Satu Klan Ambon di Perkebunan Priangan

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

“Beta Pattirajawane
Yang dijaga Datu-datu
Cuma Satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan”

Cerita Buat Dien Tamaela- Chairil Anwar

Entah pada saat Ngaleut yang mana saya pernah membacakan puisi tadi. Namun saya ingat membacakan puisi itu ketika singgah di GOR Saparua, sebuah tempat yang cukup akrab bagi saya. Saat ngaleut itu, saya bercerita mengenai Saparua dan orang-orang dari Ambon atau lebih luasnya Kepulauan Maluku. Mereka datang dan hidup di Bandung.

Menurut pengasuh Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, adanya orang-orang dari berbagai suku bangsa dan salah satunya adalah mereka yang datang dari Kepulauan Maluku atau sering disebut dengan orang Ambon, ini membuktikan bahwa Bandung adalah sebuah skala kecil dari melting pot (kuali pembauran). Baca lebih lanjut

Secuil Kisah Momotoran Bareng Komunitas Aleut

Secuil kisah momotoran 1

Oleh: Deuis Raniarti (@deraniarti)

“……. i’m coming home, i ‘m coming home,
tell the world that i’m coming home,
let the rain wash away
all the pain of the yesterday…”

Sepasang penyuara telinga tersemat pada indra pendengaran. Lagu Coming Home yang dilantunkan Skylar Grey menemani perjalanan saya ke kota Bandung. Saya pikir lagu ini cukup tepat dengan suasana saat ini. Baca lebih lanjut

Dewata dan Imajinasi

Dewata dan Imajinasi

Perjalanan menuju Perkebunan Teh Dewata | © Komunitas Aleut

Oleh: Mey Saprida Yanti (@meysaprida)

Sudah tahu bakalan melewati jalan berbatu—yang batunya segede orok, sudah tahu pula bakalan duduk berlama-lama di motor, tapi entah setan atau malaikat dari mana yang membisikanku hingga aku keukeuh untuk ikut Ngaleut Dewata 2 ini. Mungkinkah aku berniat mencari pengalaman? Bisa jadi, apalagi Ngaleut kali ini terasa menarik karena didominasi oleh kaum hawa.  

Kami berangkat lebih pagi dengan harapan bisa pulang kembali ke Bandung lebih awal. Kali ini hanya ada satu tujuan, yakni Dewata. Jika saat Ngaleut Dewata pertama kami tiba di Rancabolang pada waktu Ashar, kini sebelum Dzuhur kami sudah sampai di sana. Seperti biasa, kebun teh Rancabolang adalah oasis setelah melewati hutan Gunung Tilu, Baca lebih lanjut

Dewata Itu Fana, Solontongan Yang Abadi

Tiga puluh menit menuju pukul enam, telepon berdering nyaring. Dengan kepala berat hasil tiga jam beristirahat, kuperiksa teleponku dan kuangkat. Panggilan dari seorang teman yang sudah kutitipi pesan untuk minta dibangunkan. Tentu saja, aku tidak ingin melewatkan hari besar yang sudah kunantikan. Hari Sabtu pertama di bulan Maret 2018, aku akan menjalankan salah satu perjalanan akbar bersama Komunitas Aleut: Tur Momotoran Ke Perkebunan Teh Dewata.

Karena kondisi fisik yang dirasa kurang prima, aku pun membawa persiapan ekstra agar tidak menyulitkan kawan-kawan seperjalanan. Selain itu, memang tubuhku ini lebih rapuh dalam menghadapi cuaca dingin daripada cuaca panas. Mungkin kondisi bawaan geografis. Baca lebih lanjut

Hanya Ada Satu Jalan Menuju Dewata

IMG-20180304-WA0159

Jalan menuju Perkebunan Teh Dewata | © Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Alarm berdering tepat dua jam setelah berkumandangnya adzan subuh. Ampuh juga ternyata alarm ini. Ia mampu membangunkan saya. Saya sebenarnya sempat khawatir jika tak bisa bangun pagi, sebab orang rumah sedang pergi keluar kota. Itu artinya saya harus berusaha bangun pagi sendiri.

Saya bangun pagi dan tak terlambat menuju Kedai Preanger. Momotoran ke Dewata kali ini saya berboncengan dengan Mbak Mey. Wanita yang kerap kali dibonceng oleh Mas Irfan. Namun tak ada lagi Mas Irfan, sebab ia sudah hijrah ke Ibu Kota. Mengais rezeki di sebuah media daring terkemuka. Seperti biasa kami berkumpul terlebih dahulu di Kedai Preanger. Total 12 kuda besi siap menggilas jalanan dengan jumlah serdadu Baca lebih lanjut

Susur Jejak Spoorwegen, Rel Kereta Api yang Membelah Bandung Hingga Ciwidey Bagian 2

#2 Susur jejak spoorwegen

Susur Jejak Spoorwegen, Rel Kereta Api yang Membelah Bandung Hingga Ciwidey

Oleh : Sri Evi Rezeki (@evisrirezeki)

Petualangan Susur Jejak Spoorwegen bagi saya pengalaman menembus zaman. Seolah sedang menaiki mesin waktu Doraemon. Mengaduk-aduk perasaan, menyita kekuatan.

Baca juga Susur Jejak Spoorwegen, Rel Kereta Api yang Membelah Bandung Hingga Ciwidey Bagian 1.

Istirahat di Pasirjambu

Tak terasa hari sudah siang. Perut kami mulai keroncongan. Seperti dapat membaca hasrat perut kami, panitia mengajak kami istirahat di Pasirjambu. Sebuah tempat makan dengan konsep alam. Makan di saung-saung diiringi gemericik kolam ikan dan angin yang berhembus mengantarkan wewangian dedaunan bebungaan. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan : Ngaleut Dewata 2

P_20180303_142237_PN

Perkebunan Teh | © Tegar Sukma A. Bestari

Oleh: Tegar Sukma A. Bestari (@teg_art)

Dikejauhan kabut mulai turun, perlahan menyelimuti perbukitan sebagai tanda hari sudah mulai sore. Hari itu, pukul 16.30 saya duduk ditemani kucing kampung berwarna abu-abu yang dekil dan tidak terurus namun cukup gemuk. Sebenarnya saya sedang menunggu satu-satunya penambal ban di kawasan ini. Di sini penambal ban adalah profesi sampingan sehingga saya harus menunggu sang tukang hingga waktu kerja usai.

Biasanya semua pekerja pulang pukul 16.00, namun khusus hari itu ada pekerjaan tambahan bagi penambal ban. Saya sabar saja menunggu, toh tidak ada pilihan lain karena untuk keluar dari kawasan kebun teh ini harus melewati 18km dengan jalan yang bisa merusak motor. Sambil sesekali melihat jam tangan saya memperhatikan Baca lebih lanjut