Teras Braga

Sabtu Sore (8/8) itu, saya mengunjungi Jalan Braga. Seperti biasa, suasana jalan cukup ramai dipadati para wisatawan yang mengambil foto di sana. Tidak ada yang banyak berubah di sana, kecuali ada pembangunan kecil di mulut Gang Cikapudung. Gang ini sering saya lewati, karena menjadi akses masuk ke Kampung Cibantar, tempat paman dan bibi saya tinggal.

Foto: Deuis Raniarti, Komunitas Aleut.

Karena merupakan pemandangan yang tidak biasa, saya membuat beberapa foto, terutama foto pembangunan “Teras Braga” yang terletak di mulut Gang Cikapundung. Dari pedagang lukisan yang saya kenal dan biasa membuka kiosnya di mulut gang, pembangunan teras dua lantai tersebut sudah memasuki bulan ke 9. Keterangan ini sesuai dengan berita di Pikiran Rakyat yang menyebutkan bahwa pembangunan Teras Braga dimulai November 2019. (https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/pr-01321291/butuhkan-dana-rp-600-juta-pembangunan-teras-braga-dimulai-november-2019).

Untuk mengetahui apa yang terjadi, saya menuju rumah paman dan bibi saya yang ada di Kampung Cibantar. Karena akses Gang Cikapundung tadi tertutup, saya melewati gang di sebelah Kopi Toko Djawa dan menelusuri Kampung Afandi sebelum berbelok dan sampai di satu rumah tua peninggalan tahun 1930-an di Kampung Cibantar.

Menjelang senja itu, kami mulai berbincang seputar keluarga dan Idul Adha yang baru lalu. Tentu saja, perbincangan banyak hal ini ditemani oleh secangkir kopi. Dalam percakapan, saya mulai menyinggung tentang pembangunan di mulut Gang Cikapundung. Dengan cukup antusias, paman saya bercerita. Menurutnya, pembangunan itu didanai oleh program CSR dari satu perusahaan dan sudah mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat, walaupun sempat mendapat penolakan dari tokoh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bandung, tapi paman saya tidak menyebutkan nama.

Paman saya berpendapat, penolakan ini tidak berpengaruh karena masyarakat mendukung adanya perubahan tersebut. Karena didorong oleh kepentingan masyarakat itulah, paman saya bersama panita yang disebut panitia 8 mempertahankan argumennya dan mendukung renovasi di sana. Pembelaan atas kepentingan masyarakat ini juga dilakukannya saat mempertahankan Gang Afandi yang akan “ditutup” beberapa waktu lalu. Dalam kejadian tersebut, masyarakat setempat tidak setuju jika gang yang mempunyai sejarah panjang di Braga ini ditutup oleh pengusaha. Mereka melakukan perlawanan untuk mencegah penutupan, dan usaha ini berhasil sehingga gang tersebut masih bisa diakses sampai sekarang.

Sebagai orang yang lahir di Kampung Cibantar, ada keterikatan batin yang kuat antara paman saya dengan Braga. Beberapa perubahan di Braga diingatnya sebagai memori yang mengganggu. Pria yang mempunyai 4 orang anak ini memberi contoh bagaimana Pelmorin (begitu beliau mengejanya), satu tempat peninggalan perusahaan distributor mobil bernama Fuch en Rens disulap menjadi Braga City Walk. Selain itu, dia menyayangkan kehancuran bangunan peninggalan toko bunga Abundantia yang disulap menjadi akses jalan menuju Hotel Gino Feruci. Dengan begitu bagi paman saya, pelindungan cagar budaya adalah perlindungan pada bangunan-bangunan saja.

“Cagar Budaya itu bangunan, bukan gang. Di manapun, satu gang tidak ada yang jadi cagar budaya sampai dilarang untuk diubah. Kami kan hanya mengubah bentuknya saja tanpa mengubah fungsi gang. Kasus ini berbeda dengan rencana penutupan total Gang Afandi. Di kasus itu, gak ada pihak TACB yang membantu,” ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan di mulut Gang Cikapundung ini sudah sesuai dengan semangat penetapan Kampung Braga sebagai kampung wisata. Menurutnya, perubahan yang sedang dilakukan ini bisa membuat mulut gang Cikapundung menjadi etalase dan memberikan citra positif kepada Jalan Braga dan warga yang ada di dalam.

“Bisa dibanyangkan, sebelumnya ada beberapa toko dan warung makan. Keberadaan tempat tersebut sangat kumuh dan terasa sempit jika para pelanggan memenuhi warung makan di sana. Pembangunan ini menjadi solusi, karena warung-warung akan dipindahkan ke lantai atas, sedangkan lantai bawah tetap berfungsi sebagai jalan,” jelasnya.

Karena malam larut, saya berpamitan pulang. Saya kembali menyusuri perkampungan dan keluar ke Braga melewati gang yang sama.

Percakapan ini membuat saya merenungkan beberapa hal. Pertama, sepertinya masyarakat sekitar Braga belum menyadari bahwa daerah tempat tinggal mereka sudah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya dan tentang apa definisi Kawasan Cagar Budaya.

Masalah ini muncul karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang cagar budaya secara lebih lengkap. Misalnya, menurut UU Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, sudah jelas bahwa cagar budaya tidak hanya merupakan dengan bangunan saja, tapi juga benda, struktur, situs, dan kawasan, seperti halnya Kawasan Braga.

Apakah masalahnya ada dalam sosialisasi? Tanpa sosialisasi yang memadai, kasus seperti ini akan terus saja terjadi di sekitar kita.

Lalu, sebetulnya bagaimana seharusnya atau apa yang harus dilakukan ketika kita atau warga akan membuat perubahan-perubahan di dalam kawasan cagar budaya?

Satu hal lagi, dengan masalah ini, konsistensi pemerintah dalam memperhatikan cagar budaya di Bandung menjadi taruhan. Ketidakkonsistenan bisa membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat berkurang.

Akhirnya, ini menjadi tugas bersama antara pemerintah dan TACB untuk memberi pengetahuan supaya pemahaman masyarakat akan cagar budaya bisa meningkat dan berimbas pada meningkatnya kesadaran mereka terhadap lingkungan sekitar. Hal ini bahkan bisa menjadi semacam sinergi antara pemerintah, TACB, dan warga untuk bisa memelihara dan mempertahankan cagar budaya, termasuk melestarikan Kawasan Braga sebagai Kawasan Cagar Budaya di Kota Bandung.

***

Ditulis oleh:Hevi Fauzan, Komunitas Aleut, Manajer Konten di Simamaung.com, Sertifikasi Tim Ahli Cagar Budaya 2019 dari Provinsi Jawa Barat. Hevi Fauzan dapat dihubungi via akun Ig dan twitter @pahepipa.

Manusia, Wabah, dan Pengulangan Sejarah

Menyebarnya wabah Covid 19 di Indonesia dan negara-negara lain melengkapi keberadaan wabah-wabah yang pernah ada dalam sejarah kehidupan manusia. Di satu sisi, kehidupan sosial membuat manusia bisa saling berinteraksi. Di sisi lain, interaksi antar tubuh manusia membuat penyakit dengan mudah bisa menular antar tubuh manusia. Banyak dari wabah ini membuat manusia jatuh sakit bahkan menelan banyak korban nyawa manusia.

Namun, gelombang datangnya wabah-wabah ini tidak membuat manusia musnah, malah membuat mereka bertahan dan berkembang menjadi spesies yang lebih baik. Manusia berhasil menerapkan usaha-usaha untuk mencegah menyebar wabah-wabah ini, bahkan menemukan vaksin-vaksin yang berhasil menjinakkan sumber wabah sehingga tidak menjadi ancaman kembali.

Selain vaksin, kesadaran manusia untuk memperhatikan kesehatan diri dan lingkungannya menjadi kunci keberhasilan mereka menundukkan wabah-wabah yang beberapa kali tercatat dalam sejarah.

Ketika Kutu Tikus Menyerang Eropa

Sumber gambar: Wikipedia

Dalam catatan, wabah besar pertama yang menyerang manusia adalah Pleague of Justinian. Wabah ini terjadi di Eropa bagian tenggara, tepatnya di kerajaan di antara tahun 542 M. Merujuk pada nama raja Kekaisaran Romawi Timur yang bernama Justianian I. Wabah ini disebabkan oleh bakteri yang berinang pada tubuh kutu-kutu tikus, Yersinia Pestis.[1]

Tikus-tikus ini diyakini terbawa dari lumbung-lumbung gandum di daerah Mesir. Di zaman tersebut, daerah subur ini ada di bawah kekuasaan kekaisaran setelah berabad-abad lama ada di bawah aturan para Firaun. Mesir merupakan daerah yang cukup subur karena ditopang oleh pengairan dari Sungai Nil.

Sumber gambar: The British Museum

Dalam penelitian terbaru tentang sejarah kedatangan wabah ke Eropa, kawasan Afrika Utara diyakini menjadi tempat wabah-wabah ini berasal. Ini dikatakan oleh Joseph Hinnebusch, Microbiologis dari Rocky Mountain Laboratories di Hamilton, Montana.[2]

Tikus sudah tinggal di Mesir beberapa abad lamanya. Binatang pengerat ini terkenal dengan nama dan bersarang di tepian Sungai Nil. Ketika sungai mengalami pasang, tikus-tikus ini naik ke tempat yang lebih tinggi. Ini membuat tikus-tikus melakukan kontak dengan orang Mesir Kuno yang hidupnya sangat tergantung akan keberadaan sungai yang berhulu di Danau Victoria ini.

Keberadaan wabah di Mesir kuno yang diakibatkan oleh tikus-tikus diperkuat oleh pernyataan Eva Panagiotakopulu , arkeolog, Ahli fosil serangga di Inggis.[3]

Satu hal yang menyelamatkan orang Mesir Kuno dari ancaman wabah adalah keberadaan kucing-kucing di sekitar manusia. Kucing-kucing ini berhasil mereka jinakkan dan pelihara untuk menjadi penjaga dari ancaman ular dan tikus-tikus. Bahkan, kucing menjadi salah satu hewan yang suci di masa Mesir Kuno. Dewa Bast digambarkan sebagai dewa yang mempunyai kepala kucing. Selain itu, beberapa kucing dimumifikasi saat mati atau untuk menemani majikannya yang meninggal.

Akibat kedekatan manusia dengan kucing, tikus-tikus di masa Mesir Kuno hidup terpisah dari manusia. Mereka salah satunya hidup di dekat persediaan makanan atau lumbung-lumbung gandum. Dari lumbung-lumbung inilah, tikus-tikus ini terbawa ke Kerajaan Romawi Timur dan menjadi sebab mewabahnya penyakit Justinian Pleague.[4]

Wabah, Kutukan Tuhan, dan Karantina

Sumber gambar: devastatingdisasters.com

Ketika wabah menyerang Kerajaan Byzantium Timur, orang-orang belum mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Mereka belum menyadari keberadaan bakteri yang ada di tubuh-tubuh tikus sebagai penyebab terjadinya wabah. Sebagian orang mencoba menyembuhkan diri dengan pemandian air dingin, bubuk “diberkati” oleh orang-orang suci, jimat dan cincin ajaib, dan berbagai obat lain. Sebagian lagi berusaha untuk menyembuhkan diri dengan datang ke pusat kesehatan dan melakukan isolasi.

Keadaan serupa terjadi saat wabah serupa datang di Eropa di antara tahun 1347 – 1351. Orang-orang yang menganggap bahwa wabah merupakan kutukan dari Tuhan melakukan ritual-ritual menyakiti diri sendiri. Hal ini dilakukan supaya tuhan mengampuni mereka dengan cara menghilangkan wabah tersebut. Wabah ini terkenal dengan nama Black Death. Selain membawa kematian, ada bekas hitam yang tersisa di beberapa bagian tubuh korban. Wabah ini memakan korban sekitar 75 – 200 juta jiwa di Eropa.[5]

Sumber gambar: cdn.britannica.com

Berbeda dengan Justinian Pleague yang datang dari arah Afrika Utara, wabah Black Death muncul dari arah timur, termasuk karena invasi orang-orang Mongol. Pada tahun 1347, pasukan Mongol menyerang satu markas dagang Genoa di Kaffa, Crimea, tepi Laut Hitam. Kota Kaffa dilindungi oleh benteng yang kokoh dan sangat sulit untuk ditaklukan. Di sisi lain, pasukan Mongol sedang diserang oleh wabah baru yang menyebabkan banyak kematian di pasukan mereka. Karena sulit untuk merebut kota tersebut, pasukan Mongol menyerah dan mereka melempar mayat-mayat teman mereka yang meninggal karena wabah ke dalam benteng, sebelum meninggalkan Kaffa. Orang-orang Kafa yang bepergian ke luar ikut menyebarkan wabah ini, termasuk ke Italia. Dalam waktu 5 tahun, wabah ini menyapu daratan Eropa dan Kepulauan Inggris.[6]

Sumber gambar: Wikipedia

Salah satu cara untuk menghentikan wabah ini adalah karantina. Kata ini muncul ketika para pelaut yang berlabuh di pelabuhan Venesia harus diisolasi selama 40 hari di Pulau bernama Lazzaretto Vecchio sebelum bisa berlabuh.[7] Dari peristiwa inilah, muncul kata karantina yang sekarang berarti proses penampungan manusia di lokasi yang jauh dari masyarakat.

Adanya Wabah Justinian dan Back Death memunculkan inovasi pakaian bagi para dokter wabah di abad 17. Mereka menganggap pakaian ini akan melindungi mereka dari kemunculan wabah ini kembali. Namun, pendapat ini dibantah oleh sejarawan Frank M. Snowden yang mengatakan, pakaian dan metode dokter wabah tidak membuat banyak perbedaan. Strategi terapi para dokter wabah modern awal tidak banyak membantu memperpanjang hidup, meringankan penderitaan, atau memberi efek penyembuhan. Snowdeng menambahkan, dokter wabah mungkin telah segera dikenali, tetapi sampai munculnya teori kuman penyakit dan antibiotik modern, kostum mereka tidak memberikan perlindungan nyata terhadap penyakit.[8]

Flu, Wabah Impor dari Amerika

Sumber foto: National Museum of Health

Setelah beberapa abad lamanya tidak terserang wabah besar, Eropa kembali dilanda wabah di awal abad 20. Wabah ini berasal dari serdadu Amerika di masa Perang Dunia Pertama (PD I), yang mendapat perawatan di Perancis pada Mei 1918.

Wabah ini merupakan wabah yang paling berbahaya dalam sejarah wabah yang menyerang dunia termasuk Hindia Belanda. Karena penyebarannya yang sangat cepat, sekitar 50-100 juta orang meninggal dalam kurun waktu dua tahun saja. Karena menyebar dengan cepat dan menimbulkan banyak korban, penyakit ini disebut sebagai ibu dari segala macam pandemik.[9]

Wabah ini disebut sebagai flu Spanyol karena negara ini secara terang-terangan memberitakan keberadaan flu ini kepada pers. Di PD I, Spanyol merupakan salah satu negara netral. Sementara, negara lain yang sedang berperang dan tidak mau memberitakan keberadaan wabah ini karena tidak ingin menganggu psikologis dan moral pasukannya di medan perang. Uniknya, orang Spanyol sendiri menyebut wabah ini sebagai flu Perancis.

Pagebluk, Kolera, dan Roh Jahat

Di Indonesia, wabah juga terkenal dengan istilah pagebluk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pagebluk merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya wabah (penyakit); epidemi. Di masa lalu, masyarakat menganggap pagebluk sebagai kiriman dari roh jahat Ini disebabkan ilmu kedokteran yang belum maju seperti sekarang. Karena menganggap sebagai kiriman dari roh jahat, orang-orang di Hindia Belanda melakukan metode pengusiran roh jahat saat terjangkit wabah berbahaya.

Di masa kolera yang menyerang di antara abad 19 dan awal abad 20, warga muslim, misalnya, percaya penyakit ini bisa disembuhkan oleh “air suci” yang sudah ditiupi doa oleh kiai. Sebagian lainnya mengadakan ritual massal pengusiran pagebluk. Sementara itu, di kalangan orang Cina muncul kebiasaan memanggil barongsai untuk berkeliling Pecinan jika terdapat ancaman wabah kolera. Mereka percaya bahwa setan penyebar kolera takut pada barongsai.

Catatan lama tentang kolera ditulis oleh dokter VOC, Jacobus Bontius yang tiba di Hindia Belanda pada tahun 1627. Selain Kolera, dokter Bontius mencatat beberapa penyakit lainnya di Batavia seperti beri-beri, tetanus, disentri, lepra, cacar, dan malaria. Keadaan ini disebabkan karena kondisi Batavia yang sangat tidak sehat. Orang-orang bahkan menjuluki Batavia sebagai kota yang tidak menyehatkan.

Kondisi Batavia yang tidak menyehatkan mempermudah perkembangan kolera yang berkembang menjadi pandemi di India. Sebanyak 125 ribu jiwa melayang di Hindia Belanda di tahun 1921 atau dua tahun setelah pemerintah menerima laporan keberadaan wabah ini di Penang dan Malaka. Wabah ini menyebabkan pemerintah melakukan karantina bagi mereka yang bepergian ke luar negeri, termasuk para jemaah haji.

Perjalanan panjang kolera di Hindia diakhiri setelah pemerintah menemukan kuman kolera dan membentuk Jawatan Intelejen Kolera di tahun 1909. Setelah vaksin kolera ditemukan, vaksinasi massal pun segera dilakukan di masyarakat.

Gempuran Wabah dan “Black Death” di Hindia Belanda

Sumber foto: National Geographic

Di Malang, masyarakat menggambar kepala kala sebagai cara untuk menolak salah satu wabah yang juga berbahaya dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Kepala kala ini diambil dari ukiran kepala Kalamakara yang terdapat di Candi Singasari yang berfungsi sebagai pengusir roh jahat.[10] Memasuki tahun 1910-an, Malang diserang oleh wabah yang baru masuk ke Hindia Belanda yang bernama sampar.

Wabah yang tidak kalah berbahaya ini berhasil masuk sebelum pemerintah Hindia Belanda bisa mengendalikan kolera. Wabah yang dikenal dengan nama sampar ini mirip dengan wabah Black Death yang terjadi di Eropa karena berasal dari sebab yang sama, bakteri Yersinia Pestis yang bersarang di kutu tikus.

Wabah sampar sudah ditemukan di Hindia belanda di tahun 1905. Ada dua pegawai di pelabuhan Deli yang terkena wabah ini. Namun, kasus ini dianggap angin lalu karena wabah tidak meluas di masyarakat. Di tahun 1911 tepatnya tanggal 27 Maret, Sampar baru diakui sebagai pandemi setelah menyebar di Malang. Setahun sebelumnya, wabah ini masuk ke Malang melalui pelabuhan di Surabaya. Tikus-tikus pembawa kutu ini tiba di Hindia Belanda setelah pemerintah melakukan impor beras dari Myanmar pada tahun 1910.[11]

Untuk melakukan pencegahan, Direktur Burgelijke Geneeskundige Dienst menggagas supaya Malang diisolasi saja. Namun, gagasan ini ditentang oleh para pengusaha, khusususnya dari perusahaan perkebunan. Akibatnya, penyakit ini menyebar di seluruh Pulau Jawa.

Verbetering, kerjasama Pemerintah dan Masyarakat dalam menghadapi Wabah

Sumber foto: Bandoeng en de Hygiene

Penanganan sampar adalah satu contoh keberhasilan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menangani wabah. Dalam melawan wabah “Black Death” ini, pemerintah berhasil mendekati dan meyakini masyarakat lewat pendekatan kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Di Jawa Barat misalnya, masyarakat menolak untuk disuntik vaksin sampar karena mereka merasa hal ini bertentangan dengan nilai-nilai agama. Di Garut, masyarakat menolak vaksinasi yang mereka sebut sebagai “suntik mayit.”[12]

Salah satu cara pemerintah untuk menangani keadaan ini adalah mendatangkan tenaga medis yang juga menguasai ilmu agama. Di tahun 1933, pemerintah mendatangkan dokter Ramali dari Padang Sidempuan ke Batavia untuk menghadapi masalah tentang wabah dan agama yang berkembang di masyarakat. Dokter ini diyakini mampu menangani wabah sampar yang berkaitan dengan isu keagamaan terutama di Garut.

Penolakan atas vaksinasi ini juga terjadi di Cibugel, Darmarja Sumedang. Dengan dalih serupa, mereka menolak untuk disuntik sampai terjadi kerusuhan di sana. Pihak keamanan berhasil menangkapi provokator di antara 600 orang yang mengepung Balai Desa di tahun 1937.[13]

Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menghapus wabah sampar tidak berhenti pada usaha vaksinasi masyarakat. Untuk membatasi gerak tikus-tikus pembawa bakteri dan menjauhkannya dari pemukiman penduduk, pemerintah membantu masyarakat untuk membangun ulang rumah-rumah mereka. Gerakan ini diberi nama Woning Verbatering, atau orang Sunda mengenalnya dengan istilah Woneng.[14]

Sekitar 1.021.000 rumah di Hindia Belanda mengalami perbaikan (Dr. J. Stroomberg, Hindia Belanda 1930, halaman 74). Beberapa bagian rumah yang diyakini sebagai tempat bersarangnya tikus, dibuang dan diganti. Usaha ini membuat wabah sampar terkendali.

Pemakaian Masker Saat Flu Mewabah

Belum selesai berperang dengan sampar, pemerintah kemudian dihadapkan dengan wabah baru, flu yang merupakan bagian dari wabah flu Spanyol di tahun 1918. Flu ini dibawa masuk melalui pelabuhan Batavia lewat kapal laut dari Singapura. Seperti sebelumnya, pemerintah abai dengan ancaman wabah yang telah berkembang di negara sekitar seperti Hongkong dan Singapura. Akibatnya, virus dengan cepat menyebar dan menurut penelitian terbaru menewaskan sekitar 4 juta jiwa untuk wilayah Jawa dan Madura saja.[15]

Untuk mengatasi wabah ini, pemerintah Belanda mengumumkan bahaya wabah flu ini kepada masyarakat. Mereka mengeluarkan kebijakan supaya masyarakat memakai masker dan mencoba untuk membatasi masyarakat supaya tidak banyak berkumpul. Usaha-usaha ini membuahkan hasil, karena kemudian virus flu ini hilang secara perlahan di tahun 1921.

Pembelajaran

Fenomena banyaknya wabah yang muncul dan berkembang memunculkan pola pergantian wabah yang ada di dunia. Ini menandakan bahwa wabah Covid-19 yang berkembang sekarang bukan merupakan wabah terakhir yang ada dalam sejarah manusia. Akan ada wabah berbahaya lainnya muncul dan menyerang manusia.

Peran serta masyarakat dan pemerintah menjadi kunci penanganan wabah. Pemerintah harus selalu tanggap dan bisa menjadi lokomotif penggerak dalam penanganan wabah yang tentunya sesuai dengan kaidah keilmuan. Sebaliknya, masyarakat bisa mengikuti apa yang menjadi arahan pemerintah dalam menangani wabah.

Tetapi, sehebat apapun program pemerintah, masyarakat sendiri harus senantiasa disiplin untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungannya. Ini bisa diwujudkan misalnya dengan cara supaya masyarakat selalu membersihkan diri sendiri. Selain itu, mereka harus tetap memperhatikan kebersihan lingkungannya, termasuk juga melakukan pembatasan-pembatasan supaya tidak menjadi bagian dari penyebaran wabah.


[1] Plague, Encyclopedia Britannica, https://www.britannica.com/science/plague/History#ref1217512

[2] Camerun Walker, Bubonic Plague Traced to Ancient Egypt, National Geographic, https://www.nationalgeographic.com/news/2004/3/bubonic-plague-traced-to-ancient-egypt/

[3] Camerun Walker, Bubonic Plague Traced to Ancient Egypt, National Geographic, https://www.nationalgeographic.com/news/2004/3/bubonic-plague-traced-to-ancient-egypt/

[4] Plague, Encyclopedia Britannica, Link: https://www.britannica.com/science/plague

[5] Black Death, Encyclopedia Britannica, https://www.britannica.com/event/Black-Death

[6] Black Death, Encyclopedia Britannica, https://www.britannica.com/event/Black-Death/Cause-and-outbreak

[7]  (Sara Toth Stub, Venice’s Black Death and the Dawn of Quarantine, https://www.discovermagazine.com/planet-earth/venices-black-death-and-the-dawn-of-quarantine

[8]  (Erin Blakemore, Why plague doctors wore those strange beaked masks, National Geographic, Link: https://www.nationalgeographic.com/history/reference/european-history/plague-doctors-beaked-masks-coronavirus/).

[9]  (John McNeer, Spanish Flu: the Mother of all Pandemics, History Arch, Link: http://historyarch.com/2018/03/19/spanish-flu-the-mother-of-all-pandemics/).

[10] (Mahandis Yoanata Thamrin, Karut-Marut Pagebluk Pes Pertama di Hindia Belanda, National Geographic, 2020, https://nationalgeographic.grid.id/read/132090830/karut-marut-pagebluk-pes-pertama-di-hindia-belanda?page=all).

[11] (Mahandis Yoanata Thamrin, Karut-Marut Pagebluk Pes Pertama di Hindia Belanda, National Geographic, 2020, https://nationalgeographic.grid.id/read/132090830/karut-marut-pagebluk-pes-pertama-di-hindia-belanda?page=all).

[12] (Atep Kurnia, 1933: Wabah Sampar Merebak, Bupati Garut jadi ODP, Ayo Tasik, Link: https://www.ayotasik.com/read/2020/03/30/4817/1933-wabah-sampar-merebak-bupati-garut-jadi-odp).

[13] (Atep Kurnia, “Embung sangeuk Disuntik”: Penolakan Vaksinasi Sampar di Cibugel, Ayo Bandung, 2020, Link: https://ayobandung.com/read/2020/07/08/103941/ldquo-embung-sangeuk-disuntik-rdquo-penolakan-vaksinasi-sampar-di-cibugel).

[14] (Adi Ginanjar Maulana, Jaman Woneng, Ayo Bandung, 2020, Link: https://ayobandung.com/read/2020/06/04/92149/jaman-woneng).

[15]  (Siddharth Chandra, Mortality from the influenza pandemic of 1918–19 in Indonesia, Jurnal, 2013, Link: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3687026/).

Mengenal Wabah yang Pernah Terjadi di Hindia Belanda & Dunia

wabah pengulangan sejarah source designyoutrust.com

Wabah, pengulangan sejarah. Source designyoutrust.com

Indonesia dan dunia tengah menghadapi pandemi covid-19. Wabah yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya. Melihat ke belakang, umat manusia sudah melalui sejumlah wabah seperti Justinian Pleague, Flu Spanyol, Sampar.

Tentu menjadi pertanyaan, bagaimana satu generasi terdahulu menanggulangi wabah. Untuk menjawab hal tersebut, Komunitas Aleut bersama Indika Foundation menggelar Kelas Literasi bertajuk Berbagai Wabah yang pernah terjadi di Hindia Belanda dan Dunia, Sabtu 25 Juli 2020. Kegiatan yang diadakan secara daring ini dihadiri 51 peserta dari berbagai instansi dan daerah di Indonesia.

“Biasanya, wabah berasal dari arah timur. Studi terbaru mengatakan bahwa Afrika Utara bisa juga menjadi sumber epidemi,” tulis B. Joseph Hinnebusch Microbiologist dari Laboratorium Rocky Mountain di Hamilton, Montana dikutip dari nationalgeographic.co

Pada masa Mesir Kuno (541-549 M) pernah terjadi wabah Justinian Pleague, kutu pembawa wabah diduga berasal dari Lembah Nil sehingga dikenal juga sebagai Parasit Tikus Nil. Habitat tikus ini terganggu ketika sungai mengalami pasang, sehingga pindah ke dekat manusia. Tikus-tikus itu kemudian bersarang di tempat persediaan makanan manusia.

Tikus pembawa wabah itu nantinya terbawa ke dataran Eropa melalui Constantinople (Istanbul), Naples. Hingga nantinya menyebabkan wabah Black Death. Disebut Black Death karena menimbulkan bekas hitam di kulit dan luka yang diikuti oleh demam dan rasa sakit.

Hevi Fauzan selaku peminat sejarah dan pemateri Kelas Literasi mengatakan bahwa saat itu sebagian orang percaya bahwa penyakit adalah hukuman Tuhan, sehingga tidak sedikit yang sengaja menyakiti diri sendiri agar diampuni dan disembuhkan. Selain itu ilmu pengetahuan yang belum maju membuat mereka percaya pada pengobatan nonmedis seperti bubuk “diberkati” oleh orang-orang suci, jimat, dan cincin ajaib.

Satu wabah yang sangat mengerikan adalah flu spanyol (1918-1920). Dalam kurun satu tahun menewaskan 25-50 juta penduduk Eropa. Angka ini sangat tinggi dibanding korban perang dunia I yang mencapai 8,5 juta orang dan perang dunia II yang mencapai 19, 4 juta orang. Meski namanya flu Spanyol, nyatanya berasal dari Amerika yang terbawa ke Eropa. Ada juga yang menyebut flu ini sebagai flu perancis.

Dalam kelas yang berlangsung selama 90 menit ini, ada yang menarik perhatian para peserta, yakni gambar topeng burung. Hevi menjelaskan topeng burung itu digunakan masyarakat sebagai masker, ujung paruhnya diberi wewangian, dan biasanya membawa tongkat sebagai alat untuk menjaga jarak.

source National Geographic

source National Geographic

Wabah di Hindia Belanda

Wabah terjadi di mana-mana di dunia ini, begitu juga di Hindia Belanda yang sedikitnya pernah dihantam tiga wabah besar, yakni Kolera (1821-1919), Sampar (1911-1934) dan Flu (1919). Pembuatan kanal-kanal di Batavia tidak diikuti dengan perilaku bersih masyarakatnya, sehingga alirannya tertahan oleh sampah hingga menyebabkan penyakit. Tak heran bila orang Eropa menyebut Batavia sebagai kota tidak sehat.

Pada tahun 1909 pemerintah Hindia Belanda membentuk Jawatan Inteljen Kolera. Tugas dari jawatan ini blusukan ke kampung-kampung pedalaman di Batavia untuk mencari kasus-kasus kolera. Selain itu mereka pun mengedukasi masyarakat untuk hidup bersih.

Kolera belum mereda, Hindia Belanda, khususnya Malang, diserang wabah lain, Sampar. Kabarnya wabah ini akibat tikus pembawa wabah yang terbawa ketika impor beras dari Myanmar. Sama halnya dengan belahan dunia lainnya, masyarakat Malang percaya bahwa wabah sampar atau pes disebabkan oleh roh jahat, sehingga mereka melukis sosok Kala di dinding rumah sebagai pengusir roh jahat. Dari Malang sampar menyebar ke Jawa Barat, bahkan sempat menurunkan pariwisata di Garut.

Kala source nationalgeographic

Kala source nationalgeographic

Menurut Hevi akibat sampar memunculkan tiga nama dokter yang berjasa terkait wabah ini, yakni dokter Tjipto Mangoenkoesoemo, dr. Slamet Atmodipoero dan dr. Otten. Salah satu upaya untuk menaggulangi sampar, pemerintah Belanda melakukan program kampong verbetering, program perbaikan kampung agar menjadi kawasan yang bersih dan sehat. Dari bangunan tradisional menjadi lebih modern, seperti penggunaan tembok. Di Jawa Barat setidaknya ada sekitar 100 ribu rumah yang direnovasi, sementara di Jawa setidaknya ada satu juta rumah.

Namun program ini meninggalkan hal negatif bagi masyarakat terutama soal budaya. Dalam tatanan bermasyarakat munculnya iri hati, mereka berlomba-lomba untuk memamerkan rumahnya yang lebih modern serta mulai hilangnya sikap gotong royong.

Menutup kelas literasi Hevi Fauzan menyatakan pemerintah dan masyarakat harus kompak, tanggap, dan waspada dalam menghadapi wabah. “Sejarah menunjukan bahwa solusi paling tepat dalam menghadapi wabah adalah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan,” ucap Hevi.

“Ini hanya bisa dicapai bila manusianya berperilaku tertib dan disiplin dalam menjaga kebersihan dan kesehatan,” tukasnya sambil menutup sesi pemaparan.

Ditulis Oleh Rulfhi Alimudin – Komunitasaleut.com

Ngaleut Virtual Jejak Kereta di Tengah Kota

Rindu naik kereta api? Kapan terakhir kamu naik transportasi yang satu ini?

Kereta api menjadi moda transportasi yang paling berpengaruh di Kota Bandung. Masuknya kereta api ke Kota Bandung mengubah wajah kota secara keseluruhan. Kota yang mempunyai julukan “Sebuah desa kecil di pegunungan” itu perlahan menjadi kota singgah yang ramai.

Mobilitas penduduk dan barang-barang yang tinggi mendorong pemerintah kota melakukan perubahan-perubahan. Di sektor transportasi, pemerintah kota dan perusahaan kereta api negara berkolaborasi melakukan pembenahan. Banyak dari hasil kerjasama ini bertahan dan masih bisa kita saksikan sekarang.

Kalau kamu penasaran dengan sejarah dan rute kereta api di Bandung, ikut ngaleut virtual ini yuk!

Jejak Kereta di Tengah Kota
Minggu, 14 Juni 2020
Pukul 13.00
via Zoom

Registrasi:
1 orang = 25k
2 orang = 40k
4 orang = 60k

Pendaftaran dan pembayaran hubungi CP Komunitas Aleut: +62-812-1422-1014. *Pembayaran via Bank BRI dan OVO

IMG-20200605-WA0011

 

 

Merindukan Bulan Puasa di Kampung Gombong

Aku lahir dan besar di sebuah kampung bernama Gombong, salah satu kampung padat penduduk di Kabupaten Cianjur. Selepas lulus sekolah setingkat menengas atas, aku pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi yakni universitas. Selama hidup di perantauan banyak cerita yang aku rindukan tentang suasana kampung, terlebih di moment ramadan seperti sekarang. Rindu itu semakin menjadi, apalagi pada tahun ini satu bulan puasa aku habiskan di perantauan, keinginan untuk mudik terpaksa aku pendam karena situasi yang tidak memungkinkan akibat pandemi Covid-19.

Semasa aku masih kecil ada kebiasaan yang sering dilakukan ketika ramadan, yakni kami lebih sering bermain bersama dengan teman-teman. Selepas sahur dan sholat subuh berjamaah, biasanya aku beserta teman Baca lebih lanjut

Ngabuburit Keur Mangsa Kuring Alit

Keur kuring mah Bandung teh bali geusan ngajadi. Sanajan Bapa urang wetan, kuring mah ti mangsa keur jadi bali keneh na jero beuteung Indung tug nepi ka danget bisa kasebut tara incah ti Bandung. Nya jamak we atuh lamun kuring rek nabeuh maneh nyebutkeun yen kuring teh urang kota Bandung. Enya Bandung teh kota, apan katelahna oge ibu kota Priangan. Tapi da naha keur leutik mah rarasaan teh kuring mah urang kampung we bau lisung.

Sanajan cicing di komplek tapi da meunang kasebut aya di pasisian kota Bandung. Cijerah teh ayana di Bandung beh kulon, ngaran kacamatan na oge apan Bandung Kulon. Ti Alun-alun nu jadi puseur dayeuh Bandung kurang leuwih genep setengah kilo nepi ka buruan imah teh. Gampang we saenyana mah neang jalan ka Cijerah teh. Moal matak sasab. Ti Alun-alun tuturkeun we jalan gede nu katelah Jl. Asia-Afrika. Baheula mah saacan Konprensi Asia-Afrika taun 1955 ngaran jalan ieu teh Jalan Raya Barat bagian tina Jalan Raya Pos. Baca lebih lanjut

Bandrek, Bajigur, Bioskop Tug Nepi ka Saur di Bandung Baheula

Dayeuh Bandung taun 1920-an, atawa keur mangsa rust in orde, mimitian menyat jadi kota gede tapi aya sababaraha kabiasaan nu bisa dijadikeun tanggara wanci dina mangsa bulan Syiam.

Bandrek, Bajigur Kalapa Cina

Baheula mah cenah nu dagang bajigur jeung bandrek teh masing-masing dagangna teh. Teu cara ayeuna, bandrek jeung bajigur rerendengan ngajadi hiji dina hiji tukang dagang.  Sok aya geningan paribasa pajarkeun teh, “bandrek bajigur, budak pendek gede bujur,” atawa “bajigur bandrek, kalapa Cina, budak pendek teu dicalana.”

Ieu mah cenah di taun lilikuran, nu dagang bandrek jeung bajigur teh dagang sewang-sewangan. Ampir sarua we ari nu dijualna mah cara ayeuna meh kabeh kukuluban kumplit tea kayaning kulub boled, cau, sampeu, suuk, jagong. Tapi aya nu ngabedakeun dagangan tukang bandrek jeung bajigur. Cenah baheula mah kajaba dagangan kukuluban nu tadi geus disebutkeun di tukang bajigur, urang bakalan nimu katimus, ari nu khas di tukang bandrek mah rarawuan. Jadi baheula mah moal manggih nu dagang bandrek ngajual katimus atawa kitu sabalikna. Baca lebih lanjut

Meretas Kampung Tua di Bandung Utara Bernama Coblong

Coblong saat ini adalah nama salah satu kecamatan di Kota Bandung, namun mungkin sedikit yang mengatahui jika Coblong di masa lalu adalah nama salah satu kampung tua di Bandung Utara. Berikut ini kisahnya.

Toponomi Coblong

Untuk memulai kisah Kampung Coblong, saya akan mulai dengan membahas toponimi nama Coblong karena akan berkaitan dengan nama daerah di sekitarnya. Baca lebih lanjut

Resensi Buku Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih

IMG-20200422-WA0067

Cover Buku Kisah-kisah Istimewa Inggit Garnasih | Dokumentasi Vecco

Dulu rasanya kita pernah mendapat tugas sekolah untuk membuat kliping koran. Temanya sudah ditentukan guru. Kita potong, tempel, lalu membuat presentasi atas artikel tersebut.

Mungkin itulah yang dalam benak Deni Rachman ketika membuat buku “Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih”. Tema besarnya ialah kehidupan Inggit Garnasih, istri kedua Sukarno. Tugasnya ialah “memotong” bagian-bagian koran dan majalah tentang Inggit. Kemudian, Deni buat presentasi atas setiap artikel yang ia temukan. Baca lebih lanjut