#InfoAleut: Kelas Literasi “Konsumerisme Visual” dan Ngaleut “Kampung Warna”

Halo, Aleutian.

Kelas Literasi sudah memasuki pekan ke- 119 kali ini Kelas Literasi akan mengambil tema Konsumerisme Visual.
Sabtu, tanggal 2 December 2017 di @kedaipreanger mulai jam 13.45 wib
Mangga hadir dan kita diskusi mengenai tema yang kini sudah erat melekat dengan keseharian kita. . .
Untuk info lebih lanjut, narahubung berikut siap menjawab berbagai pertanyaan mengenai kegiatan Komunitas Aleut. Langsung saja hubungi
Whatsapp: +6289680954394 (Irfan) .

Jangan lupa juga untuk terus cek kegiatan Aleut lainnya di media sosial Aleut;

Twitter: @ Komunitasaleut
Line: @ Komunitasaleut
Instagram: @ Komunitasaleut

***

Kampung warna-warni berhias mural belakangan sedang marak. Hampir setiap kota di Indonesia punya kampung yang memiliki konsep yang sama. Termasuk Bandung. Yang terbaru dan sedang hangat dibicarakan adalah Kampung Warna Cibunut yang baru saja diresmikan oleh Walikota Bapak Ridwan Kamil pada tanggal 27November 2017.

Minggu ini kita ngaleut Kampung Cibunut Berwarna @cibunutfinest . Kita telusuri suasana kampung terbaru dan hal apa yang menarik untuk dipelajari. Aleutian nanti bebas berbaur dengan warga kampung sekitar.

OMAT! jangan cuma sibuk hunting foto untuk memuaskan hasrat menuhin feed Instagram dengan foto minimalis, ya. Hehehe kalau udah masuk kampungnya mah biasanya suka nemu hal menarik sampe lupa foto-foto. .

Hayu geura ikutan ngaleut Minggu ini, tanggal 3 Desember 2017 titik kumpulnya di depan Istana Boneka Jl. Sunda.
Konfirmasi kesertaan di narahubung
Whatsapp: +6289680954394 (Irfan)
Line: @ Komunitasaleut

Jangan lupa juga cek postingan kegiatan Aleut lainnya di media sosial Aleut:
Twitter: @ Komunitasaleut
Line: @ Komunitasaleut
Instagram: @ Komunitasaleut

Yuk ah, ngaleut!

Iklan

Minggu Berfaedah: Ngaleut KAA Bersama Komunitas Aleut (Part I)

medium inshonia 1

Oleh: Qiny Shonia (@inshonia)

Aleut aka. Ngaleut (Sunda) dalam Bahasa Indonesia berarti berjalan beriringan.

Mungkin ini yang mendasari komunitas ini berdiri. Seperti Minggu ini, teman-teman dari Komunitas Aleut ini ngaleut dari pagi hingga sebelum dhuhur menyusuri jalanan di Kota Bandung. Karena tema Minggu ini KAA, maka kami ngaleut dari titik 0 Kota Bandung, melalui Jl. Asia Afrika, mengunjungi Museum KAA, hingga sampai di Penjara Banceuy.

Awalnya saya tertarik dengan Semarang Walking Tour teman saya ikuti. Walking tour yang konsepnya pay as you wish tapi berfaedah karena menyusuri tempat-tempat bersejarah dan menggali budaya khas Semarang. Lalu saya mencari info barangkali ada Bandung Walking Tour juga. Sempat juga chit-chat dengan Eya yang sama-sama anak rantau di Bandung. We thought it would be fun than just staying ‘ngadeprok’ at home. Lalu, ada seorang teman yang bilang kalau Bandung ada Komunitas yang mirip seperti walking tour sampai akhirnya saya cari di instagram dan berkenalanlah dengan Komunitas ini. Baca lebih lanjut

Berkunjung ke Rumah Bosscha!

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Saya termasuk orang yang suka dengan bangunan heritage. Apapun jenis maupun nilai yang dimiliki oleh bangunan tersebut. Saat tour mengenang K.A.R Bosccha tanggal 25 November 2017 lalu bersama mooi Bandung, saya berkesempatan untuk mengunjungi rumah Bosscha, salah seorang preanger planters yang paling berpengaruh di tanah priangan.

Rumah bergaya arsitektur eropa

Rumah ini terletak di tengah perkebunan teh Malabar, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kenapa disebut rumah Bosscha? Karena rumah ini merupakan kediaman dari Karel Albert Rudolf Bosscha selama ia memimpin perkebunan teh Malabar selama 30 tahun lebih.

Dari kejauhan terlihat bangunan paling mencolok diantara bangunan lain sekitarnya. Sebuah rumah bergaya arsitektur Eropa dengan cerobong menjulang dan pilar persegi serta kolom jendela melengkung. Bagian atap berbentuk segitiga mengadaptasi atap rumah tradisional. Batuan alam warna hitam pada dinding luar diberikan agar tidak terlihat kotor saat terkena debu atau cipratan tanah saat hujan. Dinding rumah yang terpasang kaca di hampir semua bagiannya, membuat cahaya bebas masuk ke dalam rumah.  Baca lebih lanjut

Wisata Pangalengan: Satu Hari Menyusuri Jejak Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung

 

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Nama Bosscha sangat lekat dengan sebuah tempat peneropongan bintang di kawasan Lembang. Nama tersebut diambil dari nama sang inisiator yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha. Selain membangun observatorium, Bosscha juga mengelola Perkebunan Teh Malabar di daerah Pangalengan, Bandung. Di Perkebunan Teh Malabar inilah Bosscha banyak menghabiskan masa hidupnya. Saat pendidikan belum menyentuh masyarakat, ia bangun sebuah sekolah. Saat Perkampungan masih gelap gulita, ia buat listrik menerangi setiap rumah. Saat penduduk sekitar tak memiliki penghasilan, ia kembangkan perkebunan teh yang dikelolanya hingga produk tehnya kini menjadi salah satu komoditas ekspor di Jawa Barat. Beberapa waktu lalu, team dari YourBandung mencoba menyusuri jejak yang ditinggalkan oleh Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung melalui sebuah tour wisata “one day trip to heart of the tea Pangalengan” yang diselenggarakan oleh Mooi Bandoeng.

Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi “Bosscha” dan Ngaleut “Konfrensi Asia Afrika (KAA)”

Nama Bosscha indentik dengan Sebuah observatorium berdiri yang megah di sebidang tanah seluas 6 hektar di Lembang pada ketinggian 1300 mdpl. Sejak didirikan pada tahun 1923, observatorium sudah memberikan banyak manfaat bagi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang astronomi. .
.
Aleutian pasti sudah tahu bahwa nama Bosccha itu diambil dari seorang Belanda pemilik perkebunan teh terbesar di tanah Priangan, yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha. Tapi bukan Obeservatorium saja peninggalan Bosscha yang masih bisa dimanfaatkan sampai sekarang. Bosscha pun memperhatikan pendidikan para pekerjanya dengan mendirikan sekolah dan bangunan lainnya yag masih berdiri megah hingga detik ini. .
.
Yuk kita kenali lebih dekat tentang siapa sebenarnya Bosscha dan kita susuri jejak Bosscha di Bandung selengkapnya dalam Kelas Literasi yang bertepatan dengan hari pelaksanaan Tur Bosscha. –
Aleutian yang sudah mendaftar, siap-siap untuk berangkat hari Sabtu , 25 November 2017

***

“Nun di suatu masa nanti, Terusan Suez bakal bermandikan darah, api berkobar dahsyat di benua Asia dan Afrika. Akhirnya kedua benua, akan berpaut menyatu padu di kota ini!” – Drs. Sosrokartono

Sosorokartono adalah kakak kandung R.A. Kartini, seorang poligot yang menguasai 37 bahasa. Sempat malang melintang sejak menjadi mahasiswa di Negeri Belanda hingga menjadi jurnalis di kancah PDI dan penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa.

Saat kembali ke Hindia Belanda, ia tinggal di kota yang dijuliki Parijs van Java yang sedang giat-giatnya membangun di medio tahun1920-an. Saat itulah Sosotokartono meramalkan tentang suatu peristiwa bertemunya dua benua Asia dan Afrika di kota Bandung.

Inilah salah satu kisah ramalan tentang peristiwa Konferensi Asia Afrika.
Mau tahu lengkapnya ramalan dan peristiwa seputar KAA? Yuk ngaleut. Hari Minggu tanggal 26 November 2017. Kumpul di Titik 0KM. Kita akan susuri kota Bandung dengan sejarahnya yang berkenaan dengan KAA.

Untuk detail info kegiatan da konfirmasi kesertaan bisa dicek di akun dan narahubung berikut
Line: @ Komunitasaleut
Twitter: @ Komunitasaleut
Instagram: @ Komunitasaleut
Whatsapp +6289680954394 (Irfan)

Sejarah Terbaginya Bandung dan Wacana Kab. Bandung Timur

Sejarah Terbaginya Bandung dan Wacana Kab. Bandung Timur

Stasiun Bandung zaman dulu. Foto/Istimewa

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)
Wilayah Kabupaten Bandung akan semakin mengecil. Dimulai dengan kelahiran Kotamadya Bandung, lalu Kota Cimahi dan terakhir Kabubaten Bandung Barat, dalam waktu dekat akan segera berdiri Kabupaten Bandung Timur.

Pada 1 April 1906, pemerintah Hindia Belanda menetapkan kelahiran Kota Bandung yang diberi status sebagai gemeente atau kotapraja. Hampir seratus tahun kemudian, tepatnya pada 21 Juni 2001, Kota Cimahi pun resmi berdiri sendiri. Terakhir, pada 2 Januari 2007, Kabupaten Bandung Barat pun resmi berdiri. Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi “Leuweung Sancang” dan Ngaleut “Susur Pantai Jilid 4: Leuweung Sancang”

Kegiatan komunitas Aleut yang rutin dilaksanakan hari Sabtu-Minggu ini sedikit berbeda. Kelas Literasi dan Ngaleut akan dilebur menjadi kegiatan Susur Pantai jilid 4. Kali ini perjalanan masih tetap akan ditemani oleh Djeladjah Priangan. Bersama, kami akan menyusuri Pantai Selatan di wilayah Garut kemudian terus ke wilayah Tasikmalaya.

Salah satu kawasan utama yang akan dikunjungi adalah Leuweung Sancang. Sebagian Aleutian tentu sudah akrab dengan leuweung yang pernah menjadi satu judul lagu Sunda ini. Beberapa waktu lalu, Aleut juga sudah pernah bertandang ke kawasan ini. Meskipun sudah pernah, tapi ya seperti biasa, tetap bakal ada cerita baru dan hal² baru yang akan ditemui lagi kali ini.

Sancang masih menyimpan banyak sekali hal seru yang perlu digali lebih jauh lagi.

Apa saja yang kami temukan di sana nanti? Tunggu di postingan selanjutnya.
Oh, ya, mohon maaf. Peserta Susur Pantai jilid 4 ini dibatasi. Kali ini dikhususkan bagi yang sudah terdaftar di keanggotaan Komunitas Aleut saja.
#komunitasaleut
#Susurpantaijilid4
#DjeladjahPriangan