Ringkasan Biografi Abdoel Moeis

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Farly Mochamad

Sungai Puar

Terdapat sebuah kampung yang permai di daerah Agam, Sumatera Barat. Namanya Sungai Puar. Gunung Merapi di timur, Gunung Singgalang di barat, lalu Danau Maninjau di barat Gunung Singgalang, serta Danau Singkarak di selatan. Indah nian.

Warga Sungai Puar terkenal dengan kerajinan rumahan besi dan baja dengan mutu yang baik. Sungai Puar sering disamakan dengan Sollingen di Jerman Barat, sebuah kota yang banyak menghasilkan besi dan baja, karena itu ada istilah Sungai Puar sebagai Sollingen van Sumatra.

Di kampung ini, pada tanggal 3 Juli 1883, lahir seorang bayi laki-laki dalam keluarga terpandang, ia adalah Abdoel Moeis. Ayahnya seorang Larak Sungai Puar, semacam camat, yang mempunyai perusahaan korek api, namanya Haji Abdul Gani. Ibunya berasal dari Kota Gadang, negeri yang terbilang maju di Sumatra Barat. Ibunya masih berhubungan darah dengan Haji Agus Salim, orang  terpelajar yang berasal dari negeri itu. Sejak kecil Abdoel Moeis terbiasa mendengar hiruk-pikuk besi yang ditempa, sama seringnya dengan mendengar orang-orang berdebat dan bersilat lidah. Orang-orang Minagkabau terkenal pandai berbicara.

Batavia

Abdoel Moeis menjalani pendidikan di STOVIA (sekolah Dokter) di Batavia. Di sekolah ini Abdoel Moeis sibuk mengejar cita-citanya, tapi ia juga tak melupakan pergaulannya. Ia berteman dengan pemuda yang berasal dari berbagai daerah dan sering bertukar informasi tentang keadaan daerahnya.

Baca lebih lanjut

Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Ariyono Wahyu

Hasan Mustapa Dunia dan Karyanya

Sastrawan Ajip Rosidi menuliskan petikan “Kinanti Ngandika Gusti” karya Haji Hasan Mustapa dalam buku memoarnya setebal lebih dari 1300 halaman yang berjudul “Hidup Tanpa Ijazah”. Hasan Mustapa tentu memiliki arti yang istimewa bagi Ajip Rosidi sehingga ia memilih petikan karya Kepala Penghulu Bandung tadi sebagai kalimat paling awal dalam buku terpentingnya.

Pengalaman perkenalan, pencarian, dan pemaknaan Ajip Rosidi kepada sosok Hasan Mustapa kemudian dituangkannya dalam satu buku khusus yang ditulisnya dalam bahasa Sunda berjudul “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana”. Memang dalam buku memoarnya tadi bisa juga ditemukan kisah-kisah Ajip Rosidi tentang Hasan Mustapa seiring perjalanan hidupnya. Namun bagi yang ingin membaca sekaligus berkenalan secara khusyuk dengan sosok Hasan Mustapa tanpa terganggu cerita hidup Ajip Rosidi buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana” adalah pilihan yang sangat tepat.

Kenapa buku ini adalah pilihan yang tepat untuk mengenal sosok Haji Hasan Mustapa? Karena Ajip Rosidi menuliskan buku ini sebagai usahanya memperkenalkan sosok yang dikaguminya melalui karya-karyanya. Sebagai sastrawan, Ajip Rosidi tentu paham bahwa bagi banyak orang yang paling dikenal dari sosok Haji Hasan Mustapa adalah anekdot-anekdotnya dan kisah-kisah eksentriknya. Tapi hanya sedikit saja orang yang menaruh minat dan perhatian kepada karya-karya “Sang Begawan Sirna Dirasa”. Padahal sebagai sosok bujangga sastra Sunda terbesar menurut Ajip Rosidi, Hasan Mustapa paling tidak telah menulis lebih dari sepuluh ribu pada dalam bentuk danding (pupuh tradisional) yang terikat aturan baku yang ketat. Berangkat dari hal itulah kemudian Ajip Rosidi menulis buku ini.

Upaya Menemukan Karya Haji Hasan Mustapa

Sejak awal perkenalan Ajip Rosidi dengan sosok Hasan Mustapa adalah melalui karyanya. Karena pada tahun 1950-an saat Ajip Rosidi mulai aktif mencari dan mengumpulkan karya-karya Hasan Mustapa, Hoofd Panghulu atau Kepala Penghulu Bandung yang menjabat dari tahun 1895-1918 ini telah mangkat kurang lebih dua puluh tahun sebelumnya.

Karena itulah buku ini dibuka dengan kisah awal perjumpaan Ajip Rosidi dengan M. Wangsaatmadja yang bertugas sebagai juru tulis Haji Hasan Mustapa setelah pensiun sebagai Kepala Penghulu Bandung hingga tutup usia, tepatnya dari tahun 1920-1930. Perkenalan pertama dengan Wangsaatmadja pada tahun 1958 inilah yang kemudian seiring waktu mengantarkan Ajip Rosidi berkenalan pula dengan awak (anggota) Galih Pakuan, yaitu kumpulan pengagum Haji Hasan Mustapa.

Melalui Wangsaatmadja dan para awak Galih Pakuan, Ajip Rosidi sedikit demi sedikit mengumpulkan karya-karya Hasan Mustapa. Tentu sebagai seorang yang paham tentang sastra, Ajip Rosidi tak cuma mengumpulkan saja tapi juga melakukan telaah kritis dan validasi atas karya yang diperolehnya. Karena menurut Ajip Rosidi karya Haji Hasan Mustapa banyak yang diragukan keasliannya, salah satu faktor penyebabnya adalah proses terjadinya kesalahan dalam penyalinan karya yang aslinya ditulis dalam aksara Arab yang dilakukan oleh juru tulis Haji Hasan Mustapa yaitu Wangsaatmadja.

Meskipun karya-karya Hasan Mustapa yang disalin dan kemudian dipelihara oleh Wangsaatmadja terdapat cacat dalam proses penyalinan, namun karya-karya tersebut tetap sangat penting. Salah satunya adalah untuk mengetahui riwayat hidup Hasan Mustapa. Ditambah dengan riwayat  Hasan Mustapa yang ditulis oleh Wangsaatmadja, Ajip Rosidi kemudian mampu memberikan versi riwayat hidup Sang Begawan Sirna Dirasa dengan lebih orisinal. Riwayat hidup Hasan Mustapa menjadi penting untuk ditelaah menurut Ajip Rosidi adalah salah satunya untuk menentukan berapa lama Haji Hasan Mustapa mukim di Mekah dan kapan kemudian ia berjumpa dengan sosok penting lainnya yaitu Christian Snouck Hurgronje di kota paling suci bagi kaum Muslim ini.

Usaha Ajip Rosidi untuk menemukan karya Hasan Mustapa tak hanya dilakukannya di dalam negeri. Ketika ia menetap di Jepang sebagai dosen pada tahun 1980-an, Toyota Fondation kemudian memberikan bantuan biaya untuk melakukan penelusuran ke Belanda. Dalam koleksi naskah milik Snouck Hurgronje di Universitas Leiden, Ajip Rosidi menemukan beberapa dokumen karya Haji Hasan Mustapa.

Anekdot-Anekdot Hasan Mustapa

Dari kisah-kisah tentang Haji Hasan Mustapa yang hidup di kalangan awak Galih Pakuan, Ajip Rosidi kemudian mengumpulkan anekdot-anekdotnya dan dituliskan sebagai bagian khusus dalam buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana”. Anekdot-anekdot ini penting sebagai upaya untuk menilai kepribadian Hasan Mustapa. Contohnya adalah bagaimana Haji Hasan Mustapa menjawab pertanyaan tentang bagaimana wujud Allah dengan membuat perumpaan bahwa Allah adalah sosok di atas Kanjeng Bupati dan Tuan Gubernur Jenderal. Dari jawaban yang bagi banyak orang dianggap mahiwal inilah Haji Hasan Mustapa dicap berpaham Wahdatul Wujud.

Dengan mempelajari cara Hasan Mustapa memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan, dapat disimpulkan bahwa ia berusaha memahami alam dan cara berpikir orang yang bertanya.

Karya-Karya Hasan Mustapa

Buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana” yang ditulis oleh Ajip Rosidi pertama kali diterbitkan oleh penerbit Pustaka pada tahun 1989. Sesuai dengan judulnya mengenai karya Haji Hasan Mustapa, dari jumlah total 507 halaman hanya 86 halaman yang berkisah tentang proses usaha Ajip Rosidi dalam mencari dan mengumpulkan karyanya, riwayat hidupnya, dan anekdot-anekdotnya.

Sisa halaman buku ini, kurang lebih 400 halaman, berisi berbagai karya Haji Hasan Mustapa yang berupa danding, kumpulan surat, dan kumpulan tulisannya tentang adat istiadat. Tentu saja sisa halaman buku ini tidak cukup untuk menyajikan semua karya sastra Haji Hasan Mustapa secara lengkap, namun setidaknya buku ini memuat cuplikan karya-karya terpenting Haji Hasan Mustapa adalah usaha Ajip Rosidi untuk memperkenalkan sosok sastrawan Sunda terbesar itu melalui karyanya.

Ringkasan Biografi Inggit Garnasih

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Buku: Senja di Ranah Bandung; Sejarah Singkat Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih adalah seorang wanita yang perannya sangat besar bagi kesuksesan Sukarno, beliau adalah wanita yang mampu berperan sebagai teman, kekasih, serta ibu, bagi Sukarno. Ia menemani Sukarno dalam berbagai tahap kehidupan seperti membantunya menyelesaikan pendidikan, menemani perjalanan politiknya, hingga bertahan pada setiap masa sulit maupun senang.

Dalam perjalanannya menemani Sukarno, Inggit tidak ditakdirkan memasuki istana. Ia hanya mengantarkan Sukarno hingga gerbang kemerdekaan.

Sinopsis

Buku ini menceritakan biografi Inggit secara singkat. Inggit lahir di Kamasan, ia tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana. Inggit dikenal sebagai gadis cantik yang dikagumi banyak pria, namun pilihan Inggit jatuh pada Sanusi, tapi kisah cinta mereka terhalang oleh status ekonomi, karena Sanusi adalah seorang keturunan kaya raya. “Waja harus dengan waja, besi harus dengan besi.” pada saat itu memang status dan kedudukan keluarga selalu menjadi pertimbangan manakala sebuah perkawinan akan dilangsungkan.

Akhirnya, pada usia 16 tahun ia menikah dengan seorang Kopral Residen Belanda bernama Nata Atmaja, namun pernikahan mereka hanya bertahan 4 tahun dan tanpa dikaruniai anak. Inggit bertemu kembali dan menikah dengan Sanusi yang statusnya sudah berubah menjadi duda anak dua, mereka tinggal di daerah Kebonjati. Sanusi adalah saudagar kaya, selama tinggal dengannya Inggit tidak pernah merasakan kesusahan.

HOS Cokroaminoto menitipkan menantunya, Sukarno, kepada Sanusi. Selama bersekolah, Sukarno tinggal di rumah Sanusi bersama Inggit. Rumah itu menjadi lebih sering kedatangan tamu karena Sukarno aktif dalam dunia politik. Sanusi lebih sering menghabiskan harinya di luar, dari sanalah kedekatan Sukarno dan Inggit semakin menjadi setiap harinya. Sanusi menyadari apa yang terjadi di antara keduanya, akhirnya ia memutuskan untuk bercerai dengan Inggit dan menitipkannya pada Sukarno. Sukarno pun menceraikan istri pertamanya, Utari.

Menjalani kehidupan setelah menikah dengan seorang mahasiswa tentu berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Inggit membuat bedak, lulur dan kutang untuk dijual. Hasil dagangnya ini ia gunakan untuk membiayai hidup sehari-hari dan untuk perjalanan politik Sukarno. Sukarno beberapa kali dipenjara dan diasingkan karena dianggap terlalu membahayakan Belanda. Inggit tetap setia mendampingi dan selalu bersiasat mengabarkan kondisi yang sedang terjadi ketika Sukarno di dalam bui. Ia rela berpuasa untuk menyembunyikan buku di perutnya dan berjalan kaki menempuh jarak beberapa kilometer untuk menemui Sukarno.

Suatu hari, Sukarno diasingkan ke Ende, lalu dipindahkan ke Bengkulu. Di sinilah ia bertemu dengan Fatmawati. Gadis itu mampu menarik perhatian Sukarno. Tak lama setelah itu, Sukarno pun ingin menikahi Fatmawati. Inggit enggan dimadu dan memilih bercerai. Inggit kembali ke Bandung. Dua tahun setelah perceraian mereka, Indonesia merdeka dan Sukarno menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

  • Informasi Tambahan

Buku ini adalah buku untuk gerakan literasi sekolah dan tidak diperjualbelikan. Cerita lebih lengkap mengenai kisah Inggit Garnasih dan Sukarno dapat dibaca di buku Kuantar Ke Gerbang karya Ramadhan K.H.

Ringkasan Biografi Oto Iskandar di Nata

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Lisa Nurjanah

Sinopsis

Si Jalak Harupat yang terkenal sebagai nama stadion di kota Bandung, ternyata merupakan julukan salah satu pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Di Desa Bojongsoang, tanggal 31 Maret 1897, lahir seorang anak laki-laki yang berasal dari kalangan menak atau bangsawan, yaitu pasangan Raden Haji Rachmat Adam dan Nyi Raden Siti Hatijah. Anak itu diberi nama Raden Oto Iskandar di Nata.

Dibesarkan dari keluarga menak adalah sebuah keberuntungan, karena kehidupan Oto relatif jauh lebih baik daripada anak-anak pada umumnya kala itu. Akan tetapi, hal itu tidak berarti menghalangi rasa nasionalisme seorang Oto Iskandar di Nata. Alasan karena beliau dijuluki Si Jalak Harupat karena kehebatannya melancarkan kritik pada pemerintah kolonial. Si Jalak Harupat berarti ayam jago yang keras dan tajam kalau menghantam lawan, kencang bila berkokok, dan selalu menang kalau diadu. Awalnya julukan ini dilontarkan oleh Wirasendjaja, guru HIS Cianjur, kakak Soetisna Sendjaja, pemimpin redaksi surat kabar Sipatahoenan.

Oto meninggal karena diculik oleh Laskar Hitam, namun jenazah dan siapa pembunuhnya tidak pernah diketahui.

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi K.H. Zaenal Mustofa

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Wildan Aji

Tanggal 10 November merupakan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena di tanggal tersebut merupakan Hari Pahlawan Nasional yang selalu diperingati setiap tahunnya. Namun, belakangan ini banyak sekali generasi muda yang lupa akan jasa-jasa pahlawan yang telah berjuang untuk merebut Kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah.

Pada buku ini Prof. Dr. Nina Lubis, M.S. membahas tentang 9 Pahlawan Asal Jawa Barat yang terbagi dalam 9 Bab. Tulisan ini akan terbagi dalam 4 Sub Bab yang khusus untuk membahas tentang K.H Zaenal Mustafa Pahlawan Nasional  yang berasal dari Tasikmalaya.

Masa Muda

Pada Sub Bab ini Nina Lubis hanya sedikit menuliskan tentang masa kecil dari K.H Zaenal Mustofa yang ulu sering dipanggil Umri atau Hudaimi. Zaenal lahir tahun 1899 di Kampung Bageur Desa Cimerah (sekarang Desa Sukarapih), Singaparna, Tasikmalaya, dan berasal dari keluarga petani yang sederhana.

Pendidikan formal K.H Zaenal Mustofa hanya sampai tingkat SD dan selama 17 tahun kemudian menjalani pendidikan di beberapa pesantren yaitu:  Gunung Pari 7 tahun, Sukaraja Garut 3 tahun, Sukamiskin Bandung 3 tahun, Cilenga Singaparna 3 tahun, dan Jamanis 1 tahun.

Pesantren Pusat Perjuangan

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Iwa Kusuma Sumantri

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Rieky Nurhartanto

Latar Belakang

Iwa Kusuma Sumantri lahir pada hari Rabu, 30 Mei 1899 di Ciamis. Beliau merupakan putra sulung dari Keluarga Raden Wiramantri. Walaupun berasal dari keluarga menak, dalam pergaulannya Iwa sangat ramah dan luwes, tidak pernah membeda-bedakan pergaulan mana dari kalangan atas maupun kalangan bawah.

Pada tahun 1910, Iwa Kusuma Sumantri bersekolah di Erste Klasse School. Sekolah kelas 1 di Ciamis, tapi sekolah tersebut hanya untuk kaum pribumi menak saja. Selain bersekolah, Iwa juga privat bahasa Belanda bersama Ny Stanler. Selanjutnya Iwa melanjutkan Pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsche School), yaitu sekolah dasar berpengantar bahasa Belanda dan hanya untuk kalangan menak pribumi saja.

Selesai Sekolah Dasar tersebut, Iwa melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Calon Amtenar, yaitu OSVIA (Opledingschool Voor Inlandsche Amtenaren), tahun 1915 di Bandung. Tapi di sini sebetulnya Iwa sangat tidak betah, karena selain pergaulannya, perpeloncoannya tidak sehat. Setelah lulus, akan bekerja di bawah pemerintah kolonial, dan ini tidak sesuai dengan hati nurani Iwa. Karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya, Iwa mencoba bertahan di sekolah tersebut, namun hanya bertahan selama 1 tahun saja.

Kiprah di Bidang Hukum

Setelah keluar dari Sekolah Calon Amtenar tersebut, tahun 1916 Iwa masuk ke Sekolah Hukum yang sesuai dengan bakat minat Iwa di Batavia. Semasa sekolah Iwa juga aktif di organisasi pemuda ‘’Tri Koro Darmo’’, yang nantinya menjadi Jong Java. Seiring waktu, Iwa mendapat gemblengan politik, jiwa kebangsaan dan rasa kasih sayang terhadap rakyat kecil tumbuh juga di organisasi tersebut dan ia behasil menjadi ketua organisasi.

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Maskoen Soemadiredja

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Madihatur Rabiah

Buku merupakan jendela dunia. Dengan membuka buku berarti kita membuka jendela dunia, maka melalui buku yang dituliskan oleh Prof. Dr. Nina H. Lubis tentang salah satu tokoh Pahlawan Nasional Jawa Barat, kita dapat mengenal tokoh tersebut dengan baik.

Pahlawan, sosok yang seringkali dikagumi banyak orang, walaupun mungkin mereka sendiri tidak ingin dipuja-puja atau didamba. Walaupun begitu, seringkali orang-orang yang telah banyak memiliki jasa untuk masyarakat dan negara ini, tidak mendapatkan apresiasi yang sepantasnya, baik ketika mereka masih hidup ataupun setelah meninggal. Untuk itulah kemudian peran sejarawan diperlukan untuk mengungkap para pahlawan tersebut.

Maskoen Soemadiredja

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Ir. H. Djuanda

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Barangkali itulah kutipan yang ingin disampaikan oleh penulis buku “9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat” bagi para pembaca agar senantiasa mengingat perjuangan para pahlawan bagi kemajuan bangsa.

Beberapa nama dalam buku ini rasanya tak asing ditemui di sudut kota sebagai nama jalan seperti Ir. Djuanda, Dewi Sartika, K.H. Zaenal Mustofa ataupun R. Oto Iskandar Di Nata. Namun lebih dari itu, nama-nama tersebut perlu kita ketahui kisahnya dan teladani dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini khusus meresensi bagian biografi Ir. H. Djuanda.

Latar Belakang Ir. H. Djuanda Kartawidjaja

Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 Januari 1911, dalam sebuah keluarga menak dan berpendidikan. Ayahnya Raden Kartawidjaja dan Ibunya Nyi Momot. Sifat Djuanda yang pendiam merupakan warisan dari ayahnya yang akhirnya terbawa sampai masa tuanya.

Pendidikannya dimulai dari Hollands Indlandsche School (HIS) di Kuningan. Namun karena mengikuti orang tuanya yang diangkat menjadi Mantri Guru di Cicalengka, Djuanda pun pindah ke Europese Lagene School (ELS) di Cicalengka (1923). Setelah menamatkan pendidikannya di ELS, Djuanda melanjutkan pendidikan di HBS Bandung dan lulus dengan predikat schitterend geslaagd (lulus dengan baik sekali) bergelar diploma HBS. Atas pencapaiannya tersebut, Djuanda memperoleh beasiswa dari Pemerintah Hindia Belanda untuk melanjutkan pendidikannya ke Technische Hoogeschool(THS; sekarang ITB) pada bulan Juli 1929. Gelar civiel ingenieur (Insinyur Sipil) didapatnya setelah ia dinyatakan lulus dari THS.

Kiprah Politik

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Rd. Dewi Sartika

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Latar Belakang Penulis dan Buku “9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat”

Buku yang berjudul 9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat merupakan hasil buah karya Prof. Dr. Nina Herlina, M.S.. Ibu Nina adalah seorang sejarawan yang telah menghasilkan banyak karya, 44 judul buku telah beliau tulis termasuk yang ditulis secara mandiri maupun bersama. Salah-satu adikaryanya yang memberikan peran dalam dunia literasi adalah buku Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942.

Selain menjadi seorang sejarawan, wanita asli Sunda ini juga merupakan guru besar di Universitas Padjadjaran yang merangkap beberapa jabatan. Beliau banyak tampil menjadi narasumber baik di dalam negeri hingga ke luar negeri. Wanita yang mendapat penghargaan dari Universitas Gadjah Mada sebagai Lulusan Terbaik Program Pascasarjana S-2 tahun 1990 juga mendapatkan berbagai penghargaan lainnya. Beliau mengikuti berbagai organisasi, sehingga namanya tercatat di berbagai organisasi. Informasi selengkapnya bisa dilihat di http://ninaherlinalubis.com/.

Dengan diterbitkannya buku 9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat, Ibu Nina berharap agar setiap warga Indonesia, khususnya generasi muda dapat mengenali dengan baik pahlawan-pahlawan Indonesia, dan dapat mengambil nilai moral dari kisah patriotsme dan nasionalisme para pahlawan Indonesia, khususnya asal Jawa Barat.

Dewi Sartika

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Gatot Mangkoepradja

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Aditya WIjaya

Perintis Kemerdekaan RI

Bapak Pendiri Tentara Sukarela

Pembela Tanah Air

(Tulisan pada batu nisan Gatot Mangkoepradja di TPU Sirnaraga, Bandung)

Latar Belakang

Gatot Mangkoepradja adalah pendiri pasukan PETA atau Pembela Tanah Air. Ia lahir pada tanggal 15 Desember 1898 di Kampung Citamiang, Panjunan, Sumedang. Ia merupakan keturunan menak dari Galuh, Ciamis. Pendidikan Gatot dimulai dari Frobel School (Taman Kanak-Kanak), Europeesche Lagere School (ELS), Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), dan Hogere Burger School (HBS). Gatot pernah bekerja di Statsspoor en Tramwegen (Jawatan Kereta Api).

            Pergulatan Gatot dalam dunia pergerakan Indonesia dimulai pada tahun 1913 ketika ia ikut dalam pembentukan Paguyuban Pasundan. Ia kemudian pernah menjadi Sekretaris Hoofdbestuur (Pengurus Besar) Persatuan Buruh Kereta Api pada tahun 1922. Akhir tahun 1927 Gatot menghadiri pembentukan PNI di Bandung. Kontribusi Gatot dalam mendukung PNI sangat besar. Karena gerakan PNI dianggap membahayakan oleh Belanda, pada akhir tahun 1929 Gatot bersama Soekarno ditangkap di Yogyakarta. Ia diadili di pengadilan Landraad Bandung dan dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun di lapas Sukamiskin Bandung.

            Gatot pernah membuka usaha obat-obatan “Dispensary” di Bandung. Ia mempunyai relasi bisnis dengan beberapa perusahaan di Jepang. Pada bulan Oktober 1933, Gatot bersama Parada Harahap berkunjung ke Jepang untuk keperluan bisnis. Kebetulan ketika itu juga sedang berlangsung Kongres Pan-Asia 1 di Tokyo. Gatot pun menghadiri kongres itu sebagai wakil dari Indonesia. Sejak saat itu timbul kesan dalam diri Gatot bahwa Jepang adalah harapan untuk Asia.

Pembentukan PETA

Baca lebih lanjut