Ceritera Si Baduyut

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisonipin)

Mau cari sepatu buatan anak bangsa yang kualitasnya tidak kalah bagus? Kunjungi saja Cibaduyut. Ya.. kawasan yang terletak di bagian Selatan Kota Bandung ini memang sudah tersohor sebagai sentra sepatu, sehingga wajarĀ bila kita menjumpai patung berbentuk sepatu yang menjadi ciri dari jalan ini.

Diibalik popularitas sepatu kulit, tahukah bahwa daerah ini menyimpan cerita yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang. Berdasarkan kajian toponimi, cibaduyut berasal dari kata ci/cai dan baduyut. Baduyut? nama makanankah? (eta mah burayut -__-).

Baduyut atau juga dikenal sebagai areuy baduyut merupakan sejenis tumbuhan liar yang merambat. Nama latinnya adalah Trichosanthes villosa Blume. Tumbuhan ini masih satu kerabat dengan bonteng, melon, semangka, dan labu siam. Karena masih berada dalah satu famili Cucurbitaceae atau keluarga labu.

Trichosanthes villosa Blume panjangnya mampu mencapai 24 m!. Hampir seluruh bagiannya berambut kuning, sehingga mungkin terlihat sedikit menyeramkan. Daunnya berbentuk bulat telur dengan pangkal daun yang menjantung. Apa yang cantik dari tumbuhan liar ini? mm… buahnya. Buahnya berbentuk elips dengan ukuran sekitar 15 cm. Bagian luar buahnya sangat tebal dan berkayu, berwarna hijau keputihan, atau kuning pucat dengan garis-garis tebal berwarna putih. Bagian dalamnya berwarna putih, sedikit berserat dan rasanya manis.

Baduyut juga dimanfaatkan secara tradisional sebagai obat flu dan mencret. Caranya? seluruh bagiannya diperas, lalu air yang keluar dapat diminum sebagai obat :).

Baduyut secara alami terdistribusi di kawasan Cina Selatan (Yunnan), Indochina, Thailand, Borneo (Kinabalu), Kalimantan, Jawa, dan Kepulauan Sunda Kecil. Tumbuhan ini dijumpai di batas hutan, hutan sekunder, dan di tempat-tempat lembab pada ketinggian hingga 1.500 m dpl.

Namun, sepertinya baduyut hanya tinggal kenangan di Cibaduyut. Sebab belum pernah saya menjumpai kehadirannya di sentra sepatu kulit ini. Yah… setidaknya kalau ingin menjumpai baduyut bisa main-main ke daerah lembang atau kawasan pegunungan di Bandung Selatan.

Image

Tanaman Baduyut

AADC (Ada Apa Dengan Cibeunying?)

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisionipin)

Siapa yang tidak tahu Kecamatan Cibeunying Kaler di Bandung, yang terkenal dengan sentra kaos Suci, PUSDAI, dan Museum Geologi?. Berdasarkan kajian toponimi, Cibeunying berasal dari kata Ci, dan Beunying. Ci sudah pasti berarti ‘air’, sedangkan beunying? Yuk… kita kenalan dengan beunying.

Beunying (Ficus fistulosa Reinw. ex Blume) merupakan jenis tumbuhan dari famili Moraceae atau keluarga beringin. Masih satu kerabat dengan nangka, murbei, pohon bodhi, karet munding, dan hampelas.

Beunying adalah pohon dengan tinggi dapat mencapai 10 m. Daunnya tebal dan berbentuk bulat telur sampai lonjong hingga lanset. Permukaan bagian atas mengkilat bertangkai panjang. Karangan bunga periuk, tumbuh dari ketiak daun atau bergerombol pada batang.

Sama seperti pohon bodhi (Ficus religiosa L.) karangan bunga pada beunying terlihat seperti buah dan biasa disebut dengan istilah bunga periuk atau syconium. Bunganya berukuran sangat kecil dan tersembunyi di dalam struktur yang menyerupai buah. Bayangkan saja sebuah periuk dari tanah liat dan bunga beunying yang berukuran kecil dan berwarna merah menempel dibagian dalam periuk. Karena bunganya tersembunyi, maka penyerbukan tidak dibantu oleh kupu-kupu maupun lebah. Penyerbukan pada beunying dilakukan oleh jenis serangga khusus dari famili Agaonidae atau dikenal sebagai wasp.

Dimana beunying dapat ditemukan?. Beunying hidup di tempat sejuk dan dekat sumber air dengan elevasi hingga 2000 m. Di hutan terbuka, pinggiran hutan yang lembap banyak ditumbuhi oleh jenis ini. Di kawasan Malesia, beunying terdistribusi di Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Sunda Kecil (Bali, Lombok, Sumba, Flores, Sumbawa, Alor) dan New Guinea.

Apa yang membedakan beunying dengan jenis lain dari Ficus?. Daun muda beunying berwarna merah muda. Daun-daun muda ini di daerah sunda sering dimakan mentah sebagai lalab dan rasanya memang enak. Karangan buah muda juga dapat dimakan dengan sambal.

Bagaimana? sudah kenal dengan beunying kan?. Kalau sudah mengenal secara morfologi (bentuk luar), di lain kesempatan saya akan bagi informasi mengenai khasiat beunying bagi kesehatan. see u šŸ™‚

404827_4822529434247_589658502_n

Image

Totongan atau Debregeasia longifolia (Burm. f.) Wedd.

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisionipin)

Sudah 2 kali saya dikejutkan oleh kehadiran Debregeasia longifolia (Burm.f.) Wedd. yang tumbuh dipinggir jalan besar di kota Bandung, jl. Setiabudhi dan jl. Dayang Sumbi. Keduanya masih kecil dan baru tumbuh. Mengapa saya terkejut? Yuk kita simak..

Debregeasia longifolia (Burm.f.) Wedd. atau dalam bahasa sunda disebut “totongan” merupakan salah satu jenis tumbuhan dari famili Urticaceae (keluarga pulus atau jelutung).

Tumbuhan hutan ini tingginya dapat mencapai 5 m. Permukaan daun bagian atas kasar dan berwarna hijau, sedangkan permukaan bagian bawah berwarna putih-kelabu. Karangan bunga tumbuh dari bagian ketiak daun. Buah yang sudah masak berwarna merah, dan dapat dimakan sebagai buah survival. Rasanya asam.

Debregeasia longifolia (Burm.f.) Wedd. dijumpai diseluruh pulau Jawa, hidup pada ketinggian 500-2600 m dpl. Umumnya tumbuh di hutan terbuka, hutan sekunder, jalan setapak, perkebunan teh, dan lereng gunung api. Spesies ini merupakan tumbuhan khas pada lahan suksesi di hutan, atau lahan yang sedang mengalami pemulihan dari kerusakan.

Yang tertarik lihat Debregeasia longifolia (Burm.f.) Wedd. secara langsung, kapan2 saya tunjukkan ya :). atau bisa juga main2 ke Taman Hutan Raya Juanda (disekitar curug omas).

Note: foto ini saya ambil di pinggir Jl. Setiabudhi, Bandung.

Image

Cigadung

Oleh: Arifin Surya Dwipa Irsyam

Ada yang rumahnya di Cigadung? coba angkat tangannya tinggi-tinggi.. Seperti yang sudah diketahui bahwa secara toponimi, Cigadung berasal dari kata Ci dan Gadung. Pasti sudah tidak asing lagi mendengar kata “gadung”.

Ya… gadung merupakan jenis tumbuhan merambat yang bagian umbinya dikonsumsi menjadi keripik. Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) dalam taksonomi tumbuhan adalah anggota dari famili Dioscoreaceae. Famili ini terdiri dari 600 jenis gadung, dan Dioscorea hispida Dennst. salah satunya. Untuk membedakannya, apa sih ciri jenis ini?

Dioscorea hispida Dennst. adalah tumbuhan merambat dengan panjang hingga 10 m. Berakar serabut dan memiliki batang membelit yang berwarna hijau. Daunnya majemuk, memiliki anak daun berjumlah tiga helai yang tipis. Jenis ini banyak dijumpai pada hutan sekunder di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Tapi berdasarkan karakter fitokimianya, gadung perlu diperhatikan. Gadung mengandung senyawa beracun dioscorin dari golongan piperidine alkaloid. Senyawa dioscorin masuk ke dalam kategori highly toxic, dan dapat menyebabkan kerusakan hati serta gangguan saluran pencernaan manusia bila pengolahannya tidak tepat.

Senyawa beracun ini banyak terkandung dalam bagian umbinya. Sehingga sebelum dikonsumsi, senyawa dioscorin harus dibuang terlebih dahulu. Bagaimana caranya? Dalam praktek tradisional, bagian umbi harus dicuci pada air mengalir selama kurang lebih 7 hari untuk detoksifikasi kandungan dioscorin. Setelah bersih dari sneyawa racun, umbi dapat diolah menjadi makanan ringan. Bagian umbi kaya akan kandungan polisakardia atau karbohidrat, tersusun atas manosa, arabinosa, glukosa, galaktosa, xylosa, dan rhamnosa.

Selain kandungan dioscorin, gadung juga mengandung senyawa dioscin, dari golongan streoidal saponin. Senyawa ini dimanfaatkan sebagai hormon steroid semi-sintesis dan kontrasepsi oral. Namun pemanfaatan ini harus dibawah pengawasan tenaga medis. Selain bermanfaat sebagai sumber hormon steroid semi-sintesis, gadung juga memiliki beberapa aktivitas penting lainnya, seperti antitumor, antiradang, penahan rasa sakit (analgesik) antioksidan, dan sebagai obat cacing (anthelmintic).

Ternyata meskipun tergolong sebagai tumbuhan beracun, gadung juga memiliki manfaat di bidang kesehatan. Sayangnya.. saat ini gadung sudah jarang ditemui di Cigadung. Kalah bersaing dengan “tumbuhan” beton dan besi hasil karya manusia. yah..semoga saja gadung tidak sekedar menjadi cerita saja di Kota Bandung. Kita yang sudah tahu akan peran gadung bagi manusia diharapkan dapat melestarikannya.

Image

Bunga Matahari dan Kerabatnya

Oleh:Ā Arifin Surya Dwipa IrsyamĀ (@poisonipin)

Di kesempatan kali ini saya mau bercerita tentang bunga matahari dan kerabatnya. Apa sih yang menarik dari bunga matahari? Mari kita ulas…

Sebelumnya, tahukah Aleutian bahwa bunga matahari dan kerabatnya seperti bunga dahlia, bunga krisan, dan bunga aster, sebenarnya terdiri dari ratusan bunga yang berukuran sangat kecil? Untuk lebih jelasnya coba amati foto dibawah ini.

Bunga matahari merupakan satu karangan bunga majemuk yang tersusun dari bunga pita dan bunga tabung dalam jumlah banyak, namun terlihat seperti satu bunga tunggal. Karangan bunga ini disebut dengan istilah Pseudoanthium (bunga semu).

Bagian yang dari luar terlihat seperti kelopak bunga sebenarnya adalah kumpulan daun pembalut (involucrum) yang berfungsi untuk melindungi karangan bunga pada saat masih kuncup.

Kemudian yang manakah bunganya? Bunga matahari dan kerabatnya terdiri atas dua macam jenis bunga, bunga pita dan bunga tabung. Bunga pita terletak disekeliling pinggiran dan bersifat mandul, sedangkan bunga tabung terletak dibagian pusat atau tengah dan bersifat fertil. Jumlah bunga tabung dalam satu karangan bunga dapat mencapai hingga ratusan buah.

Dimanakah bagian kelopaknya? Ada yang pernah mencoba meniup dandelion? Nah, bagian rambut (menyerupai parasut) itulah bagian kelopak bunganya. Kelopak bunga pada keluarga bunga matahari disebut pappus. Kelopak ini berukuran sangat kecil, biasanya berbentuk rambut (seperti pada dandelion), berbentuk duri (seperti pada dom-doman), berbentuk selaput (seperti pada bunga matahari), maupun berbentuk kelenjar yang sangat lengket (pada legetan werak). Adanya bagian pappus sangat berperan penting dalam proses pemencaran buah. Buah dengan pappus yang berbentuk rambut akan terpencar dengan bantuan angin, buah dengan pappus duri dan kelenjar lengket akan terpencar melalui hewan karena menempel pada badannya.

Lalu, ada yang hobi makan kuaci bunga matahari? Yang biasa pada bungkusnya tertulis “kuaci biji matahari”.
Sebenarnya istilah penyebutan “biji” bunga matahari kurang tepat. Kenapa? Sebab yang kita sebut “biji” sebenarnya adalah buah dari bunga matahari. Tipe buah pada keluarga bunga matahari adalah tipe buah Achene, suatu tipe buah kering yang tidak memiliki daging buah, sehingga terlihat menyerupai sebuah biji.

Bagaimana dengan bagian dari kuaci yang kita makan? Nah.. itu baru bijinya. Jadi penyebutan satu kuaci utuh dengan kulitnya tidak tepat bila disebut dengan “biji”.

Bagaimana? Apakah bisa dipahami? Bunga matahari dan kerabatnya merupakan satu contoh dari uniknya dunia tumbuhan. Semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat bagi Aleutian. Kalau begitu sampai berjumpa di lain kesempatan!

Wisata Sejarah Jalur Kedokteran Bandung

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Instituut Pasteur (Bio Farma)

 

Ditemani udara musim gugur yang mengundang kantuk, belasan anak muda pegiat Komunitas Aleut berkumpul di taman dokter Otten untuk menanti dimulainya perjalanan wisata sejarah yang rutin diadakan setiap minggunya.Ā  Taman itu sengaja dijadikan starting point bagi perjalanan Aleut dengan tema ā€œKawasan Jalur Kedokteranā€. Tema yang sangat menarik, karena mereka akan menelusuri asal-usul nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama dokter terkemuka dalam sejarah Nasional.

 

Tentu saja dengan informasi terbatas yang dimiliki, tidak seluruh keterangan perihalĀ  nama-nama dokter tersebut bisa dijelaskan dalam perjalanan ini, apalagi dengan adanya perubahan nama-nama jalan yang dilakukan pemerintah di tahun 50ā€™an. Saat itu beberapa nama jalan yang diambil dari nama dokter-dokter Belanda diganti dokter Indonesia. Contohnya Ā :

 

Van der HoopwegĀ  = Jl. Abdulrachman Saleh

Tirionweg = Jl. Dokter Abdul Rivai

Vosmaerweg = Jl. Dokter Gunawan

Rotgansweg = Jl DokterĀ  Otten

Rotgansplein = Taman Dr. Otten

Helmersweg = Jl. Dokter Radjiman

Tesselschadeweg =Ā  Jl. Dokter Rubini

Potgieterweg = Jl. Dokter Rum

Lembangweg = Jl. Setiabudhi

Prof. Grijnsweg = Jl. Dokter Sukimin

P.C. Hooftweg = Jl. Dokter Susilo

Dokter Borgerweg = Jalan Dokter Sutomo

Roemer Visscherweg = Jl. Dokter Tjipto

Busken Huetweg = Jl. Dokter Wahidin

 

Louis Pasteur

 

Sedangkan nama jalan yang tidak berubah adalah Jalan Pasteur (Pasteurweg), Jalan Dokter Saleh (Dokter Salehweg), Jl. Westhoff (Westhoffweg), Jl. Eijkman (Eijkmanweg) danĀ  JalanĀ  Dokter Ā Slamet (Dokter Slametweg).

 

Tampak para Ā pegiat Komunitas Aleut yang sudah belasan hingga puluhan tahun tinggal di Bandung masih merasa asing dengan nama-nama jalan yang diambil dari nama dokter Ā asli Indonesia, apalagi kalau nama jalan tersebut masih menggunakan nama dokter Belanda.

 

Bisa dipastikan bahwa sebagian besar Dokter Indonesia yangĀ  namanya diabadikan menjadi nama jalan tersebut merupakan tokoh-tokoh Dokter yang berperan dalam perjuangan nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, melalui penelusuran biografi mereka, mau tidak mau kita akan bersentuhan dengan sejarah perjuangan bangsa melawan kolonialisme yang diisi oleh para dokter muda lulusan STOVIA (Sekolah kedokteran jaman Hindia Belanda).

 

Pada mulanya, masalah kesehatan merupakan masalah utama yang menjadi momok Belanda dalam menguasai Indonesia. Iklim yang tidak bersahabat, lingkungan yang kotor, gaya hidup masyarakat yang masih ā€œjorokā€ penyebab tingkat kematian tinggi, membuat aktivitas ekonomi yang menjadi gantungan para Kolonialis terganggu.

 

Nyuci gelas pake air comberan… sangat higienis..

 

Musuh terbesar saat itu adalah penyakit Pest dan Malaria. Selain merugikan dari sisi ekonomi, Tidak terhitung warga pribumi maupun Belanda yang menjadi korban kedua penyakit tersebut. Contohnya, Pada tahun 1905, wabah pest tercatat terjadi di Sumatera Timur, diakibatkan tikus-tikus yang ikut serta dari Rangoon. Pada tahun 1911, penyakit serupa berjangkit di Malang. Pada tahun itu sekitar 2000 orang meninggal akibatnya. Untuk mengatasinya, pemerintah membakar satu setengah juta lumbung dan gubuk-gubuk untuk membasmi tikus. Untuk mendirikan yang baru, pemerintah harus mengeluarkan kocek sebesar 30 juta rupiah. Penduduk mulai disuntik dan sesudah 25 tahun, bahaya wabah baru bisa dihindari.

 

Dr. Sutomo dan Dr. Tjipto Mangunkusumo adalah dua dari tokoh nasional yang ikut memberantas wabah Pest ini. Dr. Tjipto termasuk sebagai orang yang pertama yang menawarkan tenaganya untuk menyembuhkan wabah pest di Malang ketika dokter-dokter Eropa banyak yang menolak untuk dikirim ke daerah tersebut. Menurut Balfas dalam buku biografi dr. Tjipto, dikisahkan bahwa ā€œ…Tjipto bekerja dimana pest mengamuk paling hebat, sedikit di luar kota. Dia bekerja tiada kenal letih dan gentar, masuk kampung dan pondok. Kawan-kawannya banyak yang memakai topeng (masker) dimukanya, sarung tangan dan seluruh badannya terbalut untuk mencegah penularan, tetapi Tjipto tidak memakai keistimewaan apa-apa, dengan bulat-bulat ia pasrahkan dirinya kepada nasib…ā€

 

dr. Tjipto

 

Ada sebuah kisah menarik, Pada suatu ketika Tjipto membawa pulang seorang bayi yang diambilnya dari sebuah rumah yang harus dibakar, sebab penghuninya sudah mati semua, kecuali seorang bayi yang menangis. Untuk emnjadikan kenangan pada peristiwa ini, bayi itu dinamainya PES-JATI. Pes-jati besar di tangan dr. Tjipto dan mengikuti dia sampai akhir hayatnya.

 

Berkat jasanya dalam penanggulangan wabah Pest, pemerintah Belanda menganugrahkan bintang Orde van Oranje kepada Tjipto pada tahun 1912. Namun ketika keinginannya untuk ikut mengobati wabah pest di Solo ditolak pemerintah, bintang penghormatan yang biasanya ia simpan di lemarinya dikeluarkan dan dipasangnya di bagian pantat celana Tjipto. Dengan bintang Orde van Oranje diĀ  pantat ini, ia pergi ke Batavia untuk menyerahkan kembali bintang ini kepada pemerintah pusat.

 

Malaria telah menjadi ancaman selama beratus tahun kedudukan Belanda di Nusantara. Namun berkat penemuan Kina pada abad-18, penyakit ini mulai bisa dihindari. Apalagi setelah tanaman kina berhasil dibudidayakan di Nusantara oleh Junghuhn. Pada tahun 1896, Bandung berhasil menjadi pemasok utama kebutuhan kina dunia. Guna mendapatkan keuntungan lebih tinggi, alih-alih hanya mengekspor bahan mentah, para pengusaha kina di Bandung akhirnya memutuskan untuk mendirikan pengolahan kina sendiri. Usaha itu terwujud dalam pendirianĀ  Bandoeng KininefabriekĀ  tahun 1896 dengan modal 700,000 fl.. Pabrik ini bisa memproduksi kina hingga sekitar satu juta ons setiap tahunnya, dengan kualitas terbaik di dunia.

 

dr.Eijkman

 

Penyakit lain yang menjadi momok adalah Beri-beri. Setiap tahun ada ribuan orang yang menjadi korban dari penyakit ini. Prof. Dr. Eijkman akhirnya menemukan penyebab Beri-beri, yaitu proses penggilingan beras yang seringkali hingga menghabiskan kulit ari beras (zilvervlies). Orang-orang tidak lantas percaya hingga pada tahun 1911 dikenalah istilah ā€œVitaminā€. Untuk penemuannya itu, dr. Eijkman dianurahkan hadiah Nobel pada tahun 1929.

 

Usaha Belanda untuk menghasilkan dokter di kalangan pribumi sebenarnya sudah dimulai dari tahun 1851 ketika Belanda membuat sekolah untuk mendidik dokter Jawa. Tahun 1927 sekolah tersebut diubah menjadi sekolah tabib tinggi (STOVIA). Diharapkan sekolah tersebut bisa memenuhi kebutuhan dokter di Nusantara. Selain itu dibangunlah pula rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta. Di Bandung turut dibangun Gemeentelijk Juliana Zuikenhuis (RSHS) tahun 1917, Labotarium kesehatan (Instituut Pasteur), rumah sakit untuk orang berpenyakit mata (Cicendo), Pabrik Obat-obatan (Kinine Fabriek) dan Sanatorium. Seluruh fasilitas kesehatan tersebut, kecuali sanatorium, ditempatkan dalam suatu kawasan khusus di Bandung, yang dilalui perjalanan komunitas Aleut sore tadi.

 

Ahhhh… sebenarnya masih banyak yang bisa diceritakan, tapi siksaan kantuk dan asmara yang tak tertahan menghalangi saya untuk menulis lebih lanjut… Ā 

 

 

 

 

Referensi :

-, 125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia 1851-1976. Fakultas Kedokteran UI ā€“ 1976

M. Balfas, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo Demokrat Sejati, Djambatan ā€“ 1952

Frater Amator, Sedjarah Indonesia, W. Versluys Amsterdam ā€“ 1952

Tamar Djaja, Pusaka Indonesia, Kementrian P dan K –Ā  1951

D P. Pverelli, Beknopt Leerboek der Schoolhygiene, J.B. Wolters Groningen ā€“ Batavia ā€“ 1933

-, Petundjuk Nama Djalan Kota Bandung berikut peta, Visser Bandung.

–>

 

Juliana Zuikenhuis (RSHS)

 

Gaya hidup tidak sehat..

 

 

 

Sekilas Tentang PLTA Bengkok

Oleh : Asep Nendi

PLTA BENGKOK

 

Begitulah nama PLTA yang terletak di selatan Taman Hutan Raya Ir. Djuanda (Tahura). PLTA ini menggunakan aliran air sub sungai Cikapundung, yang dialirkan melalui parit-parit seperti sungai buatan. Salah satu jalur melalui Goa Belanda, goa yang pada awalnya (1918) difungsikan sebagai terowongan air.

 

Sejak pertama kali dibangun oleh Perusahaan Tenaga Air Negara Dataran Tinggi Bandung (Landiswaterkrachtbedijf Bandung en) pada tahun 1923, PLTA Bengkok merupakan salah satu sumber penyuplai listrik untuk Bandung dan sekitarnya. Pada tahun yang sama pula PLTA Dago dibangun pada aliran sungai Cikapundung.

 

Dari Tahura kita harus menuruni rangkaian anak tangga yang berjumlah seribu (coba hitung sendiri).Ā  Atau coba berjalan di atas pipa-pipa raksasa yang terbuat dari baja (kalo berani !) untuk sampai di lokasi PLTA Bengkok.

 

 

Pipa-pipa raksasa itu sudah pensiun menjalankan tugasnya sebagai penyalur air, karena ketebalannya sudah banyak berkurang.

 

Dari sini air yang dialirkan melalui pipa-pipa raksasa itu digunakan untuk memutar turbin dan menggerakkan generator. Produksi listrik pun berlangsung. sementara air sisa kegiatan produksi digunakan oleh PDAM.

 

Kini PLTA Bengkok berada dalam pengelolaan PT. Indonesia Power, anak perusahaan negara (BUMN) PLN. PLTA ini berfungsi sebagai penghasil listrik, namun kita tidak akan mengetahui kemana listriknya dialirkan. Ini sesuai dengan penjelasan dari Pa Luthfi (Indonesia Power), ā€œsistem pengaliran listrik yang digunakan adalah interkoneksi, dimana aliran listrik yang dihasilkan dari beberapa PLT dikumpulkan terlebih dahulu sebelum kemudian didistribusikanā€.

 

 

Tanah Bengkok atau Bangkok?

 

Lama saya memiliki anggapan kalau namaĀ  Bengkok yang dipakai berasal dari nama Bangkok (Thailand atau Muangthay). Ini merujuk pada kedatangan Raja Rama V di Bandung. Kemudian membuat prasasti di Curug Dago.

Namun setelah melalui beberapa obrolan bersama teman-teman di Komunitas Aleut! Didapatlah satu pencerahan mengenai asal kata Bengkok.

 

Bengkok yang dipakai merujuk pada kata Tanah Bengkok, diartikan sebagai lahan garapan milik desa. Dalam sistem agraria di Pulau Jawa Tanah Bengkok tidak boleh diperjualbelikan tanpa persetujuan seluruh warga desa, namun boleh disewakan oleh mereka yang memiliki hak mengelola (Wikipedia).

Menurut penggunaannya Tanah Bengkok dibagi menjadi 3 kelompok :

  1. Tanah Lungguh, hak pamong desa untuk menggarapnya sebagai kompensasi gaji yang tidak dibayarkan.
  2. Tanah Kas Desa, dikelola oleh pamong desa. Digunakan untuk mendanai keperluan desa.
  3. Tanah Pengarem-arem, hak pamong desa yang sudah pensiun sebagai pengganti jaminan hari tua. Pengelolaannya sampai meninggal, untuk kemudian dikembalikkan ke desa.