Kelas Literasi: Sekilas Tionghoa Lewat Tiga Buku

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Buku-buku di Kelas Literasi Tionghoa
Buku-buku di Kelas Literasi Tionghoa

Di Indonesia, hidup banyak orang Tionghoa. Kehidupan mereka berada di tengah-tengah kehidupan kita. Di tengah-tengah keberadaan kita, mereka hidup dengan memegang teguh kebudayaan, kepercayaan, dan tradisi mereka.

Tapi, apa kita orang Indonesia mengenal mereka? Mengenal asal muasal kebiasaan mereka? Atau peradaban mereka? Atau yang buat pusing jika diperbincangkan, yakni kepercayaan mereka?

Kalau boleh saya mengutip perkataan Nio Joe Lan dalam buku “Peradaban Tionghoa Selayang Pandang”, maka saya akan jawab umumnya tidak banyak.

Tapi untuk apa mengenal mereka, peradabannya, kebudayaan dan seluruh pegangan-pegangan yang telah ada sejak nenek moyang? Baca lebih lanjut

Mengais Sampah Demi Rupiah

Oleh: Willy Akhdes (@willyakhdes)

Mengais sampah demi rupiah

Awan hitam yang sedari tadi menggantung di langit Kota Bandung akhirnya tumpah menjadi hujan. Bulir-bulirnya jatuh bergulir dari angkasa, mengencingi segala sesuatu di bawahnya, termasuk hamparan rumput sintetis Alun-Alun Kota Bandung. Seorang pria setengah baya yang dari tadi menggeledah tiap-tiap tong sampah yang ada di pinggir taman itu harus segera menepi ke sebuah bangunan untuk berteduh. Dengan bergegas, ia menyeret sebuah kantong plastik besar yang dari tadi dibawanya.
Heru Santoso, anggaplah namanya begitu, mulai membongkar kantong plastik besar bawaanya sambil menunggu hujan reda. Ia memilah barang-barang hasil pungutannya, memisahkan antara benda-benda plastik dengan kaleng dan kertas. Hasil pungutannya hari ini belum seberapa, tidak lebih dari 4 kilogram. Dengan harga beli barang bekas dan rongsokan plastik, kertas dan kaleng di pengepul sekitar Rp 2.000 – Rp 2.500 per kilogram, maka pendapatannya hari itu tidak lebih Rp 10.000. Jika tong dan bak sampah yang rutin tiap hari dibongkarnya itu sedang berbaik hati, biasanya ia mendapatkan penghasilan sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000 tiap harinya. Musim liburan dan akhir pekan, disaat produksi sampah meningkat, adalah masa panen baginya. Namun, musim penghujan begini seringkali mempersingkat jam kerja, yang akhirnya ikut menurunkan produktivitasnya.

Baca lebih lanjut

Apa yang Saya Ketahui Soal Jurnalisme

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Bekal wawasan saya tentang jurnalisme adalah dari kuliah di University of Amsterdam, meski cuma ngambil Introduction to Communication Science, mata kuliah dasarnya komunikasi massa, dan ini hanya kuliah online di Coursera–saya juga ikut ambil filsafat dasar di University of Edinburgh, tapi enggak sampai tuntas. Yang saya dapat dari kuliah tadi adalah tentang sejarah komunikasi massa, bahwa komunikasi yang asalnya hanya milik penguasa, menjadi milik publik lewat yang namanya jurnalisme ini. Jika ditarik kebelakang, awal ketertarikan saya pada jurnalisme itu berkat pertama kalinya punya kamera DSLR, mula-mula belajar fotografi, tertarik dengan human interest, tentang memotret interaksi manusia yang merupakan satu topik dalam bidang jurnalistik, kemudian timbul juga keinginan sinting jadi jurnalis perang setelah nonton The Bang Bang Club. Dari fotografi, minat saya bergeser ke sastra, karena sadar bahwa bagaimanapun menggeluti fotografi butuh dana enggak sedikit, berbeda dengan menulis. Dari sini saya berkenalan dengan yang namanya jurnalisme naratif atau jurnalisme sastrawi. Baca lebih lanjut

Mengenal Blok Tempe Bersama Komunitas Aleut

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Minggu (6/11/2016), saya bersama Komunitas Aleut berkesempatan untuk mengunjungi Blok Tempe. Komunitas Aleut adalah sekelompok anak muda yang punya minat terhadap sejarah dan pariwisata, khususnya di Kota Bandung. Komunitas ini berdiri tahun 2006, dan sampai sekarang masih konsisten berkegiatan. Tiap pekannya, minimal mereka punya empat kegitaan rutin, yaitu: nonton film bareng (Selasa), Kamisan yang isinya konsolidasi internal (Kamis), Kelas Literasi (Sabtu), dan Ngaleut (Minggu).

Ngaleut diambil dari kata “aleut”, yaitu sebuah kata dalam bahasa Sunda yang artinya berjalan beriringan, persis seperti kalau kita berjalan di pematang sawah. Mengapa dinamakan demikian? Hal ini karena kegiatannya adalah mengunjungi setiap pojok Kota Bandung dengan cara berjalan kaki. “Karena dengan berjalan kaki, kita bisa melihat lebih banyak tempat yang sering terlewatkan kalau kita memakai kendaraan,” terang Arya Vidya Utama, salah seorang koordinator komunitas tersebut. Maka dengan berjalan kaki pulalah, Minggu itu, kami berkunjung ke Blok Tempe.

Blok Tempe adalah sebuah kampung kota yang sudah cukup lama menjadi populer setelah Ridwan Kamil (Walikota Bandung sekarang), bersama pemuda setempat melakukan banyak kegiatan posistif yang bersifat sosial. Secara administratif, Blok Tempe berada di Kelurahan Babakan Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler. Kampung kota ini mulanya dikenal sebagai daerah tempat tinggal para mantan narapidana yang dipandang sinis oleh warga sekitar. Sampai sekarang, banyak pemudanya yang bertato: sebuah simbol yang kerap diidentikkan dengan premanisme. Baca lebih lanjut

Rasia Bandoeng: Skandal Terlarang 100 Tahun Silam

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Liefde Is Bliend” artinya cinta itu buta, entah sudah berapa banyak film dan buku yang mengambil tema tersebut. Demi cinta, Romeo bahkan berani menenggak racun karena ingin menyusul Juliet yang berpura-pura mati demi dirinya. Tak perlu jauh-jauh datang ke Verona untuk menelusuri kisah cinta buta yang melegenda itu, karena Bandung pun memiliki kisah cinta yang serupa, bahkan pernah hadir secara nyata. Kisah tersebut terangkum dalam novel berjudul “Rasia Bandoeng” yang terkubur 100 tahun lamanya.

Rasia Bandoeng menceritakan kisah seorang Hilda Tan, gadis belia putri kesayangan pengusaha kaya yang tersohor di Kota Bandung yaitu Tan Djia Goan. Pada usianya yang menginjak masa remaja, rupanya ia jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Tan Tjin Hiauw. Percintaannya tak berjalan dengan mulus, karena sang pemuda berasal dari marga yang sama dengan dirinya, sehingga mendapat pertentangan dari sang Ayah. Pertentangan inilah yang menjadikan kisah cinta mereka menarik untuk diikuti. Dan dari kisah mereka inilah terungkap bahwa ternyata di jaman dahulu percintaan antara sesama marga dalam etnis Tionghoa itu tidak diperbolehkan.

Latar waktu dan tempat yang diceritakan di Rasia Bandoeng adalah nyata terjadi di Kota Bandung pada tahun 1912-1917. Berbagai tempat kejadiannya diceriterakan dengan sangat detail oleh sang penulis, bahkan sebagian foto tempat serta beberapa foto tokohnya dilampirkan di beberapa halaman.  Dari penuturan si penulis ini mengenai latar tempat, kita dapat mencoba menelusuri jejak cerita dalam novel, dan membandingkannya dengan kondisi saat ini.

Awalnya saat membaca sekilas Novel Rasia Bandoeng ini, saya sempat khawatir bahasanya yang menggunakan bahasa melayu klasik akan menyulitkan dalam mencerna isi cerita, namun ternyata penggunaan bahasa melayu jadul itu menjadi aspek menarik dalam buku ini. Dalam percakapan antar tokoh dalam novel terdapat pula celetukan berbahasa Sunda yang bagi saya memperpendek jarak waktu 100 tahun cerita tersebut, karena pada dasarnya bahasa Sunda yang digunakan tak terlalu jauh berbeda dengan yang saya gunakan pada jaman sekarang.

Rasia Bandoeng ini memuat banyak sekali kosa kata lama yang menjadi pengetahuan baru karena sudah tak dipergunakan lagi di jaman sekarang. Baca lebih lanjut

Americano, Indocafe dan Secangkir Sepi

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

coffee

1

Bisa saja saya menikamnya dengan pisau dapur, dan yang ia perbuat justru membalas senyum. Mungkin sedikit meringis, dengan tetap penuh jatmika. Sikap kalem yang hanya dimiliki para bestari, ketenangan yang serupa permukaan kopi yang sering ia bikin. Selepas maghrib, bersama saya sebagai seorang teman ngobrol yang payah, entah kenapa perbincangan kami mengarah soal perbedaan Americano dengan long black. Saya sendiri lupa penjelasannya, keduanya sama-sama kopi berair, hanya berbeda soal mana yang pertama dimasukan, air dulu, atau kopi dulu. Dia lalu bertanya tentang siapa saja penulis yang suka ngopi. Hmm, banyak sih, jawab saya, Camus, Albert Camus, dia doyan bengong di kedai kopi. Terus Flaubert, lanjut saya, dia sehari minum kopinya bisa sampai 50 gelas, dan mati karena ginjalnya rusak. Perlu dikoreksi: Bukan Gustave Flaubert, tapi Honore de Balzac, saya salah sebut. Kalau Murakami suka ngopi? tanyanya. Minum wine dan ngebir dia mah, sebut saya, langsung terpikir kalau kami berdua sudah seperti protagonis dalam novel Dengarlah Nyanyian Angin dengan dialog sok intelek ini. Dia sendiri sering memanggil saya dengan nama belakang penulis Jepang itu, entah olok-olok yang benar, karena Murakami sendiri berarti desa atas. Apakah dia mengejek kalau saya orang udik, saya yakin dia enggak tahu akan hal ini. Penulis dari rahim Kabupaten mah kebanyakan pemurung, puji seorang kawan lain, ditujukan bagi saya. Si barista mungil bernama Hamdan ini pun orang Kabupaten. Harusnya saya bersyukur dipanggil Murakami. Perbincangan kami ini berada di depan Alfamart persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Alkateri, sebelah barat Mesjid Agung. “Kopi di Alfamart lebih bagus ketimbang Circle K.”, nasihatnya suatu kali, hasil analisanya sendiri. Di malam lain, dia menanyakan sesuatu yang konyol, kalau diberi kesempatan kencan buta semalam mau sama idola K-pop siapa? Dasom member Sistar, saya asal sebut. Dia menggeleng enggak tahu siapa, tentu. Bukan kenapa-kenapa, karena idol cantik itu punya cita-cita bikin buku kumpulan esai sebelum menginjak 30. Dengan Americano racikan Hamdan, dan mungkin dia berbaik hati bakal menyetelkan musik jazz, tentu soal tulis menulis ini bakal jadi bahasan yang setidaknya bisa membuat saya bisa bicara. Klise a la drama Korea, memang; skenario yang halusinatif, iya. Baca lebih lanjut

Nurul Yang Mandiri, Nurul Yang (tidak) Sendiri

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

IMG-20160724-WA0002

Saya melihat sosok perempuan itu di Minggu pagi dengan kamera yang menggantung di lehernya. Asumsi saya terhadap perempuan tersebut ketika pertama kali melihatnya adalah dia seorang penyuka photografi, juga seseorang yang narsis. Mungkin saja di memori kameranya terdapat ratusan photo dirinya dengan berbagai macam gaya, pikir saya.

Nurul Fatimah. Teman-teman memanggilnya Nurul. Belakangan saya tahu namanya saat dia mulai mempromosikan dirinya ketika sesi perkenalan pagi itu. Ya, pagi itu, saya seperti biasa ikut kegiatan dari Komunitas Aleut. Komunitas apresiasi sejarah yang salah satu kegiatan di setiap paginya mempunyai aktifitas berjalan beriringan menyusuri sudut-sudut Kota Bandung.

Pertemuan saya dengan Nurul ternyata tidak hanya berhenti sampai hari itu. Saya mulai sering berjumpa dengannya dalam kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan oleh Komunitas Aleut, seperti acara Kamisan ala Aleut. Acara Kamisan ini yaitu diskusi ringan antar sesama anggota yang diadakan di sekretariat Komunitas Aleut, di jalan Solontongan 20-D. Biasanya dimulai ba’da Maghrib. Di pertemuan-pertemuan selanjutnya itulah saya mulai tahu bahwa dia berasal dari Bantul yang bekerja di sini, di Bandung. Kami mulai sering ngobrol, sekedar sharing atau bercanda dengan teman-teman lain.

Satu hal yang sedikit bikin saya kaget adalah ketika dia bilang kalau dia di Bandung ini hanya sendiri. Tadinya saya pikir dia mempunyai saudara di sini. Tapi nyatanya, dia sendiri. Sebatang kara, seperti si hachi. Hehehe… Baca lebih lanjut