Monumen Bandung Lautan Api

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

image

24 Maret 1946, langit Bandung tak secerah hari ini.
Kepulan asap hitam dan jilatan api merah membara mewarnai jengkal udara di kota ini.
Ratusan ribu warga kota Bandung membakar bangunan dan tempat tinggalnya untuk melindungi Kota Bandung dari penjajah.

70 tahun berselang, Kota Bandung telah lahir kembali dengan membawa banyak perubahan dan inovasi. Sebuah tugu berbentuk kobaran api bertengger kokoh di Lapangan Tegallega, sebagai pengingat untuk mereka yang hidup di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Karya-karya Irfan yang lainnya bisa dilihat di http://instagram.com/fan_fin

Kenangan Masa Kecil di Pindad

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Ngaleut Kiaracondong kemarin sebetulnya lebih seperti nostalgia masa kecil saya. Hampir setiap titik yang didatangi merupakan jalur yang dulu sering dilewati dan mempunyai kenangan tersendiri. Tapi dari semuanya, Pindad adalah yang mempunyai kenangan paling berkesan. Sayangnya, di ngaleut kemarin kita masuk ke dalam komplek Pindad mengingat izin masuk ke dalam belum juga keluar.

Pindad berawal dengan nama Artillerie Constructie Winkel (ACW) yang berdiri di tahun 1908. ACW adalah sebuah bengkel peralatan militer yang berkedudukan di Surabaya. Bengkel ini berkembang menjadi sebuah pabrik, yang diikuti perubahan nama dan pengelola menjadi Artillerie Inrichtingen (AI). Lokasi pabrik dipindahkan lokasinya dari Surabaya ke Bandung pada tahun 1923.

Perpindahan pabrik dari Surabaya ke Bandung juga diikuti oleh perpindahan para pekerja Artillerie Inrichtingen ke daerah sekitar Stasiun Kiaracondong. Makanya di sekitar Kiaracondong kita kenal sebuah kawasan yang bernama Babakan Surabaya, karena kawasan ini adalah sebuah kampung baru tempat para pekerja asal Surabaya tinggal.

Berdasarkan buku Tiada Berita dari Bandung Timur karya Jus Rusady, di masa mempertahankan kemerdekaan, pabrik ini berhasil direbut para pejuang di Bandung tanpa adanya baku senjata maupun korban jiwa. Kejadian ini tepatnya terjadi pada 5 Oktober 1945.

Setelah kemerdekaan Indonesia diakui oleh Pemerintah Belanda, secara resmi pada tahun 1950 kumpeni menyerahkan pabrik tersebut kepada Pemerintah Indonesia. 29 April 1950, pabrik ini berganti nama menjadi Pabrik Senjata dan Munisi (PSM). Nama PSM kini menjadi nama jalan di dekat kawasan Pindad, sedangkan tanggal 29 April diperingati sebagai Hari Jadi Pindad. Nama Pindad sendiri adalah singkatan dari Perindustrian Angkatan Darat dan baru digunakan pada tahun 1962, setelah kepengelolaannya jatuh kepada Angkatan Darat.

***

Waktu Bapak masih dinas di Pindad, saya sering sekali datang ke sini, baik itu hanya untuk sekedar menjemput bersama Ibu ataupun main sampai ke daerah hutan yang berada di bagian paling belakang komplek.

Kenari

Kenari

 

Setiap jemput Bapak, saya sama Ibu punya satu kebiasaan: berburu kenari. Sebagai anak kota nanggung, sebelum berburu sama Ibu saya cuma tahu kenari dari cerita Chip & Dale aja. Di dekat tempat parkir ini banyak banget pohon kenari. Manjat pohon demi kenari? Tentu tidak. Saya sama Ibu cuma mungutin kenari yang jatuh di bawah pohon. Setelah selesai memungut, kenari dipecahin pakai benda keras. Biasanya sih pakai batu yang ada di sekitar tempat berburu. Kenari yang sudah dipecahin dicuci dulu sebelum dimakan. Rasanya sih mirip sama almond yang di coklat merek ratu sliver itu.

Ga banyak orang yang tahu kalau Pindad punya hutan di dalam lahan 66 hektar ini. Maklum, untuk masuk ke kawasan hutan ini kita harus melewati salah satu pos yang penjagaannya super ketat.

Gerbang Utama Pindad

Gerbang Utama Pindad

 

Detailnya gini: Persis di pintu masuk gerbang dari Jl. Gatot Subroto itu ada pos penjagaan pertama yang lumayan ketat. Selama alasan kita puguh mau ngapain masuk ke dalam komplek, kita bakal diizinin buat masuk ke bagian depan Pindad. Di dalem bagian depan, kita bakal nemuin gedung direksi, gedung humas, parkir motor, bangunan kantor, gedung serba guna yang kesohor dipakai undangan, sama akses jalan menuju RS Pindad.

Nah, hutan ini ada di bagian dalam komplek. Ga semua orang bisa masuk ke dalam, karena cuma karyawan, tamu khusus, atau mereka yang dapet izin aja yang bisa. Maklum, bagian dalam ini adalah daerah produksi. Mengingat barang yang diproduksinya adalah peralatan militer, bagian dalam ini masuk ke zona sensitif. Pada ngerti lah ya.

Saya bisa dibilang cukup beruntung karena pernah masuk ke bagian dalam, walaupun itu juga cuma dua kali. Semasa dinas, Bapak memang punya akses buat masuk dan selama ada Bapak di dalam saya diperbolehkan ikut masuk. Setiap masuk ke dalam, alih-alih dibawa ke ruangan Bapak, saya selalu dibawa ke Gedung 100. Tentu saja gedung ini ga ada kaitannya dengan kuis Family 100. Setiap gedung di Pindad punya nomor gedung, dan gedung ini nomornya 100.

Gedung 100 dulu fungsinya mirip bengkel. Gedung ini menggarap beberapa prototip mobil, baik itu mobil kecil sampai yang besar. Saya masih ingat saat Bapak bawa saya ke gedung ini pertama kali.

Saat itu hari Sabtu. Saya masih duduk di kelas 5 SD. Gedung 100 lagi menggarap dua prototip fun-kart untuk TNI. Entah apa yang ada di pikiran Bapak dan teman-temannya saat itu sampai saya diberi izin mengendarai fun-kart bertransmisi otomatis. Mungkin Bapak menilai kemampuan menyetir saya di Gran Turismo cukup baik.

33855-mod

Kurang lebih kayak gini bentuk fun-kart prototipnya

Izin ini tentu aja ga saya sia-siakan. Macam kucing yang dikasih ikan asin, hampir selama seharian saya keliling Gedung 100 dan komplek Pindad bagian dalam. Sendirian, tanpa ada orang dewasa di kursi penumpang. Kesenangan tak berhenti di situ. Salah satu teman Bapak, Om Sigit, kemudian mengajak saya bermain ke hutan dengan fun-kartini dan saya diberi kebebasan untuk berkendara off-road di dalam hutan. Sejak itulah saya tahu kalau ternyata Pindad punya hutan yang sangat luas. Mungkin setelah tersadarkan kalau mengizinkan anaknya mengendarai fun-kart seharian adalah sebuah kesalahan fatal, Bapak akhirnya menjemput saya saat maghrib menjelang. Sebagai penggila otomotif sejak usia dini, pengalaman ini adalah sebuah kenangan tersendiri yang ga akan pernah saya lupakan.

Tank - Budaya 06

Bukan tank yang ini loh yah

 

Sedangkan kali kedua main ke bagian dalam itu waktu Gedung 100 lagi dapat proyek perbaikan tank milik TNI. Sebelum pergi ke Pindad, Bapak sudah ngasih spoiler kalau nanti di dalam saya akan naik tank. Entah apa lagi yang terlintas di pikiran Bapak saat itu sampai mau ngajak saya naik tank alih-alih naik delman istimewa keliling kota. Saya duduk berdiri di samping belakang pak kusir Om Sigit yang mengendarai kuda tank supaya baik jalannya. Kesempatan ini mungkin tidak akan pernah saya dapat lagi.

Sekarang, Gedung 100 sudah berubah fungsi sebagai gedung produksi Panser Anoa 6×6. Ga ada lagi space di dalam gedung untuk dipake main fun-kart.

Hari jadi Pindad juga punya kenangan tersendiri untuk saya. Setiap akhir bulan April, Bapak selalu membawa saya dan Ibu ke Pindad untuk nonton pesta kembang api dan juga pasar malam. Pesta kembang apinya selalu meriah, dengan bermacam variasi warna. Suara dentuman kembang api ini bisa terdengar hingga radius 8 km. Ajang hari jadi Pindad juga selalu saya manfaatkan untuk jajan sepuasnya baik itu makanan ataupun mainan. Entah apakah sekarang tradisi ini masih berjalan, karena sudah lebih dari tahun saya ga lagi main ke sana setiap hari jadi Pindad. Udah agak lama juga ga terdengar suara dentuman kembang api yang biasanya terdengar sampai Arcamanik dan Padasuka

***

Dua belas tahun telah berlalu. Bapak sekarang bekerja di luar kota setelah ambil pensiun dini dua belas tahun yang lalu dari Pindad. Saya yang waktu itu masih berseragam putih-merah saat bersenang-senang dengan fun-kart dan merasa bahagia karena berkesempatan naik delman tank istimewa kini akan menghadapi masa galau tesis dalam waktu kurang dari sebulan lagi. Hidup telah berubah setelah dua belas tahun, tapi kenangan itu tentu saja tak akan pernah berubah. Tetap terasa manis seperti kamu. Iya, kamu.

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/03/31/kenangan-masa-kecil-di-pindad/

Stilasi Nomor Empat

Sepuluh stilasi yang dibangun untuk mengenang Bandung Lautan Api telah diperbaiki. Denah 10 stilasi, Teks lagu ‘Halo-halo Bandung’ , para sponsor serta Patrakolama udah terpasang di kesepuluh stilasi tersebut. Semoga timbul kepedulian masyarakat untuk mengenal dan merawat obejek objek sejarah yang ada dikotanya.

Stilasi keempat di berada di samping sebuah rumah yang terletak di Jl Simpang. Di tempat inilah dilakukan perumusan serta diambilnya keputusan pembumihangusan kota Bandung. Perintah untuk meninggalkan kota Bandung pun dikomandoi dari rumah ini.

Foto diambil :8-6-2012

Oleh : Dhika Permana Amri

Laskar Api

Oleh : Mira Rachmawatie

Bandung, 23 maret 1946

Suasana langit  sore Parijs van Java berwarna merah marun, semburat lembayung terlukis. Saat kepala menengadah keatas maka terpaksa mata memicing untuk menghindari terpaan warna sang langit. Jam 17.00 mungkin atau bahkan menuju magrib, suasana Bandung  tampak mencekam.

“Rencana kita apakah sudah matang??” sang kolonel  berbicara, dengan pandangan yang lurus ke arah meja yang ada di depan nya

“Siap kolonel!!!” sahut sang ajudan

“evakuasi rakyat, segera!! Segenap raga dan jiwa tidak akan pernah rela jika tanah ini kembali dijajah!!” teriak sang kolonel

“merdeka!!!!” teriak lantang para pembawa obor.

 

 

Bandung, 23 maret 1946

Pukul : 23.00

Derap langkah para laskar terdengar, degup jantung mereka pun serasa akan menggoncangkan Tanah Parahyangan ini.

Penentuan titik – titik api sudah dimulai. Para pejuang api mulai mensisir warga dan mendata rumah siapa saja yang rela menjadi korban.

Setiap pintu mereka datangi, tak hanya disambangi, tetapi mereka kobarkan api yang sangat besar pada setiap penghuni rumah yang mereka kunjungi.

“bung, saya dengan sukarela membakar semua yang saya punya, termasuk jantung saya demi perjuangan tatar Parahyangan” sahut salah seorang pemuda kepada sekumpulan laskar api

“baik bung, mari bergabung, hanya pemuda seperti anda yang mampu menjadi kan tatar Parahyangan ini menjadi panas dan membara” sang empu laskar menyambut dengan mata yang berbinar.

 

 

Bandung, 24 maret  1946

Pkl : 05.00

Sekelompok pemuda, berlari menuju pusat kota Parijs van Java. Derap derap langkah mereka terdengar, nafas yang terengah-engah pun menjadi  pengiring derap langkah mereka.

Demi tatar Parahyangan, demi tanah kelahiran mereka, berkobaran api di kepalan tangan mereka.

Tinjuan dari kepalan tangan ke langit yang kosong menjadi sangat berarti bagi sekelompok pemuda ini. Laskar api, suara suara menggelegar dari sang empu bagiakan minyak tanah yang terus disirami kepada jiwa mereka yang sedang membara.

Sekarang hanya teriakan teriaknn heroik yang sangat membahana terdengar.

“Merdeka!!!merdeka!!!merdeka!!!” suara lantang dari laskar api

 

 

Bandung, 24 maret 1946

Pkl: 06.00

Sirene sudah mulai menghiung, pertanda sudah dimulai

“ayo!!! Kita mulai, jangan ragu bung!! Nasib tatar ini ada dikepalan tangan kita semua, MERDEKA!!!!!” Gelegar sang empu laskar, membuat kobaran sang laskar api semakin berkibar.

DUARRRR!!!!…

DUARRRRRR!!!!

DUARRRRR!!!

Suara bom yang dilemparkan sudah terdengar. Bom bom tersebut serasa lega dengan mengeluarkan suara suara yang menggelegar. Bandung semakin panas, semakin membara.

Semua titik mereka lumat tanpa sisa. rumah rakyat tampak lezat dilahap oleh si jago merah.

Bandung terbakar. Bandung membara.

Sang koloni kewalahan.

Laskar api berlari, membawa si jago merah dikepalan tangan mereka.

MERDEKA!!!!MERDEKA!!!

 

Bandung. 1 april 2012

Pkl 08.00

Segerombolan pemuda dan pemudi berada di depan gedung Bank Jabar Banten. Mengerumuni seonggok semen yang kira-kira 50-60cm tinggi nya. Stilasi, itu yang mereka sebut-sebut. Padahal hanya seonggok semen berbentuk bangun ruang segitiga dilengkap plat besi di setiap sisi nya.

Janganlah berburuk sangka pada onggokan semen tersebut, disana ada berbagai cerita yang akan membuat kita merasa menjadi pejuang.

Stilasi Bandung Lautan Api, adalah sebuah penanda yang dibangun sekitar tahun 1995 atau 1997 (saya lupa persisnya). Ini  merupakan monumen, pertanda bahwa Bandung pernah di bumi hangus kan oleh rakyatnya sendiri. Mungkin jika seonggok semen ini bisa berbicara maka dia akan seperti proyektor yang akan memutarkan tentang kisah bagaiman tatar Parahyanagn ini menjadi batu bara yang panas. Refleksi peristiwa  Bandung Lautan Api di zaman sekarang sangat kentara perbedaan dengan  zaman dulu. Jajaka jajaka bandung membumi hanguskan segala yang mereka miliki dengan  satu alasan yaitu PENGORBANAN.

Tetapi berbeda dengan kenyataan sekarang, pemuda sekarang membumi hanguskan apapun yang ada dihadapan mereka dengan alasan PENOLAKAN. Sungguh sangat jauh. Seperti langit dan bumi.

Tentu fikiran kita melayang ketika pemerintah dengan kurang tegas dan lugas ingin menaikan harga BBM. Para demonstran yang notabene adalah pemuda pemudi mulai beraksi, menunjukan ke “membaraan”  mereka. Menunjukan “kelantangan “ mereka sebagai pemuda, dengan berteriak di depan gedung gedung pemerintah.

Ironi . hangus nya tatar parahyangan tahun 1946 dan hangus nya tatar parahyanagn tahun 2012 diesebakan oleh hal yang berbeda. Yang bertolak belakang sekali.

Bandung. 8 april 2012

*cerita diatas hanya fiktif belaka, apabila ada kesammaan tokoh atau nama itu hanya kebetulan,, hehehe

Bandung Dibakar Api Cinta?!

Oleh : Candra Asmara

Ketika kita berbicara mengenai bandung lautan api, pengertian kita akan langsung tertuju pada pembakaran yang dilakukan oleh warga bandung terhadap kotanya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah,mengapa warga kota bandung saat itu sampai rela membakar “kehidupannya” sendiri? Mengapa jalan itu yang dipilih? Apakah langkah tersebut efektif dalam mempertahankan kemerdekaan indonesia? Mungkinkah itu hanya sekedar luapan heroisme yang sia-sia saja?

Indonesia, setelah memerdekakan diri, kota-kota pentingnya kedatangan “tamu” untuk kesekian kalinya. Tamu lama, yaitu belanda..tamu baru inggris, dan tamu allstar yang tergabung dalam team NICA. Mereka datang dengan berbagai kepentingan. Belanda, mencoba kembali menguasai Indonesia setelah Jepang dipaksa menyerah oleh sekutu. Inggris, berdalih untuk memulangkan tentara-tentara Jepang dan melucuti persenjataan Jepang. Dan NICA, bertujuan untuk menembaki, menjarah dan memerkosa. Heuheu.
Kota BAndung, tak ketinggalan untuk “dimeriahkan” oleh mereka.
Para mojang jajaka bandung keheranan melihat bule-bule berseragam tentara hilir mudik di kota. Sok-sok ngatur harus ini harus itu..legeg bahasa sunda na mah..
Dan para “selebritis” kota yang cukup kritis, mampu menangkap sinyal bahwa kalau ini dibiarkan, tak lama lagi Belanda akan menginjak-injak naskah proklamasi 17 agustus 45 yang menyatakan kemerdekaan Indonesia. Setelah darderdor mencoba mempertahankan harga diri sebagai bangsa yang telah merdeka, bule-bule pun tak tinggal diam. Terus mencari cara untuk mempersempit ruang gerak perjuangan para “selebritis” kota saat itu. Salah satunya dengan cara membagi wilayah Bandung menjadi dua bagian. Bagian utara khusus para tamu, dan bagian selatan khusus pribumi, yang dipisahkan oleh rel kereta api sebagai garis batas.
Setelah berbagai peristiwa insidental yang terjadi antara utara dan selatan. Sampailah pada suatu titik dimana pihak utara menginginkan militer pribumi yang ada di bandung selatan untuk “nyingkah” segera, tidak termasuk warga biasa, dan orang-orang pemerintahan.

Tentu saja para “selebritis” pejuang kota Bandung tidak menginginkan hal itu terjadi. Mereka berunding dan memunculkan beberapa pendapat:
1. “kita harus tetap berjuang! Kita lawan! Jangan pedulikan ultimatum mereka! Kita pertahankan kota ini! (-pendapat yang keluar berdasarkan cinta pada kota Bandung. Berani, tetapi tidak mempertimbangkan akibat bila hal ini benar-benar terjadi. Persenjataan sangat timpang, modal semangat?! Mati, percuma.)
2. “Kita turuti saja kemauan mereka! tetapi warga juga harus ikut mengungsi! kita tidak dapat membiarkan warga ditinggal sendiri! siapa yang melindungi mereka?! (-juga pendapat yang keluar berdasarkan cinta, agak humanis, tetapi mana perjuangannya?! kalau hanya menuruti kemauan bule-bule utara, sama saja kita menyerah..pengecut.)
3. “Kita turuti saja, kita mengungsi, ajak warga dan staf pemerintahan. Namun kota ini tidak akan kita berikan begitu saja. Kita lumpuhkan titik-titik penting yang sekiranya akan digunakan bule-bule utara untuk kembali menjajah kita!” (-cinta juga, tampaknya pendapat ini keluar dari pimpinan rapat, pendapat yang diplomatis, ngungsi iya, berjuang dengan cara lain pun iya..)
Akhirnya, pendapat ketiga yang disetujui dan disepakati. Untuk melumpuhkan titik-titik penting yang berada di bandung selatan dipih cara bumi hangus, tempat-tempat yang dirasa penting akan dibakar dengan api cinta para pejuang.
24 maret 1946. Rencana bumi hangus akan dilaksanakan. Warga kota mulai mengungsi ke arah selatan. Majalaya, Garut, bahkan ada yang ke Yogyakarta.

Semakin senja suasana kota bandung pun semakin mencekam. Warga kota berbondong-bondong, membawa barang seadanya. Anak kecil yang digendong bapaknya, bayi yang disusui ibunya, kakek nenek yang dituntun anak cucunya, bahkan ibu hamil yang ikut terbawa arus trend bandung saat itu..mengungsi. Ditengah warga kota yang sedang ”bingung”, para pejuang kota sedang sibuk-sibuknya memasang peledak di gedung-gedung yang dirasa penting dan akan diduduki bule-bule utara nantinya. Bumi hangus akan ”resmi” dilaksanakan dengan ditandai oleh ledakan dari indische restaurant (gedung BRI sekitar alun-alun). Ledakan restoran ini bagaikan kartu pertama yang disentuh dalam efek kartu domino. Begitu indishe restaurant meledak, semua yang ditugaskan untuk meledakan bom harus segera ”push the button”.
Hari semakin larut..kota semakin sepi. Kota hanya berisikan para pejuang yang tengah gugup untuk membumihanguskan kotanya sendiri. Di sudut-sudut kota tampak para NICA yang tengah menjarah isi rumah yang ditinggal, terlihat juga orang-orang Cina, sebagian cina tetap tinggal, sebagian cina yang lain mengungsi ke utara, dan sebagian cina yang lainnya lagi malah sibuk berbisnis.
Bada isya, sebagian kota mulai menyala merah. Warga yang tengah mengungsi pun ikut membakar rumah-rumah yang berada di piggir jalan yang mereka lalui. Rumah tukang nasi kuning, rumah pak RT, rumah ceu kokom, rumah mang usep dan rumah-rumah lain yang berdinding bilik. Untuk apa mereka membakar rumah-rumah penduduk yang tak akan pernah dilirik bule-bule? Bukankah hanya tempat-tempat penting saja yang harus dibakar?

Mungkinkah ini berangkat dari ketidaktahuan sebagian pejuang dan warga? Atau ikut-ikutan trend saat itu, bakar satu bakar semua, duruk hiji duruk kabeh,,
Tiba-tiba..
Jeleger! Buum! Deeus!
Pukul 8 malam. Indische restaurant meledak.
Segera saja peledak-peledak yang lain membuntuti, saling berdebum seperti yang direncanakan.
Ya, urutan peledakan memang sesuai yang direncanakan. Indische restaurant terlebih dahulu, lalu diikuti yang lainnya. Namun waktu peledakan ternyata terlalu cepat dari yang direncanakan. Pukul berapa sebenarnya waktu yang direncanakan itu? Banyak pendapat yang berbeda. Ada yang bilang pukul 22.00, ada yang bilang 24.00,,jadi boleh dibilang ga ada salahnya bila ada yang meledakkan pada pukul 20.00, toh waktu yang direncanakannya pun simpang siur.
Namun, buku-buku yang mengangkat tema bandung lautan api sepakat bahwa rencana peledakan sebenarnya pukul 24.00, dan peledakan pertama di indische restaurant terlalu cepat 4 jam. Oleh karena itu, banyak tempat yang tidak sempat diledakkan karena pemasangan hulu dan hilir ledak belum sempat terpasang dengan baik.
Ternyata, sebagian besar tempat yang diledakkan pun hanya menderita ”luka ringan”. Tidak rusak berat dan terbakar habis seperti yang dibayangkan. Ini dikarenakan kualitas bahan peledak yang seadanya sehingga tidak sanggup untuk meledakkan tempat-tempat penting yang sebagian besar berupa gedung-gedung besar yang berdinding keras dan kokoh.
Kembali pada masalah waktu perencanaan, bila memang saat itu peledakan dilaksanakan pada waktu yang sesuai rencana, apakah ketepatan waktu akan memberikan andil yang besar bila tujuannya untuk membumihanguskan tempat-tempat penting tadi? melihat fakta bahwa beberapa tempat yang diledakkan pun tidak sepenuhnya rusak dan bahkan bisa dipakai kembali.
Namun kita boleh terhibur dengan meledaknya gudang mesiu belanda di dayeuh kolot. Gudang mesiu yang dianggap oleh banyak orang diledakkan oleh moh.Toha yang hingga kini orang-orang masih memperdebatkan siapa beliau, wajahnya bagaimana, perawakannya bagaimana, dan zodiaknya apa..Dan untuk persepsi lain gudang tersebut meledak karena kesalahan penjaga gudang tersebut alias human error,.
Intinya, bumi hangus bandung tidak mempengaruhi perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan, karena tetap jalan diplomasi yang amat sangat berpengaruh. Bumi hangus bandung lebih tampak sebagai aksi heroik semata, melihat militer kita yang tengah terdesak, dan ini merupakan jalan satu-satunya yang bisa diambil. Bumi hangus bandung memiliki tujuan yang jelas, menghanguskan tempat-tempat penting di bagian selatan, meskipun faktanya sebagian besar hanya rumah penduduk yang terbakar, dan tempat-tempat lain yang nonfungsional untuk diduduki belanda. Tujuan bisa dikatakan jelas, namun perencanaan kurang matang.
Memang, bandung dibakar dengan api cinta. Warga kota rela membakar kehidupannya, dan harus hidup dari nol kembali saat kembali ke bandung. Sungguh gila. Kalau tidak gila bukan cinta namanya.

sumber:
membaca buku “saya pilih mengungsi”,
ngaleut, dan
mengobrol.

Bandung Lautan Api .. Harta Benda dan Nyawa Dikorbankan ..

By : Asri “Cici” Mustikaati

Halo, Halo Bandung

Ibu kota periangan

Halo,Halo Bandung

Kota kenang-kenangan

Sudah lama beta

Tidak berjumpa dengan kau

Sekarang telah menjadi lautan api

Mari bung rebut kembali

Dulu sewaktu sekolah SD, lagu ini sering saya dengarkan di upacara bendera senin pagi. Halo-Halo Bandung dipilih sebagai lagu wajib pilihan selain Indonesia Raya tentunya yang benar-benar wajib dinyanyikan. Ditulis oleh Ismail Marzuki yang belakangan baru saya ketahui kalau lagu ini masih diperdebatkan siapa pencipta sebenarnya. Terlepas dari perdebatan itu, lagu Halo-Halo Bandung adalah salah satu lagu perjuangan yang mengingatkan kita pada suatu peristiwa bersejarah di kota Bandung, Bandung Lautan Api.

Hayo .. Ngaku deh .. Sering denger Bandung Lautan Api tapi ga tau gimana cerita sejarahnya? Hehe .. Wah .. Jangan-jangan berlakunya cuma buat saya aja nih. Huhu .. Gapapa deh, walaupun begitu saya tetep pengen bagi-bagi pengalaman dan pengetahuan saya dengan temen-temen semua.. Juga tentang perjalanan saya dengan komunitas Aleut! di hari minggu kemarin (21/02/10).

Minggu pagi itu saya berkumpul di Bank Jabar Banten jalan Braga jam 7 pagi. Ah senangnya karena Aleut! kedatangan banyak anggota baru! Ada temen-temen dari Sahabat Kota, ITB, Unpad, Unpas, siswa SMK, Konus, pegawai kantor sampai adik-adik yang masih duduk di bangku SD! Total peserta minggu kemarin sebanyak 29 orang lho! Walaupun peringatannya masih satu bulan lagi, tapi kobaran semangat perjuangan rakyat Bandung Selatan sudah mulai terasa.

Bandung Lautan Api terjadi pada 24 Maret 1946. Satu hari sebelumnya yaitu tanggal 23 Maret 1946 NICA (Nederlands Indies Civil Administration) dan Inggris mengultimatum TRI (Tentara Republik Indonesia) untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 jam saja (pada tanggal 20 Desember 1945 pemerintah kota Bandung sudah pernah mendapatkan ultimatum ini). Pada saat itu Bandung terbagi menjadi dua wilayah. Wilayah utara dikuasai oleh sekutu dan NICA, sebelah selatan dikuasai oleh TRI dengan jalur rel kereta api sebagai batas wilayahnya. TRI yang pada saat itu dipimpin oleh Kol.A.H. Nasution yang juga Komandan Divisi III menuruti perintah pemerintah RI pusat (melalui Syarifuddin Prawiranegara) untuk segera meninggalkan kota Bandung. Padahal Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta menginginkan wilayah Bandung dipertahankan, dijaga setiap jengkalnya walaupun harus mengorbankan nyawa. Diambillah keputusan rakyat Bandung mundur, namun TRI serta laskar-laskar tetap bertahan dan berjuang mempertahankan tanah Bandung Selatan walaupun pada akhirnya ikut mengungsi karena keadaan yang tidak mungkin untuk melawan musuh. Bandung dipisahkan karena sekutu melihat semakin bersatunya kekuatan laskar dan TRI. Sekutu khawatir keinginan mereka menguasai Bandung tidak tercapai. TRI, BKR (Badan Keamanan Rakyat), Laskar Rakyat, Barisan Banteng, Barisan Merah, Laswi (Laskar Wanita), Siliwangi, Pelajar Pejuang bersama dengan rakyat berjuang mempertahankan wilayah.

Keputusan meninggalkan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) pada hari itu juga yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan pembumihangusan itu sendiri diusulkan oleh Rukana yang saat itu menjabat sebagai Komandan Polisi Militer di Bandung. Setelah keputusan disepakati, Kol.A.H.Nasution menginstruksikan agar rakyat segera meninggalkan Bandung. Saat itu juga rakyat Bandung mengungsi dalam rombongan besar ke berbagai daerah seperti Soreang, Dayeuh Kolot, Cicalengka, Pangalengan. Mereka mengungsi meninggalkan harta benda, hanya membawa barang seadanya. Rakyat mundur dan Bandung siap dikosongkan. Pengosongan ini disertai dengan pembakaran kota. Rumah-rumah dan gedung-gedung dibakar oleh masyarakat dan para pejuang. Hal ini dilakukan agar sekutu tidak dapat menggunakan dan memanfaatkannya. Rakyat tidak rela kotanya diambil alih pihak musuh. Dalam situs http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/bandung-lautan-api-mitos-dan-sejarah dituliskan bahwa perintah mundur ini menyakiti para pejuang di lapangan. “Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus. Dan kami tidak rela kembali dijajah. Jadi ketika kami mundur semua rumah dibakar oleh pemiliknya,” jelas Akhbar yang pada saat itu merupakan anggota Laskar Pemuda.

Bangunan pertama yang dibakar yaitu bangunan Indische Restaurant yang sekarang lokasinya sekitar Bank BRI jalan Asia-Afrika sekitar pukul 21.00 malam. Dilanjutkan dengan pembakaran gedung-gedung penting di sekitarnya termasuk juga rumah-rumah rakyat. Malam itu kobaran api memanaskan kota Bandung. Dari puncak bukit terlihat Bandung memerah. Dari Cimahi di barat sampai Ujung Berung di timur Bandung. Namun seberapa hangusnya kota Bandung, masih belum pasti. Di beberapa tulisan disebutkan gedung-gedung yang dibakar tidak begitu rusak dan masih bisa dipakai bahkan dijadikan tempat pertemuan penting serta konferensi internasional beberapa tahun kemudian (nenek saya yang mengungsi ke Pangalengan juga bercerita kalau sekembalinya dari pengungsian, rumahnya tidak terbakar sama sekali karena yang dibakar hanya rumah-rumah di pinggir jalan raya saja). Terjadi pula peledakan gudang mesiu milik sekutu di Dayeuh Kolot. Pelakunya Moh.Toha dan Ramdan dengan menggunakan granat tangan hingga mengakibatkan Ramdan tewas, namun entah dengan Moh.Toha, tewaskah atau menghilang. Sosok yang sebenarnya dari Moh.Toha pun masih diperdebatkan. Nama Moh.Toha kini diabadikan menjadi salah satu nama jalan dan tugu perjuangan di Bandung.

Nama ‘Bandung Lautan Api’ tentunya dikenal setelah peristiwa pembakaran kota Bandung. Ada yang menuliskan bahwa istilah Bandung Lautan Api berawal dari Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) yang pada saat melakukan pertemuan tindakan ultimatum Inggris mengatakan “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api”. Tulisan lain menyebutkan bahwa istilah Bandung Lautan Api muncul saat tulisan Atje Bastaman dimuat di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Atje yang wartawan muda memberitakan peristiwa pembakaran kota dengan judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. (http://cingciripit.wordpress.com/2008/03/24/asal-usul-istilah-bandung-lautan-api/)

Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) dikenang Ismail Marzuki melalui lagu Halo-Halo Bandung. W.S.Rendra pun mengenang BLA lewat sajak yang berjudul ‘Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api’. Berikut sepenggal sajaknya ..

Bagaimana mungkin kita bernegara

Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya

Bagaimana mungkin kita berbangsa

Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ? I

tulah sebabnya

Kami tidak ikhlas menyerahkan

Bandung kepada tentara Inggris dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu sehingga menjadi lautan api

Kini batinku kembali mengenang udara panas yang bergetar dan menggelombang, bau asap, bau keringat suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki langit berwarna kesumba.

Agar BLA tidak dilupakan dan tetap dikenang oleh masyarakat Bandung, maka dibuatlah stilasi atau monument BLA oleh Bandung Heritage dengan bantuan dari American Express. Stilasi ini berbentuk prisma segitiga, tinggi ± 50 cm, seperti monumen berukuran kecil. Di ketiga sisinya terdapat plakat jalur pengungsian BLA, teks lagu Halo-Halo Bandung, dan logo American Express. Bagian atas stilasi terdapat bunga patrakomala yang terbuat dari besi, karya seniman Sunaryo. Stilasi ini disebarkan di 10 titik di wilayah Bandung. Kesepuluh titik itu mewakili peristiwa-peristiwa penting di Bandung.

  1. Titik pertama adalah stilasi di jalan Dago tepatnya belokan Dago-Sultan Agung, depan bangunan Drikleur (Bank BTPN sekarang). Bangunan bekas kantor berita Domei ini dijadikan lokasi pembacaan teks proklamasi untuk pertama kalinya oleh rakyat Bandung.
  2. Titik ke-dua, stilasi di depan Bank Jabar Banten jalan Braga. Dulu adalah gedung DENIS Bank. Di atas gedung ini adalah tempat terjadinya perobekan bendera merah-putih-biru menjadi merah-putih oleh pemuda Bandung E.Karmas dan Moeljono.
  3. Titik ke-tiga, stilasi depan kantor Asuransi Jiwas Raya. Kantor yang dulu dikenal dengan nama NILMIJ ini sempat dijadikan markas resimen 8.
  4. Titik ke-empat, stilasi di Rumah tepatnya di jalan Simpang. Tempat perumusan dan diputuskannya pembumihangusan Bandung.
  5. Titik ke-lima, stilasi di jalan Kautamaan Istri, mengacu pada bangunan di sekitarnya yang sempat dijadikan gedung perkumpulan para pejuang dan menggambarkan kondisi Bandung yang sudah sangat gawat.
  6. Titik ke-enam, stilasi di jalan Dewi Sartika. Rumah yang ada di belakang stilasi ini adalah rumah sekaligus markas Kol.A.H.Nasution.
  7. Titik ke-tujuh, stilasi di pertigaan Lengkong Dalam-Lengkong Tengah. Merupakan pemukiman Belanda, wilayah yang dibombardir Inggris pada 6 Desember 1945.
  8. Titik ke-delapan, stilasi di jalan Jembatan Baru. Batas garis pertahanan pemuda pejuang saat Pertempuran Lengkong.
  9. Titik ke-sembilan, stilasi di kompleks SD Asmi. Bangunan ini adalah markas bagi pemuda pejuang sebelum Bandung Lautan Api.
  10. Titik ke-sepuluh, stilasi di jalan Moh.Toha depan gereja. Sebelumnya adalah gedung pemancar NIROM dimana berita kemerdekaan dan pembacaan teks proklamasi RI disebarkan ke seluruh dunia.

Dan berakhirlah acara ngaleut kami di Tugu Bandung Lautan Api di Tegallega. Untuk info lebih lengkap mengenai kegiatan ngaleut jalur BLA minggu lalu, bisa lihat tulisan teman saya di https://aleut.wordpress.com/ Ingin melihat bagaimana kondisi stilasi-stilasi itu sekarang? Boleh .. Lihat saja langsung ke titik-titik stilasi itu berada. Saya tidak akan bercerita bagaimana keadaannya, namun itulah cerminan masyarakat Bandung dalam menjaga dan menghargai sejarah kota tempat tinggalnya sendiri. Untuk jalur BLA ini, lebih nyaman bila menyusurinya dengan berjalan kaki atau bersepeda, pagi atau sore hari.

Halo, Halo warga kota Bandung …

Mari bung rebut kembali ….

Rebut kembali hijaunya, rebut kembali keasriannya, rebut kembali kecantikannya, rebut kembali ketertibannya, rembut kembali kenyamanannya .. ^^

Ref : Berbagai sumber (internet). He ..