Cikajang dan Stasiun yang Awalnya Tidak Diinginkan

Saya kembali melewati Cikajang, sebuah kota kecil di Kabupaten Garut. Malam itu, suasana lengang dan sedikit basah. Cikajang tetaplah Cikajang, kota berhawa dingin ini sering saya kunjungi dahulu, baik saat menempuh perjalanan ke Pangandaran, ataupun secara sengaja untuk melihat-lihat keadaan stasiun di sana. Minggu 8 November 2020 itu, saya melewati Cikajang bersama teman-teman dari Komunitas Aleut. Perjalanan “momotoran” ini merupakan bagian dari Aleut  Development Program 2020. Jalur yang kami tempuh saat itu adalah jalur Bandung – Pangalengan – Rancabuaya – Pameungpeuk – Cikajang – Garut – dan kembali ke Bandung.

Saat itu, saya hanya punya waktu beberapa detik saja untuk menengok ke arah Stasiun Cikajang. Stasiun tertinggi di Indonesia ini memang ada di dalam gang. Sebenarnya, keberadaan Stasiun Cikajang ini tidak jauh dari pinggir jalan raya. Stasiun ini hanya tersembunyi di belakang toko-toko, dan dalam keadaaan rusak parah dan menunggu renovasi. Saat melewati Cikajang saat itu, ada beberapa cerita tentang Stasiun Cikajang yang lewat di kepala.

Cibatu-Cikajang, 1980. http://www.world-railways.co.uk.

Dicibir Dewan Rakyat

Baca lebih lanjut

Catatan Dari Selatan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020.

Ditulis oleh : Lisa Nurjanah

Hari Minggu tanggal 8 November 2020, Aleut Development Program mengadakan kegiatan momotoran lagi, kali ini tujuannya ke pantai selatan, Rancabuaya. Kami bersepuluh berangkat pukul tujuh pagi dari sekretariat Komunitas Aleut.

Pemberhentian pertama di sebuah tugu yang terletak di pertigaan jalan Cimaung-Puntang. Tugu yang bernama Tugu Perintis Cimaung ini didirikan pada tahun 1932 untuk memperingati singgahnya Ir. Soekarno ke Cimaung untuk memberikan kursus politik untuk warga di sana. Bakal presiden pertama NKRI ini memang terkenal sering berkeliling ke daerah memberikan kuliah-kuliah politik. Pada tahun 1964, tugu tersebut dipersembahkan sekaligus menjadi tanda peresmian Desa Cimaung. Kami hanya diberi sedikit waktu untuk mempelajari tugu ini.

Tugu Perintis Cimaung, 1932. Foto: Lisa.

Selang beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan dan baru berhenti di sebuah warung setelah melewati gapura Perkebunan Cukul. Di sini ada keseruan atau mungkin kelucuan, karena ketika ingin buang air kecil ke WC yang ada di sana, ternyata dinding bagian bawah WC-nya bolong besar. Jadi begitu jongkok, akan terlihat hamparan kebun yang luas. Entah apa tujuan adanya lubang dinding itu, hahaha.

Baca lebih lanjut

Lika-liku Bandung – Pantai Selatan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020.

Ditulis oleh : Madihatur Rabiah

Ini merupakan ketigakalinya diriku menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan dodolnya, dan keduakalinya kuikuti kegiatan momotoran yang kali ini tujuannya ke Rancabuaya.

Pagi,  8 November 2020, aku dan sembilan peserta Aleut Development Program lainnya berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut menggunakan enam buah motor. Sebelumnya kami briefing dulu tentang hal-hal yang perlu diperhatikan selama dalam perjalanan, dan berdoa bersama.

Setelah semuanya siap, kami berangkat melalui rute Pangalengan yang sama persis seperti waktu momotoran ke Pangalengan dua minggu lalu. Bedanya, kali ini kami berhenti di sebuah pertigaan di Cimaung. Di sini kami diminta untuk mengamati sebuah tugu yang didirikan di sudut pertigaan jalan itu. Ternyata tugu ini didirikan untuk memperingati suatu peristiwa yang pernah terjadi di situ pada tahun 1932, yaitu ketika Ir. Soekarno memberikan kuliah politik untuk warga setempat. Pada sebuah prasasti tertulis sekitar seratus nama warga yang mengikuti kuliah politik itu, nama yang tertera paling atas adalah Inggit Garnasih.

Tugu Perintis Cimaung. Foto: Madiha.

Setelah diberikan waktu untuk mendokumentasikan area sekitar tugu tersebut, kami lanjutkan perjalanan. Ketika melewati jembatan bertuliskan Cikalong, aku teringat lagi cerita gunung-gunung di sekitar kawasan ini yang disampaikan saat momotoran ke Pangalengan dua minggu lalu.

Tak lama kemudian, kami melewati sebuah gapura batu dengan tulisan Perkebunan Teh Cukul. Beberapa saat kemudian, aku terkesima melihat sebuah bangunan besar berwarna putih yang mirip dengan rumah-rumah di Eropa. Di dekat rumah ini ada sebuah danau kecil yang dikelilingi oleh taman. Indah sekali. Tidak jauh dari situ, kami berhenti untuk mengamati lingkungan sekitar sambil sarapan di sebuah warung.

Di sini aku dengar dari ibu warung bahwa rumah putih tadi sering disebut sebagai Rumah Jerman, pemiliknya adalah perusahaan teh yang juga pemilik Perkebunan Cukul. Ibu warung juga bercerita bahwa perkebunan ini juga berbatasan dengan wilayah Kabupaten Garut. Sebelum berangkat lagi, aku masih mendengar cerita ibu warung tentang Kampung Kahuripan yang ada di bawah, kampung kecil yang terdiri dari 14 rumah dan dihuni oleh 48 keluarga yang semuanya pekerja di Perkebunan Cukul.

Kampung Kahuripan di Cukul. Foto: Komunitas Aleut.

Mulai dari sini, jalanan yang kami lewati jadi ekstra berliku, belokan-belokan pendek dan tajam, tanjakan dan turunan yang curam-curam. Terasa tidak akan mudah mengendalikan kendaraan di jalanan seperti ini. Setelah satu jam lebih menempuh jalan seperti ini, Teh Anis yang memboncengku kehilangan kendali di sebuah tanjakan setelah turunan curam. Motor kami terperosok ke luar badan jalan. Untunglah tebalnya semak-semak membantu menahan motor kami, sehingga tidak terjadi kecelakaan fatal atau kerusakan motor. Hanya tanganku sedikit terkilir dan kaca helm Teh Anis copot dari dudukannya. Kawan-kawan lain dengan sigap pula memberikan bantuan dan P3K yang diperlukan. Dari sini, aku pindah boncengan ke motornya Farly, agar Teh Anis bisa lebih leluasa mengendalikan motor selama kondisi jalanan penuh kelokan ini.

Sekitar satu jam kemudian kami sudah tiba di Pantai Rancabuaya. Aku sempatkan browsing mencari tahu apa arti nama Rancabuaya dan menemukan bahwa arti ranca dalam bahasa Sunda adalah rawa-rawa. Berarti rawa-rawa yang banyak buayanya ya? Semoga sekarang sudah tidak ada buaya lagi di daerah ini. Bakal berbahaya kalau masih ada, soalnya kawasan pantai ini sudah dijadikan salah satu destinasi wisata favorit. Bisa kulihat ada banyak warung, rumah makan, penginapan, dan banyak bale-bale didirikan di tepi pantai. Bisa jadi saat tidak pandemi pantai ini jauh lebih ramai dibanding saat kami datang hari ini.

Kami langsung turun menemui air laut di bibir pantai. Teman-teman pun bersemangat bermain air laut, mencari kerang atau kepiting atau kumang, tentunya sambil banyak-banyak membuat foto juga. Sesudah kenyang bermain di pantai, kami segera melanjutkan perjalanan, kali ini menyusur garis pantai ke arah timur. Keluar dari Rancabuaya kami mengambil jalur yang berbeda dengan jalur kedatangan, melewati padang rumput yang luas dengan pemandangan lepas ke laut selatan. Pemandangannya kok seperti di luar negeri ya..

Padang luas di atas Rancabuaya. Foto: Komunitas Aleut.

Kami sempat berhenti sejenak di warung di seberang sebuah masjid besar, makan-minum seadanya sambil salat juga di masjid yang tampak mewah tapi ternyata sangat sepi dan kondisinya kurang terawat. Beberapa saluran air pun mati. Di warung, kami masih sempat bercanda dengan pasangan suami-istri pemilik warung dan dengan dua anak pemulung kemasan plastik. Walaupun malu-malu, kedua anak ini ikut larut juga berkumpul bersama kami.

Dari sini kami diarahkan untuk mengambil jalur pulang ke Bandung lewat Garut, tujuannya agar dapat mengalami daerah Gununggelap saat hari masih cukup terang. Katanya sih selama ini Komunitas Aleut selalu melewati kawasan itu saat hari sudah malam. Cerita tentang Gununggelap akan diberikan kemudian melalui grup whatsapp ADP-20. Baiklah..

Ternyta perjalanan melewati Gununggelap ya cukup menantang adrenalin, banyak melewati kawasan hutan juga. Sebelum keluar Gununggelap hari pun sudah ikut gelap. Kami masih berhenti sekali lagi di perbatasan Gununggelap untuk melaksanakan salat. Istirahat terakhir kami lakukan di ujung Lingkar Nagreg. Pada bagian akhir perjalanan ini udara terasa lebih dingin sampai menusuk tulang. Makanya perlu sedikit penghangat badan, terutama minuman panas. Pukul sebelas malam, kami semua tiba di sekretariat Komunitas Aleut. Badan terasa sangat lelah. Sebagian teman langsung menyeduh wedang yang tersedia agar tubuh kembali panas.

Perjalanan ini cukup melelahkan, terutama bagi saya yang baru pertama kali mengalaminya, namun juga menyenangkan dan banyak hal baru yang aku dapatkan. Ada banyak cerita dan pengalaman yang lucu juga. Terima kasih untuk perjalanannya, Aleut.

Catatan Perjalanan Pantai Selatan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Melelahkan dan mengasyikkan, Itulah kesan Momotoran kedua yang kurasakan bersama ADP-20 Komunitas Aleut. Melelahkan karena panjangnya rute yang harus dilalui, mengasyikkan karena banyak sekali pengalaman dan hal-hal baru yang kulihat dan kualami. Sesuai dengan rencana, Momotoran kali ini (Minggu, 8/11/2020) akan menyusuri Pantai Selatan. Rute keberangkatan kami dimulai dari Pasirluyu Hilir (PH) – Dayeuhkolot – Banjaran – Cimaung – Pangalengan – Talegong – Cisewu – Rancabuaya. Sedangkan untuk jalur pulangnya: Rancabuaya – Santolo – Cisompet – Gunung Gelap – Batu Tumpang – Cikajang – Kota Garut – Leles – Nagreg – Cileunyi – Cibiru – PH.

Kami berangkat sekitar pukul tujuh tigapuluh pagi. Kemacetan dan kerumunan adalah pemandangan yang banyak kulihat di perjalanan pergi dan juga pulang. Pada saat berangkat, dari mulai Dayeuhkolot hingga Banjaran tampak rutinitas masyarakat yang umumnya dilakukan setiap hari Minggu pagi, seperti bersepeda, berbelanja, ataupun sekadar bersantai di kawasan Alun-alun. Di Cimaung, kami berhenti di salah satu tempat bersejarah, yaitu Tugu Perintis Kemerdekaan atau disebut juga Tugu Cimaung. Tugu ini didirikan dan diresmikan pada tahun 1932 dan dipelopori oleh Sukarno yang pada saat itu pernah singgah di Desa Cimaung untuk  memberikan pelajaran politik bagi warga desa Cimaung. Terdapat imbauan untuk tidak memasang spanduk ataupun baligo di area Tugu Cimaung. Imbauan hanya sekedar imbauan. Dapat dilihat beberapa spanduk dan baligo terpampang di sekitar area tugu. Mengapa bisa demikian? Entahlah.

Spanduk dan baligo yang terpampang di area Tugu Cimaung. Foto: Inas. Qori Aina

Di Pangalengan, aku menemukan hal menarik yaitu pada angkutan kota atau angkot yang model pintunya berbeda dengan angkot yang selama ini kulihat di sekitar kota Bandung. Angkot berwarna kuning dengan trayek Banjaran-Pangalengan ini pintunya terletak di bagian belakang mobil dan selalu dalam keadaan terbuka. Model pintu seperti itu membuatku berpikir apakah tidak bahaya untuk para penumpangnya? Apalagi dengan jalur Pangalengan yang relatif menanjak dan cukup curam. Entahlah.

Baca lebih lanjut

300 km Away, Bandung-Rancabuaya

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Annisa Almunfahannah

Minggu, 08/11/2020

Momotoran kali ini kami tempuh dalam waktu sekitar limabelas jam perjalanan, dan rasanya ramai, seperti Nano-nano.

Here we go

Seperti biasa, kami mengawali perjalanan dari sekretariat Komunitas Aleut di Pasirluyu Hilir No. 30. Jalur yang kami ambil ke arah selatan, yaitu melalui Batununggal, Moch. Toha, Dayeuhkolot, Banjaran, Pangalengan, dan seterusnya. Perjalanan kali ini dipimpin oleh Adit sebagai penunjuk jalan yang sepertinya sudah sangat hafal dengan jalur yang akan kami lewati.

Tidak banyak tempat yang kami singgahi mengingat waktu yang terbatas karena perjalanan ini harus kami selesaikan dalam waktu satu hari. Dan kami berhasil, yeay!! Berangkat pada pukul 07.45 dan kembali pada pukul 23.05. Jika kau bertanya apakah kami lelah? Oh tentu saja, setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Ketika aku melihat diriku sendiri di cermin, terlihat kerudung yang sudah berantakan, muka kusam dengan lingkaran di bawah mata yang sangat hitam, oh tidak. Tapi meskipun begitu, banyak momen yang lucu dan menyenangkan ketika kami ceritakan kembali.

Pemberhentian pertama kami yaitu di Tugu Perintis Kemerdekaan yang berlokasi di Kecamatan Cimaung. Tugu ini terletak di pertigaan antara Jl. Raya Pangalengan dan Jl. Gunung Puntang. Di lokasi inilah Ir. Soekarno pernah memberikan kuliah politiknya kepada masyarakat mengenai kemerdekaan. Menurut plakat yang terdapat di dekat tugu, ada sekitar seratus orang yang menjadi peserta kuliah tersebut. Bisa dibilang tempat ini adalah tempat yang membantu terwujudnya kemerdekaan Indonesia karena masyarakat menjadi tersadarkan akan pentingnya kemerdekaan setelah mengikuti kuliah tersebut. Namun sekarang tugu ini hanya terasa seperti patok penanda jalan biasa, bahkan imbauan untuk tidak memasang spanduk dan baliho di sekitaran tugu tidak digubris sama sekali. Baca lebih lanjut

Pengenalan Kawasan Perkebunan di Pangalengan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman.

Momotoran merupakan salah satu kegiatan regular Komnuitas Aleut untuk mengobservasi sejarah suatu tempat. Pada tanggal 24 Oktober 2020, tim peserta pelatihan Aleut Program Development (APD) angkatan 2020 mendapat kesempatan pertama kalinya untuk momotoran ke kawasan Pangalengan. Tujuannya adalah untuk mengobservasi jejak-jejak perkebunan tempo dulu dan beberapa tokohnya.

Untuk Tim APD 2020, ini adalah pengalaman baru momotoran dengan total memakan waktu sekitar 13 jam. Namun, bagi sebagian angkatan lama, ini mungkin kegiatan momotoran yang sudah kesekian puluh kalinya mengunjungi kawasan Pangalengan. Meskipun telah sering kali momotoran, tetapi mereka selalu mendapat hal yang baru lagi dari setiap perjalanannya, karena itu tidak ada kata bosan dalam melakukannya.

Banyak hal yang didapat oleh Tim APD 2020 dari hasil momotoran ini. Bukan hanya sebatas kisah tentang K.A.R Bosscha serta perkebunannya, namun juga pelatihan untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Skill berkomunikasi dan kemampuan berinisiatif setiap individu juga dilatih secara tidak langsung. Melalui program momotoran ini juga dilatih kemampuan secara kelompok, seperti kemampuan berkoordinasi dan mengorganisir suatu kelompok.  Terasa program momotoran di Komunitas Aleut ini sangat banyak sekali manfaatnya, baik untuk diri sendiri maupun untuk khalayak umum. Tapi ya, semua akan kembali kepada tujuan masing-masing, apakah orang tersebut ikut hanya untuk sekadar liburan mengisi kekosongan waktu, ataukah malah hanya sekadar untuk menemukan sang pujaan hati?

Di rumah Bosscha. Foto: Reza Khoerul Iman.

Pada pertemuan hari Kamis sebelumnya, terlihat semua kebutuhan dan keinginan masing-masing peserta telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Pembagian tugas dalam momotoranpun sudah dipersiapkan, sampai setiap orang sudah ditentukan partnerperjalanannya untuk memenuhi kelancaran komunikasi dan keaktifan semua individu. Awalnya Pak Alex berpasangan dengan Madiha, begitu juga Pak Hepi berpasangan dengan Agnia, namun ketika bergabung dengan saya dan Annisa yang menunggu di Alun-alun Banjaran, terjadi perubahan komposisi. Ternyata ini bertujuan untuk melatih komunikasi sesama anggota baru.

Baca lebih lanjut

Dari Kina Sampai Bosscha

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Lisa Nurjanah

“Sampai di tujuan itu urusan nanti, yang penting perjalanannya dan apa yang bisa kita dapatkan dari sana.”

Begitulah prinsip dari Komunitas Aleut setiap momotoran. Hari sabtu tanggal 24 Oktober 2020, kami momotoran ke Pangalengan Ciwidey dengan menyusuri rute Banjaran, Kertamanah, Pangalengan, Malabar, Pasirmalang, Cileunca, Riunggunung, Gambung, dan Ciwidey.

Berangkat pukul 07:30 dari sekre Komunitas Aleut di Komplek Pasirluyu saat cuaca cerah. Setelah melewati Banjaran, kami berhenti sejenak untuk mendengarkan penjelasan tentang beberapa gunung yang ada dalam jangkauan pandangan. “Itu Gunung Tilu,” tunjuk Bang Ridwan, terlihat tiga puncak gunung berjejer di sana. “Di sebelah sini adalah gunung Malabar, dan saat ini kita sedang berada di kaki gunung Malabar. Di balik Gunung Tilu itu adalah kawasan Pacet, sedang di balik Gunung Tilu ada kawasan Gambung, Pasirjambu, dan Ciwidey,” lanjutnya.

Perjalanan berlanjut sampai ke kawasan Perkebunan Cinyiruan. Di sini kami mendatangi sebuah tugu yang didirikan untuk memperingati 100 Tahun Penanaman Kina (1855-1955). Walau bukan tanaman asli dari Indonesia, kina memiliki sejarah panjang dan penting. Tanaman ini dibawa dari Peru oleh seorang yang bernama Justus Carl Hasskarl ke Hindia Belanda. “Hanya 70 dari 121 benihnya berhasil selamat dari perjalanan,” begitu keterangan dari Pak Alex. Dulu, kina digunakan sebagai obat utama untuk penyakit malaria. Tanaman ini kemudian dikembangkan oleh seorang Jerman yang bernama Franz Wilhelm Junghuhn. Ia sebenarnya bukan hanya ahli budidaya tanaman, ada banyak kisah dalam perjalanan hidupnya. Masa remajanya pernah depresi dan hampir bunuh diri, dan pernah juga dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena berduel dan secara tidak langsung membuat lawannya tewas. Junghuhn juga memiliki keahlian sebagai seorang dokter bedah, geologi, dan fotografer. Junghuhn secara tidak langsung memberikan nama wilayah “Pangalengan”, karena ia pernah membuka usaha pengalengan kopi di sana.

Baca lebih lanjut

Bosscha dan Perkebunan Teh Malabar dalam Aleut Program Development, 2020.

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Annisa Almunfahannah

Oke, jadi ngebolang kali ini aku lakukan bersama dengan komunitas Aleut dengan judul Momotoran

Perjalanan kami dimulai dari Alun-Alun Banjaran sebagai titik pertemuan aku dengan teman-teman lain yang berangkat dari Rumah Aleut di Pasirluyu Hilir, Bandung. Mungkin teman-teman lain sudah menulis catatan bahwa kegiatan momotoran ini adalah bagian dari Kelas Menulis untuk para peserta Aleut Program Development (APD) 2020. Dalam kegiatan momotoran ini semua peserta mendapatkan tugas untuk membuat tulisan dengan tema yang berbeda-beda. Tugas saya menulis apa? Nah, simak saja ceritanya.

Gerbang Perkebunan Malabar. Foto: Aleut.

Singkat cerita, kami tiba di pintu gerbang Perkebunan Teh Malabar yang kini dikelola oleh PTP Nusantara VIII. Sebelumnya, kami sempat mampir dulu ke warung nasi terdekat untuk membeli bekal makan siang yang akan dimakan nanti dalam perjalanan.

Menurut artikel yang pernah aku baca, Perkebunan Teh Malabar adalah perkebunan terbesar ketiga di dunia. Setiap harinya perkebunan ini dapat menghasilkan hingga 60.000 kilogram pucuk teh dan hampir 90% dari hasil produksinya menjadi komoditas ekspor. Perkebunan ini dibuka oleh seorang Preangerplanter bernama Kerkhoven, yang kemudian mengangkat sepupunya, yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha untuk menjadi administratur dan mengelola perkebunan tersebut. Beliau menjabat sebagai administratur selama 32 tahun sebelum wafat akibat tetanus setelah terjatuh dari kuda yang ditungganginya.

Tidak jauh dari pintu gerbang, kita bisa melihat pohon-pohon tinggi menjulang dengan batang yang terlihat sudah sangat tua. Pepohonan itu tampak mencolok di antara hamparan tanaman teh sekitarnya. Tempat itu disebut leuleweungan,yang dalam bahasa Indonesia berarti hutan-hutanan, karena memang tempat ini terlihat seperti hutan kecil dengan berbagai vegetasinya. Di sinilah tempat peristirahatan terakhir K.A.R. Bosscha. Pusara Bosscha berbentuk pilar-pilar melingkar yang terbuat dari marmer dan tiang tinggi serta kubah yang menaungi makam di bawahnya. Menurut cerita, pada masa hidupnya, Ru Bosscha senang menghabiskan waktu untuk bersantai di tempat ini, dan beliau pernah berpesan agar dimakamkan di tempat ini bila wafat nanti.

Baca lebih lanjut

Sensasi Ngaleut Momotoran Pertamaku

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh Agnia Prilika Riyanto

Apa yang terlintas dibenak teman-teman ketika pertama kali mendengar kata momotoran?

Mungkin kata momotoran yang satu ini bisa merujuk pada kata touring, yaitu ketika kita melakukan perjalanan bersama secara beriringan, menjelajah, dan menyusuri kota yang relatif cukup jauh menggunakan kendaraan beroda dua (sepeda motor). Bagi sebagian orang, aktivitas momotoran ini bisa menimbulkan beragam persepsi dan imajinasi, baik itu dari segi kebermanfaatan, keselamatan, dan atau hanya untuk sekadar bersenang-senang.

Bagaimana denganku? Mengapa aku sangat tertarik mendengar kata momotoran yang akan diadakan oleh komunitas Aleut?

Bukanlah yang pertama bagi komunitas Aleut mengadakan kegiatan momotoran, namun ini menjadi kali pertama bagiku dan teman-teman tim APD (Aleut Program Development) angkatan 2020 untuk melaksanakan kegiatan lapangan pertama bersama dengan menjelajahi kawasan Pangalengan – Ciwidey.

Sabtu, 24 Oktober 2020, akhirnya aku bisa menghabiskan waktuku bersama teman-teman baru, menikmati dunia luar dan merasakan sensasi momotoran ala Komunitas Aleut. Sebenarnya kegiatan ini tidak jauh berbeda dengan definisi momotoran pada umumnya seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Hanya saja momotoran ala komunitas Aleut ini memiliki ciri khas tersendiri serta selalu meninggalkan kesan dan pesan berharga bagi siapapun yang mengikutinya. Jika kamu penasaran ayo bergabung bersama Komunitas Aleut 😀

Dua hari sebelum hari keberangkatan, aku meminta izin dan meyakinkan kedua orang tuaku, bahkan bisa dibilang ke hampir seluruh anggota keluarga. Wajar saja, aku hanyalah anak rumahan yang jarang bermain jauh, sekalipun bermain jauh itu adalah kegiatan darmawisata sekolah ataupun acara-acara tertentu. Hfftt membosankan sekali. Tapi apa daya.., aku juga tak bisa memaksakan diri dan menyalahkan keadaan serta sikap orang tuaku yang kadang seakan-akan terlihat mengekang/protektif, namun sebenarnya tidak sama sekali. Aku sangat paham betul mengapa mereka begitu. Merupakan hal yang wajar bagi orang tua apabila timbul rasa khawatir dan cemas pada anaknya, apalagi jika anaknya perempuan dan sudah beranjak dewasa. Ditambah kondisi saat itu yang mungkin menurut mereka tidak memungkinkan untuk aku tetap pergi adalah karena sedang musim hujan, pandemi Covid-19, dan melihat aktivitas keseharianku yang selalu begadang.

Setelah aku menjelaskan kegiatan momotoran Aleut ini secara detail dan mencurahkan segala isi hati dan perasaan menggebu serta keinginan kuat untuk mengikuti Ngaleut, akhirnya aku mendapatkan izin dan doa restu dari kedua orang tua dan keluargaku dengan segala pertimbangan yang ada. Hehe. Berhubung tempat ngaleut momotorannya juga tidak terlalu jauh dan masih berada di satu kota tempat kelahiranku. Yups! ngaleut momotoran kali ini masih berada di sekitaran wilayah Bandung, lebih tepatnya di kawasan Pangalengan – Ciwidey. Sekitar pukul 07.00 pagi aku sudah berada di Sekretariat Aleut, begitupun teman-teman APD lainnya. Adapun 2 teman kami yang berasal dari Ciwidey dan Cilampeni (Reza dan teh Annisa) diinstruksikan untuk menunggu di Kamasan, dekat Alun-Alun Banjaran agar tidak mutar balik lagi.  Setelah semua anggota berkumpul di sekretariat, kami sempat mengadakan briefing terlebih dahulu sebelum keberangkatan untuk mengecek kembali barang-barang apa saja yang dibutuhkan, menentukan partner naik motor, dan urutan momotoran ketika di perjalanan. Terhitung ada 8 motor dengan total 14 orang yang siap berangkat menuju tempat yang dituju.

Baca lebih lanjut

Asyiknya Ngaliwet Bersama Komunitas Aleut

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Aditya Wijaya.

Bunyi alarm membangunkan saya dari tidur lelap setelah melakukan perjalanan momotoran Pangalengan-Ciwidey kemarin bersama Komunitas Aleut. Saya bersiap untuk memacu kendaraan menuju sekretariat Aleut di Pasirluyu Hilir. Cuaca Bandung pagi hari seperti biasa dingin dan berawan. Sesampainya di sekretariat Aleut pukul 09.00 pagi, kami para peserta APD (Aleut Program Development) 2020, dengan ditemani teh Rani, bang Ridwan, dan pak Hevi, bersiap untuk melaksanakan kegiatan ngaliwet yang akan diliput oleh sebuah kanal televisi dari Jakarta.

Sambil menunggu teman-teman yang lain datang, teh Rani mebawa secercah harapan karena membeli sebungkus gorengan hangat yang memang cocok disajikan pada pagi hari. Hari semakin siang, satu persatu teman-teman berdatangan dan mulai terlihat kesibukan untuk mempersiapkan liwetan yang akan disajikan nanti. Kejadian yang membuat sedikit cemas adalah ketika teh Rani menyadari bahwa tahu dan oncom yang baru dibelinya di pasar tidak ada. Bergegaslah teh Rani dan pak Hevi menuju pasar untuk menjemput tahu dan oncom yang hilang.

Reza yang tinggal di Ciwidey pun datang membawa banyak jenis lalab yang sudah mulai jarang ditemui di pasar-pasar kota Bandung, mulai dari takokak, jotang, antanan, selada air, daun mint, dan kemangi. Tak lengkap rasanya bila ngaliwet tanpa lalab dan sambal. Soal lalab, saya sebetulnya merasa asing dengan nama-nama lalaban tersebut, karena memang sudah jarang ditemui di restoran atau warung makan biasa.

Dapur sekretariat Aleut menjadi sangat sibuk oleh teman-teman yang mempersiapkan bahan-bahan liwetan. Tugas pertama saya adalah memotong kangkung bersama pak Hevi, Ricky, Reza, dan Farly. Sementara itu, Agnia dan Madiha mempersiapkan tempe yang akan digoreng serta dibacem. Berikutnya, saya lanjutkan dengan memotong bawang merah dan bawang putih. Begini ternyata rasanya memasak, menyenangkan, ucap saya dalam hati. Setelah itu saya menggoreng tahu dan tempe, sementara Lisa menggoreng teri dan asin.

Baca lebih lanjut