Americano, Indocafe dan Secangkir Sepi

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

coffee

1

Bisa saja saya menikamnya dengan pisau dapur, dan yang ia perbuat justru membalas senyum. Mungkin sedikit meringis, dengan tetap penuh jatmika. Sikap kalem yang hanya dimiliki para bestari, ketenangan yang serupa permukaan kopi yang sering ia bikin. Selepas maghrib, bersama saya sebagai seorang teman ngobrol yang payah, entah kenapa perbincangan kami mengarah soal perbedaan Americano dengan long black. Saya sendiri lupa penjelasannya, keduanya sama-sama kopi berair, hanya berbeda soal mana yang pertama dimasukan, air dulu, atau kopi dulu. Dia lalu bertanya tentang siapa saja penulis yang suka ngopi. Hmm, banyak sih, jawab saya, Camus, Albert Camus, dia doyan bengong di kedai kopi. Terus Flaubert, lanjut saya, dia sehari minum kopinya bisa sampai 50 gelas, dan mati karena ginjalnya rusak. Perlu dikoreksi: Bukan Gustave Flaubert, tapi Honore de Balzac, saya salah sebut. Kalau Murakami suka ngopi? tanyanya. Minum wine dan ngebir dia mah, sebut saya, langsung terpikir kalau kami berdua sudah seperti protagonis dalam novel Dengarlah Nyanyian Angin dengan dialog sok intelek ini. Dia sendiri sering memanggil saya dengan nama belakang penulis Jepang itu, entah olok-olok yang benar, karena Murakami sendiri berarti desa atas. Apakah dia mengejek kalau saya orang udik, saya yakin dia enggak tahu akan hal ini. Penulis dari rahim Kabupaten mah kebanyakan pemurung, puji seorang kawan lain, ditujukan bagi saya. Si barista mungil bernama Hamdan ini pun orang Kabupaten. Harusnya saya bersyukur dipanggil Murakami. Perbincangan kami ini berada di depan Alfamart persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Alkateri, sebelah barat Mesjid Agung. “Kopi di Alfamart lebih bagus ketimbang Circle K.”, nasihatnya suatu kali, hasil analisanya sendiri. Di malam lain, dia menanyakan sesuatu yang konyol, kalau diberi kesempatan kencan buta semalam mau sama idola K-pop siapa? Dasom member Sistar, saya asal sebut. Dia menggeleng enggak tahu siapa, tentu. Bukan kenapa-kenapa, karena idol cantik itu punya cita-cita bikin buku kumpulan esai sebelum menginjak 30. Dengan Americano racikan Hamdan, dan mungkin dia berbaik hati bakal menyetelkan musik jazz, tentu soal tulis menulis ini bakal jadi bahasan yang setidaknya bisa membuat saya bisa bicara. Klise a la drama Korea, memang; skenario yang halusinatif, iya. Baca lebih lanjut

Nurul Yang Mandiri, Nurul Yang (tidak) Sendiri

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

IMG-20160724-WA0002

Saya melihat sosok perempuan itu di Minggu pagi dengan kamera yang menggantung di lehernya. Asumsi saya terhadap perempuan tersebut ketika pertama kali melihatnya adalah dia seorang penyuka photografi, juga seseorang yang narsis. Mungkin saja di memori kameranya terdapat ratusan photo dirinya dengan berbagai macam gaya, pikir saya.

Nurul Fatimah. Teman-teman memanggilnya Nurul. Belakangan saya tahu namanya saat dia mulai mempromosikan dirinya ketika sesi perkenalan pagi itu. Ya, pagi itu, saya seperti biasa ikut kegiatan dari Komunitas Aleut. Komunitas apresiasi sejarah yang salah satu kegiatan di setiap paginya mempunyai aktifitas berjalan beriringan menyusuri sudut-sudut Kota Bandung.

Pertemuan saya dengan Nurul ternyata tidak hanya berhenti sampai hari itu. Saya mulai sering berjumpa dengannya dalam kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan oleh Komunitas Aleut, seperti acara Kamisan ala Aleut. Acara Kamisan ini yaitu diskusi ringan antar sesama anggota yang diadakan di sekretariat Komunitas Aleut, di jalan Solontongan 20-D. Biasanya dimulai ba’da Maghrib. Di pertemuan-pertemuan selanjutnya itulah saya mulai tahu bahwa dia berasal dari Bantul yang bekerja di sini, di Bandung. Kami mulai sering ngobrol, sekedar sharing atau bercanda dengan teman-teman lain.

Satu hal yang sedikit bikin saya kaget adalah ketika dia bilang kalau dia di Bandung ini hanya sendiri. Tadinya saya pikir dia mempunyai saudara di sini. Tapi nyatanya, dia sendiri. Sebatang kara, seperti si hachi. Hehehe… Baca lebih lanjut

Mang Irfan

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

IMG_8754_cil

Raut wajahnya serius. Sorot mata di balik kacamata yang ia kenakan seringkali terlihat sinis. Cara ia berjalan tak ubahnya seorang jagoan yang baru memenangkan pertarungan. Bagi mereka yang tidak mengenalnya, sosok lelaki ini akan mengingatkan mereka pada tatib di masa ospek SMA atau kuliah.

Semua impresi itu buyar jika lelaki ini sudah mulai diajak ngobrol. Terkadang ia bisa tertawa lepas atau membuat anda tertawa dengan banyolannya yang seringkali jayus. Ia juga begitu fasih jika sudah diajak berdiskusi soal buku, terutama buku-buku sastra.

***

Nama lengkapnya Irfan Teguh Pribadi, namun saya memanggilnya dengan nama Mang Irfan. Bukan tanpa alasan saya memanggilnya dengan sebutan “mang” di depannya: ia lebih tua 9 tahun dibanding saya! Baca lebih lanjut

Stasiun (Barat) Bandung

Oleh: Frans Ari Prasetyo

Stasiun Bandung Pintu Selatan (Foto oleh Frans Ari Prasetyo 25 Feb 2016)

Stasiun Bandung Pintu Selatan (Foto oleh Frans Ari Prasetyo 25 Feb 2016)

Stasiun Bandung memiliki cerita panjang terkait sejarah transportasi, heritage, hingga mobilitas dan kehidupan warga di sekitarnya sejak era kolonial hingga sekarang ini. Stasiun Bandung sejak awal diresmikan 17 Mei 1884 lalu mengalami perluasan pada tahun 1909 melalui kerja arsitek  bernama FJA Cousin. Pada awalnya, Stasiun Bandung ini hanya memiliki satu pintu masuk yang kita kenal sekarang sebagai Stasiun Bandung Pintu Selatan dengan desain arsitektur bergaya artdeco, sedangkan Pintu Bagian Utara baru terbagun pada tahun 1990 yang lokasinya berada di jalan Kebon Kawung dengan desain arsitektur modern.

Kedua sisi ini dapat kita bedakan jelas dari segi arsitektural, dan berdasarkan kelas sosial peruntukannya. Pada kedua pintu bagian selatan dan utara tertera angka +709m yang artinya merupakan representasi dari ketinggian kota Bandung yang pada posisi di Stasiun Bandung berada pada ketinggian +709m di atas permukaan laut. Angka ini juga menunjukan bahwa (Stasiun) Bandung berada di dataran tinggi atau pegunungan.  Menurut SHP No.6/1988 dan Perda Kota Bandung No.14/2007 kondisi sekarang  stasiun bandung, area Stasiun Utara  berada di Kelurahan Pasirkaliki-Kecamatan Cicendo dan Stasiun Selatan, sebagian masuk kelurahan Kebon Jeruk – Kecamatan Andir.

Pintu stasiun bagian selatan diperuntukan untuk masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Hal ini dibuktikan dengan loket tiket dan jalur kereta yang berada di area selatan diperuntukan untuk kereta ekonomi yang mayoritas melayani rute ke Jawa Tengah, Jawa Timur dan rute-rute pendek di sekitar kota dan kabupaten Bandung, seperti Cicalengka dan Rancaekek. Sedangkan pintu bagian utara diperuntukan untuk masyarakat ekonomi kelas menengah keatas yang terbukti dengan tersedianya loket tiket dan jalur kereta untuk kereta kelas bisnis dan eksekutif yang melayani rute ke Jakarta. Walaupun terdapat juga rute ke Jawa Tengah dan Jawa Timur hanya saja kereta dengan kelas bisnis dan eksekutif. Baca lebih lanjut

Revisi dalam Buku “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” Edisi Pertama

Oleh: Tegar Sukma A. Bestari (@teg_art)

DSCF4736.JPG

Buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA edisi revisi adalah buku biografi pertama yang saya miliki. Buku yang memang memperkenalkan saya pada sosok Soekarno, tentu saja dari sisi Cindy Adams yang mewawancarai Soekarno dalam pembuatannya. Saya sulit menilai apakah buku biografi ini seimbang dalam penyampaian informasinya, karena mengenal Soekarno tentu tidak bisa hanya dari buku ini saja melainkan harus membaca buku lainnya seperti buku dengan judul “Kuantar ke Gerbang”, buku-buku yang ditulis oleh Soe Hok Gie dan buku-buku lain.

Buku biografi Soekarno ini diterbitkan pertama kali dalam Bahasa Inggris dengan judul “SUKARNO: AN AUTOBIOGRAPHY” pada tahun 1965, lalu pertama kali diterjemahkan oleh Major Abdul Bar Salim dan diterbitkan pada tahun 1966 dengan judul “BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA”.

DSCF4733.JPG

Yang menjadi perhatian utama saya terhadap buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA ini adalah terdapat tulisan EDISI REVISI *2007* pada cover bukunya, maka jelas ada perbaikan terhadap buku ini. Pemikiran awal saya permasalahan revisi ini hanya terdapat pada ejaan yang disesuaikan saja, dan itu bukan permasalahan mendasar tentu saja.

Setelah saya mulai membaca, halaman awal pada buku ini terdapat kata sambutan dari Ketua Umum Yayasan Bung Karno yaitu Guruh Sukarno Putra. Dalam sambutan inilah terkuak permasalahan sangat penting yang tertulis dalam buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA edisi pertama tahun 1966. Salain adanya kesalahan dalam penerjemahan juga ada alinea tambahan yang tidak ada dalam versi berbahasa inggris, dan yang fatal adalah alinea tambahan ini menggambarkan Soekarno yang mendiskriditkan peran Hatta dan Sjahrir. Konon permasalahan 2 alinea tambahan ini  sempat memanaskan kedua keluarga proklamator. Baca lebih lanjut

Novel Terjemahan Pustaka Jaya

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

“Kita perlu karya sastra dari negara-negara lain untuk mengembangkan wawasan dan merangsang gagasan kita. Tanpanya, kita bukan cuma mengerdil, namun kelaparan,” tulis kritikus Magnus Linklater, yang saya kutip dari pengantar novel Piramid terjemahan Marjin Kiri–satu penerbit keren yang merasa prihatin karena hari ini kita nyaris tak lagi mengenal perkembangan sastra dunia kontemporer, berbeda dengan masa awal dan pertengahan abad ke-20.

Abdul Moeis menerjemahkan karya klasik Don Quixote. Setelah diumumkan sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 1913, novel Rabindrath Tagore segera ada terjemahannya oleh Muhammad Yamin. Soekarno membaca kemudian mengutip Dante di sana-sini. Bahkan kaum Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an dengan songongnya memproklamasikan diri sebagai “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia.” Sampai kini pun, kegiatan penerjemahan buku memang enggak pupus di Indonesia, namun porsinya makin lama makin diserbu novel remaja dan populer. Idealnya, penerbit-penerbit besar dengan dana melimpah semestinya memberi perhatian pada sastra bermutu, bukan melulu tunduk pada pasar. Perlu hadir penerbit yang “menerbitkan buku baik” seperti Pustaka Jaya.

Siapa enggak kenal Pustaka Jaya? Baca lebih lanjut

Dari Ranjang yang Dingin Sampai Pisau Guillotine

Oleh: Candra Asmara Safaka (@candrasmarafaka)

Kulitnya yang seperti pualam, sepasang mata biru yang berbinar, mulutnya yang manis serasi, dengan sikap kebesaran yang menarik. Begitulah deskripsi Stefan Zweig, penulis berkebangsaan Austria dalam bukunya yang berjudul “Marrie Antoinette, Portrait of An Average Woman” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dengan judul “Marrie Antoinnete, Potret Seorang Wanita”.

Penerjemah sekelas Ali Audah, tentu dengan sadar tidak menerjemahkan kata average menjadi biasa, meskipun tidak menjelaskan apa alasannya. Padahal kata average tersebut akan sangat mewakili isi cerita yang ingin disampaikan oleh Stefan Zweig, yaitu sisi kejiwaan Marrie Antoinette sebagai wanita, ibu dan istri yang penuh kasih dan penuh hormat pada anak-anak dan suaminya, Louis XVI. Dengan kata lain, Marrie Antoinette pun memiliki sifat-sifat layaknya wanita biasa, di luar otoritasnya sebagai Ratu Prancis yang kerap berpesta dan bersenang-senang hingga menumpuk utang.

Mari kita rasakan perbedaannya jika judulnya menjadi “Marrie Antoinette, Potret Seorang Wanita Biasa”. Cukup kentara perbedaannya, bukan? Atau mungkin bagi penerjemah, kata wanita saja sudah cukup untuk mewakili kewajaran atau ke-biasa-an? Allohualam bissawab. Yang pasti, apa-apa yang menjadikan karya Stefan Zweig  dianggap berbeda ada di pendahuluan yang sangat ringkas.

Mari bergegas ke bagian ranjang, aku sudah tak tahan. Begitu pula Marrie Antoinette yang tak tahan ranjangnya dibiarkan dingin oleh suaminya, Louis XVI, selama bertahun-tahun! Baca lebih lanjut