Map My Day Bandung

Oleh : Hilmi harosilia (@harosilia)

I remember tiptoed a long yellow track on city pavements couples of weeks ago. Unaware that those yellow lined, some with straight embossed pattern and dots on others, are there as an aid. I guess most of you might already knew, but for some who don’t yet, those are guiding line provided for blind and visually impaired pedestrian.

In Indonesia there are around 3.7 million people with disability to see, and the yellow paving is still such a fancy to find at most sidewalks in our city, left alone throughout our country. As for you who often hangout around downtown Bandung, we see that some sidewalk has been installed with guidelines, yet it is discovered as some paths are not really walked-through friendly. Baca lebih lanjut

Iklan

Kamu dan Biotour Volume #2

Biotour volume 2

Peserta sedang memperhatikan penjelasan ipin – Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Pratama (@rulfhi_rama)

Pagi itu kamu dan beberapa manusia lainnya sedang menunggu di Taman Lansia. Sebuah taman yang berada di Jalan Diponegoro dekat dengan Museum Pos dan tak terlalu jauh dari Museum Geologi. Taman ini kini kian populer setelah seekor T-Rex sengaja di daratkan untuk bertempat tinggal disini.

Tentu yang kamu maksud bukan seekor T-Rex sungguhan tetapi hanya replika dari binatang  pra sejarah ini. Replika T-Rex ini menjadi spot instagrameble yang berada di Taman ini. Tentu kamu kesini bukan hanya untuk melihat dan berfoto dengan replika T-Rex. Kamu akan mengikuti biotour volume #2 yang bertajuk “Poisonous December: Tumbuhan Berbahaya di Sekitar Kita” yang diselenggarakan oleh Indischemooi dan Mooi Bandoeng. Baca lebih lanjut

Bukan Hanya Hitam dan Putih di Kampung Warna Cibunut

Kampung Warna Cibunut

Ngaleut Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Pratama (@rulfhi_rama)

Kampung Warna Cibunut mungkin bukan yang pertama kalinya menjadi kampung warna di Indonesia. Sebelumnya sudah ada Jodipan di Malang dan Kampung Pelangi di Semarang. Tapi di Kota Bandung rasanya menjadi kampung warna pertama.

Kampung Warna Cibunut berada di Jalan Sunda yang terhimpit oleh tembok-tembok bangunan niaga. Mungkin kawan-kawan sudah sering melewati Jalan Sunda tetapi belum ngeh dengan keberadaan kampung ini, itu juga yang saya rasakan. Saya baru tahu Kampung Warna Cibunut setelah melihat unggahan instagram pak Ridwan Kamil yang meresmikan kampung warna ini. Baca lebih lanjut

Ngaleut Kampung Warna Cibunut

IMG-20171203-WA0050

Ngaleut Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Beberapa orang meyakini, pertemuan dan ide-ide cemerlang kerap hadir di cafe-cafe di tengah kota. Obrolan ngalor-ngidul untuk menghasilkan sesuatu yang berujung pada satu tujuan yang sama diharapkan akan membuat satu perubahan besar. Lalu, bisakah pertemuan dan ide-ide itu lahir dari obrolan di gang-gang kecil?

Saya melihat sekumpulan orang di depan toko Istana Boneka setelah melewati perempatan Jalan Sunda-Jalan Veteran. Seorang perempuan yang saya kenali melirik, untuk kemudian beradu pandang. Saya tak berhenti karena tanggung dengan kendaraan lain yang sedang melaju cepat. Alasan lainnya, saya mencoba mencari tempat parkir yang bisa ditinggali sampai siang.

Tempat parkir tak didapat, meski hari Minggu, halaman parkir di Jalan Sunda cukup padat. Mau tak mau akhirnya saya memutar kembali ke titik kumpul di depan toko Istana Boneka. Turun dari motor, saya melihat toko Istana Boneka dalam keadaan tutup. Saya tidak tau jam operasioanal toko ini, tapi entah mengapa, saya yakin jika toko ini bakalan buka siang nanti. Artinya saya harus pindah parkir dari sini. Baca lebih lanjut

Perjalanan Mengenal Sosok Bosscha dan Jejaknya di Pangalengan

Pabrik Teh Malabar.jpg

Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII – Komunitas Aleut

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Sebuah plang bertuliskan “selamat datang di kawasan Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII” berhasil melempar ingatan saya ke masa empat tahun yang lalu. Saat itu saya sedang berjuang melalui satu per satu tes dari perusahaan berlabel BUMN tersebut. Siapa sih fresh graduate yang nggak kesengsem menjadi karyawan BUMN? Setidaknya itu pikiran saya dulu. Gaji besar dan raut bahagia orang tua jadi impian. Tak berapa lama keluar seorang lelaki dari sebuah ruangan, yang mungkin umurnya sama ataupun tidak lebih tua dari saya dengan menggunakan jaket agak tebal. Wajar saja, suhu Pangalengan hari itu cukup membuat pundak dan leher bergidik. Hari yang diwarnai hujan hampir sepanjang hari tersebut saya habiskan untuk menyusuri jejak seorang Belanda yang lama tinggal di area perkebunan teh Malabar bernama Karel Albert Rudolf Bosscha. Di Pabrik Orthodoks inilah salah satu tempat di mana ia pernah meninggalkan jejak sebagai administratur perkebunan selama 32 tahun. Namanya bertengger di urutan pertama pada sebuah papan daftar administratur yang pernah menjabat di Perkebunan Malabar. Baca lebih lanjut

Minggu Berfaedah: Ngaleut KAA Bersama Komunitas Aleut (Part I)

medium inshonia 1

Oleh: Qiny Shonia (@inshonia)

Aleut aka. Ngaleut (Sunda) dalam Bahasa Indonesia berarti berjalan beriringan.

Mungkin ini yang mendasari komunitas ini berdiri. Seperti Minggu ini, teman-teman dari Komunitas Aleut ini ngaleut dari pagi hingga sebelum dhuhur menyusuri jalanan di Kota Bandung. Karena tema Minggu ini KAA, maka kami ngaleut dari titik 0 Kota Bandung, melalui Jl. Asia Afrika, mengunjungi Museum KAA, hingga sampai di Penjara Banceuy.

Awalnya saya tertarik dengan Semarang Walking Tour teman saya ikuti. Walking tour yang konsepnya pay as you wish tapi berfaedah karena menyusuri tempat-tempat bersejarah dan menggali budaya khas Semarang. Lalu saya mencari info barangkali ada Bandung Walking Tour juga. Sempat juga chit-chat dengan Eya yang sama-sama anak rantau di Bandung. We thought it would be fun than just staying ‘ngadeprok’ at home. Lalu, ada seorang teman yang bilang kalau Bandung ada Komunitas yang mirip seperti walking tour sampai akhirnya saya cari di instagram dan berkenalanlah dengan Komunitas ini. Baca lebih lanjut

Berkunjung ke Rumah Bosscha!

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Saya termasuk orang yang suka dengan bangunan heritage. Apapun jenis maupun nilai yang dimiliki oleh bangunan tersebut. Saat tour mengenang K.A.R Bosccha tanggal 25 November 2017 lalu bersama mooi Bandung, saya berkesempatan untuk mengunjungi rumah Bosscha, salah seorang preanger planters yang paling berpengaruh di tanah priangan.

Rumah bergaya arsitektur eropa

Rumah ini terletak di tengah perkebunan teh Malabar, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kenapa disebut rumah Bosscha? Karena rumah ini merupakan kediaman dari Karel Albert Rudolf Bosscha selama ia memimpin perkebunan teh Malabar selama 30 tahun lebih.

Dari kejauhan terlihat bangunan paling mencolok diantara bangunan lain sekitarnya. Sebuah rumah bergaya arsitektur Eropa dengan cerobong menjulang dan pilar persegi serta kolom jendela melengkung. Bagian atap berbentuk segitiga mengadaptasi atap rumah tradisional. Batuan alam warna hitam pada dinding luar diberikan agar tidak terlihat kotor saat terkena debu atau cipratan tanah saat hujan. Dinding rumah yang terpasang kaca di hampir semua bagiannya, membuat cahaya bebas masuk ke dalam rumah.  Baca lebih lanjut