#InfoAleut: Kelas Literasi “Bandung Bersiap Tijd” dan Ngaleut “Alun-alun dari Masa ke Masa”

Selamat pagi!

Bersiap Tijd atau Masa Bersiap adalah periode mencekam bagi orang Eropa di Hindia Belanda. Salah satu kota yang merasakan mencekamnya masa itu adalah Bandung.

Pada periode itu, kekacauan terjadi di berbagai tempat di Bandung. Salah satunya di kamp konsentrasi.

Kelas Literasi pekan ke-105 ini akan mengangkat tema periode mencekam itu. Untuk lebih jelasnya, yuk ke @kedaipreanger hari Sabtu 12 Agustus 2017.

Sedangkan di hari Minggu, kita bakal Ngaleut “Alun-alun Bandung dari Masa ke Masa”

Kota Bandung memiliki sebuah anekdot terkait dengan Alun-alun. Konon, wajah Alun-alun akan selalu berubah setiap kali berganti pimpinan.

Benarkah demikian? Untuk mengetahui jawabannya, di Minggu kita bakal #Ngaleut “Alun-alun dari Masa ke Masa”. Kita bakal melihat bagaimana bentuk Alun-alun dan daerah di sekitarnya saat ini untuk dibandingkan dengan situasi yang digambarkan lewat buku-buku sejarah maupun foto-foto tempo dulu.

Kalau tertarik buat gabung, langsung aja konfirmasi kehadiran ke nomor yang tertera di poster atau LINE @FLF1345R, lalu kumpul di depan BRI Tower (Jl. Asia-Afrika) pukul 07.32 WIB. Informasi lain seperti soal pendaftaran keanggotaan #KomunitasAleut bisa langsung kontak nomor di poster ya.

Kuy, jangan lupa ajak kawan, tetangga, orang terkasih, atau gebetanmu untuk ikutan supaya Ngaleut-nya tambah seru 😁

Kelas Literasi: Menggabungkan Semangat Berbagi, Berdiskusi dan Konsistensi

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

JIKA BOLEH BERASUMSI, bisa dikatakan Jogja adalah kota penerbit. Dari sekian banyak penerbit yang ada di Kota Gudeg ini, beberapa di antaranya sudah saya kenal karena memang buku-buku hasil terbitannya berjejer rapi di rak kecil yang sering saya kunjungi di Pustaka Preanger–perpustakaan milik Komunitas Aleut.

Sedangkan Bandung, kota tempat saya tinggal ini, adalah kota yang cukup terkenal dengan berbagai macam komunitas. Dari sekian banyaknya komunitas yang ada di Bandung, Komunitas Aleut –komunitas pengapresiasi sejarah Kota Bandung dan sekitarnya– adalah salah satu komunitas yang saya ikuti.

Dua perbedaan dari kedua kota ini sangat saya rasakan betul. Di Jogja, tumbuh pesatnya penerbit-penerbit terutama penerbit baru semakin hari semakin gencar. Di sisi lain, Bandung seperti yang sudah saya sebutkan tadi, dengan ragam komunitas yang ada, menjadikannya sebagai salah satu kota yang menjadi kiblat komunitas di Indonesia.

Ternyata tak hanya itu, beberapa tahun ke belakang, kantung-kantung literasi mulai terasa menggeliat di Kota Bandung. Walaupun bukan dalam hal penerbitan (karena menurut saya Jogja masih yang terdepan kalau dalam urusan ini) namun beberapa kegiatan seputar literasi mulai mewabah di kota yang konon dulunya pernah dijuluki sebagai Kota Kuburan ini.

Karena tinggal di Bandung, saya sangat merasakan geliat itu. Salah satu buktinya adalah kegiatan yang dilaksanakan di akhir tahun 2016 dengan tema “Pekan Literasi Kebangsaan” yang mana acara ini diselenggarakan di Gedung Indonesia Menggugat, tempat bersejarah karena menjadi tempat pembacaan pledoi Bung Karno di tahun 1930.

Jauh sebelum kegiatan itu, dalam komunitas yang saya ikuti, saya sudah cukup sering melakukan kegiatan seputar literasi yang mencakup dalam berbagai hal: membaca, menulis, mendengarkan, dan juga menyimak. Ditambah dengan diskusi lainnya yang setiap Sabtu rutin dilaksanakan. Kegiatan itu bernama Kelas Literasi Pustaka Preanger. Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi dan Ngaleut “Okultisme di Bandung Doeloe”

Selamat malam Aleutian.

Kabar terbaru buat kalian yang menantikan info kegiatan Aleut selanjutnya. Seperti di minggu lalu, Kelas Literasi dan Ngaleut di minggu ini akan saling berkait lagi .

Kelas Literasi di hari Sabtu ini berjudul “Okultisme di Bandung Tempo Doeloe”, sebuah buku karya @logesumurbandung yang merupakan pegiat Komunitas Aleut.

Dalam Kelas Literasi pekan ke-104 ini, kita akan membahas soal okultisme dan freemasonry yang pernah berkembang di Kota Bandung. Jika kawan-kawan tertarik buat gabung, langsung saja konfirmasi ke nomor yang tertera di poster dan kumpul di Kedai Preanger pukul 13.45 WIB

Oh iya, dengan ikut Kelas Literasi ini kawan-kawan jadi akan punya bekal lebih untuk Ngaleut keesokan harinya karena…

…yup, di hari Minggu kita bakal Ngaleut “Okultisme di Bandung Doeloe”. Kalau sehari sebelumnya kita membahas bukunya, di Ngaleut ini kita bakalan liat langsung beberapa jejak-jejak okultisme dan freemasonry di Kota Bandung.

Mau ikut tapi bingung gimana caranya? Gampang kok. Langsung aja konfirmasi kehadiran ke CP yang terlampir di poster dan kumpul di Taman Vanda pukul 07.34 .

Ayo ajak juga kawan, keluarga, atau orang terkasih buat ikutan dua kegiatan seru Komunitas Aleut minggu ini 

Legenda Lagu Anak Sunda Mengkritik Kekuasaan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Lagu yang memuat kritik sosial yang, salah satunya, menyindir kekuasaan bukan baru di Indonesia. Jauh sebelum lagu-lagu kritik Iwan Fals menjadi populer, di tatar Sunda telah hadir lagu “Ayang-ayang Gung”. Lagu ini, meski menjadi pengiring permainan anak-anak dengan cara didendangkan bersama-sama dan dibawakan secara ceria, namun sejatinya adalah sindiran keras terhadap pejabat yang haus kuasa sehingga menjilat kaum kolonial.

Menurut catatan Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, yang mula-mula memperkenalkan lagu ini adalah  R. Poeradiredja (ketua editor untuk bahasa Sunda pada kantor Volkslectuur atau Balai Pustaka) dan M. Soerijadiradja (guru bahasa Sunda dan Melayu di Opleidingsschool atau Sekolah Pelatihan di Serang) dalam makalah yang berjudul “Bijdrage tot de kennis der Soendasche taal” yang dipresentasikan pada Kongres Pertama Bahasa, Geografi, dan Etnografi Jawa pada 1919. Berikut lirik lengkapnya: Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi dan Ngaleut “Atheis”

Kelas Literasi di hari Sabtu ini berjudul “Atheis”, yang merupakan sebuah roman fiksi karya Achdiat K. Mihardja pada tahun 1949. Buku ini sempat fenomenal di masanya dan mengambil setting di Kota Bandung.

Dalam Kelas Literasi yang telah memasuki pekan ke-103, kita akan membahas buku ini sekaligus mengenal lebih dekat siapa sosok Achdiat K. Mihardja. Jika tertarik, langsung saja konfirmasi ke nomor yang tertera di poster dan kumpul di @kedaipreanger pukul 13.45 WIB

Oh iya, dengan ikut Kelas Literasi ini kawan-kawan jadi akan punya bekal lebih untuk Ngaleut keesokan harinya karena…

…yes, di hari Minggu kita bakalan Ngaleut Atheis. Jadi kalau di Kelas Literasi kita membahas isi buku dan sosok penulisnya, di hari Minggu kita bakalan jalan-jalan menyusuri beberapa lokasi yang disebut di dalam roman fiksi ini

Sekiranya kawan-kawan tertarik ikutan, langsung saja konfirmasi ke nomor yang tertera di poster dan kumpul di sisi timur Alun-alun Bandung pukul 07.30 WIB.

Ayo ikut Kelas Literasi dan Ngaleut-nya sekaligus supaya lebih afdol 😁

Skandal Korupsi Pejabat Agama di Wilayah Bandung

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Pada 1910, Surat Kabar Mingguan (SKM) Medan Prijaji telah memasuki tahun penerbitan yang keempat. Sejumlah perubahan dilakukan. Di antaranya pergantian Redaktur Biro Perwakilan Priangan yang sebelumnya dijabat R. Djojo Sepoetro (pensiunan Demang Mester Cornelis) digantikan oleh Raden Ngabehi Tjitro Adhi Winoto. Nama terakhir sebelumnya bekerja sebagai Kepala Redaktur “Pewarta Hindia”.

Biro Perwakilan Priangan ini beralamat di kantor N.V. Medan Prijaji yang terletak di Alun-Alun Bandung, menempati gedung bekas kantor kadaster. Sedangkan yang bertindak sebagai Kepala Redaktur S.K.M. Medan Prijaji saat itu adalah R.M. Tirto Adhi Soerjo yang berkantor di Bogor. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam S.K.M. Medan Prijaji ini diumumkan dalam edisi No.1 tahun keempat yang diterbitkan pada tanggal 8 Januari 1910.

Medan Prijaji adalah salah satu surat kabar penting dalam sejarah Indonesia. Diinisiasi oleh Tirto, Medan Prijaji dengan lekas menjadi surat kabar terkemuka karena terhitung berani menyuarakan kepentingan publik di hadapan struktur birokrasi kolonial Hindia Belanda. Tirto menjadikan Medan Prijaji sebagai pengawal kepentingan publik dan tak segan-segan menghantam aparat birokrasi.

Aksi-aksi pembelaan lewat media yang telah dilakukan Tirto itu merupakan wujud jurnalisme advokasi, dan Tirto adalah orang Indonesia pertama yang melakukannya, bahkan sejak ia masih bekerja untuk Pembrita Betawi pada kurun 1901 hingga 1903. Tirto juga orang Indonesia pertama yang memiliki dan menerbitkan media sendiri, yakni Soenda Berita, selepas undur diri dari Pembrita Betawi. Setelah Soenda Berita, Tirto menggagas penerbitan Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan pada 1907.

Dua koran inilah yang lantas menegaskan pilihan jurnalistik Tirto, yakni memberikan pembelaan warga lewat tulisan, dan jika diperlukan disediakan pula bantuan hukum untuk korban penindasan, tidak hanya oleh pemerintah kolonial tapi juga golongan penindas lainnya. Ruang pengaduan pembaca bahkan menjadi salah satu kekuatan utama Medan Prijaji.

Tidak hanya menghajar pejabat-pejabat Eropa, Medan Prijaji juga tidak segan mengkritik pejabat-pejabat bumiputera. Salah satunya, namun relatif jarang dibicarakan, adalah soal dugaan korupsi dana kas Masjid Raya Bandung. Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi “Adam Malik”, Ngaleut Saumur Jagong, dan Ngaleut Walahir

Dalam rangka memperingati hari lahir Adam Malik yang jatuh tepat di tanggal 22 Juli, Kelas Literasi pekan ini akan membahas tentang profil, kisah dan kiprah Adam Malik. Tidak dipungut biaya alias gratisss! Siapapun boleh ikut.

Nah, di hari Minggunya Komunitas Aleut akan mengadakan dua ngaleut dalam waktu yang bersamaan, yaitu ngaleut kota dan ngaleut alam (momotoran).

Bagi kalian yang menyukai sejarah kota Bandung, kali ini kita akan menyusuri jejak Sjarif Amin dalam memoar “Saumur Jagong”. Memoar ini berkisah tentang masa pendudukan Jepang di Bandung.

Tempat mana saja yang diceritakan dalam buku tersebut? Apa saja yang diceritakannya? Yuk gabung pada ngaleut hari Minggu, 23 Juli. Daftarkan nama kalian pada cp yang tertera di poster.

Sedangkan untuk ngaleut alamnya akan ada Ngaleut Walahir. Bagi yang tertarik dengan ngaleut ini silakan kontak ke cp yang ada di poster.

Sebagai antisipasi di kala hujan, jangan lupa membawa jas hujan dan bagi yang membawa motor jangan lupa membawa helm cadangan untuk boncenger.

Sampai jumpa hari Minggu.