Catatan Perjalanan Ngaleut Sirnaraga dari Perspektif Lain

Oleh: Angie Rengganis

Kegiatan Aleut pada hari Minggu (12/2/2017) pukul 07.30 Bandung diselimuti cuaca dingin dan diguyur hujan gerimis. Kami berjalan menyusuri Jalan Pajajaran menuju Tempat Pemakaman Umum Sirnaraga yang letaknya dekat dengan Bandara Husein Sastranegara. Berbeda dengan kegiatan Ngaleut sebelumnya, kali ini kami mendatangi pemakaman.

Sirnaraga merupakan TPU muslim di Bandung yang sudah ada sejak tahun 1920. Seperti layaknya pemakaman muslim lainnya, tata letak makam TPU Sirnaraga pun disusun sebagaimana aturan dalam Islam yaitu semua makam menghadap Kiblat. Kini lahan di TPU Sirnaraga sudah terbilang padat. Sulit untuk menemukan tanah kosong untuk makam baru. Banyak makam sudah dirapatkan satu sama lain demi mendapatkan ruang kosong untuk makam baru. Penuh dan padatnya susunan makam di TPU Sirnaraga membuat kami sedikit kesulitan menapaki jalan ditengah pemakaman.

Di TPU Sirnaraga, kami berziarah ke beberapa tokoh ternama di Indonesia. Beberapa nama sudah terdengar familiar di telinga kami. Beberapa diantaranya adalah tokoh pergerakan nasional yang berjuang bersama Soekarno yaitu Gatot Mangkoepradja yang wafat tahun 1898. Kemudian ada Soeratin, ketua pertama PSSI yang beliau dirikan tahun 1930, yang wafat tahun 1959. Baca lebih lanjut

Iklan

Apa Arti Nisan Makam?

Oleh: Agus Sidiq Permana (@as.permana)

Selalu tepat waktu, itulah yang sedang saya dan teman-teman pegiat Aleut lainnya lakukan. Memang mengubah kebiasaan yang sudah mengakar dan mungkin sudah menjadi budaya ini sangat susah. Begitupun dengan Ngaleut kali, walaupun di poster sudah ditulis waktu kumpul 07.22 WIB namun tetap saja ada beberapa teman yang datang terlambat. Dan kegiatan pun molor 50 menit dari waktu yang sudah ditetapkan.

Walaupun belum lama gabung dengan Komunitas Aleut dan sering ikut kegiatan Ngaleut, namun Ngaleut kali ini sangatlah berbeda dari yang sebelum-sebelumnya yang bertema tentang kampung perkotaan dan kolonial. Kali ini kami Ngaleut ke Sirnaraga, sebuah tempat permakaman umum muslim yang berada sangat dekat dengan Bandara Husein Sastranegara.

Di TPU muslim tersebut dimakamkan beberapa tokoh terkenal, contohnya Gatot Mangkoepradja, Soeratin Sosrosoegondo, Otto Sumarwoto, Hartono Rekso Dharsono, Milica Adjie (Isteri Ibrahim Adjie), dan ada juga seorang penyanyi yang dimakamkan disana yaitu Poppy Yusfidawati atau lebih dikenal dengan nama Poppy Mercury.

Selain dari tokoh-tokoh diatas saya juga mendapati ada makam dengan nama Rd. Bratakoesoema yang tertulis kelahiran 1888 bahkan ada juga makam yang dijuluki mbah panjang yang wafatnya tertulis tahun 1602. Sangat menarik untuk ditelusuri dan di-crosscheck lagi tentang sejarah dua orang tersebut, mungkin akan saya ceritakan di lain waktu.

Melihat keadaan permakaman di TPU Muslim Sirnaraga yang begitu penuh dan terlihat jelas sekali perbedaan antara orang yang berada dan orang yang tidak punya. Hanya dengan melihat nisan makam dan pagar yang mengelilinginya saja kita sudah bisa membedakan. Baca lebih lanjut

Karena di Sirnaraga Kamu tak Bisa Lagi Mengeluh

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Hembusan angin di pagi hari serta merdunya desahan gerimis membasahi Jalan Pajajaran, Kota Bandung. Aku tak terlalu risau, juga tak perlu mengeluh pada semburat langit pagi yang sudah beberapa hari ini seolah menyuruhku berselimut. Cuaca seperti ini sudah akrab denganku. Ya, pilihannya hanya dua; kalau tidak gelap ya terang. Aku nikmati pagi itu sambil ngobrol dengan kawan di sebelahku, sebut saja si A.

“Wihh sepertinya ada orang meninggal nih. Coba lihat, gerombolan orang-orang itu mendekati kita” ujarku pada si A.

“Mana mana?” Si A menimpali sambil lirik kanan-kiri.

“Oiya ya… singkirkan selimutmu, segera cuci muka agar kau terlihat segar !” Si A memerintah.

“Oke, saat ada yang bergerombol seperti ini, dalam cuaca seperti apapun, kita memang harus terlihat segar,” jawabku.

“Iya iya.” Si A menggerutu sambil sedikit melirik lagi pada rombongan itu.

Aku dan si A saling bertatapan, siap memberikan senyum terbaik bagi gerombolan orang yang tengah menghampiri kami.

Dengan cuaca gerimis di pagi hari dan dinginnya Sirnaraga yang tak bermentari, tak mungkin ada orang-orang yang berniat berziarah. Kecuali ada yang meninggal bukan?” tanyaku pada si A.

Si A mengangguk. Kami senang karena akan ada asupan nutrisi baru yang akan kami peroleh. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Ngaleut Makam Pandu (Part 1)

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Pada hari Minggu (28/02/2016) yang lalu, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk berkeliling makam Pandu melalui kegiatan Ngaleut Makam Pandu. Sebenarnya sudah lama saya penasaran dengan isi dari makam Pandu ini. Berkali-kali melewatinya karena dekat dari rumah, tapi selalu tak ada waktu untuk sekedar berkeliling melihat isinya.

Rasa penasaran saya makin bertambah pada tahun 2013 lalu, ketika saya sedang KKN di Kelurahan Pajajaran. Saat sedang berjalan santai pagi dengan teman-teman, saya melihat sebuah pemakaman khas negeri barat sana yang sangat terawat dan sangat indah. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya melihat makam macam di film-film itu dengan mata kepala sendiri. Sayangnya, saya hanya dapat melihat melalui ‘lubang tikus’ di balik pagar tumbuhan tinggi yang menjadi pembatas areal pemakaman tersebut. Karena takut ketahuan oleh warga sekitar dan satpam, saya dan teman-teman langsung ngacir tanpa sempat memotret.

Saat saya bergabung dengan Komunitas Aleut, barulah saya tahu kalau ternyata nama makam tersebut adalah Ereveld Pandu; sebuah pemakaman Belanda yang tanahnya masih merupakan wilayah aktif Negara Belanda. Jadi tidak sembarang orang bisa masuk ke sana dan harus izin dulu ke Kedubes Belanda di Jakarta. Hmmm repot yah.

Ketika Komunitas Aleut mau mengadakan Ngaleut Makam Pandu ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tidak lupa baju tangan panjang dan Autan saya siapkan untuk Ngaleut kali ini. Kenapa Autan? Wilayah pemakaman selalu dipenuhi oleh nyamuk demam berdarah yang ganas, jadi kalau mau berkunjung ke pemakaman, memang ditekankan untuk memakai lotion anti nyamuk.

Yang pertama kami kunjungi dalam Ngaleut Makam Pandu adalah makam keluarga Tan Djin Gie. Untuk yang pernah membaca roman Rasia Bandoeng, mungkin familiar dengan nama ini. Tan Djin Gie merupakan seorang Tiong Hoa yang datang ke Bandung dan membuka usaha P&D di daerah Pasar Baru. Dengan kekayaannya, mereka membuat sebuah rumah dan hotel di Jalan Kebon Jati. Selain itu beliau juga mendirikan sebuah pabrik teh di Ciroyom. Meskipun seorang Tiong Hoa, namun beliau merupakan seorang penganut Kristen yang taat, karena itu jenazahnya dimakamkan di Makam Pandu.

Setelah puas mendengarkan cerita mengenai Tan Djin Gie dan keluarganya, kami melanjutkan kunjungan ke makam seorang pilot dengan mekaniknya yang gugur akibat kecelakaan di sekitaran Bandung. Kecelakaan tersebut terjadi lantaran kondisi lingkungan Bandung yang ekstrem saat itu, dan juga kondisi pesawat yang kurang baik.

Charles Phillipe

Cornelis P.

 

 

 

 

 

 

 

Di pemakaman Pandu ini terdapat dua makam pilot dan mekaniknya yang gugur akibat kecelakaan pesawat Fokker F.C.V 442 di Padalarang. Makam pertama dengan nisan berhiaskan patung orang yang bertumpu di atasnya adalah makam sang pilot yang bernama lengkap Dr. Ir. Charles Philippe Marie Mathus Bogaerts; kapten infanteri yang juga seorang insinyur mesin militer. Di sebelahnya terdapat makam rekan dari sang pilot, Johannes Cornelis Pols, yang seorang penerbang Belanda berpangkat letnan satu infanteri. Sayang sekali, informasi lebih lanjut mengenai kedua pilot ini maupun kejadian kecelakaannya tidak terdapat di buku ataupun internet.

Makam Raymond Kennedy, rumput menutupi hampir seluruh permukaan makam

Berikutnya kami mengunjungi makam Raymond Kennedy, seorang professor antropologi dari Yale University. Kennedy menulis setidaknya tiga buku mengenai etnologi di Indonesia. Dia meninggal pada tahun 1950 karena ditembak di Tomo, dekat Sumedang. Siapa penembaknya, tidak diketahui pasti, mungkin dilakukan oleh laskar-laskar pribumi. Bukan hanya Kennedy, rekannya yang bernama Robert Doyle pun menjadi korban. Baru beberapa hari kemudian jenazahnya ditemukan oleh tentara Indonesia dan dibawa ke Bandung untuk dikebumikan di Pemakaman Pandu. Mereka berdua dimakamkan bersebelahan, namun hanya makam Raymond Kennedy saja yang masih utuh. Tanah dan makam yang tak terurus membuat makan rekannya, Doyle, tidak bisa dilihat; mungkin juga sudah hilang tergerus masa.

Berdasarkan diskusi mengenai Freemasonry di Kota Bandung yang pernah diadakan beberapa bulan lalu di kediaman Rizky Wiryawan, saya sadar kalau banyak freemason yang berkediaman di Bandung, dan tentunya banyak pula yang meninggal dan dimakamkan di kota ini juga.

Makam Ben Strasters

Di pemakaman Pandu ini kami mengunjungi salah satu makam freemason yang bernama Ben Strasters. Di atas nisan tertulis namanya dan tahun kematiannya, 1936. Makam para freemason biasanya memiliki sebuah ukiran lambang freemason yang berbentuk jangka dan mistar. Uniknya, di makam Ben Strater ini terukir logo freemasonry dengan bentuk terbalik dan tulisan rust in verde (beristirahat dengan tenang). Entah apa maksud dari logo terbalik ini, masih sulit untuk mencari informasi berdasarkan literatur mengenai hal ini.

 

Ini merupakan salah satu makam yang sangat saya tunggu-tunggu, makam keluarga Ursone. Keluarga Ursone merupakan keluarga berkebangsaan Italia pertama yang ada di Bandung. Mereka adalah pemilik perusahaan susu sapi yang berlokasi di Lembang. Bukit tempat berdirinya bangunan Observatorium Bosscha pun merupakan milik keluarga Ursone. Peternakan sapi tersebut terletak tidak jauh dari observatorium dan kediaman mereka bukit Bosscha; dibangun pada tahun 1895 dan diberi nama Lembangsche Melkerij Ursone.

Pemakaman ini dinamakan Mausoleum karena dalam satu bangunan terdapat beberapa makam dan bangunan seperti ini hanya dapat ditemukan di pemakaman Pandu dan Cikadut. Pada awalnya, Mausoleum ini terletak di kerkhof (pemakaman) Kebon Jahe sebelum dipindahkan ke Pemakaman Pandu. Bangunannya sangat amat indah, dengan gaya khas Eropa, dengan dua patung malaikat berdiri di masing-masing sisi bangunan, berpose layaknya sedang berdoa. Di bagian luar dinding bangunan terdapat ukiran nama-nama keluarga Ursone yang meninggal dan dimakamkan di dalam bangunan tersebut. Total ada 11 nisan dan 8 nama di Mausoleum Ursone ini.

Disebut makam laci karena bentuknya seperti laci-laci penyimpanan mayat yang biasa kita lihat di ruang penyimpanan mayat di rumah sakit. Seram, itulah hal yang pertama kali saya rasakan saat melihatnya. Terutama ketika melihat beberapa laci yang ternyata sudah kosong dan dibiarkan begitu saja. Untungnya tidak ada benda-benda menyeramkan yang tertinggal di dalam laci yang kosong itu.

banyak makam yang kosong 😦

Satu lagi makam yang sangat ingin saya kunjungi di Pemakaman Pandu selain Mauseloum Ursone, yaitu makam C.P. Wolff Schoemaker. Nama C. P. Wolff Schoemaker sudah sangat dikenal terutama bagi para pengamat sejarah. Saya pun baru mengetahui nama Schoemaker saat pertama kali berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia. Villa Isola yang menjadi kebanggaan Bumi Siliwangi UPI merupakan salah satu karya Schoemaker yang sangat terkenal. Selain itu Schoemaker juga menjadi arsitek untuk bangunan-bangunan terkenal lainnya di Bandung seperti Gedung Landmark (Braga), Gedung Merdeka, Hotel Grand Preanger, dll.

Makam Schoemaker yang bersih dan terawat

Makam Schoemaker yang bersih dan terawat

Dimakamkan tahun 1948, nisan dari guru presiden pertama RI ini sempat tidak terurus selama puluhan tahun. Baru beberapa tahun ke belakang ini anak Sukarno, Guruh Sukarno Putra membayar pajak untuk makam Schoemaker untuk 20 tahun.  Hal ini Guruh lakukan setelah cucu dari C.P. Wolff Schoemaker menghubunginya untuk mencari makam kakeknya. Sekarang makam ini menjadi sebersih dan sebagus yang terlihat saat ini.

“Berdiri tahun 1932”

Semua foto yang ada di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi. Bila ingin mengambil gambar dan menyertakannya dalam halaman lain di luar blog ini, sila berikan kredit. Terima kasih ^^

 

Tautan asli: http://coretankoenangkoenang.blogspot.co.id/2016/03/catatan-perjalanan-ngaleut-makam-pandu.html

Sumenep, Permata di Ujung Timur Pulau Garam

Oleh: Moch. Fathonil Aziz (@aziztony)

Sumenep yang merupakan kabupaten paling timur di pulau garam memang menyimpan banyak peninggalan sejarah. Ditempuh kurang lebih selama 4 jam dari ibukota provinsi Jawa Timur, yaitu Kota Surabaya dengan melewati ikon fenomenal Jawa Timur yaitu Jembatan Nasional Suramadu. Sama seperti kota-kota di Jawa pada umunya, Sumenep menganut sistem tata kota Catur Gatra Tunggal di mana keraton, masjid agung, dan pasar berada pada 1 komplek dengan dengan alun-alun sebagai pusatnya. Meskipun Sumenep merupakan sebuah kerajaan bawahan dari kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit dan Mataram, namun Sumenep dibangun dibangun dengan lebih besar dan mewah dibanding kerajaan-kerajaan bawahan lain. Hal ini dikarenakan Sumenep sejak dulu termasuk dalam kategori “mancanegara”. Hal lain mungkin dikarenakan perlakuan istimewa akibat jasa-jasa Arya Wiraraja dalam membantu leluhur Majapahit, yaitu Raden Wijaya.

 

Sebagai awal perjalanan kali ini, saya mengunjungi Keraton Sumenep. Keraton Sumenep ini lebih lengkap dan besar jika dibanding rumah-rumah kediaman bupati di seantero Pulau Jawa dan Madura, namun masih sangat jauh jika dibanding Keraton Surakarta dan Yogyakarta yang  merupakan pusat dari kebudayaan Jawa. Berbeda pula dengan keraton-keraton lain yang secara posisi menghadap ke alun-alun, Keraton Sumenep dibangun di sebelah timur alun-alun dengan menghadap ke arah selatan. Hal ini diindikasikan untuk menghormati penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, yang menjadi legenda bukan hanya di tanah Jawa melainkan juga di Madura. Keraton Sumenep dibangun dengan gaya arsitektur campuran Jawa dan Tionghoa, serta sedikit gaya Eropa. Gaya Tionghoa sangat terasa di keraton karena hampir setiap bangunan di keraton menggunakan bubungan atap bergaya Tionghoa. Bahkan pendopo keraton yang dibangun dengan model joglo Jawa juga diberi nuansa Tinghoa pada ujung gentengnya. Hal ini dikarenakan arsitek yang membangun keraton adalah seorang Tionghoa bernama Lauw Piango yang mengungsi ke Sumenep pasca tragedi Geger Pecinan.

Keraton Sumenep sama seperti keraton pada umumnya dilindungi dengan pagar benteng yang mengelilinya. Pada benteng di muka keraton, terdapat suatu pintu gerbang masuk yang cukup megah. Gerbang tersebut terbuat dari kayu dengan daun pintu yang cukup besar berbentuk melingkar di bagian atas. Pada bagian atas gerbang terdapat sebuah loteng yang digunakan untuk memantau musuh yang akan menyerang keraton.

tony1

Di belakang gerbang tersebut berdiri sebuah pendopo bergaya joglo jawa. Pendopo tersebut juga dikombinasikan denngan arsitektur gaya Tionghoa dengan bubungan yang dibentuk menyerupai rumah-rumah orang Tionghoa. Pendopo tersebut sampai saat ini masih sering dipergunakan, baik untuk acara kerabat keraton ataupun acara budaya yang biasanya diselenggarakan pada peringatan berdirinya Kabupaten Sumenep.  Dikarenakan waktu kunjungan yang sudah habis, jadi saya hanya bisa melihat-lihat bagian depan dari Keraton Sumenep saja.

tony2

Perjalanan dilanjutkan mengunjungi sisa dari stasiun KA Sumenep. Pada masa kolonial, Pulau Madura dibentangi rel KA mulai dari Kamal hingga Sumenep dan dijalankan oleh perusahaan bernama Madoera Stoomtram Maatschappij. Riwayat KA di Madura harus berhenti pada tahun 1987 akibat kalah bersaing dengan moda transportasi lain. Seiring dengan matinya jalur KA di Madura, stasiun-stasiun yang dilewati pun kini terbengkalai. Stasiun KA Sumenep pun kini hilang hamper tak berbekas. Sisa-sisa yang masih dapat dijadikan bukti bahwa stasiun KA Sumenep pernah berdiri di lahan tersebut adalah sebuah menara air yang digunakan untuk menjalankan lokomotif uap pada masanya. Kini stasiun tersebut sudah berubah menjadi gedung Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sumenep.

tony3

Tempat selanjutnya yang dikunjungi adalah Asta Tinggi. Asta Tinggi merupakan komplek pemakaman raja-raja Sumenep. Asta Tinggi terletak di sebuah perbukitan sehingga memungkinkan untuk melihat jauh hingga ke daerah pantai. Karena posisinya ini Asta Tinggi pernah digempur oleh tentara Inggris karena disangka istana Raja Sumenep. Asta Tinggi dibangun bersamaan dengan Keraton dan Masjid Jamik oleh Panembahan Somala. Selain Asta Tinggi, di bukit tersebut juga terdapat beberapa komplek pemakaman bangsawan lain, namun masih di bawah Asta Tinggi. Asta Tinggi sampai sekarang masih ramai dikunjungi peziarah, baik dari Pulau Madura maupun Pulau Jawa.

tony4

Asta Tinggi terbagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian utama dengan sayap kanan dan kiri. Sebelum memasuki bagian utama terlebih dahulu kita melewati sebuah gerbang yang sangat megah. Gerbang ini dibangun dengan beton dengan daun pintu dari kayu dan sangat kental dengan gaya Eropa. Sekilas jika kita lihat, gerbang ini hampir serupa dengan Amsterdam Port di Batavia. Selanjutnya kita harus melewati sebuah tembok di balik gerbang yang digunakan sebagai aling-aling. Tembok ini sangat kaya dengan relief tumbuh-tumbuhan. Pada bagian depan depan tembok terpampang sebuah prasasti yang ditulis dalam aksara Jawa, sedangkan pada bagian dalam prasasti ditulis dalam aksara Arab.

Di bagian utama terdapat sebuah bangunan berkubah dengan gaya arsitektur perpaduan Eropa dan Arab. Pada bangunan tersebut terdapat makam Panembahan Somala dengan beberapa kerabatnya. Di depan bangunan utama terdapat 3 cungkup yang terdiri 2 cungkup kembar kanan kiri dan 1 cungkup di samping cungkup kembar sebelah kanan.

Sayap kanan memiliki memiliki luas yang lebih besar dibanding bagian utama dan terdiri dari bagian luar dan dalam. Pada bagian luar terdapat makam-makam dari kerabat keraton dengan sebuah pendopo di bagian tengah. Pada bagian dalam terdapat 3 cungkup utama yang sering dikunjungi oleh para peziarah. Ketiga cungkup tersebut memiliki gaya arsitektur yang berbeda satu sama lain. Ketiga cungkup tersebut adalah cungkup Bindara Saod di sebelah kiri, cungkup Pangeran Pulang Djiwo di sebalah kanan, dan cungkup Pangeran Jimat di belakang cungkup Pangeran Pulang Djiwo.

tony7

Kondisi sayap kiri adalah yang paling berbeda. Kompleks ini cukup sepi dikunjungi peziarah.

Ada suatu cerita yang berkembang di lingkungan Asta Tinggi, yaitu adanya suatu makam yang disembunyikan identitasnya. Konon makam tersebut adalah pusara dari Pangeran Diponegoro. Hal ini didasarkan naskah Babad Sumenep. Saya sendiri belum mengetahui di mana lokasi makam tersebut.

Waktu sudah menunjukkan masuk waktu sholat Maghrib, saatnya saya menjejakkan kaki di Masjid Agung Sumenep atau orang sekitar lebih sering menyebut dengan istilah Masjid Jamik.  Hal yang paling istimewa dari masjid ini dan yang membuatnya terkenal adalah gerbang masuknya. Gerbang ini dibangun dengan sangat megah dan anggun dengan perpaduan warna kuning dan putih yang merupakan warna khas dari Keraton Sumenep. Di depan sebelah kanan gerbang tersebut berdiri sebuah tugu kecil. Tugu ini merupakan tugu peringatan 1 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Memasuki gerbang tersebut, di sebelah kiri dapat kita temukan sebuah jam matahari atau yang biasa bagi orang jawa disebut Bencet.

tony8

Berjalan semakin ke dalam, kita akan melewati serambi masjid dan kemudian memasuki ruang sholat utama. Untuk memasukinya kita terlebih dahulu akan melewati sebuah pintu kayu dengan ukiran-ukiran khas bergaya Madura dengan warna dasar hijau lumut. Ruang sholat utama ini berbeda dengan masjid tradisional jawa pada umumnya karena tidak ditopang 4 soko guru, melainkan sebuah soko tunggal di bagian tengah dengan 12 soko lain yang mengelilinginya. Ruang sholat ini hanya digunakan untuk jama’ah pria, sedangkan untuk jam’ah wanita menggunakan pawestren sebagai tempat sholat. Ruang sholat ini memiliki atap tumpang bersusun 3. Pada bagian depan terdapat sebuah mihrab dengan bentuk setengah lingkaran dengan relief yang indah. Mihrab tersebut diapit mimbar dan maksura di kanan kiri dengan bentuk yang serupa. Maksura adalah tempat sholat yag diperuntukkan bagi raja.

tony9

Hal lain yang cukup unik pada Masjid Agung Sumenep dibanding masjid-masjid lain di Pulau Jawa dan Madura adalah keberadaan menaranya. Menara masjid tidak terletak di bagian timur masjid, melainkan di bagian barat masjid.

tony10

Mungkin tidak banyak yang tempat bersejarah yang bisa dikunjungi pada perjalanan yang sangat singkat itu. Sumenep adalah kota yang sudah sangat tua yang menyimpan banyak harta karun berharga peninggalan masa lalu. Miris ketika mengetahui banyak pemuda Sumenep yang tidak mengetahui cerita di balik tempat-tempat yang sebenarnya menyimpan sejarah berharga kotanya.

12 Nisan di Taman Makam Pahlawan Cikutra

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Siang itu, saya bersama Komunitas Aleut sedang berada di TMP Cikutra. Saat itu, kami melakukan kegiatan berjudul “Ngaleut Cikutra”. Selama kegiatan berlangsung, kami berkeliling di sekitaran TMP Cikutra untuk melihat beberapa nisan pahlawan terkenal seperti E.F.E. Douwes Dekker dan Abdoel Moeis,

Di tengah perjalanan berkeliling di dalam TMP Cikutra, saya tersandung oleh batu nisan kecil di bawah. Nisan itu terlepas dari kayu yang menjadi tempatnya. Mungkin nisan itu jatuh karena kurang terawat atau kurang direkat pada kayu.

Nisan tidak dikenal di atas tanah (sumber foto : Irfan TP)

Nisan tidak dikenal di atas tanah (sumber foto: Irfan TP)

Karena merasa tidak enak telah tersandung nisan, saya pungut nisan itu. Tapi ada yang aneh pada nisan itu, yakni tidak adanya nama almarhum di nisan. Berbeda dengan nisan lainnya yang bernama, nisan yang saya pegang hanya tertulis tidak dikenal sebagai nama almarhum.

Setelah memperhatikan keadaan sekitar, ternyata ada selusin nisan tertulis tidak dikenal. 12 nisan itu berlokasi di satu blok yang sama. Wajah nisan – nisan terlihat sama, yakni mulai menggelap dan meretak ke berbagai arah. Baca lebih lanjut

Di Bukit Tegak Lurus dengan Langit *)

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN8335

Di kampung saya–di Selatan Sukabumi, tak jauh dari rumah; berjajar beberapa bukit (Sunda : pasir) yang memanjang dari Timur ke Barat. Persis di belakang rumah ada Pasir Pogor, kemudian Pasir Gundul, Pasir Hiris, dan Pasir Hanjuang, lalu di akhiri dengan sebuah bukit yang melintang dari Selatan ke Utara, yang dinamai dengan Pasir Malang. Waktu Ahad kemarin (22/03/2015) mengunjungi bukit Munjul dan Culanagara di wilayah Bandung Selatan, tentu saja ingatan melayang ke bukit-bukit yang saya sebutkan tadi. Ada kesamaan yang sangat jelas, yaitu tentang tempat-tempat keramat yang berada di puncak bukit.

Di Pasir Hiris ada beberapa makam yang dikeramatkan, dan konon sering diziarahi oleh orang-orang dari luar kota (terutama Jakarta). Ditemani oleh sang juru kunci, mereka kerap melaksanakan ritual yang diisi dengan do’a-do’a. Saya sendiri baru menyadari kemudian ihwal makam keramat itu, sebab waktu kecil saya hanya menganggapnya tak lebih dari makam biasa saja. Hanya letaknya yang memang terasa ganjil. Di pasir yang lain sebenarnya ada juga beberapa makam, namun makam yang tadi adalah yang paling terkenal.

Kecenderungan tempat-tempat keramat di ketinggian bukan hanya ada di Tatar Priangan, sebab di Pulau Jawa bagian Tengah dan Timur banyak juga terdapat hal demikian. Di Cirebon pun, sebagai suatu wilayah yang kerap “enggan” disebut Sunda—bahasa dan catatan sejarah banyak menulis hal ini, terdapat juga tempat keramat yang letaknya di ketinggian. Dalam buku Ziarah & Wali di Dunia Islam yang naskahnya dikumpulkan oleh Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot, terdapat keterangan sebagai berikut :

“Kompleks keramat Sunan Gunung Jati mencakupi dua bukit , yaitu Bukit Sembung dan Bukit Gunung Jati, yang hanya berjarak beberapa ratus meter. Bukit Gunung Jati bisa dipastikan sudah keramat pada jaman pra-Islam. Orang setempat masih mengenang bahwa api besar-besaran kadang-kadang di nyalakan di puncaknya, yang dianggap dan dikeramatkan sebagai puseur alam. Kepercayaan-kepercayaan kuno sedikit demi sedikit telah diintegrasikan dalam kerangka Islam, namun bukit ini tetap mempunyai ciri sakral.”

DSCN8300

Ada tiga kata yang bisa ditangkap dari kutipan tersebut. Pertama “bukit”, kedua “pra-Islam”, dan yang ketiga adalah “diintegrasikan”. Di beberapa petilasan yang diyakini sebagai rute pelarian Prabu Siliwangi sewaktu dikejar oleh Kian Santang—anaknya yang hendak meng-Islamkan sang bapak (salahsatunya di bukit Munjul), kepercayaan masyarakat terbelah dua; yang pro Siliwangi melakukan ritual dengan nuansa Hindu, sedangkan yang berpihak kepada Kian Santang dengan ritual bernuansa Islam. Entah bagaimana perbedaan ritualnya, mungkin terletak pada do’a.

Kutipan di atas pun menyatakan sebuah alur, bahwa kata “pra-Islam” menunjukan adanya kekuatan politik dan kepercayaan yang mendahului Islam sebagai pemenang selanjutnya. Sebagai pemenang tentu saja leluasa membuat narasi sejarah, dan atau menempel lalu menggantikan simbol-simbol si kalah. Kata “diintegrasikan”—bukan “terintegrasikan”, jelas adalah kata aktif, artinya sebagai bentuk penyengajaan. Hal ini mungkin juga berlaku pada perlakuan dan penamaan situs-situs, makam keramat, dan petilasan yang lain.

Selain itu, kalau kita amati, banyak juga komplek pemakaman Cina yang berada di dataran tinggi. Beberapa contoh antara lain; Sentiong di Sukabumi, Pasir Hayam di Cianjur, Lereng Tidar di Magelang, dan Cikadut di Bandung. Artinya pemilihan bukit sebagai tempat tinggi bukan kepercayaan yang dimonopoli oleh etnis dan kepercayaan tertentu saja. Bukit sebagai sebuah dataran tinggi, bahkan telah juga dituliskan pada teks-teks jaman kenabian. Bukankah bukit Tursina disebutkan dalam riwayat Nabi Musa?, dan Jabal (gunung) Nur ada dalam lintasan sejarah Nabi Muhammad?

Membahas kaitan antara tempat-tempat tinggi dengan kepercayaan manusia mungkin bisa ditulis dari ragam perspektif, namun saya hendak mencatatnya dari sudut pandang tempat tinggal dan budaya produksi pangan etnis Sunda jaman baheula.

Tapi sebelum masuk ke sana, mungkin ada baiknya kita sadari dulu sebuah kenyataan, bahwa fakta-fakta sejarah di negara kita—terutama era pra kolonial, seringkali dipadukan dan lebur bersama mitos dan legenda.  Dalam sebuah pengantar yang beraroma pujian di buku Bo’ Sangaji Kai-Catatan Kerajaan Bima–penyunting buku tersebut menulis hal berikut :

“Sumber-sumber Eropa terutama sumber Belanda umumnya dianggap lebih berguna daripada sumber-sumber lokal, oleh karena orang Eropa sudah lama mengembangkan satu usaha pendokumentasian yang tepat dan lengkap. Berbagai bentuk arsip yang dikembangkan oleh orang Eropa selama berabad-abad sarat dengan fakta, angka, nama, dan tanggal. Arsip jenis itulah yang menjawab pertanyaan para sejarawan modern, sedangkan sumber-sumber berbahasa Melayu, seperti juga sumber dalam bahasa-bahasa lain di Indonesia, seringkali mamadukan mitos, legenda, dan sejarah, sehingga sukar dimanfaatkan. Karya-karya sejarah yang ditulis dalam bahasa Melayu di Bima (Pulau Sumbawa) merupakan satu kekecualian yang gemilang.”

Anggaplah saya imperior dengan mengiyakan kutipan tersebut, tapi kenyataannya memang demikian.

***

DSCN8364

Menurut Drs. Saleh Danasasmita dalam buku berbahasa Sunda yang berjudul Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi, beliau menjelaskan bahwa type masyarakat di Indonesia terbagi menjadi tiga, yaitu; masyarakat sawah, masyarakat ladang (huma), dan masyarakat pesisir. Pajajaran (Sunda) termasuk ke dalam type masyarakat ladang (huma).

Bukti-bukti sejarah mengenai hal ini bisa ditemukan pada beberapa catatan. Pertama,  dalam buku Priangan, de Haan menginformasikan bahwa system pertanian sawah di Jawa Barat dimulai oleh van Imhoff. Di Bogor, daerah pertama yang membuka lahan sawah adalah Cisarua, yang petaninya didatangkan dari Tegal dan Banyumas. Untuk selanjutnya daerah Bogor dijadikan “daerah bebas huma” oleh Yakob Mossel yang menggantikan van Imhoff pada tahun 1750. Selain itu, beberapa istilah yang digunakan oleh petani Sunda dalam ngawuluku dan ngagaru, umumnya bukan kosa kata Sunda, melainkan kosakata Jawa, seperti : kalen, mider, luput, sawed, arang, damping, dll.

Kedua, dalam Carita Parahiyangan—yang merupakan hasil sastra jaman Pajajaran, tidak terdapat istilah husus “patani”, tapi “pahuma”. Dalam naskah yang lain disebutkan bahwa perkakas yang disebut hanyalah kujang, baliung, patik, korěd, dan sadap; yang semuanya adalah perkakas untuk berladang.

Ketiga adalah dokumen tradisi seperti yang terdapat di suku Baduy kiwari. Orang Baduy yang masih memegang teguh adat kebiasaan leluhurnya cadu untuk bertani di sawah.

Dan yang terakhir adalah berdasarkan kepada dokumen lisan dalam bahasa Sunda yang terkait dengan bahasa Indonesia. Huma dalam bahasa Indonesia artinya rumah, sedangkan ladang dalam bahasa Sunda artinya hasil. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa huma adalah ya rumah itu sendiri. Ini bisa juga diperkuat dengan kebiasaan orang tua dulu ketika melarang anaknya yang sedang bertengkar atau berselisih, mereka kerap berucap; “Ulah sok pasěa jeung dulur, bisi pajauh huma!” (Jangan bertengkar dengan saudara, nanti huma/rumah-nya berjauhan).

Dari keempat hal tersebut di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Sunda pada mulanya adalah masyarakat ladang/huma, yang secara geografis mayoritas berada di dataran tinggi (minimal lebih tinggi dari sawah)—umumnya disebut dengan bukit. Karakter tanah huma pada umumnya tidak bisa ditanami tumbuhan pangan secara berulang-ulang, oleh sebab itu para pehuma biasanya berpindah-pindah tempat ketika hendak menanam padi. Hal tentu berpengaruh juga dengan tempat tinggal, artinya perkampungan pun mesti pindah berkali-kali.

DSCN8387

Lalu apa kaitannya antara masyarakat huma dengan beberapa situs, makam keramat, dan petilasan yang berada di Priangan? Jika dilihat dari posisi, keberadaan tempat-tempat yang keramatkan sesuai dengan kebiasaan tempat tinggal orang Sunda baheula, yaitu di dataran tinggi. Selain itu, letaknya yang berjauhan danancal-ancalan, menandakan bahwa memang karakter masyarakat huma adalah nomaden.

Kita kerap mendengar beberapa ungkapan yang menunjukkan Tuhan (sesuatu/dzat yang tidak terjangkau kecuali dengan kepasrahan) dengan kata “di atas”, misalnya; “Kita serahkan kepada yang di atas”, atau “terserah yang di atas”. Dalam konteks ini, barangkali posisi beberapa situs, makam keramat, dan petilasan yang berada di ketinggian adalah simbol tentang dzat yang tidak terjangkau. Sesuatu yang tidak tergapai oleh logika, dan sumerah menjadi jalan pilihan.

Namun dalam masyarakat Sunda yang sudah Islam, agak sulit jika menganggap semua yang keramat-keramat itu sebagai Tuhan, bagi mereka mungkin lebih tepat sebagai batu pijakan menuju yang di atas yang lebih mutlak. Beberapa kelompok dalam masyarakat Sunda Islam (biasanya kaum nahdliyin/NU)–ketika berdo’a, kerap menyebut beberapa syekh dan atau wali yang disebut tawasul. Penyebutan ini bukan berarti menganggap orang-orang saleh itu Tuhan, namun sebagai jembatan menuju Tuhan.

Maka dengan meredakan sangka buruk (suudzon) tentang praktek kemusyrikan; keberadaan situs, makam keramat, dan petilasan di bukit adalah sebuah simbol agar bisa tegak lurus dengan langit. Ya, lurus ke atas—ke hadirat Tuhan. [ ]

 

*) Tegak Lurus dengan Langit adalah salahsatu judul cerpen Iwan Simatupang

 

Foto : Arsip Irfan TP

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.com/2015/03/di-bukit-tegak-lurus-dengan-langit.html