PIMPINAN RADEN DEMANG MANGKOEPRADJA DAN DIBAWAH PENELITIAN PANGERAN KOESOEMADINATA, DIBUAT PADA TAHUN 1811 DIBOBOK DARI TANGGAL 26 NOPEMBER SAMPAI TANGGAL 12 MARET 1812.

Di sana kami mendapatkan beberapa cerita tentang Cadas Pangeran ini, bukan tentang “oray koneng yang menelan Kang Yana” yang sempat viral, melainkan soal bagaimana Cadas Pangeran ini terbentuk, kerja rodi, terutama soal sejarah Daendels dan Pangeran Kornel. Kita bisa menggali lebih dalam tentang sejarah tersebut dari beberapa catatan dan buku-buku. Yang terpenting yang harus digaris bawahi adalah seperti kata teman saya di sana bahwa: “Kita belajar sejarah bukan untuk memihak mana yang benar dan mana yang salah, tapi kita belajar soal nilai dan pelajaran yang bisa diambil dari sejarah tersebut”.

Di sana bukan hanya ada patok, di belakang tebing terdapat sebuah anak tangga yang cukup curam dan licin, di pinggirnya disediakan sebuah kawat baja untuk membantu kita naik ke atas. Cukup menyeramkan memang, apalagi ketika melihat sisi kanan yang berupa jurang dan di bawahnya langsung jalan raya. Jika kita berhasil naik, di atas ada sebuah saung dan dua petilasan yang tak bernama.

Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan kami yang ketiga, yaitu rumah singgah pahlawan nasional dari Aceh yang tiada lain adalah Cut Nyak Dhien.  Rumah itu berada tak jauh dari Alun-alun Sumedang, letaknya di jalan Jl. Pangeran Soeriaatmadja No.17, Kotakulon, Kec. Sumedang Selatan., Kabupaten Sumedang.

Rumah ini tampak berbeda dari rumah lain di sekitarnya. Letaknya sedikit menjorok ke dalam, halamannya cukup luas, dinding bangunannya dari papan kayu yang dipernis, dan di sana kami disambut oleh Ibu Nenden, selaku pengelola dan pewaris rumah tersebut. Secara kepemilikan masih berada di tangan keluarga Ibu Nenden sepenuhnya. Perawatan rumah dilakukan dengan menerapkan syarat-syarat umum perawatan cagar budaya sesuai status rumah tersebut saat ini. Ibu Nenden adalah generasi ketiga, setelah neneknya, turun ke ibunya, dan sekarang beliau yang bertugas menjaganya.

Sebenarnya bangunan itu cukup luas, terdapat ruang tamu, beberapa kamar, ruang tengah dan bagian dapur. Namun kami dan pendatang lain hanya diperbolehkan singgah di ruang tamunya saja. Di tengahnya terdapat  dua pilar dari kayu yang menyangga rumah tersebut dan belum diganti sama sekali sejak rumah itu awal berdiri. Di sudut ruangannya terdapat lemari, dan di sudut dinding yang lain terdapat dua buah replika senjata rencong dan foto-foto Cut Nyak Dhien.

Ibu Nenden menjelaskan bahwa rumah itu pernah disinggahi Ibu Prabu selama dua tahun lamanya (orang-orang di sana dahulu menyebut Cut Nyak Dhien sebagai Ibu Prabu sebagai tanda hormat). Belum jelas siapa yang dahulu menentukan rumah itu menjadi rumah singgah Cut Nya Dhien, yang pasti ibu Nenden menjelaskan bahwa alasan dulu Cut Nyak Dhien dapat menetap di rumah itu karena bangunannya dulu memang paling layak untuk menerima tamu yang istimewa. Rumahnya lebih lega dan bagus dari rumah-rumah yang lain. Walaupun semasa tinggal di rumah ini Cut Nyak Dhien tidak bisa melihat, namun beliau berkegiatan mengajar mengaji anak-anak di sana. Makanya Ibu Nenden pun mengajar ngaji juga, meneruskan kegiatan Cut Nyak Dhien. “Biar kebagian berkah,” begitu ungkapnya.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Alun-Alun Sumedang. Ada monumen lingga berbentuk kubah yang menjadi bagian sejarah Kota Sumedang. Di bagian baratnya terdapat bangunan Masjid Agung yang berdiri tegak dengan latar Gunung Palasari yang masih hijau. Bagi saya sendiri, melihat Masjid Agung Sumedang mengingatkan pada ikatan masjid dari Jawa Tengah ke Jawa Barat yang mempunyai bentuk atap yang hampir sama. Mulai dari masjid Cirebon, Demak, Sumedang, Masjid Agung Majalaya, dan di Alun alun Bandung, yang dulu pernah mempunyai bentuk yang sama. Istilah umumnya untuk atap seperti itu adalah Bale Nyungcung.

Selanjutnya kami ke tempat kelahiran tahu sumedang. Jaraknya hanya lima menit dari Alun-alun, yaitu Tahu Bungkeng. Sekitar 105 tahun yang lalu, di sinilah tahu sumedang pertama kali diperkenalkan. Hebat juga usaha ini bisa bertahan selama itu, apalagi mengingat masa sekarang ini usaha-usaha kuliner umumnya hanya mampu bertahan beberapa tahun saja, termasuk usaha kuliner yang dijalankan oleh keluarga.

Kebetulan di sini kami juga bertemu dengan salah satu generasi penerus yang mengurus tokonya sekarang. Kami sempat berbincang ngalor ngidul. Sungguh saya kagum pada keteguhan keluarga ini memelihara tradisi. Menurut saya meneruskan dan mempertahankan suatu usaha secara turun temurun seperti ini adalah hal yang sangat tak mudah. Bukan hanya butuh ketekunan, tapi juga semangat pengabdian.

Setelah perut cukup terisi, kami pergi ke salah satu masjid yang cukup bersejarah juga bagi Sumedang, Masjid Tegalkalong. Selesai melaksanakan sholat dzuhur, kami mendapat cerita tentang tragedi kelam yang pernah terjadi di masjid ini akibat peperangan antara Kerajaan Sumedanglarang dengan Kerajaan Banten.

Berikutnya, kami ke permakaman Pasarean Gede, tempat peristirahatan terakhir Pangeran Kornel, Pangeran Santri, dan beberapa tokoh sesepuh Sumedang yang lain. Pasarean Gede berada di Jalan Prabu Geusan Ulun dan masuk ke sebuah gang. Kita akan melihat gapura yang besar. Halaman parkirnya tak begitu luas, mungkin cukup hanya untuk 6 mobil kecil saja.

Yang “unik” dari pemakaman ini adalah adanya “uang pendaftaran” ketika kita akan terus masuk ke dalam pemakamannya. Di sana ada dua orang ibu yang berjaga ramah, menanyai kami dari mana dan segera menyuruh salah satu dari bu-ibu di sana untuk memanggil kuncen. Harga ini tak ditentukan berapa, akan tetapi sepanjang pengalaman saya berziarah ke beberapa permakaman bersejarah, hanya di permakaman inilah saya disodori uang pendaftaran.

Setelah selesai akan urusan pendaftaran, kami menaiki beberapa anak tangga, dan sampai di tanah tertinggi di komplek pemakaman tersebut. Di sini ada sebuah bangunan yang tengah direnovasi, di dalamnya terdapat beberapa makam. Salah satunya makam Pangeran Santri. Tak beberapa lama datanglah kuncen yang bernama Pak Nana. Beliau memperkenalkan diri dan dengan sangat ramah menjawab apapun yang kami tanyakan, sambil beberapa kali mention keluhan tentang tidak adanya bantuan pemerintah untuk memperindah pemakaman tersebut, sehingga sebagian besar dilakukan secara mandiri. Mungkin itulah sebabnya di depan terdapat uang pendaftaran, digunakan untuk membangun permakaman para leluhur Sumedang tersebut.

Pa Nana baik dan ramah, kami tidak hanya mendapat cerita tentang makam-makam yang ada di sana, tapi juga diajak ke bagian bawah, ke makam Pangeran Kornel.

Topografi dari komplek pemakaman tersebut mempunyai arti tersendiri. Pak Nana menjelaskan bagian tertiggi dari kuburan adalah tokoh tertua dan terpenting dari semua makam-makam yang ada di sana, lalu turunan-turunannya dikuburkan semakin ke bawah.

Hari semakin sore dan kami menuntaskan perjalanan ini dengan kunjungan ke Gunung Puyuh, berziarah ke tempat peristirahatan terakhir Cut Nyak Dhien.

Menuju makam Cut Nyak Dhien dari arah gerbang masuk, hanya perlu jalan lurus terus sampai turun dan menemukan gapura bertuliskan “MAKAM PAHLAWAN NASIONAL TJUT NYAK DHIEN” Setelah masuk, di sana masih banyak makam-makam lain selain makam Cut Nya Dhien, salah satunya adalah makam KH. Sanusi yang dulu menerima Cut Nyak Dhien di Sumedang.

Bangunan makam Cut Nyak Dhien begitu indah, dinaungi oleh ukiran-ukiran kayu. Di sini kami bertemu kuncen yang bernama Pak Asep. Dari beliau kami mendapatkan sejumlah informasi baru dan sebuah cerita yang agak bertentangan dengan apa yang sebelumnya kami dengar berkaitan dengan rumah singgah Cut Nyak Dhien. Menurutnya rumah singgah Cut Nyak Dhien yang sebenarnya adalah yang sekarang sudah menjadi toko jahit Eka Jaya dan bukan tadi pagi kami datangi. Entahlah, kami tidak atau belum punya informasi lain selain yang sudah kami dengar hari ini saja.

Sebenarnya usai dari makam Cut Nyak Dhien kami juga mampir ke kompleks makam bupati-bupati Sumedang, memang tidak terlalu lama karena hari sudah sore, dan langit Sumedang kian mendung. Ada beberapa cerita kami dapatkan di sini, tapi ya buat kisah lain kali saja. Sekarang kami akan pulang kembali ke Bandung dengan hati yang senang karena sudah berkesempatan menyusuri beberapa tempat yang bersejarah di Sumedang.

Semua foto: Komunitas Aleut/Annisa Almumfahannah
Foto Masjid Tegalkalong: Komunitas Aleut/Aditya Wijaya

* * *

MENGENAL BANGUNAN-BANGUNAN CAGAR BUDAYA KOTA BANDUNG BERSAMA  KOMUNITAS ALEUT DAN DISBUDPAR KOTA BANDUNG.

Oleh : Taurina Putri Ayumi

Komunitas Aleut  merupakan komunitas apresiasi wisata dan sejarah di kota Bandung yang berdiri sejak 20 Mei 2006. Tujuan didirikan Komunitas Aleut adalah menyebarkan pengetahuan sejarah dan meningkatkan pariwisata Bandung. Komunitas ini hadir karena saat ini sejarah masih sering dipandang sebagai suatu hal yang membosankan, akibatnya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui atau bahkan tidak mengenal beragam peninggalan sejarah di Bandung. Oleh karena itulah, Komunitas Aleut membuat kegiatan unik yang disebut dengan Ngaleut. Ngaleut ini merupakan suatu kegiatan untuk belajar sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan yaitu dengan terjun langsung ke lapangan yang dilakukan bersama-sama. Komunitas Aleut memiliki peran yang sangat penting dengan adanya fungsi sosial. Fungsi Sosial fungsi sosial Komunitas Aleut adalah menjadikan masyarakat Kota Bandung cinta akan kotanya melalui apresiasi sejarah serta melihat fenomena-fenomena yang ada di dalam masyarakat. Hal ini menjadi menarik karena jika sebelumnya kegiatan pariwisata atau jalan-jalan yang masyarakat lakukan hanya sebatas melepas penat bersama dengan rekan kerabat dalam komunitas yang kecil tanpa tujuan terarah, maka dengan tergabung dalam suatu komunitas kegiatan pelesiran itu akan punya konstruksi maknanya tersendiri.

Baca lebih lanjut

Momotoran Gas Tipis ke Timur: Jejak Kereta Api, Ubi Cilembu, Radio Rancaekek, sampai Candi

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Saya senang karena selalu ada cerita berbeda di setiap Momotoran. Diawali dengan keberangkatan yang agak siang dan perjalanan yang mengarah ke timur, terasa asing karena biasanya jalur selatan yang selalu menjadi jalur utama setiap kali momotoran.

Tema momotoran kali ini adalah Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari. Sabtu, 30 Januari 2021, saya bersama teman-teman ADP 2020 menyambangi beberapa tempat yang berkaitan dengan jejak jalur Kereta Api Bandung-Tanjungsari yang sudah lama tidak aktif. Kami berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut melalui jalur yang sering saya sebut sebagai jalur neraka, karena kemacetannya yang selalu menguji kesabaran, Jalan Soekarno Hatta lalu Cibiru-Cileunyi-Jatinangor.  

Atas: Plang Makam
Bawah: Jembatan Cincin diambil dari pemakaman
Foto: Inas Qori Aina

Tempat pertama yang kami tuju adalah Jembatan Cincin di Cikuda, Jatinangor. Jembatan ini biasanya hanya saya pandangi dari kampus tempat saya berkuliah. Baru kali ini saya menginjakkan kaki di atas jembatan ini. Bukan Cuma berjalan di atasnya, tapi kami pun menyempatkan untuk turun ke bawahnya dan mengamatinya dari area persawahan. Di bawah sini ada sebuah permakaman kecil yang katanya ada makam keramatnya, tapi entah makam yang mana. Dari pemakaman kecil ini kami dapat melihat secara utuh konstruksi jembatan itu.

Cukup lama kami eksplorasi di sekitar Jembatan Cincin Cikuda, sesekali kami juga menyimak berbagai informasi dan cerita yang disampaikan. Berikutnya, kami berangkat lagi menuju titik selanjutnya, yaitu Jembatan Cincin Kuta Mandiri. Untuk menuju jembatan ini kami melalui jalan perdesaan dengan pemandangan sawah yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Jembatan ini terletak di tengah Desa Kuta Mandiri, Tanjungsari, sehingga tak heran masih menjadi jalur utama mobilitas warga desa. Ketika kami tiba di sana kami pun harus berhati-hati karena banyaknya kendaraan yang melintas di jembatan ini.

 Jembatan Cincin Kuta Mandiri Foto: Inas Qori Aina

Bentuk jembatan ini mirip dengan Jembatan Cincin Cikuda. Bedanya, di jembatan ini masih dapat dijumpai semacam tempat yang dulu digunakan untuk minggir (safety area) di saat kereta api melintas.

Setelah mendapatkan cerita tentang sejarah jembatan ini, kami bergegas menuju bekas Stasiun Tanjungsari. Bangunan bekas stasiun tersebut kini terletak di tengah permukiman warga yang cukup padat. Hanya sedikit peninggalan yang dapat saya lihat, yaitu papan nama stasiun serta bangunan bekas peron stasiun yang kini digunakan entah sebagai rumah atau taman kanak-kanak. Menurut Pa Hepi, bagian depan dari Stasiun Tanjungsari kini sudah tidak tersisa lagi.

Yang tersisa dari bekas Stasiun Tanjungsari foto: Inas Qori Aina

Tidak jauh dari Stasiun Tanjungsari, terdapat viaduct Tanjungsari yang dibangun melintasi Jalan Raya Pos. Bentuknya mirip dengan viaduct yang berada di Bandung. Hanya saja, Viaduct Tanjungsari tampak lebih sederhana dan lebih pendek.

Dari Tanjungsari kami melanjutkan perjalanan ke Citali. Saya dan teman-teman berhenti di pinggir jalan untuk memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki, ngaleut, menuju area persawahan milik warga sana. Siapa sangka, di tengah area sawah milik warga terdapat dua buah struktur bekas fondasi jembatan yang tidak selesai dibangun. Kami hanya memandangi struktur tersebut dari kejauhan, karena tidak berani melintasi jembatan kayu kecil yang di bawahnya terdapat aliran sungai yang terlihat tenang tapi mungkin cukup dalam.

Jembatan kayu menuju bekas jembatan kereta api di Citali Foto:Inas Qori Aina

Perjalanan ini tidak cukup sampai di Citali, dan bukan hanya tentang kereta api. Satu yang tak kami lewatkan yaitu untuk mampir ke sentra ubi Cilembu yang berada di Desa Cilembu. Ketika memasuki gapura desa tampak kebun ubi yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Kami pun menyempatkan untuk mampir ke sebuah warung ubi Cilembu milik seorang warga lokal. Di sini kami berbincang mengenai asal mula berkembangnya ubi Cilembu hingga menjadi oleh-oleh yang terkenal saat ini.

Kebun ubi Cilembu Foto: Inas Qori Aina

Oleh-oleh ubi Cilembu telah kami kantongi, saatnya kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Perjalan pulang kami melewati jalur yang berbeda dengan saat kami berangkat. Perjalanan kami melewati Parakan Muncang dan melewati jalur Cicalengka-Rancaekek. Di tengah jalan raya Rancaekek tampak plang yang tidak telalu besar bertuliskan “Situs Candi Bojong Menje”. Untuk menuju situs candi tersebut kami harus memasuki sebuah gang yang cukup kecil. Saya tak habis pikir ketika tiba di sini. Konstruksi batuan candi hanya dilindungi oleh sekeliling pagar yang sudah karatan serta atap yang rusak.

Berbincang dengan Pak Ahmad, kuncen Candi Bojong Menje Foto: Komunitas Aleut

Di sini kami berbincang dengan penjaga candi yaitu Pak Ahmad. Ia menceritakan bagaimana awal mula penemuan situs ini serta kemungkinan masih adanya struktur candi lain yang kini berada di tengah bangunan pabrik.

Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah bangunan bekas Stasiun Penerima Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Kata Pa Hepi, bangunan tersebut kini digunakan sebagai bengkel entah oleh siapa dan masih dimiliki oleh PT Telkom.

Waktu semakin petang, kami mengejar waktu agar sempat untuk melihat satu lagi candi yang masih terletak di Kabupaten Bandung. Beruntungnya, matahari masih mau menemani kami sehingga saat kami tiba keadaan belum terlalu gelap. Candi terakhir yang kami singgahi adalah Candi Bojongemas. Keadaan di sini justru lebih parah daripada Candi Bojong Menje. Papan informasi sudah berkarat dengan tulisan yang tidak cukup jelas. Batuan candi pun hanya dikelilingi oleh pagar kayu yang sangat rentan untuk rusak.

Keadaan di sekitar Candi Bojongemas Foto: Inas Qori Aina

Hanya sebentar kami melakukan pengamatan, keadaan pun semakin gelap. Tandanya perjalanan kami hari itu selesai, dan harus segera pulang. Di perjalanan pulang, pikiran saya tak karuan merenungkan pengalaman dari perjalanan Momotoran ke kawasan timur yang baru saja saya lalui, seperti yang tidak asing karena sering dilalui, tapi ternyata punya banyak peninggalan masa lalu yang rasanya tidak terlalu populer dan jarang dibicarakan orang…

***

Kereta Api, Cilembu, dan Candi

Ditulis oleh: Farly Mochamad

Sabtu, 30 Januari 2021 lau, saya ikut kegiatan Aleut Development Program (ADP) 2020 momotoran menyusuri jejak kereta api antara Bandung-Tanjungsari. Kami berangkat agak siang dari sekretariat Aleut menuju SPBU Cinunuk untuk bertemu dengan rekan lain yang akan bergabung.

Jembatan Cincin Cikuda di pagi hari  foto: Komunitas Aleut

Dari Cinunuk, kami beranjak ke Jatinangor, melewati kampus Unpad, untuk menuju lokasi pertama, yaitu Jembatan Cincin atau kadang disebut Jembatan Cikuda, sesuai dengan nama daerah di situ. Tidak butuh waktu lama sampai kami tiba di lokasi dan berjalan di atas bekas jembatan kereta api ini.

Dari atas jembatan ini saya bisa melihat Gedung Student Center Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Asrama Kedokteran Unpad, dan di bawah jembatan terlihat area permakaman di tengah sawah. Di arah timur terlihat Apartemen Taman Melati dengan kolam renangnya. Waktu kami datang, ada beberapa pesepeda yang sedang foto-foto dan eksplorasi seputar jembatan ini juga. Seorang tua yang sedang berfoto sambil minum air dari cangkir menuturkan bahwa dia berangkat dari Setiabudi pagi tadi. Lumayan juga perjalanannya, sepedahan dari Bandung Utara sampai ke Jatinangor, dan entah akan ke mana lagi.

Dari atas jembatan kami mencari jalan untuk turun ke bawah, ke area persawahan dan permakaman. Pak Hepi yang menyertai kami bercerita bahwa jembatan ini memiliki 11 tiang dan 10 lengkungan yang membentuk rupa cincin. Pembangunannya dilakukan pada tahun 1918 dengan tujuan sebagai jalur pengangkutan hasil perkebunan kopi dan teh dari wilayah Jatinangor ke Rancaekek dan Bandung. Saat ini bekas jembatan masih digunakan warga sekitar sebagai jalur lalu lintas antarkampung.

Jembatan Cincin Kuta Mandiri foto: Komunitas Aleut

Tempat kedua yang kami datangi berada di perbatasan Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Tanjungsari, dan baru saya ketahui bahwa sebenarnya ada jembatan cincin lainnya di kawasan ini. Letaknya di tengah perkampungan agak jauh dari jalan raya dan cukup tersembunyi juga, tak heran kalo banyak yang engga tahu keberadaan jembatan ini. Nama jembatan ini Jembatan Kuta Mandiri. Saat ini hanya warga sekitar saja yang memanfaatkan jembatan ini sebagai jalur jalan perkampungan.

Gedung Juang 45 Tanjungsari (atas) Viaduct (bawah) di Tanjungsari Foto : Komuitas Aleut

Jejak kereta api berikutnya yang kami datangi adalah bekas Stasiun Tanjungsari yang saat ini digunakan sebagai Gedung Juang ’45 Tanjungsari. Jalan tempat bekas stasiun ini berada ternyata bernama Jalan Staatspoorwegen (SS) dan gedungnya bernomor 23. Yang masih tersisa di sini selain bangunannya adalah papan nama stasiun yang terdapat pada salah satu dinding luar luar, letaknya di bagian atas. Di situ tertulis nama dengan ejaan lama, Tandjoengsari.

Di sini Mang Alex bercerita bahwa jalan raya yang di depan itu adalah bagian dari De Grootepostweg atau Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 yaitu Herman Willem Daendels. Untuk pembangunan lintasan jalur kereta api Tanjungsari, ada bagian dari Jalan Raya Pos ini yang dibongkar dan dijadikan viaduct. Bagian atas dan bawah viaduct ini masih digunakan sampai sekarang sebagai jalur lalu lintas, sedangkan jalur rel kereta api sudah tidak terlihat lagi, katanya sudah tertimbun sekitar satu meteran di bawah tanah.

Struktur Jembatan Kereta Api di Citali foto: Komunitas Aleut

Dari Tanjungsari, kami ke Citali. Di sini kami berjalan ngaleut di tengah persawahan untuk menuju sebuah bekas bangunan fondasi jembatan yang tidak selesai dikerjakan. Konon karena masalah kesulitan ekonomi pada waktu itu. Selain itu ada juga dongengan soal kenapa jembatan ini tidak dapat diselesaikan, konon karena keberadaan kabut sangat tebal yang selalu menghambat pekerjaan di sana. Wah, kabut seperti apa ya itu sampai bisa menggagalkan pembangunan jembatan kereta api?

Sekitar pukul 12.30 kami beristirahat dan makan  di daerah Tanjungsari, yaitu di Warung Makan (Warman) Dua Saudara. Tempatnya sangat strategis karena berada di pinggir jalan dan kebetulan sedang kosong sehingga dapat menampung rombongan kami. Saya pikir  warman ini baru, terlihat dari catnya seperti baru dipulas, tapi warman ini sudah semi lama ternyata. Di warman ini saya memilih makanan yang sederhana saja karena taulah mahasiswa korona, paspasan kantongnya, hihihi. Saya mengambil lauknya jamur, tempe, tahu dan sambal, wait, satu lagi asin pemberian Dary yang sengaja di bagikan satu plastik olehnya, untung saja temen-temen yang lain pada gak ada yang ngambil, kecuali Pak Hepi, jadi saya bisa ambil satu lagi. Thanks ya Dary. Setelah makan selesai kami bercanda tawa.

foto bersama Ibu penjual warung (atas) Ibu penjual warung sedang bercerita (bawah) foto: Komunitas Aleut

Dari Tanjungsari, kami tidak putar balik kembali ke arah Bandung, tapi mampir dulu ke satu tempat yang namanya sangat khas dan terkenal, Cilembu. Tadinya saya pikir tempat ini masih berhubungan dengan sejarah kereta api, tapi ternyata engga. Ternyata oh ternyata, Aleut hanya ingin mengenalkan kawasan ini saja. Nama Ubi Cilembu memang sudah sangat terkenal, tapi banyak yang engga tahu di mana sebenarnya Cilembu itu. Nah, karena itulah ternyata kami diajak ke sini.

Kami berhenti di sebuah warung penjual Ubi Cilembu dekat Kantor Desa. Di sini kami ngobrol panjang sekali dengan ibu warung dan ada banyak sekali informasi yang kami dapatkan. Cerita seputar desa, berbagai jenis umbi-umbian, sampai ke pengolahan ubi yang sudah modern. Selain ubi oven yang sudah dikenal, di sini juga banyak diproduksi variasi olahan ubi, termasuk keripik yang banyak jenisnya dan sudah dipasarkan melalui marketplace. Sampai sekarang Desa Cilembu juga termasuk yang secara rutin menerima kelompok mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di sini.

Situs Candi Bojong Menje. foto: Komunitas Aleut

Dari Cilembu kami pulang melewati Rancaekek dan tiba-tiba berhenti di tepi jalan. Di situ saya lihat ada sebuah plang kecil dengan tulisan Candi Bojong Menje. Oh, rupanya kami akan mampir melihat situs ini. Kam masuk melewati gang sempit di tengah kawasan pabrik dan permukiman. Di situs candi kami ketemu bapak penjaganya, Pak Ahmad, yang bercerita bahwa sebelum ditemukan bekas-bekas candi ini, dulunya wilayah itu adalah kompleks permakaman umum. Pak Ahmad menceritakan berbagai koleksi temuan yang tersimpan di situ sambil mengatakan juga bahwa sebetulnya di kawasan itu kalau diadakan penggalian maka masih dapat ditemukan banyak tinggalan kuno lainnya, tapi ya ada masalah soal pemilikan tanah sehingga penggalian tidak dapat dilakukan.

Ex Stasiun Penerima Radio Nirom foto: Komunitas Aleut.

Dari lokasi Candi Bojong Menje, kami masih mampir lagi ke tempat lain. Kali ini mengunjungi ex Stasiun Penerima  Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Gedung depannya terlihat sangat cantik sekali menjulang tinggi dengan ciri khas bangunan Eropa. Namun sayangnya  kondisi bangunan  tidak terawat dan bisa dibilang kumuh. Sekarang gedung bangunan tersebut dikelola oleh PT TELKOM.

Plang dan spanduk Candi Bojong Emas sobek (atas) Tumpukan bebatuan Candi Bojong Emas (bawah) foto: Komunitas Aleut.

Kami tidak terlalu lama berada di lokasi bekas stasiun radio itu karena hari sudah semakin sore. Sambil beranjak menuju pulang, kami masih sempatkan mampir ke satu lokasi lain di Sapan yang memang terlewati, yaitu situs Candi Bojong Emas. Lokasinya di pinggir Jl. Raya Sapan dekat sekali dengan Sungai Ci Tarum. Kondisi candi di sini sangat tidak terawat  dan  terkesan dibiarkan saja. Di sini terdapat pagar pembatas kayu lebih kurang satu meter dan plang spanduk yang sobek. Di bagian dalam terdapat banyak tumpukan batu kali.

Senang rasanya setiap kali momotoran bareng Aleut, apalagi hujan turun, serasa nostalgia masa kecil, hihihi. Apalagi ini adalah momotoran pertamaku di Aleut ke wilayah Timur. Di sini aku merasa pengetahuanku tentang sejarah perkeretaan apian lumayan bertambah. Dan aku baru tau juga ternyata di Bandung ada Candi,  jadi gak usah jauh-jauh deh cari candi ke daerah lain, hihihi. Pokoknya momororan kali ini enggak kalah menariknya. sampai jumpa di perjalanan momotoran selanjutnya.

***

Momotoran Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke,

Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang.

Saya tak mengira bahwa Bandung Timur menyimpan kepingan sejarah masa lalu, dari mulai perkebunan, kereta api, hingga candi. Ternyata banyak juga bahan pembelajaran di sini dan saya mendapatkan sebagiannya ketika hari Sabtu lalu, 30 Januari 2021, saya mengikuti kegiatan momotoran bersama Aleut Development Program 2020.

Tema utama momotoran ini sebenarnya menyusuri jejak jalur kereta api mati antara Bandung-Tanjungsari. Tapi di bagian akhir, ada beberapa bonus yang mengejutkan.

Jembatan Cincin Cikuda

Lokasi pertama yang kami datangi yaitu Jembatan Cincin yang terletak dekat Jalan Raya Pos dan kampus Unpad. Setelah melewati satu jalur jalan sempit, kami tiba di atas bekas jembatan kereta api yang masih berdiri kokoh, seperti tak tergerus oleh waktu. Arah timur dari jembatan ini terlihat Gunung Geulis, namun sayang pemandangan tersebut terhalang gedung tinggi. Di sekitar jembatan pun terlihat tidak terawat, banyak tumpukan sampah di sana-sini.

Kereta api sedang melintasi Jembatan Cincin Cikuda, di belakangnya terlihat Gunung Geulis. Foto: nationaalarchief.nl

Lalu kami berjalan menuju bagian bawah jembatan, di sana terdapat komplek permakaman warga lokal. Dari bawah sini terlihat jelas bentuk jembatan, lingkaran bawah jembatan memang terlihat seperti cincin, mungkin itu sebabnya jembatan ini dinamai Jembatan Cincin. Eksplorasi di sekitar jembatan ini tidak terlalu lama karena kami akan bergerak menuju lokasi berikutnya.

Baca lebih lanjut

Catatan Kelas Literasi: Film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Mengapresiasi film (dan musik) sudah menjadi salah satu kegiatan rutin di Komunitas Aleut. Pada kesempatan kali ini untuk kedua kalinya digelar Kelas Apresiasi Film bagi para peserta Aleut Development Program 2020 (ADP-2020). Film terpilih kali ini adalah “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” karya sutradara Garin Nugroho.

Film ini dipilih karena menceritakan sosok Tjokroaminoto yang punya peranan penting dan sangat berpengaruh sebagai salah satu tonggak perjuangan ke-Indonesia-an.  Latar ini juga yang menjadi daya tarik dan penyemangat saya untuk menonton filmnya dengan sungguh-sungguh.

“Guru Bangsa: Tjokroaminoto” adalah film garapan Garin Nugroho yang pertama kalinya saya tonton, baru setelah usai pemutaran filmnya saya ketahui bahwa Garin merupakan sosok yang luar biasa dalam dunia perfilman. Ternyata ada banyak karya film Garin lainnya yang sepertinya selalu menjadi bahan perbincangan dalam dunia perfilman,

Sebagai penikmat film yang awam, saya membuat beberapa catatan, anggap saja sebagai refleksi random saya setelah menonton film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Tentu tidak mudah bagi saya untuk membuat penilaian-penilaian, bahkan rasanya sulit untuk sekadar mengatakan apakah film ini tergolong film yang “bagus” atau “buruk.”

Film dengan durasi dua jam empat puluh menit ini menggambarkan kehidupan dan Tjokroaminoto sedari kecil serta berbagai perjuangannya di masa dewasanya. Durasi ini cukup panjang untuk sebuah film, namun terasa masih kurang untuk menceritakan detail sosok H.O.S Tjokroaminoto.

Hemat saya, Garin hanya mengemas gambaran kasar tentang perjuangan Tjokroaminoto di Serikat Islam melawan politik Hindia Belanda, dan juga perannya sebagai guru yang akan melahirkan sosok pahlawan di masa setelahnya. Maka tentu saja film tersebut tidak akan memberikan kepuasan informasi tentang Tjokroaminoto. Namun sah-sah saja jika Garin membuat cerita seperti itu, jika ingin mendapatkan gambaran yang lebih detail mungkin harus dibuat menjadi film serial.

Pembangunan cerita pada film ini maju mundur dan perlu menyimak dengan baik agar tidak kehilangan alur. Secara umum, bayangan situasi tempo dulu cukup terbantu oleh setting lansekap, pakaian, perlengkapan, dan dialog campur-campur antara bahasa Jawa, Belanda, dan Indonesia (Melayu). Ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa adegan itu harus dimasukkan, bahkan rasanya tidak ada hubungan penting dengan filmnya secara keseluruhan. Misalnya, pada bagian tari-tarian Sukarno dengan Oetari dll yang saya kurang yakin juga kebenarannya.

Cerita dalam film ini terasa sangat hidup oleh peran aktor-aktor yang handal, terutama pemeran utama sebagai Tjokroaminoto, Reza Rahadian. Ekspresi wajah, intonasi bicara, gerak-geriknya, membuat saya terlena, jangan-jangan itu memang Tjokroaminoto dan bukan aktor Reza Rahadian. Peran-peran lain juga terasa cukup meyakinkan, seperti Semaoen, Moesso, Agus Salim, dll.

Namun saya masih dibuat bingung oleh sosok Stella yang diperankan oleh Chelsea Islan, bukan berarti Chelsea berperan buruk, namun ada kekurangan dalam perannya sehingga saya tidak menemukan sosok Stella dalam diri Chelsea. Begitu juga ada beberapa peran rakyat yang tidak begitu mendalami perannya, sehingga menjadi tidak sempurna.

Pembuatan suasana akhir abad 19 dan awal abad 20 membuat saya cukup puas menontonnya. Saya seperti betul-betul barada dalam masa itu. Tata rias dan busana terasa sangat mewakili zamannya, apalagi perbandingannya pun dapat saya lihat dalam film karena dalam beberapa bagian ditayangkan juga beberapa foto lama. Semua suasana lama yang dibikin untuk pembuatan film pada tahun 2015 ini ternyata mampu membuat saya larut dalam gambaran masa lalu yang disampaikan.

Selain oleh Tjokroaminoto, saya juga takjub pada sosok Ibu Suharsikin. Beliau selalu mendukung, setia, dan berkorban dibalik sesosok H.O.S Tjokroaminoto. Ini mengingatkan saya kepada kata-kata murid dari Tjokroaminoto yaitu, Buya Hamka. Katanya, “Jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang; dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun, jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tianglah yang lapuk.”

Selain catatan di atas, saya sebenarnya sering kurang menangkap alur cerita dan hubungan sebab-akibat beberapa adegan, seperti apa hal pertama yang membuat Tjokroaminoto menjadi sangat dikenal di kalangan rakyat, atau apa penyebab konflik antara orang Tionghoa dan orang pribumi yang dapat diredakan begitu saja oleh Tjokroaminoto.

Segitu saja catatan saya, tapi ketika berdiskusi usai pemutaran film, ada beberapa hal lain yang disampaikan oleh temen-temen ADP, sebagian yang saya tangkap saya catatkan juga saja di sini.

Inas merasa bagian musiknya terasa mengganggu dan mendapatkan penjelasan dari diskusi bahwa musiknya memang tidak sesuai zaman, misal “Surabaya Johnny” yang dalam film dinyanyikan tahun 1906 padahal lagunya baru terbit tahun 1929. Begitu juga lagu dengan judul “Terang Boelan” yang baru populer tahun 1937-1938.

Kesan dari Ervan adalah bahwa banyak tokoh yang muncul dalam film tapi tidak dijelaskan dengan baik siapa-siapanya, sehingga terasa cukup membingungkan dalam mengikuti alur cerita. Pahepi mengatakan bingung, sebenarnya film ini mau fokus pada tema apa. Hal ini ditambahkan oleh Adit, Lisa, dan Rani, dengan pertanyaan yang sama, sebenarnya inti ceritanya itu Tjokroaminoto sebagai Guru Bangsa atau peran Tjokroaminoto dalam Sarekat Islam? Pahepi juga mencatat soal latar belakang pemandangan dalam adegan dengan kereta api, yang terlihat itu di Ambarawa dan bukan di Surabaya.

Ya masih banyak catatan lain yang muncul dalam diskusi, tidak hanya yang dianggap sebagai kekurangan, tapi juga kelebihan-kelebihan film ini seperti sebagian yang sudah ditulis di atas. Paling tidak film ini dapat menjadi gambaran kasar bagi mereka yang ingin mengenal siapa itu H.O.S Tjokroaminoto. Setelah beberapa film lain tentang tokoh-tokoh bangsa juga dibuat, semoga ke depannya semakin banyak film-film sejarah dan ketokohan semacam ini diproduksi agar generasi berikutnya dapat lebih kenal lagi kepada para perintis kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Semoga perfilman Indonesia terus maju dan berkembang ke depannya, dan ini pasti membutuhkan sikap kritis dari kita semua, Bangsa Indonesia.

***

Membangun Sistem Sosial yang Mumpuni dalam Menghadapi Wabah

Ditulis oleh: Lenny Martini

Sistem sosial yang baik adalah satu di antara banyak hal penting yang perlu kita usahakan dalam menghadapi wabah saat ini. Sebagai anggota masyarakat, kita dapat ikut membangun sistem sosial yang baik dengan saling bantu menjaga kesehatan fisik dan mental untuk menghadapi dan melewati wabah ini.

Mari kita mulai dengan memahami apa itu sistem sosial. Dalam bidang sosiologi, sebenarnya banyak sekali sosiolog yang mengemukakan definisi mengenai sistem sosial, berdasarkan kepakaran, fokus penelitian, dan konteks situasi sosial yang diamati di sekeliling mereka. Namun, secara sederhana kita bisa memahami sistem sosial sebagai jaringan interaksi antara aktor. Aktor yang dimaksud bisa individu dengan individu, bisa individu dengan keluarga, bisa antar keluarga, keluarga dengan masyarakat kota, antar masyarakat kota, masyarakat kota dengan negara, antar negara, dan seterusnya, seperti terlihat pada gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1. Sistem sosial

Konsep penting dari sistem sosial adalah bagaimana interaksi ini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih daripada potensi masing-masing dari aktor ini. Dalam bahasa Inggris istilahnya,  the whole is more than the sum of its part, atau 1+1 > 2. Peribahasa Indonesia yang sesuai untuk sistem sosial ini adalah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Pengertian wabah menurut Undang-undang nomor 4 tahun 1984 adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan bahaya atau bencana. Wabah dapat dibedakan menjadi epidemi, endemik, dan pandemik sesuai panduan dari kbbi sebagai berikut:

Baca lebih lanjut

Cerita Asyik Jembatan Kereta Api Ciwidey

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Rieky Nurhartanto

Pagi yang sangat cerah mengantar perjalanan kami menyusuri jalur rel tempo dulu yang berada antara Bandung-Ciwidey. Kali ini saya kembali bertualang momotoran bersama Komunitas Aleut dalam program ADP20 (Aleut Depelovment Program 2020).


Senang rasanya bisa kembali menulisakan pengalaman bertualang saya menapaktilasi tiga jembatan kereta api yang ada di daerah Ciwidey. Sebelum siang kami sudah tiba di jembatan pertama di daerah Sadu. Walaupun secara administratif wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Soreang, tetapi saya pribadi selalu saja menganggap jembatan tersebut sudah ada di wilayah Ciwidey hehehe.

Ini bukan kunjungan pertama saya ke Jembatan Sadu. Setiap kali pergi ke Ciwidey, saya selalu menyempatkan diri mampir ke jembatan ini, baik untuk rehat menikmati pemandang di sekitar, atau sekadar minum kopi di warung kecil yang ada di sini.


Pagi-pagi menikmati kopi dengan camilan gehu panas sambil meresapi keindahan alam di sekitar jembatan tua ini sungguh menyenangkan hati. Hal baru yang saya dapatkan dari kunjungan hari ini adalah saya baru tahu bahwa jembatan ini bernama Jembatan Sadu. Dalam hati saya mengakui ternyata selama ini literasi saya masih sangat kurang. Walaupun agak menjorok ke dalam, tapi letak Jembatan Sadu ini tak jauh dari pinggir jalan raya, sehingga mudah sekali untuk mendatanginya. Yang perlu diperhatikan bila akan berkunjung ke sini adalah ketiadaan tempat parkir, mungkin karena memang tidak dikemas untuk pariwisata sehingga tidak ada fasilitas umum seperti yang biasa ditemui di tempat-tempat wisata. Delapan motor kami susun berdesakan di halaman sempit sebuah warung yang sedang tutup.

Baca lebih lanjut

Momotoran Tapak Tilas Jalur Kereta Api Bandung-Ciwidey

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Wildan Aji.

Tahukah Anda, selain jalur kereta api Bandung Raya-Padalarang-Cicalengka yang saat ini masih beroperasi, dahulu ada juga rute kereta api antara Bandung dan Ciwidey. Jalur yang dibuat perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, ini sudah lama dibiarkan terbengkalai. Nah, saya bersama tim ADP-20 Komunitas Aleut menyusuri jejak-jejaknya pada hari Sabtu, 21 November lalu. Ini kisahnya..


Jalur kereta api ke wilayah selatan Bandung yang merupakan kawasan perkebunan-pertanian, cukup penting perannya di masa lalu. Biaya angkut hasil bumi ketika itu hanya 4 sen untuk setiap sen-nya, jauh lebih murah dibanding angkutan reguler yang tersedia waktu itu, yaitu pedati, yang biayanya antara 15-18 sen untuk setiap ton-nya.


Kunjungan pertama kami adalah ke bekas Stasiun Dayeuhkolot yang saat ini terletak di dekat pasar dan tidak jauh dari Jembatan Citarum. Stasiun ini dibuka pada tahun 1921. Ukurannya termasuk besar dan memiliki dua cabang jalur rel, ke kiri ke Majalaya, dan ke kanan ke Banjaran-Ciwidey. Jalur menuju Majayala dinonaktifkan pada masa pendudukan Jepang.

Stasiun Dayeuhkolot tempo dulu dan sekarang. Foto: KITLV/Komunitas Aleut.

Peninggalan perkeretaapian di sini hanya barupa bangunan stasiun yang terlihat masih utuh. Genting yang terpasang sebagai atap bangunan juga merupakan peinggalan lama, terlihat cetakan tulisan JB Heijne, yaitu nama pabrik genting tempo dulu yang berada di Ujungberung. Selain itu, masih ada sisa beberapa gudang kereta api yang digunakan oleh warga sebagai warung-warung.


Tempat kedua yang kami kunjungi adalah bekas Stasiun Banjaran. Stasiun ini menjadi penghubung jalur kereta antara Dayeuhkolot dengan Kopo (sekarang Soreang) dan menjadi simpul penting pengangkutan dari kawasan perkebunan di Pangalengan. Artinya, hasil bumi dari kawasan Pangalengan, seperti Arjasari dan Puntang, dibawa dan dibongkar di sini, lalu dilanjutkan pengangkutannya menggunakan kereta api.

Baca lebih lanjut

Guratan Sejarah Staatsspoorwegen di Tjiwidej

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Bangunan bekas stasiun kereta api Ciwidey. Foto: Komunitas Aleut.

Tidak ada yang pernah bisa menentukan masa depan, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Siapa sangka, sebuah proyek besar yang dibangun untuk jangka panjang, akhirnya mati begitu saja dan terbengkalai sampai sekarang. Bandung merupakan salah-satu daerah yang memiliki banyak peninggalan sejarah. Seperti yang pernah dikatakan Mocca dalam lirik lagunya yang berjudul Bandung (flower city), “In my little town, Every corner tells you different stories, There’s so many treasures to be found” (di kota kecilku, setiap sudut menceritakan banyak cerita berbeda, ada banyak harta karun yang bisa ditemukan di sini).

Salah-satu peninggalan itu adalah jejak-jejak kereta api yang membentang dari Bandung sampai Ciwidey. Lingkungan alam Ciwidey yang berbukit-bukit itu akhirnya dapat ditaklukan oleh Staatsspoorwegen. Tidak mudah dan murah memang, sebelumnya pemerintah tak mampu mewujudkan pembangunan jalur kereta api Bandung-Ciwidey ini karena masalah pembiayaan. Pada 17 Juni 1924 Stasiun Ciwidey diresmikan penggunaannya setelah melewati masa pembangunan selama tujuh tahun. Dimulai dari jalur Dayeuhkolot-Banjaran pada tahun 1917, kemudian dilanjutkan stasiun kopo (soreang) pada 13 Februari 1921, dan akhirnya jalur Ciwidey pada 17 Juni 1924.

Segera saja kereta api menjadi sarana transportasi utama, baik untuk pengangkutan penumpang, ataupun hasil perkebunan. Salah-satu indikasi seriusnya Staatsspoorwegen dalam membangun jalur perkeretaapian di Hindia-Belanda, yaitu penggunaan bahan yang berkualitas baik dari perusahaan terbaik untuk pembangunan rel ini. Nama-nama perusahaan tersebut masih dapat kita temukan tercetak pada batang-batang rel. Saya menemukan dua nama, Carnegie dari USA, dan KRUPP dari Jerman.


Kenapa Staatsspoorwegen memilih dua perusahaan baja ini di antara perusahaan-perusahaan lainnya? Perusahaan Krupp adalah perusahaan baja Jerman yang terkenal memproduksi seamless railway tires atay roda (rel) kereta api tanpa sambungan yang terkenal anti retak. Rel buatan Krupp sangat terkenal walaupun harganya tinggi. Kualitasnya sangat baik. Rel Krupp juga digunakan pada jaringan rel kereta api di Amerika Serikat sejak sebelum Perang Sipil (1860-1865), karena pada saat itu pabrik-pabrik di Amerika Serikat belum mampu memproduksi baja dalam kapasitas besar dan dengan kualitas yang sebaik itu (Komunitas Aleut: Rel Kereta Api memiliki Arti, oleh: Alek alias @A13Xtriple).

Tidak hanya menjadi pemasok ke Amerika Serikat, bahkan Krupp menjadi pemasok juga untuk Napoleon, dan merupakan pemasok baja utama di Eropa. Dengan Kerajaan Prusia, KRUPP mendapatkan kontrak untuk pembuatan senjata. Carnegie adalah perusahaan baja asal USA yang didirikan pada tahun 1892 oleh Andrew Carnegie. Ia meraih kesuksesan dengan menciptakan metode peleburan baja yang efesien, dan menghasilkan baja dengan kualitas terbaik, hingga pada tahun 1900-an, produksi baja Carnegie mampu melampaui produksi baja Inggris.

Baca lebih lanjut