Dongeng Bandung #28: Bandung Dulu dan Sekarang – Bagian-1

Irfan Pradana

_______ didongengkan di Perpustakaan Rasia Bandoeng _______

Bandung Dulu dan Sekarang (Ditulis untuk Preanger Bode)

Berikut ini adalah rangkaian kisah tentang keadaan Bandung tempo dulu yang ditulis oleh seseorang dengan inisial “T”. Cerita ini dimuat dalam koran Preanger-bode seara bersambung dalam tiga edisi, masing-masing tanggal 8, 11, dan 13 September 1918, dengan judul “Bandoeng; Vroeger en Thans” atau “Bandung; Dulu dan Sekarang.” Periode waktu yang di sebut “dulu” dalam tulisan ini dimulai dari tahun 1868 ketika penulis dan keluarganya mengadakan perjalanan dari Batavia ke Singaparna, lalu tahun 1874-1875 ketika mereka mulai tinggal di Bandung.

Tulisan bersambung ini diterjemahkan serta diberi ilustrasi pendukung oleh Irfan Pradana – Komunitas Aleut dan dimuat di sini dalam tiga bagian sesuai dengan artikel aslinya.


Kisah ini terjadi pada tahun 1868 jadi tepat 50 tahun yang lalu— saat jalur kereta api dari Batavia ke Buitenzorg (Bogor) belum ada. Kala itu, kami sekeluarga berangkat dari Batavia menuju wilayah Priangan, tepatnya ke Singaparna, tempat ayah saya diangkat menjadi agen transportasi Priangan. Pemborong transportasi saat itu adalah Tuan Loheijde, seorang pemilik toko yang tinggal di Bandung.

Perjalanan dari Batavia dilakukan dengan kereta pos; gambaran bentuknya kira-kira sebuah kotak besar berbobot yang bertumpu di atas empat roda, ditarik oleh empat ekor kuda yang mampu membawa beban berat. Selain penumpang (kami berlima, terdiri dari dua orang dewasa dan tiga anak-anak), ada juga seorang kusir dan dua orang pelari (loopers). Di dalamnya dijejali berbagai peti dan koper semuatnya. Terkadang, masih terlihat keranjang-keranjang yang diikat di bagian atap dan samping kereta.

Kira-kira kereta seperti yang terpajang di museum di Simpang, Surabaya, inilah kereta angkut yang digunakan waktu itu. Foto KITLV- 29520

Dengan kereta itu kami menempuh perjalanan menuju Buitenzorg (sekitar 40 pal atau 60 km) dan tiba di sana pada sore hari. Kami menginap satu malam dan merasa sangat senang bisa keluar dari “kotak” yang menyesakkan itu.

Perjalanan selanjutnya dilakukan dengan kereta kecil (karretjes) melewati daerah Puncak. Dulu, di Tugu terdapat sebuah hotel yang sangat terkenal milik seorang perempuan pribumi. Ia dikenal oleh semua orang yang sering melewati rute tersebut dengan nama Ma Mina. Di sanalah kami menikmati hidangan makan mewah.

Rute perjalanan melewati wilayah Cipanas. Di sana, kami sempat mampir untuk sekadar meregangkan otot di tempat seorang kenalan lama, Tuan van Waveren, yang saat itu menjabat sebagai pengawas. Di sana kami disuguhi buah arbei—buah yang belum pernah kami lihat sebelumnya, namun menurut kami rasanya sangat enak.

Cianjur menjadi perhentian kedua. Dari sana, perjalanan terasa cukup membosankan, terutama saat melintasi dataran Cihea dan mendaki Gunung Masigit. Di tanjakan ini, kereta harus melaju perlahan. Untuk menyeberangi Sungai Citarum, kami harus menggunakan rakit (pont).

Pont (ponton), atau dalam istilah lokal sering disebut eretan, seperti inilah yang biasa digunakan untuk membawa angkutan besar menyeberangi sungai ketika itu. Dalam foto ini eretan akan menyeberangi sungai Citarum di Cianjur. Foto koleksi KITLV-1405886 (1910).

Total perjalanan dari Batavia ke Bandung memakan waktu tiga hari. Kami tiba di Bandung pada malam hari di hari ketiga dan disambut dengan hangat oleh keluarga Loheijde. Kami beristirahat selama beberapa hari di Bandung sambil melihat-lihat kota. Singkat kata, suasana Bandung saat itu kira-kira mirip dengan Cicalengka sekarang, mungkin sedikit lebih ramai jika sedang hari pasar.

Biasanya, pada malam hari sekitar jam setengah delapan atau jam delapan, rumah-rumah sudah tertutup rapat. Penerangan jalan hanya ada saat bulan purnama, itu pun jika langit sedang tidak berawan. Saking gelapnya, kami tidak melihat ngengat, terbantu juga sedikitnya jumlah ulat saat itu. Padahal ngengat saat ini menjadi binatang yang sangat dikeluhkan orang-orang.

Setelah menginap beberapa hari di Bandung, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari Bandung ke Singaparna memakan waktu dua hari lagi, melewati Garut dan Mangunreja. Di Mangunreja, kami kembali harus menyeberangi Sungai Ciwulan dengan menggunakan rakit.

Kami tiba di Singaparna saat larut malam. Pengawas dari pihak pemborong, Tuan Abrahams beserta istrinya, menyambut kami dan telah menyiapkan hidangan yang lezat. Dengan mata setengah terpejam karena kelelahan dan kantuk, kami anak-anak mengisi perut hingga kenyang, lalu segera mencari tempat tidur.

Pemborong transportasi di Singaparna menyediakan sebuah rumah yang bagus dengan halaman yang sangat luas bagi agennya. Di sana juga terdapat bengkel kerja untuk pengerjaan kayu dan besi guna membuat gerobak-gerobak baru yang dibutuhkan untuk transportasi, serta memperbaiki gerobak yang rusak.

Foto kompleks gudang pengepakan di Singaparna yang dibuat oleh Woodbury & Page sebelum tahun 1880. Foto koleksi KITLV-3305.

Garam menjadi komoditas utama yang diangkut saat itu (karena sebagian besar angkutan terdiri dari garam) dari Banjar melalui Singaparna untuk dikirim lebih lanjut. Dari Singaparna juga dikirim kopi; saat itu sudah berdiri gudang kopi permanen yang cukup besar. Dari Bandung, hasil bumi diangkut dengan gerobak menuju Cikao (Cikampek), dan dari sana dilanjutkan dengan sampan (perahu) menuju Batavia.

Maka, bepergian dan mengangkut barang pada masa itu sungguh tidak mudah dan tidak murah.

Pindah ke Bandung (November 1874)

Pada November 1874, kami meninggalkan Singaparna untuk pindah dan menetap di Bandung. Karena saat itu di Singaparna tidak ada kendaraan yang bisa disewa, perjalanan dilakukan menggunakan tandu (kursi pikul).

Seperti inilah tandu yang biasanya digunakan untuk mengangkut orang pada masa itu. Setiap tandu dipikul oleh empat orang. Tidak ada informasi siapa yang membuat foto ini juga tidak ada keterangan tahunnya. Foto ada dalam koleksi KITLV-1400747.

Perjalanan hari pertama dari Singaparna menuju Garut. Di sana, kami mendapatkan tumpangan menginap yang ramah di rumah keluarga Laurens. Hari kedua, melanjutkan perjalanan dari Garut menuju Bandung. Saat melewati Leles, kami menyempatkan diri mengunjungi Wedana Raden Wangsajoeda (yang di kemudian hari menjabat sebagai Patih Bandung). Beliau sangat baik hati menjamu kami makan siang. Saya masih ingat betul saat itu kami disuguhi ikan sarden; sebuah hidangan yang sangat mewah untuk tempat dan masa itu. Kami tiba di Bandung larut malam dalam keadaan sangat lelah.


Gambaran Kota Bandung Tempo Dulu

Rumah pertama yang disewa ayah saya adalah sebuah rumah papan tua yang berdiri di lahan yang kini (saat artikel ditulis) dihuni oleh Nona Herklots, tepat di seberang kantor pengadilan (Landraad). Beberapa tahun kemudian, kami pindah ke sebuah rumah serupa di lahan yang sekarang ditempati oleh firma Bruins & Thijssen, namun kondisinya sedikit lebih baik.

Kala itu, hampir semua rumah sewa memang berupa bangunan kayu, karena rumah sewa dari tembok (batu) belum ada. Seingat saya, bangunan yang sudah berbahan tembok saat itu hanyalah rumah residen, bangunan yang saat itu masih sangat baru dan dihuni oleh Residen Pahud de Mortagnes (residen kedua yang berkedudukan di Bandung). Rumah asisten residen sering disebut Gedong Papak karena atapnya yang datar. Gedung ini juga menjadi tempat tinggal sekaligus laboratorium Tuan Bernelot Moens, Direktur Perkebunan Kina Pemerintah (sebelum pindah sebentar ke Lembang, dan akhirnya ke Cinyiruan).

Bangunan batu berikutnya adalah yang sekarang menjadi kantor keresidenan, dulunya adalah sebuah hotel milik Ibu Houwer, sebelumnya lagi adalah rumah Tuan Saportas yang meninggal secara tragis dan sampai menimbulkan perkara hukum. Kemudian di sebelahnya terdapat barak prajurit yang komandannya adalah Adjutant Pfeiffer, seorang tua yang kaku. Orang bilang ia adalah saudara dari seorang jendral yang terkenal pada masa itu. Setiap malam ia bisa ditemukan di Hotel Ibu Houwer sedang bermain kartu smaussjassen.

Lalu ada Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers yang saat itu juga masih baru, kemudian sekolah rendah umum kedua yang sebelumnya merupakan hotel milik Ibu Hinze, seorang perempuan tua yang baik hati; orang sering berkelakar bahwa pada suatu saat, ketika ia lengah, seekor ayam pernag bertelur di sanggulnya. Lalu ada bangunan lama bekas Hotel Homann yang paviliunnya kini dihuni oleh Nona Heijligers. Di seberangnya dulu masih berupa padang rumput dan rawa sebelum dibeli oleh Tuan G. Teuscher untuk dibangun rumah-rumah. Ada juga Hotel Homann baru yang saat itu dihuni oleh Sekretaris Daerah Wohlbeem. Bangunan tembok lainnya adalah Villa Maria di Kebon Karet milik Tuan Philippeau, serta rumah dinas Kontrolir.

Masjid di Bandung dan halaman depan rumah Residen Priangan di Bandung. Lingkungan di sekitar kedua lokasi ini masih terlihat lengang. Jalan di depan rumah residen juga masih berupa jalan tanah walaupun di sisi kiri kanan sudah berdiri bangunan lain. Foto merupakan karya Woodbury & Page yang dikumpulkan dalam Photographien II (1865-1885) dan terdapat dalam koleksi KITLV (Or. 27.403)
Bangunan Villa Maria (di tengah) setelah menjadi kompleks Hoofdbureau Staatsspoor en Tramwegen pada tahun 1925. Sumber buku Staatsspoor en Tramwegen in Ned Indie 1875-1925.

Bangunan tembok yang paling indah adalah sekolah umum kami yang dulu berdiri di lokasi kantor Factorij sekarang. Gedungnya panjang dan sempit, terbagi dalam beberapa kelas, sehingga dijuluki “Lubang Seruling” (pijpeula). Lantai bawahnya berupa ubin tanah merah yang berdebu, sementara bagian lotengnya menjadi sarang ribuan kelelawar. Papan-papan lotengnya penuh dengan kotoran kelelawar (guano), sehingga aroma “sedapnya” sudah tercium jelas hingga ke lantai bawah.

(Bersambung)

Tinggalkan komentar