Daftar Nama Jalan di Kota Bandung Dulu dan Sekarang Bagian 2 (N-Z)

DAFTAR NAMA JALAN DI KOTA BANDUNG DULU DAN SEKARANG

Nama Lama (Oude Naam)Nama Baru (Nieuwe Naam)

N

Nakoelaweg
Nangkalaan
Naripanweg
Naripan-binnenweg
Nassaupaan
Neckstraat, van
Niasstraat
Nieuwe Binnenweg
Nieuwstraat
Noortstraat, van
Nylandweg
Jl. Nakula
Jl. Nangka
Jl. Naripan
Jl. Naripan Dalam
Jl. Gandapura
Jl. Cipunagara
Jl. Nias
Jl. Kaca-kaca Wetan
Jl. Ksatriyan
Jl. Ciwulan
Jl. Cipaganti
Baca lebih lanjut

Daftar Nama Jalan di Kota Bandung Dulu dan Sekarang Bagian 1 (A-M)

DAFTAR NAMA JALAN DI KOTA BANDUNG DULU DAN SEKARANG

Nama Lama (Oude Naam)Nama Baru (Nieuwe Naam)

A

A. B. C. Straat
A. B. C. Straat, verlengde
Acht Kooienlaan
Ajoediaweg
Aksanweg
Alaniweg
Aloon2 Oost
Altman, Gang
Ambonstraat
Amhertsialaan
Ananaslaan
Angandaraweg
Angsanalaan
Antennestraat
Ardjoenaweg
Astanaanjarweg
Astinaweg
Atelierlaan
Atjehstraat
Jl. A.B.C.
Jl. A.B.C.
Jl. Neglasari
Jl. Ayudia
Jl. Aksan
Jl. Alani
Alun-Alun Timur
Gg. Jakin
Jl. Ambon
Jl. Karangarum
Jl. Nanas
Gg. Angandara
Jl. Sirnagalih
Jl. Tasikmalaya
Jl. Arjuna
Jl. Astanaanyar
Jl. Astina
Jl. Bengkel
Jl. Aceh
Baca lebih lanjut

Mengunjungi Jejak Dipati Ukur – Episode Kesekian

Dalam obrolan sehari-hari di Komunitas Aleut ada banyak sekali topik yang dibahas berulang-ulang, seakan tidak pernah ada habisnya. Selain soal sejarah Bandung secara umum, biasanya juga tentang permuseuman, percagarbudayaan, kampung-kampung, kuliner tempo dulu, atau tokoh-tokoh masa lalu, baik dari kalangan pribumi ataupun bangsa lain. Salah satu yang sangat sering dibicarakan adalah tokoh Dipati Ukur. Kebetulan pula beberapa hari lalu, salah seorang rekan kami yang sedang menumpang ojek online mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dari drivernya, “Ai Dipati Ukur teh nyaan aya?”

Dalam disertasinya yang dibukukan oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1982 dengan judul Ceritera Dipati Ukur; Karya Sastra Sejarah Sunda, Dr. E. Suhardi Ekadjati menuturkan bahwa Ceritera Dipati Ukur melukiskan peristiwa yang sungguh-sungguh pernah terjadi pada awal abad ke-17 Masehi. Kesaksian-kesaksian orang-orang Belanda pada waktu terjadinya peristiwa yang berupa catatan harian Kompeni (dagh register) dan catatan serta kesaksian-kesaksian lainnya yang didapatkan di daerah Bandung, membuktikan hal tersebut.

Baca lebih lanjut

Mausoleum Keluarga Ursone: Orate Pro Nobis – Doakanlah Kami

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Rumah Keluarga Ursone di Lembang. Foto: Reza Khoerul Iman

Minggu lalu saya dan teman-teman mengunjungi bekas rumah tinggal keluarga Ursone di Jalan Baruajak, Lembang. Sedikit flashback ke tulisan saya sebelumnya yang berjudul Momotoran Lembang, kami mengunjungi rumah ini setelah Ngaleut ke beberapa tempat di kawasan Lembang. Rumah ini tampak bagus dan dilengkapi halaman luas yang bersih. Salah satu perbincangan saya dan teman-teman saat duduk santai di halaman adalah tentang makam Ursone yang berada di kompleks makam Pandu. Mang Alex menjelaskan bahwa yang dimakamkan di makam berbentuk mausoleum itu bukan hanya satu orang saja, melainkan ada beberapa anggota keluarga Ursone, juga dari generasi yang berbeda. Mang Alex juga menyinggung soal bagaimana cara membaca tanda angka-angka yang tertulis di mausoleum bagian depan mausoleum Ursone.

Baca lebih lanjut

Ngaleut 90 Tahun Makam Pandu: 1932-2022

Ditulis oleh: Aditya Wijaya (@adityanism)

Para peserta Ngaleut di depan gerbang Ereveld Pandu. Foto: Deuis Raniarti

Hari Kamis 13 Januari 2022, Komunitas Aleut mengadakan kegiatan Ngaleut Makam Pandu. Ngaleut ini dihadiri oleh sepuluh peserta dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Ngaleut dimulai pukul 09.30 pagi dengan Mang Alex menjelaskan latar belakang berdirinya Makam Pandu, dilanjut mengunjungi Makam Ursone. Jadi Makam Pandu ini merupakan makam pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe yang dahulu lokasinya berada di sekitar Gor Pajajaran sekarang. Kerkhof adalah kata kuno Belanda yang artinya pemakaman.

Lokasi pertama yang kami kunjungi ialah makam keluarga Ursone. Makam ini berbentuk mausoleum bergaya barok dan berlapis marmer. Kenapa berlapis marmer? Mungkin karena A. Ursone pernah membuka usaha batu marmer yang bernama Carrara Marmerhandel en–bewerking di Bantjeuj, Bandung. Keluarga Ursone merupakan keluarga berkebangsaan Italia dan memiliki perusahaan susu sapi yang berada di Lembang.

Baca lebih lanjut

Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (2)

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Penampungan air di Setiabudhi tahun 1920. Foto: Leiden University

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian pertama Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (1). Bagian pertama adalah rangkaian perjalanan dan cerita saat mengunjungi Gedong Cai Cidadap dan Gedong Cai Tjibadak, sedangkan pada bagian ini saya ingin bercerita ketika kami mengunjungi tempat penampungan air di Setiabudhi dan Gedong Cai Cikendi.

Setelah dari Gedong Cai Cidadap dan Tjibadak, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat penampungan air di Setiabudhi. Tempat ini tampak berbeda dengan Gedong Cai yang kami kunjungi sebelumnya. Bagian atas bangunan terlihat agak membulat dan tertutupi tanah dan rumputan, dulu bangunan seperti ini disebut sebagai gunung cai. Namun sayang ketika kami berkunjung ke sana, kondisi bangunan sudah tertutup dengan rerumputan. Sebagian bangunan juga terkena aksi vandalisme, penuh coretan.

Baca lebih lanjut

Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (1)

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Relief nama Tjibadak – 1921 yang sudah dirapikan. Foto: Deuis Raniarti

“Tepat pada 29 Desember 2021 lalu, Gedong Cai Tjibadak diramaikan oleh banyak orang. Wartawan berdatangan, berbagai komunitas menghadiri tempat tersebut, MCK dan lingkungan sekitar direvitalisasi, bahkan Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Bandung, Yana Mulyana, pun turut turun ke hadapan Gedong Cai Tjibadak”.

Entah sejak kapan saya menaruh perhatian khusus kepada gedong cai di Kota Bandung. Saya kira usianya yang telah genap menjadi satu abad bukan salah satu alasan saya mengenal gedong cai. Mungkin lebih karena aktivitas saya yang harus ke sana ke mari mencari berita yang akhirnya mempertemukan saya dan gedong cai.

Sewaktu mengikuti kegiatan Ngaleut Cidadap dan mampir ke gedong cai bersama rekan-rekan Komunitas Aleut, pada Kamis, 30 Desember 2021, ternyata juga dilakukan bukan karena usia gedong cai yang telah genap menjadi satu abad.

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Abdoel Moeis

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Farly Mochamad

Sungai Puar

Terdapat sebuah kampung yang permai di daerah Agam, Sumatera Barat. Namanya Sungai Puar. Gunung Merapi di timur, Gunung Singgalang di barat, lalu Danau Maninjau di barat Gunung Singgalang, serta Danau Singkarak di selatan. Indah nian.

Warga Sungai Puar terkenal dengan kerajinan rumahan besi dan baja dengan mutu yang baik. Sungai Puar sering disamakan dengan Sollingen di Jerman Barat, sebuah kota yang banyak menghasilkan besi dan baja, karena itu ada istilah Sungai Puar sebagai Sollingen van Sumatra.

Di kampung ini, pada tanggal 3 Juli 1883, lahir seorang bayi laki-laki dalam keluarga terpandang, ia adalah Abdoel Moeis. Ayahnya seorang Larak Sungai Puar, semacam camat, yang mempunyai perusahaan korek api, namanya Haji Abdul Gani. Ibunya berasal dari Kota Gadang, negeri yang terbilang maju di Sumatra Barat. Ibunya masih berhubungan darah dengan Haji Agus Salim, orang  terpelajar yang berasal dari negeri itu. Sejak kecil Abdoel Moeis terbiasa mendengar hiruk-pikuk besi yang ditempa, sama seringnya dengan mendengar orang-orang berdebat dan bersilat lidah. Orang-orang Minagkabau terkenal pandai berbicara.

Batavia

Abdoel Moeis menjalani pendidikan di STOVIA (sekolah Dokter) di Batavia. Di sekolah ini Abdoel Moeis sibuk mengejar cita-citanya, tapi ia juga tak melupakan pergaulannya. Ia berteman dengan pemuda yang berasal dari berbagai daerah dan sering bertukar informasi tentang keadaan daerahnya.

Baca lebih lanjut

Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Ariyono Wahyu

Hasan Mustapa Dunia dan Karyanya

Sastrawan Ajip Rosidi menuliskan petikan “Kinanti Ngandika Gusti” karya Haji Hasan Mustapa dalam buku memoarnya setebal lebih dari 1300 halaman yang berjudul “Hidup Tanpa Ijazah”. Hasan Mustapa tentu memiliki arti yang istimewa bagi Ajip Rosidi sehingga ia memilih petikan karya Kepala Penghulu Bandung tadi sebagai kalimat paling awal dalam buku terpentingnya.

Pengalaman perkenalan, pencarian, dan pemaknaan Ajip Rosidi kepada sosok Hasan Mustapa kemudian dituangkannya dalam satu buku khusus yang ditulisnya dalam bahasa Sunda berjudul “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana”. Memang dalam buku memoarnya tadi bisa juga ditemukan kisah-kisah Ajip Rosidi tentang Hasan Mustapa seiring perjalanan hidupnya. Namun bagi yang ingin membaca sekaligus berkenalan secara khusyuk dengan sosok Hasan Mustapa tanpa terganggu cerita hidup Ajip Rosidi buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana” adalah pilihan yang sangat tepat.

Kenapa buku ini adalah pilihan yang tepat untuk mengenal sosok Haji Hasan Mustapa? Karena Ajip Rosidi menuliskan buku ini sebagai usahanya memperkenalkan sosok yang dikaguminya melalui karya-karyanya. Sebagai sastrawan, Ajip Rosidi tentu paham bahwa bagi banyak orang yang paling dikenal dari sosok Haji Hasan Mustapa adalah anekdot-anekdotnya dan kisah-kisah eksentriknya. Tapi hanya sedikit saja orang yang menaruh minat dan perhatian kepada karya-karya “Sang Begawan Sirna Dirasa”. Padahal sebagai sosok bujangga sastra Sunda terbesar menurut Ajip Rosidi, Hasan Mustapa paling tidak telah menulis lebih dari sepuluh ribu pada dalam bentuk danding (pupuh tradisional) yang terikat aturan baku yang ketat. Berangkat dari hal itulah kemudian Ajip Rosidi menulis buku ini.

Upaya Menemukan Karya Haji Hasan Mustapa

Sejak awal perkenalan Ajip Rosidi dengan sosok Hasan Mustapa adalah melalui karyanya. Karena pada tahun 1950-an saat Ajip Rosidi mulai aktif mencari dan mengumpulkan karya-karya Hasan Mustapa, Hoofd Panghulu atau Kepala Penghulu Bandung yang menjabat dari tahun 1895-1918 ini telah mangkat kurang lebih dua puluh tahun sebelumnya.

Karena itulah buku ini dibuka dengan kisah awal perjumpaan Ajip Rosidi dengan M. Wangsaatmadja yang bertugas sebagai juru tulis Haji Hasan Mustapa setelah pensiun sebagai Kepala Penghulu Bandung hingga tutup usia, tepatnya dari tahun 1920-1930. Perkenalan pertama dengan Wangsaatmadja pada tahun 1958 inilah yang kemudian seiring waktu mengantarkan Ajip Rosidi berkenalan pula dengan awak (anggota) Galih Pakuan, yaitu kumpulan pengagum Haji Hasan Mustapa.

Melalui Wangsaatmadja dan para awak Galih Pakuan, Ajip Rosidi sedikit demi sedikit mengumpulkan karya-karya Hasan Mustapa. Tentu sebagai seorang yang paham tentang sastra, Ajip Rosidi tak cuma mengumpulkan saja tapi juga melakukan telaah kritis dan validasi atas karya yang diperolehnya. Karena menurut Ajip Rosidi karya Haji Hasan Mustapa banyak yang diragukan keasliannya, salah satu faktor penyebabnya adalah proses terjadinya kesalahan dalam penyalinan karya yang aslinya ditulis dalam aksara Arab yang dilakukan oleh juru tulis Haji Hasan Mustapa yaitu Wangsaatmadja.

Meskipun karya-karya Hasan Mustapa yang disalin dan kemudian dipelihara oleh Wangsaatmadja terdapat cacat dalam proses penyalinan, namun karya-karya tersebut tetap sangat penting. Salah satunya adalah untuk mengetahui riwayat hidup Hasan Mustapa. Ditambah dengan riwayat  Hasan Mustapa yang ditulis oleh Wangsaatmadja, Ajip Rosidi kemudian mampu memberikan versi riwayat hidup Sang Begawan Sirna Dirasa dengan lebih orisinal. Riwayat hidup Hasan Mustapa menjadi penting untuk ditelaah menurut Ajip Rosidi adalah salah satunya untuk menentukan berapa lama Haji Hasan Mustapa mukim di Mekah dan kapan kemudian ia berjumpa dengan sosok penting lainnya yaitu Christian Snouck Hurgronje di kota paling suci bagi kaum Muslim ini.

Usaha Ajip Rosidi untuk menemukan karya Hasan Mustapa tak hanya dilakukannya di dalam negeri. Ketika ia menetap di Jepang sebagai dosen pada tahun 1980-an, Toyota Fondation kemudian memberikan bantuan biaya untuk melakukan penelusuran ke Belanda. Dalam koleksi naskah milik Snouck Hurgronje di Universitas Leiden, Ajip Rosidi menemukan beberapa dokumen karya Haji Hasan Mustapa.

Anekdot-Anekdot Hasan Mustapa

Dari kisah-kisah tentang Haji Hasan Mustapa yang hidup di kalangan awak Galih Pakuan, Ajip Rosidi kemudian mengumpulkan anekdot-anekdotnya dan dituliskan sebagai bagian khusus dalam buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana”. Anekdot-anekdot ini penting sebagai upaya untuk menilai kepribadian Hasan Mustapa. Contohnya adalah bagaimana Haji Hasan Mustapa menjawab pertanyaan tentang bagaimana wujud Allah dengan membuat perumpaan bahwa Allah adalah sosok di atas Kanjeng Bupati dan Tuan Gubernur Jenderal. Dari jawaban yang bagi banyak orang dianggap mahiwal inilah Haji Hasan Mustapa dicap berpaham Wahdatul Wujud.

Dengan mempelajari cara Hasan Mustapa memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan, dapat disimpulkan bahwa ia berusaha memahami alam dan cara berpikir orang yang bertanya.

Karya-Karya Hasan Mustapa

Buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana” yang ditulis oleh Ajip Rosidi pertama kali diterbitkan oleh penerbit Pustaka pada tahun 1989. Sesuai dengan judulnya mengenai karya Haji Hasan Mustapa, dari jumlah total 507 halaman hanya 86 halaman yang berkisah tentang proses usaha Ajip Rosidi dalam mencari dan mengumpulkan karyanya, riwayat hidupnya, dan anekdot-anekdotnya.

Sisa halaman buku ini, kurang lebih 400 halaman, berisi berbagai karya Haji Hasan Mustapa yang berupa danding, kumpulan surat, dan kumpulan tulisannya tentang adat istiadat. Tentu saja sisa halaman buku ini tidak cukup untuk menyajikan semua karya sastra Haji Hasan Mustapa secara lengkap, namun setidaknya buku ini memuat cuplikan karya-karya terpenting Haji Hasan Mustapa adalah usaha Ajip Rosidi untuk memperkenalkan sosok sastrawan Sunda terbesar itu melalui karyanya.

Ringkasan Biografi Inggit Garnasih

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Buku: Senja di Ranah Bandung; Sejarah Singkat Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih adalah seorang wanita yang perannya sangat besar bagi kesuksesan Sukarno, beliau adalah wanita yang mampu berperan sebagai teman, kekasih, serta ibu, bagi Sukarno. Ia menemani Sukarno dalam berbagai tahap kehidupan seperti membantunya menyelesaikan pendidikan, menemani perjalanan politiknya, hingga bertahan pada setiap masa sulit maupun senang.

Dalam perjalanannya menemani Sukarno, Inggit tidak ditakdirkan memasuki istana. Ia hanya mengantarkan Sukarno hingga gerbang kemerdekaan.

Sinopsis

Buku ini menceritakan biografi Inggit secara singkat. Inggit lahir di Kamasan, ia tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana. Inggit dikenal sebagai gadis cantik yang dikagumi banyak pria, namun pilihan Inggit jatuh pada Sanusi, tapi kisah cinta mereka terhalang oleh status ekonomi, karena Sanusi adalah seorang keturunan kaya raya. “Waja harus dengan waja, besi harus dengan besi.” pada saat itu memang status dan kedudukan keluarga selalu menjadi pertimbangan manakala sebuah perkawinan akan dilangsungkan.

Akhirnya, pada usia 16 tahun ia menikah dengan seorang Kopral Residen Belanda bernama Nata Atmaja, namun pernikahan mereka hanya bertahan 4 tahun dan tanpa dikaruniai anak. Inggit bertemu kembali dan menikah dengan Sanusi yang statusnya sudah berubah menjadi duda anak dua, mereka tinggal di daerah Kebonjati. Sanusi adalah saudagar kaya, selama tinggal dengannya Inggit tidak pernah merasakan kesusahan.

HOS Cokroaminoto menitipkan menantunya, Sukarno, kepada Sanusi. Selama bersekolah, Sukarno tinggal di rumah Sanusi bersama Inggit. Rumah itu menjadi lebih sering kedatangan tamu karena Sukarno aktif dalam dunia politik. Sanusi lebih sering menghabiskan harinya di luar, dari sanalah kedekatan Sukarno dan Inggit semakin menjadi setiap harinya. Sanusi menyadari apa yang terjadi di antara keduanya, akhirnya ia memutuskan untuk bercerai dengan Inggit dan menitipkannya pada Sukarno. Sukarno pun menceraikan istri pertamanya, Utari.

Menjalani kehidupan setelah menikah dengan seorang mahasiswa tentu berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Inggit membuat bedak, lulur dan kutang untuk dijual. Hasil dagangnya ini ia gunakan untuk membiayai hidup sehari-hari dan untuk perjalanan politik Sukarno. Sukarno beberapa kali dipenjara dan diasingkan karena dianggap terlalu membahayakan Belanda. Inggit tetap setia mendampingi dan selalu bersiasat mengabarkan kondisi yang sedang terjadi ketika Sukarno di dalam bui. Ia rela berpuasa untuk menyembunyikan buku di perutnya dan berjalan kaki menempuh jarak beberapa kilometer untuk menemui Sukarno.

Suatu hari, Sukarno diasingkan ke Ende, lalu dipindahkan ke Bengkulu. Di sinilah ia bertemu dengan Fatmawati. Gadis itu mampu menarik perhatian Sukarno. Tak lama setelah itu, Sukarno pun ingin menikahi Fatmawati. Inggit enggan dimadu dan memilih bercerai. Inggit kembali ke Bandung. Dua tahun setelah perceraian mereka, Indonesia merdeka dan Sukarno menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

  • Informasi Tambahan

Buku ini adalah buku untuk gerakan literasi sekolah dan tidak diperjualbelikan. Cerita lebih lengkap mengenai kisah Inggit Garnasih dan Sukarno dapat dibaca di buku Kuantar Ke Gerbang karya Ramadhan K.H.