Dongeng Bandung #28: Bandung Dulu dan Sekarang – Bagian-3

Irfan Pradana

_______ didongengkan di Perpustakaan Rasia Bandoeng _______

Betapa besarnya perubahan dan perbaikan yang terjadi sekarang. Namun, masa itu di sisi lain merupakan zaman yang ideal. Segalanya jauh lebih murah, setidaknya untuk barang-barang yang tidak perlu Anda beli dari toko.

Dua butir telur harganya satu sen, jika sedang mahal harganya satu duit atau 1 sen per butirnya; sepikul beras putih yang bagus harganya ƒ 2,50 hingga ƒ 3,— dan jika harganya naik menjadi ƒ 3,50, para ibu rumah tangga akan saling berbisik dan mengeluh: “Mahal sekali harga beras.” Ayam-ayam besar yang bagus harganya: 16,5 hingga 20 sen, dan semuanya menyesuaikan dengan perbandingan tersebut.

Upah seorang kuli dari pukul 6 pagi hingga 5 sore adalah 15 sen (dan mereka bekerja tanpa banyak tuntutan).

Ketika saya menikah lebih dari 30 tahun yang lalu, gaji bulanan saya adalah ƒ 50. Meskipun begitu, setiap sore saya masih bisa menikmati paitje (minuman gin pahit), segelas anggur di hari ulang tahun, hidangan yang layak di meja makan keluarga kelas menengah, dan masih bisa menabung 2 atau 3 rijksdaalder setiap bulannya.

Ya, zaman memang telah berubah, dan segalanya ikut berubah bersamanya.

Setiap tahun saat Lebaran, selalu diadakan sedoran (turnamen) di alun-alun, dengan berbagai macam permainan rakyat. Semua pejabat pribumi dari kabupaten datang ke Bandung, dan bersama mereka datang pula kerumunan orang banyak.

Malam harinya diadakan pesta dansa di Kabupaten, dengan makanan dan minuman yang melimpah, dan terbuka untuk semua orang. Ini adalah kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung secara materi untuk bersenang-senang setahun sekali, dan menebus kekurangan mereka. Maka tak heran, kesempatan ini benar-benar dimanfaatkan oleh banyak orang. Kembang api yang indah dan berlimpah pun dinyalakan saat itu.

Kiri: Lebaran di Bandung bersama Bupati Dalem Haji. Gambar scan koleksi Komunitas Aleut. Kanan: Kompleks Pendopo Bandung (sering juga disebut sebagai Kabupaten) yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan termasuk pesta dansa seperti yang diceritakan dalam artikel ini. Foto oleh KH Verschoor tahun 1911. Koleksi KITLV 155125.

Pagi harinya saat Lebaran sekitar pukul 9.30, Bupati, diikuti oleh para pejabat pribumi, berjalan dalam arak-arakan kebesaran menuju rumah Residen, untuk memberitahukan bahwa bulan puasa telah berakhir dan mengundang Residen untuk datang ke Kabupaten. Satu jam kemudian, Residen tampak berkendara ke sana, begitu pula semua pejabat Eropa dan warga sipil yang berkepentingan, mengenakan pakaian kebesaran (gala), dengan tujuan untuk memberi selamat kepada Bupati. Lambat laun tradisi ini memudar, dan kini sudah tidak ada lagi.

Pada Tahun Baru Eropa saat itu, selalu diadakan resepsi yang ramai di pagi hari di rumah Residen, dan pesta dansa (bal) di malam harinya.

Rumah Residen Priangan di Bandung. Foto diperkirakan dari tahun 1920 Koleksi KITLV 153472.
Kweekschool voor Inlandshe Onderwijzer di Bandung. Foto diperkirakan dari tahun 1920 Koleksi KITLV 11879.

Batas terluar kota Bandung tempat orang Eropa tinggal saat kami baru tiba waktu itu adalah: ke arah Merdika Toea (Merdeka Lama) Kweekschool (Sekolah Guru), ke arah Merdika Baroe rumah Asisten Residen, ke arah Cicendo rumah Residen, ke arah Timur kurang lebih di tempat Tuan Van Hien tinggal sekarang, ke arah Selatan gedung Bala Keselamatan di Jalan Lembang, dan ke arah Barat adalah Kantor Pos.

Di Merdika Lama saat itu hanya ada beberapa rumah pribumi, selebihnya adalah hutan dan sawah, sedangkan di Merdika Baroe semuanya berupa sawah.

Penerangan jalan (yang saat itu sinarnya sering disamakan dengan paku yang dibakar) baru kami dapatkan sekitar tahun 1881, melalui iuran bersama. Namun, jarak antar lentera minyak tanah itu sangat jauh, sehingga di antara dua lentera tersebut, Anda bisa saja dibunuh tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.

Jika Anda harus pergi ke Batavia, itu adalah sebuah peristiwa besar! Anda tentu tidak pergi hanya untuk bersenang-senang, karena itu adalah perjalanan yang sangat mahal. Ketika rencana kepergian itu diketahui, hal tersebut akan menjadi perhatian umum di kalangan warga sekitar.

Orang bisa melakukan perjalanan dengan karballon (kereta dos-à-dos atau sado belum ada saat itu), atau dengan kereta pos beroda dua. Orang menyewa kereta menuju Cianjur dengan tarif ƒ 20. Di Cianjur, ganti kereta lain menuju Buitenzorg (Bogor) dengan biaya yang sama. Dari Buitenzorg ke Batavia, orang sudah bisa naik kereta api (kereta api sudah beroperasi pada tahun 1874).

Pada rute tanjakan yang berat, seperti di Gunung Masigit, Puncak, dll., Anda harus ikut turun membantu mendorong kereta jika Anda ingin sampai ke tujuan. Bahwa setibanya di tujuan badan Anda kaku seperti papan, dan butuh waktu beberapa hari untuk mengembalikan kondisi tubuh Anda menjadi normal kembali, sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Saat kembali ke rumah, seruan pertama Anda pastilah: “Syukur kepada Tuhan, perjalanan itu sudah berlalu.”

Untuk perjalanan menggunakan kereta pos beroda dua, Anda harus memesan tempat duduk di Kepala Kantor Pos setidaknya dua hari sebelumnya, dan membeli tiket. Harganya 20 sen per pal. Jadi untuk ke Cianjur yang jaraknya 42 pal, harganya ƒ 8,40; ke Buitenzorg yang jaraknya 40 pal lebih jauh, harganya ƒ 8.

Kendaraan ini tidak memiliki atap pelindung (tenda), jadi jika turun hujan dan Anda ingin tetap kering, Anda harus membawa pelindung sendiri. Di depan kereta tersebut terdapat 2 ekor kuda, dan diganti secara estafet (flèche) di setiap pos (tiap 5 atau 6 pal, tergantung seberapa berat tanjakannya). Di tanjakan yang curam, sepasang kerbau dipasang di depan kuda-kuda tersebut, diikat dengan tali yang panjang dan berat ke kereta untuk membantu menarik. Penumpang biasanya kemudian memberikan tip kepada si kusir kerbau.

Sebagai penumpang, Anda akan duduk di sebelah kusir; sementara di belakang, berdiri di atas sebuah papan kecil, adalah si pelari (looper). Kusir dan pelari sama-sama dipersenjatai dengan cambuk raksasa, dan sang pelari juga memegang sebuah obor raksasa (flambouw), karena keberangkatan dari Bandung biasanya dilakukan pada malam hari sekitar pukul setengah sembilan atau setengah sepuluh.

Tiba di Cianjur sekitar pukul 3 hingga 3.30 pagi. Setelah urusan pos selesai yang memakan waktu sekitar setengah jam, perjalanan langsung dilanjutkan, karena surat-surat pos harus mencapai tujuan sesuai waktu yang ditentukan sebisa mungkin. Oleh karena itu, perjalanan ini sama sekali tidak lepas dari bahaya yang mengancam nyawa. Di jalan menurun yang curam, kusir benar-benar memacu kuda-kudanya berlari turun. Jika Anda menyadari bahwa pegangan tangan di sisi kereta hanya setinggi kira-kira 15 cm, dan jalannya sering kali penuh dengan batu-batu kerikil besar yang menggelinding, maka bisa dipahami bahwa sering kali butuh perjuangan luar biasa hanya untuk bisa tetap duduk di atas bantalan kursi Anda.

Sebagai bagasi, penumpang hanya diizinkan membawa sebuah koper kecil. Maka, setelah menyelesaikan perjalanan semacam itu—yang harus saya lakukan beberapa kali—ucapan “Syukur kepada Tuhan” sama sekali tidaklah berlebihan.

Kami saat itu belum memiliki pendeta atau pastor tetap. Jemaat kami dikunjungi satu atau dua kali setahun oleh para rohaniwan dari Buitenzorg atau Batavia. Pendeta tetap pertama kami adalah seorang pria liberal yang menyenangkan, dan ia tinggal di rumah yang hingga belum lama ini ditempati oleh Javasche Bank.

Menurut penulis artikel ini, sebelum ditempati oleh Hotel Preanger, bangunan ini adalah Toko Thiem dan sebelumnya lagi Toko Loheijde dengan bantuk bangunan yang berbeda dibanding yang tampak dalam foto ini. Hotel Preanger mulai beroperasi di sini sejak tahun 1897. Fotografer tidak diketahui, tahun 1901. Koleksi KITLV 5029.

Toko Thiem dulunya berdiri di tempat Hotel Preanger berada sekarang. Sebelumnya toko itu adalah Toko Loheijde. Bangunannya berupa rumah papan yang besar. Kemudian, setelah Tuan L. meninggal, bisnis dan persil tanah tersebut diambil alih oleh Tuan Thiem, lalu perlahan-lahan dibongkar dan diganti dengan bangunan tembok batu, seperti yang masih ada hingga sekarang.

Meskipun bahan makanan saat itu sangat murah, orang harus membayar mahal untuk minuman dan makanan kaleng dari Eropa. Sebotol bir, misalnya, harganya ƒ 1,50. Tentu saja ini karena semuanya harus didatangkan menggunakan gerobak (grobak), dan tidak jarang gerobak-gerobak tersebut menghabiskan waktu 10 hingga 12 hari di perjalanan.

Orang Tionghoa juga belum banyak saat kami pertama kali tiba. Pastinya tidak lebih dari 5 keluarga. Yang saya ingat adalah keluarga Oeij Bouw Hoen, Oeij Bouw Tjiang, dan Tam Long. Dua yang pertama adalah pedagang (yang anak-anaknya masih tinggal di Bandung sekarang) dan yang terakhir adalah seorang tukang kayu. Ia tinggal di jalan yang kini dinamai menurut namanya, kira-kira di sekitar lahan kosong di pertigaan Hospitaalweg (Jl. Lembong sekarang), Sumatrastraat, dan Tamblongweg. Nama asli pria tersebut sebenarnya adalah Tam Long, dan bukan Tamblong.

Jalan Tamblong pada tahun 1925. Foto koleksi KITLV 182415-1925.

Pada zaman dahulu, Bandung rutin diselimuti kabut pagi, kadang begitu tebal sehingga orang tidak bisa saling melihat dari jarak 5-6 langkah. Namun saya rasa itu lebih tepat disebut awan yang turun menyelimuti dataran. Jika orang berdiri di tempat yang tinggi, misalnya di jalan menuju Lembang, fenomena awan ini bisa terlihat jelas di pagi hari.

Karena banyaknya pembukaan lahan untuk perkebunan di sekeliling dan di pegunungan sekitar Bandung, pesatnya pembangunan di Bandung sendiri, serta bertambahnya jumlah penduduk, iklim Bandung telah banyak berubah; dulu suhu di Bandung jauh lebih dingin.

Kiri: Kartu pos bergambar Pieterspark Bandoeng tahun 1920. Dicetak oleh Vorkink. Koleksi KITLV 1400287. Kanan: Pieter Sijthoff, Asisten Residen Priangan dan kemudian menjadi Residen Semarang. Foto tahun 1904. Koleksi KITLV 2603.

Pieterspark (kini Taman Balai Kota) dirancang dan ditanami oleh Tuan Teuscher atas prakarsa Tuan P. F. Sijthoff. Karena di lokasi tersebut sebelumnya sempat dijadikan pasar selama kurang lebih satu setengah tahun, tanahnya menjadi sangat padat dan keras akibat sering diinjak, sehingga menumbuhkan tanaman di sana merupakan pekerjaan yang sangat berat. Taman tersebut diberi nama Pieterspark mengambil dari nama depan Tuan Sijthoff, yang menjabat sebagai Asisten Residen Bandung dan bertugas di sana selama sekitar 7 tahun. Dari Bandung, beliau kemudian dipindahtugaskan menjadi Residen di Semarang.

Tuan Sijthoff sangat populer di Bandung dan dicintai oleh para penduduk. Pohon-pohon besar dan tua di sepanjang jalan, seperti yang masih bisa Anda lihat di sepanjang jalan menuju Tegalega, adalah hasil penanaman yang diperintahkan oleh Tuan Sijthoff.

Bandung, oh Bandung… yang boleh dibilang saya kenal sejak ia masih “bayi”, dan telah saya lihat tumbuh menjadi “gadis jelita”, dengan lingkungan sekitarnya yang mempesona dan iklimnya yang sehat; tempat di mana saya menghabiskan masa muda saya, dan tempat di mana rambut saya memutih; tempat di mana saya telah melewati berbagai suka dan duka; Bandung, yang menyimpan begitu banyak kenangan berharga bagi saya, semoga engkau senantiasa makmur dan berjaya!

– T.

(Tamat)

Tinggalkan komentar