Menemukan Udug-Udug, Ibu Kota Karawang Baheula


Ditulis oleh: Hevi Fauzan

“Di dalam perjalanan, kadang kita tidak menemukan apa yang dicari. Kadang, kita malah menemukan hal yang lain lagi.”

Sabtu, 5 September 2020, kami berlima melakukan perjalanan momotoran ke Kabupaten Karawang. Dalam rencana, kami akan mengunjungi Cikao, Bendungan Walahar, rumah bersejarah Rengasdengklok, Candi Batujaya, dan muara Ci Tarum di Laut Jawa. Satu rencana perjalanan untuk menyusuri objek-objek yang kaya akan sejarah.

Di tengah perjalanan, rencana mulai berubah. Karena kurang membaca peta dan tidak ada rambu penunjuk jalan di belokan menuju Jatiluhur di Kota Purwakarta, kami mengambil jalur lurus ke Cikampek. Menyadasi kesalahan di tengah perjalanan, kami akhirnya mengambil keputusan untuk langsung menuju bendungan yang membendung Sungai Ci Tarum, Bendungan Walahar. Sementara, hawa panas mulai memasuki ruang-ruang udara di dalam jaket.

Baca lebih lanjut

Manusia, Wabah, dan Pengulangan Sejarah

Menyebarnya wabah Covid 19 di Indonesia dan negara-negara lain melengkapi keberadaan wabah-wabah yang pernah ada dalam sejarah kehidupan manusia. Di satu sisi, kehidupan sosial membuat manusia bisa saling berinteraksi. Di sisi lain, interaksi antar tubuh manusia membuat penyakit dengan mudah bisa menular antar tubuh manusia. Banyak dari wabah ini membuat manusia jatuh sakit bahkan menelan banyak korban nyawa manusia.

Namun, gelombang datangnya wabah-wabah ini tidak membuat manusia musnah, malah membuat mereka bertahan dan berkembang menjadi spesies yang lebih baik. Manusia berhasil menerapkan usaha-usaha untuk mencegah menyebar wabah-wabah ini, bahkan menemukan vaksin-vaksin yang berhasil menjinakkan sumber wabah sehingga tidak menjadi ancaman kembali.

Selain vaksin, kesadaran manusia untuk memperhatikan kesehatan diri dan lingkungannya menjadi kunci keberhasilan mereka menundukkan wabah-wabah yang beberapa kali tercatat dalam sejarah.

Ketika Kutu Tikus Menyerang Eropa

Sumber gambar: Wikipedia

Dalam catatan, wabah besar pertama yang menyerang manusia adalah Pleague of Justinian. Wabah ini terjadi di Eropa bagian tenggara, tepatnya di kerajaan di antara tahun 542 M. Merujuk pada nama raja Kekaisaran Romawi Timur yang bernama Justianian I. Wabah ini disebabkan oleh bakteri yang berinang pada tubuh kutu-kutu tikus, Yersinia Pestis.[1]

Tikus-tikus ini diyakini terbawa dari lumbung-lumbung gandum di daerah Mesir. Di zaman tersebut, daerah subur ini ada di bawah kekuasaan kekaisaran setelah berabad-abad lama ada di bawah aturan para Firaun. Mesir merupakan daerah yang cukup subur karena ditopang oleh pengairan dari Sungai Nil.

Sumber gambar: The British Museum

Dalam penelitian terbaru tentang sejarah kedatangan wabah ke Eropa, kawasan Afrika Utara diyakini menjadi tempat wabah-wabah ini berasal. Ini dikatakan oleh Joseph Hinnebusch, Microbiologis dari Rocky Mountain Laboratories di Hamilton, Montana.[2]

Tikus sudah tinggal di Mesir beberapa abad lamanya. Binatang pengerat ini terkenal dengan nama dan bersarang di tepian Sungai Nil. Ketika sungai mengalami pasang, tikus-tikus ini naik ke tempat yang lebih tinggi. Ini membuat tikus-tikus melakukan kontak dengan orang Mesir Kuno yang hidupnya sangat tergantung akan keberadaan sungai yang berhulu di Danau Victoria ini.

Keberadaan wabah di Mesir kuno yang diakibatkan oleh tikus-tikus diperkuat oleh pernyataan Eva Panagiotakopulu , arkeolog, Ahli fosil serangga di Inggis.[3]

Satu hal yang menyelamatkan orang Mesir Kuno dari ancaman wabah adalah keberadaan kucing-kucing di sekitar manusia. Kucing-kucing ini berhasil mereka jinakkan dan pelihara untuk menjadi penjaga dari ancaman ular dan tikus-tikus. Bahkan, kucing menjadi salah satu hewan yang suci di masa Mesir Kuno. Dewa Bast digambarkan sebagai dewa yang mempunyai kepala kucing. Selain itu, beberapa kucing dimumifikasi saat mati atau untuk menemani majikannya yang meninggal.

Akibat kedekatan manusia dengan kucing, tikus-tikus di masa Mesir Kuno hidup terpisah dari manusia. Mereka salah satunya hidup di dekat persediaan makanan atau lumbung-lumbung gandum. Dari lumbung-lumbung inilah, tikus-tikus ini terbawa ke Kerajaan Romawi Timur dan menjadi sebab mewabahnya penyakit Justinian Pleague.[4]

Wabah, Kutukan Tuhan, dan Karantina

Sumber gambar: devastatingdisasters.com

Ketika wabah menyerang Kerajaan Byzantium Timur, orang-orang belum mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Mereka belum menyadari keberadaan bakteri yang ada di tubuh-tubuh tikus sebagai penyebab terjadinya wabah. Sebagian orang mencoba menyembuhkan diri dengan pemandian air dingin, bubuk “diberkati” oleh orang-orang suci, jimat dan cincin ajaib, dan berbagai obat lain. Sebagian lagi berusaha untuk menyembuhkan diri dengan datang ke pusat kesehatan dan melakukan isolasi.

Keadaan serupa terjadi saat wabah serupa datang di Eropa di antara tahun 1347 – 1351. Orang-orang yang menganggap bahwa wabah merupakan kutukan dari Tuhan melakukan ritual-ritual menyakiti diri sendiri. Hal ini dilakukan supaya tuhan mengampuni mereka dengan cara menghilangkan wabah tersebut. Wabah ini terkenal dengan nama Black Death. Selain membawa kematian, ada bekas hitam yang tersisa di beberapa bagian tubuh korban. Wabah ini memakan korban sekitar 75 – 200 juta jiwa di Eropa.[5]

Sumber gambar: cdn.britannica.com

Berbeda dengan Justinian Pleague yang datang dari arah Afrika Utara, wabah Black Death muncul dari arah timur, termasuk karena invasi orang-orang Mongol. Pada tahun 1347, pasukan Mongol menyerang satu markas dagang Genoa di Kaffa, Crimea, tepi Laut Hitam. Kota Kaffa dilindungi oleh benteng yang kokoh dan sangat sulit untuk ditaklukan. Di sisi lain, pasukan Mongol sedang diserang oleh wabah baru yang menyebabkan banyak kematian di pasukan mereka. Karena sulit untuk merebut kota tersebut, pasukan Mongol menyerah dan mereka melempar mayat-mayat teman mereka yang meninggal karena wabah ke dalam benteng, sebelum meninggalkan Kaffa. Orang-orang Kafa yang bepergian ke luar ikut menyebarkan wabah ini, termasuk ke Italia. Dalam waktu 5 tahun, wabah ini menyapu daratan Eropa dan Kepulauan Inggris.[6]

Sumber gambar: Wikipedia

Salah satu cara untuk menghentikan wabah ini adalah karantina. Kata ini muncul ketika para pelaut yang berlabuh di pelabuhan Venesia harus diisolasi selama 40 hari di Pulau bernama Lazzaretto Vecchio sebelum bisa berlabuh.[7] Dari peristiwa inilah, muncul kata karantina yang sekarang berarti proses penampungan manusia di lokasi yang jauh dari masyarakat.

Adanya Wabah Justinian dan Back Death memunculkan inovasi pakaian bagi para dokter wabah di abad 17. Mereka menganggap pakaian ini akan melindungi mereka dari kemunculan wabah ini kembali. Namun, pendapat ini dibantah oleh sejarawan Frank M. Snowden yang mengatakan, pakaian dan metode dokter wabah tidak membuat banyak perbedaan. Strategi terapi para dokter wabah modern awal tidak banyak membantu memperpanjang hidup, meringankan penderitaan, atau memberi efek penyembuhan. Snowdeng menambahkan, dokter wabah mungkin telah segera dikenali, tetapi sampai munculnya teori kuman penyakit dan antibiotik modern, kostum mereka tidak memberikan perlindungan nyata terhadap penyakit.[8]

Flu, Wabah Impor dari Amerika

Sumber foto: National Museum of Health

Setelah beberapa abad lamanya tidak terserang wabah besar, Eropa kembali dilanda wabah di awal abad 20. Wabah ini berasal dari serdadu Amerika di masa Perang Dunia Pertama (PD I), yang mendapat perawatan di Perancis pada Mei 1918.

Wabah ini merupakan wabah yang paling berbahaya dalam sejarah wabah yang menyerang dunia termasuk Hindia Belanda. Karena penyebarannya yang sangat cepat, sekitar 50-100 juta orang meninggal dalam kurun waktu dua tahun saja. Karena menyebar dengan cepat dan menimbulkan banyak korban, penyakit ini disebut sebagai ibu dari segala macam pandemik.[9]

Wabah ini disebut sebagai flu Spanyol karena negara ini secara terang-terangan memberitakan keberadaan flu ini kepada pers. Di PD I, Spanyol merupakan salah satu negara netral. Sementara, negara lain yang sedang berperang dan tidak mau memberitakan keberadaan wabah ini karena tidak ingin menganggu psikologis dan moral pasukannya di medan perang. Uniknya, orang Spanyol sendiri menyebut wabah ini sebagai flu Perancis.

Pagebluk, Kolera, dan Roh Jahat

Di Indonesia, wabah juga terkenal dengan istilah pagebluk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pagebluk merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya wabah (penyakit); epidemi. Di masa lalu, masyarakat menganggap pagebluk sebagai kiriman dari roh jahat Ini disebabkan ilmu kedokteran yang belum maju seperti sekarang. Karena menganggap sebagai kiriman dari roh jahat, orang-orang di Hindia Belanda melakukan metode pengusiran roh jahat saat terjangkit wabah berbahaya.

Di masa kolera yang menyerang di antara abad 19 dan awal abad 20, warga muslim, misalnya, percaya penyakit ini bisa disembuhkan oleh “air suci” yang sudah ditiupi doa oleh kiai. Sebagian lainnya mengadakan ritual massal pengusiran pagebluk. Sementara itu, di kalangan orang Cina muncul kebiasaan memanggil barongsai untuk berkeliling Pecinan jika terdapat ancaman wabah kolera. Mereka percaya bahwa setan penyebar kolera takut pada barongsai.

Catatan lama tentang kolera ditulis oleh dokter VOC, Jacobus Bontius yang tiba di Hindia Belanda pada tahun 1627. Selain Kolera, dokter Bontius mencatat beberapa penyakit lainnya di Batavia seperti beri-beri, tetanus, disentri, lepra, cacar, dan malaria. Keadaan ini disebabkan karena kondisi Batavia yang sangat tidak sehat. Orang-orang bahkan menjuluki Batavia sebagai kota yang tidak menyehatkan.

Kondisi Batavia yang tidak menyehatkan mempermudah perkembangan kolera yang berkembang menjadi pandemi di India. Sebanyak 125 ribu jiwa melayang di Hindia Belanda di tahun 1921 atau dua tahun setelah pemerintah menerima laporan keberadaan wabah ini di Penang dan Malaka. Wabah ini menyebabkan pemerintah melakukan karantina bagi mereka yang bepergian ke luar negeri, termasuk para jemaah haji.

Perjalanan panjang kolera di Hindia diakhiri setelah pemerintah menemukan kuman kolera dan membentuk Jawatan Intelejen Kolera di tahun 1909. Setelah vaksin kolera ditemukan, vaksinasi massal pun segera dilakukan di masyarakat.

Gempuran Wabah dan “Black Death” di Hindia Belanda

Sumber foto: National Geographic

Di Malang, masyarakat menggambar kepala kala sebagai cara untuk menolak salah satu wabah yang juga berbahaya dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Kepala kala ini diambil dari ukiran kepala Kalamakara yang terdapat di Candi Singasari yang berfungsi sebagai pengusir roh jahat.[10] Memasuki tahun 1910-an, Malang diserang oleh wabah yang baru masuk ke Hindia Belanda yang bernama sampar.

Wabah yang tidak kalah berbahaya ini berhasil masuk sebelum pemerintah Hindia Belanda bisa mengendalikan kolera. Wabah yang dikenal dengan nama sampar ini mirip dengan wabah Black Death yang terjadi di Eropa karena berasal dari sebab yang sama, bakteri Yersinia Pestis yang bersarang di kutu tikus.

Wabah sampar sudah ditemukan di Hindia belanda di tahun 1905. Ada dua pegawai di pelabuhan Deli yang terkena wabah ini. Namun, kasus ini dianggap angin lalu karena wabah tidak meluas di masyarakat. Di tahun 1911 tepatnya tanggal 27 Maret, Sampar baru diakui sebagai pandemi setelah menyebar di Malang. Setahun sebelumnya, wabah ini masuk ke Malang melalui pelabuhan di Surabaya. Tikus-tikus pembawa kutu ini tiba di Hindia Belanda setelah pemerintah melakukan impor beras dari Myanmar pada tahun 1910.[11]

Untuk melakukan pencegahan, Direktur Burgelijke Geneeskundige Dienst menggagas supaya Malang diisolasi saja. Namun, gagasan ini ditentang oleh para pengusaha, khusususnya dari perusahaan perkebunan. Akibatnya, penyakit ini menyebar di seluruh Pulau Jawa.

Verbetering, kerjasama Pemerintah dan Masyarakat dalam menghadapi Wabah

Sumber foto: Bandoeng en de Hygiene

Penanganan sampar adalah satu contoh keberhasilan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menangani wabah. Dalam melawan wabah “Black Death” ini, pemerintah berhasil mendekati dan meyakini masyarakat lewat pendekatan kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Di Jawa Barat misalnya, masyarakat menolak untuk disuntik vaksin sampar karena mereka merasa hal ini bertentangan dengan nilai-nilai agama. Di Garut, masyarakat menolak vaksinasi yang mereka sebut sebagai “suntik mayit.”[12]

Salah satu cara pemerintah untuk menangani keadaan ini adalah mendatangkan tenaga medis yang juga menguasai ilmu agama. Di tahun 1933, pemerintah mendatangkan dokter Ramali dari Padang Sidempuan ke Batavia untuk menghadapi masalah tentang wabah dan agama yang berkembang di masyarakat. Dokter ini diyakini mampu menangani wabah sampar yang berkaitan dengan isu keagamaan terutama di Garut.

Penolakan atas vaksinasi ini juga terjadi di Cibugel, Darmarja Sumedang. Dengan dalih serupa, mereka menolak untuk disuntik sampai terjadi kerusuhan di sana. Pihak keamanan berhasil menangkapi provokator di antara 600 orang yang mengepung Balai Desa di tahun 1937.[13]

Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menghapus wabah sampar tidak berhenti pada usaha vaksinasi masyarakat. Untuk membatasi gerak tikus-tikus pembawa bakteri dan menjauhkannya dari pemukiman penduduk, pemerintah membantu masyarakat untuk membangun ulang rumah-rumah mereka. Gerakan ini diberi nama Woning Verbatering, atau orang Sunda mengenalnya dengan istilah Woneng.[14]

Sekitar 1.021.000 rumah di Hindia Belanda mengalami perbaikan (Dr. J. Stroomberg, Hindia Belanda 1930, halaman 74). Beberapa bagian rumah yang diyakini sebagai tempat bersarangnya tikus, dibuang dan diganti. Usaha ini membuat wabah sampar terkendali.

Pemakaian Masker Saat Flu Mewabah

Belum selesai berperang dengan sampar, pemerintah kemudian dihadapkan dengan wabah baru, flu yang merupakan bagian dari wabah flu Spanyol di tahun 1918. Flu ini dibawa masuk melalui pelabuhan Batavia lewat kapal laut dari Singapura. Seperti sebelumnya, pemerintah abai dengan ancaman wabah yang telah berkembang di negara sekitar seperti Hongkong dan Singapura. Akibatnya, virus dengan cepat menyebar dan menurut penelitian terbaru menewaskan sekitar 4 juta jiwa untuk wilayah Jawa dan Madura saja.[15]

Untuk mengatasi wabah ini, pemerintah Belanda mengumumkan bahaya wabah flu ini kepada masyarakat. Mereka mengeluarkan kebijakan supaya masyarakat memakai masker dan mencoba untuk membatasi masyarakat supaya tidak banyak berkumpul. Usaha-usaha ini membuahkan hasil, karena kemudian virus flu ini hilang secara perlahan di tahun 1921.

Pembelajaran

Fenomena banyaknya wabah yang muncul dan berkembang memunculkan pola pergantian wabah yang ada di dunia. Ini menandakan bahwa wabah Covid-19 yang berkembang sekarang bukan merupakan wabah terakhir yang ada dalam sejarah manusia. Akan ada wabah berbahaya lainnya muncul dan menyerang manusia.

Peran serta masyarakat dan pemerintah menjadi kunci penanganan wabah. Pemerintah harus selalu tanggap dan bisa menjadi lokomotif penggerak dalam penanganan wabah yang tentunya sesuai dengan kaidah keilmuan. Sebaliknya, masyarakat bisa mengikuti apa yang menjadi arahan pemerintah dalam menangani wabah.

Tetapi, sehebat apapun program pemerintah, masyarakat sendiri harus senantiasa disiplin untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungannya. Ini bisa diwujudkan misalnya dengan cara supaya masyarakat selalu membersihkan diri sendiri. Selain itu, mereka harus tetap memperhatikan kebersihan lingkungannya, termasuk juga melakukan pembatasan-pembatasan supaya tidak menjadi bagian dari penyebaran wabah.


[1] Plague, Encyclopedia Britannica, https://www.britannica.com/science/plague/History#ref1217512

[2] Camerun Walker, Bubonic Plague Traced to Ancient Egypt, National Geographic, https://www.nationalgeographic.com/news/2004/3/bubonic-plague-traced-to-ancient-egypt/

[3] Camerun Walker, Bubonic Plague Traced to Ancient Egypt, National Geographic, https://www.nationalgeographic.com/news/2004/3/bubonic-plague-traced-to-ancient-egypt/

[4] Plague, Encyclopedia Britannica, Link: https://www.britannica.com/science/plague

[5] Black Death, Encyclopedia Britannica, https://www.britannica.com/event/Black-Death

[6] Black Death, Encyclopedia Britannica, https://www.britannica.com/event/Black-Death/Cause-and-outbreak

[7]  (Sara Toth Stub, Venice’s Black Death and the Dawn of Quarantine, https://www.discovermagazine.com/planet-earth/venices-black-death-and-the-dawn-of-quarantine

[8]  (Erin Blakemore, Why plague doctors wore those strange beaked masks, National Geographic, Link: https://www.nationalgeographic.com/history/reference/european-history/plague-doctors-beaked-masks-coronavirus/).

[9]  (John McNeer, Spanish Flu: the Mother of all Pandemics, History Arch, Link: http://historyarch.com/2018/03/19/spanish-flu-the-mother-of-all-pandemics/).

[10] (Mahandis Yoanata Thamrin, Karut-Marut Pagebluk Pes Pertama di Hindia Belanda, National Geographic, 2020, https://nationalgeographic.grid.id/read/132090830/karut-marut-pagebluk-pes-pertama-di-hindia-belanda?page=all).

[11] (Mahandis Yoanata Thamrin, Karut-Marut Pagebluk Pes Pertama di Hindia Belanda, National Geographic, 2020, https://nationalgeographic.grid.id/read/132090830/karut-marut-pagebluk-pes-pertama-di-hindia-belanda?page=all).

[12] (Atep Kurnia, 1933: Wabah Sampar Merebak, Bupati Garut jadi ODP, Ayo Tasik, Link: https://www.ayotasik.com/read/2020/03/30/4817/1933-wabah-sampar-merebak-bupati-garut-jadi-odp).

[13] (Atep Kurnia, “Embung sangeuk Disuntik”: Penolakan Vaksinasi Sampar di Cibugel, Ayo Bandung, 2020, Link: https://ayobandung.com/read/2020/07/08/103941/ldquo-embung-sangeuk-disuntik-rdquo-penolakan-vaksinasi-sampar-di-cibugel).

[14] (Adi Ginanjar Maulana, Jaman Woneng, Ayo Bandung, 2020, Link: https://ayobandung.com/read/2020/06/04/92149/jaman-woneng).

[15]  (Siddharth Chandra, Mortality from the influenza pandemic of 1918–19 in Indonesia, Jurnal, 2013, Link: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3687026/).

Meretas Kampung Tua di Bandung Utara Bernama Coblong

Coblong saat ini adalah nama salah satu kecamatan di Kota Bandung, namun mungkin sedikit yang mengatahui jika Coblong di masa lalu adalah nama salah satu kampung tua di Bandung Utara. Berikut ini kisahnya.

Toponomi Coblong

Untuk memulai kisah Kampung Coblong, saya akan mulai dengan membahas toponimi nama Coblong karena akan berkaitan dengan nama daerah di sekitarnya. Baca lebih lanjut

Kecintaan Max Salhuteru Terhadap Budaya Sunda & Keluarga Sinumbra

“Saya lahir di Sinumbra, ditolong bidan dari Ciwidey.”

Johana Ellisye Salhuteru atau yang lebih akrab disapa dengan Bu Lisye memulai kisahnya. Melanjutkan beberapa cerita tentang Max Salhuteru terdahulu, kali ini bukan lagi Bu Lia (Camellia Salhuteru) tapi Kakaknya, Ibu Lisye, anak kedua Max Izaak Salhuteru, yang menuturkan pengalamannya. Baca lebih lanjut

Kisah Dua Rumah di Cimahi & Kiprah Penghuninya

Kisah Dua Rumah di Cimahi

Cerita ini saya mulai dari salah seorang kawan SMA saya yang namanya diawali dengan huruf R. Mudah menduga huruf tersebut menandakan gelar dari kalangan bangsawan. Kadang kawan-kawan SMA dulu berkelakar menyebut huruf R itu kependekan dari Rojali. Nah R ini beberapa waktu lalu, di grup whatsapp SMA, bercerita tentang latar belakang keluarganya. Dalam ceritanya terselip kisah sebuah rumah yang bersejarah.

Menak Sumedang

Kakek Buyut kawan saya ini adalah seorang Patih Sumedang, namanya Hardjawinata. Hardjawinata memiliki banyak anak, dua di antaranya adalah Rangga Hardjadibrata dan Hardjakusumah. Baca lebih lanjut

Wyata Guna dalam Tanya

Denyut di jantungmu kota
Pusat gelisah dan tawa
Dalam selimut debu dan kabut
Yang hitam kelam warnanya
Sejuta janjimu kota
Menggoda wajah-wajah resah
Ada di sini dan ada di sana
Menunggu di dalam tanya

(Balada Sejuta Wajah-God Bless)

Saya masih mengingat dengan jelas, saat duduk di kelas dua SMP, pernah meminta kepada seorang kawan untuk dibuatkan gambar logo band God Bless. Kawan tersebut memang pandai menggambar, matanya awas dan mampu menangkap bentuk dengan baik, untuk kemudian digambarkan di atas kertas. Saya tak mampu membuat karya seperti itu. Setiap dia menggambar, saya selalu memperhatikan dengan takjub.

Dia sering menggambar segala hal tentang band rock Inggris, Queen. Mulai dari logo hingga gambar personilnya. Lewat dia, saya kemudian lebih mengenal Queen. Setiap bertandang ke tempat tinggalnya, saya mendengar lagu-lagu Queen dari tape-nya. Baca lebih lanjut

Soronger dan Peringatan 130 Tahun Jalur Cicalengka-Garut

CC50 (Sumber: world-railways.co.uk)

CC50 (Sumber: world-railways.co.uk)

“For the fifth time I would go from Tjitjalengka to Garoet, along the old postal road, witnessing so much horse suffering and traveler anxiety and sorrow;” (Bataviaasch Nieuwsblad, 1889)

Satu dari sekian banyak jalur kereta api mati yang akan dihidupkan kembali oleh pemerintah di sekitar tahun 2019 ini adalah jalur antara Cibatu dan Garut. Dahulu, Baca lebih lanjut

Satu Klan Ambon di Perkebunan Priangan

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

“Beta Pattirajawane
Yang dijaga Datu-datu
Cuma Satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan”

Cerita Buat Dien Tamaela- Chairil Anwar

Entah pada saat Ngaleut yang mana saya pernah membacakan puisi tadi. Namun saya ingat membacakan puisi itu ketika singgah di GOR Saparua, sebuah tempat yang cukup akrab bagi saya. Saat ngaleut itu, saya bercerita mengenai Saparua dan orang-orang dari Ambon atau lebih luasnya Kepulauan Maluku. Mereka datang dan hidup di Bandung.

Menurut pengasuh Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, adanya orang-orang dari berbagai suku bangsa dan salah satunya adalah mereka yang datang dari Kepulauan Maluku atau sering disebut dengan orang Ambon, ini membuktikan bahwa Bandung adalah sebuah skala kecil dari melting pot (kuali pembauran). Baca lebih lanjut

Menengok Bekas Kamp Internir di Pasar Andir

Oleh : Fauzan (@BandungTraveler)

Salah satu tempat di kota Bandung dengan banyak bangunan tuanya adalah Pasar Andir. Walaupun bangunan utama sudah dirombak dengan sentuhan modern yang kaku, kita masih bisa menyaksikan bangunan-bangunan sekitar yang masih tua nan dinamis. Bahkan beberapa di antara bangunan di sana, masih ada bangunan Baca lebih lanjut