Bandung Dibakar Api Cinta?!

Oleh : Candra Asmara

Ketika kita berbicara mengenai bandung lautan api, pengertian kita akan langsung tertuju pada pembakaran yang dilakukan oleh warga bandung terhadap kotanya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah,mengapa warga kota bandung saat itu sampai rela membakar “kehidupannya” sendiri? Mengapa jalan itu yang dipilih? Apakah langkah tersebut efektif dalam mempertahankan kemerdekaan indonesia? Mungkinkah itu hanya sekedar luapan heroisme yang sia-sia saja?

Indonesia, setelah memerdekakan diri, kota-kota pentingnya kedatangan “tamu” untuk kesekian kalinya. Tamu lama, yaitu belanda..tamu baru inggris, dan tamu allstar yang tergabung dalam team NICA. Mereka datang dengan berbagai kepentingan. Belanda, mencoba kembali menguasai Indonesia setelah Jepang dipaksa menyerah oleh sekutu. Inggris, berdalih untuk memulangkan tentara-tentara Jepang dan melucuti persenjataan Jepang. Dan NICA, bertujuan untuk menembaki, menjarah dan memerkosa. Heuheu.
Kota BAndung, tak ketinggalan untuk “dimeriahkan” oleh mereka.
Para mojang jajaka bandung keheranan melihat bule-bule berseragam tentara hilir mudik di kota. Sok-sok ngatur harus ini harus itu..legeg bahasa sunda na mah..
Dan para “selebritis” kota yang cukup kritis, mampu menangkap sinyal bahwa kalau ini dibiarkan, tak lama lagi Belanda akan menginjak-injak naskah proklamasi 17 agustus 45 yang menyatakan kemerdekaan Indonesia. Setelah darderdor mencoba mempertahankan harga diri sebagai bangsa yang telah merdeka, bule-bule pun tak tinggal diam. Terus mencari cara untuk mempersempit ruang gerak perjuangan para “selebritis” kota saat itu. Salah satunya dengan cara membagi wilayah Bandung menjadi dua bagian. Bagian utara khusus para tamu, dan bagian selatan khusus pribumi, yang dipisahkan oleh rel kereta api sebagai garis batas.
Setelah berbagai peristiwa insidental yang terjadi antara utara dan selatan. Sampailah pada suatu titik dimana pihak utara menginginkan militer pribumi yang ada di bandung selatan untuk “nyingkah” segera, tidak termasuk warga biasa, dan orang-orang pemerintahan.

Tentu saja para “selebritis” pejuang kota Bandung tidak menginginkan hal itu terjadi. Mereka berunding dan memunculkan beberapa pendapat:
1. “kita harus tetap berjuang! Kita lawan! Jangan pedulikan ultimatum mereka! Kita pertahankan kota ini! (-pendapat yang keluar berdasarkan cinta pada kota Bandung. Berani, tetapi tidak mempertimbangkan akibat bila hal ini benar-benar terjadi. Persenjataan sangat timpang, modal semangat?! Mati, percuma.)
2. “Kita turuti saja kemauan mereka! tetapi warga juga harus ikut mengungsi! kita tidak dapat membiarkan warga ditinggal sendiri! siapa yang melindungi mereka?! (-juga pendapat yang keluar berdasarkan cinta, agak humanis, tetapi mana perjuangannya?! kalau hanya menuruti kemauan bule-bule utara, sama saja kita menyerah..pengecut.)
3. “Kita turuti saja, kita mengungsi, ajak warga dan staf pemerintahan. Namun kota ini tidak akan kita berikan begitu saja. Kita lumpuhkan titik-titik penting yang sekiranya akan digunakan bule-bule utara untuk kembali menjajah kita!” (-cinta juga, tampaknya pendapat ini keluar dari pimpinan rapat, pendapat yang diplomatis, ngungsi iya, berjuang dengan cara lain pun iya..)
Akhirnya, pendapat ketiga yang disetujui dan disepakati. Untuk melumpuhkan titik-titik penting yang berada di bandung selatan dipih cara bumi hangus, tempat-tempat yang dirasa penting akan dibakar dengan api cinta para pejuang.
24 maret 1946. Rencana bumi hangus akan dilaksanakan. Warga kota mulai mengungsi ke arah selatan. Majalaya, Garut, bahkan ada yang ke Yogyakarta.

Semakin senja suasana kota bandung pun semakin mencekam. Warga kota berbondong-bondong, membawa barang seadanya. Anak kecil yang digendong bapaknya, bayi yang disusui ibunya, kakek nenek yang dituntun anak cucunya, bahkan ibu hamil yang ikut terbawa arus trend bandung saat itu..mengungsi. Ditengah warga kota yang sedang ”bingung”, para pejuang kota sedang sibuk-sibuknya memasang peledak di gedung-gedung yang dirasa penting dan akan diduduki bule-bule utara nantinya. Bumi hangus akan ”resmi” dilaksanakan dengan ditandai oleh ledakan dari indische restaurant (gedung BRI sekitar alun-alun). Ledakan restoran ini bagaikan kartu pertama yang disentuh dalam efek kartu domino. Begitu indishe restaurant meledak, semua yang ditugaskan untuk meledakan bom harus segera ”push the button”.
Hari semakin larut..kota semakin sepi. Kota hanya berisikan para pejuang yang tengah gugup untuk membumihanguskan kotanya sendiri. Di sudut-sudut kota tampak para NICA yang tengah menjarah isi rumah yang ditinggal, terlihat juga orang-orang Cina, sebagian cina tetap tinggal, sebagian cina yang lain mengungsi ke utara, dan sebagian cina yang lainnya lagi malah sibuk berbisnis.
Bada isya, sebagian kota mulai menyala merah. Warga yang tengah mengungsi pun ikut membakar rumah-rumah yang berada di piggir jalan yang mereka lalui. Rumah tukang nasi kuning, rumah pak RT, rumah ceu kokom, rumah mang usep dan rumah-rumah lain yang berdinding bilik. Untuk apa mereka membakar rumah-rumah penduduk yang tak akan pernah dilirik bule-bule? Bukankah hanya tempat-tempat penting saja yang harus dibakar?

Mungkinkah ini berangkat dari ketidaktahuan sebagian pejuang dan warga? Atau ikut-ikutan trend saat itu, bakar satu bakar semua, duruk hiji duruk kabeh,,
Tiba-tiba..
Jeleger! Buum! Deeus!
Pukul 8 malam. Indische restaurant meledak.
Segera saja peledak-peledak yang lain membuntuti, saling berdebum seperti yang direncanakan.
Ya, urutan peledakan memang sesuai yang direncanakan. Indische restaurant terlebih dahulu, lalu diikuti yang lainnya. Namun waktu peledakan ternyata terlalu cepat dari yang direncanakan. Pukul berapa sebenarnya waktu yang direncanakan itu? Banyak pendapat yang berbeda. Ada yang bilang pukul 22.00, ada yang bilang 24.00,,jadi boleh dibilang ga ada salahnya bila ada yang meledakkan pada pukul 20.00, toh waktu yang direncanakannya pun simpang siur.
Namun, buku-buku yang mengangkat tema bandung lautan api sepakat bahwa rencana peledakan sebenarnya pukul 24.00, dan peledakan pertama di indische restaurant terlalu cepat 4 jam. Oleh karena itu, banyak tempat yang tidak sempat diledakkan karena pemasangan hulu dan hilir ledak belum sempat terpasang dengan baik.
Ternyata, sebagian besar tempat yang diledakkan pun hanya menderita ”luka ringan”. Tidak rusak berat dan terbakar habis seperti yang dibayangkan. Ini dikarenakan kualitas bahan peledak yang seadanya sehingga tidak sanggup untuk meledakkan tempat-tempat penting yang sebagian besar berupa gedung-gedung besar yang berdinding keras dan kokoh.
Kembali pada masalah waktu perencanaan, bila memang saat itu peledakan dilaksanakan pada waktu yang sesuai rencana, apakah ketepatan waktu akan memberikan andil yang besar bila tujuannya untuk membumihanguskan tempat-tempat penting tadi? melihat fakta bahwa beberapa tempat yang diledakkan pun tidak sepenuhnya rusak dan bahkan bisa dipakai kembali.
Namun kita boleh terhibur dengan meledaknya gudang mesiu belanda di dayeuh kolot. Gudang mesiu yang dianggap oleh banyak orang diledakkan oleh moh.Toha yang hingga kini orang-orang masih memperdebatkan siapa beliau, wajahnya bagaimana, perawakannya bagaimana, dan zodiaknya apa..Dan untuk persepsi lain gudang tersebut meledak karena kesalahan penjaga gudang tersebut alias human error,.
Intinya, bumi hangus bandung tidak mempengaruhi perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan, karena tetap jalan diplomasi yang amat sangat berpengaruh. Bumi hangus bandung lebih tampak sebagai aksi heroik semata, melihat militer kita yang tengah terdesak, dan ini merupakan jalan satu-satunya yang bisa diambil. Bumi hangus bandung memiliki tujuan yang jelas, menghanguskan tempat-tempat penting di bagian selatan, meskipun faktanya sebagian besar hanya rumah penduduk yang terbakar, dan tempat-tempat lain yang nonfungsional untuk diduduki belanda. Tujuan bisa dikatakan jelas, namun perencanaan kurang matang.
Memang, bandung dibakar dengan api cinta. Warga kota rela membakar kehidupannya, dan harus hidup dari nol kembali saat kembali ke bandung. Sungguh gila. Kalau tidak gila bukan cinta namanya.

sumber:
membaca buku “saya pilih mengungsi”,
ngaleut, dan
mengobrol.

Iklan

Bandung Lautan Api .. Harta Benda dan Nyawa Dikorbankan ..

By : Asri “Cici” Mustikaati

Halo, Halo Bandung

Ibu kota periangan

Halo,Halo Bandung

Kota kenang-kenangan

Sudah lama beta

Tidak berjumpa dengan kau

Sekarang telah menjadi lautan api

Mari bung rebut kembali

Dulu sewaktu sekolah SD, lagu ini sering saya dengarkan di upacara bendera senin pagi. Halo-Halo Bandung dipilih sebagai lagu wajib pilihan selain Indonesia Raya tentunya yang benar-benar wajib dinyanyikan. Ditulis oleh Ismail Marzuki yang belakangan baru saya ketahui kalau lagu ini masih diperdebatkan siapa pencipta sebenarnya. Terlepas dari perdebatan itu, lagu Halo-Halo Bandung adalah salah satu lagu perjuangan yang mengingatkan kita pada suatu peristiwa bersejarah di kota Bandung, Bandung Lautan Api.

Hayo .. Ngaku deh .. Sering denger Bandung Lautan Api tapi ga tau gimana cerita sejarahnya? Hehe .. Wah .. Jangan-jangan berlakunya cuma buat saya aja nih. Huhu .. Gapapa deh, walaupun begitu saya tetep pengen bagi-bagi pengalaman dan pengetahuan saya dengan temen-temen semua.. Juga tentang perjalanan saya dengan komunitas Aleut! di hari minggu kemarin (21/02/10).

Minggu pagi itu saya berkumpul di Bank Jabar Banten jalan Braga jam 7 pagi. Ah senangnya karena Aleut! kedatangan banyak anggota baru! Ada temen-temen dari Sahabat Kota, ITB, Unpad, Unpas, siswa SMK, Konus, pegawai kantor sampai adik-adik yang masih duduk di bangku SD! Total peserta minggu kemarin sebanyak 29 orang lho! Walaupun peringatannya masih satu bulan lagi, tapi kobaran semangat perjuangan rakyat Bandung Selatan sudah mulai terasa.

Bandung Lautan Api terjadi pada 24 Maret 1946. Satu hari sebelumnya yaitu tanggal 23 Maret 1946 NICA (Nederlands Indies Civil Administration) dan Inggris mengultimatum TRI (Tentara Republik Indonesia) untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 jam saja (pada tanggal 20 Desember 1945 pemerintah kota Bandung sudah pernah mendapatkan ultimatum ini). Pada saat itu Bandung terbagi menjadi dua wilayah. Wilayah utara dikuasai oleh sekutu dan NICA, sebelah selatan dikuasai oleh TRI dengan jalur rel kereta api sebagai batas wilayahnya. TRI yang pada saat itu dipimpin oleh Kol.A.H. Nasution yang juga Komandan Divisi III menuruti perintah pemerintah RI pusat (melalui Syarifuddin Prawiranegara) untuk segera meninggalkan kota Bandung. Padahal Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta menginginkan wilayah Bandung dipertahankan, dijaga setiap jengkalnya walaupun harus mengorbankan nyawa. Diambillah keputusan rakyat Bandung mundur, namun TRI serta laskar-laskar tetap bertahan dan berjuang mempertahankan tanah Bandung Selatan walaupun pada akhirnya ikut mengungsi karena keadaan yang tidak mungkin untuk melawan musuh. Bandung dipisahkan karena sekutu melihat semakin bersatunya kekuatan laskar dan TRI. Sekutu khawatir keinginan mereka menguasai Bandung tidak tercapai. TRI, BKR (Badan Keamanan Rakyat), Laskar Rakyat, Barisan Banteng, Barisan Merah, Laswi (Laskar Wanita), Siliwangi, Pelajar Pejuang bersama dengan rakyat berjuang mempertahankan wilayah.

Keputusan meninggalkan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) pada hari itu juga yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan pembumihangusan itu sendiri diusulkan oleh Rukana yang saat itu menjabat sebagai Komandan Polisi Militer di Bandung. Setelah keputusan disepakati, Kol.A.H.Nasution menginstruksikan agar rakyat segera meninggalkan Bandung. Saat itu juga rakyat Bandung mengungsi dalam rombongan besar ke berbagai daerah seperti Soreang, Dayeuh Kolot, Cicalengka, Pangalengan. Mereka mengungsi meninggalkan harta benda, hanya membawa barang seadanya. Rakyat mundur dan Bandung siap dikosongkan. Pengosongan ini disertai dengan pembakaran kota. Rumah-rumah dan gedung-gedung dibakar oleh masyarakat dan para pejuang. Hal ini dilakukan agar sekutu tidak dapat menggunakan dan memanfaatkannya. Rakyat tidak rela kotanya diambil alih pihak musuh. Dalam situs http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/bandung-lautan-api-mitos-dan-sejarah dituliskan bahwa perintah mundur ini menyakiti para pejuang di lapangan. “Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus. Dan kami tidak rela kembali dijajah. Jadi ketika kami mundur semua rumah dibakar oleh pemiliknya,” jelas Akhbar yang pada saat itu merupakan anggota Laskar Pemuda.

Bangunan pertama yang dibakar yaitu bangunan Indische Restaurant yang sekarang lokasinya sekitar Bank BRI jalan Asia-Afrika sekitar pukul 21.00 malam. Dilanjutkan dengan pembakaran gedung-gedung penting di sekitarnya termasuk juga rumah-rumah rakyat. Malam itu kobaran api memanaskan kota Bandung. Dari puncak bukit terlihat Bandung memerah. Dari Cimahi di barat sampai Ujung Berung di timur Bandung. Namun seberapa hangusnya kota Bandung, masih belum pasti. Di beberapa tulisan disebutkan gedung-gedung yang dibakar tidak begitu rusak dan masih bisa dipakai bahkan dijadikan tempat pertemuan penting serta konferensi internasional beberapa tahun kemudian (nenek saya yang mengungsi ke Pangalengan juga bercerita kalau sekembalinya dari pengungsian, rumahnya tidak terbakar sama sekali karena yang dibakar hanya rumah-rumah di pinggir jalan raya saja). Terjadi pula peledakan gudang mesiu milik sekutu di Dayeuh Kolot. Pelakunya Moh.Toha dan Ramdan dengan menggunakan granat tangan hingga mengakibatkan Ramdan tewas, namun entah dengan Moh.Toha, tewaskah atau menghilang. Sosok yang sebenarnya dari Moh.Toha pun masih diperdebatkan. Nama Moh.Toha kini diabadikan menjadi salah satu nama jalan dan tugu perjuangan di Bandung.

Nama ‘Bandung Lautan Api’ tentunya dikenal setelah peristiwa pembakaran kota Bandung. Ada yang menuliskan bahwa istilah Bandung Lautan Api berawal dari Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) yang pada saat melakukan pertemuan tindakan ultimatum Inggris mengatakan “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api”. Tulisan lain menyebutkan bahwa istilah Bandung Lautan Api muncul saat tulisan Atje Bastaman dimuat di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Atje yang wartawan muda memberitakan peristiwa pembakaran kota dengan judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. (http://cingciripit.wordpress.com/2008/03/24/asal-usul-istilah-bandung-lautan-api/)

Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) dikenang Ismail Marzuki melalui lagu Halo-Halo Bandung. W.S.Rendra pun mengenang BLA lewat sajak yang berjudul ‘Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api’. Berikut sepenggal sajaknya ..

Bagaimana mungkin kita bernegara

Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya

Bagaimana mungkin kita berbangsa

Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ? I

tulah sebabnya

Kami tidak ikhlas menyerahkan

Bandung kepada tentara Inggris dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu sehingga menjadi lautan api

Kini batinku kembali mengenang udara panas yang bergetar dan menggelombang, bau asap, bau keringat suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki langit berwarna kesumba.

Agar BLA tidak dilupakan dan tetap dikenang oleh masyarakat Bandung, maka dibuatlah stilasi atau monument BLA oleh Bandung Heritage dengan bantuan dari American Express. Stilasi ini berbentuk prisma segitiga, tinggi ± 50 cm, seperti monumen berukuran kecil. Di ketiga sisinya terdapat plakat jalur pengungsian BLA, teks lagu Halo-Halo Bandung, dan logo American Express. Bagian atas stilasi terdapat bunga patrakomala yang terbuat dari besi, karya seniman Sunaryo. Stilasi ini disebarkan di 10 titik di wilayah Bandung. Kesepuluh titik itu mewakili peristiwa-peristiwa penting di Bandung.

  1. Titik pertama adalah stilasi di jalan Dago tepatnya belokan Dago-Sultan Agung, depan bangunan Drikleur (Bank BTPN sekarang). Bangunan bekas kantor berita Domei ini dijadikan lokasi pembacaan teks proklamasi untuk pertama kalinya oleh rakyat Bandung.
  2. Titik ke-dua, stilasi di depan Bank Jabar Banten jalan Braga. Dulu adalah gedung DENIS Bank. Di atas gedung ini adalah tempat terjadinya perobekan bendera merah-putih-biru menjadi merah-putih oleh pemuda Bandung E.Karmas dan Moeljono.
  3. Titik ke-tiga, stilasi depan kantor Asuransi Jiwas Raya. Kantor yang dulu dikenal dengan nama NILMIJ ini sempat dijadikan markas resimen 8.
  4. Titik ke-empat, stilasi di Rumah tepatnya di jalan Simpang. Tempat perumusan dan diputuskannya pembumihangusan Bandung.
  5. Titik ke-lima, stilasi di jalan Kautamaan Istri, mengacu pada bangunan di sekitarnya yang sempat dijadikan gedung perkumpulan para pejuang dan menggambarkan kondisi Bandung yang sudah sangat gawat.
  6. Titik ke-enam, stilasi di jalan Dewi Sartika. Rumah yang ada di belakang stilasi ini adalah rumah sekaligus markas Kol.A.H.Nasution.
  7. Titik ke-tujuh, stilasi di pertigaan Lengkong Dalam-Lengkong Tengah. Merupakan pemukiman Belanda, wilayah yang dibombardir Inggris pada 6 Desember 1945.
  8. Titik ke-delapan, stilasi di jalan Jembatan Baru. Batas garis pertahanan pemuda pejuang saat Pertempuran Lengkong.
  9. Titik ke-sembilan, stilasi di kompleks SD Asmi. Bangunan ini adalah markas bagi pemuda pejuang sebelum Bandung Lautan Api.
  10. Titik ke-sepuluh, stilasi di jalan Moh.Toha depan gereja. Sebelumnya adalah gedung pemancar NIROM dimana berita kemerdekaan dan pembacaan teks proklamasi RI disebarkan ke seluruh dunia.

Dan berakhirlah acara ngaleut kami di Tugu Bandung Lautan Api di Tegallega. Untuk info lebih lengkap mengenai kegiatan ngaleut jalur BLA minggu lalu, bisa lihat tulisan teman saya di https://aleut.wordpress.com/ Ingin melihat bagaimana kondisi stilasi-stilasi itu sekarang? Boleh .. Lihat saja langsung ke titik-titik stilasi itu berada. Saya tidak akan bercerita bagaimana keadaannya, namun itulah cerminan masyarakat Bandung dalam menjaga dan menghargai sejarah kota tempat tinggalnya sendiri. Untuk jalur BLA ini, lebih nyaman bila menyusurinya dengan berjalan kaki atau bersepeda, pagi atau sore hari.

Halo, Halo warga kota Bandung …

Mari bung rebut kembali ….

Rebut kembali hijaunya, rebut kembali keasriannya, rebut kembali kecantikannya, rebut kembali ketertibannya, rembut kembali kenyamanannya .. ^^

Ref : Berbagai sumber (internet). He ..

10 Titik Perjuangan Bandung Lautan Api yang mulai Terlupakan

By : Agung Ismail (http://agungsmail.wordpress.com)

Bandung, 22 Februari 2010

di ruang tamu bersama netbook baru

Hallo Bandung!

Apa kabarmu?

Kemarin, bertemu kembali dengan hari minggu pagi bersama teman-teman dari komunitas Aleut.

Di minggu pagi yang cerah, kami (saya, kawan-kawan sahabat kota, teman-teman baru kenal dan tentunya komunitas Aleut) akan ber-aleut aleut ria menyusuri jejak perjuangan Bandung Lautan Api.

Kenapa saya bilang menyusuri jejak, karena entah kenapa jika saya pikir-pikir lagi kegiatan pagi kemarin itu seperti mencari harta karun yang tersembunyi (atau lebih tepatnya disembunyikan dan dilupakan). Serunya lagi, di setiap titik harta karun itu justru ada peta lokasi menuju harta karun berikutnya.

Berbicara mengenai harta karun, hm harta karun seperti apa sih yang disembunyikan dan berkaitan dengan kisah Perjuangan Bandung Lautan Api.

Mungkin tidak banyak orang yang tahu dan menyadari bahwa sebenarnya momentum Bandung Lautan Api (selanjutnya disingkat BLA) bukanlah sekedar Tugu BLA yang terletak di Taman Tegallega yang tidak ramah terhadap masyarakat. Jujur saja, saya sendiri termasuk ke dalam orang yang tidak menyadari itu.

Sejarah memang menjemukan, sejarah memang membosankan. Tapi jika sejarah itu sebenarnya terletak di pinggir rumahmu? Sejarah itu seharusnya menjadi kebanggaan. Sebuah Harta Karun masa lalu.

Lama banget nih prolog-nya… baiklah saya akan menuliskan tentang apa yang kami lakukan di minggu pagi cerah kemarin.

Jadi begini, sesuai dengan undangan yang dikirim oleh teman-teman Aleut. Acara ng-aleut kali ini bertemakan tentang Jalur Bandung Lautan Api (menyemarakkan peristiwa Bandung Lautan Api bulan depan nanti).

Terlebih dahulu, kami-kami yang mengajukan untuk ikut diharuskan kumpul di depan Bank Jabar Braga-Naripan pada pukul tujuh pagi. Setelah berkumpul semuanya, kegiatan pun dimulai dengan pembukaan dari Kang Ridwan (sepertinya sesepuh komunitas Aleut). Di depan gedung Bank, Kang Ridwan sedikit menjelaskan tentang peristiwa BLA yang ternyata jejak kisah perjuangannya itu tidak hanya disimbolkan dengan Tugu melainkan juga dengan stilasi-stilasi yang berjumlah sebanyak 10 buah.

Hah, what is the meaning of stilasi…?

Stilasi, saya baru mendengar istilah ini. Meskipun pernah membaca, mungkin tidak pernah terbayangakan bentuknya seperti apa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, stilasi itu tidak terdapat di kamus. Jadi makin bingung kan. Ya sudah saya definisikan se ala kadarnya.

Jadi, stilasi itu adalah monumen mini dengan bentuk seperti prisma segitiga sama sisi tegak, pada bagian fondasinya berbentuk seperti tablet sedangkan di puncak prismanya terdapat sebuah tangkai pohon dan bunga yang merupakan lambang dari Kota Bandung yaitu Patrakomala (Caesalpinia sp. -saya poho-).

Nah kesepuluh stilasi yang dibuat oleh bapak Sunaryo (Selasar Sunaryo) dan disponsori oleh American Express dan bekerja sama dengan Bandung Heritage ini didirikan untuk mengenang titik-titik perjuangan para pejuang BLA. Baiklah, kita akan mulai ber-Aleut dari titik stilasi no dua yang tepat berada di dekat pintu ATM Bank Jabar-Banten.

Nah loh kok tiba-tiba no dua, no satunya mana? Berhubung no satunya lumayan agak jauh dari yang lain yaitu berlokasi di Jalan Ir H. Djuanda-Sultan Agung tepatnya di depan gedung bekas kantor berita Jepang Domei atau saat ini menjadi Bank BTPN dan bertuliskan Driekleur yang berarti tiga warna (kata Mbak Dan). Saya belum lihat bagaimana kondisinya sekarang, mungkin aman-aman saja karena dijagain oleh tiga sekawan Tukang Pipa.

Kembali beralih ke Gedung Jabar-Banten. Stilasi kedua ini dulu sejarahnya adalah sebagai tempat perobekan bendera Belanda oleh Moeljono dan E. Kamas. Kondisi stilasi ini lumayan mengkhawatirkan, bunga patrakomala yang terletak di puncak stilasi sudah hilang raib entah dipetik siapa. Tapi untunglah, lempengan besi yang bertuliskan lagu halo-halo Bandung dan peta jalur stilasi-nya masih lengkap walau sedikit bared-bared -mungkin suka diinjak-injak sewaktu ada pagelaran helarfest dan nggak kebagian pemandangan indehoy, saya salah satu pelakunya-.

Beranjak dari Bank Jabar yang dulu punya nama Gedung Denis kami menuju stilasi ketiga yang terletak di Jalan Asia Afrika di depan Gedung Asuransi Jiwasraya di seberangnya Masjid Agung sebelah utara. Stilasi ketiga ini sedikit beraroma pesing, maklum saja lokasinya sangat cocok untuk menyempil sekedar ngahampangan di tengah malam. Menurut cerita, di gedung ini dulunya tepatnya 13 Oktober 1945, para pemimpin TKR (Tentara Kemanan Rakyat) sedang melakukan rapat. Mungkin rapat koordinasi kali yak. Sayangnya, lempengan besi berupa peta pada stilasi ini sudah hilang. Ditambah pula dengan beberapa coretan khas anak muda turut menghias penampilannya yang pesing.

Lepas dari kepesingan kami mencoba menelusuri Pasar Kembang yang terletak berdampingan dengan Masjid Agung. Ini pertamakalinya saya masuk ke dalam. Dulu ada keinginan untuk iseng-iseng masuk, namun sering kali urung ketika melihat lorongnya yang gelap dan takut nyasar ke sarang penyamun. Di dalam Pasar Kembang, selain tentunya banyak yang berjualan ternyata di sini bukan sekedar pasar saja, melainkan sebuah pemukiman padat, persis seperti gang-gang sempit. Berjalan bingung mengikuti Kang Ridwan, akhirnya kami tiba di Makam Mantan Bupati Bandung. Lagi-lagi saya hanya bisa sumpah serapah karena saya baru tahu bahwa Makam Bupati Bandung waktu itu ada di sebelah barat bersebelahan dengan Masjid Alun-alun. Namun akses masuk untuk ke Makam ini hanya bisa dilalui Gang kecil yang terdapat di Jalan Dalem Kaum. Nuansa Makam yang sunyi senyap terkalahkan oleh hingar bingar pertokoan dan pusat DVD bajakan. Ada empat makam utama yang berada di dalam saung sisanya diluar mungkin makam para kerabat bupati. Meskipun begitu, tempat ini tidak pernah sepi dari peziarah.

Dari Jalan Dalem Kaum, kami berlanjut menelusuri jalan pintas Kings Shopping menuju Jalan Simpang. Di lokasi berikutnya saya sempat berpikir bahwa kami akan beristirahat sejenak sambil menikmati sarapan pagi di Warung Makan yang punya nama Simpang Food Court. Salah besar teman. Justru di rumah makan ini, tepatnya di sebelah kirinya terdapat Harta Karun yang keempat. Stilasi keempat ini disembunyikan oleh sang pemilik rumah makan dengan membangun tembok pagar yang lumayan tinggi dan tertutup. Sehingga orang-orang yang melintas ke Jalan Adisuren tidak akan pernah tahu bahwa ada monumen kecil tersimpan di lorong rumah makan yang menuju dapur. Fondasi tablet stilasinya sudah menghilang digantikan keramik berkilau. Bunganya pun sama saja raib. Ini lah yang namanya menutup sejarah dengan tembok.

Dulunya, di rumah inilah perumusan dan pengambilan keputusan pembumihangusan Bandung diambil.

Mari lupakan istirahat sejenak dan makan-makan di Simpang Food Court. Kembali melanjutkan perjalanan menuju Jalan Kautamaan Istri kami menemukan stilasi kelima tepat didalam taman kecil bersebelahan dengan gardu listrik dan dinaungi oleh pohon angsana. Di stilasi ini kami dipertemukan dengan saudaranya bunga patrakomala yaitu Ki Merak (Caesalpinia pulcherima) yang tumbuh di sebelahnya. Bunga dengan mahkota sebanyak lima helai dan berwarna oranye dengan kuning pada tepi mahkota ini secara struktur bunga sama dengan patrakomala, hanya saja patrakomala berwarna kuning semua. Sambil berteduh Kang Ridwan pun bercerita tentang salah satu bangunan yang dulunya digunakan sebagai… apa ya lupa aku. Bagi yang tahu ceritanya harap ditambahkan.

Puas berteduh kami berjalan kembali menyusuri Jalan Kautamaan Istri menuju Jalan Dewi Sartika. Pada tahukan dengan jalan ini. Jalan yang penuh dengan hiruk pikuk pedagang kaki lima dan toko baju yang selalu ramai setiap harinya dengan oleh orang-orang yang berlalu-lalang.

Di stilasi yang keenam ini kami dibuat seakan tidak berdaya akan sebuah penghargaan terhadap perjuangan para Pahlawan yang berjasa mengorbankan jiwa raganya di masa lalu. Setelah dibuat pusing mencari-cari stilasi yang tersembunyi, akhirnya kami menemukan stilasi keenam yang berdiri tegak bersebelahan dengan sebuah kios rokok. Dan dengan santainya, stilasi ini justru digunakan sebagai tempat ganjel kios dan menjajakan minuman botol. Saya yakin si penjaga kios ini tidak tahu, sama seperti saya sebelumnya. Letak stilasi ini dekat dengan hotel Dewi Sartika, lokasi yang sangat potensial untuk mendirikan kios rokok bagi tamu hotel tarif 2 jam.

Dulunya, rumah yang di belakang stilasi dan sekarang sudah dibongkar adalah Markas Komando Divisi III Siliwangi pimpinan kolonel A. H Nasution.

Dari kios rokok kami melanjutkan kembali dan mampir sejenak ke Pendopo. Markasnya pak Walikota Bandung yang BERDADA. Kang Ridwan kembali bercerita dan saya kembali tidak menyimak. Silahkan teman-teman aleut tambahkan.

Menuju stilasi ketujuh kami menelusuri Jalan Sasakgantung, masuk ke pemukiman padat dan menyusuri pinggiran sungai Cikapundung. Keluar dari pemukiman kini kami berada di Jalan Lengkong Tengah. Di persimpangan Jalan Lengkong Dalam, stilasi ketujuh kami temukan. Tepat di pinggir lapangan Voli. Kondisinya tampak tidak jelas, penuh dengan tanda tangan si jahil. Perumahan Lengkong Tengah ini tampak berbeda dengan pemukiman padat yang kami lalui sebelumnya. Hampir kebanyakan rumah-rumahnya masih ber-arsitektur eropa jaman dulu. Ternyata ini adalah tempat tinggal Indo-Belanda. Nggak beda jauh dengan saya keturunan Indo-Mie.

Meneruskan Jalan Lengkong Tengah, kami menyeberangi Sungai Cikapundung dan menuju Jalan Jembatan Baru. Stilasi kedelapan tidak terlalu sulit dicapai namun sulit dilihat karena posisinya satu setengah meter di atas permukaan tanah. Stilasi kedelapan merupakan garis pertahanan pejuang saat terjadi pertempuran Lengkong. Katanya waktu itu tentara pejuang kita diserang bom oleh tentara sekutu. Baru sekutu aja kita udah kerepotan, apalagi klo segajah…

Matahari semakin meninggi dan terik. Beruntunglah tidak ada yang pingsan di jalan. Sedikit menikmati lelah, tiba-tiba si Barbara mengusulkan untuk bersemayam di Es Lilin Pungkur. Lebih tepatnya dia tidak mengusulkan tapi kabita (tergiur, red).

Hehehehe, meluncurlah kami semua ke warung Es Lilin Pungkur yang menyediakan aneka rasa dengan harga Rp. 2000 saja. Nggak tanggung-tanggung saya beli dua, rasa durian dan rasa kacang merah. Istirahat sejenak, masih ada dua stilasi lagi yang tersisa dan lumayan ujah jaraknya (jauh maksudnya).

Puas menikmati es lilin dan ngadem sambil melirik-lirik si neng Kasir yang caem, kami mengangkat dan melangkahkan kaki kembali di bawah terik matahari. Tujuan kami berikutnya adalah SD Negeri Asmi di Jalan Asmi. Di lokasi ini kami cukup beruntung karena bisa melihat stilasi yang utuh. Kuncup bunga patrakomala yang tengah mekar ini masih terjaga dengan baik, bahkan bukan hanya itu saja, katanya lonceng sekolah jaman baheula tea juga masih terawat dengan baik loh. Bangunan sekolah yang tidak banyak berubah ini dulunya digunakan sebagai markas pemuda pejuang PSINDO dan BBRI sebelum terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Meskipun hari minggu, sekolah ini cukup ramai dengan kegiatan adik-adik yang tengah bermain sepakbola. Hm, kira-kira mereka tahu nggak klo semen beton yang ada bunganya ini ternyata adalah monumen kecil untuk mengenang perjuangan para pahlawan di masa lalu?

Matahari makin menantang! Tak kuasa kami untuk melanjutkan perjalanan, istirahat sejenak kembali.

Stilasi kesepuluh. The Final.

Dari Asmi kami menyusuri Jalan Mohamad Toha. Sebuah nama jalan yang didekasikan untuk mengenang pahlawan Bandung Lautan Api. Sebuah nama untuk seorang pemuda seusia kami yang berjuang membela negerinya. Sebuah nama untuk sebuah misteri tentang siapakah ia sebenarnya.

Stilasi kesepuluh dapat ditemukan tepat di seberang sebuah Gereja. Gereja itu dulunya merupakan gedung pemancar NIROM yang digunakan untuk menyebarluaskan proklamasi kemerdekaan ke seluruh Indonesia dan dunia. Di seberang stilasi kami dapat melihat Tugu kokoh yang melambangkan perjuangan bangsa kita dari tangan kolonialisme. Karya anak negeri, penghargaan untuk mereka yang terlupakan.

Itulah sedikit cerita yang saya lewatkan bersama teman-teman Aleut mencari 9 dari 10 harta karun sejarah yang mulai terlupakan. Di akhir cerita kami berdiskusi ringan di dalam Taman Tegallega yang tak ramah bagi yang tidak bayar japrem. Sebuah penutup mengajak kami untuk menyebarluaskan informasi ini kepada siapa saja, agar mereka lebih mengerti, agar mereka lebih menghargai, agar mereka lebih peduli, dan agar mereka lebih mencintai Bandung. -tempat tinggalku saat ini-

NB: Postingan ini bukan untuk menceritakan sejarah, tapi apa yang saya lalui untuk mengenal sebuah sejarah dengan cara unik dan menyenangkan.

Hatur nuhun untuk teman-teman Aleut yang telah berbagi cerita dan kepedulian.