Ringkasan Biografi Gatot Mangkoepradja

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Aditya WIjaya

Perintis Kemerdekaan RI

Bapak Pendiri Tentara Sukarela

Pembela Tanah Air

(Tulisan pada batu nisan Gatot Mangkoepradja di TPU Sirnaraga, Bandung)

Latar Belakang

Gatot Mangkoepradja adalah pendiri pasukan PETA atau Pembela Tanah Air. Ia lahir pada tanggal 15 Desember 1898 di Kampung Citamiang, Panjunan, Sumedang. Ia merupakan keturunan menak dari Galuh, Ciamis. Pendidikan Gatot dimulai dari Frobel School (Taman Kanak-Kanak), Europeesche Lagere School (ELS), Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), dan Hogere Burger School (HBS). Gatot pernah bekerja di Statsspoor en Tramwegen (Jawatan Kereta Api).

            Pergulatan Gatot dalam dunia pergerakan Indonesia dimulai pada tahun 1913 ketika ia ikut dalam pembentukan Paguyuban Pasundan. Ia kemudian pernah menjadi Sekretaris Hoofdbestuur (Pengurus Besar) Persatuan Buruh Kereta Api pada tahun 1922. Akhir tahun 1927 Gatot menghadiri pembentukan PNI di Bandung. Kontribusi Gatot dalam mendukung PNI sangat besar. Karena gerakan PNI dianggap membahayakan oleh Belanda, pada akhir tahun 1929 Gatot bersama Soekarno ditangkap di Yogyakarta. Ia diadili di pengadilan Landraad Bandung dan dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun di lapas Sukamiskin Bandung.

            Gatot pernah membuka usaha obat-obatan “Dispensary” di Bandung. Ia mempunyai relasi bisnis dengan beberapa perusahaan di Jepang. Pada bulan Oktober 1933, Gatot bersama Parada Harahap berkunjung ke Jepang untuk keperluan bisnis. Kebetulan ketika itu juga sedang berlangsung Kongres Pan-Asia 1 di Tokyo. Gatot pun menghadiri kongres itu sebagai wakil dari Indonesia. Sejak saat itu timbul kesan dalam diri Gatot bahwa Jepang adalah harapan untuk Asia.

Pembentukan PETA

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi R.E. Martadinata

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Agnia Prillika

Nama R.E Martadinata sebetulnya tidak terlalu asing bagi saya, karena merupakan salah satu nama jalan utama di Kota Bandung. Yang terasa agak aneh, walaupun nama jalan ini sudah lama diubah menjadi Jl. R.E. Martadinata, tapi banyak orang masih mengenal dan menyebut dengan nama lamanya, yaitu Jalan Riau.

Ketika saya mendapatkan tugas untuk membuat ringkasan biografi tokoh R.E. Martadinata berdasarkan buku “9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat” karya Nina H. Lubis, saya kira akan ada penjelasan juga tentang asal-usul penamaan jalan tersebut, tapi ternyata tidak ada. Namun, melalui buku ini saya menjadi lebih mengenal siapa sosok R.E Martadinata, mulai dari kisah hidup dan perjuangannya sebagai tokoh ALRI, dan menjadi Pahlawan Nasional. Selain itu, saya menjadi tertarik untuk mengetahui dan mengenal lebih banyak pahlawan nasional lainnya karena serasa diingatkan kembali akan perjuangan bangsa kita merebut dan mempertahan kemerdekaan.

Latar Belakang dan Pendidikan

Nama lengkapnya, Raden Eddy Martadinata. Lahir di Bandung dari pasangan Raden Roechijat Martadinata dan Nyi Raden Soehaemi pada 29 Maret 1921. Pendidikannya dimulai dari Hollands Indlandsche School (HIS) Palembang. Namun tak lama, karena ia harus berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat pekerjaan orang tuanya. Setelah pendidikan HIS di Lahat (1934), Eddy melanjutkan ke MULO di Bandung (1938), AMS di Jakarta (1941), dan Zeevaart Technische School (1942). tetapi tidak sampai tamat karena pendudukan Jepang. Eddy kemudian mengikuti pendidikan di Sekolah Pelayaran Tinggi di Jakarta yang diselenggarakan oleh Jepang, lulus, dan diangkat sebagai nakhoda kapal latih Dai28 Sakura Maru.

Selama masa mudanya, ia tampak menonjol dan aktif mengikuti kegiatan, antara lain bekerja sebagai penerjemah di Kantor Besar Kereta Api Bandung, dan menjadi guru termuda di SPT. Ia juga menghimpun para perwira muda untuk ikut ambil bagian dalam usaha mempersiapkan lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Prof. Dr. Mr. Kusumah Atmaja

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Annisa Almunfahannah

Buku “9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat” merupakan buku yang cukup tipis sebagai buku sejarah, karena memuat biografi sembilan tokoh Pahlawan Nasional hanya dalam 210 halaman. Tapi tentu saja buku ini bukan mau menyampaikan biografi lengkap dan rinci dari kesemua tokoh itu, melainkan hanya ringkasan sebagai perkenalan saja kepada publik pembaca. Biografi tokoh-tokoh tersebut diceritakan secara singkat, padat, dan memuat beberapa kejadian penting yang berkaitan dengan tokoh tersebut.

Sebagai bagian dari Kelas Belajar Menulis, setiap peserta ADP-20 Komunitas Aleut mendapatkan tugas untuk membuat resensi sederhana, tidak untuk keseluruhan buku, melainkan satu tokoh saja untuk masing-masing peserta. Saya kebagian tokoh Kusumah Atmaja. Berikut ini ringkasannya.

Ringkasan Biografi Prof. Dr. Mr. Kusumah Atmaja

Kusumah Atmaja lahir di Purwakarta pada tanggal 8 September 1898 dengan nama Sulaeman Effendi Kusumah Atmadja. Latar belakang keluarga dari kalangan ménak membuat Kusumah Atmaja mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan hingga ke jenjang tinggi, Rechtsschool di Batavia.

Setelah menyelesaikan pendidikan ilmu hukumnya dan mendapat gelar meester in de rechten (Mr.) pada tahun 1919, Kusumah Atmaja mendapatkan beasiswa dari Kerajaan Belanda untuk melanjutkan studi hukum di Universitas Leiden Belanda, dan berhasil meraih gelar Doctor in de recht geleerheid pada tahun 1922 dengan disertasi berjudul De Mohammedaansche Vrome Stichtingen in Indië (Lembaga Ulama Islam di Hindia Belanda) yang menjabarkan tentang hukum wakaf di Hindia Belanda.

Kusumah Atmaja mengawali karirnya sebagai hakim di pengadilan negeri dan kemudian diangkat menjadi Kepala Pengadilan Negeri di beberapa kota di Pulau Jawa. Kemudian beliau diangkat sebagai anggota Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi) dan  menjadi satu-satunya pribumi yang menduduki posisi tersebut.

Baca lebih lanjut

Pengenalan Kawasan Perkebunan di Pangalengan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman.

Momotoran merupakan salah satu kegiatan regular Komnuitas Aleut untuk mengobservasi sejarah suatu tempat. Pada tanggal 24 Oktober 2020, tim peserta pelatihan Aleut Program Development (APD) angkatan 2020 mendapat kesempatan pertama kalinya untuk momotoran ke kawasan Pangalengan. Tujuannya adalah untuk mengobservasi jejak-jejak perkebunan tempo dulu dan beberapa tokohnya.

Untuk Tim APD 2020, ini adalah pengalaman baru momotoran dengan total memakan waktu sekitar 13 jam. Namun, bagi sebagian angkatan lama, ini mungkin kegiatan momotoran yang sudah kesekian puluh kalinya mengunjungi kawasan Pangalengan. Meskipun telah sering kali momotoran, tetapi mereka selalu mendapat hal yang baru lagi dari setiap perjalanannya, karena itu tidak ada kata bosan dalam melakukannya.

Banyak hal yang didapat oleh Tim APD 2020 dari hasil momotoran ini. Bukan hanya sebatas kisah tentang K.A.R Bosscha serta perkebunannya, namun juga pelatihan untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Skill berkomunikasi dan kemampuan berinisiatif setiap individu juga dilatih secara tidak langsung. Melalui program momotoran ini juga dilatih kemampuan secara kelompok, seperti kemampuan berkoordinasi dan mengorganisir suatu kelompok.  Terasa program momotoran di Komunitas Aleut ini sangat banyak sekali manfaatnya, baik untuk diri sendiri maupun untuk khalayak umum. Tapi ya, semua akan kembali kepada tujuan masing-masing, apakah orang tersebut ikut hanya untuk sekadar liburan mengisi kekosongan waktu, ataukah malah hanya sekadar untuk menemukan sang pujaan hati?

Di rumah Bosscha. Foto: Reza Khoerul Iman.

Pada pertemuan hari Kamis sebelumnya, terlihat semua kebutuhan dan keinginan masing-masing peserta telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Pembagian tugas dalam momotoranpun sudah dipersiapkan, sampai setiap orang sudah ditentukan partnerperjalanannya untuk memenuhi kelancaran komunikasi dan keaktifan semua individu. Awalnya Pak Alex berpasangan dengan Madiha, begitu juga Pak Hepi berpasangan dengan Agnia, namun ketika bergabung dengan saya dan Annisa yang menunggu di Alun-alun Banjaran, terjadi perubahan komposisi. Ternyata ini bertujuan untuk melatih komunikasi sesama anggota baru.

Baca lebih lanjut

Momotoran Nyaba ka Pangalengan: Bosscha dan Makamnya.

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh : Wildan Aji

‘t Oude moedertje zat bevend

Op het telegraafkantoor

Vriend’lijk sprak de ambt’naar

Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor

Trillend op haar stramme benen

Greep zij naar de microfoon

En toen hoorde zij, o wonder

Zacht de stem van hare zoon

(Potongan lirik lagu “Hallo Bandoeng” – Wieteke van Dort)

Sebelum mengikuti kegiatan momotoran ke kawasan perkebunan teh di Pangalengan pada hari Sabtu pagi lalu, saya mendengarkan sebuah lagu berjudul “Hallo Bandoeng” yang dinyanyikan oleh Wieteke van Dort. Lagu ini rasanya cocok sekali untuk menemani perjalananku kali ini bersama rombongan Komunitas Aleut. Rasanya seperti akan kembali melihat masa lalu Bandung dan kawasan sekitarnya.

Anggota rombongan yang berangkat ada 14 orang menggunakan 8 motor yang berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut di Jalan Pasirluyu Hilir, Buah Batu. Ketika waktu menunjukkan pukul 11.30, kami tiba di kawasan Perkebunan Teh Malabar, setelah sebelumnya mampir dulu ke bekas perkebunan kina di Cinyuruan, Kertamanah, dan ke Pusat Penelitian Teh & Kina di Chinchona, Cibeureum.

Perkebunanan Teh Malabar tentunya sudah tidak asing lagi sebagai tempat wisata. Perkebunan ini bisa dibilang paling terkenal dan merupakan salah satu penghasil teh terbesar di dunia pada masanya dengan kapasitas produksi mencapai 1.200.000 kg/tahun. Sejak era Hindia Belanda produksi teh dari Perkebunan Malabar sangat terkenal dan produksinya dijual di pasar Eropa. Produksi teh hitam menggunakan metode orthodox dan hanya memakai tiga pucuk terbaik. Dengan metode ini proses pengolahan teh tidak dicacah namun digiling sehingga dapat menghasilkan citarasa teh yang lebih nikmat mengalahkan kualitas teh dari Tiongkok dan Srilanka yang saat itu juga menguasai pasar Eropa. Hingga saat ini Perkebunan Teh Malabar masih beroperasi dan konsisten menghasilkan teh dengan kualitas ekspor. Untuk proses pemasarannya, 90% produksi perkebunan teh ini untuk ekspor dan hanya 10% yang dipasarkan di dalam negeri.

Baca lebih lanjut

Bosscha dan Perkebunan Teh Malabar dalam Aleut Program Development, 2020.

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Annisa Almunfahannah

Oke, jadi ngebolang kali ini aku lakukan bersama dengan komunitas Aleut dengan judul Momotoran

Perjalanan kami dimulai dari Alun-Alun Banjaran sebagai titik pertemuan aku dengan teman-teman lain yang berangkat dari Rumah Aleut di Pasirluyu Hilir, Bandung. Mungkin teman-teman lain sudah menulis catatan bahwa kegiatan momotoran ini adalah bagian dari Kelas Menulis untuk para peserta Aleut Program Development (APD) 2020. Dalam kegiatan momotoran ini semua peserta mendapatkan tugas untuk membuat tulisan dengan tema yang berbeda-beda. Tugas saya menulis apa? Nah, simak saja ceritanya.

Gerbang Perkebunan Malabar. Foto: Aleut.

Singkat cerita, kami tiba di pintu gerbang Perkebunan Teh Malabar yang kini dikelola oleh PTP Nusantara VIII. Sebelumnya, kami sempat mampir dulu ke warung nasi terdekat untuk membeli bekal makan siang yang akan dimakan nanti dalam perjalanan.

Menurut artikel yang pernah aku baca, Perkebunan Teh Malabar adalah perkebunan terbesar ketiga di dunia. Setiap harinya perkebunan ini dapat menghasilkan hingga 60.000 kilogram pucuk teh dan hampir 90% dari hasil produksinya menjadi komoditas ekspor. Perkebunan ini dibuka oleh seorang Preangerplanter bernama Kerkhoven, yang kemudian mengangkat sepupunya, yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha untuk menjadi administratur dan mengelola perkebunan tersebut. Beliau menjabat sebagai administratur selama 32 tahun sebelum wafat akibat tetanus setelah terjatuh dari kuda yang ditungganginya.

Tidak jauh dari pintu gerbang, kita bisa melihat pohon-pohon tinggi menjulang dengan batang yang terlihat sudah sangat tua. Pepohonan itu tampak mencolok di antara hamparan tanaman teh sekitarnya. Tempat itu disebut leuleweungan,yang dalam bahasa Indonesia berarti hutan-hutanan, karena memang tempat ini terlihat seperti hutan kecil dengan berbagai vegetasinya. Di sinilah tempat peristirahatan terakhir K.A.R. Bosscha. Pusara Bosscha berbentuk pilar-pilar melingkar yang terbuat dari marmer dan tiang tinggi serta kubah yang menaungi makam di bawahnya. Menurut cerita, pada masa hidupnya, Ru Bosscha senang menghabiskan waktu untuk bersantai di tempat ini, dan beliau pernah berpesan agar dimakamkan di tempat ini bila wafat nanti.

Baca lebih lanjut

Berbincang Santai tentang Junghuhn dan Alfred Cup di Cinyiruan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh Rieky Nurhartanto

Sangat senang rasanya bisa kembali menulis walaupun beberapa tulisan yang lain belum selesai wkwkwk. Pengalaman yang sangat berharga, bisa mengenal lebih jauh tokoh luar biasa dan pohon kinanya. Perjalanan ini memang bukan yang pertama bagi saya, karena sebelumnya saya sudah pernah mengunjungi kawasan tersebut. Semakin berharga lagi sehari sebelum perjalanan ini adalah hari yang sangat spesial bagi saya.

Di sini saya menulis petualangan bersama Komunitas Aleut, tapi dengan sedikit perbedaan, karena kali ini hampir semua pesertanya adalah kawan-kawan baru. Oh iya, belakangan ini Komunitas Aleut mengadakan sebuah kegiatan pelatihan untuk umum, yaitu Aleut Program Development (APD). Dalam kegiatan ini Aleut menyelenggarakan berbagai kegiatan secara intensif dengan tujuan pembelajaran dalam berbagai bidang umum yang ditujukan untuk angkatan atau generasi muda. Saya pribadi sih sangat senang sekali dengan program tersebut karena bisa belajar, sambil bertemu, dan mempunyai sahabat-sahabat baru.

Kegiatan momotoran ke Pangalengan ini sebenarnya merupakan sambungan dari hari Kamis sebelumnya, yaitu Kelas Menulis. Kata Bang Ridwan, pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2020, kami (para peserta APD 20) akan Ngaleut Momotoran ke wilayah Pangalengan-Ciwidey dengan masing-masing peserta mendapatkan tugas penulisan dengan tema yang berbeda-beda. Saya langsung merasa sangat senang sekali karena bisa kembali ke daerah favorit tempat saya niis, yaitu Pangalengan hehehe.

Oh iya, sebenernya pada hari Jumat-nya saya sudah merencanakan ingin membawa motor sendiri ke Pangalengan nanti, karena bagi saya lebih baik membonceng daripada dibonceng hahahahah. Biasanya kalo dibonceng lama-lama akan pegal pantat dan pegal pinggang juga, apalagi kalo dibonceng pake motor Beat wkwkwk. Saya sudah merencanakan akan membawa motor sepupu saya, karena saat ini kondisi motor saya kurang baik, kapas gandanya harus diganti dan akan terlalu riskan kalo tetap memaksakan memakainya. Tapi ternyata motor ternyata sepupu akan dipakai juga besok hari untuk bepergian bersama teman-temannya, tidak jadi deh membawa motor sepupu saya.

Saya segera saja memberitahu teman-teman di grup whatsapp bahwa besok saya tidak jadi membawa motor sendiri.  Agak sedikit sedih sih sebenarnya, tapi ya mau bagaimana lagi, untung saja dalam daftar pembawa motor besok ternyata masih cukup untuk membawa saya walaupun harus dibonceng.

Baca lebih lanjut

“Vervoloog Malabar: Riwayatmu Kini”

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Deuis Raniarti.

Karel Albert Rudolf Bosscha datang ke Pulau Jawa pada tahun 1887. Awalnya ia datang untuk membantu pamannya, Kerkhoven, mengelola perkebunan Sinagar, namun pada akhirnya ia mengelola perkebunan miliknya sendiri di Pangalengan. Setelah menuai kesuksesan, Bosscha dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Berbagai sumbangannya terus dikenang dan manfaatnya bisa dirasakan hingga sekarang. Salah satu jasanya dalam bidang pendidikan adalah pendirian Vervoloog Malabar, yaitu sekolah untuk kaum pribumi, khususnya anak para pekerja perkebunan Malabar. Sekolah ini didirikan di tengah Perkebunan Teh Malabar pada tahun 1901.

(Vervoloog Malabar. Sumber: Tropenmuseum)

Pada hari Sabtu lalu, 24 Oktober 2020, saya dan beberapa kawan dari Komunitas Aleut momotoran ke Pangalengan hingga Ciwidey, momotoran ini adalah kelanjutan dari kegiatan “Belajar Menulis”. Seluruh peserta diberi tugas membuat catatan dan liputan tentang berbagai hal yang ditemui dalam perjalanan, seperti sejarah kina dan Kebun Cinyiruan, Kebun Teh di Malabar dan Pasirmalang, tokoh-tokoh seperti KAR Bosscha atau FW Junghuhn, sampai ke pengenalan kawasan-kawasan perkebunan di sekitar Pangalengan-Ciwidey. Dalam tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman saya ketika berkunjung ke Vervoloog Malabar.

Baca lebih lanjut

Upaya-upaya Penanggulangan Wabah

Ditulis oleh Fathonil Aziz

Definisi Wabah

     Menurut Permenkes nomor 1501 tahun 2010, wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

     Menurut Center of Disease Control and Prevention (CDC), wabah atau epidemi adalah penambahan mendadak jumlah kasus suatu penyakit melebihi nilai yang diharapkan yang terjadi pada suatu populasi di suatu kawasan. Epidemi terjadi ketika agen dan penjamu yang cocok muncul pada angka yang cukup. Secara lebih mendalam, epidemi terjadi karena berbagai faktor, antara lain:

  1. Peningkatan jumlah atau virulensi dari agen
  2. Pengenalan agen baru, yang sebelumnya belum pernah terjadi
  3. Cara penularan yang semakin beragam
  4. Perubahan kerentanan faktor penjamu

     Sporadik adalah suatu keadaan dimana masalah kesehatan (umumnya penyakit)  yang ada di suatu wilayah tertentu frekuensinya berubah-ubah menurut perubahan waktu. Sedangkan endemik memiliki arti suatu masalah kesehatan secara konstan dan terus menerus muncul di suatu wilayah.

     Pandemi merupakan kasus epidemi yang telah menyebar dan terjadi di seluruh negara di dunia. Pandemi merupakan suatu kondisi serius dan mendapat penanganan khusus dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization.

     Menurut Center of Disease Control and Prevention (CDC), wabah atau epidemi adalah penambahan mendadak jumlah kasus suatu penyakit melebihi nilai yang diharapkan yang terjadi pada suatu populasi di suatu kawasan. Epidemi terjadi ketika agen dan penjamu yang cocok muncul pada angka yang cukup. Secara lebih mendalam, epidemi terjadi karena berbagai faktor, antara lain:

Pola Penyebaran Wabah

     Wabah atau epidemi dikelompokkan menurut cara penyebaran dan sumber penyebarannya dalam suatu populasi. Wabah dikelompokkan menjadi 3 jenis penyebab utama, yaitu:

  • Sumber umum
    • Titik
    • Berkelanjutan
    • Berselang
  • Diperbanyak
  • Campuran
  • Lain-lain

     Wabah dengan sumber umum adalah wabah dimana sekelompok orang terpapar agen infeksi atau racun dari sumber yang sama. Jika kelompok terpapar dalam waktu yang relatif singkat, sehingga setiap orang yang sakit melakukannya dalam satu masa inkubasi, maka wabah sumber umum selanjutnya diklasifikasikan sebagai wabah sumber titik.

     Wabah yang diperbanyak adalah wabah yang menyebar dan menular dari satu orang ke orang lain. Penularan dapat terjadi secara langsung, melalui alat, maupun melalui vektor. Pada jenis wabah ini kasus terjadi lebih dari 1 masa inkubasi. Pada epidemi ini kasus akan berkurang dalam jangka waktu beberapa generasi, baik karena jumlah orang yang rentan menurun atau akibat tindakan intervensi yang efektif.

     Beberapa bentuk wabah memiliki karakteristik wabah sumben umum dan wabah yang diperbanyak. Oleh karenanya wabah jenis ini disebut sebagai wabah campuran. Salah satu jenisnya adalah kasus Shigellosis yang mengenai 3000 perempuan yang menghadiri sebuah konser musik. Gejala baru muncul saat mereka sudah kembali ke rumah. Beberapa hari kemudian dilaporkan kasus ini meledak di sebuah area di Amerika Serikat.

Sumber Wabah

     Wabah terjadi akibat adanya sumber yang disebut sebagai agen. Agen ini akan menumpangi tubuh dari inang, dan bila telah mencapai jumlah optimum dapat menyebabkan gejala penyakit inang. Wabah dapat berbagai sumber, antara lain:

  • Zoonosis

Zoonosis merupakan penyakit yang sumber penularannya berasal dari hewan. Hewan menjadi inang sebuah agen dan kemudian menularkannya ke manusia. Hewan yang paling sering menjadi media perantara penyebaran wabah yaitu mamalia. Beberapa penyakit yang termasuk dalam zoonosis adalah flu burung (H5N1), flu babi (H1N1), SARS-Covid19, leptopspirosis, dll.

  • Keracunan Makanan

Makanan menjadi salah satu media penularan penyakit. Ini dikarenakan makanan merupakan benda yang paling mudah masuk ke dalam tubuh manusia. Makanan telah lama dikenal sebagai sumber sebuah penyakit. Sebuah pepatah Cina Kuno mengatakan, ”kamu adalah apa yang kamu makan”. Makanan yang tidak diolah dengan baik dapat menjadi sumber penyakit. Makanan yang sudah melewati masa kadaluwarsa juga menjadi racun bagi tubuh manusia. Penyakit yang ditularkan melalui makanan antara lain hepatitis A, demam tifoid, keracunan makanan, shigellosis, dll.

  • Penyakit Menular Seksual

Perilaku seksualitas telah lama menjadi salah satu proses penyebaran penyakit. Hal ini diakibatkan terjadinya interaksi lapisan mukosa antara 2 individu yang berbeda. Perilaku seksual dengan banyak orang menjadi hal yang sangat berisiko. Banyak penyakit telah lama dikenal ditularkan melalui hubungan seksual, antara lain HIV-AIDS, sifilis, gonorea, kutu kelamin, dll.

  • Wabah Nosokomial

Nosokomial diartikan sebagai segala penyakit yang ditularkan melalui rumah sakit. Rumah sakit sebagai tempat perawatan orang-orang yang memiliki penyakit menjadi tempat yang sangat rawan penularan sebuah wabah penyakit.

  • Wabah Airborne

Udara dikenal sebagai salah satu media penularan wabah penyakit yang paling mudah dan dapat menyebabkan tingkat pesakitan yang tinggi. Hal ini karena semua manusia menghirup udara sebagai upaya untuk bernapas dan mempertahankan hidupnya. Biasanya penyakit yang disebarkan melalui udara memiliki partikel yang sangat kecil.

Tahapan Wabah & Cara Pengendaliannya

     Wabah yang merupakan sebuah fenomena medis dan sosial, membutuhkan pendekatan sosial dalam proses penanganannya. Ancaman penyakit menular baru biasanya dimulai secara lokal, sehingga pemahaman dinamika penyakit menjadi kunci penting dalam usaha pemberantasan wabah penyakit. Hal ini untuk mencegah terjadinya penyebaran yang lebih luas antarmanusia. Dinamika wabah penyakit terjadi dalam 4 tahap.

     Tahapan pertama dari sebuah wabah adalah pengenalan atau kemunculan wabah pada suatu komunitas. Tahapan kedua adalah penularan wabah secara lokal. Pada tahap ini terjadi penyebaran patogen. Tahapan ketiga adalah perluasan wabah ke komunitas yang lebih luas. Wabah mulai menular dari manusia ke manusia dalam skala yang luas. Pada tahap ini wabah dapat meluas hingga ke tingkat pandemi. Tahap keempat yang merupakan tahap akhir, terjadi penurunan tingkat penularan. Hal ini terjadi akibat tingkat penularan manusia ke manusia semakin menurun akibat peningkatan kekebalan tubuh pada sebuah komunitas maupun intervensi yang cukup gencar.

     Tahapan wabah tersebut menjadi kunci dalam penanganan wabah sehingga setiap tahapan wabah memiliki bentuk penanganan yang berbeda.

  • Antisipasi

Pada respon tahap awal, kemunculan wabah tidak dapat diprediksi, tetapi masih dapat diantisipasi. Antisipasi mencakup prediksi penyakit yang paling mungkin muncul dan identifikasi pemicu yang akan memperburuk dampak atau memfasilitasi penyebaran.

  • Deteksi Dini

Wabah penyakit yang muncul dan kembali muncul merupakan penyakit baru yang masih sangat minim informasinya. Oleh karena itu dibutuhkan banyak penyelidikan dan penelitian untuk mendapatkan strategi pengurangan wabah. Wabah penyakit baru juga membutuhkan intervensi baru untuk eradikasinya. Deteksi dini memungkinkan penerapan langkah-langkah penahanan yang cepat dan tepat. Hal ini merupakan kunci untuk mengurangi risiko amplifikasi dan potensi penyebaran yang sangat luas. Deteksi dini dimulai di tempat perawatan kesehatan dengan melakukan pelatihan tenaga kesehatan untuk dapat mengenali wabah penyakit potensial, melaporkan dengan cepat kejadian yang tidak biasa (seperti kelompok kasus atau kematian yang tidak biasa). Peran mereka juga untuk mengurangi risiko penularan komunitas dengan mengisolasi pasien yang sakit parah. Petugas kesehatan juga harus tahu bagaimana melindungi diri mereka sendiri dan menggunakan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi dan bagaimana menghindari wabah yang diperkuat di fasilitas perawatan kesehatan.

  • Penahanan

Penahanan yang efektif dan cepat dari wabah penyakit baru yang muncul sama pentingnya dengan deteksi dini untuk menghindari epidemi skala besar. Penahanan harus dimulai segera setelah kasus pertama terdeteksi tanpa memandang penyebabnya. Dibutuhkan profesional yang terampil untuk menerapkan tindakan pencegahan yang aman.

  • Pengendalian dan Mitigasi

Saat ancaman penyakit menular mencapai tingkat pandemi, diperlukan tindaka untuk mengurangi dampak, insiden, morbiditas,dan mortalitas, serta gangguan pada sistem ekonomi, politik, dan sosial.

  • Pemberantasan

Terdapat tiga kriteria yang perlu dipenuhi untuk memberantas suatu penyakit, antara lain harus ada intervensi yang tersedia untuk menghentikan penularannya. Kriteria selanjutnya adalah harus tersedia alat diagnostik yang efisien untuk mendeteksi kasus yang dapat menyebabkan penularan.  Kriteria ketiga adalah manusia harus menjadi satu-satunya reservoir penyakit tersebut.

Upaya Penanggulangan Wabah

Antibiotik

     Antibiotik merupakan senyawa yang memiliki efek membunuh atau menghambat perkembangan bakteri. Antibiotik telah digunakan sejak jaman dahulu kala. Catatan mengenai antibiotik pada masa lampau ditemukan pada peradaban Yunani Kuno dan Aztec. Mereka diketahui telah menggunakan daun fillix max atau pakis pria dan minyak chenopodi sebagai obat anticacing. Kandungan minyak atsiri pada chenopodium memiliki efek membunuh cacing yang mnejadi parasit dalam tubuh manusia.

     Paul Ehrlich pada 1910 meemukan antibiotik yang disebut sebagai magic bullet. Magic bullet ini mengandung senyawa salvarsan yang memiliki efek mengobati penyakit sifilis. Salvarsan merupakan senyawa turunan arsen. Penemuan Ehrlich ini bermula dari gagasannya mengenai sebuah zat yang dapat membunuh bakteri yang menginfeksi tubuh manusia, tanpa menimbulkan efek bahaya bagi sel tubuh manusia.

     Tonggak sejarah penemuan antibiotik adalah saat 1928, ketika Alexander Fleming secara tidak sengaja menemukan penisilin. Alexander Fleming adalah seorang ahli mikrobiologi. Pada suatu akhir pekan, dia meninggalkan cawan petri yang bekas pengembangbiakan bakteri yangs sedang ditelitinya tanpa dicuci. Saat dia kembali ke laboratorium, dia menemukan bahwa bakteri yang dia tumbuhkan ternyata gagal tumbuh dan justru tumbuh beberapa koloni jamur disana. Jamur tersebut adalah jamur Penicillium notatum yang mengandung penisilin. Penelitian mengenai penisilin berjalan beberapa dekade hingga dapat digunakan secara luas sebagai obat antibiotik. Pada 1945 penisilin telah disebarluaskan sebagi obat antibakteri dan pada era itu menjadi era keemasan penisilin. Gerhard Domagk pada 1930 menemuka Protonsil, yang merupakan turunan dari senyawa sulfonamide.

     Pada 1943, Selman A Waksman bersama rekannya Albert Schatz berhasil mengisolasi senyawa streptomisin, yang dapat melawan bakteri tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosa). Mereka menemukan bahwa pertumbuhan Mycobacterium tuberculosa di cawan petri dihambat oleh pertumbuhan bakteri Streptomyces griseus. Obat ini sampai sekarang masih digunakan sebagai obat tuberkulosis. Selman A Waksman pada 1952 dianugerahi penghargaan Nobel untuk Kedokteran atau Fisika.

Antivirus

     Antivirus merupakan senyawa yang digunakan untuk mengatasi penyakit-penyait yang disebabkan oleh virus. Antivirus memiliki kerja menghambat perkembangan virus, bukan membunuh dan merusak komponen tubuh virus. Antivirus pertama kali ditemukan pada 1974 oleh Gertrude Elion. Beliau berhasil menemukan acyclovir yang digunakan sebagai obat mengatasi penyakit herpes hingga sekarang. Perkembangan dalam penelitian dan penemuan antivirus berjalan lambat, tidak seperti antibiotik. Hal ini karena molekul virus yang sangat kecil, kendala dalam penumbuhan virus, dan tingkat perubahan komponen virus yang sangat cepat.

Vaksinasi

     Vaksin adalah sebuah senyawa yang digunakan untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksin telah digunakan sejak ratusan tahun lalu. Catatan mengenai vaksin tertua ditemukan di Cina Kuno pada tahun 1500. Pada masa itu para biksu Buddha meminum bisa ular untuk membentuk kekebalan tubuh saat tergigit oleh ular berbisa. Pada masa itu pula telah dilakukan inokulasi atau penanaman virus cacar pada orang hidup. Seseorang yang telah ditanami vírus cacar terbukti memiliki kekebalan terhadap wabah cacar yang sedang menjangkiti Cina. Kaisar K’ang Hsi diketahui selamat dari wabah smallpox, dan ternyata beliau mendapat penanaman vírus cacar saat masih kecil.. Pada 1661 K’ang Hsi memerintahkan semua keluarga dan rakyat untuk dilakukan inokulasi vírus cacar agar wabah ini dapat menyelamatkan sleuruh kerajaannya. Ayah Kaisar K’ang Hsi, Kaisar Shenzi diketahui meninggal akibat cacar (small pox). Praktik inokulasi ini juga terjadi di India.

     Edward Jenner pada 1796 menguji hipotesis bahwa infeksi cacar sapi dapat melindungi seseorang dari infeksi cacar. Pada 14 Mei 1796, Jenner menyuntik James Phipps yang berusia 8 tahun dengan materi dari cacar sapi yang menjangkiti tangan gadis pemerah susu bernama Sarah Nelmes. Phipps mengalami reaksi lokal dan merasa tidak enak selama beberapa hari tetapi sembuh total. Pada Juli 1796, Jenner menyuntik Phipps dengan materi yang diambil dari luka cacar manusia baru, seolah-olah ia sedang memberi infeksi anak laki-laki itu, dalam upaya untuk menantang perlindungan dari cacar sapi. Phipps tetap sehat. Jenner selanjutnya mendemonstrasikan bahwa materi cacar sapi yang dipindahkan dalam rantai manusia, dari satu orang ke orang lain, memberikan perlindungan dari cacar.

     Louis Pasteur mengenalkan vaksin rabies dengan menumbuhkan virusnya pada kelinci. Pada 1885 vaksin ini ditanamkan pada tubuh seorang anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Joseph Meister. Joseph kemudian diawasi selama 3 bulan berturut-turut dan ternyata dia selalu dalam kondisi sehat.

    Albert Calmette, seorang fisikawan dan bakteriologis asal Perancis bersama rekannya Camille Guerin, berhasil menemukan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) yang berhasil menangkal wabah tuberkulosis. Awalnya mereka berhasil menumbuhkan bakteri tuberkulosis pada médium campuran gliserin, empedu, dan kentang. Pada 1921 BCG pertama kali sukses ditanamkan pada manusia. BCG memiliki keefektivan yang tingi dalam mencegah tuberkulosis meningitis.

Perlindungan Terhadap Tenaga Kesehatan

     Tenaga kesehatan merupakan pihak yang paling berisiko terkena wabah saat sebuah wabah muncul di suatu populasi. Perlindungan terhadap tenaga kesehatan menjadi hal yang sangat penting, karena tenaga kesehatan menjadi salah satu kunci dalam penanganan wabah. Baju perlindungan bagi tenaga kesehatan telah lama dikembangkan sejak 500 tahun lalu. Pada abad ke-14 dokter Pes diberi tugas untuk mendatangi rumah-rumah orang yang diduga terkena Pes untuk memeriksa dan memastikan diagnosanya. Baju Hazmat menjadi satu-satunya pelindung bagi mereka. Saat itu baju pelindung berupa jubah panjang yang terbuat dari kulit dengan topi dan masker wajah. Masker wajah terbuat dari kayu dengan lubang pada mata yang diberi kaca. Pada bagia tengahnya terdapat moncong berbentuk seperti paruh burung yang digunakan sebagi tempat menyimpan bahan aromaterapi yang dipercaya dapat menangkal wabah pes. Aromaterapi tersebut terdiri dari bunga kering, herba, rempah, kamper, dan cuka.

     400 tahun kemudian saat perang dunia pertama, pakaian pelindung kembali dikembangkan mengikuti model pakaian dokter pes. Pakaian ini digunakan untuk mencegah terjadinya kontak terhadap cairan kimia dan senjata biologis yang banyak digunakan pada PD I. Pada masa ini pakaian pelindung dikembangkan dengan model menutup seluruh tubuh dengan alat bantuan napas di bagian dalalamnya. Pada masa perang dunia kedua, produksi pakaian pelindung telah sampai pada tahap masal dan bentuk yang modern. Noddy suit yang dikembangkan oleh tentara Inggris saat itu memiliki keunggulan dapat ditarik secara cepat ke atas. Pada masa selanjutnya pengembangan pakaian pelindung mengalami loncatan yang jauh. Pakaian pelindung menjadi lebih tipis, lebih murah, lebih aman, dan hanya digunakan untuk 1 kali penggunaan.

Karantina

     Kata karantina berasal dari bahasa Italia quarantinari, yang memiliki arti 40. Kata itu pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris pada 1617 untuk merujuk pada masa selama 40 hari yang digunakan untuk menahan kapal yang diduga membawa orang yang terinfeksi. Sumber lain mengatakan bahwa kata karantina telah digunakan sejak abad 14 saat terdapat usaha menahan kota-kota pantai dari wabah pes. Saat itu semua kapal yang datang dari pelabuhan yang diduga terinfeksi, diwajibkan untuk berdiam diri di laut selama 40 hari sebelum mendarat di pelabuhan. Pada 1370 Venesia memberlakukan peraturan ini.

     Penyebutan awal isolasi terkutip dalam Alkitab Kitab Imamat yang ditulis pada abad ketujuh sebelum masehi, yang menjelaskan mengenai tata cara memisahkan orang yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran penyakit di bawah Hukum Musa.

     Pada masa perkembangan agama Islam, Nabi Muhammad bersabda mengenai karantina, ”Mereka yang memiliki penyakit menular harus dijauhkan dari mereka yang sehat”. Ibnu Sina juga merekomendasikan karantina bagi para penderita tuberkulosis. Pada tahun 706 hingga tahun 707, pemimpin Dinasti Umayyah ke-6, Khalifah Al-Walid I membangun rumah sakit pertama di Damaskus dan mengeluarkan perintah untuk mengisolasi mereka yang terinfeksi kusta. Praktik karantina kusta di rumah sakit ini berlanjut hingga tahun 1431, ketika Ottoman membangun rumah sakit kusta di Edirne.

     Pada abad 19 wabah demam kuning melanda kota-kota di Amerika Utara, terutama di Philadelphia. Pemerintah negara bagian saat itu menerapkan peraturan cordon sanitaire sebagai tindakan karantina wilayah untuk mengontrol pergerakan orang yang masuk dan keluar komunitas yang terkena dampak wabah. Saat wabah influenza tahun 1918 beberapa komunitas menerapkan perlindungan sequestrasi agar orang yang terinfeksi tidak menularkan influenza ke orang yang sehat. Sebagian besar negara di Eropa menerapkan berbagai stratgei pertahanan, termasuk isolasi, pengawasan, penutupan sekolah, gereja, gedung kesenian, dan membatasi acara masal.

Promosi Kesehatan

     Promosi kesehatan menurut Piagam Ottawa yang diselenggarakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) pada 1986 memiliki definisi sebagai proses yang memungkinkan orang untuk meningkatkan kendala atas dirinya guna memperbaiki taraf kesehatannya.

     Promosi kesehatan telah dimulai sejak tahun 5000 SM saat kebudayaan India Kuno mencatatkan dalam Ayurveda mengenai higienitas personal, sanitasi, pengairan, dan tehnik yang mendukung perbaikan dalam bidang kesehatan. Kedokteran Cina Kuno sejak tahun 2700 SM telah mencatatkan mengenai higienitas, diet, hidroterapi, pemijatan, dan imunisasi. Tahun 200 SM masyarakat Mesir Kuno mengembangkan sistem dalam masyarakat untuk mengumpulkan air hujan, membuang limbah, dan menginokulasikan virus cacar untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Catatan mengenai promosi kesehatan juga ditemukan dalam kode Hammurabi dan Hukum Musa. Disana dicatat mengenai pencegahan penyakit, pembuangan limbah, dan pemisahan orang yang terinfeksi dari masyarakat sehat, terutama bagi penderita kusta. Hukum Musa juga mengajarkan mengenai hari istirahat pada setiap minggu yang juga berguna untuk alasan agama.

     Promosi kesehatan berlanjut seiring perkembangan peradaban manusia dalam berkomunikasi. Wabah yang bermunculan pada abad 18 hingga sekarang menjadikan manusia mulai memikirkan melakukan promosi kesehatan melalui poster. Berbagai poster diciptakan sebagai upaya mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat.

Perbaikan Kesehatan Lingkungan

     Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan dan pengendalian wabah. Kesehatan lingkungan, dalam hal ini sanitasi, sistem penyediaan air, dan sistem pengolahan limbah telah menjadi fokus manusia dalam mencebah munculnya penyakit. Manusia pada masa lalu membangun tempat tinggal dimana sumber air bersih tersedia melimpah, dan akses terhadap pembuangan limbahnya mudah.

     Pada masa Neolitikum telah ditemukan bahwa manusia telah mengeruk tanah untuk menemukan sumber air. Sebuah bukti ditemukan di Lembah Jazreel, Israel pada masa 6500 SM manusia telah membuat sumur air dengan mengeruk tanah di sekitar pemukimannya. Kebudayaan Mesopotamia mengenalkan pipa pembuangan yang terbuat dari tanah liat sejak 4000 SM. Bukti ini ditemukan di dekat Kuil Bel di Nippur dan Eshnunna yang digunakan untuk membuang air limbah dari situs tersebut. Kota Uruk juga memperkenalkan contoh jamban pertama yang terbuat dari batu bata sejak 3200 SM.

     Sistem sanitasi pada masa era modern mengalami banyak perkembangan. Kota-kota seperti Istambul, Roma, dan Fustat memiliki jaringan pembuangan yang masih digunakan hingga saat ini. Alih-alih mengalirkan ke sungai atau laut, kota-kota tersebut mengalirkan sistem pembuangannya ke penampungan pengolahan limbah. Pertumbuhan kota yang sangat pesat pada masa Revolusi Industri menyebabkan jalanan kota menjadi kotor dan menjadi media penyebaran penyakit. Seiring perkembangan kota di abad 19, semakin banyak kekhawatiran mengenai kesehatan masyarakat. Tren kota-kota di dunia pada masa itu adalah membangun sistem saluran pembuangan untuk mengendalikan wabah penyakit seperti tifus dan kolera. Awalnya sistem ini membuang limbah langsung ke permukaan air tanpa pengolahan. Namun pada masa selanjutya, kota-kota berusaha mengolah limbah sebelum dibuang untuk mencegah polusi air dan penyakit yang ditularkan melalui air. Selama setengah abad sekitar tahun 1900, intervensi kesehatan masyarakat ini berhasil secara drastis mengurangi kejadian penyakit yang ditularkan melalui air di antara penduduk perkotaan, dan merupakan penyebab penting dalam peningkatan harapan hidup yang dialami pada saat itu.

     Masalah sanitasi ini juga terjadi di Hindia Belanda, terutama di kampung-kampung yang banyak dihuni oleh warga pribumi. Para warga tersebut hidup di bawah garis kemiskinan dan lebih mementingkan masalah menyambung hidup dibanding kesehatan lingkungan. Kampung-kampung yang kumuh dan tidak tertata tersebut juga menjadi tempat berkembangnya wabh pada masa lalu. Pada 1920 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan Kampongverbetering atau perbaikan kampung. Kebijakan ini adalah buah dari politik etis yang dijalankan oleh Belanda dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup, kesejahteraan dan kesehatan warga pribumi di tanah jajahan. Kebijakan ini berhasil menata dan membersihkan kampung-kampung yang dulu dikenal kumuh dan kotor. Beberapa contoh kampung di Kota Bandung yang merupakan hasil dari kebijakan Kampongverbetering adalah kawasan Gempol, Astana Anyar, Ciateul, dan kawasan Jalan Rasamala yang ditata hingga tahun 1935. Di Kota Semarang kampung yang pertama kali berhasil ditata adalah Kampung Pungkuran pada 1929. 2 tahun kemudian pada 1931 terdapat 7 kampung yang berhasil ditata, antara lain Karangasem, Kebonsari, Pederesan, Kebonagung, Tamanharjo, Petelan, dan Rejosari. Dana yang digunakan berasal dari pemerintah pusat dan pemeritah gemeente.

Keterlibatan Pengambil Kebijakan     

Pengambil dan pemegang kebijakan, dalam hal ini pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam pengendalian wabah. Semua kegiatan dalam pengendalian wabah membutuhkan dukungan pemerintah. Kebijakan pemerintah dalam bentuk undang-undang dan peraturan menjadi payung hukum dalam penanganan wabah. Selain itu dukungan dana menjadi sangat penting.

Fathonil Azis adalah seorang dokter dan aktif di Komunitas Aleut sejak masih berstatus mahasiswa kedokteran di sebuah universitas di Bandung.

Mencari Haji Kurdi

Ditulis oleh: Uyung Achmar

Kurdi merupakan nama kawasan serta nama jalan dan belasan gang dalam wilayah cukup luas di sisi selatan Tegallega Kota Bandung. Wilayah Kurdi diapit Jalan Moh Toha di sisi timur serta Jalan Inhoftank di sisi barat. Adapun sisi utara dan selatan diapit oleh wilayah Pelindung Hewan dan Karasak.

Jalur utama Jalan Kurdi penuh dengan tawaran kuliner menarik. Beberapa yang cukup terkenal sejak lama yaitu Toko Roti Vitasari dan Batagor Kurdi. Di Jalan Kurdi juga ada studio senam milik Lucy Dahlia, artis terkenal awal 1990-an ketika berperan di sinetron misteri ‘Impian Pengantin’ dan pemeran Nyi Iteung di sinetron ‘Sang Kabayan’.

Oke, kembali ke inti utama tulisan ini yaitu nama wilayah Kurdi. Nama ini sebenarnya berasal dari seorang tokoh, yaitu Haji Kurdi. Nah, siapakah sosok Haji Kurdi tersebut? Mengapa wilayah tersebut menggunakan nama beliau? Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu mengusik rasa penasaran saya sejak menjadi penghuni Bandung dan tinggal di salah satu gang di wilayah Kurdi.

Bermula dari pembicaraan ringan pada grup whatsApp Komunitas Aleut, saya mendapatkan satu per satu petunjuk untuk mengenal lebih jauh tokoh ini. Petunjuk pertama adalah bahwa Haji Kurdi merupakan pemilik tanah di sekitaran Tegallega pada zaman kolonial Walanda. Info ini diperoleh kak @hanisetiarahmi dari kawannya yang merupakan salah satu cicit dari Haji Kurdi. Konon tanah milik Haji Kurdi saat itu luasnya meliputi sisi belakang kantor Kawedanaan Tegallega (sekarang Museum Sri Baduga) hingga gedung kantor Badan Pemeriksa Keuangan saat ini. Tanah yang beliau miliki kemudian diambil alih pemerintah kolonial dengan metode tukar guling karena Belanda berniat membangun beberapa gedung pada bidang tersebut. Haji Kurdi tetap menjadi juragan tanah, hanya saja wilayahnya pindah lebih ke selatan.

Baca lebih lanjut