Alhta
_______ Didongengkan di Perpustakaan Bunga di Tembok dan Pabukon Rasia Bandoeng _______
Cukup sering saya mendengar orang merasa enggan melewati Jalan Kopo. Katanya, Kopo identik dengan jalanan yang padat, macet, panas, dan ruwet. Setiap kali berkenalan dan menyebutkan di mana saya tinggal, reaksi orang-orang umumnya mengaminkan kesan tersebut. Rasanya memang hanya orang-orang terpilih saja yang mampu bertahan menghadapi Kopo. Dan salah satu orang yang terpilih itu adalah saya. Sejak lahir, hingga dewasa kini saya masih tinggal di Kopo, tepatnya di Kampung Cilokotot.
Saya masih ingat bagaimana dulu Jalan Raya Kopo penuh lubang, terutama di bagian Jadek (Jalan Dengdek). Dengdek dalam bahasa Indonesia artinya miring. Jalan penghubung kawasan Sayati dan Margahayu ini memang memiliki kontur miring, maka dari itu setiap hujan besar turun, apalagi bila cukup lama, bisa dipastikan Jadek akan tergenang oleh banjir. Itu adalah satu dari sekian banyaknya tantangan yang saya hadapi sebagai warga Kopo.
Namun di balik kesan semrawut itu, Kopo menyimpan banyak cerita bagi saya.
Rumah keluarga saya merupakan warisan dari Enin (Nenek) dan Aki (Kakek). Rumah itu dibangun pada tahun 1987, setelah mereka pensiun dan pindah dari Ciwidey ke Kopo. Saya masih menyimpan foto rumah itu ketika dulu belum memiliki pagar. Kata Abah (Ayah), saat itu rumah kami berada di tengah sawah. Tetangga hanya ada dua rumah dan jaraknya pun berjauhan. Sekitar 200 meteran dari rumah masih terdapat kebun pisang, singkong, dan rumpun bambu yang lebat.

Rumah keluarga di Kopo. Foto koleksi Alhta.
Sebenarnya Umi (Ibu) adalah orang yang paling mengenali keadaan kampung ini pada masa lalu karena beliau lahir dan besar di sini. Umi pernah bercerita tentang masa kecilnya sekitar tahun 1983. Saat hendak pergi mengaji ke masjid pada malam hari, ia dan teman-temannya harus menunggu rombongan bapak-bapak yang berjalan sambil membawa obor. Waktu itu belum ada listrik dan jalanan masih berupa tanah. Di sekitar kampung hanya ada kebun dan sawah. Setiap pagi udara dipenuhi embun. Saya membayangkan betapa gelap, sunyi, dan dinginnya kampung ini pada masa itu.
Meski gelap dan sunyi, menurut Umi, zaman dulu justru lebih menyenangkan. Saya mulai memahami maksudnya ketika mengingat masa kecil saya. Hampir setiap hari saya bermain di sawah. Karena terlalu sering bermain di sana, saya bahkan bisa berjalan di pematang tanpa harus melihat ke bawah. Saya akrab dengan tutut (keong sawah) dan genjer. Setiap musim panen tiba, saya dan teman-teman membawa kantong plastik besar untuk mencari tutut dan genjer di sawah. Hasilnya kami bawa pulang untuk dimasak Umi, lalu kami makan bersama.
Pada waktu itu, pembajakan sawah sudah dilakukan oleh traktor, suaranya selalu terdengar dari petak-petak sawah. Saya dan teman-teman sering ikut mendorong traktor milik petani. Dulu saya pikir kami sedang membantu, meskipun sekarang saya sadar mungkin justru mengganggu pekerjaan mereka. Namun, para petani tidak pernah marah kepada kami.
Saat itu juga masih banyak lapangan luas tempat kami bermain. Rumah saya posisinya paling ujung. Di samping kiri dan belakang rumah masih merupakan bentangan sawah.
Sekarang semuanya berubah. Sawah sudah tidak terlihat lagi, bahkan juga dari loteng rumah. Kampung saya dipenuhi rumah-rumah yang berdempetan. Gang menjadi semakin sempit dan penduduk semakin banyak. Di sepanjang jalan raya berdiri ruko-ruko baru. Lapangan tempat bermain pun menghilang.
Belakangan ini, rumah saya juga mulai kebanjiran saat hujan deras turun, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi. Mungkin benar kata Umi, zaman dulu memang lebih enak.
Kadang saya menerawang membayangkan rupa Kopo pada masa yang lebih jauh sebelum saya dan Umi lahir, sebelum zaman yang kata Umi lebih enak itu. Sebelum jalanannya dipenuhi kendaraan, sebelum ruko-ruko berdiri rapat di pinggir jalan raya, sebelum orang-orang mengenal Kopo sebagai daerah yang macet dan panas.
Saat mencoba menelusuri masa lalu Kopo, saya baru sadar bahwa Kopo memiliki kisah yang jauh lebih panjang daripada yang pernah saya bayangkan. Nama Kopo pun ternyata jauh lebih tua daripada yang saya duga. Penelusuran tentang sejarah Kopo juga pada akhirnya membawa saya pada penemuan nama kampung saya sendiri: Cilokotot, yang ternyata dulu digunakan juga sebagai nama sebuah distrik di dalam Kabupaten Bandung.
Informasi tersebut saya dapatkan ketika melakukan pencarian mengenai asal-usul Kopo sebagai nama wilayah. Saya menemukan sebuah arsip menarik berupa peta tua berjudul Regentschap Bandong yang dibuat sekitar tahun 1815-1819 oleh JT Bik. Peta itu masih berupa gambaran dan tulisan tangan, dibuat pada masa pergantian pemerintahan Hindia Belanda dari Thomas Stamford Raffles ke periode van der Cappelen.
Pada masa itu, Raffles memperkenalkan pembagian wilayah yang disebut karesidenan. Pulau Jawa dibagi menjadi beberapa karesidenan, salah satunya Karesidenan Priangan yang di dalamnya terdapat Kabupaten Bandung. Kopo – yang dalam peta ini ditulis Coppo – merupakan salah satu distrik di Kabupaten Bandung, bersama dengan 17 distrik lainnya: Bandong, Timbanganten, Cikembulan, Majalaya, Cipeujeuh, Rajamandala, Bayabang, Cihea, Dangdeur, Cipicung, Cicalengka, Limbangan, Banjaran, Cisondari, Cimahi (dan Ujungberung), Rongga, dan Cilokotot. Distrik Kopo berbatasan dengan Distrik Banjaran, Distrik Cisondari, Distrik Rongga, dan Distrik Cilokotot.

Saya masih kesulitan menerawang ke masa lalu yang jauh itu. Nama yang hari ini terdengar biasa saja itu, ternyata sudah hidup sejak masa awal pemerintahan Hindia Belanda. Usia peta yang saya lihat itu sudah lebih dari 200 tahun, dan sangat mungkin nama Kopo sudah ada juga pada masa sebelumnya.
Benar saja. Salah satu hasil dari pencarian saya itu menemukan buku berjudul Priangan karangan F. de Haan. Bukunya ada empat jilid dan terbit antara tahun 1910-1912. Dalam salah tu halaman itu saya lihat bahwa nama Kopo sudah disebut sejak tahun 1739 dan belum tentu juga itu adalah pertama kalinya disebut. Buku De Haan ini juga menyebutkan bahwa nama Kopo itu berasal dari nama pohon sejenis jambu air yang sering disebut sebagai jambu kopo.
Saya baru tahu ada jenis jambu ini dan sayang sekali belum pernah mencobanya. Sebagian orang juga menyamakan jambu kopo dengan jambu mawar, konon buahnya sangat harum dan rasanya sangat manis. Tapi kenapa ya nama pohon jadi nama daerah? Apakah dulu di kawasan ini dipenuhi pepohonan jambu kopo hingga akhirnya namanya melekat menjadi nama kampung dan wilayah yang terus bertahan sampai sekarang?

dan https://id.wikipedia.org/wiki/Klampok_(tumbuhan))
KOPO, KOPI DAN KUDA
Dari buku yang sama, ada lagi satu catatan lain yang membuat saya terpukau, yaitu sebuah catatan dari tahun 1807 yang menyebutkan Kopo merupakan salah satu wilayah perkebunan kopi. Jadi, daerah tempat saya tinggal ini ternyata pada 200 tahun yang lalu merupakan perkebunan kopi? Katanya, Saat itu Distrik Kopo diwajibkan menyerahkan hasil kopi sebanyak 800 pikul pada Pemerintah Kolonial. Untuk mendistribusikannya, Distrik Tjisondari harus menyediakan 400 hewan kuda atau kerbau untuk pengangkutan. Dari angka itu bisa kita bayangkan bahwa kawasan yang sekarang dipenuhi kendaraan dan bangunan padat ini dulu pernah menjadi hamparan perkebunan kopi yang luas.
Pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 itu Distrik Kopo dan Tjisondari juga sudah dikenal sebagai kawasan peternakan kuda. Dalam arsip sekitar tahun 1804 bahkan disebutkan bahwa para bupati di wilayah ini memiliki banyak kuda, termasuk kuda ras Persia yang dipelihara di padang rumput luas. Sementara pada tahun 1903, surat kabar Preanger-bode juga menyebut Kopo dan Bandjaran sebagai daerah penghasil kuda dan gerobak kayu bakar.
Saat membaca catatan itu, saya langsung teringat pada Manglid, kampung yang sangat dekat dengan rumah saya. Hampir setiap hari saya melewati Jalan Manglid. Sampai sekarang, kuda masih menjadi pemandangan yang akrab di sana. Kadang saya melihat kereta kuda atau delman terparkir di garasi rumah warga, bahkan di pinggir jalan. Di tengah padatnya kendaraan dan perumahan, keberadaan kuda-kuda itu terasa seperti sisa kecil dari masa lalu yang masih bertahan.

Saat mendengar cerita itu, saya merasa seperti menemukan sambungan kecil antara arsip lama dan kehidupan hari ini. Apa yang tertulis di buku-buku lama dan koran-koran masa kolonial itu ternyata masih meninggalkan jejak di kampung saya sendiri. Jadi, mungkin itulah alasan kenapa sampai sekarang Manglid masih akrab dengan kuda dan delman. Bagi sebagian warga, kuda bukan sekadar alat transportasi atau hiburan, tetapi bagian dari warisan panjang yang hidup bersama sejarah Kopo.
__________________________________
Pada tahun 1887, seorang penulis Inggris menulis catatan perjalanan yang dimuat di Java-bode. Dalam tulisannya, Kopo digambarkan sebagai desa besar dengan jalan kerikil sempit yang diapit pohon waru dan pohon turi yang membungkuk. Kopo menjadi jalur perjalanan menuju Telaga Patengan dan Kawah Ciwidey. Saat membaca bagian itu, saya kembali pada bayangan suasana Kopo yang gelap, sunyi, dingin, dan rindang oleh pepohonan.
Ada satu nama tempat yang membuat saya tersenyum ketika membacanya: Palgenep. Nama itu ternyata sudah disebut sejak tahun 1887 dan masih digunakan hingga sekarang. Rasanya aneh sekaligus menarik mengetahui bahwa nama yang sering saya dengar sehari-hari ternyata sudah hidup sejak ratusan tahun lalu.
Pada awal abad ke-20, kehidupan di Kopo tampaknya semakin ramai. Sebuah berita tahun 1903 menyebut jalan menuju Pengalengan dan Kopo dipenuhi pedagang Tionghoa yang mencegat para penjual hasil bumi. Terbayangkan suasana jalanan saat itu: gerobak berlalu-lalang, hasil kebun dibawa turun dari pegunungan, lalu para pedagang menunggu di pinggir jalan untuk membeli hasil panen masyarakat.
Lalu pada tahun 1912, sekolah pertanian desa pertama di Priangan dibuka di Soreang, yang saat itu merupakan ibu kota Distrik Kopo. Sekolah tersebut bernama dessa-landbouwschool. Seperti apa ya suasana belajarnya anak-anak muda pada masa itu? Mereka belajar bertani secara modern di tengah hamparan sawah dan perkebunan. Katanya, sekolah itu bertahan hingga tahun 1918 setelah meluluskan 732 siswa. Mungkin setelahnya dipindah ke Bogor.
Di masa yang hampir bersamaan, muncul pula rencana besar yang perlahan mengubah wajah Kopo: pembangunan jalur kereta api.
Sejak tahun 1897 sudah ada usulan membuka jalur kereta menuju Kopo untuk mengangkut hasil kina dari wilayah selatan ke Bandung. Saat itu kebutuhan kina dunia sedang sangat tinggi. Namun usulan itu baru disetujui pada tahun 1916, lalu jalur mulai dipetakan dari Cikudapateuh menuju Banjaran dan Kopo. Yang menarik, stasiun akhir saat itu disebut dengan dua nama sekaligus: Kopo dan Soreang.
Pada akhirnya, tahun 1921 jalur kereta Bandoeng-Kopo resmi dibuka. Sebuah buku kenangan dibuat untuk peresmian pembukaan jalur tersebut. Membuka jalur kereta api ke Kopo tentulah bukan ide asal-asalan, apalagi biayanya sangat besar. Salah satu nilai penting itu adalah posisi Kopo untuk kawasan perkebunan yang sangat luas di sebelah selatan yang kemudian hari juga menjadi salah satu tujuan utama wisata yang menarik banyak kunjungan, terutama untuk ke Kawah Putih dan Gunung Patuha, juga ke Situ Patenggang. Dalam hal pemandangan di kawasan itu, sudahlah, tidak ada bandingannya. Sejak itu lebih banyak lagi orang berdatangan, kegiatan ekonomi tumbuh dengan cepat, jalanan pun semakin ramai dan semakin banyak percabangnya.
Kehidupan yang lebih ramai itu ternyata juga selalu datang bersama perubahan lain. Surat kabar periode itu mulai dipenuhi berita kriminal di sekitar jalur Kopo. Saya jadi sadar, bahkan sejak dulu, perkembangan sebuah daerah selalu membawa dua sisi: kemajuan sekaligus keruwetan baru.
Pada tahun 1922, Rumah Sakit Immanuel yang sebelumnya berada di Kebonjati dipindahkan dan dibuka di Kopoweg. Nama “Kopoweg” sendiri menarik perhatian saya. Jalan panjang yang dulu lebih bermakna sebagai “jalan menuju Kopo,” perlahan berubah menjadi jalan utama yang memiliki identitas sendiri.
Sedikit demi sedikit perkebunan hilang, sudah bergeser ke sebelah selatan yang bergunung-gunung dan yang sudah dikembangkan untuk perkebunan teh dan kina.
Kopo berubah total. Jalan diperbaiki, saluran irigasi dibangun, pusat kegiatan mulai bergeser ke Soreang yang saat itu sudah semakin ramai. Bahkan pernah terjadi konflik tambang emas antara penduduk setempat dengan pihak yang telah mendapat izin resmi.
Semakin banyak saya membaca, semakin saya merasa bahwa Kopo bukan sekadar tempat biasa yang kebetulan jadi tempat tinggal saya. Di balik jalanannya yang macet hari ini, ternyata ada rangkaian perjalanan yang panjang: perkebunan kopi, peternakan kuda, pusat pembuatan gerobak angkut, jalur perdagangan, rel kereta api, transit hasil perkebunan kina, sekolah pertanian, hingga perebutan lahan tambang yang bahkan masih sering berlangsung sampai sekarang.
Setelah Jepang berhasil merebut wilayah pertahanan terakhir Hindia Belanda di Bandung, mereka membangun lapangan udara di lahan terbuka Kopo. Pembangunannya dimulai sekitar tahun 1943 dan mulai dapat digunakan pada pertengahan 1945. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi sawah dan perkebunan tiba-tiba berubah menjadi wilayah strategis militer. Suara pesawat yang mulai terdengar di langit Kopo, mulanya terasa sangat asing pada masa itu, tapi tak lama kemudian sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Setelah masa revolusi, lapangan udara tersebut sempat terbengkalai, namun pemerintah Indonesia kemudian membangunnya kembali dan selesai pada tahun 1954 dengan nama Pangkalan Udara Margahayu. Pangkalan udara ini juga menjadi saksi untuk Tuti Gartini yang pada 8 Agustus 1962 menjadi perempuan Indonesia pertama terjun dengan parasut di atas Pangkalan Udara Margahaju. Sejak 30 Agustus 1966, namanya berubah menjadi Pangkalan Udara Sulaiman. Hingga kini Pangkalan Udara Sulaiman masih ada dan bisa dikunjungi, bahkan saya sering memasuki kawasan tersebut untuk sekadar berolahraga.
Lagi-lagi saya merasa bahwa Kopo menyimpan cerita yang jauh lebih panjang dan lebih banyak daripada yang terlihat hari ini. Kadang saya jadi bertanya-tanya, apakah orang-orang yang sekarang terburu-buru melewati Jalan Kopo tahu bahwa jalan yang mereka lewati setiap hari sebenarnya menyimpan cerita yang begitu tua?
Semakin banyak membaca catatan lama tentang Kopo, saya justru menyadari bahwa wilayah Kopo pada masa lalu sebenarnya lebih mengarah ke selatan. Nama Kopo tidak hanya merujuk pada jalan yang sekarang identik dengan kawasan kota Bandung, tetapi juga mencakup wilayah-wilayah seperti Margahayu, Sayati, Bihbul, Manglid, Katapang, Soreang, hingga Cisondari.
Bahkan kalau melihat catatan sejarahnya, justru kawasan Jalan Kopo yang mengarah ke pusat Kota Bandung terhitung lebih baru dibanding wilayah selatannya. Sejak dulu nama Kopo selalu hidup, baik sebagai sebuah distrik tersendiri, sebagai jalur perkebunan, atau sekadar sebagai lintasan menuju Ciwidey dan wilayah selatan Priangan di masa sekarang.
Mungkin karena sekarang pusat kota semakin berkembang, banyak orang mengira Kopo hanya sebatas kawasan Jalan Kopo yang dekat ke arah Bandung kota. Padahal, dari berbagai catatan kolonial yang saya baca, justru wilayah selatanlah yang sejak dulu banyak disebut sebagai bagian dari Distrik Kopo.
Saya jadi teringat sebuah kejadian saat kuliah. Waktu itu seorang teman bertanya rumah saya berada di Kopo sebelah mana. Saya menjelaskan bahwa rumah saya berada di Kopo Margahayu, dekat Lapangan Udara Sulaiman. Namun ia langsung menjawab, “Itu mah bukan Kopo.” Saat itu saya hanya bisa diam. Saya tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Bahkan saya tidak kepikiran untuk sekadar menunjukkan KTP saya yang beralamat di Jalan Terusan Kopo.
Sekarang, setelah membaca berbagai arsip dan catatan lama, saya baru memahami bahwa kebingungan itu mungkin muncul karena orang-orang hanya mengenal Kopo dari jalan rayanya saja, bukan dari sejarah wilayahnya.
Jadi kalau sekarang masih ada yang bilang bahwa Bihbul, Sayati, Margahayu, Manglid, Katapang sampai Soreang bukan bagian dari Kopo, mungkin saya tidak perlu banyak berdebat. Cukup menunjukkan catatan-catatan lama ini saja, bahwa nama Kopo sudah hidup dan mencakup wilayah selatan jauh sebelum kota berkembang seperti sekarang.
*****