Cheng Beng ala Komunitas Aleut

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Cheng Beng merupakan suatu tradisi ziarah kubur etnis Tionghoa yang diselenggarakan setiap tanggal 4,5,dan 6 April. Dalam kepercayan Tionghoa pada tanggal-tanggal tersebut arwah nenek moyang mereka turun ke bumi. Para keturunan wajib berziarah mendatangi kuburan leluruhnya. Dalam tradisi tersebut, para keturunan Tionghoa datang membersihkan makam leluhur, sembahyang, sambil membawa makanan yang diletakkan di altar. Menurut penuturan Abah Asep Suryana yang menjadi interpreter Aleut kali ini, setelah melaksanakan ritual, makanan tersebut dibawa pulang untuk dimakan bersama-sama di rumah.

Abah Asep Suryana juga menceritakan pengalaman masa kecilnya. Dalam rentang tahun 1972-1977, Abah Asep bersekolah di SD Negeri IV Cikadut di Kampung Jarambas yang tidak jauh dari TPU Hindu-Buddha Cikadut. Bagi beliau, TPU Hindu-Buddha ini merupakan tempat bermain ketika istirahat ataupun selepas pulang sekolah.

Sekitar tahun 1970-an, setiap kali ada perayaan Cheng Beng, parkiran Cikadut tidak mampu menampung banyaknya kendaraan peziarah yang berkunjung karena meluap hingga ke sepanjang Jalan Raya Timur (Jl. A.H. Nasution sekarang). Apabila perayaan Cheng Beng jatuh pada hari sekolah, ada segelintir teman SD Abah membolos untuk  mencari uang jajan sebagai cleaning service kuburan dadakan.

Sekarang, perayaan Cheng Beng tidak seramai dahulu. Menurut Andry Harmony yang sempat berdiskusi dengan saya di Facebook, salah satu penyebab perayaan Cheng Beng tidak seramai dahulu disebabkan terjadinya pergeseran tradisi pemakaman etnis Tionghoa. Tradisi pemakaman yang awalnya dilakukan dengan cara penguburan di tanah beralih dengan cara dikremasi kemudian dilarung ke laut. Pergeseran tradisi ini disebabkan oleh keterbatasan lahan TPU Cikadut karena semenjak tahun 1990, luas area TPU  tidak diperluas lagi sehingga petugas dinas pemakaman menyarankan kremasi sebagai solusi alternatif untuk memakamkan. Selain itu, juga karena maraknya penjarahan makam yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Penjarahan tak hanya mengambil pagar besi di permukaan, banyak pula makam-makam yang dibongkar untuk diambil perhiasan ataupun barang berharga yang biasanya turut dikubur bersama jenazah.

***

hani1

Cheng Beng ala Komunitas Aleut berlangsung pada Minggu, 15 Maret 2015, tepat sehari setelah Kirab Cap Go Meh yang diadakan oleh Pemerintah Kota Bandung. Cheng Beng ala Komunitas Aleut bertujuan untuk belajar dan mengeksplorasi kawasan TPU Cikadut seluas lebih dari 100 ha yang terletak di timur Kota Bandung. Dengan luas tersebut, TPU Cikadut dinobatkan sebagai nekropolis terbesar se-Asia Tenggara (Nanang Saptono, 2015).

Catatan Perjalanan: Makam Buniwangi yang Keramat

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

buni, teu babari katembongna, katenjona, lantaran katutupan (pengertian Buni di Kamus Basa Sunda)

Sebetulnya, Bandung dan sekitarnya adalah kota yang memiliki banyak makam keramat. Makam keramat seperti makam di Caringin Tilu, Gunung Batu, dan Pageur Maneuh adalah sedikit makam keramat yang berada di Bandung. Salah satu makam keramat yang berada di Bandung adalah makam Buniwangi.

Buniwangi, salah satu makam keramat di Bandung

Salah satu makam keramat di Buniwangi

Salah satu makam keramat di Buniwangi

 

Makam yang berada di Desa Buniwangi adalah makam yang pernah dicantumkan oleh Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya. Dalam tulisannya, Haryoto Kunto mendeskripsikan kondisi makam Buniwangi yang tua dan berlumut.

Menurut kuncen Buniwangi, makam Buniwangi memiliki hubungan dengan beberapa orang. Pada awalnya, makam Buniwangi adalah salah satu lokasi pelarian Prabu Siliwangi. Setelah menjadi tempat pelarian, lokasi makam Buniwangi menjadi tempat Dalem wangi. Setelah Dalem wangi pindah ke Subang, lokasi makam Buniwangi dimiliki oleh Buniwangi atau Kentringmanik.

Perlu kita ketahui bahwa Kentringmanik adalah “penguasa gaib” kota Bandung. Konon menurut W. H. Hoogland, Kentringmanik adalah dewi penguasa mata air Sungai Citarum. Selain itu, tokoh Kentringmanik adalah permaisuri Prabu Siliwangi.

Di dalam komplek Makam Buniwangi

Pendopo dan Paseban di Makam Buniwangi

Pendopo dan Paseban di Makam Buniwangi

 

Terdapat dua kawasan saat berada di komplek Makam Buniwangi. Kawasan tersebut antara lain Paseban dan Pendopo. Paseban adalah tempat ritual yang berada di Makam Buniwangi. Sedangkan Pendopo adalah lokasi makam keramat Buniwangi.

Sesajen di Makam Buniwangi

Sesajen di Makam Buniwangi

 

Saat berada di Paseban, kita akan menemukan banyak sesajen yang berada di makam. Menurut kuncen Buniwangi, sesajen yang berada di makam adalah upeti atau pajak peziarah untuk Buniwangi. Sesajen yang diberikan berupa telur dan kopi.

Terdapat larangan yang harus dipatuhi saat berada di komplek Makam Buniwangi. Larangan tersebut antara lain melepas alas kaki di pohon dan mengucapkan salam saat berziarah.

Menurut kuncen Buniwangi, pohon – pohon yang ditanam di komplek Makam Buniwangi bermacam – macam. Terdapat lima jenis pohon yang tumbuh di komplek makam. Pohon tersebut antara lain pohon Jajaway, Nunuk, Kawung, Lame, dan Pancawarna atau Limawarna. Salah satu pohon yang sudah lama tumbuh di makam adalah pohon Jajaway.

Pintu masuk makam Buniwangi

Pintu masuk makam Buniwangi

 

Sumber Bacaan :

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Kamus Basa Sunda karya R. A. Danadibrata

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/03/15/catatan-perjalanan-makam-buniwangi-yang-keramat/

Cikadut – Panyandaan; Terasing dalam Hidup dan Mati

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Waktu Mang Asep (pegiat Aleut) menjelaskan sejarah pemakaman seorang Letnan Cina dengan menggunakan gambar lawas, saya tiba-tiba membayangkan betapa jauh dan lelahnya mengantarkan seseorang yang telah meninggal menuju tempat istirahatnya yang terakhir. Bagaimana tidak, gambar tersebut adalah iring-iringan pengantar jenazah yang sedang berada di depan gedung de Vries (simpang Asia-Afrika dan Braga), menuju ke Cikadut. Menyusuri panjangnya Jalan Raya Pos dengan kereta jenazah yang didorong tentu bukan hal yang mudah, apalagi perjalanannya dimulai dari Citepus!

Adalah Tan Djoen Liong, seorang Letnan Cina yang pernah memimpin orang-orang Cina di Bandung selama 29 tahun, jenazah yang sedang diantarkan itu. Beliau meninggal pada usia 58 tahun (1859-1917), kini makamnya (bong) terletak di tanah yang membukit, seperti hendak mengawasi kehidupan orang-orang yang berada di bawah.

Deretan bong pay (nisan) yang meluas-panjang sampai ke Cimenyan, buat saya menyisakan beberapa pertanyaan; kenapa pemakaman dipisah-pisah berdasarkan agama, kepercayaan, dan bahkan etnis? Tidak cukupkah sewaktu hidup garis batas-garis batas itu menjadi pemicu konflik dan stereotip?

Dari semenjak pemakaman Banceuy dipindahkan, pengelompokkan itu sudah ada. Makam orang-orang Eropa pindah ke Kebon Jahe yang sekarang menjadi GOR Pajajaran, makam orang-orang Cina ke Babakan Ciamis (Us Tiarsa dalam buku Basa Bandung Halimunanmenyebutnya Bong), dan orang-orang pribumi yang mayoritas muslim ke Astana Anyar. Entah apa yang dikehendaki Belanda dari pemisahan komplek pemakaman ini. Dan sampai sekarang pemisahan ini masih berlaku.

Jika alasannya menyangkut teknis pemakaman, karena misalnya orang muslim harus menghadap kiblat, dan orang Cina (yang non muslim tentu saja) harus menghadap tempat yang disenangi mendiang sewaktu hidupnya, saya pikir hal ini masih bisa disiasati dengan menata letak. Sejarah yang memanjang ke belakang telah mencatat tentang konflik dan kerusuhan antar etnis dan agama, maka pemisahan komplek pemakaman ini seperti hendak mengabadikan luka; bahwa ya, kita memang berbeda, dan tak dapat disatukan.

Pecinan sebagai simbol pembeda (keterasingan) antara keturunan Cina dengan etnis lain ternyata berlanjut sampai pasca kematian. Di bukit-bukit, jenazah-jenazah yang rabuk persemaian atau abu dingin dalam tempat-tempat yang kerap dido’akan, lagi-lagi terasing dari leburnya pergaulan agama dan etnis.

Tapi saya pun bisa bersangka baik; mungkin pemisahan ini untuk mempermudah kerja-kerja statistik, atau mungkin juga untuk kenyamanan ritual pemakaman tiap-tiap agama.

Sebagaimana sejarah yang tak melulu hitam-putih, tak semuanya bisa dikategorikan pada dua kutub antara kawan dan lawan, demikian juga dengan komplek pemakaman. Pukul rata tidak berlaku di Cikadut, sebab di antara makam-makam bernisan tulisan Cina dan dilengkapi dengan simbol Dewa Langit dan Dewa Bumi tersebut, ternyata ada juga makam orang-orang Kristen yang ditandai dengan salib, juga ada makam orang Cina keturunan yang beragama Islam.

Ibu Djuhriah salahsatunya. Di nisan mantan guru kepala di SD Priangan tersebut bertuliskan aksara Arab yang berbunyi; Inna lillahi wainnailaihi rojiun(Sesungguhnya kami berasal dari Alloh, dan kepada Allohlah kami kembali). Konon guru muslim itu masih keturunan Cina. Murid-murid sekolah dasar di sekolah bekas Ibu Djuhriah mengabdi semasa hidupnya, kerap berziarah ke makam ini ketika hendak menjalani ujian. Entah mendo’akan orang yang telah meninggal, atau malah sebaliknya. Sebab kedua hal ini kadang-kadang dipisahkan oleh selaput tipis.

Selain itu, ada juga satu makam yang dinisannya bernama Ibu Ipoh. Di nisan ini pun bertuliskan aksara Arab, dan bahkan di simbol Dewa Bumi pun tulisannya memakai huruf Arab yang bunyinya : Dewa Tanah. Dua nisan tersebut hanyalah contoh kecil, karena mungkin di dalam komplek pemakaman Cikadut yang luas masih terdapat nisan-nisan orang Islam yang lain.

***

“Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)

Selepas Cikadut, jika diteruskan ke atas, maka akan sampai ke Panyandaan. Di sana ada bukit yang cukup terjal, jalan untuk kendaraan yang kemiringannya membuat kesal para pejalan kaki adalah bukti. Di puncak bukit, selain ada dua situs pra Islam, juga terdapat sebuah pesantren yang bernama Baitul Hidayah.

Pesantren yang lokasinya jauh dari perkampungan ini dihuni oleh sekira (baru) 100 santri. Hal ini selain dipengaruhi oleh letaknya yang susah dijangkau, juga karena masih terbilang baru, berdirinya di tahun 2010. Dari dua orang santri yang kebetulan sedang duduk di dekat situs tersebut, diketahui bahwa setiap santri hanya diperbolehkan pulang ke rumah sebanyak dua kali dalam setahun, atau satu semester sekali. Kedua santri yang ajak bicara itu berasal dari Sukajadi dan Ciburial-Dago.

Selain pondok pesantren yang menekankan mempelajari kitab kuning (di antaranya Fathul Barri dan Riyadus Solihin–yang kini terjemah bahasa Indonesianya sudah beredar luas), di sana juga terdapat jenjang pendidikan setingkat SMA dan SMP. Namun sebagaimana umumnya pondok pesantren, setelah lulus SMA santri tidak boleh langsung keluar, harus mengabdi dulu di pondok selama setahun. Di lingkungan pesantren semua santri diwajibkan berkomunikasi memakai bahasa Arab dan bahasa Inggris, tapi rupanya kurang ketat—buktinya saya bisa berkomunikasi memakai basa Sunda dengan mereka. Sementara ini Ponpes Baitul Hidayah di Panyandaan belum menerima santri putri, mungkin karena keterbatasan tenaga pengajar.

Hal-hal demikian, yaitu; cara berkomunikasi, bahan bacaan, pengabdian setahun, dan jarang pulang tentu tidak terlalu aneh, sebab di pondok pesantren di seantero Pulau Jawa hal tersebut hampir sama. Yang menarik buat saya justru pemilihan tempat. Berlokasi di puncak bukit dan jauh dari keramaian, membuat pesantren ini seolah-olah ingin mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan masyarakat luas.

Mungkinkah tujuannya ingin seperti bunyi hadits yang saya tulis di atas? Entah, sebab setahu saya kata “asing” di hadits tersebut bukan merujuk pada letak geografis, namun lebih kepada penerimaan umat terhadap ajaran Islam. Istilah “Islam KTP” dan semua turunannya mungkin lebih tepat untuk menggambarkan kata “asing” tersebut. Artinya, antara Islam sebagai ajaran dan pemeluknya ada jarak yang jauh, yang mungkin bisa dijembatani oleh sesuatu yang bernama taqwa.

Namun lagi-lagi, karena secara normatif mengedepankan prasangka itu kurang elok, mungkin lebih baik pertanyaan-pertanyaan tersebut diendapkan dulu.

***

Dari dua tempat yang dikunjungi itu, saya mendapuk kata “asing” menjadi man of the match di perjalanan kali ini. Pada pengelompokan kuburan dan pesantren yang menjauh dari khalayak ramai, menguar aroma keterasingan yang tajam—yang kemudian memicu sederetan pertanyaan.

Tak apa, sebab seperti kata Socrates; hidup yang tak pernah dipertanyakan, tidak layak untuk dilanjutkan. [ ]

 

Foto : Arsip Irfan TP

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.com/2015/03/cikadut-panyandaan-terasing-dalam-hidup.html

Catatan Perjalanan: Pemakaman Cikadut

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Kadut artina beuteung kuat saparti munding (terjemahan kadut di Kamus Basa Sunda R. A. Danadibrata)

Pagi itu, Komunitas Aleut melakukan tema ngaleut yang jarang dijelajahi. Tema ngaleut tersebut adalah ngaleut pemakaman Cikadut. Jadi, rute dan kawasan yang dijelajahi berada di Pemakaman Cikadut.

Cikadut, pemakaman tua di Bandung

Pintu masuk Pemakaman Cikadut

Pintu masuk Pemakaman Cikadut

Sebelum ada peraturan yang mengatur pemakaman, warga Bandung kadang – kadang memakamkan keluarganya di pekarangan rumah. Hal tersebut dilakukan karena ada yang tidak punya uang atau tidak adanya lahan pemakaman.

Setelah ada peraturan yang mengatur pemakaman, semua kuburan yang berada di Banceuy dipindahkan ke pinggiran kota Bandung. Pemakaman bagi orang Belanda dan Eropa berada di Kebon Jahe yang sekarang menjadi GOR Padjadjaran. Pemakaman bagi orang Tionghoa berada di Babakan Ciamis. Sedangkan orang pribumi berada di Astanaanyar, Sirnaraga, Gumuruh, dan Maleer.

Lalu setelah perluasan wilayah kota Bandung, beberapa makam dipindahkan. Perluasan wilayah kota Bandung juga menjadi penyebab dibangunnya Pemakaman Pandu. Salah satunya, beberapa makam Tionghoa yang dipindahkan ke Pemakaman Cikadut.

Jika bertanya mengenai tahun berdiri Pemakaman Cikadut, saya tidak bisa memberikan tahunnya secara pasti. Tapi berdasarkan ngaleut tadi, saya dan Komunitas Aleut menemukan salah satu makam yang telah ada sejak tahun 1909. Sehingga saya bisa menyimpulkan bahwa Pemakaman Cikadut sudah menjadi pemakaman orang Tionghoa sejak 1909.

Makam – makam yang menarik di Cikadut

Makam Tan Djoen Liong

Makam Tan Djoen Liong

Sebelumnya, saya menyebutkan keberadaan makam yang ada sejak tahun 1909. Makam tersebut berlokasi di sebelah kanan dari jalan utama Pemakaman Cikadut. Makam tersebut adalah makam Ong Kwi Nio yang bersebelahan dengan makam Tan Joen Liong, salah satu luitenant Tionghoa di Bandung.

Rumah yang menaungi makam Ong Kwi Nio dan Tan Joen Liong mengingatkan saya akan rumah kolonial di Bandung tahun 1900-an. Hal tersebut terlihat dari dua pilar di beranda dan atap yang khas. Bentuk atap rumah tersebut masih bisa ditemukan di sekitaran Cimahi dan Bandung tengah.

Makam Ibu Djuriah

Makam Ibu Djuriah

Selain makam Ong Kwi Nio dan Tan Joen Liong, terdapat makam yang memiliki nisan khas pemakaman muslim. Makam tersebut adalah milik Ibu Djuriah yang merupakan orang Tionghoa beragama Islam. Sebelah makam Ibu Djuriah, kami menemukan makam yang menurut kuncen adalah makam suami Ibu Djuriah.

Makam bersama di Pemakaman Cikadut

Makam bersama di Pemakaman Cikadut

Setelah berjalan ke arah barat dari makam Ibu Djuriah, kami melihat satu makam yang berbentuk tugu dengan bola di atapnya. Makam tersebut adalah makam bersama satu keluarga. Menurut kang Asep, keluarga yang dimakamkan di sini adalah korban kecelakaan. Terdapat tulisan Makam Bersama Kiauwpau Madja 1 – 12 – 1952 oleh Huachiaolienhui.

Makam Atlantic Park

Makam Atlantic Park

Jika melihat ke atas dari Cikadut bagian bawah, terdapat satu makam besar yang berkubah putih. Makam tersebut tertulis Atlantic Park. Pada bagian belakang makam, kami bertemu dengan kuncen yang menetap dan merawat makam tersebut.

Nisan Ipoh

Nisan Ipoh

Sedikit menerobos makam – makam yang kurang beraturan di Cikadut, kami menemukan satu makam yang memiliki nisan beraksara arab. Makam tersebut milik Ipoh yang meninggal tahun 1991. Walaupun beraksara arab, bentuk makam tersebut sama dengan makam Tionghoa lainnya.

Nisan Yo Soek Gie dan Na Kim Lian

Nisan Yo Soek Gie dan Na Kim Lian

Komunitas Aleut di makam Yo Siok Gie

Komunitas Aleut di makam Yo Siok Gie

Setelah berjalan cukup jauh dari gerbang Cikadut, kami melihat satu makam yang berukuran lebih besar dibanding makam – makam lainnya. Makam tersebut diberi pagar dan dua atap kembar. Makam tersebut adalah makam milik Na Kiem Liam dan Yo Giok Sie.

Yo Giok Sie adalah pemilik dari pabrik tekstil BTN atau Batena di Bandung Timur. Menurut kang Asep, pabrik tekstil BTN telah ada sejak era kolonial Belanda. Pada tahun 1941, Yo Giok Sie membeli pabrik tersebut dari pemerintah kolonial Belanda. Sekitaran pabrik tersebut, terdapat bangunan panjang yang menjadi rumah bagi pekerja pabrik.

Bentuk makam yang khas di Pemakaman Cikadut

Makam berbentuk rahim ibu

Makam berbentuk rahim ibu

Seperti makam yang berada di Pemakaman Pandu, terdapat bentuk khas makam yang berada di Pemakaman Cikadut. Bentuk khas tersebut terlihat dari bentuk makam yang menyerupai rahim ibu.

Terdapat bagian – bagian pada makam di Pemakaman Cikadut. Jika kita lihat dari depan, bagian muka nisan adalah pintu masuk rahim ibu. Sedangkan bagian kiri dan kanan makam terlihat memanjang seperti lengan atau kaki. Selain itu, terdapat dua monumen untuk dewa keberuntungan dan dewa tanah pada makam.

Kremasi bukan keramas!

Bagian muka Krematorium di Pemakaman Cikadut

Bagian muka Krematorium di Pemakaman Cikadut

Jika membaca beberapa buku tentang agama Hindu dan Budha, saya teringat salah satu upacara yang selalu membuat merinding. Upacara tersebut adalah kremasi. Proses kremasi adalah proses pembakaran jenazah atau tulang jenazah hingga menjadi abu. Walaupun sering dilakukan, jenazah masih memiliki pilihan dikremasi atau dikuburkan.

Pada Pemakaman Cikadut, terdapat dua tempat kremasi atau krematorium yang masih aktif. Salah satu krematorium berhasil kami kunjungi. Krematorium tersebut telah berdiri sejak tahun 1967. Terdapat tiga oven pada krematorium tersebut. Selain oven, dua pohon yang mengapit krematorium adalah pohon Bodhi.

Pada saat ngaleut, sedang ada proses kremasi di krematorium. Saya yang termasuk orang penasaran melihat proses kremasi. Saat melihat ke oven, saya masih melihat tulang yang dibakar dengan semprotan api. Perasaan ngeri, mual, dan kaget campur aduk saat melihat proses tersebut.

Pemakaman Cikadut kini dan nanti

Pemakaman Cikadut termasuk pemakaman terbesar di Indonesia atau bahkan Asia Tenggara. Menurut kang Asep, Pemakaman Cikadut memiliki luas hingga 125 Ha. Jika tanah warga terus dibeli untuk makam, masih ada kemungkinan Pemakaman Cikadut makin luas.

Selain makin luas, makam – makam yang berada di Pemakaman Cikadut tergolong berantakan. Makam yang berantakan tersebut mengingatkan saya akan pemakaman Pandu. Oleh karena itu, sepertinya harus ada peraturan yang mengatur letak dan posisi makam agar tidak berantakan.

Sumber Bacaan :

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Wadjah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto

Kamus Basa Sunda karya R. A. Danadibrata

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/03/16/catatan-perjalanan-pemakaman-cikadut/

Mewahnya “Tempat Ngaso” Terakhir Etnis Tionghoa

Oleh: M. Taufik Nugraha (@abuacho)

Memasuki Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, kita akan disuguhi berupa pemandangan kuburan-kuburan yang mewah. Bangunan dengan desain yang menarik dan mewah dibangun di atas lahan kuburan yang boleh dibilang cukup luas, seperti salah satunya foto kuburan yang ada di bawah ini:

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Salah Satu Kuburan Yang Ada di TPU Cikadut

TPU Cikadut sendiri sejatinya merupakan tempat pemakaman bagi orang-orang dari etnis Tionghoa yang beragama Hindu, Budha, ataupun Kong Hu Cu (seperti yang tertera pada plang sebelum masuk TPU Cikadut), namun pas kegiatan ngaleut kemarin, banyak juga saya temui kuburan orang – orang dari suku – suku yang ada di Indonesia, terutamanya suku Batak yang beragama Kristen, dan yang lebih menariknya lagi, saya temui juga kuburan orang Islam di TPU tersebut.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Salah Satu Kuburan Orang Batak Yang Beragama Kristen

Untuk kuburan orang Islam yang ada di TPU Cikadut, saya dan kawan-kawan dari Komunitas Aleut menemukan dua kuburan, dimana yang pertama yaitu kuburannya Ibu Djuhriah.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Kuburan Ibu Djuhriah

 

Ibu Djuhriah sendiri semasa hidupnya merupakan kepala sekolah di SD Priangan, yang dapat kita ketahui dari tulisan yang terdapat pada nisan kuburan tersebut. Awalnya saya menyangka bahwa Ibu Djuhriah ini bukan dari etnis Tionghoa, karena tidak ada keterangan nama China-nya pada nisan kuburan, dan beranggapan beliau merupakan orang yang bertempat tinggal dekat dengan TPU tersebut, sehingga dimakamkan disana. Namun berdasarkan keterangan dari Kang Asep Suryana yang bertindak sebagai guide pada kegiatan ngaleut waktu itu, diketahui Ibu Djuhriah memang seorang muslim dari etnis Tionghoa, akan tetapi tidak diketahui pasti, apakah Ibu Djuhriah ini seorang mualaf atau memang dari lahir sudah memeluk Islam

Secara sekilas, kita dapat dengan mudah memperkirakan bahwa kuburan Ibu Djuhriah ini kuburannya orang Islam, yang bisa dilihat dari bentuk kuburan yang sudah umum kita lihat pada TPU khusus orang beragama Islam, namun untuk kuburan muslim yang satu ini, kita tidak dapat memperkirakannya secara cepat.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Kuburan Muslim dengan Ornamen Khas Tionghoa

Jika kita melihat dari kejauhan, kita tidak akan menyangka bahwa kuburan tersebut merupakan kuburan yang “dihuni” oleh orang yang beragama Islam, karena bentuknya yang menyerupai kuburan-kuburan khas-nya orang Tionghoa yang beragama non-Islam, namun setelah didekati barulah dapat diketahui bahwa kuburan tersebut “diisi” oleh seseorang yang beragama Islam dengan nama Ipoh.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Kuburan Ibu Ipoh

Dari nisan kuburan ibu Ipoh, terdapat tulisan “Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un”, yang menandakan betul bahwa beliau adalah seorang muslim. Selain itu posisi batu nisan terletak di bagian atas (kepala) dan bukannya berada di bagian bawah (kaki) – seperti umumnya bentuk kuburan orang-orang etnis Tionghoa yang beragama non-Islam.

Hal lain yang cukup menarik di kuburan ini adalah masih terdapatnya sebuah tempat untuk persembahan kepada Dewa Bumi dan juga Dewa Langit yang terletak pada bagian kanan dan kiri kuburan serta ditulis menggunakan Bahasa Arab, padahal agama Islam sendiri tidak mengenal konsep dewa.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Tempat Sesembahan Untuk Dewa Bumi Yang Ditulis Dalam Bahasa Arab

 Berdekatan dengan kuburan ibu Ipoh, terdapat kuburan sang suami yaitu Souw Seng Kin, yang nampaknya mempunyai keyakinan yang berbeda dengan ibu Ipoh.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Kuburan Souw Seng Kin – Suami dari Ipoh

Di TPU Cikadut sendiri, terdapat kuburan orang-orang penting yang ada di Bandung , seperti kuburannya Tan Joen Liong, yang meninggal pada tanggal 23 Agustus 1917, atau sudah hampir 100 tahun lamanya kuburan tersebut berada disana.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Nisan Tan Joen Liong (Kapiten Titulair Der Chineezen)

Pada nisan (bongpai) Tan Joen Liong, terdapat tulisan Kapitein Titulair Der Chineeze, dimana berdasarkan hasil penelusuran di internet, Kapitein Titulair sendiri merupakan sebuah gelar kehormatan yang diberikan kepada Tan Joen Liong atas jasa dan pengabdiannya selama bekerja menjadi opsir dengan pangkat letnan yang bertugas di wilayah Bandung dengan masa bakti selama 25 tahun (1888 – 1917).

Dari informasi yang saya dapatkan juga di internet, TPU Cikadut sendiri resminya mulai beroperasi sejak tahun 1918, namun dari satu tahun sebelumnya yaitu tahun 1917 sudah banyak digunakan untuk lahan kuburan, salah satunya kuburan Tan Joen Liong tersebut. Tapi yang menariknya, disamping kuburan Tan Joeng Liong terdapat kuburan sang istri yaitu Ong Kwi Nio, yang pada nisan-nya tertulis bahwa beliau meninggal pada tanggal 13 Desember 1909 atau 8 tahun sebelum lahan tersebut digunakan sebagai lahan pemakaman.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Nisan Ong Kwi Nio – Istri dari Tan Joen Liong

Kemungkinan besarnya kuburan dari istri Tan Joen Liong tersebut merupakan kuburan pindahan, karena berdasarkan penuturan salah seorang warga yang bekerja disana, kuburan yang paling awal memang kuburan-nya Tan Joen Liong tersebut.

Sayangnya kuburan Tan Joen Liong dan istri sudah tidak terawat, dimana banyak coretan-coretan yang menghiasi kuburan tersebut, selain itu atap, pilar, serta bagian-bagian lain dari kuburan tersebut sudah mengalami kerusakan.

Selain Tan Joen Liong, orang penting lainnya yang dikuburkan di TPU ini yaitu Yo Giok Sie pendiri dari PT. Badan Tekstil Nasional yang merupakan pabrik tekstil terbesar di Kota Bandung. Kuburan dari Yo Giok Sie dan istri ini, merupakan salah satu kuburan termewah yang saya lihat di TPU Cikadut.

Masuk ke kuburan ini bagai masuk ke dalam sebuah rumah. Kuburan ini dipagar serta dikunci, dan kita baru bisa masuk setelah mendapat izin dari penjaga kuburan tersebut.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Pagar Kuburan Yo Giok Sie

Gaya bangunan di kuburan ini juga cukup unik, dimana atap-nya seperti sebuah payung bertingkat 2.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Pegiat Aleut di Depan Kuburan Yo Giok Sie Dimana Bentuk Atap Yang Terdapat di Kuburan Tersebut Berbentuk Seperti Payung Bertingkat 2

Antara nisan Yo Giok Sie dengan istri-nya yang bernama M.M. Na Kim Lian, terdapat sebuah ukiran dari batu yang memperlihatkan kondisi bangunan pabrik tekstil yang dimilikinya tersebut.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Gambar dari Ukiran Batu Yang Memperlihatkan Kondisi Bangunan Pabrik Tekstil (PT. BTN) Yang Dimiliki Oleh Yo Giok Sie

Yo Giok Sie sendiri meninggal pada tanggal 19 Desember 1971 pada usia 70 tahun, sedangkan istrinya meninggal pada tanggal 23 Agustus 1963, seperti yang tertera pada bongpai mereka.

Dari kuburan-kuburan mewah tersebut, dapat saya perkirakan bagaimana status sosial dan kondisi ekonomi orang – orang tersebut selama masa hidupnya. Lalu bagaimana dengan orang-orang dari etnis Tionghoa yang kondisi ekonominya tidak sekaya mereka?, salah satu opsi yang dapat ditempuh yaitu melakukan kremasi atau pembakaran mayat sampai menjadi abu, dimana di TPU Cikadut sendiri terdapat tempat kremasi yang bernama Yayasan Krematorium Bandung yang telah berdiri semenjak tahun 1967.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Tempat Kremasi di TPU Cikadut

Beruntung sekali ketika berkunjung ke tempat kremasi tersebut, petugas disana memperlihatkan bagaimana proses pembakaran mayat di dalam sebuah “oven raksasa”, walaupun sebenarnya tidak ada mayat-nya.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

“Oven Raksasa” Tempat Membakar Jenazah

Terdapat dua pilihan dalam proses pembakaran tersebut, apakah hendak menggunakan gas atau menggunakan kayu bakar. Jika menggunakan gas, maka diperlukan waktu antara 3-4 jam, sedangkan jika menggunakan kayu bakar bisa mencapai 8 jam.

Abu hasil pembakaran sendiri dapat disimpan di Menara Abu Umum yang dijaga oleh Pak Zahri yang lebih senang disebut Abang Zahri.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Menara Abu Umum – Tempat Penyimpanan Abu

Hanya terdapat tiga abu yang dijaga oleh Abang Zahri, satu yang disimpan pada sebuah guci, kemudian yang ditanam, dan yang terakhir disimpan pada sebuah lapisan kaca yang sudah dipaku, sehingga sudah tidak dapat dibuka. Mungkin kebanyakan abu hasil kremasi langsung dibawa pulang pihak keluarga, sehingga sedikit sekali abu yang terdapat pada Menara Abu Umum tersebut.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Abang Zahri – Penunggu Menara Abu Umum

Abang Zahri sendiri tinggal di Menara Abu Umum, dimana dia membuat sekat dari sebuah triplek untuk memisahkan antara kamar dia dengan tempat penyimpanan abu. Kebayang ngerinya tidur ditempat penyimpanan abu yang berada di kompleks pemakaman yang cukup besar tersebut.

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Kamar Abang Zahri di Menara Abu Umum

Hal menarik lain yang saya temui selama ngaleut di TPU Cikadut, yaitu romantisme orang – orang Tionghoa yang menurut saya cukup mengerikan. Orang – orang dari etnis Tionghoa nampaknya memang sangat mempersiapkan “tempat ngaso – (tempat peristirahatan)” mereka yang terakhir, dengan mempersiapkan kuburan buat mereka dan orang-orang yang mereka sayangi.

Hal tersebut sebenarnya biasa saja, karena banyak orang Islam juga yang terutamanya mempunyai lahan kuburan sendiri, biasanya menginginkan mereka dikubur berdekatan dengan orang-orang yang mereka sayangi selama masa hidupnya, seperti istri, anak, cucu, ibu, ataupun ayah-nya, tapi yang membuat berbeda dan agak menurut saya agak sedikit mengerikan, pada kuburan orang-orang dari etnis Tionghoa, pada nisannya, nama pasangan mereka (suami atau istri mereka) sudah ikut ditulis, seperti yang terlihat pada kuburan yang dapat dilihat pada foto berikut ini :

tpu cikadut, tpu hindu-budha cikadut, makam cina bandung, makam tionghoa bandung, makam etnis tionghoa, bongpai, makam ibu djuhriah, makam islam di tpu cikadut, makam muslim di tpu cikadut, menara abu umum, tempat kremasi di tpu cikadut, yayasan krematorium bandung, yayasan krematorium bandung di tpu cikadut, ngaleut, aleut, komunitas aleut, makam yo giok sie, makam pendiri pabrik tekstil terbesar di kota bandung, makam pendiri PT. Badan Tekstil Nasional, makam pendiri PT. Batena, makam Tan Joen Liong

Romantisme Yang Mengerikan

Dari foto di atas terlihat bahwa pasangan Bapak Paulus Herman Permana (Oey Kheng Liang) yaitu Ibu Maria Ratnawati (Tan Jauw Gwat), namanya sudah tertera pada nisan walaupun beliau sebenarnya belum meninggal, sesuatu hal yang membuat saya merasa bergidik jika berada di posisi Ibu Maria Ratnawati.

Pengalaman “berwisata” di kuburannya etnis Tionghoa ini benar-benar menambah wawasan saya mengenai etnis Tionghoa di Bandung, terutamanya wawasan mengenai bentuk “tempat ngaso (tempat peristirahatan)” terakhir mereka yang bisa dikatakan mewah, serta menjadi pengingat saya akan kematian.

Catatan :
Jika ada kesalahan nama, tempat, dan sejarah, silahkan koreksi pada bagian kolom komentar. Jika datanya lebih valid, akan saya koreksi secepatnya.

Sumber Foto :
Foto Pribadi

Sumber Tulisan :
Catatan Ngaleut : Ngaleut Cikadut (Minggu, 15 Maret 2015)

TPU Cikadut Jejak Etnis Tionghoa Kota Bandung :
http://m.inilah.com/news/detail/2081876/tpu-cikadut-jejak-etnis-tionghoa-kota-bandung

 

Tautan asli: https://mtnugraha.wordpress.com/2015/03/18/tempat-ngaso-yang-mewah/

Tebing Keraton

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

Pemandangan Dari Tebing Keraton

Sejak 2006 kenal tempat ini dengan nama Cadas Gedogan. Pemandangan dari atas tebing ke arah Maribaya memang bagus, apalagi pagi atau sore hari. Sekarang tempat ini mendapatkan nama baru, Tebing Keraton, yang konon muncul dari sebuah mimpi. Cerita terus berkembang, di antaranya sebagai pusat kerajaan mahluk halus, lokasi tambatan kuda kerajaan yang disebut Batu Gadogan, dan sebuah curug kecil di bawahnya yang bernama Cikiih Kuda.

Sejak Mei 2014 lokasi ini menjadi sangat populer sebagai objek wisata. Sejak dini hari sudah menerima banyak tamu bermobil atau motor yang menunggu matahari terbit, atau sore hari menjelang matahari tenggelam. Pemandangan kabut di bawah lembah atau berkas cahaya matahari jadi objek foto favorit.

Sekarang lokasi ini dikelola oleh Tahura Ir. Djuanda. Untuk masuk dikenakan biaya Rp.11 ribu. Batuan tebing yang menjorok dirapikan dengan beton dan diberi pagar demi keamanan pengunjung. Jalan setapak yang tadinya tanah dan rumput sudah diberi semen dan dibangun pula sebuah gapura, mengesankan gapura keraton.

Di sisi jalan utama Ciharegem Puncak sudah muncul banyak warung, salah satunya memasang spanduk dengan tulisan “Kampung Keraton”. Digelar pula kegiatan-kegiatan budaya Sunda. Saya coba cari satu rumah petani yang dulu biasa saya singgahi bila lewat kawasan ini, ternyata tak berhasil saya temukan, mungkin karena saya pangling dengan suasana baru yang ada.

Di dekat lokasi ini masih terdapat makam keramat Embah Gembong yang dianggap sebagai leluhur Kampung Ciharegem. Di salah satu puncak bukit di bawah lembah ini juga masih terdapat makam keramat yang walaupun cukup terpencil namun masih dikunjungi peziarah. Untuk menuju makam keramat ini harus mengambil jalan dari arah Maribaya.

Catatan Perjalanan: Kerkhof Kebon Jahe

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

dia yang pulang dan tak akan kembali

Menyambung dengan tema ngaleut Komunitas Aleut yakni Basa Bandung halimunan. Dalam buku Basa Bandung Halimunan, Us Tiarsa menceritakan kenangannya di salah satu kerkop di Bandung. Kerkop tersebut adalah Kerkhof Kebon Jahe.

Makam, Kerkhof dan Bandung tempo doeloe

Sebagai pengenalan, kata Kerkhof berasal dari bahasa Belanda tua yang berarti pemakaman. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa Kerkhof berarti dibelakang gereja atau pekarangan di belakangan gereja.

Ada suatu masa yang menjuluki Bandung sebagai kinderkerkhof. Bandung mendapat julukan demikian karena tingkat kematian balita yang tinggi saat itu. Balita yang meninggal biasanya dikubur di pekarangan atau kebun. Hal tersebut terjadi sebelum lahirnya bouwverrordening van Bandoeng atau undang – undang pembangunan kota Bandung.

Setelah ada undang – undang pembangunan kota Bandung, warga Bandung tidak boleh memakamkan kerabatnya di pekarangan atau kebun. Pemerintah menyediakan kuburan baru atau Astana Anyar untuk warga Bandung dan Karang Anyar untuk menak Bandung. Lalu Kerkhof tertua berada di Jalan Banceuy.

Setelah perluasan kota Bandung, Kerkhof di Jalan Banceuy mulai dibagi menjadi dua. Makam – makam orang Tionghoa dipindahkan ke Babakan Ciamis. Sedangkan makam – makam orang Eropa dipindahkan ke Kerkhof Kebon Jahe yang sekarang menjadi GOR Padjadjaran.

Kerkhof Kebon Jahe dalam kenangan

Dalam buku Basa Bandung Halimunan, Us Tiarsa menyediakan satu bab khusus yang menceritakan Kerkhof Kebon Jahe. Pada bab tersebut, Us Tiarsa menceritakan mengenai kenangan masa kecilnya di kerkop tersebut. Selain kenangan masa kecil, Us Tiarsa menceritakan kondisi dan keadaan sekitar di Kerkhof Kebon Jahe dalam bukunya.

Kerkhof Kebon Jahe yang berlokasi di Jalan Padjadjaran termasuk Kerkhof yang luas di Bandung. Sama seperti orang Pribumi dan Tionghoa, terdapat pembagian status dalam Kerkhof Kebon Jahe. Pembagian tersebut menjadi tiga kelas. Kelas satu berada di utara kerkop. Kelas dua berada agak selatan dari kelas satu. Kelas tiga berada paling selatan kerkop.

Dikarenakan berfungsi sebagai pemakaman orang Eropa, kesan rapi dan bersih masih bisa dilihat di Kerkhof Kebon Jahe. Walaupun mayoritas orang Belanda dan Eropa telah pulang ke negaranya, Kerkhof Kebon Jahe masih dirawat dan dibersihkan oleh penjaganya. Saking rapinya, Kerkhof Kabon Jahe sering dipakai oleh warga sekitar Kebon Kawung dan Wastukencana sebagai tempat bersantai.

Mausoleum Ursone di Pandu

Khusus untuk anak kecil, Kerkhof Kebon Jahe sering dipakai untuk tempat bermain. Beberapa anak kecil akan bermain petak umpet atau kejar – kejaran di Kerkhof Kebon Jahe. Selain menjadi tempat bermain, biasanya anak – anak akan memungut marmer – marmer yang lepas dan dijadikan kelereng. Marmer – marmer yang dipungut tersebut kemudian digiling oleh palu untuk menjadi bubuk marmer yang akan dipakai untuk kerajinan anak – anak tersebut.

Jika anak kecil menjadikan Kerkhof Kebon Jahe sebagai tempat bermain, orang dewasa menjadikan Kerkhof Kebon Jahe menjadi tempat bersantai. Kita akan menemukan orang dewasa yang bermain catur atau bersantai di Kerkhof Kebon Jahe. Bahkan kita bisa menemukan orang berpacaran di Kerkhof Kebon Jahe.

Dalam buku Basa Bandung Halimunan, Us Tiarsa menceritakan bahwa ada mandor yang menjaga Kerkhof Kebon Jahe. Mandor tersebut bernama Mandor Atma. Mandor Atma tinggal di dalam kerkop, dekat pintu masuk kerkop. Dikarenakan bertugas sebagai mandor, Mandor Atma terkenal sering menangkap anak kecil yang merusak kerkop.

Kerkhof Kebon Jahe tempo kini

Sayang seribu sayang, tempo kini, kita tidak bisa melihat Kerkhof Kebon Jahe dalam bentuk pemakaman yang besar. Pada tahun 1973, Kerkhof Kebon Jahe digusur dan dijadikan GOR Padjadjaran. Penggusuran tersebut tidak dilakukan secara sistematis. Oleh karena itu, banyak nisan – nisan yang hilang di Kerkhof Kebon Jahe.

Nisan Elisabeth di Jalan H. Mesrie

Jika kita ingin melihat beberapa nisan Kerkhof Kebon Jahe, kita bisa menemukannya di dua tempat. Kita akan menemukan nisan Elisabeth Adriana Hinse di sekitaran Ciguriang, Jalan H. Mesrie dan nisan  Anna Maria de Groote di Museum Sri Baduga.

Sebagai penutup tulisan, saya mulai menyadari bahwa melalui makam, kita bisa menelusuri eksistensi seseorang dan mengetahui perkembangan tata kota. Jika kita mulai melihat penempatan pemakaman yang mulai acak – acakan, saat itulah kita mengetahui bahwa tata kota sudah mulai diabaikan.

Sumber Bacaan :

Basa Bandung Halimunan karya Us Tiarsa

Wadjah Bandoeng Tempo doeloe karya Haryoto Kunto

mooibandoeng.wordpress.com

aleut.wordpress.com

Sumber Foto :

@komunitasaleut

media-kitlv.nl/all-media

 

Tautan asli: http://catatanvecco.wordpress.com/2014/09/29/catatan-perjalanan-kerkop-kebon-jahe/

Komunitas Aleut Temukan Batu Nisan Oeij Bouw Huen

Ria Indhryani – 26 Maret 2014, 21:03 WIB

Bisnis.com, BANDUNG–Komunitas Aleut menemukan sebuah batu nisan yang merupakan kuburan seorang Letnan dari Negara China yang bernama Oeij Bouw Huen pada salah satu daerah pemukiman Kelurahan Babakan Ciamis, Bandung.

Ridwan Hutagalung, Pembina Komunitas Aleut, mengungkapkan pihaknya menemukan makam Oeij Bouw Huen ini pada Sabtu lalu ketika menyusuri Cikapundung untuk mencari informasi tentang bencana banjir di Kota Bandung yang besar dan terjadi pada tahun 1945.

“Saya tidak sengaja menemukannya dan kebetulan juga area ini dulunya merupakan area pemakaman China pindahan dari Oude Kerkhoff (Sentiong), sehingga tidak aneh bila ditemukan sebuah batu nisan area pemukiman ini. Namun, yang menarik adalah ternyata batu nisan ini milik seorang Letnan dari Negeri China,” katanya, Rabu (26/3/2014).

Pada nisan yang menempel di sebuah rumah warga tersebut terpampang tulisan ‘Luitenant Oeij Bouw Hoen 1882. Namun sayangnya, pusara dari makam tersebut sudah tidak terlihat, bahkan tertumpuk bebatuan.

Ridwan mengungkapkan Oeij Bouw Hoen merupakan Letnan China pertama yang ada di Kota Bandung dan pastinya merupakan orang pilihan dengan berbagai kriteria sempurna pada jaman Pemerintahan Hindia Belanda.

Beberapa warga sekitar bahkan tidak memiliki banyak informasi tentang sejarah dari batu nisan tersebut.

“Seharusnya, batu nisan tersebut dijadikan sebuah situs sejarah yang dijaga, bukan dibiarkan seperti ini sehingga informasi tentangnya kurang jelas. Tentu nisan sejarah seperti ini hanya salah satu dari sekian banyak.” (K31/ija)

Tautan asli: http://bandung.bisnis.com/read/20140326/45759/505187/komunitas-aleut-temukan-batu-nisan-oeij-bouw-huen

Menggali Sejarah Perkembangan Kota dari Permakaman di Kota Bandung

Oleh: Ariyono Wahyu

Permakaman merupakan salah satu fasilitas/perlengkapan sebuah kota yang penting. Bila mereka yang hidup membutuhkan kompleks permukiman sebagai tempat tinggal untuk bernaung, maka mereka yang telah “berpulang ke keabadian” juga membutuhkan tempat untuk move on menuju kehidupan selanjutnya.

Ternyata, melalui permakaman, kita juga dapat menggali sejarah perkembangan sebuah kota. Berikut ini adalah cerita mengenai permakaman yang saya baca di buku-buku yang membahas kota  Bandung. Dalam buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” karya Haryoto Kunto, ada disebutkan istilah kerkhof yang artinya kuburan. Kerkhof adalah kata kuno dalam bahasa Belanda untuk permakaman. Kerkhof Belanda tertua di kota Bandung terdapat di ruas Jl. Banceuy sekarang, dulu lokasinya disebut Sentiong. Ternyata kata Sentiong yang berasal dari bahasa Cina juga bermakna kuburan. Cukup lama bekas Sentiong di Jl. Banceuy ini ditempati oleh sebuah Pasar Besi, tapi sekarang lokasi itu sudah tidak ada dan di atasnya didirikan bangunan pertokoan baru. Sampai paruh pertama abad ke 19, batas utara kota Bandung baru sampai di daerah  Jl.  Suniaraja sekarang ini, jadi tidak mengherankan bila di pinggiran kota ini dulu terdapat permakaman.

Kerkhof di Jl. Banceuy sering disebut bergantian dengan Sentiong karena di dalamnya tidak hanya terdapat permakaman orang Belanda, melainkan juga orang keturunan Cina. Salah satu warga kota terkemuka yang dimakamkan di Sentiong adalah Asisten Residen Carl Wilhelm August Nagel. Ia tewas dalam huru-hara Munada pada akhir tahun 1845. Akibat kerusuhan ini pasar kota (pasar lama di Ciguriang) terbakar dan akibatnya kota Bandung tidak memiliki pasar hingga dibangunnya Pasar Baru di awal abad ke 20.

Kerkhof Sentiong di Jl. Banceuy eksis hingga akhir abad 19. Saat itu suasana sekitar permakaman sungguh sunyi, apalagi bila hari sudah malam. Warga yang bermukim di daerah utara kota, sepulang dari menikmati hiburan atau keramaian malam di sekitar Alun-alun akan menghindari daerah Jl. Banceuy tempat kerkhof berada. Suasana yang sepi dan gelap membuat tidak nyaman, mereka akan memilih melewati jalan yang agak memutar melalui daerah Pecinan di belakang Pasar Baru yang selalu ramai hingga pagi hari.

Dalam perkembangan berikutnya, batas utara kota Bandung bergeser ke daerah Jl. Pajajaran sekarang. Permakaman Sentiong harus dipindahkan untuk menyesuaikan dengan perkembangan kota. Kuburan-kuburan warga etnis Cina dipindahkan ke daerah Babakan Ciamis. Lalu ruas jalan lama bekas Sentiong dinamai Oudekerkhofweg atau Jalan Kuburan Lama.

Tampaknya hingga tahun 1950-an permakaman Cina di daerah Babakan Ciamis masih ada, seperti yang ditulis oleh Us Tiarsa dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan”. Menurut Us, makam-makam Cina yang disebut dengan Bong terletak di lembah antara daerah Cicendo dengan Kebon Kawung. Di sana terdapat pintu air sungai Ci Kapundung yang sering dijadikan lokasi bermain dan berenang anak-anak dari daerah Cicendo dan Babakan Ciamis. Walaupun daerah Bong tersebut terkenal angker karena banyaknya anak-anak terbawa hanyut saat Sungai Ci Kapundung meluap, namun tetap saja menjadi tempat berenang favorit bagi anak-anak pada masa itu.

AstanaanyarSebuah makam keluarga di tengah kompleks permakaman Astanaanyar. Foto: mooibandoeng.

Sementara itu, kuburan-kuburan orang Eropa juga dipindahkan dari Sentiong ke kerkhof di Kebon Jahe, di lokasi yang sekarang ditempati oleh GOR Pajajaran. Periode ini berlangsung saat jabatan Asisten Residen Priangan dijabat oleh Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898 ia mendirikan wadah untuk menyalurkan partisipasi serta aspirasi warga kota yaitu Vereeniging tot nut van Bandung en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan sekitarnya. Upaya organisasi ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan fasilitas kota, di antaranya adalah pembukaan jalur-jalur jalan, perumahan, pembangunan sarana pendidikan, dan pembangunan Pasar Baru. Di Bidang sosial, organisasi ini mendirikan perkumpulan yang bertugas untuk mengurusi masalah kematian, organisasi ini pula yang memindahkan Kerkhof Sentiong. Untuk permasalahan yang berhubungan degan kematian, perkumpulan ini menyediakan kereta jenazah. Kereta jenazah ini adalah kereta kuda beroda empat yang ditarik oleh empat ekor kuda putih. Model kereta jenazah ini seperti ranjang kuno dengan kelambu berwarna hitam.

Pada awal abad ke-20 kota Bandung sempat dikenal dengan julukan yang menyeramkan yaitu Kinderkerkhof (kuburan anak-anak), ini terutama akibat wabah kolera pada tahun 1910. Tingkat kematian anak terhitung tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Suasana kota Bandung sebelum tahun 1917 pun tak kalah menyeramkan, kuburan atau makam dapat dengan mudah ditemukan di pekarangan, di samping, di belakang rumah atau di kebun-kebun warga. Praktis tak ada aturan mengenai makam-makam ini. Keadaan ini ditertibkan pada tahun 1917 dengan dikeluarkannya Bouwverrordening van Bandung (Undang-Undang Pembangunan Kota Bandung). Sejak dikeluarkannya aturan ini pemakaman jenazah harus dilakukan di tempat yang telah ditentukan, yaitu di komplek permakaman, seperti untuk warga muslim yang ditempatkan di permakaman Astana Anyar (Kuburan Baru).

101_0062Sebuah makam di tengah gang umum di kawasan Cihampelas. Foto: Hani Septia Rahmi.

Sebenarnya urusan permakaman telah menjadi tugas dan kewajiban pemerintah kota setelah Bandung memperoleh status Gemeente (Kotapraja) yang berarti menjadi daerah otonomi, kota yang dapat mengurus, mengatur, dan mengelola beberapa macam wewenang sebagaimana rumah tangga sendiri. Pengesahan tersebut terjadi pada tanggal 1 April 1906, melalui perundang-undangan tanggal 21 Februari 1906 dan 1 Maret 1906. Pengesahan dilakukan oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutz. Saat itu Residen Priangan dijabat oleh G.A.F.J. Oosthout, Asisten Residen oleh E.A. Maurenbrechter, dan bupati dijabat oleh R.A.A. Martanagara. Semuanya berkedudukan di Bandung.

Dalam perundang-undangan itu diatur mengenai tugas dan kewajiban Gemeente, di antaranya adalah: pembuatan dan pemeliharaan perkuburan umum Islam maupun Kristen di dalam wilayah Gemeente Bandung. Juga menyelenggarakan kuburan Cina di luar kota (Gemeente). Setelah status kota Bandung diubah menjadi Stadsgemeente dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 27 Agustus 1926 No.3 (Staatsblad 1926 No. 369), kota Bandung tidak lagi dikepalai oleh Asisten Residen, ini terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1926. Sejak saat itu yang menjadi pemimpin dalam mengurus kota adalah seorang walikota/Burgemeester.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya walikota membaginya kepada 3 orang Pembantu Walikota/Wethouders, yang terdiri dari seorang berkebangsaan Belanda, Bumiputra dan Cina. Salah satu tugas Wethouder adalah mengurus kuburan bagi bangsa mereka, maksudnya untuk Wethouder berkebangasaan Belanda kebagian tugas mengurus kuburan Kristen/Eropa (Europeesche begraafplaatsen), bagi Wethouder Bumiputera mengurus kuburan Islam (Mohammedaansche begraafplaatsen), demikian pula dengan pembantu walikota beretnis Cina memiliki tugas mengurus kuburan Cina (Chineesche begraafplaatsen).

IMG-20140312-WA0017Makam keluarga Ursone di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Kerkhof Kebon Jahe didirikan dalam masa yang sama degan Pabrik Kina yang terletak di sebelah timurnya. Kira-kira tahun 1896. Ada banyak tokoh kota dimakamkan di sini, salah satunya adalah  Dr. C.H. Westhoff (pendiri Rumah Buta yang lokasinya berada di seberang kerkhof), familie Ursone dengan mausoleumnya yang bergaya barok berlapis batu marmer Carrara. Tak mengherankan, salah satu anggota keluarga pemilik peternakan sapi Ajax di Lembang ini juga memiliki perusahaan Carrara Marmerhandel en–bewerking. Pengelola perusahaan yang terletak di Bantjeuj itu adalah  A. Ursone.

Setidaknya ada 16 orang lainnya yang memiliki hubungan dengan perkembangan kota Bandung dimakamkan di Kerkhof Kebon Jahe. Siapa saja ya?

Cerita mengenai kerkhof Kebon Jahe, juga ditulis dalam buku “Basa Bandung Halimunan” karya Us Tiarsa. Buku ini berkisah mengenai pengalamannya hidup di Bandung pada tahun 1950-60an. Dalam buku yang berbahasa Sunda ini Pak Us bercerita tentang pembagian kelas-kelas makam. Kelas 1 makamnya besar-besar dan terletak paling utara, dekat dengan ke jalan raya (Jl. Pajajaran). Makam-makam dihiasi porselen serba mengilap. Makam lain dilapisi marmer yang tebal berbagai warna, ada yang putih, kehijauan, atau kekuningan. Makam-makam di kelas 1 dilengkapi hisan berupa patung malaikat, bidadari, atau patung Yesus. Ukurannya beragam, mulai dari sebesar orang dewasa hingga ke ukuran terkecil seukuran tangan anak kecil. Pot dan vas kembangnya bagus terbuat  dari bahan porselen, gelas, marmer, atau kuningan. Tak ada yang berbahan gerabah.

Makam kelas 2 terletak agak ke sebelah selatan, kebanyakan hanya menggunakan batu granit dan tanpa penutup. Kadang ada yang ditutupi memakai beton namun tak sekokoh penutup beton yang menaungi makam-makam di kelas 1. Sedangkan makam kelas 3 terletak paling selatan. Makam-makam di area ini kebanyakan bahkan tanpa nisan.

Di tahun 1950an-60an Pak Us Tiarsa tinggal di Kebon Kawung, tak jauh dari kerkhof tersebut. Katanya, setelah masa kemerdekaan pun kerkhof Kebon Jahe adalah permakaman yang tetap terpelihara dan bersih, rumputnya tertata rapi dan dipotong secara teratur. Di dalam area permakaman terdapat jalan berbatu, malah ada juga yang menggunakan marmer. Tanamannya mulai dari kacapiring, cempaka gondok dan cempaka cina, serta pohon kamboja. Tak heran bila warga yang bermukim di derah Kebon Kawung, Nangkasuni, Torpedo, Merdeka Lio, Cicendo, atau Rumah Buta, kerkhof Kebon Jahe menjadi tempat bermain dan bersantai. Tak hanya anak-anak kecil, bahkan hingga orang dewasa meluangkan waktu senggangnya dengan bercengkrama di dalam area permakaman ini.

Salah satu kegiatan anak-anak adalah mengumpulkan potongan marmer dari makam. Potongan marmer yang besarnya seukuran jempol kaki dibuat kelereng dengan membentuknya menggunakan golok yang tumpul. Walaupun pada akhirnya kelereng tersebut tidak sepenuhnya bundar, namun sudah cukup bagi anak-anak untuk menggunakannya dalam permainan poces. Kegiatan lainnya yang dilakukan anak-anak kecil dalam area permakaman ini adalah mengumpulkan bubuk marmer yang kemudian dihaluskan menggunakan palu. Bubuk ini digunakan untuk mengilapkan kerajinan tangan dari buah kenari atau tempurung buah kelapa.

Aturan di permakaman ini sebenarnya melarang warga umum masuk ke dalam area kerkhof. Sekeliling area kerkhof dipagari dengan kawat berduri dan pagar hidup dari tanaman seperti kembang sepatu, pringgandani, kacapiring, dan enteh-entehan. Kerkhof Kebon Jahe dijaga oleh banyak penjaga dan dikepalai oleh seorang mandor yang terkenal galak, namanya Mandor Atma. Ia tinggal dekat gapura pintu masuk permakaman di sisi sebelah utara kerkhof (Jl. Pajajaran).

Kerkhof Kebon Jahe akhirnya digusur pada akhir tahun 1973. Sayang pembongkarannya tidak sistemastis, asal bongkar dan kadang dengan membuldoser makam-makam yang ada, akibatnya banyak artefak bersejarah yang hilang. Padahal sebetulnya banyak yang bisa dipelajari dari peninggalan-peninggalan di permakaman. Sebagai contohnya adalah bukti otentik kedatangan orang Belanda di daerah sekitar Bandung pada pertengahan tahun 1700-an dapat dilihat dari batu nisan Anna Maria de Groote, putri Sersan de Groote. Anna meninggal saat masih berusia 1 tahun, yaitu pada tangal 28 Desember 1756. Nisan makamnya pernah ditemukan di Dayeuh Kolot. Tapi sayangnya, makam ini pun entah bagaimana nasibnya sekarang.

Tahun 1932, kota Bandung memiliki kompleks permakaman baru bagi orang Eropa (Nieuwe Europeesche Begraafplaats) yaitu kompleks permakaman yang kini lebih kita kenal dengan sebutan Permakaman Pandu. Bila kita cermati, permakaman Pandu masih menyimpan banyak cerita, di antaranya makam laci. Makam ini berbentuk layaknya laci-laci dikamar jenazah/koroner. Lalu ada makam penerbang yang meninggal karena pesawatnya jatuh, ini juga menandakan masih begitu berbahayanya transportasi udara kala itu.

IMG-20140312-WA0014Makam penerbang di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Copy of SAM_5620BMakam Raymond Kennedy di Pandu. Foto: A13Xtriple.

Banyak makam tokoh yang memilliki hubungan dengan sejarah perkembangan kota Bandung seperti Ir. C.P. Wolf Schoemaker, mausoleum keluarga Ursone yang merupakan pindahan dari kherkhof Kebon Jahe, atau makam Profesor Raymond Kennedy, sorang guru besar dari Universitas Yale yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Raymond Kennedy dibunuh oleh kelompok tak dikenal di daerah Tomo, Sumedang, dalam perjalanan penelitiannya ke Jawa Tengah bersama Robert Doyle, sorang koresponden bagi  majalah Times dan Life. Pembunuhan kedua warga negara Amerika ini menarik perhatian hingga ke pucuk pimpinan Indonesia, salah satunya adalah Bung Hatta yang berjanji akan menemukan kedua pembunuh warga negara Amerika ini. Di kompleks permakaman Pandu terdapat pula kompleks permakaman terpisah khusus bagi tentara KNIL, Ereveld Pandu. Wilayah permakaman ini merupakan wilayah dari Negeri Belanda.

Copy of SAM_5357BMakam Elisabeth Adriana Hinse Rieman di Ciguriang. Foto: A13Xtriple.

Pembongkaran Oude Europeesche Begraafplaats atau Kerkhof Kebon Jahe pada tahun 1970an berlangsung tidak sistematis, banyak kuburan didalam kompleks permakaman Kerkhof Kebon Jahe yang asal saja dibongkar. Sebagian memang dipindahkan ke Permakaman Pandu, tapi sebagian lain rusak begitu saja. Mungkin bukti tidak tertibnya proses pembokaran makam ini dapat kita lihat pada sebuah nisan batu granit atas nama Elisabeth Adriana Hinse Rieman. Nisan berusia 110 tahun ini dipakai penduduk sekitar mata air Ciguriang sebagai batu alas mencuci pakaian.

Copy of SAM_5321BMulut jalan H. Mesrie. Foto: A13Xtriple.

Tak jauh dari mata air Ciguriang terdapat pula makam keluarga saudagar Pasar Baru dan tuan tanah di daerah Kebon Kawung, keluarga H. Moh. Mesrie. Nama Mesrie diabadikan menjadi nama jalan menggantikan Rozenlaan. Kekayaan yang didapat dari usahanya dibelikan tanah-tanah persil di daerah Kebon Kawung. Makam-makam keluarga saudagar Pasar Baru lainnya tersebar di daerah Cipaganti, Sukajadi, Jl. Siti Munigar, Jl. Karanganyar, dan Jl. Kresna.

Kota Bandung tidak memiliki Taman Prasasti seperti yang terdapat di Jakarta, di bekas permakaman lama yang juga bernama Kebon Jahe. Kedua tempat dengan nama sama ini ternyata memiliki nasib yang berbeda. Setelah tidak berfungsi lagi, kerkhof Kebon Jahe Jakarta naik derajatnya menjadi museum bagi nisan-nisan dari masa lalu kota Jakarta. Dari tempat yang sebelumnya ditakuti menjadi tempat bergengsi untuk berfoto, sedangkan nisan-nisan makam di kherkhof Kebon Jahe Bandung hilang ditelan bumi.

Sumber :
Haryoto Kunto “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (1984) Pernerbit PT Granesia Bandung
Haryoto Kunto “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (1986) Pernerbit PT Granesia Bandung
Us Tiarsa R “Basa Bandung Halimunan” (2011), Penerbit Kiblat
Sudarsono Katam “Bandung; Kilas Peristiwa di Mata Filatelis”(2006),  Penerbit Kiblat