Ringkasan Biografi Maskoen Soemadiredja

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Madihatur Rabiah

Buku merupakan jendela dunia. Dengan membuka buku berarti kita membuka jendela dunia, maka melalui buku yang dituliskan oleh Prof. Dr. Nina H. Lubis tentang salah satu tokoh Pahlawan Nasional Jawa Barat, kita dapat mengenal tokoh tersebut dengan baik.

Pahlawan, sosok yang seringkali dikagumi banyak orang, walaupun mungkin mereka sendiri tidak ingin dipuja-puja atau didamba. Walaupun begitu, seringkali orang-orang yang telah banyak memiliki jasa untuk masyarakat dan negara ini, tidak mendapatkan apresiasi yang sepantasnya, baik ketika mereka masih hidup ataupun setelah meninggal. Untuk itulah kemudian peran sejarawan diperlukan untuk mengungkap para pahlawan tersebut.

Maskoen Soemadiredja

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Ir. H. Djuanda

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Barangkali itulah kutipan yang ingin disampaikan oleh penulis buku “9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat” bagi para pembaca agar senantiasa mengingat perjuangan para pahlawan bagi kemajuan bangsa.

Beberapa nama dalam buku ini rasanya tak asing ditemui di sudut kota sebagai nama jalan seperti Ir. Djuanda, Dewi Sartika, K.H. Zaenal Mustofa ataupun R. Oto Iskandar Di Nata. Namun lebih dari itu, nama-nama tersebut perlu kita ketahui kisahnya dan teladani dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini khusus meresensi bagian biografi Ir. H. Djuanda.

Latar Belakang Ir. H. Djuanda Kartawidjaja

Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 Januari 1911, dalam sebuah keluarga menak dan berpendidikan. Ayahnya Raden Kartawidjaja dan Ibunya Nyi Momot. Sifat Djuanda yang pendiam merupakan warisan dari ayahnya yang akhirnya terbawa sampai masa tuanya.

Pendidikannya dimulai dari Hollands Indlandsche School (HIS) di Kuningan. Namun karena mengikuti orang tuanya yang diangkat menjadi Mantri Guru di Cicalengka, Djuanda pun pindah ke Europese Lagene School (ELS) di Cicalengka (1923). Setelah menamatkan pendidikannya di ELS, Djuanda melanjutkan pendidikan di HBS Bandung dan lulus dengan predikat schitterend geslaagd (lulus dengan baik sekali) bergelar diploma HBS. Atas pencapaiannya tersebut, Djuanda memperoleh beasiswa dari Pemerintah Hindia Belanda untuk melanjutkan pendidikannya ke Technische Hoogeschool(THS; sekarang ITB) pada bulan Juli 1929. Gelar civiel ingenieur (Insinyur Sipil) didapatnya setelah ia dinyatakan lulus dari THS.

Kiprah Politik

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Rd. Dewi Sartika

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Latar Belakang Penulis dan Buku “9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat”

Buku yang berjudul 9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat merupakan hasil buah karya Prof. Dr. Nina Herlina, M.S.. Ibu Nina adalah seorang sejarawan yang telah menghasilkan banyak karya, 44 judul buku telah beliau tulis termasuk yang ditulis secara mandiri maupun bersama. Salah-satu adikaryanya yang memberikan peran dalam dunia literasi adalah buku Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942.

Selain menjadi seorang sejarawan, wanita asli Sunda ini juga merupakan guru besar di Universitas Padjadjaran yang merangkap beberapa jabatan. Beliau banyak tampil menjadi narasumber baik di dalam negeri hingga ke luar negeri. Wanita yang mendapat penghargaan dari Universitas Gadjah Mada sebagai Lulusan Terbaik Program Pascasarjana S-2 tahun 1990 juga mendapatkan berbagai penghargaan lainnya. Beliau mengikuti berbagai organisasi, sehingga namanya tercatat di berbagai organisasi. Informasi selengkapnya bisa dilihat di http://ninaherlinalubis.com/.

Dengan diterbitkannya buku 9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat, Ibu Nina berharap agar setiap warga Indonesia, khususnya generasi muda dapat mengenali dengan baik pahlawan-pahlawan Indonesia, dan dapat mengambil nilai moral dari kisah patriotsme dan nasionalisme para pahlawan Indonesia, khususnya asal Jawa Barat.

Dewi Sartika

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Gatot Mangkoepradja

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Aditya WIjaya

Perintis Kemerdekaan RI

Bapak Pendiri Tentara Sukarela

Pembela Tanah Air

(Tulisan pada batu nisan Gatot Mangkoepradja di TPU Sirnaraga, Bandung)

Latar Belakang

Gatot Mangkoepradja adalah pendiri pasukan PETA atau Pembela Tanah Air. Ia lahir pada tanggal 15 Desember 1898 di Kampung Citamiang, Panjunan, Sumedang. Ia merupakan keturunan menak dari Galuh, Ciamis. Pendidikan Gatot dimulai dari Frobel School (Taman Kanak-Kanak), Europeesche Lagere School (ELS), Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), dan Hogere Burger School (HBS). Gatot pernah bekerja di Statsspoor en Tramwegen (Jawatan Kereta Api).

            Pergulatan Gatot dalam dunia pergerakan Indonesia dimulai pada tahun 1913 ketika ia ikut dalam pembentukan Paguyuban Pasundan. Ia kemudian pernah menjadi Sekretaris Hoofdbestuur (Pengurus Besar) Persatuan Buruh Kereta Api pada tahun 1922. Akhir tahun 1927 Gatot menghadiri pembentukan PNI di Bandung. Kontribusi Gatot dalam mendukung PNI sangat besar. Karena gerakan PNI dianggap membahayakan oleh Belanda, pada akhir tahun 1929 Gatot bersama Soekarno ditangkap di Yogyakarta. Ia diadili di pengadilan Landraad Bandung dan dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun di lapas Sukamiskin Bandung.

            Gatot pernah membuka usaha obat-obatan “Dispensary” di Bandung. Ia mempunyai relasi bisnis dengan beberapa perusahaan di Jepang. Pada bulan Oktober 1933, Gatot bersama Parada Harahap berkunjung ke Jepang untuk keperluan bisnis. Kebetulan ketika itu juga sedang berlangsung Kongres Pan-Asia 1 di Tokyo. Gatot pun menghadiri kongres itu sebagai wakil dari Indonesia. Sejak saat itu timbul kesan dalam diri Gatot bahwa Jepang adalah harapan untuk Asia.

Pembentukan PETA

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi R.E. Martadinata

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Agnia Prillika

Nama R.E Martadinata sebetulnya tidak terlalu asing bagi saya, karena merupakan salah satu nama jalan utama di Kota Bandung. Yang terasa agak aneh, walaupun nama jalan ini sudah lama diubah menjadi Jl. R.E. Martadinata, tapi banyak orang masih mengenal dan menyebut dengan nama lamanya, yaitu Jalan Riau.

Ketika saya mendapatkan tugas untuk membuat ringkasan biografi tokoh R.E. Martadinata berdasarkan buku “9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat” karya Nina H. Lubis, saya kira akan ada penjelasan juga tentang asal-usul penamaan jalan tersebut, tapi ternyata tidak ada. Namun, melalui buku ini saya menjadi lebih mengenal siapa sosok R.E Martadinata, mulai dari kisah hidup dan perjuangannya sebagai tokoh ALRI, dan menjadi Pahlawan Nasional. Selain itu, saya menjadi tertarik untuk mengetahui dan mengenal lebih banyak pahlawan nasional lainnya karena serasa diingatkan kembali akan perjuangan bangsa kita merebut dan mempertahan kemerdekaan.

Latar Belakang dan Pendidikan

Nama lengkapnya, Raden Eddy Martadinata. Lahir di Bandung dari pasangan Raden Roechijat Martadinata dan Nyi Raden Soehaemi pada 29 Maret 1921. Pendidikannya dimulai dari Hollands Indlandsche School (HIS) Palembang. Namun tak lama, karena ia harus berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat pekerjaan orang tuanya. Setelah pendidikan HIS di Lahat (1934), Eddy melanjutkan ke MULO di Bandung (1938), AMS di Jakarta (1941), dan Zeevaart Technische School (1942). tetapi tidak sampai tamat karena pendudukan Jepang. Eddy kemudian mengikuti pendidikan di Sekolah Pelayaran Tinggi di Jakarta yang diselenggarakan oleh Jepang, lulus, dan diangkat sebagai nakhoda kapal latih Dai28 Sakura Maru.

Selama masa mudanya, ia tampak menonjol dan aktif mengikuti kegiatan, antara lain bekerja sebagai penerjemah di Kantor Besar Kereta Api Bandung, dan menjadi guru termuda di SPT. Ia juga menghimpun para perwira muda untuk ikut ambil bagian dalam usaha mempersiapkan lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Baca lebih lanjut

Ringkasan Biografi Prof. Dr. Mr. Kusumah Atmaja

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Annisa Almunfahannah

Buku “9 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat” merupakan buku yang cukup tipis sebagai buku sejarah, karena memuat biografi sembilan tokoh Pahlawan Nasional hanya dalam 210 halaman. Tapi tentu saja buku ini bukan mau menyampaikan biografi lengkap dan rinci dari kesemua tokoh itu, melainkan hanya ringkasan sebagai perkenalan saja kepada publik pembaca. Biografi tokoh-tokoh tersebut diceritakan secara singkat, padat, dan memuat beberapa kejadian penting yang berkaitan dengan tokoh tersebut.

Sebagai bagian dari Kelas Belajar Menulis, setiap peserta ADP-20 Komunitas Aleut mendapatkan tugas untuk membuat resensi sederhana, tidak untuk keseluruhan buku, melainkan satu tokoh saja untuk masing-masing peserta. Saya kebagian tokoh Kusumah Atmaja. Berikut ini ringkasannya.

Ringkasan Biografi Prof. Dr. Mr. Kusumah Atmaja

Kusumah Atmaja lahir di Purwakarta pada tanggal 8 September 1898 dengan nama Sulaeman Effendi Kusumah Atmadja. Latar belakang keluarga dari kalangan ménak membuat Kusumah Atmaja mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan hingga ke jenjang tinggi, Rechtsschool di Batavia.

Setelah menyelesaikan pendidikan ilmu hukumnya dan mendapat gelar meester in de rechten (Mr.) pada tahun 1919, Kusumah Atmaja mendapatkan beasiswa dari Kerajaan Belanda untuk melanjutkan studi hukum di Universitas Leiden Belanda, dan berhasil meraih gelar Doctor in de recht geleerheid pada tahun 1922 dengan disertasi berjudul De Mohammedaansche Vrome Stichtingen in Indië (Lembaga Ulama Islam di Hindia Belanda) yang menjabarkan tentang hukum wakaf di Hindia Belanda.

Kusumah Atmaja mengawali karirnya sebagai hakim di pengadilan negeri dan kemudian diangkat menjadi Kepala Pengadilan Negeri di beberapa kota di Pulau Jawa. Kemudian beliau diangkat sebagai anggota Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi) dan  menjadi satu-satunya pribumi yang menduduki posisi tersebut.

Baca lebih lanjut

Kisah Legenda dan Mitos Terkait Wabah

Legenda dan mitos merupakan bentuk cerita rakyat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Sedangkan mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa, dan mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Terkadang pengertian antara legenda dan mitos kerap dicampuradukkan. Namun, sebenarnya ada beberapa perbedaan antara legenda dengan mitos. Perbedaan yang cukup mendasar adalah pada tokoh utama pelaku, waktu kejadian, dan kedudukannya sebagai cerita rakyat. Jika tokoh dalam mitos adalah dewa atau manusia setengah dewa, dan peristiwanya terjadi dalam masa ketika alam dunia belum terbentuk, atau dalam proses terbentuknya alam semesta, maka tokoh dalam legenda adalah manusia biasa dan terjadi setelah dunia tercipta. Perbedaan lainnya antara legenda dan mitos adalah kedudukan cerita mitos dianggap memiliki nilai sakral/kisah suci dan dipercaya kebenarannya oleh satu suku bangsa.

Kedudukan mitos sebagai kisah yang sakral dan suci biasanya didukung oleh penguasa dan pemuka agama atau orang yang dianggap suci dalam masyarakat itu. Dalam beberapa mitos yang memiliki keterkaitan dengan wabah dapat dilihat peran dan keterlibatan para pemuka agama atau orang yang dianggap memiliki kelebihan tertentu.

Tulisan mengenai mitos wabah di sini dibatasi hanya mengenai kisah mitos di lingkungan daerah Sunda, dan khususnya dari masa penyebaran Islam hingga mitos-mitos yang tetap hidup di masa modern.  

Dalam cerita rakyat atau folklore dapat ditemukan nilai-nilai kebajikan, keberanian, kejujuran, kekuatan tekad, kesabaran, keikhlasan, dan pelajaran bahwa kesabaran akan membuahkan hasil, dan bahwa kebajikan akan mampu mengatasi kejahatan. Tujuan lain yang bisa diperoleh dari cerita legenda dan mitos adalah mempelajari dan mengerti bagaimana reaksi masyarakat dalam menghadapi wabah penyakit di masa lalu.

Baca lebih lanjut

Cikajang dan Stasiun yang Awalnya Tidak Diinginkan

Saya kembali melewati Cikajang, sebuah kota kecil di Kabupaten Garut. Malam itu, suasana lengang dan sedikit basah. Cikajang tetaplah Cikajang, kota berhawa dingin ini sering saya kunjungi dahulu, baik saat menempuh perjalanan ke Pangandaran, ataupun secara sengaja untuk melihat-lihat keadaan stasiun di sana. Minggu 8 November 2020 itu, saya melewati Cikajang bersama teman-teman dari Komunitas Aleut. Perjalanan “momotoran” ini merupakan bagian dari Aleut  Development Program 2020. Jalur yang kami tempuh saat itu adalah jalur Bandung – Pangalengan – Rancabuaya – Pameungpeuk – Cikajang – Garut – dan kembali ke Bandung.

Saat itu, saya hanya punya waktu beberapa detik saja untuk menengok ke arah Stasiun Cikajang. Stasiun tertinggi di Indonesia ini memang ada di dalam gang. Sebenarnya, keberadaan Stasiun Cikajang ini tidak jauh dari pinggir jalan raya. Stasiun ini hanya tersembunyi di belakang toko-toko, dan dalam keadaaan rusak parah dan menunggu renovasi. Saat melewati Cikajang saat itu, ada beberapa cerita tentang Stasiun Cikajang yang lewat di kepala.

Cibatu-Cikajang, 1980. http://www.world-railways.co.uk.

Dicibir Dewan Rakyat

Baca lebih lanjut

Perjalananku adalah Pengalamanku

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020.

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Waktu menunjukkan persis pukul sebelas malam. Sebagian dari kami, termasuk aku. telah sampai di Sekretariat Komunitas Aleut di Pasirluyu Hilir No. 30. Tidak ada yang aku inginkan selain turun dari motor dan segera merebahkan diri di dalam rumah.

Aakhhhh!!! Teriakku sambil melepas penat dan lelah bekas perjalanan panjang.

Tidak lama aku merebahkan badan yang terkoyak-koyak oleh medan perjalanan yang tidak biasa aku lalui. Aku segera bangkit membuat segelas kopi panas agar energiku sedikit kembali pulih.

Akhirnya aku berhasil melewati perjalanan yang mengerikan tersebut, melalui perjalanan panjang yang baru kali ini aku tempuh, membelah pegunungan dengan medan yang cukup menantang, berjalan bersama pantai dengan ketinggian suhu yang tidak biasa kulitku rasakan, dan masih banyak hal yang sebetulnya ingin aku ceritakan andai ruang ini tidak dibatasi.

Meskipun rasa lelah menguasai diri, namun tidak lantas menjadi penghalang bagi kami untuk saling bertukar cerita tentang perjalanan yang baru kami lalui. Kami pun larut dalam persilangan kisah.

Masih terasa hangat dalam benak tentang perjuangan tim ADP-2020 dalam proses pembelajaran kali ini, lewat salah satu programnya yaitu momotoran. Tujuan momotoran kali ini berbeda dari sebelumnya, pada kesempatan ini kami harus menempuh jarak lebih dari tigaratus kilometer antara Bandung-Rancabuaya dan kembali ke Bandung melewati rute yang bebeda, Rancabuaya-Gunung Gelap-Garut-Nagrek- Pasirluyu Hilir.

Berselfie sambil mobile. Foto: Rani.

Banyak hal yang dapat kuambil dari perjalanan momotoran susur Pantai Selatan kali ini. Tapi ingatanku masih terpaku di Gunung Gelap yang beberapa jam ke belakang baru kami lewati. Suasana mencekam sebagaimana yang tersebut dalam dongeng Gunung Gelap sepertinya sudah hilang, mungkin karena sudah banyak kendaraan bermotor yang lalu-lalang, sehingga mengurangi nilai keangkeran Gunung Gelap. Berbeda suasananya ketika kami melewati Gunung Tilu dua minggu lalu. Walaupun jaraknya lebih pendek, namun suasana di sana masih terasa mencekam, sambil waswas bahaya begal pula. 

Baca lebih lanjut

Kampung Kahuripan di Perkebunan Cukul

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020.

Ditulis oleh : Deuis Raniarti

Selalu ada yang pertama kali dalam hidup, seperti pertama kali menangis, pertama kali bisa mengayuh sepeda, atau pertama kali mencicipi buah lemon. Minggu, 8 November 2020 adalah pertama kalinya saya ke Rancabuaya. Saya ke sana dalam rangka Momotorannya Aleut Development Program angkatan 2020. Ada sepuluh orang peserta yang ikut. Hari cukup cerah saat kami melewati Banjaran, Cimaung, Pangalengan, sampai ke Perkebunan Cukul.

Dalam Momotoran kali ini motor yang saya tumpangi tidak menjadi leader, melainkan berada di urutan kedua. Leader dalam perjalanan ini adalah Adit yang ditemani Inas. Adit memacu motor dengan cukup cepat tanpa ragu. Pemberhentian pertama kami adalah Tugu Perintis Cimaung untuk mengetahui peristiwa apa yang diperingati oleh pendirian tugu itu.

Tugu Perintis Cimaung. Foto: Rani.

Dalam perjalanan ini saya baru menyadari betapa luasnya Perkebunan Teh Pasirmalang. Pada Momotoran lalu, kami juga ke Pasirmalang, tapi di bagian dalamnya, itu pun dalam keadaan hujan besar serta kabut yang tebal. Jalanan mulus di perkebunan ini terasa menyenangkan sekali. Ada banyak kelompok pengendara lain juga di jalur ini, mungkin menuju berbagai tempat wisata yang semakin banyak tersebar di kawasan ini.

Baca lebih lanjut