Mengunjungi Jejak Dipati Ukur – Episode Kesekian

Dalam obrolan sehari-hari di Komunitas Aleut ada banyak sekali topik yang dibahas berulang-ulang, seakan tidak pernah ada habisnya. Selain soal sejarah Bandung secara umum, biasanya juga tentang permuseuman, percagarbudayaan, kampung-kampung, kuliner tempo dulu, atau tokoh-tokoh masa lalu, baik dari kalangan pribumi ataupun bangsa lain. Salah satu yang sangat sering dibicarakan adalah tokoh Dipati Ukur. Kebetulan pula beberapa hari lalu, salah seorang rekan kami yang sedang menumpang ojek online mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dari drivernya, “Ai Dipati Ukur teh nyaan aya?”

Dalam disertasinya yang dibukukan oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1982 dengan judul Ceritera Dipati Ukur; Karya Sastra Sejarah Sunda, Dr. E. Suhardi Ekadjati menuturkan bahwa Ceritera Dipati Ukur melukiskan peristiwa yang sungguh-sungguh pernah terjadi pada awal abad ke-17 Masehi. Kesaksian-kesaksian orang-orang Belanda pada waktu terjadinya peristiwa yang berupa catatan harian Kompeni (dagh register) dan catatan serta kesaksian-kesaksian lainnya yang didapatkan di daerah Bandung, membuktikan hal tersebut.

Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan Ngaleut Bojongsoang (2)

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Lokasi Ngaleut kami berikutnya adalah Makam Luluhur Bupati Bandung yang ada di Dayeuhkolot. Sebelum lanjut, MagLex mengusulkan supaya kami mampir dulu ke rumah salah satu keturunan H. Rahmat Adam yang terletak tidak jauh dari komplek pemakaman. Kawan-kawan Aleut angkatan lama memang sebelumnya sudah pernah mampir untuk bersilaturahmi ke rumah ini di tahun 2016. Awalnya kami ragu-ragu untuk masuk, tapi akhirnya kami masuk juga.

Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan Ngaleut Bojongsoang (1)

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Sabtu pagi yang cukup cerah untuk mengawali Ngaleut kali ini. Tidak seperti Ngaleut biasanya yang dimulai dari mulai pukul tujuh, pada Ngaleut Bojongsoang, saya dan beberapa kawan Aleut berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut pukul sepuluh kurang sebelas menit. Kami berangkat agak siang karena rute serta tempat yang akan kami singgahi tidak banyak dan relatif berdekatan. Pasukan Ngaleut Bojongsoang kali ini hanya ada saya, Rani, Annisa, Reza, Adit, juga MangLex yang menjadi “ensiklopedia berjalan” kami selama Ngaleut berlangsung. Ada pula satu kawan baru kami yaitu Asep yang langsung bertemu di titik Ngaleut pertama.

Baca lebih lanjut

Mausoleum Keluarga Ursone: Orate Pro Nobis – Doakanlah Kami

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Rumah Keluarga Ursone di Lembang. Foto: Reza Khoerul Iman

Minggu lalu saya dan teman-teman mengunjungi bekas rumah tinggal keluarga Ursone di Jalan Baruajak, Lembang. Sedikit flashback ke tulisan saya sebelumnya yang berjudul Momotoran Lembang, kami mengunjungi rumah ini setelah Ngaleut ke beberapa tempat di kawasan Lembang. Rumah ini tampak bagus dan dilengkapi halaman luas yang bersih. Salah satu perbincangan saya dan teman-teman saat duduk santai di halaman adalah tentang makam Ursone yang berada di kompleks makam Pandu. Mang Alex menjelaskan bahwa yang dimakamkan di makam berbentuk mausoleum itu bukan hanya satu orang saja, melainkan ada beberapa anggota keluarga Ursone, juga dari generasi yang berbeda. Mang Alex juga menyinggung soal bagaimana cara membaca tanda angka-angka yang tertulis di mausoleum bagian depan mausoleum Ursone.

Baca lebih lanjut

Momotoran Gas Tipis ke Lembang

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Agenda Momotoran Komunitas Aleut kali ini dibuka untuk umum, namun pesertanya dibatasi. Temanya Momotoran Lembang dan sekitarnya, jadi di kawasan dekat-dekat saja. Poster diposting tiga hari sebelum hari H dan ada google form yang harus diisi oleh peserta yang mendaftar, dengan catatan: “Apabila mendadak tidak dapat hadir, sila konfirmasi maksimal H-1 ke admin via nomor whatsapp atau DM ke Instagram @KomunitasAleut.

Jika sudah konfirmasi hadir, namun batal saat hari-H tanpa kabar atau alasan yang jelas, Aleutian tidak dapat mengikuti kegiatan Komunitas Aleut selama 3 bulan ke depan, karena kuota peserta terbatas. Mohon bertanggung jawab atas kuota yang telah diambil.” Catatan tersebut disematkan di akhir google form, alasannya tentu saja agar peserta disiplin dan bertanggung jawab dengan pilihannya. Pasalnya pada kegiatan-kegiatan Aleut sebelumnya, ada beberapa orang yang tidak bertanggung jawab seenaknya saja tidak konfirmasi bila tidak bisa hadir, sementara banyak orang tidak kebagian kesempatan karena kuotanya telah mereka ambil.

Peserta Momotoran berkumpul di Sekretariat Komunitas Aleut pada Minggu pagi, 9 Januari 2022. Tak disangka, peserta yang daftar hadir semua. Ternyata catatan akhir yang jadi pengingat pada google form itu bermanfaat juga, hehehe. Sebelum berangkat, saya menjelaskan dulu rencana kegiatan hari ini, mulai dari teknis Momotoran di Komunitas Aleut, materi pengantar untuk kegiatan hari ini, serta rencana rute perjalanan. Mengapa rencana rute? Karena bisa saja tidak semua kita jalani, let it flow~

Baca lebih lanjut

Ngaleut 90 Tahun Makam Pandu: 1932-2022

Ditulis oleh: Aditya Wijaya (@adityanism)

Para peserta Ngaleut di depan gerbang Ereveld Pandu. Foto: Deuis Raniarti

Hari Kamis 13 Januari 2022, Komunitas Aleut mengadakan kegiatan Ngaleut Makam Pandu. Ngaleut ini dihadiri oleh sepuluh peserta dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Ngaleut dimulai pukul 09.30 pagi dengan Mang Alex menjelaskan latar belakang berdirinya Makam Pandu, dilanjut mengunjungi Makam Ursone. Jadi Makam Pandu ini merupakan makam pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe yang dahulu lokasinya berada di sekitar Gor Pajajaran sekarang. Kerkhof adalah kata kuno Belanda yang artinya pemakaman.

Lokasi pertama yang kami kunjungi ialah makam keluarga Ursone. Makam ini berbentuk mausoleum bergaya barok dan berlapis marmer. Kenapa berlapis marmer? Mungkin karena A. Ursone pernah membuka usaha batu marmer yang bernama Carrara Marmerhandel en–bewerking di Bantjeuj, Bandung. Keluarga Ursone merupakan keluarga berkebangsaan Italia dan memiliki perusahaan susu sapi yang berada di Lembang.

Baca lebih lanjut

Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (2)

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Penampungan air di Setiabudhi tahun 1920. Foto: Leiden University

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian pertama Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (1). Bagian pertama adalah rangkaian perjalanan dan cerita saat mengunjungi Gedong Cai Cidadap dan Gedong Cai Tjibadak, sedangkan pada bagian ini saya ingin bercerita ketika kami mengunjungi tempat penampungan air di Setiabudhi dan Gedong Cai Cikendi.

Setelah dari Gedong Cai Cidadap dan Tjibadak, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat penampungan air di Setiabudhi. Tempat ini tampak berbeda dengan Gedong Cai yang kami kunjungi sebelumnya. Bagian atas bangunan terlihat agak membulat dan tertutupi tanah dan rumputan, dulu bangunan seperti ini disebut sebagai gunung cai. Namun sayang ketika kami berkunjung ke sana, kondisi bangunan sudah tertutup dengan rerumputan. Sebagian bangunan juga terkena aksi vandalisme, penuh coretan.

Baca lebih lanjut

Ngaleut Cidadap: Mata Air di Kota Bandung Kini (1)

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Relief nama Tjibadak – 1921 yang sudah dirapikan. Foto: Deuis Raniarti

“Tepat pada 29 Desember 2021 lalu, Gedong Cai Tjibadak diramaikan oleh banyak orang. Wartawan berdatangan, berbagai komunitas menghadiri tempat tersebut, MCK dan lingkungan sekitar direvitalisasi, bahkan Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Bandung, Yana Mulyana, pun turut turun ke hadapan Gedong Cai Tjibadak”.

Entah sejak kapan saya menaruh perhatian khusus kepada gedong cai di Kota Bandung. Saya kira usianya yang telah genap menjadi satu abad bukan salah satu alasan saya mengenal gedong cai. Mungkin lebih karena aktivitas saya yang harus ke sana ke mari mencari berita yang akhirnya mempertemukan saya dan gedong cai.

Sewaktu mengikuti kegiatan Ngaleut Cidadap dan mampir ke gedong cai bersama rekan-rekan Komunitas Aleut, pada Kamis, 30 Desember 2021, ternyata juga dilakukan bukan karena usia gedong cai yang telah genap menjadi satu abad.

Baca lebih lanjut

Momotoran Paranggong: Camara, Londok sampai Puncakbaru.

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Berfoto dengan latar belakang Cagar Alam Gn. Simpang. Foto: Komunitas Aleut

“Paranggong euy!” gumam saya dalam hati.

Semalam di Ciwidey terasa cepat dan langit sudah terang kembali, sudah beberapa kali momotoran kami selalu menginap semalam sebelum besoknya menempuh perjalanan, cara ini dilakukan agar bisa menghemat tenaga dan bisa memulai perjalanan lebih dekat. Sebenarnya niatan untuk momotoran ke Paranggong ini baru diputuskan ketika menginap, niat awalnya sih staycation hehe.

Kami memulai perjalanan dari penginapan yang tak jauh dari Jl. Alamendah menuju Kampung Camara. Sepanjang jalan ke Camara ya lumayanlah engga jelek-jelek banget, udah ada cor beton meskipun baru dikit, kata warga itu bantuan dari perusahaan gas. Sebelum sampai Camara sudah ada korban motor kempes, motor Ervan langganan bocor kalau momotoran haha. Sembari menunggu motor yang bocor di Camara, saya dan Pahep mengobrol dengan guru SD Kendeng. Dia bercerita banyak hal mengenai kondisi sekolah, salah satunya tentang satu kelas yang hanya berisikan tiga orang siswa. Pak guru ini pun setiap hari harus menempuh perjalanan Ciwidey-Camara untuk mengajar. Jadi malu rasanya kalau kadang ada yang menyebut perjalanan momotoran kami ini sebagai petualangan mengingat banyak warga yang setiap hari bolak-balik menempuh puluhan kilometer jalanan rusak untuk pekerjaan sehari-hari mereka.

Baca lebih lanjut

Momotoran Gas Tipis ke Timur: Jejak Kereta Api, Ubi Cilembu, Radio Rancaekek, sampai Candi

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Saya senang karena selalu ada cerita berbeda di setiap Momotoran. Diawali dengan keberangkatan yang agak siang dan perjalanan yang mengarah ke timur, terasa asing karena biasanya jalur selatan yang selalu menjadi jalur utama setiap kali momotoran.

Tema momotoran kali ini adalah Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari. Sabtu, 30 Januari 2021, saya bersama teman-teman ADP 2020 menyambangi beberapa tempat yang berkaitan dengan jejak jalur Kereta Api Bandung-Tanjungsari yang sudah lama tidak aktif. Kami berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut melalui jalur yang sering saya sebut sebagai jalur neraka, karena kemacetannya yang selalu menguji kesabaran, Jalan Soekarno Hatta lalu Cibiru-Cileunyi-Jatinangor.  

Atas: Plang Makam
Bawah: Jembatan Cincin diambil dari pemakaman
Foto: Inas Qori Aina

Tempat pertama yang kami tuju adalah Jembatan Cincin di Cikuda, Jatinangor. Jembatan ini biasanya hanya saya pandangi dari kampus tempat saya berkuliah. Baru kali ini saya menginjakkan kaki di atas jembatan ini. Bukan Cuma berjalan di atasnya, tapi kami pun menyempatkan untuk turun ke bawahnya dan mengamatinya dari area persawahan. Di bawah sini ada sebuah permakaman kecil yang katanya ada makam keramatnya, tapi entah makam yang mana. Dari pemakaman kecil ini kami dapat melihat secara utuh konstruksi jembatan itu.

Cukup lama kami eksplorasi di sekitar Jembatan Cincin Cikuda, sesekali kami juga menyimak berbagai informasi dan cerita yang disampaikan. Berikutnya, kami berangkat lagi menuju titik selanjutnya, yaitu Jembatan Cincin Kuta Mandiri. Untuk menuju jembatan ini kami melalui jalan perdesaan dengan pemandangan sawah yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Jembatan ini terletak di tengah Desa Kuta Mandiri, Tanjungsari, sehingga tak heran masih menjadi jalur utama mobilitas warga desa. Ketika kami tiba di sana kami pun harus berhati-hati karena banyaknya kendaraan yang melintas di jembatan ini.

 Jembatan Cincin Kuta Mandiri Foto: Inas Qori Aina

Bentuk jembatan ini mirip dengan Jembatan Cincin Cikuda. Bedanya, di jembatan ini masih dapat dijumpai semacam tempat yang dulu digunakan untuk minggir (safety area) di saat kereta api melintas.

Setelah mendapatkan cerita tentang sejarah jembatan ini, kami bergegas menuju bekas Stasiun Tanjungsari. Bangunan bekas stasiun tersebut kini terletak di tengah permukiman warga yang cukup padat. Hanya sedikit peninggalan yang dapat saya lihat, yaitu papan nama stasiun serta bangunan bekas peron stasiun yang kini digunakan entah sebagai rumah atau taman kanak-kanak. Menurut Pa Hepi, bagian depan dari Stasiun Tanjungsari kini sudah tidak tersisa lagi.

Yang tersisa dari bekas Stasiun Tanjungsari foto: Inas Qori Aina

Tidak jauh dari Stasiun Tanjungsari, terdapat viaduct Tanjungsari yang dibangun melintasi Jalan Raya Pos. Bentuknya mirip dengan viaduct yang berada di Bandung. Hanya saja, Viaduct Tanjungsari tampak lebih sederhana dan lebih pendek.

Dari Tanjungsari kami melanjutkan perjalanan ke Citali. Saya dan teman-teman berhenti di pinggir jalan untuk memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki, ngaleut, menuju area persawahan milik warga sana. Siapa sangka, di tengah area sawah milik warga terdapat dua buah struktur bekas fondasi jembatan yang tidak selesai dibangun. Kami hanya memandangi struktur tersebut dari kejauhan, karena tidak berani melintasi jembatan kayu kecil yang di bawahnya terdapat aliran sungai yang terlihat tenang tapi mungkin cukup dalam.

Jembatan kayu menuju bekas jembatan kereta api di Citali Foto:Inas Qori Aina

Perjalanan ini tidak cukup sampai di Citali, dan bukan hanya tentang kereta api. Satu yang tak kami lewatkan yaitu untuk mampir ke sentra ubi Cilembu yang berada di Desa Cilembu. Ketika memasuki gapura desa tampak kebun ubi yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Kami pun menyempatkan untuk mampir ke sebuah warung ubi Cilembu milik seorang warga lokal. Di sini kami berbincang mengenai asal mula berkembangnya ubi Cilembu hingga menjadi oleh-oleh yang terkenal saat ini.

Kebun ubi Cilembu Foto: Inas Qori Aina

Oleh-oleh ubi Cilembu telah kami kantongi, saatnya kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Perjalan pulang kami melewati jalur yang berbeda dengan saat kami berangkat. Perjalanan kami melewati Parakan Muncang dan melewati jalur Cicalengka-Rancaekek. Di tengah jalan raya Rancaekek tampak plang yang tidak telalu besar bertuliskan “Situs Candi Bojong Menje”. Untuk menuju situs candi tersebut kami harus memasuki sebuah gang yang cukup kecil. Saya tak habis pikir ketika tiba di sini. Konstruksi batuan candi hanya dilindungi oleh sekeliling pagar yang sudah karatan serta atap yang rusak.

Berbincang dengan Pak Ahmad, kuncen Candi Bojong Menje Foto: Komunitas Aleut

Di sini kami berbincang dengan penjaga candi yaitu Pak Ahmad. Ia menceritakan bagaimana awal mula penemuan situs ini serta kemungkinan masih adanya struktur candi lain yang kini berada di tengah bangunan pabrik.

Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah bangunan bekas Stasiun Penerima Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Kata Pa Hepi, bangunan tersebut kini digunakan sebagai bengkel entah oleh siapa dan masih dimiliki oleh PT Telkom.

Waktu semakin petang, kami mengejar waktu agar sempat untuk melihat satu lagi candi yang masih terletak di Kabupaten Bandung. Beruntungnya, matahari masih mau menemani kami sehingga saat kami tiba keadaan belum terlalu gelap. Candi terakhir yang kami singgahi adalah Candi Bojongemas. Keadaan di sini justru lebih parah daripada Candi Bojong Menje. Papan informasi sudah berkarat dengan tulisan yang tidak cukup jelas. Batuan candi pun hanya dikelilingi oleh pagar kayu yang sangat rentan untuk rusak.

Keadaan di sekitar Candi Bojongemas Foto: Inas Qori Aina

Hanya sebentar kami melakukan pengamatan, keadaan pun semakin gelap. Tandanya perjalanan kami hari itu selesai, dan harus segera pulang. Di perjalanan pulang, pikiran saya tak karuan merenungkan pengalaman dari perjalanan Momotoran ke kawasan timur yang baru saja saya lalui, seperti yang tidak asing karena sering dilalui, tapi ternyata punya banyak peninggalan masa lalu yang rasanya tidak terlalu populer dan jarang dibicarakan orang…

***