Mengenal Lebih Jauh Sang Tohaan Kobul

SAVE_20180622_143006

Situs makom keramat Santoan Kobul|Foto Ariyono Wahyu Widjajadi

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Di sisi jalan raya Cipatik-Soreang terdapat sebuah papan penunjuk informasi mengenai sebuah situs makom keramat Santoan Kobul. Tepatnya situs ini terletak di Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Lalu siapakah Santoan Kobul?  Baca lebih lanjut

Iklan

Maria dan Potret Muram Buruh Perempuan di Perkebunan Deli

IMG-20180502-WA0017

Oleh : Pinot Sity (@ratukerang)

Pada 1879 para petualang Eropa mendirikan sebuah perkumpulan pengusaha perkebunan di Deli yang mereka namakan “Deli Plantersvereniging”. Geng pengusaha yang menaungi sekitar 70 perusahaan perkebunan. Dari eksploitasi karet hingga tembakau, perusahaan-perusahaan besar di Deli itu tumbuh lebih berkuasa ketimbang pemerintah kolonial.  Baca lebih lanjut

Sekelumit Kisah Leendert van der Pijl di Bandung

van der pijl foto

Foto Dr. Leendert van der Pijl

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (IG: @suryadwipa)

Kondisi Karesidenan Priangan (mencakup Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Bandung, Sukabumi, dan Bogor) yang sejuk dan sarat akan kandungan keanakaragaman hayati ternyata telah mengambil hati sekelompok ilmuwan Eropa di bidang botani. Hal tersebut dibuktikan dengan maraknya penelitian mengenai tanaman perkebunan di Priangan, juga dengan dibangunnya Herbarium Bogoriense serta ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Oleh sebab itu Bogor pernah memperoleh predikat sebagai pusat perkembangan ilmu botani di Hindia Belanda. Selain di Bogor, Kawasan Bandung ternyata juga sempat dijadikan destinasi untuk mempelajari aneka jenis tetumbuhan khas Priangan. Salah satu ahli yang berperan penting dalam mengungkap rahasia dunia flora di Bandung dan sekitarnya adalah Dr. Leendert van der Pijl. Baca lebih lanjut

Arca-arca yang Hilang di Gunung Wayang

Arca-arca yang hilang

Dari kanan ke kiri : Gunung Windu, Gunung Wayang, Gunung Bedil |Foto Ariyono Wahyu Widjajadi

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Saat itu hari mendung, kabut menyelimuti Gunung Wayang menambah kental aura misteri yang meliputi gunung ini. Ini kali kedua bagi saya mengunjungi Situ Cisanti, mata air Sungai Citarum yang berada di kaki Gunung Wayang. Setiap kali  Komunitas Aleut menyambangi kawasan Pangalengan, Gunung Wayang selalu jadi pusat perhatian saya. Terkadang memandang dari kejauhan gunung ini tampak bersanding dengan dua gunung lainnya yaitu Gunung Windu dan Gunung Bedil.

Dalam halaman-halaman awal buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya” karya Haryoto Kunto, terdapat sebuah foto yang memperlihatkan seorang juru kunci yang sedang duduk bersimpuh dengan takzim di depan sebuah arca begaya Polinesia. Keterangan pada foto tadi menyebutkan bahwa arca tersebut berada di Gunung Wayang. Baca lebih lanjut

Perang Berebut Pasangan Melahirkan Priangan

Lukisan penyerahan mahkota Binokasih oleh empat kandaga lante

Lukisan di Museum Geusan Ulun mengenai penyerahan mahkota Binokasih oleh empat Kandaga Lante | Photo Komunitas Aleut

Oleh : Warna Sari (@rie1703)

Homer adalah seorang pengarang Yunani kuno yang menuliskan kisah-kisah dari masa klasik sekitar abad ke-8 dan abad ke-7 sebelum Masehi. Dua bukunya yang terkenal adalah “Iliad” dan “Odyssey”. Dalam “Iliad”, Homer bercerita mengenai pengepung kota Troy yang berlangsung selama 10 tahun oleh gabungan kekuatan-kekuatan di Yunani.

Pangkal peperangan terjadi karena Pangeran Paris dari Troy melarikan Ratu Helen, istri Raja Sparta, Menelaus. Tindakan tadi memicu peperangan antara kerajaan-kerajaan sekutu Sparta melawan Troy. Salah satu panglima dalam pasukan Sparta adalah Achilles yang kemudian berhasil membunuh panglima perang Troy yaitu Pangeran Hector yang merupakan kakak dari Pangeran Paris. 

Sumedang Larang Penerus Kerajaan Sunda

Kisah tragedi yang hampir sama yaitu perang karena berebut pasangan, kemudian terjadi di wilayah Kerajaan Sumedang Larang pada abad ke-16 Masehi. Menurut “Carita Parahyangan”, Prabu Raga Mulya atau Prabu Suryakancana adalah Raja Pajajaran terakhir. Pada tahun 1579 Prabu Raga Mulya memberikan mahkota kerajaan yaitu “Mahkota Binokasih Sanghyang Pake” kepada Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang yang baru saja diangkat menggantikan ibundanya, Ratu Pucuk Umun. Penyerahan mahkota kerajaan itu kemudian menjadi simbol bahwa Sumedang Larang sebagai penerus kekuasaan Kerajaan Sunda. Baca lebih lanjut

Sejarah Singkat Pabrik Kina

Pabrik Kina

Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. Foto Tropen Museum

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada pertengahan abad ke-19, tersebar sebuah penyakit yang memakan banyak orang Eropa di Batavia. Saking banyaknya, Batavia sempat dijuluki Het Graf van Het Oosten atau kuburan di negeri timur. Penyakit yang memakan banyak korban itu bernama malaria.

Saat itu, obat malaria yang ampuh berasal dari pohon Kina. Bagian yang diambil yaitu kulit pohonnya.

Melihat hal itu, pada tahun 1851, Ch. F. Pahud yang menjabat sebagai Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda mengusulkan Junghuhn untuk membudidayakan kina di Jawa. Di tahun yang sama, Prof. de Vriese mendapatkan biji Kina paling baik dari Perancis dan mulai menanam di Kebun Raya Bogor. Baca lebih lanjut

Perkebunan Kertamanah yang Kembali Hidup

Muka Kertamanah 1949.png

Pabrik Kertamanah 1949 (Arsip foto HA. J. JonkerSecretary of Economic Affairs J. Van Baalen)

Oleh: Vecco Suryahadi (@veccosuryahadi)

Pada tahun 1949, pabrik dan perkebunan di Kertamanah terlihat sibuk dan ramai. Lebih dari 400 orang berkumpul di halaman pabrik. Banyak mobil dan kereta kuda terlihat nangkring di halaman Pabrik Teh Kertamanah. Perkebunan Kertamanah terlihat hidup kembali.

Kenapa disebut hidup kembali? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita mundur mulai dari era pendudukan Jepang di Hindia Belanda atau sekitar 6-7 tahun lalu. Baca lebih lanjut