#Info Aleut: Kelas Literasi “Bandung Folk” dan Ngaleut “Kelahiran Kota Bandung”

Selamat malam, Aleutian.

Jangan lupa besok ada Kelas Literasi pekan ke 121. Bertempat di 372 Kopi Dago Pakar Jl. Pasar Kulon No. 112. Kelas Literasi akan dimulai pukul 13.45 wib

Aleutian yang tertarik bisa langsung mendaftarkan kesertaan di nara hubung berikut:
+6289680954394 (Irfan)
Line @Komunitaasaleut

Cek terus postingan kegiatan kami melalui media sosial kami di:
Twitter: @komunitasaleut
Instagram: @komunitasaleut

***

Setelah hari Minggu kemarin menjelajahi Wyata Guna dengan sejarah yang berhubungannya dengannya. Hari Minggu ini Komunitas Aleut bersama @urbansocialforum akan mengadakan ngaleut bersama dengan tema Kelahiran Kota Bandung.
Kumpul di Alun-alun (dekat bakal perpustakaan) pukul 07.30 wib

Konfirmasi kesertaan Aleutian di nara hubung berikut: +6289680954394 (Irfan)
Line: @komunitasaleut

Hayu ngaleut. Kita kenali Bandung melalui sejarahnya. Siap-siap jalan kaki ya.

#komunitasaleut
#ngaleut

Sampai jumpa besok.

Iklan

Map My Day Bandung

Oleh : Hilmi harosilia (@harosilia)

I remember tiptoed a long yellow track on city pavements couples of weeks ago. Unaware that those yellow lined, some with straight embossed pattern and dots on others, are there as an aid. I guess most of you might already knew, but for some who don’t yet, those are guiding line provided for blind and visually impaired pedestrian.

In Indonesia there are around 3.7 million people with disability to see, and the yellow paving is still such a fancy to find at most sidewalks in our city, left alone throughout our country. As for you who often hangout around downtown Bandung, we see that some sidewalk has been installed with guidelines, yet it is discovered as some paths are not really walked-through friendly. Baca lebih lanjut

Kamu dan Biotour Volume #2

Biotour volume 2

Peserta sedang memperhatikan penjelasan ipin – Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Pratama (@rulfhi_rama)

Pagi itu kamu dan beberapa manusia lainnya sedang menunggu di Taman Lansia. Sebuah taman yang berada di Jalan Diponegoro dekat dengan Museum Pos dan tak terlalu jauh dari Museum Geologi. Taman ini kini kian populer setelah seekor T-Rex sengaja di daratkan untuk bertempat tinggal disini.

Tentu yang kamu maksud bukan seekor T-Rex sungguhan tetapi hanya replika dari binatang  pra sejarah ini. Replika T-Rex ini menjadi spot instagrameble yang berada di Taman ini. Tentu kamu kesini bukan hanya untuk melihat dan berfoto dengan replika T-Rex. Kamu akan mengikuti biotour volume #2 yang bertajuk “Poisonous December: Tumbuhan Berbahaya di Sekitar Kita” yang diselenggarakan oleh Indischemooi dan Mooi Bandoeng. Baca lebih lanjut

Bukan Hanya Hitam dan Putih di Kampung Warna Cibunut

Kampung Warna Cibunut

Ngaleut Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Pratama (@rulfhi_rama)

Kampung Warna Cibunut mungkin bukan yang pertama kalinya menjadi kampung warna di Indonesia. Sebelumnya sudah ada Jodipan di Malang dan Kampung Pelangi di Semarang. Tapi di Kota Bandung rasanya menjadi kampung warna pertama.

Kampung Warna Cibunut berada di Jalan Sunda yang terhimpit oleh tembok-tembok bangunan niaga. Mungkin kawan-kawan sudah sering melewati Jalan Sunda tetapi belum ngeh dengan keberadaan kampung ini, itu juga yang saya rasakan. Saya baru tahu Kampung Warna Cibunut setelah melihat unggahan instagram pak Ridwan Kamil yang meresmikan kampung warna ini. Baca lebih lanjut

#Info Aleut: Kelas Literasi “Museum Gedung Sate” dan Ngaleut bersama TuneMap “Map My Day”

Sore ini Museum Gedung Sate akan diresmikan. Mumpung masih hangat, Kelas Literasi Pekan ke-120 kita adakan di sana aja. Kita ngobrol-ngobrol santai, diskusi ringan seputar Museum Gedung Sate.

Yuk, Aleutians, jangan ketinggalan lagi. Segera daftrakna kehadiran kalian melalui CP yang tertera di poster atau add line official kami di @komunitasaleut

***

Hari minggu paginya kita isi dengan Ngaleut. Namun, ngaleut kali ini sedikit berbeda. Kita akan ngaleut bersama @tunemap.id dalam rangka kampanye #MapMyDay #Bdg, sebuah kampanye untuk mewujudkan kota Bandung menjadi lebih dapat diakses oleh tuna netra dengan cara memberikan informasi kondisi trotoar di kota Bandung.

Sok atuh geura konfirmasi kehadiran. Jangan ditunda-tunda lagi. Kuuuy!!
Whatsapp: 089680954394
Line: @komunitasaleut

Ngaleut Kampung Warna Cibunut

IMG-20171203-WA0050

Ngaleut Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Beberapa orang meyakini, pertemuan dan ide-ide cemerlang kerap hadir di cafe-cafe di tengah kota. Obrolan ngalor-ngidul untuk menghasilkan sesuatu yang berujung pada satu tujuan yang sama diharapkan akan membuat satu perubahan besar. Lalu, bisakah pertemuan dan ide-ide itu lahir dari obrolan di gang-gang kecil?

Saya melihat sekumpulan orang di depan toko Istana Boneka setelah melewati perempatan Jalan Sunda-Jalan Veteran. Seorang perempuan yang saya kenali melirik, untuk kemudian beradu pandang. Saya tak berhenti karena tanggung dengan kendaraan lain yang sedang melaju cepat. Alasan lainnya, saya mencoba mencari tempat parkir yang bisa ditinggali sampai siang.

Tempat parkir tak didapat, meski hari Minggu, halaman parkir di Jalan Sunda cukup padat. Mau tak mau akhirnya saya memutar kembali ke titik kumpul di depan toko Istana Boneka. Turun dari motor, saya melihat toko Istana Boneka dalam keadaan tutup. Saya tidak tau jam operasioanal toko ini, tapi entah mengapa, saya yakin jika toko ini bakalan buka siang nanti. Artinya saya harus pindah parkir dari sini. Baca lebih lanjut

Perjalanan Mengenal Sosok Bosscha dan Jejaknya di Pangalengan

Pabrik Teh Malabar.jpg

Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII – Komunitas Aleut

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Sebuah plang bertuliskan “selamat datang di kawasan Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII” berhasil melempar ingatan saya ke masa empat tahun yang lalu. Saat itu saya sedang berjuang melalui satu per satu tes dari perusahaan berlabel BUMN tersebut. Siapa sih fresh graduate yang nggak kesengsem menjadi karyawan BUMN? Setidaknya itu pikiran saya dulu. Gaji besar dan raut bahagia orang tua jadi impian. Tak berapa lama keluar seorang lelaki dari sebuah ruangan, yang mungkin umurnya sama ataupun tidak lebih tua dari saya dengan menggunakan jaket agak tebal. Wajar saja, suhu Pangalengan hari itu cukup membuat pundak dan leher bergidik. Hari yang diwarnai hujan hampir sepanjang hari tersebut saya habiskan untuk menyusuri jejak seorang Belanda yang lama tinggal di area perkebunan teh Malabar bernama Karel Albert Rudolf Bosscha. Di Pabrik Orthodoks inilah salah satu tempat di mana ia pernah meninggalkan jejak sebagai administratur perkebunan selama 32 tahun. Namanya bertengger di urutan pertama pada sebuah papan daftar administratur yang pernah menjabat di Perkebunan Malabar. Baca lebih lanjut