CATATAN PERJALANAN NGALEUT BOJONGSOANG (2)

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Lokasi Ngaleut kami berikutnya adalah Makam Luluhur Bupati Bandung yang ada di Dayeuhkolot. Sebelum lanjut, MagLex mengusulkan supaya kami mampir dulu ke rumah salah satu keturunan H. Rahmat Adam yang terletak tidak jauh dari komplek pemakaman. Kawan-kawan Aleut angkatan lama memang sebelumnya sudah pernah mampir untuk bersilaturahmi ke rumah ini di tahun 2016. Awalnya kami ragu-ragu untuk masuk, tapi akhirnya kami masuk juga.

Baca lebih lanjut

CATATAN PERJALANAN NGALEUT BOJONGSOANG (1)

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Sabtu pagi yang cukup cerah untuk mengawali Ngaleut kali ini. Tidak seperti Ngaleut biasanya yang dimulai dari mulai pukul tujuh, pada Ngaleut Bojongsoang, saya dan beberapa kawan Aleut berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut pukul sepuluh kurang sebelas menit. Kami berangkat agak siang karena rute serta tempat yang akan kami singgahi tidak banyak dan relatif berdekatan. Pasukan Ngaleut Bojongsoang kali ini hanya ada saya, Rani, Annisa, Reza, Adit, juga MangLex yang menjadi “ensiklopedia berjalan” kami selama Ngaleut berlangsung. Ada pula satu kawan baru kami yaitu Asep yang langsung bertemu di titik Ngaleut pertama.

Baca lebih lanjut

MAUSOLEUM URSONE: DOAKANLAH KAMI

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Rumah Keluarga Ursone di Lembang. Foto: Reza Khoerul Iman

Minggu lalu saya dan teman-teman mengunjungi bekas rumah tinggal keluarga Ursone di Jalan Baruajak, Lembang. Sedikit flashback ke tulisan saya sebelumnya yang berjudul Momotoran Lembang, kami mengunjungi rumah ini setelah Ngaleut ke beberapa tempat di kawasan Lembang. Rumah ini tampak bagus dan dilengkapi halaman luas yang bersih. Salah satu perbincangan saya dan teman-teman saat duduk santai di halaman adalah tentang makam Ursone yang berada di kompleks makam Pandu. Mang Alex menjelaskan bahwa yang dimakamkan di makam berbentuk mausoleum itu bukan hanya satu orang saja, melainkan ada beberapa anggota keluarga Ursone, juga dari generasi yang berbeda. Mang Alex juga menyinggung soal bagaimana cara membaca tanda angka-angka yang tertulis di mausoleum bagian depan mausoleum Ursone.

Baca lebih lanjut

MOMOTORAN LEMBANG

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Agenda Momotoran Komunitas Aleut kali ini dibuka untuk umum, namun pesertanya dibatasi. Temanya Momotoran Lembang dan sekitarnya, jadi di kawasan dekat-dekat saja. Poster diposting tiga hari sebelum hari H dan ada google form yang harus diisi oleh peserta yang mendaftar, dengan catatan: “Apabila mendadak tidak dapat hadir, sila konfirmasi maksimal H-1 ke admin via nomor whatsapp atau DM ke Instagram @KomunitasAleut.

Jika sudah konfirmasi hadir, namun batal saat hari-H tanpa kabar atau alasan yang jelas, Aleutian tidak dapat mengikuti kegiatan Komunitas Aleut selama 3 bulan ke depan, karena kuota peserta terbatas. Mohon bertanggung jawab atas kuota yang telah diambil.” Catatan tersebut disematkan di akhir google form, alasannya tentu saja agar peserta disiplin dan bertanggung jawab dengan pilihannya. Pasalnya pada kegiatan-kegiatan Aleut sebelumnya, ada beberapa orang yang tidak bertanggung jawab seenaknya saja tidak konfirmasi bila tidak bisa hadir, sementara banyak orang tidak kebagian kesempatan karena kuotanya telah mereka ambil.

Peserta Momotoran berkumpul di Sekretariat Komunitas Aleut pada Minggu pagi, 9 Januari 2022. Tak disangka, peserta yang daftar hadir semua. Ternyata catatan akhir yang jadi pengingat pada google form itu bermanfaat juga, hehehe. Sebelum berangkat, saya menjelaskan dulu rencana kegiatan hari ini, mulai dari teknis Momotoran di Komunitas Aleut, materi pengantar untuk kegiatan hari ini, serta rencana rute perjalanan. Mengapa rencana rute? Karena bisa saja tidak semua kita jalani, let it flow~

Baca lebih lanjut

NGALEUT MAKAM PANDU: 1932-2022

Ditulis oleh: Aditya Wijaya (@adityanism)

Para peserta Ngaleut di depan gerbang Ereveld Pandu. Foto: Deuis Raniarti

Hari Kamis 13 Januari 2022, Komunitas Aleut mengadakan kegiatan Ngaleut Makam Pandu. Ngaleut ini dihadiri oleh sepuluh peserta dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Ngaleut dimulai pukul 09.30 pagi dengan Mang Alex menjelaskan latar belakang berdirinya Makam Pandu, dilanjut mengunjungi Makam Ursone. Jadi Makam Pandu ini merupakan makam pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe yang dahulu lokasinya berada di sekitar Gor Pajajaran sekarang. Kerkhof adalah kata kuno Belanda yang artinya pemakaman.

Lokasi pertama yang kami kunjungi ialah makam keluarga Ursone. Makam ini berbentuk mausoleum bergaya barok dan berlapis marmer. Kenapa berlapis marmer? Mungkin karena A. Ursone pernah membuka usaha batu marmer yang bernama Carrara Marmerhandel en–bewerking di Bantjeuj, Bandung. Keluarga Ursone merupakan keluarga berkebangsaan Italia dan memiliki perusahaan susu sapi yang berada di Lembang.

Baca lebih lanjut

NGALEUT CIDADAP: MATA AIR DI KOTA BANDUNG KINI (2)

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Penampungan air di Setiabudhi tahun 1920. Foto: Leiden University

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian pertama Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (1). Bagian pertama adalah rangkaian perjalanan dan cerita saat mengunjungi Gedong Cai Cidadap dan Gedong Cai Tjibadak, sedangkan pada bagian ini saya ingin bercerita ketika kami mengunjungi tempat penampungan air di Setiabudhi dan Gedong Cai Cikendi.

Setelah dari Gedong Cai Cidadap dan Tjibadak, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat penampungan air di Setiabudhi. Tempat ini tampak berbeda dengan Gedong Cai yang kami kunjungi sebelumnya. Bagian atas bangunan terlihat agak membulat dan tertutupi tanah dan rumputan, dulu bangunan seperti ini disebut sebagai gunung cai. Namun sayang ketika kami berkunjung ke sana, kondisi bangunan sudah tertutup dengan rerumputan. Sebagian bangunan juga terkena aksi vandalisme, penuh coretan.

Baca lebih lanjut

NGALEUT CIDADAP: MATA AIR DI KOTA BANDUNG KINI (1)

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Relief nama Tjibadak – 1921 yang sudah dirapikan. Foto: Deuis Raniarti

“Tepat pada 29 Desember 2021 lalu, Gedong Cai Tjibadak diramaikan oleh banyak orang. Wartawan berdatangan, berbagai komunitas menghadiri tempat tersebut, MCK dan lingkungan sekitar direvitalisasi, bahkan Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Bandung, Yana Mulyana, pun turut turun ke hadapan Gedong Cai Tjibadak”.

Entah sejak kapan saya menaruh perhatian khusus kepada gedong cai di Kota Bandung. Saya kira usianya yang telah genap menjadi satu abad bukan salah satu alasan saya mengenal gedong cai. Mungkin lebih karena aktivitas saya yang harus ke sana ke mari mencari berita yang akhirnya mempertemukan saya dan gedong cai.

Sewaktu mengikuti kegiatan Ngaleut Cidadap dan mampir ke gedong cai bersama rekan-rekan Komunitas Aleut, pada Kamis, 30 Desember 2021, ternyata juga dilakukan bukan karena usia gedong cai yang telah genap menjadi satu abad.

Baca lebih lanjut

Momotoran Paranggong: Camara, Londok sampai Puncakbaru.

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Berfoto dengan latar belakang Cagar Alam Gn. Simpang. Foto: Komunitas Aleut

“Paranggong euy!” gumam saya dalam hati.

Semalam di Ciwidey terasa cepat dan langit sudah terang kembali, sudah beberapa kali momotoran kami selalu menginap semalam sebelum besoknya menempuh perjalanan, cara ini dilakukan agar bisa menghemat tenaga dan bisa memulai perjalanan lebih dekat. Sebenarnya niatan untuk momotoran ke Paranggong ini baru diputuskan ketika menginap, niat awalnya sih staycation hehe.

Kami memulai perjalanan dari penginapan yang tak jauh dari Jl. Alamendah menuju Kampung Camara. Sepanjang jalan ke Camara ya lumayanlah engga jelek-jelek banget, udah ada cor beton meskipun baru dikit, kata warga itu bantuan dari perusahaan gas. Sebelum sampai Camara sudah ada korban motor kempes, motor Ervan langganan bocor kalau momotoran haha. Sembari menunggu motor yang bocor di Camara, saya dan Pahep mengobrol dengan guru SD Kendeng. Dia bercerita banyak hal mengenai kondisi sekolah, salah satunya tentang satu kelas yang hanya berisikan tiga orang siswa. Pak guru ini pun setiap hari harus menempuh perjalanan Ciwidey-Camara untuk mengajar. Jadi malu rasanya kalau kadang ada yang menyebut perjalanan momotoran kami ini sebagai petualangan mengingat banyak warga yang setiap hari bolak-balik menempuh puluhan kilometer jalanan rusak untuk pekerjaan sehari-hari mereka.

Baca lebih lanjut

Ke Timur: Kereta Api, Ubi, Radio, sampai Candi

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Saya senang karena selalu ada cerita berbeda di setiap Momotoran. Diawali dengan keberangkatan yang agak siang dan perjalanan yang mengarah ke timur, terasa asing karena biasanya jalur selatan yang selalu menjadi jalur utama setiap kali momotoran.

Tema momotoran kali ini adalah Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari. Sabtu, 30 Januari 2021, saya bersama teman-teman ADP 2020 menyambangi beberapa tempat yang berkaitan dengan jejak jalur Kereta Api Bandung-Tanjungsari yang sudah lama tidak aktif. Kami berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut melalui jalur yang sering saya sebut sebagai jalur neraka, karena kemacetannya yang selalu menguji kesabaran, Jalan Soekarno Hatta lalu Cibiru-Cileunyi-Jatinangor.  

Atas: Plang Makam
Bawah: Jembatan Cincin diambil dari pemakaman
Foto: Inas Qori Aina

Tempat pertama yang kami tuju adalah Jembatan Cincin di Cikuda, Jatinangor. Jembatan ini biasanya hanya saya pandangi dari kampus tempat saya berkuliah. Baru kali ini saya menginjakkan kaki di atas jembatan ini. Bukan Cuma berjalan di atasnya, tapi kami pun menyempatkan untuk turun ke bawahnya dan mengamatinya dari area persawahan. Di bawah sini ada sebuah permakaman kecil yang katanya ada makam keramatnya, tapi entah makam yang mana. Dari pemakaman kecil ini kami dapat melihat secara utuh konstruksi jembatan itu.

Cukup lama kami eksplorasi di sekitar Jembatan Cincin Cikuda, sesekali kami juga menyimak berbagai informasi dan cerita yang disampaikan. Berikutnya, kami berangkat lagi menuju titik selanjutnya, yaitu Jembatan Cincin Kuta Mandiri. Untuk menuju jembatan ini kami melalui jalan perdesaan dengan pemandangan sawah yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Jembatan ini terletak di tengah Desa Kuta Mandiri, Tanjungsari, sehingga tak heran masih menjadi jalur utama mobilitas warga desa. Ketika kami tiba di sana kami pun harus berhati-hati karena banyaknya kendaraan yang melintas di jembatan ini.

 Jembatan Cincin Kuta Mandiri Foto: Inas Qori Aina

Bentuk jembatan ini mirip dengan Jembatan Cincin Cikuda. Bedanya, di jembatan ini masih dapat dijumpai semacam tempat yang dulu digunakan untuk minggir (safety area) di saat kereta api melintas.

Setelah mendapatkan cerita tentang sejarah jembatan ini, kami bergegas menuju bekas Stasiun Tanjungsari. Bangunan bekas stasiun tersebut kini terletak di tengah permukiman warga yang cukup padat. Hanya sedikit peninggalan yang dapat saya lihat, yaitu papan nama stasiun serta bangunan bekas peron stasiun yang kini digunakan entah sebagai rumah atau taman kanak-kanak. Menurut Pa Hepi, bagian depan dari Stasiun Tanjungsari kini sudah tidak tersisa lagi.

Yang tersisa dari bekas Stasiun Tanjungsari foto: Inas Qori Aina

Tidak jauh dari Stasiun Tanjungsari, terdapat viaduct Tanjungsari yang dibangun melintasi Jalan Raya Pos. Bentuknya mirip dengan viaduct yang berada di Bandung. Hanya saja, Viaduct Tanjungsari tampak lebih sederhana dan lebih pendek.

Dari Tanjungsari kami melanjutkan perjalanan ke Citali. Saya dan teman-teman berhenti di pinggir jalan untuk memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki, ngaleut, menuju area persawahan milik warga sana. Siapa sangka, di tengah area sawah milik warga terdapat dua buah struktur bekas fondasi jembatan yang tidak selesai dibangun. Kami hanya memandangi struktur tersebut dari kejauhan, karena tidak berani melintasi jembatan kayu kecil yang di bawahnya terdapat aliran sungai yang terlihat tenang tapi mungkin cukup dalam.

Jembatan kayu menuju bekas jembatan kereta api di Citali Foto:Inas Qori Aina

Perjalanan ini tidak cukup sampai di Citali, dan bukan hanya tentang kereta api. Satu yang tak kami lewatkan yaitu untuk mampir ke sentra ubi Cilembu yang berada di Desa Cilembu. Ketika memasuki gapura desa tampak kebun ubi yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Kami pun menyempatkan untuk mampir ke sebuah warung ubi Cilembu milik seorang warga lokal. Di sini kami berbincang mengenai asal mula berkembangnya ubi Cilembu hingga menjadi oleh-oleh yang terkenal saat ini.

Kebun ubi Cilembu Foto: Inas Qori Aina

Oleh-oleh ubi Cilembu telah kami kantongi, saatnya kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Perjalan pulang kami melewati jalur yang berbeda dengan saat kami berangkat. Perjalanan kami melewati Parakan Muncang dan melewati jalur Cicalengka-Rancaekek. Di tengah jalan raya Rancaekek tampak plang yang tidak telalu besar bertuliskan “Situs Candi Bojong Menje”. Untuk menuju situs candi tersebut kami harus memasuki sebuah gang yang cukup kecil. Saya tak habis pikir ketika tiba di sini. Konstruksi batuan candi hanya dilindungi oleh sekeliling pagar yang sudah karatan serta atap yang rusak.

Berbincang dengan Pak Ahmad, kuncen Candi Bojong Menje Foto: Komunitas Aleut

Di sini kami berbincang dengan penjaga candi yaitu Pak Ahmad. Ia menceritakan bagaimana awal mula penemuan situs ini serta kemungkinan masih adanya struktur candi lain yang kini berada di tengah bangunan pabrik.

Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah bangunan bekas Stasiun Penerima Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Kata Pa Hepi, bangunan tersebut kini digunakan sebagai bengkel entah oleh siapa dan masih dimiliki oleh PT Telkom.

Waktu semakin petang, kami mengejar waktu agar sempat untuk melihat satu lagi candi yang masih terletak di Kabupaten Bandung. Beruntungnya, matahari masih mau menemani kami sehingga saat kami tiba keadaan belum terlalu gelap. Candi terakhir yang kami singgahi adalah Candi Bojongemas. Keadaan di sini justru lebih parah daripada Candi Bojong Menje. Papan informasi sudah berkarat dengan tulisan yang tidak cukup jelas. Batuan candi pun hanya dikelilingi oleh pagar kayu yang sangat rentan untuk rusak.

Keadaan di sekitar Candi Bojongemas Foto: Inas Qori Aina

Hanya sebentar kami melakukan pengamatan, keadaan pun semakin gelap. Tandanya perjalanan kami hari itu selesai, dan harus segera pulang. Di perjalanan pulang, pikiran saya tak karuan merenungkan pengalaman dari perjalanan Momotoran ke kawasan timur yang baru saja saya lalui, seperti yang tidak asing karena sering dilalui, tapi ternyata punya banyak peninggalan masa lalu yang rasanya tidak terlalu populer dan jarang dibicarakan orang…

***

Kereta Api, Cilembu, dan Candi

Ditulis oleh: Farly Mochamad

Sabtu, 30 Januari 2021 lau, saya ikut kegiatan Aleut Development Program (ADP) 2020 momotoran menyusuri jejak kereta api antara Bandung-Tanjungsari. Kami berangkat agak siang dari sekretariat Aleut menuju SPBU Cinunuk untuk bertemu dengan rekan lain yang akan bergabung.

Jembatan Cincin Cikuda di pagi hari  foto: Komunitas Aleut

Dari Cinunuk, kami beranjak ke Jatinangor, melewati kampus Unpad, untuk menuju lokasi pertama, yaitu Jembatan Cincin atau kadang disebut Jembatan Cikuda, sesuai dengan nama daerah di situ. Tidak butuh waktu lama sampai kami tiba di lokasi dan berjalan di atas bekas jembatan kereta api ini.

Dari atas jembatan ini saya bisa melihat Gedung Student Center Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Asrama Kedokteran Unpad, dan di bawah jembatan terlihat area permakaman di tengah sawah. Di arah timur terlihat Apartemen Taman Melati dengan kolam renangnya. Waktu kami datang, ada beberapa pesepeda yang sedang foto-foto dan eksplorasi seputar jembatan ini juga. Seorang tua yang sedang berfoto sambil minum air dari cangkir menuturkan bahwa dia berangkat dari Setiabudi pagi tadi. Lumayan juga perjalanannya, sepedahan dari Bandung Utara sampai ke Jatinangor, dan entah akan ke mana lagi.

Dari atas jembatan kami mencari jalan untuk turun ke bawah, ke area persawahan dan permakaman. Pak Hepi yang menyertai kami bercerita bahwa jembatan ini memiliki 11 tiang dan 10 lengkungan yang membentuk rupa cincin. Pembangunannya dilakukan pada tahun 1918 dengan tujuan sebagai jalur pengangkutan hasil perkebunan kopi dan teh dari wilayah Jatinangor ke Rancaekek dan Bandung. Saat ini bekas jembatan masih digunakan warga sekitar sebagai jalur lalu lintas antarkampung.

Jembatan Cincin Kuta Mandiri foto: Komunitas Aleut

Tempat kedua yang kami datangi berada di perbatasan Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Tanjungsari, dan baru saya ketahui bahwa sebenarnya ada jembatan cincin lainnya di kawasan ini. Letaknya di tengah perkampungan agak jauh dari jalan raya dan cukup tersembunyi juga, tak heran kalo banyak yang engga tahu keberadaan jembatan ini. Nama jembatan ini Jembatan Kuta Mandiri. Saat ini hanya warga sekitar saja yang memanfaatkan jembatan ini sebagai jalur jalan perkampungan.

Gedung Juang 45 Tanjungsari (atas) Viaduct (bawah) di Tanjungsari Foto : Komuitas Aleut

Jejak kereta api berikutnya yang kami datangi adalah bekas Stasiun Tanjungsari yang saat ini digunakan sebagai Gedung Juang ’45 Tanjungsari. Jalan tempat bekas stasiun ini berada ternyata bernama Jalan Staatspoorwegen (SS) dan gedungnya bernomor 23. Yang masih tersisa di sini selain bangunannya adalah papan nama stasiun yang terdapat pada salah satu dinding luar luar, letaknya di bagian atas. Di situ tertulis nama dengan ejaan lama, Tandjoengsari.

Di sini Mang Alex bercerita bahwa jalan raya yang di depan itu adalah bagian dari De Grootepostweg atau Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 yaitu Herman Willem Daendels. Untuk pembangunan lintasan jalur kereta api Tanjungsari, ada bagian dari Jalan Raya Pos ini yang dibongkar dan dijadikan viaduct. Bagian atas dan bawah viaduct ini masih digunakan sampai sekarang sebagai jalur lalu lintas, sedangkan jalur rel kereta api sudah tidak terlihat lagi, katanya sudah tertimbun sekitar satu meteran di bawah tanah.

Struktur Jembatan Kereta Api di Citali foto: Komunitas Aleut

Dari Tanjungsari, kami ke Citali. Di sini kami berjalan ngaleut di tengah persawahan untuk menuju sebuah bekas bangunan fondasi jembatan yang tidak selesai dikerjakan. Konon karena masalah kesulitan ekonomi pada waktu itu. Selain itu ada juga dongengan soal kenapa jembatan ini tidak dapat diselesaikan, konon karena keberadaan kabut sangat tebal yang selalu menghambat pekerjaan di sana. Wah, kabut seperti apa ya itu sampai bisa menggagalkan pembangunan jembatan kereta api?

Sekitar pukul 12.30 kami beristirahat dan makan  di daerah Tanjungsari, yaitu di Warung Makan (Warman) Dua Saudara. Tempatnya sangat strategis karena berada di pinggir jalan dan kebetulan sedang kosong sehingga dapat menampung rombongan kami. Saya pikir  warman ini baru, terlihat dari catnya seperti baru dipulas, tapi warman ini sudah semi lama ternyata. Di warman ini saya memilih makanan yang sederhana saja karena taulah mahasiswa korona, paspasan kantongnya, hihihi. Saya mengambil lauknya jamur, tempe, tahu dan sambal, wait, satu lagi asin pemberian Dary yang sengaja di bagikan satu plastik olehnya, untung saja temen-temen yang lain pada gak ada yang ngambil, kecuali Pak Hepi, jadi saya bisa ambil satu lagi. Thanks ya Dary. Setelah makan selesai kami bercanda tawa.

foto bersama Ibu penjual warung (atas) Ibu penjual warung sedang bercerita (bawah) foto: Komunitas Aleut

Dari Tanjungsari, kami tidak putar balik kembali ke arah Bandung, tapi mampir dulu ke satu tempat yang namanya sangat khas dan terkenal, Cilembu. Tadinya saya pikir tempat ini masih berhubungan dengan sejarah kereta api, tapi ternyata engga. Ternyata oh ternyata, Aleut hanya ingin mengenalkan kawasan ini saja. Nama Ubi Cilembu memang sudah sangat terkenal, tapi banyak yang engga tahu di mana sebenarnya Cilembu itu. Nah, karena itulah ternyata kami diajak ke sini.

Kami berhenti di sebuah warung penjual Ubi Cilembu dekat Kantor Desa. Di sini kami ngobrol panjang sekali dengan ibu warung dan ada banyak sekali informasi yang kami dapatkan. Cerita seputar desa, berbagai jenis umbi-umbian, sampai ke pengolahan ubi yang sudah modern. Selain ubi oven yang sudah dikenal, di sini juga banyak diproduksi variasi olahan ubi, termasuk keripik yang banyak jenisnya dan sudah dipasarkan melalui marketplace. Sampai sekarang Desa Cilembu juga termasuk yang secara rutin menerima kelompok mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di sini.

Situs Candi Bojong Menje. foto: Komunitas Aleut

Dari Cilembu kami pulang melewati Rancaekek dan tiba-tiba berhenti di tepi jalan. Di situ saya lihat ada sebuah plang kecil dengan tulisan Candi Bojong Menje. Oh, rupanya kami akan mampir melihat situs ini. Kam masuk melewati gang sempit di tengah kawasan pabrik dan permukiman. Di situs candi kami ketemu bapak penjaganya, Pak Ahmad, yang bercerita bahwa sebelum ditemukan bekas-bekas candi ini, dulunya wilayah itu adalah kompleks permakaman umum. Pak Ahmad menceritakan berbagai koleksi temuan yang tersimpan di situ sambil mengatakan juga bahwa sebetulnya di kawasan itu kalau diadakan penggalian maka masih dapat ditemukan banyak tinggalan kuno lainnya, tapi ya ada masalah soal pemilikan tanah sehingga penggalian tidak dapat dilakukan.

Ex Stasiun Penerima Radio Nirom foto: Komunitas Aleut.

Dari lokasi Candi Bojong Menje, kami masih mampir lagi ke tempat lain. Kali ini mengunjungi ex Stasiun Penerima  Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Gedung depannya terlihat sangat cantik sekali menjulang tinggi dengan ciri khas bangunan Eropa. Namun sayangnya  kondisi bangunan  tidak terawat dan bisa dibilang kumuh. Sekarang gedung bangunan tersebut dikelola oleh PT TELKOM.

Plang dan spanduk Candi Bojong Emas sobek (atas) Tumpukan bebatuan Candi Bojong Emas (bawah) foto: Komunitas Aleut.

Kami tidak terlalu lama berada di lokasi bekas stasiun radio itu karena hari sudah semakin sore. Sambil beranjak menuju pulang, kami masih sempatkan mampir ke satu lokasi lain di Sapan yang memang terlewati, yaitu situs Candi Bojong Emas. Lokasinya di pinggir Jl. Raya Sapan dekat sekali dengan Sungai Ci Tarum. Kondisi candi di sini sangat tidak terawat  dan  terkesan dibiarkan saja. Di sini terdapat pagar pembatas kayu lebih kurang satu meter dan plang spanduk yang sobek. Di bagian dalam terdapat banyak tumpukan batu kali.

Senang rasanya setiap kali momotoran bareng Aleut, apalagi hujan turun, serasa nostalgia masa kecil, hihihi. Apalagi ini adalah momotoran pertamaku di Aleut ke wilayah Timur. Di sini aku merasa pengetahuanku tentang sejarah perkeretaan apian lumayan bertambah. Dan aku baru tau juga ternyata di Bandung ada Candi,  jadi gak usah jauh-jauh deh cari candi ke daerah lain, hihihi. Pokoknya momororan kali ini enggak kalah menariknya. sampai jumpa di perjalanan momotoran selanjutnya.

***