Ida Jacoba Andina Douwes Dekker

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Makam Ida Jacoba Andina Douwes Dekker di Pandu (Foto: Media-KITLV)

Jika kita mencari foto Permakaman Pandu di KITLV dengan kata kunci “Pandu”, niscaya kita akan menemukan belasan foto. Di antara belasan foto itu, ada satu foto nisan yang menarik perhatian lantaran tahun kematiannya yakni 1944 yang berarti si pemilik nisan meninggal di era pendudukan Jepang. Pemilik nisan yang itu adalah istri G.M.G Douwes Dekker, adik E.F.E Douwes Dekker atau yang kita kenal dengan nama Setiabudhi.

Siapakah dia? Baca lebih lanjut

Tak Butuh Tanda Jasa

Oleh: Indra Pratama (@omindrapratama)

Alexander Jacob Patty. Jurnalis pendiri Sarekat Ambon (1909). Salah satu tokoh nasionalis Indonesia pertama dari Maluku, saat Mollucans saat itu sangat identik dengan sikap pro-Belanda. Dibuang ke Boven Digoel, menyeberang ke Australia, menjaga kemerdekaan saat Masa Revolusi di Medan, dan kemudian menutup usia di Bandung.

Nama dan kisah ini kembali berkelindan di kepala saat saya membaca artikel berita (di kanal berita online tentunya), bahwa makam Patty akan dipindahkan dari Permakaman Pandu di Bandung, ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kapahaha Kecamatan Sirimau Kota Ambon, Maluku, pada tanggal 22 Maret 2017. Patty nantinya akan diusulkan menjadi pahlawan nasional oleh Pemerintah Provinsi Maluku. Kini Patty akan menghuni taman makam pahlawan, dengan nisan yang akan lebih bagus, pemeliharaan yang rutin, dan lagi, Patty akan diusulkan menjadi pahlawan nasional. Hal yang sama mungkin juga akan segera terjadi kepada Bapak Bangsa Indonesia, Tan Malaka, yang “makamnya” akan segera dipindah dari pedalaman Selopanggung ke Lima Puluh Kota.

64 tahun sudah Patty menghuni Pandu. Makamnya di Pandu sangat sulit diidentifikasi karena tidak diberi nama. Baca lebih lanjut

Franz Willem Junghuhn

Oleh: Tegar Sukma Aji Bestari (@teg_art)

junghuhn-portrait

Bagi orang yang tinggal di wilayah Bandung Raya, sebagian pernah mendengar nama Junghuhn setidaknya sebagai nama suatu wilayah rekreasi di wilayah Lembang. Di dalam wilayah yang dikenal dengan nama Taman Junghuhn ini terdapat prasasti yang menandakan pertamakali nya penanaman kina di wilayah Lembang.

Junghuhn yang lahir pada 26 Oktober 1809 di Mansfeld, Jerman ini dikenal sebagai pelopor penanaman kina di Indonesia, bukan itu saja bahkan Junghuhn adalah orang yang pertama kali menggambarkan topografi pulau Jawa yang sangat detail beserta varitas tumbuhannya dan meneliti secara rinci peradaban di wilayah Batak Selatan yang akhirnya membuka wawasan orang Belanda untuk bisa masuk ke wilayah Sumatra Utara.

Setibanya Junghuhn di Batavia pada tanggal 13 Oktober 1835, ia bekerja sebagai dokter di rumah sakit tentara di Weltervreden. Walaupun bekerja sebagai dokter, Junghuhn sangat tertarik kepada tanaman terutama pada jamur. Ketertarikannya pada tamanan membuat geologis bernama Dr. E. A. Fritze mengankatnya menjadi seorang botanis. Ketika menjadi botanis ini lah Junghuhn mulai berkeliling ke banyak gunung khususnya di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Baca lebih lanjut

H.O.S Tjokroaminoto dan Pengaruhnya di Priangan

Oleh: Bagus Reza Erlangga (@bagusreza)

Haji Oemar Said Tjokroaminoto adalah sang Raja Tanpa Mahkota. Ia dilahirkan di Madiun pada 16 Agustus 1882 dengan gelar kebangsawanan Raden Mas, namun gelar ini ia tanggalkan dan menggantinya dengan Haji Oemar Said. Hal ini ia lakukan karena merasa gelar kebangsawanannya melekat erat dengan cap pro-kolonial. Ia memang sosok yang anti-kolonial, bahkan ia mengundurkan diri sebagai pegawai juru tulis di Madiun yang dirasa pro-kolonial untuk kemudian melarikan diri ke Semarang menjadi buruh angkut pelabuhan.  Di sini ia merasakan betul seperti apa penderitaan kaum pribumi kelas bawah.

Sepak terjang dan nama besarnya tidak bisa dilepaskan dari organisasi Sarekat Islam (SI). Sarekat Islam didirikan oleh H. Samanhoedi pada 11 November 1911 dengan tujuan menjadi benteng pelindung para saudagar batik dari tekanan Pedagang Cina dan Kalangan Ningrat Solo. Di bawah kepemimpinan H. Samanhoedi, Sarekat Islam berjalan lepas. Meski memiliki tujuan yang tinggi, kepemimpin Samanhoedi tidak dapat menjangkau anggotanya secara luas. SI tidak bisa memperluas kegiatannya yang terbatas hanya pada persaingan bisnis dengan Pedagang Cina dan Ningrat Solo saja.

Merasa organisasinya tidak berkembang, H. Samanhoedi dan R.M. Tirto Adhi Soerjo sebagai penyusun anggaran dasar pertama, mengajak Tjokro bergabung pada Mei 1912. Pada masa itu Tjokro telah dikenal dengan sikapnya yang radikal dalam menentang perilaku feodal. Baca lebih lanjut

Pertemuan Senja Itu, Bersama Pak Wen

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

“Panggil aja Wen, Pak Wen. Hehe.” jelasnya sembari tertawa kecil saat kutanya namanya. Bapak penjual rujak tumbuk ini mulai memotong buah-buahan yang dia ambil dari kotak.

Di depan Kedai Preanger, Jl. Solontongan 20-D, inilah aku bertemu dengan seseorang yang kutetapkan layak menjadi sosok mulia KNB. Terima kasih pada Pak Ridwan yang memanggil Pak Wen ini dari dalam kedai, aku berkesempatan untuk berbincang mengenai perjalanan hidupnya, walau hanya sebentar.

“Kalau di sini mah cuma Bapak Ridwan aja yang beli rujak bapak, Neng. Yang lain mah ga ada yang mau…” ujar Pak Wen tiba-tiba saat aku sedang asyik melihatnya menumbuk buah. Aku tersenyum sedih mendengarnya.

Sudah 19 tahun lamanya beliau berjualan rujak tumbuk. Sendirian di Kota Bandung tanpa keluarga, Pak Wen hanya dapat pulang 2 bulan sekali ke kota asalnya Garut ketika ada rejeki. “Itupun palingan 2 hari, neng. Da di sana mah bapak gabisa kerja begini… Malu sama tetangga. Malu sama cucu bapak.” Baca lebih lanjut

Revisi dalam Buku “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” Edisi Pertama

Oleh: Tegar Sukma A. Bestari (@teg_art)

DSCF4736.JPG

Buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA edisi revisi adalah buku biografi pertama yang saya miliki. Buku yang memang memperkenalkan saya pada sosok Soekarno, tentu saja dari sisi Cindy Adams yang mewawancarai Soekarno dalam pembuatannya. Saya sulit menilai apakah buku biografi ini seimbang dalam penyampaian informasinya, karena mengenal Soekarno tentu tidak bisa hanya dari buku ini saja melainkan harus membaca buku lainnya seperti buku dengan judul “Kuantar ke Gerbang”, buku-buku yang ditulis oleh Soe Hok Gie dan buku-buku lain.

Buku biografi Soekarno ini diterbitkan pertama kali dalam Bahasa Inggris dengan judul “SUKARNO: AN AUTOBIOGRAPHY” pada tahun 1965, lalu pertama kali diterjemahkan oleh Major Abdul Bar Salim dan diterbitkan pada tahun 1966 dengan judul “BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA”.

DSCF4733.JPG

Yang menjadi perhatian utama saya terhadap buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA ini adalah terdapat tulisan EDISI REVISI *2007* pada cover bukunya, maka jelas ada perbaikan terhadap buku ini. Pemikiran awal saya permasalahan revisi ini hanya terdapat pada ejaan yang disesuaikan saja, dan itu bukan permasalahan mendasar tentu saja.

Setelah saya mulai membaca, halaman awal pada buku ini terdapat kata sambutan dari Ketua Umum Yayasan Bung Karno yaitu Guruh Sukarno Putra. Dalam sambutan inilah terkuak permasalahan sangat penting yang tertulis dalam buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA edisi pertama tahun 1966. Salain adanya kesalahan dalam penerjemahan juga ada alinea tambahan yang tidak ada dalam versi berbahasa inggris, dan yang fatal adalah alinea tambahan ini menggambarkan Soekarno yang mendiskriditkan peran Hatta dan Sjahrir. Konon permasalahan 2 alinea tambahan ini  sempat memanaskan kedua keluarga proklamator. Baca lebih lanjut

“Ojo kapok, le”

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Sejak tahun 1949 jasadnya telah terkubur. 26 Juli kemarin dia baru ulang tahun. Dalam catatan yang paling moderat, selama hidupnya, setidaknya ada delapan orang perempuan yang menjadi bribikan Chairil Anwar. Mereka, perempuan-perempuan yang di-birahi-kan oleh penyair bohemian itu, menurut Majalah Historia—saya sertakan juga penggalan puisi yang dibuat untuk masing-masing perempuan (kecuali Hapsah), adalah sebagai berikut:

  1. Ida Nasution: “Bagaimana? / Kalau Ida mau turut mengabur / Tidak samudra caya tempatmu menghambar” (Ajakan)
  1. Sri Ayati: “Kepada Sri / Sepi di luar / Sepi menekan mendesak / Lurus Kaku Pohonan / Tak bergerak / Sampai ke puncak / Sepi memagut / Tak satu kuasa melepas renggut” (Hampa)
  1. Dian Tamaela: “Dalam sunyi malam ganggang menari / Menurut beta punya tifa / Pohon pala / Badan perawan jadi / Hidup sampai pagi tiba” (Cerita Buat Dien Tamaela)
  1. 4.Gadis Rasid: “Kita terapit / Cintaku / Mengecil Diri / Kadang bisa mengisar setapak / Mari kita lepas / Kita lepas jiwa mencari jadi merpati” (Buat Gadis Rasid)
  1. Tuti Artic: “Kau pintar benar bercium / Ada goresan tinggal terasa / Ketika kita bersepeda kuantar kau pulang / Panas darahmu / Sungguh lekas kau jadi dara / Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang” (Tuti Artic)
  1. Karinah Moordjono: “Ah! Tercebar rasanya diri / Membubung tinggi atas kini / Sejenak saja / Halus rapuh ini jalinan kenang / Hancur hilang belum dipegang” (Kenangan)
  1. Sumirat: “Buat Miratku! Ratuku! / Kubentuk dunia sendiri / Dan kuberi jiwa segala / Yang dikira orang mati di alam ini! / Kucuplah aku terus / Kucuplah / Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam hidupku.” (Sajak Putih)
  1. Hapsah Wiriaredja: “Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi menteri pendidikan dan kebudayaan.” (Bukan penggalan puisi, tapi perkataan Chairil kepada istrinya. Dan Gajah adalah panggilan sayangnya kepada Hapsah karena badannya gemuk)

Chairil ini kiranya—jika mengacu pada buku besar peminum kopinya Ikal di buku “Cinta di Dalam Gelas”, adalah seorang player: minum kopi pahit, makin pahit kopinya makin berliku petualangannya. Baca lebih lanjut