Perayaan Tahun Baru Cina di Bandung era 50-an

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Tentu kita bertanya-tanya seperti apa Chinese Nieuwjaar atau Tahun Baru Cina di Bandung pasca kemerdekaan? Apakah saja yang warga etnis Tionghoa lakukan saat itu? Kali ini, saya akan menceritakan hal-hal yang ditemukan di koran-koran lama.

Foto Peresmian Bank Commercial Tionghoa di Bandung

Foto Peresmian Bank Commercial Tionghoa di Bandung

Pintu Kemakmuran di Ujung Tahun

Sebagian orang Tionghoa melihat pergantian tahun Cina sebagai waktu tepat untuk membuka pintu kemakmuran. Hal itu lah yang dilihat Tan Beng Kiam, The Tjie Tjhoen, Tan Kay Toeng, Tan Teng Pek, dan The Hong Liang saat membuka Commercial Bank Baca lebih lanjut

Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus

Ditulis oleh Nia Janiar dan dipublikasikan di Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti

 

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap “aib” karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pada keturunannya.

Perkenalan Hilda dengan Tan Tjin Hiauw bermula saat dikenalkan oleh Helena yaitu Margareth Thio, kakaknya Hilda, yang merupakan teman Tan Tjin Hiauw. Saat itu Hilda masih sekolah dengan didikan ala Eropa, sementara Tan Tjin Hiauw sudah bekerja. Karena hubungan mereka terlarang, otomatis hubungan mereka dijalankan secara diam-diam. Surat-surat yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi dikirimkan melalui kurir. Berbeda dengan keluarga Hilda yang cenderung konservatif, keluarga Tan Tjin Hiauw cenderung membebaskan anak memilih untuk berhubungan dengan orang yang satu marga. Bahkan keluarga Tan Tjin Hiauw membantu Hilda lari dari rumah dan disembunyikan.

Untuk bisa bersatu dengan Tan Tjin Hiauw, Hilda rela meninggalkan keluarganya dan kabur ke Surabaya, kemudian Makassar, dan menikah di Singapura. Karena sakit hati, ayah Hilda yaitu Tan Djia Goan, mengumumkan di surat kabar Sin Po pada 2 Januari 1918 bahwa Hilda bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Dihapus dari ahli waris.

Baca lebih lanjut

Rumah Tan Shio Tjhie dalam Roman Rasia Bandoeng

20160218022818

Dalam roman Rasia Bandoeng, Chabanneau menggambarkan rumah Tan Shio Tjhie sebagai rumah gedong besar di pinggir Groote Postweg (sekarang Jl. Jendral Sudirman), berhadapan dengan Gang Kapitan (sekarang Gang Wangsa) dan di sebelah timur rumah tersebut mengalir Kali Citepus.

Sosok Tan Shio Tjhie digambarkan sebagai sosok yang progresif karena tidak menentang kehendak anaknya, Tan Tjin Hiaw, untuk menikah dengan Tan Gong Nio atau Hilda. Padahal, dalam adat budaya Tionghoa saat itu, perkawinan satu marga adalah hal tabu dan terlarang. (dikutip dari tulisan bersambung Lina Nursanty di HU Pikiran Rakyat)

Siapakah sebenarnya sosok Tan Shio Tjie ini? Mari mengulasnya bersama hari Sabtu besok bersama @pustakapreanger di acara Diskusi Buku Rasia Bandoeng yang akan berlangsung di rumah Tan Shio Tjie ini. Info acara silakan cek foto sebelumnya atau klik http://bit.ly/1PHHMwR.

Catatan Perjalanan: NgAleut Rasia Bandoeng

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Malam Imlek itu, saya mendengar riuh suara kumpulan anak muda dengan baju coklat bertuliskan “Komunitas Aleut” di depan BRI Tower Asia Afrika. Lalu, saya dekati mereka karena penasaran dengan keributan yang mereka hasilkan.

“Ini lagi pada ngapain?” tanya saya kepada salah satu anak muda yang menyambut saya.

“Oh, ini Komunitas Aleut sedang siap-siap untuk NgAleut Rasia Bandoeng,” jawab anak muda yang bernama Ajay.

“Rasia Bandoeng? Bandung punya rahasia apa? Wah, ikut deh,” seru saya.

***

Sesi perkenalan

Gerimis mulai turun saat kami berkumpul dalam lingkaran. Salah satu penggiat Komunitas Aleut, Irfan TP, membuka NgAleut dengan mempersilahkan peserta memperkenalkan diri. Rupanya mereka dari berbagai institusi.

Lalu setelah perkenalan, Irfan TP bercerita tentang apa yang di-NgAleut-kan hari ini yakni Rasia Bandoeng. NgAleut kali ini berasal dari novel berlatar Bandung abad  ke-19 berjudul “Rasia Bandoeng” yang ditulis oleh Chabanneau. Dalam “Rasia Bandoeng”, Chabanneau menceritakan kisah cinta terlarang pasangan Tionghoa bermarga Tan. Nah, NgAleut malam ini menelusuri titik-titik yang dicerita dalam novel itu.

Titik pertama NgAleut malam itu adalah Bank Escomto yang sekarang Bank Mandiri. Di titik itu, penggiat Aleut berjaket merah bernama Alex mulai bercerita adegan di “Rasia Bandoeng” yang mengambil latar di Bank Escomto.

Dari penuturan Alex, saya mendapat cerita bahwa terjadi kejar-kejaran antar tokoh di “Rasia Bandoeng” bernama Tan Kong Wa serta kakak dan ibunya. Adegan yang mirip dengan film Fast and Furious terjadi di persimpangan jalan di depan Bank Escomto. Tapi berbeda dengan Fast and Furious, mereka menggunakan sado yang seperti delman.

“ Lalu, siapa Tan Kong Wa?” tanya saya pada Alex.

“ Tan Kong Wa adalah kawan baik Tan Tjin Hiauw. Nah, Tan Tjin Hiauw adalah tokoh utama dalam novel romantis ini,” jawab Alex sambil menunjuk bekas jalan di belakang Mesjid Agung yang telah tertutup oleh toko.

Bangunan di Perempatan Jl. ABC

Bangunan di Perempatan Jl. ABC

Setelah bercerita cukup lama, kami berjalan ke arah perempatan Jl. ABC. Alex nyeletuk bahwa kami akan melihat tempat Tan Tjin Hiauw bekerja sebagai akuntan di perempatan Jl. ABC.

Di titik ini, Alex dan Irfan TP bercerita tentang Hilda yang kerap mendatangi tempat Tan Tjin Hiauw bekerja. Sambil menunjuk menara di perempatan, Alex bercerita bahwa Hilda dan Tan Tjin Hiauw sering berjalan kaki dari perempatan ke Pieterspark (sekarang Taman Dewi Sartika). Mereka sering menggunakan jalan sepi di sekitar Braga untuk ke Pieterspark.

“Waduh, siapa lagi Hilda?” tanya saya kepada Alex

“Hilda teh tokoh perempuan yang jatuh cinta kepada Tan Tjin Hiauw. Hilda berkunjung ke kantor Tan Tjin Hiauw selesai les bahasa” jawab Alex.

Lalu, kami berjalan menuju bekas Sentiong atau makam Cina yang sekarang menjadi bangunan baru. Bukan cerita horror yang kami dengar dari Alex di titik ini, melainkan cerita romantis penuh kode antara Tan Tjin Hiauw dengan Hilda.

Menurut hasil membaca “Rasia Bandoeng”, Alex bercerita tentang teater Cina yang ditonton oleh Tan Tjin Huw dan dipanitiai oleh Hilda. Sepanjang teater ini berlangsung, mereka saling melempar pandangan penuh kode yang maknanya hanya diketahui oleh mereka.

“Kalem, ai teater ini di mana?” tanya saya lagi kepada Alex yang sedang terengah-engah karena lelah berjalan.

“Oh, teater ini berlokasi di Teater Apollo di depan Parapatan Kompa,” jawab Alex yang sudah mendapat nafasnya.

Belakang Pasar

Belakang Pasar

Selesai mendengar cerita pasangan penuh kode, kami melangkahkan kaki ke belokan Belakang Pasar. Di titik ini, kami menyimak cerita tentang Lie Tok Sim yang jatuh cinta ke Hilda.

Dalam “Rasia Bandoeng”, Lie Tok Sim jatuh cinta saat melewati rumah Hilda di Jl. Kebon Jati. Setelah itu, mereka saling mengirim surat dengan kurir bernama Gan Chokwim yang merupakan teman Lie Tok Sim. Sayangnya cinta Lie Tok Sim bertepuk sebelah tangan karena Hilda tidak suka Lim.

“Wait, kenapa kita berhenti di sini?” tanya saya.

“Yaa karena Lie Tok Sim tinggal di Belakang Pasar,” jawab Alex yang mulai kelelahan.

Rumah Keluarga Hilda

Rumah Keluarga Hilda

Obrolan cerita cinta bertepuk sebelah tangan ini berlangsung sepanjang perjalanan ke titik berikutnya di depan Hotel Gino Feruci. Lalu, obrolan kami berhenti setelah sampai di depan hotel. Selain berhenti, Alex menunjuk bangunan tua di depan hotel yang dahulu merupakan rumah keluarga Hilda.

Berdasarkan penuturan Alex, keluarga Hilda mulai menempati rumah itu setelah usaha batik ayahnya sukses. Pada awalnya, keluarga Hilda tinggal di sekitar Pasar Baru dan usaha awal mereka adalah Provisien en Dranken. Lalu, mereka beralih ke usaha batik yang berasal dari Solo karena lebih menguntungkan dibanding usaha sebelumnya.

“Oh iya, di situ, Hilda memandang Lie Tok Sim untuk pertama kalinya,” seru Alex sambil menunjuk bangunan tua itu.

Setelah memotret bangunan tua itu, kami berjalan kaki cukup jauh ke Jalan Sudirman. Gerimis kembali turun perlahan saat kami berjalan. Kami pun mulai berdiskusi tentang kedatangan etnis Tionghoa di Bandung sambil berjalan.

Rumah Kapiten tituler Bandoeng

Rumah Kapiten tituler Bandoeng

Lalu, kami berhenti di depan pintu masuk Kafe Jadoel. Di titik itu, Alex menunjuk ke bangunan dua lantai di seberang. Rupanya bangunan itu adalah rumah Kapitein Tionghoa di Bandung bernama Tan Joen Liong. Selain menunjuk rumah Tan Joen Liong, Alex memperlihatkan foto bangunan di belakang kami melalui IPad.

Alex mulai bercerita bahwa bangunan yang dia perlihatkan melalui IPad adalah rumah keluarga Tan Tjin Hiauw. Di rumah itu, ayah Tan Tjin Hiauw bernama Tan Sioe Tji berada di titik kejayaan melalui usaha keluarganya. Sayangnya, pada satu masa, usaha mereka bangkrut sehingga mereka harus pindah ke ujung selatan Gang Kapitein (sekarang Gang Wangsa).

Selain bercerita tentang kejayaan ayah Tan Tjin Hiauw, Alex bercerita tentang dukungan keluarganya atas cinta semarga antara Tan Tjin Hiauw dan Hilda. Menurut Alex, dukungan itu disebabkan kondisi ekonomi yang sedang mendesak keluarga Tan Tjin Hiauw.

“Eh, ai rumah keluarga Tan Tjin Hiauw masih bisa dikunjungi?” tanya saya.

“Bisa dikunjungi karena sekarang rumah itu dipakai sebagai tempat usaha,” jawab Alex sembari memperlihatkan foto rumah keluarga Tan Tjin Hiauw.

Setelah bercerita tentang usaha Tan Sioe Tji, kami berjalan kaki ke titik akhir di PERMABA yang berlokasi di Jalan Klenteng. Sepanjang perjalanan, kami bertanya tentang akhir kisah cinta semarga di “Rasia Bandoeng”.

Ternyata pasangan terlarang itu menikah setelah dua kali kabur dari keluarga Hilda. Usaha kabur pertama hanya sampai Jalan Cibadak. Sedangkan usaha kabur kedua berhasil membawa mereka ke luar dari Bandung.

Obrolan kami berhenti sejenak saat melewati Klenteng. Kami berhenti mengobrol karena bau dupa dan pemandangan penuh warna merah yang mengusik kami. Beberapa orang dari kami mengambil kesempatan ini untuk memotret keadaan sekitar Klenteng.

Foto Keluarga Komunitas Aleut di PERMABA

Foto Keluarga Komunitas Aleut di PERMABA

Akhirnya kami sampai di halaman PERMABA. Di halaman ini, Irfan TP membuka sesi sharing dengan mempersilahkan peserta untuk berbagi pengalaman sepanjang perjalanan. Setelah sesi sharing, kami berdiri di depan PERMABA untuk foto keluarga Komunitas Aleut. Sungguh perjalanan yang luar biasa menarik!

Sumber foto : @komunitasaleut dan @veccosuryahadi

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2016/02/08/catatan-perjalanan-ngaleut-rasia-bandoeng/

Mencari Pecinan Kota Bandung

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Setiap Ngaleut bertema daerah Pecinan dengan Komunitas Aleut, saya selalu mendengar sebuah pertanyaan yang sama berulang kali dari beberapa peserta: Di mana sebetulnya daerah Pecinan di Kota Bandung? Kami memang sering mengidentikan Pecinan di Kota Bandung dengan daerah Pasar Baru dan Cibadak, namun belum pernah sekalipun mengatakan kedua daerah ini adalah Pecinan Kota Bandung. Alasannya mudah, yaitu karena butuh penelitian mendalam untuk menentukannya.

Nah, kebetulan Hari Minggu kemarin saya diundang sebagai perwakilan Komunitas Aleut dalam acara Wisata Kawasan Pecinan yang diadakan Bandung Heritage. Asiknya lagi, Pak Sugiri Kustedja menjadi interpreter perjalanan Wisata Kawasan Pecinan ini. Pak Sugiri adalah pegiat Bandung Heritage yang sangat perhatian dengan kebudayaan Tionghoa di Kota Bandung.

Pak Sugiri Kustedja

Pak Sugiri Kustedja

***

Apa sih sebetulnya Pecinan itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan Pecinan sebagai berikut:

pecinan/pe·ci·nan/ n tempat permukiman orang Cina: pusat-pusat perbelanjaan berdampingan dng rumah-rumah model — yg sumpek.

Baca lebih lanjut

Diskriminasi Sepotong Siomay

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Seporsi Siomay (Bukan Ilustrasi Kreatif, Sumber: harianlampung.co.id)

Rasa lapar sepulang ngaleut membawa saya menuju freezer kulkas begitu tiba di rumah. Tak jelas apa yang sebetulnya dituju, toh kalau memang saya lapar, masakan siang ini sebetulnya sudah tersedia di meja makan. Rupanya saya butuh udara dingin, mengingat siang hari ini cuaca luar biasa terik. Setelah beberapa menit udara dingin freezer berhembus ke muka yang bercucuran keringat, terlihat ada satu kotak kecil siomay. “Kayaknya enak nih!”, teriak saya dalam hati.

***

Siomay, sekarang ini lebih dikenal sebagai kuliner khas Bandung. Setidaknya itu yang saya temui setiap main ke Jakarta. Abang-abang penjual siomay seringkali menaruh embel-embel “Bandung” di gerobak atau pikulannya.  Padahal jika kita merunut lagi lebih jauh, siomay ini merupakan makanan yang berasal dari negeri Tirai Bambu.

Siomay berasal dari kata shumai. Shumai awalnya berbahan dasar daging babi yang dicampur dengan udang kemudian dibungkus dengan adonan tipis yang terbuat dari terigu. Siomay yang kita kenal saat ini umumnya terbuat dari ikan tenggiri. Ada beberapa variasi siomay, seperti di dalam dunia dim sum. Siomay di dunia dim sum tebuat dari udang, yang berkulit warna kuning lazim disebut… siomay udang, sedangkan siomay yang terbuat dari udang dibungkus kulit berwarna putih atau bening dikenal dengan nama hakkau.

Siomay kini sudah menjadi salah satu warisan kuliner Nusantara, yah setidaknya itulah yang jadi jargon salah satu kecap yang rutin mengadakan festival jajanan. Harga siomay bervariasi, mulai dari yang harganya Rp 2.000,00 untuk 3 potong siomay sampai yang (katanya) berkualitas dengan harga Rp 15.000,00 per potongnya. Sebagai salah satu penggemar siomay, buat saya kuantitas is numero uno. Makanya jangan heran kalau badan saya seramping ini.

***

Entah kenapa, di siang yang panas ini siomay dalam freezer mengingatkan saya pada salah satu bentuk diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Siomay sejatinya adalah kuliner khas Tionghoa yang menjadi favorit rakyat Indonesia setelah berakulturasi, tapi dalam kenyataan kadang masih saja ada perbedaan perlakuan antara etnis Tionghoa dan etnis non-Tionghoa yang masih saya lihat dan rasakan hingga saat ini.

Pada awal kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia di masa penjajahan, mereka sebetulnya hidup berdampingan dan berhubungan baik dengan warga pribumi.  Jurang pemisah pertama kali dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda karena kedekatan ini dianggap berpotensi memperkuat warga pribumi dan membuat Pemerintah Hindia Belanda kesulitan menanganinya. Jurang ini sukses dibuat. Orang Tionghoa diposisikan sebagai perantara perdagangan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan pribumi.

Toh pada saat masa persiapan kemerdekaan, warga etnis Tionghoa kembali merapat ke warga pribumi. Pemilik rumah di Rengasdengklok, tenpat penyekapan Soekarno dan Hatta, merupakan etnis Tionghoa. Belum lagi diyakini ada beberapa etnis Tionghoa yang membantu persiapan kemerdekaan Indonesia. Kehidupan yang harmonis ini berlangsung hingga menjelang berakhirnya masa Orde Lama.

Keharmonisan ini mulai rapuh pada saat Peristiwa Gerakan 30 September. Banyak warga etnis Tionghoa yang terdaftar sebagai anggota Partai Komunis Indonesia dibantai secara massal. Pembantaian ini berlangsung secara membabi buta. Saking membabibutanya, banyak juga mereka yang sebetulnya bukan anggota PKI ikut menjadi korban.

Saat rezim Orde Baru berkuasa, keadaan semakin memburuk. Etnis Tionghoa dilarang (walaupun tak secara tertulis) untuk menjadi anggota ABRI maupun menjadi PNS. Jurang pemisah pun semakin lebar. Di Bandung misalnya, jurang pemisah ini melebar pada tahun 1970-an karena insiden antara tukang delman dengan warga beretnis Tionghoa yang berujung menjadi kerusuhan etnis.

Di akhir rezim Orde Baru, kembali warga beretnis Tionghoa menjadi korban. Entah apa kaitan antara krisis ekonomi tahun 1998 dan mundurnya Soeharto setelah 32 tahun berkuasa, tapi keduanya berujung pada terjadinya penjarahan masal. Kejadian paling besar terjadi di Jakarta. Banyak toko yang dijarah dan kemudian dibakar. Untuk menyiasatinya, banyak toko yang menempel label “Milik Pribumi” di depan toko. Belum lagi banyak warga etnis Tionghoa yang menjadi korban kebrutalan aksi ini. Ah, meskipun saat itu saya baru berumur 7 tahun, tapi memori ini menjadi memori buruk bagi saya, apalagi setelah mendengar kesaksian korban di berbagai media.

***

Buat saya, diskriminasi etnis seperti ini, apapun etnisnya, seharusnya tak lagi terjadi. Toh kita semua ber-KTP Indonesia, toh sila ketiga kita berbunyi “Persatuan Indonesia”, toh 87 tahun yang lalu pemuda berbagai etnis pernah berkumpul untuk menyerukan Sumpah Pemuda. Bukankah kita semua satu tanah air?

Perut saya mulai berbunyi. Sepertinya siomay yang nangkring di freezer ini memang harus dikukus dan masuk ke perut saya.

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/02/25/diskriminasi-sepotong-siomay/

Silih Beulit jeung Oray Naga

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

“Bangsa urang jeung Cina těh harita mah asa dalit pisan. Bisa jadi pědah hirupna sarua papada susah. Anyeuna mah beunang disebutkeun euweuh Cina nu daragang ngider atawa ngawarung gowěngan těh. Bisa jadi anakna atawa turunna jaradi jalma jugala.” (Us Tiarsa dina buku Basa Bandung Halimunan)

Naha enya kitu tina urusan ěkonomi nu ngajadikeun bangsa urang jeung bangsa Tionghoa nu maratuh di lemah cai těh jadi pajauh? Bisa waě bener ěta pamendak Pak Us Tiarsa těh, tapi mun ceuk kuring mah lain ngan saukur ěta pasualanna. Loba pisan anu bisa diteuleuman ku urang jang ngaguar pasualan gaul hirup sapopoě antara bangsa urang jeung bangsa deungeun, hususna bangsa Tionghoa. Ieu mah minangka ngabagěakeun Imlěk baě, perkara eusina mah tangtu loba pisan kakuranganna, ulah kapameng rumojong, diantos kamandang kadang wargi kana ieu seratan.

***

Taun 1662 Walanda teu bisa ngarebut Taiwan sabab diělěhkeun ku urang Tionghoa nu dipingpin ku Koxinga (Zhěng Chenggong). Frěděrick Coyětt nu harita jadi Gebernur Jěndral Walanda nu cicing di Taiwan, ngalaporkeun ěta kajadian nu diběrě jejer “t’Verwaerloosde Formosa” nu hartina “Pohokeun Formosa”. Hal ěta diuningakan deui ku Walikota Singkawang, Hasan Karman, dina buku nu jejerna Sejarah Kongsi di Kalimantan Barat, nu mědal taun 2014 di Bandung.

Pangalaman pait ěta nimbulkeun kasieun ka Walanda dina nyanghareupan bangsa kulit koněng. Leuwih sieun deui mun seug Tionghoa dalit jeung bangsa pribumi, sabab hal ěta bakal nyieun kakuatan anu lain bantrak-bantrakeun. Hal sakituna, bisa jadi ěta pisan alesan nu nyieun Walanda ngala pati ka rěbuan bangsa Tionghoa di Batavia dina taun 1740.

200 taun ti harita, Walanda masih kěněh ngarasa sieun jeung hariwang ka bangsa Tionghoa. Sigana mah kajadian di Taiwan tacan leungit tina ingetan maraněhna. Atuh basa datang laporan ti Penning Nieuwland nu harita mingpin Kalimantan Barat, maněhna ngarasa pondok harepan. Ka Guberneur Jendral, maněhna aya roman jang mohokeun Borneo, sarua siga basa ělěh di Formosa. Harita nu pangdipikasieun ku Walanda těh nyaěta Kongsi Lanfang nu lolobana Tionghoa-Hakka, jeung Kongsi Hěstun Zongting nu geus kawěntar liat jeung lain bantrak-bantrakeun.

Mun di impleng deui, meureun ieu nu ngajadikeun Walanda nyieun kampung-kampung dumasar kana suka bangsa těh. Apanan urang geus pada apal, yěn ti baheula Walanda misah-misahkeun bangsa dina kampung-kampung sagemplek sewang. Aya Kampung Cina atawa nu katelah Pacinan, Kampung Arab, Kampung Melayu, jeung sajabana.

Tangtu jijieunan ieu těh amběh gampang nalingakeunna. Pan geus puguh Walanda mah sieun ku bangsa Tionghoa těh. Tah, tina hal ieu urang bisa nempo lumayan ěcěs, yěn bangsa Tionghoa těh měmang tohaga jeung toh-tohan dina lebah paguntreng jeung ngaběla harga dirina mah, atuh ieu ogě teu mustahil nu ngajadikeun maraněhna pogot kana digawě, utamana di urang mah kana widang dagang. Pan saur Pak Us Tiarsa gě seueur nu jugala jaradi konglomerat.

Tapi nu baris dibeunjeurběaskeun (alakadarna meureun) ku kuring man lain ngeunaan ieu, leuwih kana papisahna atawa anggangna kahirupan maraněhna jeung bangsa urang. Saloba-lobana gě nu ngumbara, pasti loba kěněh kaom pribumi. Atuh teu aněh mun di sakuliah Nusantara bangsa Tionghoa mah sok jadi bangsa nu pang saeutikna atawa minoritas. Keur mah saeutik, katurug-turug dipisahkeun ku Walanda, atuh puguh wě rada hěsě rěk campur gaul jeung nu sějěn těh.

Ti jaman Walanda, Soekarno, tuluy Soeharto, ampir kaběh kungsi teu ngaajěnan ka bangsa Tionghoa. Sanajan dina seratan Pak Us Tiarsa diuningakeun yěn baheula mah kungsi dalit, tapi angger we sikep bangsa urang mah ngarasa rada anggang. Ngarobah hiji kabiasaan nu geus lumangsang mangtaun-taun, tangtu lain perkara gampang. Enya gě mun dina widangěkonomi bisa ngaraketkeun, tapi dina widang pulitik mah can tangtu. Apanan urang geus pada apal, mineng pisan bangsa Tionghoa těh dibuburak malah ka nepi diala pati basa aya kajadian riweuh di nagara urang.

Naon sabab? Katugenah jeung sangkaan bangsa urang ka bangsa Tionghoa těh siga tuluy-tuluyan diwariskeun. Matak teu kaop aya kajadian leutik bisa ger jari rongkah, malah bisa ngocorkeun getih sagala. Nu pang haneutna mah tangtu taun 1998, leuh mun urang nitenan deui kajadian jaman harita, matak watir jeung ginggiapeun. Atuh ěta wě, dina sababaraha koran mah diberitakeun loba awěwě bangsa Tionghoa nu digadabah sagala, ku lobaan deuih, asa euweuh ras-rasan pisan.

Basa Gus Dur naěk jadi Prěsiděn, kaayan kieu těh rada lumayan ngurangan. Imlěk jeung kabudayaan Tionghoa nu ti baheula teu meunang diayakeun jeung dimumulě; kayaning barongsai, wayang potěhi, jeung sajabana, dina jaman Gus Dur mah teu diulah-ulah deui. Atuh puguh wě asa kokoro manggih mulud lebaran manggih puasa, bangsa Tionghoa galumbira pisan, malah sababara golongan mah aya nu měrě sebutan “Bapa Tolěransi” sagala ka Gus Dur těh.

Ti luhur jambatan

 

Kaayaan robahna di widang kabudayaan ieu, nu katempo ku kuring mah teu pati loba nyieun parobahan dina katugenah bangsa urang. Majarkeun těh, tuh deuleu loba pisan bangsa urang nu ngadon bubujang ka urang Tionghoa, tuluy loba nu ku dununganna teu diajěnan. Hal ieu ceuk kuring geus asup kana hukum ěkonomi, di mana-mana gě pasti jalma nu teu boga bakal kula-kuli ka jalma nu jugala jeung beunghar ku harta. Apan lolobana ti bangsa urang mah jaradi pagawě, arang langka nu jadi pangusaha mah.

Atuh ari soal teu ngaajěnan mah lain ngan ukur bangsa Tionghoa waě nu sok  ngalampahan kitu těh, dalah bangsa urang ogě teu saeutik nu kitu. Jadi alesan ieu mun dipakě teu resep jeung cua, angger teu bisa dibenerkeun. Omat ulah gorěng sangka, kuring lain ngaběla hiji bangsa, tapi panyangka gorěng jeung katugenah alusna mah ulah hantem dikukut. Apan ceuk kolot gě urang těh kudu akur jeung dulur, enya apan sakur-sakur rahayat Indonesia těh masih kěněh dulur, kaasup urang Tionghoa jeung turunnana.

***

Poě Ahad kamari kaping 22/2/2015, dina raraga Imlěk, kuring jeung babaturan ngaleut maluruh tempat-tempat nu disebut asup kana wilayah Pacinan. Di Bandung mah tětěla nu disebut Pacinan těh běda jeung di kota-kota nu sějěn. Ari di luar kota mah pacinan těh ngariung sagemplekan nu eusina nya kaběh urang Tionghoa atawa disebut ogě Cina; boh imahna, tempat usahana, paragi ibadah ka pangeranna, jeung sajabana. Pokona dina ěta kampung těh urang Cina wěh lolobana mah.

Tah di Bandung mah teu kitu, malah teu boga lawang gapura sagala, matak rada hěsě nangtukeun wates-wates Pacinan těh. Najan kitu, tapi kamari mah nya nyobaan maluruh saeutik-saeutik. Mimitina ti Masjid Al Imtizaj nu aya di Jalan ABC belah wětan (deukeut wangunan urut Matahari Dept. Store), masjid ěta saenyana wangunan anyar jadi tacan boga sajarah nu panjang jang dicaritakeun, tapi ku sabab langka nu ngaranna masigit urang Tionghoa mah, nya ěta masigit těh minangka dijadikeun wates paling wětan Pacinan Bandung.

Naha cenah asa rada hěmeng meunang aya urang Tionghoa nu ngagem Islam sagala? Tong salah, Laksamana Cheng Ho ku anjeun těh kapanan Islam ogě. Anjeunna kaasup urang Tionghoa nu munggaran datang ka Nusantara. Di Bandung mah lain ti ěta masigit, aya ogě Masjid Lautze di Jalan Tamblong deukeut pengkolan pisan, teu jauh ti patung Ajat mah, malah ampir pahareup-hareup pisan. Masigit ěta mah kagungan Yayasan Karim Oey.

Ti sainget, atawa ti saprak kuring nincakeun suku di Bandung, nu ngaranna Jalan ABC mah tara ieuh tiiseun ku nu daragang. Da ěta we toko těh meni ngajajar, lolobana mah toko ělěktronik kayaning nu ngajual tipi, kulkas, mesin cuci, DVD player, jeung sajabana. Atuh di trotoar jeung di sisi jalan gě teu kurung nu nu daragang kacamata, tukang ngoměan jam, katut mangrupa-rupa inuman jeung kadaharan. Kuring kungsi meuli es pisang hějo di dinya, mangkaning poě keur meungpeung panas ěrěng-ěrěngan, leuh kacida ni’matna, sagelas těh ngan sasěak.

Di tempo saliwat gě ěta nu daragang di toko těh lolobana mah urang Tionghoa. Katempo da ti jalan gě koko atawa cici keur dariuk nyanghareupan měja nu biasana mah paranti nunda duit. Ari nu purah nawarkeun jeung laladang mah angger wě rěa bangsa urang. Mun měngkol ka belah katuhu, nyaeta ka Jalan Alkateri; di dinya aya hiji warung kopi anu geus heubeul, atuda ngadegna ti taun 1930, sigana kolot kěněh warung ěta jeung aki kuring gě! Ceuk babaturan kuring mah (Mang Arya), di ěta warung těh kaayaanna gancang loma jeung batur. Cenah mun aya hiji jalma anyar nu munggaran ngopi di dinya, tuluy inditna sorangan atawa teu boga batur, ěta jalma těh baris diajakan ku kolot-kolot nu geus ngalanggan pikeun milu ngobrol jeung maraněhna. Stok kopi di ěta warung nyokotna ti Pabrik Kopi Aroma nu aya di Jalan Banceuy.

Asa ku kabeneran, barang kuring jeung barudak keur ngariung sabari silih tukeur kanyaho, na ari lol těh bapak-bapak urang Tionghoa kaluar ti warung kopi Purnama, ěh tapi geus laěr kětang, aki-aki meureun kasebutna; saurna mah anjeunna těh nu kagungan Pabrik Kopi Aroma. Sababaraha ti barudak aya nu wawuh ka anjeunna, atuh rada pancakaki heula sajonjonan mah, jalmana katempo soměah naker, nu disebut darěhděh těh enyaan.

Tukang mih ayam

 

Di tungtung jalan ABC aya hiji jambatan pameuntasan di luhureun Jalan Otista, ti luhur mah Pasar Baru těh katempo ěcěs pisan. Ti dinya tuluy eureun di hareupeun toko jamu Babah Kuya nu ti baheula geus kaconcara di sakuliah Bandung. Di dinya aya hiji akang-akang nu saliwat mah paroman jeung buukna siga Joni Iskandar, tinggal kacamatana dirantěan wě eta mah, pasti ceplěs pisan. Horěng ěta si akang těh nyaěta pagawě Babah Kuya nu sapopoěna purah ngaracik sabangsaning jajamuan. Tapi kusabab poě Ahad mah perě, jadi anjeunna poě harita mah markiran mobil jeung motor.

Dumasar katerangan ti si akang, toko jamu Babah Kuya geus asup ka generasi nu ka opat; nu gaduhna anyeuna mah Pak Iwan jenenganna tě. Aya dua toko sabenerna mah, tapi hu hiji mah teu ngalayanan ngaracik, ukur ngajual jamu nu geus jadi hungkul. Tapi cenah nu bogana mah běda, tapi masih kěněh barayana Pak Iwan.

Ti Babah Kuya tuluy mapay-mapay gang, bras wěh ka jalan gedě. Di sisi Jalan Kebonjati, kurang leuwih limapuluh měter ti parapatan Pasirkalili-Kebonjati-Gardujati, aya wangunan heubeul nu baheulana dipakě ku Hotel Surabaya pikeun para panumpang karěta api nu rěk ngadon ngarereb. Ayeuna ngaran hotelna geus ganti jeung leuwih modern deuih, minangka ngigelan jaman meureun. Di gigirna pisan hotel aya warung kopi Javaco, kaasup produsěn kopi heubeul eta javaco těh. Cenah mah mun kopi Javaco ditinyuh seungitna melengseng, sawarěh aya nu nyebut kawas seungit esbonbon, sawarěh deui aya nu nyebut sengitna kawas kuěh.

Sabab hayang nempo kelentěng, tapi panonpoě keur meungpeung nojo pisan kana emun-emunan, atuh ti Kebonjati těh měngkol ka kěnca, barang manggih aya plang badag nu tulisanna ngaran pasantren, tuluy asup kadinya. Lain bobohongan, enya gě ari ngaděngě mah geus ti baheula, tapi ari nincak mah karěk harita pisan ka Saritem těh. Leuh asa ngimpi bisa nincak di daerah jual beuli pabinihan. Tapi lain jual beuli meureun ngaranna, apanan ukur “nyěwa” sakerejep hungkul. Ceuk barudak kudu jempě, ulah rěa omong ngeunaan “daging atah” di dinya mah, kudu pada-pada apal wě cenah.

Di Jalan Kelentěng měmang aya kelentěng, lain ngan ukur ngaran jalan. Tapi hanjakal kusabab loba nu keur ibadah jadi wěh teu diidinan asup, bisi kaganggu meureun. Surti ari kitu těa mah, da maraněhna gě sarua we jiga urang ari masakah ibadah mah hayang husu. Sabab panonpoě masih kěněh barangasan, nya tungtungna ngiuhan heula di deukeut vihara. Barang keur ngariung, na atuh ari gantawang těh aya nu gělo kokolowokan. Geus kolot katempona mah jalamana těh, sorana jenger naker, pěpěrěpětan kawas tongěrět. Untung wě barudak teu tuluy riab. Teu ngaganggu teuing ari kitu těa mah, ngan orokaya wě matak reuwas sajongjonan.

Tuluy ka Jalan Cibadak, di dinya gě aya vihara dua siki, biasa wě dicět beureum. Di hiji pěngkolan deukeut toko buku Mearukě aya tukang bakmie atawa mih ayam, nu meulina kacida loba pisan, koatka ngantri sagala. Tadina mah kuring rěk nyobaan meuli, ngan pasti lila, teu tulus tungtungna mah. Nu meuli těh katempona mah loba urang Tionghoa, bangsa urang gě loba kětang, nyampur wě sabari ngarobrol.

Manggih nu kieu di Jl. Cibadak

 

Sapanjang Jl. Cibadak loba lampion nu digantungkeun luhureun jalan makě tapi rapia. Aya ogě gapura beureum paragi mapaěs acara Culinary Night nu hartina kurang leuwih icikibung barangdahar ti peuting. Aya ogě urut garduh listrik jaman baheula, wangunanna tohaga naker. Sabenerna di jalan ěta gě loba gang nu ngaranna kakara apal kuring mah, resep sigana mun ditalumtik hiji-hiji těh. Engkě sugan mun aya waktu rěk dipaluruh ah.

***

Tina ngaleut ěta, kuring manggihan sababara hal, di antarana nyaěta sabenerna urang Tionghoa těh katempona mah bisa layeut jeung bangsa urang těh. Nu kadua, kuring jadi panasaran saha sabenerna nu měrě ngaran “Pacinan”, maraněhna atawa bangsa urang? Lamun seug bangsa urang nu měrě ěta ngaran, hal ieu ceuk kuring siga hiji batas nu dijieun ku sorangan, da ěta ngaran těhkarasa atawa henteu geus nyien hiji lolongkrang jang misahkeun urang jeung maraněhna. Komo pan anyeuna mah loba pisan kota nu miboga kawasan pa-Cina-an těh, tuluy sok dijadikeun tempat wisata ku balarěa. Hal ieu lila-lila asa jiga děrěnten atawa kebon binatang.

Ceuk kuring, kaayaan nu geus aya memang fakta sajarah nu teu bisa diulah-ulah, tapi mun tuluy-tuluyan dijieun hiji “kaaněhan” tangtu lila-lila bakal ngandelan deui tembok pamisah antara bangsa urang jeung bangsa maraněhna.

Urut gardu listrik

Tah, sakumaha nu geus dijelaskeun di mimiti ieu tulisan, dalit atawa henteuna antara urang jeung maraněhna těh jelas lain ngan ukur tina kaayaan ekonomi; nyondong atawa henteu. Tapi salahsahiji ogě tina cara urang mirosěa ka tempat-tempat nu aya hubunganna jeung sajarah bangsa Tionghoa.

Kuring ngahaja měrě jejer tulisan těh ku kecap “silih beulit”—kuring teu apal kumaha kaayaan lamun oray keur gelut—tapi maksud kuring lamun seug enya cara gelutna kitu, ieu těh minangka hiji siloka yěn bangsa urang jeung bangsa Tionghoa těh mineng pisang guntrengna. Tapi lamun “silih beulit” nandakeun kahaděan siga jalma nu keur sasalaman, nya ieu pisan nu baris dimumulě ku urang sarěrěa.

Wilujeng Imlěk, wilujeng nyorang taun embě kai, mudah-mudahan kahareupna rijki beuki ngocor loba, sing sararěhat, nu utamana bisa leuwih dalit jeung bisa leuwih silih ngajenan jeung papada bangsa nu sějěn. Cag! [ ]

 

Foto : Arsip Irfan T.P.

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.com/2015/02/silih-beulit-jeung-oray-naga.html

 

Kopi Tiam di Warung Kopi Purnama

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Ngobrol di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil

Warung Kopi Purnama di Jl. Alkateri

Nama Warung Kopi Purnama tak asing lagi di kalangan pecinta kopi di Kota Bandung. Warung yang sudah buka sejak tahun 1930 ini terkenal dengan rasa pekat kopinya walaupun secara pandangan mata terlihat cair. Tak heran setiap harinya Warung Kopi Purnama selalu dipenuhi pengunjung.

Suasana di Warung Kopi Purnama

Di pagi hari itu saya dan Vecco memandu Teh Endah, wartawan Pikiran Rakyat yang sedang mengumpulkan data mengenai Pecinan untuk artikelnya. Sambil menunggu fotografer yang datang terlambat, kami sengaja berhenti dulu di Warung Kopi Purnama untuk minum kopi. Saya memesan segelas Saat sedang berbincang bertiga, datanglah 3 orang paruh baya yang duduk di sebelah meja kami.

Awalnya kami merasa agak sungkan untuk bertanya kepada ketiga bapak ini. Namun demi kepentingan penulisan artikel, Teh Endah memberanikan diri untuk memulai bertanya kepada salah satu bapak yang duduk di sebelah kami. Tak disangka maksud kami diterima dengan baik oleh ketiganya. Salah satunya bernama Om Yosef.

Om Yosef lahir di kawasan Pecinan, tepatnya di Gang H. Sapri, 66 tahun silam. Ia bercerita bahwa Warung Kopi Purnama adalah bagian dari hidupnya yang sulit untuk dipisahkan. Sejak kecil Om Yosef dibawa ayahnya untuk nongkrong di warung kopi ini. Tradisi ini ia turunkan terus menerus hingga ke cucunya, dan menurutnya tradisi ini pula yang membuat Warung Kopi Purnama terus hidup hingga saat ini.

Cerita Om Yosef tak berhenti di situ. Pria yang bernama Tionghoa Yo Seng Kian ini fanatik sekali dengan Warung Kopi Purnama. Walaupun sekarang sudah tidak tinggal di kawasan Pecinan, 6 kali dalam seminggu setiap paginya ia datang ke sini untuk sekedar minum kopi, makan dan ngobrol dengan kawan lainnya. Bahkan saat ia bertugas di Tanjung Pinang dan Jakarta, ia akan menyempatkan diri untuk datang ke Warung Kopi Purnama saat pulang ke Bandung.

Om Yosef bukanlah satu-satunya pelanggan reguler di Warung Kopi Purnama. Di tengah obrolan kami, ia juga menyapa pelanggan lain yang duduk di meja seberang. Om Yosef kembali bercerita kalau di Warung Kopi Purnama ini suasananya sangat cair. Tak ada kubu-kubu tertentu di dalamnya. Mereka, para pelanggan reguler seperti Om Yosef, saling mengenal satu sama lain. Cairnya suasana ini tak hanya berlangsung di kalangan etnis Tionghoa saja. Menurut Om Yosef, siapapun yang datang sendirian ke Warung Kopi Purnama akan diajak untuk bergabung bersama mereka untuk sekedar ngobrol. Salah satu orang non-Tionghoa yang dulu sering bergabung dengan mereka adalah Ridwan Kamil.

***

Apa yang dilakukan Om Yosef adalah budaya yang disebut Kopi Tiam. Penamaan ini diambil dari kata ‘kopi’ dan ‘tiam’. ‘Tiam’ adalah bahasa Hokkien dari ‘kedai’, sehingga Kopi Tiam secara harfiah memiliki arti ‘kedai kopi’. Kopi Tiam sendiri merupakan budaya minum kopi saat sarapan yang dikenal di daerah Melayu seperti di Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Pada saat Kopi Tiam, biasanya akan ada makanan ringan seperti telur, roti, atau sarikaya yang disajikan bersama dengan kopi.

Budaya minum kopi sendiri bukanlah budaya asli orang Tionghoa di Tiongkok, kaena Tiongkok sendiri kental dengan budaya minum teh. Budaya minum teh di saat sarapan disebut dengan nama Yam Cha. Jadi jangan heran kalau sulit menemukan warung kopi tradisional kalau main ke Tiongkok.

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/02/18/kopi-tiam-di-warung-kopi-purnama/

Menggali Sejarah Perkembangan Kota dari Permakaman di Kota Bandung

Oleh: Ariyono Wahyu

Permakaman merupakan salah satu fasilitas/perlengkapan sebuah kota yang penting. Bila mereka yang hidup membutuhkan kompleks permukiman sebagai tempat tinggal untuk bernaung, maka mereka yang telah “berpulang ke keabadian” juga membutuhkan tempat untuk move on menuju kehidupan selanjutnya.

Ternyata, melalui permakaman, kita juga dapat menggali sejarah perkembangan sebuah kota. Berikut ini adalah cerita mengenai permakaman yang saya baca di buku-buku yang membahas kota  Bandung. Dalam buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” karya Haryoto Kunto, ada disebutkan istilah kerkhof yang artinya kuburan. Kerkhof adalah kata kuno dalam bahasa Belanda untuk permakaman. Kerkhof Belanda tertua di kota Bandung terdapat di ruas Jl. Banceuy sekarang, dulu lokasinya disebut Sentiong. Ternyata kata Sentiong yang berasal dari bahasa Cina juga bermakna kuburan. Cukup lama bekas Sentiong di Jl. Banceuy ini ditempati oleh sebuah Pasar Besi, tapi sekarang lokasi itu sudah tidak ada dan di atasnya didirikan bangunan pertokoan baru. Sampai paruh pertama abad ke 19, batas utara kota Bandung baru sampai di daerah  Jl.  Suniaraja sekarang ini, jadi tidak mengherankan bila di pinggiran kota ini dulu terdapat permakaman.

Kerkhof di Jl. Banceuy sering disebut bergantian dengan Sentiong karena di dalamnya tidak hanya terdapat permakaman orang Belanda, melainkan juga orang keturunan Cina. Salah satu warga kota terkemuka yang dimakamkan di Sentiong adalah Asisten Residen Carl Wilhelm August Nagel. Ia tewas dalam huru-hara Munada pada akhir tahun 1845. Akibat kerusuhan ini pasar kota (pasar lama di Ciguriang) terbakar dan akibatnya kota Bandung tidak memiliki pasar hingga dibangunnya Pasar Baru di awal abad ke 20.

Kerkhof Sentiong di Jl. Banceuy eksis hingga akhir abad 19. Saat itu suasana sekitar permakaman sungguh sunyi, apalagi bila hari sudah malam. Warga yang bermukim di daerah utara kota, sepulang dari menikmati hiburan atau keramaian malam di sekitar Alun-alun akan menghindari daerah Jl. Banceuy tempat kerkhof berada. Suasana yang sepi dan gelap membuat tidak nyaman, mereka akan memilih melewati jalan yang agak memutar melalui daerah Pecinan di belakang Pasar Baru yang selalu ramai hingga pagi hari.

Dalam perkembangan berikutnya, batas utara kota Bandung bergeser ke daerah Jl. Pajajaran sekarang. Permakaman Sentiong harus dipindahkan untuk menyesuaikan dengan perkembangan kota. Kuburan-kuburan warga etnis Cina dipindahkan ke daerah Babakan Ciamis. Lalu ruas jalan lama bekas Sentiong dinamai Oudekerkhofweg atau Jalan Kuburan Lama.

Tampaknya hingga tahun 1950-an permakaman Cina di daerah Babakan Ciamis masih ada, seperti yang ditulis oleh Us Tiarsa dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan”. Menurut Us, makam-makam Cina yang disebut dengan Bong terletak di lembah antara daerah Cicendo dengan Kebon Kawung. Di sana terdapat pintu air sungai Ci Kapundung yang sering dijadikan lokasi bermain dan berenang anak-anak dari daerah Cicendo dan Babakan Ciamis. Walaupun daerah Bong tersebut terkenal angker karena banyaknya anak-anak terbawa hanyut saat Sungai Ci Kapundung meluap, namun tetap saja menjadi tempat berenang favorit bagi anak-anak pada masa itu.

AstanaanyarSebuah makam keluarga di tengah kompleks permakaman Astanaanyar. Foto: mooibandoeng.

Sementara itu, kuburan-kuburan orang Eropa juga dipindahkan dari Sentiong ke kerkhof di Kebon Jahe, di lokasi yang sekarang ditempati oleh GOR Pajajaran. Periode ini berlangsung saat jabatan Asisten Residen Priangan dijabat oleh Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898 ia mendirikan wadah untuk menyalurkan partisipasi serta aspirasi warga kota yaitu Vereeniging tot nut van Bandung en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan sekitarnya. Upaya organisasi ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan fasilitas kota, di antaranya adalah pembukaan jalur-jalur jalan, perumahan, pembangunan sarana pendidikan, dan pembangunan Pasar Baru. Di Bidang sosial, organisasi ini mendirikan perkumpulan yang bertugas untuk mengurusi masalah kematian, organisasi ini pula yang memindahkan Kerkhof Sentiong. Untuk permasalahan yang berhubungan degan kematian, perkumpulan ini menyediakan kereta jenazah. Kereta jenazah ini adalah kereta kuda beroda empat yang ditarik oleh empat ekor kuda putih. Model kereta jenazah ini seperti ranjang kuno dengan kelambu berwarna hitam.

Pada awal abad ke-20 kota Bandung sempat dikenal dengan julukan yang menyeramkan yaitu Kinderkerkhof (kuburan anak-anak), ini terutama akibat wabah kolera pada tahun 1910. Tingkat kematian anak terhitung tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Suasana kota Bandung sebelum tahun 1917 pun tak kalah menyeramkan, kuburan atau makam dapat dengan mudah ditemukan di pekarangan, di samping, di belakang rumah atau di kebun-kebun warga. Praktis tak ada aturan mengenai makam-makam ini. Keadaan ini ditertibkan pada tahun 1917 dengan dikeluarkannya Bouwverrordening van Bandung (Undang-Undang Pembangunan Kota Bandung). Sejak dikeluarkannya aturan ini pemakaman jenazah harus dilakukan di tempat yang telah ditentukan, yaitu di komplek permakaman, seperti untuk warga muslim yang ditempatkan di permakaman Astana Anyar (Kuburan Baru).

101_0062Sebuah makam di tengah gang umum di kawasan Cihampelas. Foto: Hani Septia Rahmi.

Sebenarnya urusan permakaman telah menjadi tugas dan kewajiban pemerintah kota setelah Bandung memperoleh status Gemeente (Kotapraja) yang berarti menjadi daerah otonomi, kota yang dapat mengurus, mengatur, dan mengelola beberapa macam wewenang sebagaimana rumah tangga sendiri. Pengesahan tersebut terjadi pada tanggal 1 April 1906, melalui perundang-undangan tanggal 21 Februari 1906 dan 1 Maret 1906. Pengesahan dilakukan oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutz. Saat itu Residen Priangan dijabat oleh G.A.F.J. Oosthout, Asisten Residen oleh E.A. Maurenbrechter, dan bupati dijabat oleh R.A.A. Martanagara. Semuanya berkedudukan di Bandung.

Dalam perundang-undangan itu diatur mengenai tugas dan kewajiban Gemeente, di antaranya adalah: pembuatan dan pemeliharaan perkuburan umum Islam maupun Kristen di dalam wilayah Gemeente Bandung. Juga menyelenggarakan kuburan Cina di luar kota (Gemeente). Setelah status kota Bandung diubah menjadi Stadsgemeente dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 27 Agustus 1926 No.3 (Staatsblad 1926 No. 369), kota Bandung tidak lagi dikepalai oleh Asisten Residen, ini terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1926. Sejak saat itu yang menjadi pemimpin dalam mengurus kota adalah seorang walikota/Burgemeester.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya walikota membaginya kepada 3 orang Pembantu Walikota/Wethouders, yang terdiri dari seorang berkebangsaan Belanda, Bumiputra dan Cina. Salah satu tugas Wethouder adalah mengurus kuburan bagi bangsa mereka, maksudnya untuk Wethouder berkebangasaan Belanda kebagian tugas mengurus kuburan Kristen/Eropa (Europeesche begraafplaatsen), bagi Wethouder Bumiputera mengurus kuburan Islam (Mohammedaansche begraafplaatsen), demikian pula dengan pembantu walikota beretnis Cina memiliki tugas mengurus kuburan Cina (Chineesche begraafplaatsen).

IMG-20140312-WA0017Makam keluarga Ursone di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Kerkhof Kebon Jahe didirikan dalam masa yang sama degan Pabrik Kina yang terletak di sebelah timurnya. Kira-kira tahun 1896. Ada banyak tokoh kota dimakamkan di sini, salah satunya adalah  Dr. C.H. Westhoff (pendiri Rumah Buta yang lokasinya berada di seberang kerkhof), familie Ursone dengan mausoleumnya yang bergaya barok berlapis batu marmer Carrara. Tak mengherankan, salah satu anggota keluarga pemilik peternakan sapi Ajax di Lembang ini juga memiliki perusahaan Carrara Marmerhandel en–bewerking. Pengelola perusahaan yang terletak di Bantjeuj itu adalah  A. Ursone.

Setidaknya ada 16 orang lainnya yang memiliki hubungan dengan perkembangan kota Bandung dimakamkan di Kerkhof Kebon Jahe. Siapa saja ya?

Cerita mengenai kerkhof Kebon Jahe, juga ditulis dalam buku “Basa Bandung Halimunan” karya Us Tiarsa. Buku ini berkisah mengenai pengalamannya hidup di Bandung pada tahun 1950-60an. Dalam buku yang berbahasa Sunda ini Pak Us bercerita tentang pembagian kelas-kelas makam. Kelas 1 makamnya besar-besar dan terletak paling utara, dekat dengan ke jalan raya (Jl. Pajajaran). Makam-makam dihiasi porselen serba mengilap. Makam lain dilapisi marmer yang tebal berbagai warna, ada yang putih, kehijauan, atau kekuningan. Makam-makam di kelas 1 dilengkapi hisan berupa patung malaikat, bidadari, atau patung Yesus. Ukurannya beragam, mulai dari sebesar orang dewasa hingga ke ukuran terkecil seukuran tangan anak kecil. Pot dan vas kembangnya bagus terbuat  dari bahan porselen, gelas, marmer, atau kuningan. Tak ada yang berbahan gerabah.

Makam kelas 2 terletak agak ke sebelah selatan, kebanyakan hanya menggunakan batu granit dan tanpa penutup. Kadang ada yang ditutupi memakai beton namun tak sekokoh penutup beton yang menaungi makam-makam di kelas 1. Sedangkan makam kelas 3 terletak paling selatan. Makam-makam di area ini kebanyakan bahkan tanpa nisan.

Di tahun 1950an-60an Pak Us Tiarsa tinggal di Kebon Kawung, tak jauh dari kerkhof tersebut. Katanya, setelah masa kemerdekaan pun kerkhof Kebon Jahe adalah permakaman yang tetap terpelihara dan bersih, rumputnya tertata rapi dan dipotong secara teratur. Di dalam area permakaman terdapat jalan berbatu, malah ada juga yang menggunakan marmer. Tanamannya mulai dari kacapiring, cempaka gondok dan cempaka cina, serta pohon kamboja. Tak heran bila warga yang bermukim di derah Kebon Kawung, Nangkasuni, Torpedo, Merdeka Lio, Cicendo, atau Rumah Buta, kerkhof Kebon Jahe menjadi tempat bermain dan bersantai. Tak hanya anak-anak kecil, bahkan hingga orang dewasa meluangkan waktu senggangnya dengan bercengkrama di dalam area permakaman ini.

Salah satu kegiatan anak-anak adalah mengumpulkan potongan marmer dari makam. Potongan marmer yang besarnya seukuran jempol kaki dibuat kelereng dengan membentuknya menggunakan golok yang tumpul. Walaupun pada akhirnya kelereng tersebut tidak sepenuhnya bundar, namun sudah cukup bagi anak-anak untuk menggunakannya dalam permainan poces. Kegiatan lainnya yang dilakukan anak-anak kecil dalam area permakaman ini adalah mengumpulkan bubuk marmer yang kemudian dihaluskan menggunakan palu. Bubuk ini digunakan untuk mengilapkan kerajinan tangan dari buah kenari atau tempurung buah kelapa.

Aturan di permakaman ini sebenarnya melarang warga umum masuk ke dalam area kerkhof. Sekeliling area kerkhof dipagari dengan kawat berduri dan pagar hidup dari tanaman seperti kembang sepatu, pringgandani, kacapiring, dan enteh-entehan. Kerkhof Kebon Jahe dijaga oleh banyak penjaga dan dikepalai oleh seorang mandor yang terkenal galak, namanya Mandor Atma. Ia tinggal dekat gapura pintu masuk permakaman di sisi sebelah utara kerkhof (Jl. Pajajaran).

Kerkhof Kebon Jahe akhirnya digusur pada akhir tahun 1973. Sayang pembongkarannya tidak sistemastis, asal bongkar dan kadang dengan membuldoser makam-makam yang ada, akibatnya banyak artefak bersejarah yang hilang. Padahal sebetulnya banyak yang bisa dipelajari dari peninggalan-peninggalan di permakaman. Sebagai contohnya adalah bukti otentik kedatangan orang Belanda di daerah sekitar Bandung pada pertengahan tahun 1700-an dapat dilihat dari batu nisan Anna Maria de Groote, putri Sersan de Groote. Anna meninggal saat masih berusia 1 tahun, yaitu pada tangal 28 Desember 1756. Nisan makamnya pernah ditemukan di Dayeuh Kolot. Tapi sayangnya, makam ini pun entah bagaimana nasibnya sekarang.

Tahun 1932, kota Bandung memiliki kompleks permakaman baru bagi orang Eropa (Nieuwe Europeesche Begraafplaats) yaitu kompleks permakaman yang kini lebih kita kenal dengan sebutan Permakaman Pandu. Bila kita cermati, permakaman Pandu masih menyimpan banyak cerita, di antaranya makam laci. Makam ini berbentuk layaknya laci-laci dikamar jenazah/koroner. Lalu ada makam penerbang yang meninggal karena pesawatnya jatuh, ini juga menandakan masih begitu berbahayanya transportasi udara kala itu.

IMG-20140312-WA0014Makam penerbang di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Copy of SAM_5620BMakam Raymond Kennedy di Pandu. Foto: A13Xtriple.

Banyak makam tokoh yang memilliki hubungan dengan sejarah perkembangan kota Bandung seperti Ir. C.P. Wolf Schoemaker, mausoleum keluarga Ursone yang merupakan pindahan dari kherkhof Kebon Jahe, atau makam Profesor Raymond Kennedy, sorang guru besar dari Universitas Yale yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Raymond Kennedy dibunuh oleh kelompok tak dikenal di daerah Tomo, Sumedang, dalam perjalanan penelitiannya ke Jawa Tengah bersama Robert Doyle, sorang koresponden bagi  majalah Times dan Life. Pembunuhan kedua warga negara Amerika ini menarik perhatian hingga ke pucuk pimpinan Indonesia, salah satunya adalah Bung Hatta yang berjanji akan menemukan kedua pembunuh warga negara Amerika ini. Di kompleks permakaman Pandu terdapat pula kompleks permakaman terpisah khusus bagi tentara KNIL, Ereveld Pandu. Wilayah permakaman ini merupakan wilayah dari Negeri Belanda.

Copy of SAM_5357BMakam Elisabeth Adriana Hinse Rieman di Ciguriang. Foto: A13Xtriple.

Pembongkaran Oude Europeesche Begraafplaats atau Kerkhof Kebon Jahe pada tahun 1970an berlangsung tidak sistematis, banyak kuburan didalam kompleks permakaman Kerkhof Kebon Jahe yang asal saja dibongkar. Sebagian memang dipindahkan ke Permakaman Pandu, tapi sebagian lain rusak begitu saja. Mungkin bukti tidak tertibnya proses pembokaran makam ini dapat kita lihat pada sebuah nisan batu granit atas nama Elisabeth Adriana Hinse Rieman. Nisan berusia 110 tahun ini dipakai penduduk sekitar mata air Ciguriang sebagai batu alas mencuci pakaian.

Copy of SAM_5321BMulut jalan H. Mesrie. Foto: A13Xtriple.

Tak jauh dari mata air Ciguriang terdapat pula makam keluarga saudagar Pasar Baru dan tuan tanah di daerah Kebon Kawung, keluarga H. Moh. Mesrie. Nama Mesrie diabadikan menjadi nama jalan menggantikan Rozenlaan. Kekayaan yang didapat dari usahanya dibelikan tanah-tanah persil di daerah Kebon Kawung. Makam-makam keluarga saudagar Pasar Baru lainnya tersebar di daerah Cipaganti, Sukajadi, Jl. Siti Munigar, Jl. Karanganyar, dan Jl. Kresna.

Kota Bandung tidak memiliki Taman Prasasti seperti yang terdapat di Jakarta, di bekas permakaman lama yang juga bernama Kebon Jahe. Kedua tempat dengan nama sama ini ternyata memiliki nasib yang berbeda. Setelah tidak berfungsi lagi, kerkhof Kebon Jahe Jakarta naik derajatnya menjadi museum bagi nisan-nisan dari masa lalu kota Jakarta. Dari tempat yang sebelumnya ditakuti menjadi tempat bergengsi untuk berfoto, sedangkan nisan-nisan makam di kherkhof Kebon Jahe Bandung hilang ditelan bumi.

Sumber :
Haryoto Kunto “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (1984) Pernerbit PT Granesia Bandung
Haryoto Kunto “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (1986) Pernerbit PT Granesia Bandung
Us Tiarsa R “Basa Bandung Halimunan” (2011), Penerbit Kiblat
Sudarsono Katam “Bandung; Kilas Peristiwa di Mata Filatelis”(2006),  Penerbit Kiblat