Putaran Roda di Atas Jalan Berliku di Kabupaten Sumedang

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisionipin)

Jalan berliku dalam kehidupan… – Surya Tenggelam, Chrisye–

Hari minggu pekan lalu, saya kembali ikut ngaleut momotoran setelah berbulan-bulan vakum dari kegiatan outdoor tersebut. Malam sebelum keberangkatan, saya memutuskan untuk bermalam di Kedai Preanger bersama beberapa orang teman. Sebut saja mereka Siti, Irfan, dan Elmi. Saya tidur nyenyak sekali di kedai, tanpa gangguan fisik. Ah.. barangkali rumor keberadaan tumila (Cimex hemipterus (Fabricius 1803)) di lantai atas hanya rumor belaka. Oke.. baiklah lebih baik kita kembali ke topik utama saja.

Keberangkatan dari Kedai Preanger baru berlangsung pukul 08.00 WIB karena menunggu beberapa teman yang belum datang. Entah mengapa, saya dan Ervan dipilih menjadi pasangan motor oleh Abang hari itu. Barangkali karena kami sama-sama Baca lebih lanjut

Iklan

Toponimi Citepus

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisonipin)

Setahun yang lalu sungai ini sempat menjadi buah bibir warga Kota Bandung. Kala itu Bandung diterpa hujan deras yang berlangsung kurang lebih 3 jam. Durasi hujan yang lama dan intensitas hujan yang deras telah yang membuat debit air tak bisa lagi ditampung oleh sungai Citepus. Hingga air terpaksa meluap dari aliran sungai. Luapan air itu meluap ke daerah pinggiran sungai seperti Pagarsih, Astanaanyar. Bahkan saking derasnya luapan air sempat menyeret sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan raya.

Tak hanya soal meluapnya air di kala musim penghujan. Ada hal yang menarik lainnya mengenai sungai Citepus. Yakni nama sungai ini masuk ke dalam karya sastra abad ke-20 karya Chabanneu yang berjudul Rasia Bandoeng. Sungai ini melintasi beberapa lokasi di Kota Bandung, seperti Pasirkaliki, Kebonjati, Saritem, Sudirman, dan Cibadak. Sehingga, namanya mungkin sudah tidak asing didengar oleh masyarakat Bandung. Namun, tak banyak orang yang tahu bahwa nama Citepus ada kaitannya dengan nama tumbuhan, yakni Tepus. Dan mungkin saja wujud dari Tepus sendiri belum banyak diketahui oleh masyarakat, terlebih lagi bagi masyarakat kota sekarang. Baca lebih lanjut

Ceritera Si Baduyut

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisonipin)

Mau cari sepatu buatan anak bangsa yang kualitasnya tidak kalah bagus? Kunjungi saja Cibaduyut. Ya.. kawasan yang terletak di bagian Selatan Kota Bandung ini memang sudah tersohor sebagai sentra sepatu, sehingga wajar bila kita menjumpai patung berbentuk sepatu yang menjadi ciri dari jalan ini.

Diibalik popularitas sepatu kulit, tahukah bahwa daerah ini menyimpan cerita yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang. Berdasarkan kajian toponimi, cibaduyut berasal dari kata ci/cai dan baduyut. Baduyut? nama makanankah? (eta mah burayut -__-).

Baduyut atau juga dikenal sebagai areuy baduyut merupakan sejenis tumbuhan liar yang merambat. Nama latinnya adalah Trichosanthes villosa Blume. Tumbuhan ini masih satu kerabat dengan bonteng, melon, semangka, dan labu siam. Karena masih berada dalah satu famili Cucurbitaceae atau keluarga labu.

Trichosanthes villosa Blume panjangnya mampu mencapai 24 m!. Hampir seluruh bagiannya berambut kuning, sehingga mungkin terlihat sedikit menyeramkan. Daunnya berbentuk bulat telur dengan pangkal daun yang menjantung. Apa yang cantik dari tumbuhan liar ini? mm… buahnya. Buahnya berbentuk elips dengan ukuran sekitar 15 cm. Bagian luar buahnya sangat tebal dan berkayu, berwarna hijau keputihan, atau kuning pucat dengan garis-garis tebal berwarna putih. Bagian dalamnya berwarna putih, sedikit berserat dan rasanya manis.

Baduyut juga dimanfaatkan secara tradisional sebagai obat flu dan mencret. Caranya? seluruh bagiannya diperas, lalu air yang keluar dapat diminum sebagai obat :).

Baduyut secara alami terdistribusi di kawasan Cina Selatan (Yunnan), Indochina, Thailand, Borneo (Kinabalu), Kalimantan, Jawa, dan Kepulauan Sunda Kecil. Tumbuhan ini dijumpai di batas hutan, hutan sekunder, dan di tempat-tempat lembab pada ketinggian hingga 1.500 m dpl.

Namun, sepertinya baduyut hanya tinggal kenangan di Cibaduyut. Sebab belum pernah saya menjumpai kehadirannya di sentra sepatu kulit ini. Yah… setidaknya kalau ingin menjumpai baduyut bisa main-main ke daerah lembang atau kawasan pegunungan di Bandung Selatan.

Image

Tanaman Baduyut

AADC (Ada Apa Dengan Cibeunying?)

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisionipin)

Siapa yang tidak tahu Kecamatan Cibeunying Kaler di Bandung, yang terkenal dengan sentra kaos Suci, PUSDAI, dan Museum Geologi?. Berdasarkan kajian toponimi, Cibeunying berasal dari kata Ci, dan Beunying. Ci sudah pasti berarti ‘air’, sedangkan beunying? Yuk… kita kenalan dengan beunying.

Beunying (Ficus fistulosa Reinw. ex Blume) merupakan jenis tumbuhan dari famili Moraceae atau keluarga beringin. Masih satu kerabat dengan nangka, murbei, pohon bodhi, karet munding, dan hampelas.

Beunying adalah pohon dengan tinggi dapat mencapai 10 m. Daunnya tebal dan berbentuk bulat telur sampai lonjong hingga lanset. Permukaan bagian atas mengkilat bertangkai panjang. Karangan bunga periuk, tumbuh dari ketiak daun atau bergerombol pada batang.

Sama seperti pohon bodhi (Ficus religiosa L.) karangan bunga pada beunying terlihat seperti buah dan biasa disebut dengan istilah bunga periuk atau syconium. Bunganya berukuran sangat kecil dan tersembunyi di dalam struktur yang menyerupai buah. Bayangkan saja sebuah periuk dari tanah liat dan bunga beunying yang berukuran kecil dan berwarna merah menempel dibagian dalam periuk. Karena bunganya tersembunyi, maka penyerbukan tidak dibantu oleh kupu-kupu maupun lebah. Penyerbukan pada beunying dilakukan oleh jenis serangga khusus dari famili Agaonidae atau dikenal sebagai wasp.

Dimana beunying dapat ditemukan?. Beunying hidup di tempat sejuk dan dekat sumber air dengan elevasi hingga 2000 m. Di hutan terbuka, pinggiran hutan yang lembap banyak ditumbuhi oleh jenis ini. Di kawasan Malesia, beunying terdistribusi di Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Sunda Kecil (Bali, Lombok, Sumba, Flores, Sumbawa, Alor) dan New Guinea.

Apa yang membedakan beunying dengan jenis lain dari Ficus?. Daun muda beunying berwarna merah muda. Daun-daun muda ini di daerah sunda sering dimakan mentah sebagai lalab dan rasanya memang enak. Karangan buah muda juga dapat dimakan dengan sambal.

Bagaimana? sudah kenal dengan beunying kan?. Kalau sudah mengenal secara morfologi (bentuk luar), di lain kesempatan saya akan bagi informasi mengenai khasiat beunying bagi kesehatan. see u 🙂

404827_4822529434247_589658502_n

Image

Totongan atau Debregeasia longifolia (Burm. f.) Wedd.

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisionipin)

Sudah 2 kali saya dikejutkan oleh kehadiran Debregeasia longifolia (Burm.f.) Wedd. yang tumbuh dipinggir jalan besar di kota Bandung, jl. Setiabudhi dan jl. Dayang Sumbi. Keduanya masih kecil dan baru tumbuh. Mengapa saya terkejut? Yuk kita simak..

Debregeasia longifolia (Burm.f.) Wedd. atau dalam bahasa sunda disebut “totongan” merupakan salah satu jenis tumbuhan dari famili Urticaceae (keluarga pulus atau jelutung).

Tumbuhan hutan ini tingginya dapat mencapai 5 m. Permukaan daun bagian atas kasar dan berwarna hijau, sedangkan permukaan bagian bawah berwarna putih-kelabu. Karangan bunga tumbuh dari bagian ketiak daun. Buah yang sudah masak berwarna merah, dan dapat dimakan sebagai buah survival. Rasanya asam.

Debregeasia longifolia (Burm.f.) Wedd. dijumpai diseluruh pulau Jawa, hidup pada ketinggian 500-2600 m dpl. Umumnya tumbuh di hutan terbuka, hutan sekunder, jalan setapak, perkebunan teh, dan lereng gunung api. Spesies ini merupakan tumbuhan khas pada lahan suksesi di hutan, atau lahan yang sedang mengalami pemulihan dari kerusakan.

Yang tertarik lihat Debregeasia longifolia (Burm.f.) Wedd. secara langsung, kapan2 saya tunjukkan ya :). atau bisa juga main2 ke Taman Hutan Raya Juanda (disekitar curug omas).

Note: foto ini saya ambil di pinggir Jl. Setiabudhi, Bandung.

Image

Cigadung

Oleh: Arifin Surya Dwipa Irsyam

Ada yang rumahnya di Cigadung? coba angkat tangannya tinggi-tinggi.. Seperti yang sudah diketahui bahwa secara toponimi, Cigadung berasal dari kata Ci dan Gadung. Pasti sudah tidak asing lagi mendengar kata “gadung”.

Ya… gadung merupakan jenis tumbuhan merambat yang bagian umbinya dikonsumsi menjadi keripik. Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) dalam taksonomi tumbuhan adalah anggota dari famili Dioscoreaceae. Famili ini terdiri dari 600 jenis gadung, dan Dioscorea hispida Dennst. salah satunya. Untuk membedakannya, apa sih ciri jenis ini?

Dioscorea hispida Dennst. adalah tumbuhan merambat dengan panjang hingga 10 m. Berakar serabut dan memiliki batang membelit yang berwarna hijau. Daunnya majemuk, memiliki anak daun berjumlah tiga helai yang tipis. Jenis ini banyak dijumpai pada hutan sekunder di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Tapi berdasarkan karakter fitokimianya, gadung perlu diperhatikan. Gadung mengandung senyawa beracun dioscorin dari golongan piperidine alkaloid. Senyawa dioscorin masuk ke dalam kategori highly toxic, dan dapat menyebabkan kerusakan hati serta gangguan saluran pencernaan manusia bila pengolahannya tidak tepat.

Senyawa beracun ini banyak terkandung dalam bagian umbinya. Sehingga sebelum dikonsumsi, senyawa dioscorin harus dibuang terlebih dahulu. Bagaimana caranya? Dalam praktek tradisional, bagian umbi harus dicuci pada air mengalir selama kurang lebih 7 hari untuk detoksifikasi kandungan dioscorin. Setelah bersih dari sneyawa racun, umbi dapat diolah menjadi makanan ringan. Bagian umbi kaya akan kandungan polisakardia atau karbohidrat, tersusun atas manosa, arabinosa, glukosa, galaktosa, xylosa, dan rhamnosa.

Selain kandungan dioscorin, gadung juga mengandung senyawa dioscin, dari golongan streoidal saponin. Senyawa ini dimanfaatkan sebagai hormon steroid semi-sintesis dan kontrasepsi oral. Namun pemanfaatan ini harus dibawah pengawasan tenaga medis. Selain bermanfaat sebagai sumber hormon steroid semi-sintesis, gadung juga memiliki beberapa aktivitas penting lainnya, seperti antitumor, antiradang, penahan rasa sakit (analgesik) antioksidan, dan sebagai obat cacing (anthelmintic).

Ternyata meskipun tergolong sebagai tumbuhan beracun, gadung juga memiliki manfaat di bidang kesehatan. Sayangnya.. saat ini gadung sudah jarang ditemui di Cigadung. Kalah bersaing dengan “tumbuhan” beton dan besi hasil karya manusia. yah..semoga saja gadung tidak sekedar menjadi cerita saja di Kota Bandung. Kita yang sudah tahu akan peran gadung bagi manusia diharapkan dapat melestarikannya.

Image

Bunga Matahari dan Kerabatnya

Oleh: Arifin Surya Dwipa Irsyam (@poisonipin)

Di kesempatan kali ini saya mau bercerita tentang bunga matahari dan kerabatnya. Apa sih yang menarik dari bunga matahari? Mari kita ulas…

Sebelumnya, tahukah Aleutian bahwa bunga matahari dan kerabatnya seperti bunga dahlia, bunga krisan, dan bunga aster, sebenarnya terdiri dari ratusan bunga yang berukuran sangat kecil? Untuk lebih jelasnya coba amati foto dibawah ini.

Bunga matahari merupakan satu karangan bunga majemuk yang tersusun dari bunga pita dan bunga tabung dalam jumlah banyak, namun terlihat seperti satu bunga tunggal. Karangan bunga ini disebut dengan istilah Pseudoanthium (bunga semu).

Bagian yang dari luar terlihat seperti kelopak bunga sebenarnya adalah kumpulan daun pembalut (involucrum) yang berfungsi untuk melindungi karangan bunga pada saat masih kuncup.

Kemudian yang manakah bunganya? Bunga matahari dan kerabatnya terdiri atas dua macam jenis bunga, bunga pita dan bunga tabung. Bunga pita terletak disekeliling pinggiran dan bersifat mandul, sedangkan bunga tabung terletak dibagian pusat atau tengah dan bersifat fertil. Jumlah bunga tabung dalam satu karangan bunga dapat mencapai hingga ratusan buah.

Dimanakah bagian kelopaknya? Ada yang pernah mencoba meniup dandelion? Nah, bagian rambut (menyerupai parasut) itulah bagian kelopak bunganya. Kelopak bunga pada keluarga bunga matahari disebut pappus. Kelopak ini berukuran sangat kecil, biasanya berbentuk rambut (seperti pada dandelion), berbentuk duri (seperti pada dom-doman), berbentuk selaput (seperti pada bunga matahari), maupun berbentuk kelenjar yang sangat lengket (pada legetan werak). Adanya bagian pappus sangat berperan penting dalam proses pemencaran buah. Buah dengan pappus yang berbentuk rambut akan terpencar dengan bantuan angin, buah dengan pappus duri dan kelenjar lengket akan terpencar melalui hewan karena menempel pada badannya.

Lalu, ada yang hobi makan kuaci bunga matahari? Yang biasa pada bungkusnya tertulis “kuaci biji matahari”.
Sebenarnya istilah penyebutan “biji” bunga matahari kurang tepat. Kenapa? Sebab yang kita sebut “biji” sebenarnya adalah buah dari bunga matahari. Tipe buah pada keluarga bunga matahari adalah tipe buah Achene, suatu tipe buah kering yang tidak memiliki daging buah, sehingga terlihat menyerupai sebuah biji.

Bagaimana dengan bagian dari kuaci yang kita makan? Nah.. itu baru bijinya. Jadi penyebutan satu kuaci utuh dengan kulitnya tidak tepat bila disebut dengan “biji”.

Bagaimana? Apakah bisa dipahami? Bunga matahari dan kerabatnya merupakan satu contoh dari uniknya dunia tumbuhan. Semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat bagi Aleutian. Kalau begitu sampai berjumpa di lain kesempatan!