Menemukan Udug-Udug, Ibu Kota Karawang Baheula


Ditulis oleh: Hevi Fauzan

“Di dalam perjalanan, kadang kita tidak menemukan apa yang dicari. Kadang, kita malah menemukan hal yang lain lagi.”

Sabtu, 5 September 2020, kami berlima melakukan perjalanan momotoran ke Kabupaten Karawang. Dalam rencana, kami akan mengunjungi Cikao, Bendungan Walahar, rumah bersejarah Rengasdengklok, Candi Batujaya, dan muara Ci Tarum di Laut Jawa. Satu rencana perjalanan untuk menyusuri objek-objek yang kaya akan sejarah.

Di tengah perjalanan, rencana mulai berubah. Karena kurang membaca peta dan tidak ada rambu penunjuk jalan di belokan menuju Jatiluhur di Kota Purwakarta, kami mengambil jalur lurus ke Cikampek. Menyadasi kesalahan di tengah perjalanan, kami akhirnya mengambil keputusan untuk langsung menuju bendungan yang membendung Sungai Ci Tarum, Bendungan Walahar. Sementara, hawa panas mulai memasuki ruang-ruang udara di dalam jaket.

Baca lebih lanjut

Aku dan Kota yang Terpukul

Oleh: Irfan Dary

Mobilitas kota yang berubah aneh, pemerintah harus terus berjalan walaupun babak belur, dan bisnis kehilangan pasarnya. Tiga mimpi buruk ini jadi realitas yang harus kita hadapi saat tulisan ini dibuat. Kehidupan sosial, ekonomi, bahkan spiritual warga kota terguncang secara mendadak saat pandemi merebak. Kita bisa tunjuk secara acak siapapun yang kita temui, pasti semuanya merasakan dampak pandemi ini. Fitrah kota sebagai tempat dimana semuanya serba cepat dan dinamis dipaksa melambat.

Baca lebih lanjut

Panen Padi di Cianjur

Oleh: Deuis Raniarti

Lahir dan besar di salah satu daerah yang dikenal sebagai salahsatu penghasil beras, membuat saya akrab dengan kondisi alam seperti hamparan sawah yang hijau, sungai-sungai kecil dan perbukitan. Semuanya adalah pemandangan yang dapat saya saksikan dengan mudah.

Saya tinggal di Kampung Gombong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Rumah saya berada dekat dengan persawahan. Momen yang paling menyenangkan di rumah adalah menunggu musim panen tiba. Saya bisa bermain bebas di sawah yang padinya sedang diambil oleh alat bernama arit, segenggam tangkai padi kemudian digebug pada sebuah bidang miring bergelombang berbahan kayu yang disebut rekal agar butiran padi terlepas dari tangkainya. Selanjutnya padi dikumpulkan dan dijemur sampai kering. Biasanya saya akan sangat senang membolak-balikkan padi sambil sibuk mengusir kawanan burung yang mencoba memakan hasil panen saya.

Baca lebih lanjut

Braga; Kawasan Cagar Budaya Kota Bandung yang Terus Terganggu

Sabtu Sore (8/8) itu, saya mengunjungi Jalan Braga. Seperti biasa, suasana jalan cukup ramai dipadati para wisatawan yang mengambil foto di sana. Tidak ada yang banyak berubah di sana, kecuali ada pembangunan kecil di mulut Gang Cikapudung. Gang ini sering saya lewati, karena menjadi akses masuk ke Kampung Cibantar, tempat paman dan bibi saya tinggal.

Foto: Deuis Raniarti, Komunitas Aleut.
Baca lebih lanjut

Kelas Literasi: Mengintip Proses Pembuatan “Pernik KAA 2015″

Kelas Literasi Mengintip Proses Pembuatan Pernik KAA 2015

Kelas Literasi pekan ke-168 yang diadakan pada hari Minggu, 19 April 2020, bertepatan dengan bulan perayaan Konferensi Asia-Afrika ke-65. Sebagai bagian mandiri untuk peringatannya, Komunitas Aleut mengadakan Kelas Literasi mengenai proses penulisan buku peringatan “Pernik KAA 2015; Serba Serbi Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika” yang ditulis secara kolektif oleh Komunitas Aleut dan diterbitkan oleh penerbit Ultimus, Bandung. Baca lebih lanjut

Menapaki Kenangan Bersama Aleut dan Pidi Baiq

Oleh: Aozora Dee (@aozora_dee)

“Kok nyeri ya bacanya”

Seorang kawan meninggalkan sebuah komentar di unggahan di Instagram saya. Sebuah penggalan tulisan dari novel karya Pidi Baiq.

Dia yang ada di dalam hatiku maka itu adalah keabdian. Meskipun dia pergi, kenangan tidak akan pernah benar-benar meninggalkan”.

Itu kalimat yang saya unggah pada Instagram saya beberapa hari yang lalu. Saya membayangkan bagaimana rasanya mempunyai ingatan Baca lebih lanjut

Wyata Guna dalam Tanya

Denyut di jantungmu kota
Pusat gelisah dan tawa
Dalam selimut debu dan kabut
Yang hitam kelam warnanya
Sejuta janjimu kota
Menggoda wajah-wajah resah
Ada di sini dan ada di sana
Menunggu di dalam tanya

(Balada Sejuta Wajah-God Bless)

Saya masih mengingat dengan jelas, saat duduk di kelas dua SMP, pernah meminta kepada seorang kawan untuk dibuatkan gambar logo band God Bless. Kawan tersebut memang pandai menggambar, matanya awas dan mampu menangkap bentuk dengan baik, untuk kemudian digambarkan di atas kertas. Saya tak mampu membuat karya seperti itu. Setiap dia menggambar, saya selalu memperhatikan dengan takjub.

Dia sering menggambar segala hal tentang band rock Inggris, Queen. Mulai dari logo hingga gambar personilnya. Lewat dia, saya kemudian lebih mengenal Queen. Setiap bertandang ke tempat tinggalnya, saya mendengar lagu-lagu Queen dari tape-nya. Baca lebih lanjut