Menuai Cerita Sambil Berwisata

-1525603978190

Sekolah St. Angela |© Maharaniony

Oleh : Maharaniony

Jika bagimu Bali, Lombok, atau Rajaampat itu indah, Bandung pun sama. Bandung punya sejarah dan kisah yang akan terus kami tuturkan pada kalian semua. Mengutip dari ucapan seorang kawan: Janganlah jadi turis di negeri sendiri. Mari bersama-sama aware dengan sejarah negeri ini. ~ Baca lebih lanjut

Iklan

Secercah Cerita dari Biotour 4

DSCN8477

Foto Keluarga Biotour 4 | Foto Komunitas Aleut

Kali ini kami hadirkan kesan-kesan singkat dari dua orang yang terpilih untuk mengutarakan sedikit pengalamannya mengikuti kegiatan Biotour.

Peserta ‘tetap’ Biotour nih, Ibu Rini Cris. Beliau selalu hadir di setiap kegiatan Biotour yang diadakan oleh Indischemooi. Bagaimana pengalaman beliau dalam mengikuti Biotour 5 kali ini. Simak saja ceritanya di bawah ini!

April Mop 2018 bertepatan dengan diadakannya kegiatan Biotour 4 Gedung Sate dengan tema Botani, Farmakologi, Arsitektur Lanskap. Baca lebih lanjut

Jejak Sukarno di Bandung

Jejak Sukarno di Bandung 6

Foto keluarga di Gedung Indonesia Menggugat | © Fan_fin

Oleh : Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhi_rama)

Kata-katanya selalu dinanti. Suaranya selalu dirindukan. Sosoknya sangat dicintai. Semua seakan menahan nafas dan tak bergerak sedikit pun ketika ia berorasi. Bahkan seekor cicak pun enggan untuk bergeming. Orasinya mampu membakar semangat, bahkan janggut para pejabat Hindia Belanda terbakar dibuatnya. Tak ada yang mengalahkan pesonanya ketika naik podium. Ia Sukarno, Singa Podium. Baca lebih lanjut

Dewata dan Imajinasi

Dewata dan Imajinasi

Perjalanan menuju Perkebunan Teh Dewata | © Komunitas Aleut

Oleh: Mey Saprida Yanti (@meysaprida)

Sudah tahu bakalan melewati jalan berbatu—yang batunya segede orok, sudah tahu pula bakalan duduk berlama-lama di motor, tapi entah setan atau malaikat dari mana yang membisikanku hingga aku keukeuh untuk ikut Ngaleut Dewata 2 ini. Mungkinkah aku berniat mencari pengalaman? Bisa jadi, apalagi Ngaleut kali ini terasa menarik karena didominasi oleh kaum hawa.  

Kami berangkat lebih pagi dengan harapan bisa pulang kembali ke Bandung lebih awal. Kali ini hanya ada satu tujuan, yakni Dewata. Jika saat Ngaleut Dewata pertama kami tiba di Rancabolang pada waktu Ashar, kini sebelum Dzuhur kami sudah sampai di sana. Seperti biasa, kebun teh Rancabolang adalah oasis setelah melewati hutan Gunung Tilu, Baca lebih lanjut

Dewata Itu Fana, Solontongan Yang Abadi

Tiga puluh menit menuju pukul enam, telepon berdering nyaring. Dengan kepala berat hasil tiga jam beristirahat, kuperiksa teleponku dan kuangkat. Panggilan dari seorang teman yang sudah kutitipi pesan untuk minta dibangunkan. Tentu saja, aku tidak ingin melewatkan hari besar yang sudah kunantikan. Hari Sabtu pertama di bulan Maret 2018, aku akan menjalankan salah satu perjalanan akbar bersama Komunitas Aleut: Tur Momotoran Ke Perkebunan Teh Dewata.

Karena kondisi fisik yang dirasa kurang prima, aku pun membawa persiapan ekstra agar tidak menyulitkan kawan-kawan seperjalanan. Selain itu, memang tubuhku ini lebih rapuh dalam menghadapi cuaca dingin daripada cuaca panas. Mungkin kondisi bawaan geografis. Baca lebih lanjut

Hanya Ada Satu Jalan Menuju Dewata

IMG-20180304-WA0159

Jalan menuju Perkebunan Teh Dewata | © Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Alarm berdering tepat dua jam setelah berkumandangnya adzan subuh. Ampuh juga ternyata alarm ini. Ia mampu membangunkan saya. Saya sebenarnya sempat khawatir jika tak bisa bangun pagi, sebab orang rumah sedang pergi keluar kota. Itu artinya saya harus berusaha bangun pagi sendiri.

Saya bangun pagi dan tak terlambat menuju Kedai Preanger. Momotoran ke Dewata kali ini saya berboncengan dengan Mbak Mey. Wanita yang kerap kali dibonceng oleh Mas Irfan. Namun tak ada lagi Mas Irfan, sebab ia sudah hijrah ke Ibu Kota. Mengais rezeki di sebuah media daring terkemuka. Seperti biasa kami berkumpul terlebih dahulu di Kedai Preanger. Total 12 kuda besi siap menggilas jalanan dengan jumlah serdadu Baca lebih lanjut

Minggu Berfaedah: Pagi dan Trotoar Jl. Homan

Barangkali, siang hanyalah cara langit menghangatkan sepi. Selepas pagi, berlari dari gelap yang sunyi. Meski nanti akhirnya kembali lagi; pada sepi. –Rohmatikal Maskur

Oleh: Qiny Shonia (@inshonia)

Sempat bingung dengan apa yang harus diabadikan saat #ngaleutmerekamkota kemarin, perhatian saya tertuju pada Jl. Homan. Jalanan kecil yang sedikit terlihat berbeda dibanding jalan-jalan di sekitar kawasan Asia Afrika yang cukup padat dan ramai. Meski matahari pagi cukup hangat, Homan terlihat teduh dari seberang. Baca lebih lanjut