Napak Tilas Jalur Sepur Menuju Pangandaran

Napak Tilas Jalur Sepur Menuju Pangandaran

Ilustrasi jalur kereta Banjar-Cijulang. FOTO/Istimewa

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@Irfanteguh)

Sekelompok anak muda hendak berlibur ke Pangandaran. Dari Ciamis, mereka menumpang angkutan umum menuju stasiun Banjar, daerah perbatasan dengan Jawa Tengah dan menjadi pintu gerbang utama jalur lintas selatan. Saat kereta tiba di tujuan, perjalanan berlanjut melewati bentang alam.

Empat terowongan dilewati, beberapa jembatan dilalui, dan Samudera Hindia menyambut kedatangan kereta di Pangandaran. Yaps, mereka menikmati jalur Banjar-Cijulang yang telah lama mati. Ahmad Bakri merekam jalur yang kadang disebut ‘BanCi’ itu dalam Rajapati di Pananjung, sebuah novel berbahasa Sunda yang mula-mula terbit pada 1985. Baca lebih lanjut

Iklan

Mengintip Isi Kamar Pandit Jawaharlal Nehru Di Savoy Homann Bandung

homann

Kamar 144 Savoy Homann yang pernah ditempati PM Nehru

Oleh: Irfan Arfin (@Fan_Fin)

Cerita soal nomor kamar keramat di sebuah hotel seringkali menjadi bahan incaran para sineas untuk ide pembuatan filmnya. Setelah film 1408 yang dibintangi John Cusack sukses di Hollywood sana pada 2007 lalu, perfilman Indonesia pun tak mau kalah dengan merilis film berjudul 308 yang dibintangi Shandy Aulia. Saya pun berkesempatan berkunjung ke sebuah kamar keramat di Hotel Bidakara Savoy Homann Bandung yaitu kamar 144, namun walaupun disebut keramat, kamar yang satu ini tidak berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis. Kamar ini menjadi kamar keramat karena pernah ditempati oleh Perdana Menteri pertama India yaitu Pandit Jawaharlal Nehru pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Baca lebih lanjut

Jembatan Citarum Lama dan Tanjakan Yang Melegenda

Oleh: Abu Fauzan (@pahepipa)

We consider this ascent from the Tjeetaram to be the only really dangerous part of the road between Batavia and Bandong. (Charles W Kinloch – 1852)

Perjalanan saya kali ini adalah mengunjungi dua jembatan Citarum di sekitar Rajamandala. Pertama, mengunjungi jembatan jalan raya lama di atas Citarum dan Cihea, selanjutnya adalah jembatan kereta api di dekat muara sungai Cimeta.

Jembatan lama Citarum yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur ini tidak bisa dikatakan lama juga. Jembatan tersebut adalah jembatan baru yang mengganti jembatan lama dan dibangun oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersamaan dengan pembangunan waduk Cirata Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi dan Ngaleut “Okultisme di Bandung Doeloe”

Selamat malam Aleutian.

Kabar terbaru buat kalian yang menantikan info kegiatan Aleut selanjutnya. Seperti di minggu lalu, Kelas Literasi dan Ngaleut di minggu ini akan saling berkait lagi .

Kelas Literasi di hari Sabtu ini berjudul “Okultisme di Bandung Tempo Doeloe”, sebuah buku karya @logesumurbandung yang merupakan pegiat Komunitas Aleut.

Dalam Kelas Literasi pekan ke-104 ini, kita akan membahas soal okultisme dan freemasonry yang pernah berkembang di Kota Bandung. Jika kawan-kawan tertarik buat gabung, langsung saja konfirmasi ke nomor yang tertera di poster dan kumpul di Kedai Preanger pukul 13.45 WIB

Oh iya, dengan ikut Kelas Literasi ini kawan-kawan jadi akan punya bekal lebih untuk Ngaleut keesokan harinya karena…

…yup, di hari Minggu kita bakal Ngaleut “Okultisme di Bandung Doeloe”. Kalau sehari sebelumnya kita membahas bukunya, di Ngaleut ini kita bakalan liat langsung beberapa jejak-jejak okultisme dan freemasonry di Kota Bandung.

Mau ikut tapi bingung gimana caranya? Gampang kok. Langsung aja konfirmasi kehadiran ke CP yang terlampir di poster dan kumpul di Taman Vanda pukul 07.34 .

Ayo ajak juga kawan, keluarga, atau orang terkasih buat ikutan dua kegiatan seru Komunitas Aleut minggu ini 

Cumbulah Kotamu Meski Hanya Sebentar!

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Indonesia-Jakarta-Mangga-Besar-Perumahan-di-atas-kali-2-6-1200-2R

Apa asyiknya jalan-jalan di kota sendiri?

Pertanyaan itu muncul dari mulut seorang teman lama saat kami bertemu beberapa hari lalu. Tentu, dia, teman saya itu, melontarkan pertanyaan tersebut bukan tanpa sebab.

Jalan-jalan yang kerap kali saya lakukan akhir-akhir ini menjadi alasan timbulnya pertanyaan teman saya tadi. Jalan-jalan yang saya maksud adalah jalan-jalan menyusuri Kota Bandung. Kadang bersama kawan-kawan satu komunitas, tapi tak jarang juga saya melakukannya sendiri.

Dalam jalan-jalan itu, sesekali saya memostingnya di Instagram. Sebagai manusia milenial yang enggak mau ketinggalan zaman hal ini menjadi sangat penting. Bukan apa-apa, ini perihal eksistensi. Baca lebih lanjut

Mencari Pusat Pemerintahan Ukur

Oleh: Hevi Fauzan (@bandungtraveler)

Tafsiran atas masa lalu dan pemahaman masyarakat tentang tentang sejarah serta ingatan kolektif menciptakan identitas kolektif masyarakat tersebut.” (Reza A.A Wattimena)

Minggu 19 Maret 2017, setelah mengunjungi Gunung Lumbung, pada di hari Minggu sebelumnya, kali ini Komunitas Aleut mengunjungi tempat yang pernah menjadi ibu kota Tatar Ukur, Pabuntelan. Daerah yang letaknya tidak jauh dari Kota Ciparay, sebuah kota di sebelah selatan kota Bandung tersebut adalah bekas ibu kota Tatar Ukur. Daerah tersebut kemudian ditinggalkan oleh Dipati Ukur dan pengikutnya, setelah mereka gagal merebut Kota Batavia dan memutuskan untuk memberontak dari Mataram.

Tempat baru yang dituju oleh pasukan dan pengikut Dipati Ukur adalah Gunung Lumbung. Gunung ini berada di dekat Cililin sekarang. Di gunung tersebut, Dipati Ukur kemudian menyerah kepada pihak Mataram yang menyerbu dengan menggunakan pemimpin dan pasukan dari wilayah Sunda sebelah timur.

Nama Pabuntelan secara administratif, memang telah hilang. Daerah itu sekarang telah berganti nama menjadi Desa Mekarjaya dan Mekarsari. Walaupun telah hilang di peta atau dokumen-dokumen resmi saat ini, nama Pabuntelan masih melekat di kalangan orang-orang yang mendalami tirakat. Menurut penduduk setempat, banyak sekali orang yang mengunjungi darah Pabuntelan saat ini, baik untuk ziarah, maupun bertapa.

“Nama Pabuntelan telah lama hilang. Tapi, para peziarah yang berasal dari Cirebon, Mataram, dan banyak tempat lainnya di Jawa, masih menyebut tempat ini dengan nama Pabuntelan,” ujar Komar, seorang penduduk setempat yang bisa kami temui di sana. Baca lebih lanjut

Medan Prijaji, De Expres, dan Sipatahoenan yang Terbenam di Pusat Kota Bandung

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Perjalanan sejarah memang tak terduga. Tiga tempat bersejarah di Bandung zaman pergerakan, kini menjadi ini: Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, tanah lapang, dan Parahyangan Plaza.

SEIRING DENGAN perkembangannya menjadi pusat perkebunan di akhir abad ke-19, dibukanya jalur kereta api, dan setelah diresmikannya menjadi gemeente (kotapraja) pada tahun 1906, Bandung makin menggeliat. Hingar-bingarnya Bandung di awal abad ke-20 itu, setidaknya, bisa dirasakan jika membaca Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa: Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 (Ultimus, 2016).

Membaca roman karya Chabanneau******* tadi membawa kita melancong ke pusat kota Bandung dengan deskripsi yang cukup detail. Bandung memang sudah ramai. Pengaturan zonasi kota masih mengadaptasi konsep pembagian ras kolonial: kelompok Pribumi, Tionghoa, Arab, dan Belanda mendiami kawasan tertentu, walau tidak diterapkan seketat kota kolonial lainnya. Lewat kabar mulut, ditambah promosi pariwisita yang gencar saat itu, dengan penyebutan ‘Garden of Allah’ atau ‘Parijs van Java’, semua ingin ke Bandung. Kota ini menjadi semacam melting pot.

Namun bagi mereka, Bandung bukan soal pelesiran. Gemerlap kamar bola, pusat perbelanjaan, berbagai bangunan Art-Deco tak menarik minat mereka. Bagi mereka, Bandung adalah sisi lain dunia yang dihisap oleh kolonialisme yang harus dibangunkan dan digerakkan. Seperempat pertama abad kedua puluh itu, mencatut judul bukunya Takashi Shiraishi, adalah “Zaman Bergerak”. Bergesernya arah kebijakan politik pemerintah kolonial seiring dengan adanya pergantian kekuasaan parlemen oleh kemenangan kaum liberal Belanda, dan munculnya kebijakan baru bernama Politik Etis, menjadikan awal abad ke-20 sebagai masa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Baca lebih lanjut