Us Tiarsa dan Memoar tentang Bandung

Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda
Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda

 

Oleh: Irfan Teguh (@Irfanteguh)

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) tengah berkecamuk di Jawa Barat, banyak penduduk yang mengungsi ke tempat yang lebih aman, salah satunya ke Kota Bandung. Mereka yang mengungsi ke Kota Bandung itu mayoritas datang dari Tasikmalaya terutama dari Ciawi dan Garut. Bahkan ada juga yang datang dari daerah-daerah dekat seperti Ciparay, Manggahang, dan Dayeuhkolot.

Tahun 1952 seorang bocah melihat banyak tamu datang ke rumah orang tuanya. Ia bertanya kepada bapaknya ihwal siapa tamu-tamu tersebut. Bapaknya menjelaskan bahwa mereka adalah para pengungsi yang menghindari gerombolan DI/TII. Us Tiarsa nama anak tersebut. Ia baru kelas tiga sekolah rakyat waktu itu, tapi sudah senang membaca koran Pikiran Rakyat dan Sipatahoenan.

Kebiasaan Us membaca dua koran itu mendorongnya untuk menulis saat satu peristiwa kedatangan para rombongan ke rumahnya. Ia lalu mengirimkan tulisannya ke redaksi Pikiran Rakyat tanpa memberitahu orang tuanya. Baca lebih lanjut

Iklan

#InfoAleut: Kelas Literasi “Bandoeng Tempo Doeloe” dan Ngaleut Bandoeng Kota Kembang

IMG-20170922-WA0013.jpg

Seperti apakah Kota Bandung tempo dulu?
Seberapa besar perubahan yang telah dialami kota yang disebut ” Romantische Vormen” oleh profesor Veth ini?.

Mari Ngobrol di Kelas Literasi pekan ke-110.
Hari Sabtu di Kedai Preanger Jalan Solontongan 20 D pukul 13.45 WIB.
Kita cari tah lebih dalam tentang sejarah Bandung tempo dulu

IMG-20170922-WA0029.jpg

Bertepatan dengan hari jadi Kota Bandung, Hari Minggu ini kita kembali akan menelusuri jejak sejarah Kota dalam NgAleut “Bandung Kota Kembang”

Sedikit tentang Kota Bandung.
Hingga akhir abad XIX Bandung merupakan sebuah kota pegunungan mungil yang sepi dan terbelakang. Hingga sebuah kongres para pengusaha gula mengubah semuannya. Sejak 1896 Bandung mendapatkan satu julukan baru “De Bloem der Indische Bergsteden” (kembangnya kota pegunungan di Hindia Belanda). Sebutan yang idnah bagi sebuah kota kecil.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya adda kisah lain di balik panggilan yang memberi kesan cantik dan harum yang telah melekat padda Kota Bandung ini.
Dalam ngaleut pekan ini Komunitas Aleut akan menguraikan makna yang tersembunyi di belakang kisah “Bandung Kota Kembang”.
Yuk Ngaleut!

Kumpul di halaman depan Museum Sri Baduga pukul 07.25 WIB
Hubungi nomor yang tertera di poster untuk informasi lebih lanjut.

Mengintip Isi Kamar Pandit Jawaharlal Nehru Di Savoy Homann Bandung

homann

Kamar 144 Savoy Homann yang pernah ditempati PM Nehru

Oleh: Irfan Arfin (@Fan_Fin)

Cerita soal nomor kamar keramat di sebuah hotel seringkali menjadi bahan incaran para sineas untuk ide pembuatan filmnya. Setelah film 1408 yang dibintangi John Cusack sukses di Hollywood sana pada 2007 lalu, perfilman Indonesia pun tak mau kalah dengan merilis film berjudul 308 yang dibintangi Shandy Aulia. Saya pun berkesempatan berkunjung ke sebuah kamar keramat di Hotel Bidakara Savoy Homann Bandung yaitu kamar 144, namun walaupun disebut keramat, kamar yang satu ini tidak berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis. Kamar ini menjadi kamar keramat karena pernah ditempati oleh Perdana Menteri pertama India yaitu Pandit Jawaharlal Nehru pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi “Menulis Naskah Sejarah” dan Ngaleut Jejak Natsir Di Bandung

IMG-20170915-WA0004.jpg

NgAleut kali kita akan menelusuri jejak dari M. Natsir di Bandung. Apa saja yang beliau lakukan dan kemana saja, kita cari tahu bersama.

Yuk gabung aja ngaleut sama kita.

Minggu, 17 September 2017
Kumpul di depan Hotel Savoy Homan
Pukul 07.30 WIB

Silahkan konfirmasi kehadiran kalian ke nomor cp yang tertera di poster!! .

Pastikan pakai atribut aleut kalian!
Jangan lupa ajak teman-temanmu, keluargamu biar ngaleutnya makin rame ­čśÇ­čśÇ

Mencari Selatan, Timur, Ujung dan Tengah Bersama PHH Mustapa

Mencari Selatan, Timur, Ujung dan Tengah Bersama PHH Mustapa

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@Irfanteguh)

Warga Kota Bandung pasti tidak asing dengan Jalan PHH Mustapa, ruas jalan yang menyambungkan Jalan Surapati dengan Terminal Cicaheum, atau biasa disebut Suci (Surapati-Cicaheum).

Penghulu Haji Hasan Mustapa lahir pada 3 Juni 1852 di Cikajang, Garut. Ayahnya bernama Mas Sastramanggala, seorang Camat kontrakan teh Cikajang. Ibunya bernama Nyi Mas Salpah (Emeh), masih keturunan Dalem Sunan Pagerjaya dari Suci, Garut. Sebagian kecil masyarakat berspekulasi, bahwa penamaan Suci di ruas Jalan PHH Mustapa dikaitkan dengan daerah Suci asal Dalem Sunan Pagerjaya.

Hasan Mustapa adalah Hoofd Penghulu (Kepala Penghulu) Bandung yang paling terkenal. Beliau dikenal sebagai ulama mahiwal (nyeleneh) karena beberapa sikapnya dianggap tidak lazim oleh masyarakat umum. Ajip Rosidi dalam buku Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana menulis contoh sikap Hasan Mustapa yang nyeleneh tersebut. Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi “Mengenal Kerajaan Sunda” dan Ngaleut Tokoh Perlawanan Nusantara

Kelas Literasi pekan ke-108
Setelah pekan kemarin mendatangi jejak gerbang Pakuan Pajajaran, Sabtu ini kami akan mencoba mengurai sejarah Kerajaan Sunda yg seringkali masih disalahpahami, termasuk di dalamnya kisah Perang Bubat, siapa sebenarnya Prabu Siliwangi, simbol maung, dll.

Mari merapat ke @kedaipreanger Jl. Solontongan No. 20-D, Buahbatu. Acara akan dimulai jam 13.45 WIB
Haturnuhun.

IMG-20170908-WA0006

NgAleut kali ini kita akan menelusuri tokoh-tokoh perlawanan nusantara yang diabadikan menjadi nama jalan di Kota Bandung. Ingin tahu siapakah tokoh tersebut dan bagaimana kisah perlawanannya?
Yuk gabung aja ngaleut sama kita.

Minggu, 10 September 2017
Kumpul di patung PDAM jalan Sultan Agung
Pukul 07.30 WIB

Silahkan konfirmasi kehadiran kalian ke nomor cp yang tertera di poster!! .

Pastikan pakai atribut aleut kalian!
Jangan lupa ajak teman-temanmu, keluargamu biar ngaleutnya makin rame ­čśÇ­čśÇ

IMG-20170908-WA0005

Jembatan Citarum Lama dan Tanjakan Yang Melegenda

Oleh: Abu Fauzan (@pahepipa)

We consider this ascent from the Tjeetaram to be the only really dangerous part of the road between Batavia and Bandong. (Charles W Kinloch ÔÇô 1852)

Perjalanan saya kali ini adalah mengunjungi dua jembatan Citarum di sekitar Rajamandala. Pertama, mengunjungi jembatan jalan raya lama di atas Citarum dan Cihea, selanjutnya adalah jembatan kereta api di dekat muara sungai Cimeta.

Jembatan lama Citarum yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur ini tidak bisa dikatakan lama juga. Jembatan tersebut adalah jembatan baru yang mengganti jembatan lama dan dibangun oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersamaan dengan pembangunan waduk Cirata Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: