Tak Cukup Dua Hari di Desa Cibuluh

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: ADP-2020

Sebagaimana pemandangan umum desa pergunungan, begitu pula yang terhampar di Desa Cibuluh. Asri dan menyegarkan. Yang berbeda mungkin ini: Tak perlu angkat kepala tinggi-tinggi untuk melihat rangkaian pergunungan yang mengitari kawasan desa ini. Tak perlu pula menatap jauh-jauah untuk menyaksikan hamparan persawahan yang luas. Semua terbentang dalam jangkauan pandang pendek saja.
Ya, itulah Desa Cibuluh di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Selama dua hari, 5-6 Desember lalu, tim Aleut Development Program (ADP) menyambangi desa asri yang sudah berstatus sebagai Desa Wisata sejak tahun 2017 ini. Kedatangan kami bertepatan waktunya dengan kegiatan Workshop Identifikasi Koleksi Ecomuseum Cibuluh yang diselenggarakan oleh Yayasan Bale Budaya Bandung dan Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Jawa Barat. Kebetulan salah satu pengaping kami menjadi narasumber dalam kegiatan itu.

Seperti juga beberapa kegiatan ADP yang lalu, di Cibuluh ini pun kami mendapatkan tugas, yaitu melakukan eksplorasi, merancang tulisan, informasi grafis, dan feature video. Kami dibagi ke dalam tiga kelompok untuk mengerjakan semua tugas itu.

Masuk kawasan Cibuluh, kami diarahkan menuju satu lokasi yang disebut Saung Mulan. Sebetulnya ini bukan saung betulan seperti yang dimaknai dalam bahasa Sunda, yaitu gubug atau dangau, melainkan sebuah rumah permanen dengan teras yang diberi atap jerami. Begitu pula teras di depan pintu utama, beratapkan jerami. Di paviliun, dibangun tempat serupa kafe dengan beberapa meja dan kursi yang semuanya terbuat dari kayu. Beda dengan teras depan, kafe ini beratapkan genting.
Dari halaman Saung Mulan ini terhampar pemandangan perkampungan dengan latar belakang persawahan dan jajaran perbukitan di kejauhan. Rupa bumi Desa Cibuluh berbukit-bukit dan berlembah, sehingga ketinggian kawasan permukiman pun berbeda-beda mengikuti relief bumi. Tim ADP mendapatkan satu rumah warga yang terletak agak di bawah untuk digunakan sebagai basecamp, sementara tempat berkoordinasi yang disepakati adalah Saung Mulan, maka lumayanlah naik-turunnya bila harus bolak-balik antara saung dan basecamp.

Rumah-rumah warga di sekitar Saung Mulan terhitung padat, jarak antarrumah sangat sempit, bahkan tak jarang tak menyisakan ruang kosong sebagai sarana jalan, sehingga seringkali para pejalan harus menggunakan halaman rumah orang sebagai akses jalan. Kondisi begini malah jadi pengalaman baru yang unik untuk sebagian kami. Lelah pasti terasa, tapi rasa senang selalu mengikuti.

Kawasan Pemukiman Desa Cibuluh dilihat dari Saung Mulan. Foto: Komunitas Aleut

Bentang alam pedesaan yang asri dan memikat hati ini mendorong lahirnya gagasan baru, yaitu menjadikannya sebagai sebuah ecomuseum. Ide ini digodog melalui sebuah kegiatan Saresehan di Kantor Desa Cibuluh pada bulan November 2018. Salah satu materi yang disampaikan dalam saresehan itu adalah konsep-konsep dasar tentang ecomuseum serta perumusan daya tarik apa saja yang dapat dikembangkan dari Desa Cibuluh. Selang dua tahun, kami datang lagi dan mencoba melihat langsung berbagai daya tarik tersebut.

Budaya Sungai
Desa Cibuluh memiliki kekayaan sungai yang luar biasa, paling tidak, dari jumlah sungai melewatinya, sebanyak 7 batang sungai. Ketujuh sungai tersebut adalah Ci Punegara, Ci Kembang, Ci Leat, Ci Karuncang, Ci Landesan, Ci Teureup, dan Ci Nyaro. Tak heran bila kebudayaan berbasis sungai hidup di desa ini. Warga desa memanfaatkan sungai untuk pengairan sekaligus sebagai sarana menanam ikan. Kuliner berbahan ikan sangat mudah ditemukan di desa ini.

Sungai juga dimanfaatkan untuk pengembangan pariwisata, seperti penyediaan fasilitas permainan air, mulai dari yang tradisonal seperti papancakan atau icikibung, sampai ke arung jeram yang dikelola secara profesional. Ke arah sungai mana saja langkah kaki kita arahkan, maka akan kita temukan kelompok anak-anak yang bermain air. Yang lebih dewasa, asyik menangkap ikan dengan teknik tradisional, seperti ngeprok, ngecrik, posong, badodong, atau ngagogo.

Teknik menangkap ikan secara tradisional terpelihara dengan baik berkat adanya warga desa yang peduli dan bergabung dalam komunitas perawat sungai, yaitu Lintar Mania. Komunitas ini berupaya melakukan pelestarian budaya sungai, di antaranya dengan menerapkan proses penangkapan ikan dengan tata cara tradisional sehingga dapat memelihara keseimbangan ketersediaan ikan serta tidak merusak lingkungan.
Langkah yang lebih jauh dilakukan dengan penyelenggaraan perhelatan tahunan, Festival 7 Sungai. Selain berbagai kegiatan harian warga yang berhubungan dengan sungai, dalam festival ini juga dipertunjukkan berbagai bentuk kesenian, seperti teater, pencak silat, jaipongan, dan gembyung.

Festival 7 Sungai pada tanggal 12 Oktober 2019 ini adalah yang keempat kalinya diselenggarakan di Desa Cibuluh. Foto: Media Indonesia/Reza Sunarya.

Festival Angin
Festival 7 Sungai bukanlah satu-satunya perhelatan besar yang melibatkan banyak warga desa di Cibuluh, masih ada Festival Angin. Menurut kurator Festival Angin, Bambang Subarnas, warga Desa Cibuluh cukup akrab dengan musim angin barat, yaitu hembusan angin yang datang dari Laut Jawa di sekitar Indramayu menuju ke selatan, melewati lembahan Pasir Ciheulang, Gunung Banjaran, dan Gunung Pasir Cigore. Setelah melewati lembahan Desa Cibuluh, angin naik ke arah Gunung Canggah. Proses ini berlangsung selama tiga bulan, antara bulan Desember sampai Maret.

Di Desa Cibuluh dan wilayah sekitarnya, fenomena angin barat ini melahirkan tradisi permainan kolecer atau baling-baling yang dipasang pada tiang-tiang bambu yang cukup tinggi. Selama tiga bulan itu, warga mendirikan kolecer dengan ketinggian cukup beragam, dari yang ukuran kecil hingga yang tingginya mencapai 8,5 meter. Tentu tidak mudah mendirikan kolecer berukuran besar seperti itu, perlu keterampilan dan teknik khusus untuk membuat dan mendirikannya.

Festival Kolecer tahun 2019 tercatat diikuti oleh 100 peserta yang berdatangan dari sekitar Kabupaten Subang dan Kabupaten Sumedang. Berbagai macam kolecer unik ditampilkan dalam festival tersebut, di antaranya sebuah kolecer tua yang sudah berusia 100 tahun dan didatangkan dari Cikaramas, Sumedang. Ketinggian rata-rata kolecer yang didirikan di Kampung Dago, Desa Cimeuhmal, antara 5-8 meter, sehingga menjadi pemandangan yang tidak biasa selama festival berlangsung.

Festival Kolecer di Desa Cibuluh. Foto: kotasubang.com

Sejak tahun 2020, Desa Cibuluh memulai satu tradisi baru, yaitu Festival Angin. Berbeda dengan Festival Kolecer yang pemasangannya dipusatkan di satu tempat, dalam Festival Angin warga Desa Cibuluh mendirikan berbagai macam kolecer di lingkungannya masing. Selain itu, lingkungan desa juga dipenuhi dengan berbagai instalasi bendera atau panji-panji. Sebagai tambahan, diadakan juga bermacam pertunjukan kesenian.

Di berbagai wilayah Jawa Barat dikenal pembuatan kolecer secara sederhana menggunakan anyaman daun pisang pada sebatang kayu kecil yang dipasang pada bambu yang telah disesuaikan ukurannya. Kolecer seperti ini biasanya buatan anak-anak, sementara orang dewasa membuat kolecer berukuran besar, seperti yang banyak ditampilkan dalam Festival Angin.

Menurut Pak Hakim, salah seorang warga Desa Cibuluh, pembuatan kolecer menyambut musim angin barat memang sudah menjadi tradisi selama ini. Di dalam Festival Angin, kolecer-kolecer tersebut dilombakan dengan penilaian berdasarkan bentuk, kualitas bahan, dan suara nyeguk yang dihasilkan ketika baling-baling berputar tertiup anging. Kolecer terbesar yang ditampilkan dapat serupa baling-baling pesawat, suara yang dihasilkan pun seperti suara gemuruh yang keras.

Air Panas
Seperti yang sudah disebutkan di muka, bentang alam Desa Cibuluh memang memikat. Terdapat cukup banyak mata air dan beberapa curug di kawasan desa ini. Yang cukup unik adalah keberadaan sebuah mata air panas yang ditampung dalam sebuah kolam. Kondisinya memang kurang terawat walaupun beberapa waktu sebelumnya pernah diupayakan pengemasannya untuk pariwisata. Berbeda dengan sumber air panas umumnya yang berasal dari aktivitas gunung berapi, sumber air panas yang terletak di sisi persawahan ini konon mendapatkan panasnya dari kandungan zat besi yang tinggi.

Pak Dedi, Ketua RT di Kampung Ciseupan Satu, bersedia mengantarkan kami melihat kolam penampungan air panas itu. Tiba di lokasi, ternyata sedang ada beberapa anak bermain dan mandi dengan riuhnya di kolam air panas ini. Menurut keterangan dari Pak Dedi, kolam air panas ini biasa digunakan para sesepuh untuk memandikan benda-benda pusaka, selain itu, digunakan juga sebagai tempat berlangsungnya tradisi ngabungbang, yaitu tradisi bergadang semalaman di luar rumah atau di tempat-tempat yang dikeramatkan pada malam 14 Mulud.

Pak Dedi juga menyebutkan keberadaan sebuah makam keramat yang terletak di sebuah bukit di seberang lembahan Ciseupan, namun karena letaknya yang cukup jauh, kami tidak mengunjungi tempat itu. Sebagai gantinya, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah monumen yang juga disinggung oleh Pak Dedi dalam cerita-ceritanya, yaitu Monumen Perjuangan ‘45.

Kolam air panas Ciseupan. Foto: Reza Khoerul Iman.

Monumen Perjuangan ‘45
Saat memasuki kompleks monumen, hujan turun cukup deras. Niat tak jadi surut, kami tetap langkahkan kaki memasuki area monumen. Halaman monumen berbentuk lapang rumput cukup luas yang diberi jalur jalan berbahan beton. Di bagian puncak terdapat patung pejuang merentang tangan, salah satunya memegang sebuah pistol.

Di bawah patung pejuang terdapat tulisan “Monumen Perjuangan ‘45” dan di bawahnya lagi, yaitu pada bagian temboknya, terdapat relief besar berisi fragmen perjuangan TNI di Cibuluh. Di sisi kiri dan kanan tembok relief terdapat masing-masing sebuah prasasti yang berisi ucapan terima kasih Siliwangi kepada rakyat yang telah ikut berjuang dan pernyataan tekad dari generasi muda untuk bergabung mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Kedua prasasti tersebut bertanggal 20 Mei 1976, tanggal peresmian Monumen Perjuangan ’45.

Tim ADP berfoto di Monumen Perjuangan ’45. Foto: Deuis Raniarti.

Hujan terus turun, dingin semakin menggigit. Kami mencoba mencari penghangat badan ke warung depan yang terletak di depan monumen. Sambil memesan apa saja yang dapat menghangatkan badan, kami dekati seorang ibu tua yang sedang duduk di depan warung. Namanya Ema Anesih, usianya sekitar 90 tahunan. Ema berbicara tesendat, tapi masih mengingat beberapa hal, baik tentang Desa Cibuluh, maupun tentang Monumen Perjuangan ’45.

“Ieu perang sareng Walanda, poe Jumaah. Ema nyumput dina liang di sawah (Ini perang dengan Belanda, hari Jumat. Ema sembunyi dalam lubang di sawah).” Ingatan Ema tak jauh dengan berbagai informasi yang dapat kami temui, yaitu bahwa pertempuran di Ciseupan, Cibuluh ini terjadi pada saat kepulangan tentara Indonesia dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Ketika beristirahat di kawasan Ciseupan, sejumlah tentara Belanda melakukan penyerangan dan terjadilah pertempuran itu. Warga Cibuluh menyebut peristiwa itu dengan istilah “Palagan Ciseupan”.

Sungguh di luar dugaan kami, desa yang sepertinya terpencil ini ternyata menyimpan banyak pesona dan cerita. Dua hari kunjungan kami ke desa ini rasanya jadi masih jauh dari cukup, setiap cerita mengarahkan kami kepada cerita lainnya, setiap lokasi membawa kami ke lokasi lainnya, tak cukup waktu dua hari untuk menyusuri semuanya.

Masih banyak cerita yang kami dengarkan, tempat yang ingin kami lihat dan gali kisahnya, seperti ritual sungai, situs Batulawang, Batu Tapak yang katanya saat ini berada di bawah aliran sungai, atau kegiatan keseharian warga yang bertani, membuat opak, membuat kerajinan bubu, dan lain sebagainya. Sepertinya kami akan segera kembali lagi ke Desa Cibuluh untuk merangkai lanjutan cerita yang sudah kami dapatkan.

Pemandangan perkampungan di Desa Cibuluh. Foto: Komunitas Aleut.

Cerita Asyik Jembatan Kereta Api Ciwidey

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Rieky Nurhartanto

Pagi yang sangat cerah mengantar perjalanan kami menyusuri jalur rel tempo dulu yang berada antara Bandung-Ciwidey. Kali ini saya kembali bertualang momotoran bersama Komunitas Aleut dalam program ADP20 (Aleut Depelovment Program 2020).


Senang rasanya bisa kembali menulisakan pengalaman bertualang saya menapaktilasi tiga jembatan kereta api yang ada di daerah Ciwidey. Sebelum siang kami sudah tiba di jembatan pertama di daerah Sadu. Walaupun secara administratif wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Soreang, tetapi saya pribadi selalu saja menganggap jembatan tersebut sudah ada di wilayah Ciwidey hehehe.

Ini bukan kunjungan pertama saya ke Jembatan Sadu. Setiap kali pergi ke Ciwidey, saya selalu menyempatkan diri mampir ke jembatan ini, baik untuk rehat menikmati pemandang di sekitar, atau sekadar minum kopi di warung kecil yang ada di sini.


Pagi-pagi menikmati kopi dengan camilan gehu panas sambil meresapi keindahan alam di sekitar jembatan tua ini sungguh menyenangkan hati. Hal baru yang saya dapatkan dari kunjungan hari ini adalah saya baru tahu bahwa jembatan ini bernama Jembatan Sadu. Dalam hati saya mengakui ternyata selama ini literasi saya masih sangat kurang. Walaupun agak menjorok ke dalam, tapi letak Jembatan Sadu ini tak jauh dari pinggir jalan raya, sehingga mudah sekali untuk mendatanginya. Yang perlu diperhatikan bila akan berkunjung ke sini adalah ketiadaan tempat parkir, mungkin karena memang tidak dikemas untuk pariwisata sehingga tidak ada fasilitas umum seperti yang biasa ditemui di tempat-tempat wisata. Delapan motor kami susun berdesakan di halaman sempit sebuah warung yang sedang tutup.

Baca lebih lanjut

Tapak Tilas Jalur KA Bandung-Ciwidey

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Wildan Aji.

Tahukah Anda, selain jalur kereta api Bandung Raya-Padalarang-Cicalengka yang saat ini masih beroperasi, dahulu ada juga rute kereta api antara Bandung dan Ciwidey. Jalur yang dibuat perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, ini sudah lama dibiarkan terbengkalai. Nah, saya bersama tim ADP-20 Komunitas Aleut menyusuri jejak-jejaknya pada hari Sabtu, 21 November lalu. Ini kisahnya..


Jalur kereta api ke wilayah selatan Bandung yang merupakan kawasan perkebunan-pertanian, cukup penting perannya di masa lalu. Biaya angkut hasil bumi ketika itu hanya 4 sen untuk setiap sen-nya, jauh lebih murah dibanding angkutan reguler yang tersedia waktu itu, yaitu pedati, yang biayanya antara 15-18 sen untuk setiap ton-nya.


Kunjungan pertama kami adalah ke bekas Stasiun Dayeuhkolot yang saat ini terletak di dekat pasar dan tidak jauh dari Jembatan Citarum. Stasiun ini dibuka pada tahun 1921. Ukurannya termasuk besar dan memiliki dua cabang jalur rel, ke kiri ke Majalaya, dan ke kanan ke Banjaran-Ciwidey. Jalur menuju Majayala dinonaktifkan pada masa pendudukan Jepang.

Stasiun Dayeuhkolot tempo dulu dan sekarang. Foto: KITLV/Komunitas Aleut.

Peninggalan perkeretaapian di sini hanya barupa bangunan stasiun yang terlihat masih utuh. Genting yang terpasang sebagai atap bangunan juga merupakan peinggalan lama, terlihat cetakan tulisan JB Heijne, yaitu nama pabrik genting tempo dulu yang berada di Ujungberung. Selain itu, masih ada sisa beberapa gudang kereta api yang digunakan oleh warga sebagai warung-warung.


Tempat kedua yang kami kunjungi adalah bekas Stasiun Banjaran. Stasiun ini menjadi penghubung jalur kereta antara Dayeuhkolot dengan Kopo (sekarang Soreang) dan menjadi simpul penting pengangkutan dari kawasan perkebunan di Pangalengan. Artinya, hasil bumi dari kawasan Pangalengan, seperti Arjasari dan Puntang, dibawa dan dibongkar di sini, lalu dilanjutkan pengangkutannya menggunakan kereta api.

Baca lebih lanjut

Guratan Sejarah Staatsspoorwegen di Tjiwidej

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Bangunan bekas stasiun kereta api Ciwidey. Foto: Komunitas Aleut.

Tidak ada yang pernah bisa menentukan masa depan, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Siapa sangka, sebuah proyek besar yang dibangun untuk jangka panjang, akhirnya mati begitu saja dan terbengkalai sampai sekarang. Bandung merupakan salah-satu daerah yang memiliki banyak peninggalan sejarah. Seperti yang pernah dikatakan Mocca dalam lirik lagunya yang berjudul Bandung (flower city), “In my little town, Every corner tells you different stories, There’s so many treasures to be found” (di kota kecilku, setiap sudut menceritakan banyak cerita berbeda, ada banyak harta karun yang bisa ditemukan di sini).

Salah-satu peninggalan itu adalah jejak-jejak kereta api yang membentang dari Bandung sampai Ciwidey. Lingkungan alam Ciwidey yang berbukit-bukit itu akhirnya dapat ditaklukan oleh Staatsspoorwegen. Tidak mudah dan murah memang, sebelumnya pemerintah tak mampu mewujudkan pembangunan jalur kereta api Bandung-Ciwidey ini karena masalah pembiayaan. Pada 17 Juni 1924 Stasiun Ciwidey diresmikan penggunaannya setelah melewati masa pembangunan selama tujuh tahun. Dimulai dari jalur Dayeuhkolot-Banjaran pada tahun 1917, kemudian dilanjutkan stasiun kopo (soreang) pada 13 Februari 1921, dan akhirnya jalur Ciwidey pada 17 Juni 1924.

Segera saja kereta api menjadi sarana transportasi utama, baik untuk pengangkutan penumpang, ataupun hasil perkebunan. Salah-satu indikasi seriusnya Staatsspoorwegen dalam membangun jalur perkeretaapian di Hindia-Belanda, yaitu penggunaan bahan yang berkualitas baik dari perusahaan terbaik untuk pembangunan rel ini. Nama-nama perusahaan tersebut masih dapat kita temukan tercetak pada batang-batang rel. Saya menemukan dua nama, Carnegie dari USA, dan KRUPP dari Jerman.


Kenapa Staatsspoorwegen memilih dua perusahaan baja ini di antara perusahaan-perusahaan lainnya? Perusahaan Krupp adalah perusahaan baja Jerman yang terkenal memproduksi seamless railway tires atay roda (rel) kereta api tanpa sambungan yang terkenal anti retak. Rel buatan Krupp sangat terkenal walaupun harganya tinggi. Kualitasnya sangat baik. Rel Krupp juga digunakan pada jaringan rel kereta api di Amerika Serikat sejak sebelum Perang Sipil (1860-1865), karena pada saat itu pabrik-pabrik di Amerika Serikat belum mampu memproduksi baja dalam kapasitas besar dan dengan kualitas yang sebaik itu (Komunitas Aleut: Rel Kereta Api memiliki Arti, oleh: Alek alias @A13Xtriple).

Tidak hanya menjadi pemasok ke Amerika Serikat, bahkan Krupp menjadi pemasok juga untuk Napoleon, dan merupakan pemasok baja utama di Eropa. Dengan Kerajaan Prusia, KRUPP mendapatkan kontrak untuk pembuatan senjata. Carnegie adalah perusahaan baja asal USA yang didirikan pada tahun 1892 oleh Andrew Carnegie. Ia meraih kesuksesan dengan menciptakan metode peleburan baja yang efesien, dan menghasilkan baja dengan kualitas terbaik, hingga pada tahun 1900-an, produksi baja Carnegie mampu melampaui produksi baja Inggris.

Baca lebih lanjut

Naik Kereta Api ke Bandung-Ciwidey?Engga Percuma dong!

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Bukan Surabaya, tapi Ciwidey. Jika saja boleh, saya ingin ubah penggalan lirik lagu Naik Kereta Api ciptaan Ibu Soed itu. Lagu anak-anak yang sering saya dengarkan semasa kecil ini mengantarkan saya untuk bercerita pengalaman Ngaleut Jejak Kereta Api Bandung-Ciwidey (Sabtu, 21 November 2020).


Saya terpikir, pantas saja Ibu Soed menyebutkan Kota Bandung di dalam lagunya, ternyata pengembangan jaringan perkeretaapian di Bandung menyimpan banyak cerita di baliknya. Peresmian masuknya jalur kereta api ke Bandung pada tahun 1884, ternyata berefek panjang. Bandung segera menjadi salah satu kota di Hindia Belanda yang paling berkembang pada masa itu.


Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah itu memulai pembangunan jaringan Bogor–Bandung–Cicalengka sebagai jaringan kereta api tahap awal di Priangan. Kota Bandung yang saat itu mengalami pertumbuhan penduduk cukup pesat, tidak diimbangi dengan pasokan hasil bumi dari daerah sekitarnya, terutama dari Bandung Selatan.

Jembatan kereta api antara Soreang dan Ciwidey foto:KITLV

Bandung Selatan merupakan daerah subur yang menghasilkan berbagai komoditas pertanian dan perkebunan seperti teh, kopi, dan kina. Semua melimpah ruah, namun daerah ini juga agak terisolasi dan tidak memiliki transportasi yang memadai, sehingga untuk mengangkutnya tidaklah mudah. Sebelum kereta api muncul, berbagai hasil bumi dari Bandung Selatan diangkut menggunakan pedati. Jenis angkutan ini tentulah tidak efektif dan efisien. Harga pengangkutan barang per satu ton adalah 15 sampai 18 sen. Belum lagi, waktu perjalanannya cukup lama.


Untuk mengatasi hal itu, Staatsspoorwegen turun tangan dengan membangun sistem jaringan kereta api. Pembangunan jalur antara Bandung-Ciwidey dimulai pada tahun 1917, dengan tujuan awal menuju kawasan Kopo, melewati Dayeuhkolot dan Banjaran. Pembangunan jalur Bandung-Kopo sepanjang 26,5 km menghabiskan dana sekitar 1.385.000 gulden. Setelah empat tahun pembangunan, pada 13 Februari 1921 Stasiun Kopo pun resmi dibuka untuk umum.

Baca lebih lanjut

Awal dan Akhir Kereta Api Bandung-Ciwidey

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Farly Mochamad

Walaupun jalur kereta api masuk ke Bandung pada tahun 1884, namun percabangannya ke kawasan perkebunan di Bandung Selatan yang relatif masih terisolasi tidak segera disusulkan. Butuh lebih 30 tahun lagi sebelum jalur ke pedalaman itu mulai dibangun.


Harapan baik datang ketika pada tahun 1917 perusahaan kereta api pemerintah, Staatsspoorwegen, mulai membangun jalur yang menghubungkan Bandung dengan Kopo melewati Dayeuhkolot dan Banjaran. Stasiun Dayeuhkolot dan Banjaran adalah titik percabangan jalur lain untuk mengakses daerah Majalaya dan Pangalengan, sedangkan Kopo akan dilanjutkan sampai ke Ciwidey.


Rencana pembangunan ini mulanya dilelang dan didapatkan oleh pihak swasta, namun kebutuhan biaya yang sangat besar membuat pemenang lelang gagal melaksanakan pembangunannya. Oleh sebab itu, Staatsspoorwegen-lah yang kemudian melaksanakan pembangunan jalur ini.

Pembangunan jalur kereta api ini telah menghemat cukup banyak waktu dan biaya yang harus dikeluarkan dalam proses pengangkutan hasil perkebunan. Dengan alat transportasi tradisional pedati, butuh ongkos antara 15-18 sen untuk setiap ton, sementara dengan kereta api hanya butuh 4 sen saja per ton-nya. Dari segi waktu pun, sangat jauh lebih cepat, juga hemat tenaga.


Tahap Pertama: Bandung – Kopo
Pembukaan jalur pedalaman ke Ciwidey dilakukan dalam dua tahap. Yang pertama, jalur rel sepanjang 26,5 kilometer antara Bandung-Kopo dikerjakan selama empat tahun dengan biaya 1.385.000 gulden. Rute ini melewati sejumlah pos dengan rincian: Bandung – Cikudapateuh – Cibangkonglor – Cibangkong – Buahbatu – Bojongsoang – Dayeuhkolot – Kulalet – Pameungpeuk – Cikupa – Banjaran – Cangkuang – Citaliktik – Kopo (Soreang). Seluruh bagian selesai dan diresmikan.

Peresmian kereta api Bandung menuju Soreang foto: KITLV

Dalam prosesi peresmiannya, Bupati Bandung dan Residen Priangan naik kereta api pukul 08.15 dari Karees, Bandung. Kereta api yang dinaiki diberi banyak hiasan bunga. Pukul 10.00, kereta api tiba di Stasiun Kopo dan disambut oleh ribuan orang. Kemudian dilaksanakan ritual pemotongan kepala kerbau yang ditanam di halaman stasiun.

Baca lebih lanjut

Mungkin akan Kau Kenang atau untuk Dilupakan

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Annisa Almunfahannah

“Mungkin akan kau lupakan atau untuk dikenang“

Penggalan lirik lagu dari Jikustik di atas sepertinya cocok untuk menggambarkan kondisi beberapa tempat bersejarah yang ada di Bandung, salah satunya adalah jalur kereta api yang menghubungkan antara Bandung dengan Ciwidey. Mungkin banyak dari kita yang belum tahu mengenai rute ini, karena memang jalurnya telah ditutup sejak tahun 1982. Kini, rute tersebut hanya meninggalkan beberapa kerangka dari jejak keberadaanya. Kami, peserta ADP 2020 akan menelusuri jejak tersebut. Lets go!


Jalur yang diresmikan pada tahun 1921 ini merupakan jalur yang membuka akses untuk daerah Bandung Selatan. Pembangunan jalur ini dilakukan melalui dua tahap. Pembangunan pertama dilakukan pada tahun 1917 untuk menghubungkan Bandung dengan Kopo (saat ini menjadi Soreang), dan melewati Dayeuhkolot dan Banjaran sebagai titik persimpangan menuju daerah-daerah perkebunan di Pangalengan, Arjasari, Puntang, dan lainnya.


Selanjutnya, pembangunan tahap kedua, yang menghubungkan Kopo dengan Ciwidey. Pembangunan jalur ini bisa dibilang cukup berat dikarenakan topografi wilayah Ciwidey yang merupakan daerah berbukit-bukit. Namun pada akhirnya Staatsspoorwegen, perusahaan yang membangun jalur ini, berhasil menaklukkan tantangan alam tersebut dan mendirikan Stasiun Ciwidey di ketinggian 1106 mdpl pada tahun 1924. Stasiun Ciwidey merupakan pemberhentian terakhir untuk jalur ini, maka sekitar 800 meter dari stasiun, terdapat sebuah turntable untuk memutarkan lokomotif kereta.

Turntable yang kini menjadi saluran air kotor, Foto: Komunitas Aleut

Pembukaan jalur ini dilakukan karena alat transportasi pedati yang digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan pada masa itu kurang efisien. Biaya perjalanan pun mahal, yaitu 15 sampai 18 sen per ton, kemudian waktu tempuh yang lama mengakibatkan hasil bumi banyak mengalami kerusakan dan tidak dapat dijual. Selain itu jarak yang jauh serta medan yang berat membuat banyak hewan yang menarik pedati tersebut kelelahan dan akhirnya mati, sehingga harga hewan penarik pedati itu naik hingga berkali-kali lipat.


Selain untuk mengangkut hasil perkebunan, jalur ini pun digunakan sebagai sarana transportasi bagi masyarakat. Namun kejadian naas terjadi pada tahun 1970-an ketika sebuah lokomotif yang membawa gerbong melintasi jalur tersebut terguling dan terjatuh ke area persawahan di daerah Cukanghaur. Dua belas tahun setelah kecelakaan tersebut, jalur ini resmi ditutup. Penutupan ini didukung juga oleh kondisi jalur yang dianggap sudah tidak menjadi prioritas dan tidak lagi menguntungkan, karena kalah bersaing dengan truk dan mobil pada saat itu.

Baca lebih lanjut

Stasiun Dayeuhkolot dan Genteng JB Heijne

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

(SS) pada tahun 1917 membangun jalur kereta api Bandung-Ciwidey. Pada tahun tersebut, Bandung mengalami kenaikan jumlah penduduk yang cepat, sayangnya tidak diimbangi pasokan hasil bumi dari daerah sekitar. Salah satu kendalanya adalah tidak ada transportasi yang murah dan cepat. Dibangunlah jalur kereta api Bandung-Ciwidey sebagai salah satu upaya untuk mengatasi hal ini. Selain untuk mengangkut hasil pertanian dari Bandung Selatan, kereta api juga digunakan untuk transportasi yang lebih baik, murah dan cepat jika dibandingkan dengan pedati. Sabtu, 21 November 2020, saya bersama teman-teman Aleut Program Development menyusuri jejak-jejak Jalur Kereta Api Bandung-Ciwidey.


Ada beberapa stasiun yang dibangun di sepanjang jalur Bandung-Ciwidey, satu di antaranya adalah Stasiun Dayeuhkolot. Stasiun yang berada di ketinggian + 661 mdpl ini dulunya merupakan stasiun kereta api besar dengan empat jalur dan mempunyai jalur percabangan kereta menuju Majalaya.

Atas: Proses pembangunan jalur kereta api di Dayeuhkolot. Bawah: Stasiun Dayeuhkolot. Sumber: KITLV.

Letak bekas stasiunnya tak jauh dari Jalan Raya Dayeuhkolot, cukup berjalan kaki selama dua menit dan
sampailah kita di bangunan bekas stasiun yang sudah dipenuhi oleh banyak bangunan baru di sekitarnya itu. Stasiun Dayeuhkolot memang sudah lama ditutup, tak heran bila kondisinya sekarang sangat jauh berbeda dibanding saat masih beroperasi dulu. Stasiun ini tidak digunakan lagi karena sejak tahun 1982 Jalur Kereta Api Bandung-Ciwidey ditutup.

Baca lebih lanjut

Tapak Tilas Staatsspoorwegen Bandung-Ciwidey

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Agnia Prillika

Mungkin tak banyak khalayak yang mengetahui jejak keberadaan jalur kereta api di daerah Bandung Selatan. Ya, jejak-jejaknya perlahan musnah digerus zaman. Pembukaan jalur kereta api di Bandung pada tahun 1884 seperti memberikan harapan dapat menjangkau daerah-daerah yang jauh dari pusat perkotaan yang sebelumnya hanya menggunakan pedati sebagai sarana angkutan. Hal tersebut membuat banyak pihak berlomba mendapatkan konsesi untuk membangun jaringan jalur kereta api di Bandung Selatan.
Beberapa ajuan konsesi pembangunan diterima oleh pemerintah, tapi lalu gagal diwujudkan karena masalah modal yang terlalu besar dan tak dapat dipenuhi. Akhirnya, Staatsspoorwegen (SS) yang merupakan perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda saat itu mengambil alih langsung pembangunan jalur kereta api ke daerah pedalaman, salah satunya yaitu jalur Bandung-Ciwidey.


Kali kedua saya ikut momotoran bersama tim ADP-20 dari Komunitas Aleut, adalah menyusuri jejak jalur kereta api Bandung-Ciwidey yang sudah lama mati. Melalui kegiatan inilah saya mendapatkan cerita yang sebagian akan saya bagikan di sini.


Titik tuju pertama adalah bekas Stasiun Dayeuhkolot yang berlokasi dekat aliran sungai Ci Tarum. Stasiun ini dibuka sebagai bagian jalur kereta api Bandung-Soreang yang selesai dibuat pada 1921. Stasiun Dayeuhkolot memiliki jalur percabangan menuju Majalaya, menggunakan rel yang mengarah ke sebelah kiri. Sementara arah ke kanan menuju ke Banjaran, Baleendah, Pameungpeuk, dan Soreang.


Kondisi bekas Stasiun Dayeuhkolot kini telah berubah menjadi bengkel, toko bahan bangunan, dan toko pakan burung. Lingkungan di sekitarnya telah menjadi jalanan padat yang dipenuhi oleh permukiman warga. Bagian bangunan asli yang masih tersisa dan dapat dilihat hanyalah bangunan kecil dengan atap kusam, serta rel kereta yang tidak terlihat jelas karena sudah tertutup oleh jalanan dan rumah warga.

Bekas Stasiun Dayeuhkolot. Foto: Komunitas Aleut.

Selanjutnya adalah Stasiun Banjaran, yang menjadi sarana utama penghubung antara Soreang, Pangalengan, dan Dayeuhkolot. Stasiun ini digunakan sebagai jalur pengangkutan hasil perkebunan dari wilayah Arjasari, Puntang, Pangalengan, dll. Kawasan perkebunan terdekat dengan stasiun ini adalah Perkebunan Teh Arjasari yang dibuka tahun 1869 oleh R.A. Kerkhoven. Pada tahun 1873, putra R.A. Kerkhoven, yaitu R.E Kerkhoven membuka perkebunan teh di Gambung. Dengan adanya kereta api, pengangkutan hasil produksi dari kedua perkebunan ini menjadi lebih mudah, murah, dan cepat.

Baca lebih lanjut

Andrew Carnegie di Jalur Kereta Api Ciwidey

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Sabtu, 21 November 2020, saya bersama ADP 2020 dari Komunitas Aleut melakukan perjalanan ngaleut momotoran Jejak Kereta Api Bandung-Ciwidey. Kami mengunjungi beberapa bekas stasiun dan jembatan rel kereta yang pernah aktif di antara Bandung dan Ciwidey. Kondisi jejak kereta api itu saat ini keadaannya sangat beragam, ada yang sudah menjadi bangunan sekolah, toko bangunan, dan juga toko grosir. Sedangkan kondisi jembatan ada yang terawat dan juga ada yang tidak terawat.

Potret jembatan Sadu saat difoto dari bawah. Foto: Aditya Wijaya

Ketika saya sampai di Jembatan Sadu, saya tertarik dengan nama Carnegie. Nama itu tertulis di bagian tengah setiap potongan rel, dan diikuti oleh tulisan SS dan 1920. Ternyata, Carnegie adalah nama perusahaan pembuat rel, SS adalah singkatan untuk Statsspoorwegen, dan 1920 adalah tahun pembuatannya.

Tulisan CARNEGIE di rel jembatan Sadu. Foto: Aditya Wijaya

Mengenal Andrew Carnegie
Setelah saya telusuri lebih lanjut, nama itu merujuk kepada perusahaan Carnegie Steel Company di Amerika Serikat yang merupakan salah satu perusahaan baja terbesar di dunia. Perusahaan ini dimiliki oleh Andrew Carnegie, seorang emigran Skotlandia yang datang ke Amerika pada tahun 1848, dan kemudian bekerja sebagai petugas pengirim pesan telegraf di kantor telegraf di Pittsburgh. Tahun berikutnya Carnegie
menjadi sekretaris pribadi Thomas Scott, seorang pejabat di Pennsylvania Railroad Company. Setelah ini karir Carnegie melesat dengan cepat, dan tak berapa lama kemudian, ia menjadi salah satu orang terkaya dan seorang filantropis terbesar di dunia. Kisah tentang Andrew Carnegie mungkin akan saya tulis secara khusus lain waktu.

Carnegie Steel dan Sir Henry Bessemer
Perusahaan Carnegie Steel adalah perusahaan produksi baja terbesar di Amerika. Perusahaan ini sukses menciptakan teknologi dan metode peleburan baja yang lebih mudah, lebih baik, dan efisien.

Baca lebih lanjut