Senja di Pantai Laut Selatan Pulau Jawa Bagian 2

Baca: Senja di Pantai Laut Selatan Pulau Jawa Bagian 1

Starr_080606-7010_Eretmochelys_imbricata

Karena malam semakin gelap, seperempat panjang pantai hampir tak kelihatan. Tetapi sejauh kami masih bisa kenali benda, tampak empat badan gelap, gemuk merayap di atas pantai. Bunyi gemercakpun tak sampai ke telinga kecuali deruan sayup-sayup redam empasan laut. Tiba-tiba terdengar cipatran air di bawah tempat kami: sebuah Baca lebih lanjut

Iklan

Senja di Pantai Laut Selatan Pulau Jawa Bagian 1

 

Kata pengantar

Dalam abad ke-19, Junghuhn menjalajahi Pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Sesuai kebiasaan ilmuwan, ia mencatat secara detail jenis tumbuhan, gunung, tanah, batu-batuan yang ia jumpai selama penjelajahannya. Bahkan, dengan liris ia menjelaskan perawakan sebuah pohon atau keadaan hutan. Kata “schoon” yang pada dasarnya Baca lebih lanjut

Mengenal Lebih Jauh Sang Tohaan Kobul

SAVE_20180622_143006

Situs makom keramat Santoan Kobul|Foto Ariyono Wahyu Widjajadi

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Di sisi jalan raya Cipatik-Soreang terdapat sebuah papan penunjuk informasi mengenai sebuah situs makom keramat Santoan Kobul. Tepatnya situs ini terletak di Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Lalu siapakah Santoan Kobul?  Baca lebih lanjut

“Spirit” Max I. Salhuteru dari Sinumbra-Sperata

“Spirit” Max Salhuteru dari Sinumbra-Sperata

Max I. Salhuteru | Photo Komunitas Aleut

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@alexxxari)

Seperti sudah jadi sebuah kewajiban atau fardhu setiap rombongan khafilah musyafir Komunitas Aleut berkelana ke Sperata-Sinumbra, Ciwidey, selalu singgah ke kue balok Bah Ason. Nama lengkapnya Sonbahsuni, letaknya jongkonya di pinggir pasar dekat perempatan Pabrik Sinumbra dengan jalan ke arah Perkebunan Nagara Kana’an. Jadi bukanlah fardhu ain atau fardhu kifayah tapi fadhu Bahsuni lebih tepatnya.

Di sebrang jongko kue balok Bah Ason terdapat sebuah mesjid yang pada dindingnya terpasang dua prasasti. Prasasti yang paling besar merupakan prasasti pendirian mesjid. Di sana tertulis beberapa nama yang telah berjasa dalam pendirian Mesjid. Namun yang paling menarik adalah terdapat satu nama yang rasanya bukan nama orang sunda, yakni Max I. Salhuteru. Baca lebih lanjut

Arief Budiman : Setia Melawan “Bebas Nilai”

Arief Budiman

Arief Budiman. Photo Credit by Youtube

Oleh : Indra Pratama 

Ilmu sosial di Indonesia bersifat ahistoris, karena ia mengabaikan konteks kesejarahan di mana masyarakat Indonesia hidup. Para ilmuwan sosial kita cenderung mengimpor begitu saja teori-teori sosial yang mereka dapat dari Barat tanpa mempertanyakan keabsahannya ketika diterapkan dalam konteks lokal. Padahal, “ilmu-ilmu sosial tidak bebas nilai” dan “ilmu sosial itu sebelumnya merupakan satu ideologi imperialisme ekonomi.

Pernyataan tersebut sampai sekarang masih terdengar kurang nyaman bagi para akademisi ilmu sosial. Bukankah jauh lebih mudah membaca kebijakan Jokowi melalui kacamata Simon Kuznet, atau mengimajinasikan negara persis seperti apa yang dipaparkan Taqiyuddin Al-Nabhani?. Mengapa harus mempersulit diri dengan menambahkan pengetahuan struktur sejarah, politik, budaya, dan ekonomi lokal Indonesia yang minim sumber dan data yang rawan terdistorsi? Baca lebih lanjut

Mengenal Willem Gerard Jongkindt Conninck

Nisan W.G. Jongkindt Coninck.jpg

NIsan W.G. Jongkindt Coninck/foto oleh Asep Suryana

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada bulan Juni 1934, sebuah perayaan spesial untuk Tuan W.G. Jongkindt Coninck diselenggarakan di Kertamanah. Banyak telegram, karangan bunga, serta bingkisan diterima oleh panitia perayaan di Kertamanah. Saking spesialnya perayaan ini, banyak artikel koran Belanda yang merekam peristiwa ini. Tapi siapa sih Tuan Jongkindt ini?

Untuk mengenalnya, mari kita mundur sekitar 50 tahun dari perayaan itu yakni tahun 1884. Baca lebih lanjut

Mencari Selatan, Timur, Ujung dan Tengah Bersama PHH Mustapa

Mencari Selatan, Timur, Ujung dan Tengah Bersama PHH Mustapa

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@Irfanteguh)

Warga Kota Bandung pasti tidak asing dengan Jalan PHH Mustapa, ruas jalan yang menyambungkan Jalan Surapati dengan Terminal Cicaheum, atau biasa disebut Suci (Surapati-Cicaheum).

Penghulu Haji Hasan Mustapa lahir pada 3 Juni 1852 di Cikajang, Garut. Ayahnya bernama Mas Sastramanggala, seorang Camat kontrakan teh Cikajang. Ibunya bernama Nyi Mas Salpah (Emeh), masih keturunan Dalem Sunan Pagerjaya dari Suci, Garut. Sebagian kecil masyarakat berspekulasi, bahwa penamaan Suci di ruas Jalan PHH Mustapa dikaitkan dengan daerah Suci asal Dalem Sunan Pagerjaya.

Hasan Mustapa adalah Hoofd Penghulu (Kepala Penghulu) Bandung yang paling terkenal. Beliau dikenal sebagai ulama mahiwal (nyeleneh) karena beberapa sikapnya dianggap tidak lazim oleh masyarakat umum. Ajip Rosidi dalam buku Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana menulis contoh sikap Hasan Mustapa yang nyeleneh tersebut. Baca lebih lanjut