Satu Klan Ambon di Perkebunan Priangan

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

“Beta Pattirajawane
Yang dijaga Datu-datu
Cuma Satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan”

Cerita Buat Dien Tamaela- Chairil Anwar

Entah pada saat Ngaleut yang mana saya pernah membacakan puisi tadi. Namun saya ingat membacakan puisi itu ketika singgah di GOR Saparua, sebuah tempat yang cukup akrab bagi saya. Saat ngaleut itu, saya bercerita mengenai Saparua dan orang-orang dari Ambon atau lebih luasnya Kepulauan Maluku. Mereka datang dan hidup di Bandung.

Menurut pengasuh Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, adanya orang-orang dari berbagai suku bangsa dan salah satunya adalah mereka yang datang dari Kepulauan Maluku atau sering disebut dengan orang Ambon, ini membuktikan bahwa Bandung adalah sebuah skala kecil dari melting pot (kuali pembauran).

Bang Ridwan, panggilan akrabnya, kemudian memberikan satu contoh nama Alexander J. Patty. Walaupun tak banyak yang mengenal namanya, Alexander J. Patty adalah tokoh pergerakan dan aktif di organisasi “Jong Ambon”. Patty ditahan dan terdampar di Bandung hingga tutup usia. Konon salah satu kawan seperjuangannya adalah ayah dari Dien Tamaela, kawan perempuan “Si Binatang Jalang” Chairil Anwar.

Pada masa sekarang di Bandung dikenal beberapa fam populer dari Ambon seperti Goeslaw, Saba, Zein, atau Sahanaya, nama-nama yang dikenal lewat dunia hiburan tanah air. Lalu di klub sepak bola asal ibu kota Priangan, Persib, ada nama Timisela bersaudara. Kemudian di lingkungan perkebunan di Priangan ada satu nama keluarga Ambon yang berkiprah dan memiliki sumbangan jasa yaitu klan Salhuteru.

Rasanya sebuah anomali atau hal yang sangat jarang dapat menemukan orang Ambon di tengah lingkungan perkebunan yang ketika masa kolonial mayoritas berisi kuli kontrak dari daerah Priangan. Dan salah satu anomali tadi bernama Maximillian Izaak Salhuteru.

IMG-20190406-WA0024

Max I Salhuteru / arsip keluarga Salhuteru

Menurut putri keempatnya, Camellia Salhuteru, mungkin kuasa Tuhan atau takdir yang kemudian membawa Max Salhuteru, Papinya, bekerja dan berjodoh dengan perkebunan di Priangan. Jodoh di sini memiliki arti ganda bagi pria kelahiran Jakarta, 14 Oktober 1915, yaitu pekerjaan yang diperjuangkan sepanjang hayatnya dan pasangan yang dipertemukan di daerah sekitar tempatnya bekerja, Perkebunan Sinumbra di Ciwidey mulai tahun 1938.

Bagi Max Salhuteru yang merupakan putera kedua pasangan Carel Willem Salhuteru dengan Elise Johana Schaafsma, seluruh jiwa raganya diberikan untuk perkebunan. Pada saat masa perjuangan, Max Salhuteru bergabung sebagai staf batalyon Dipati Ukur dan kemudian menjadi Batalyon Pattimura. Perjuangan mempertaruhkan nyawa tadi diteruskannya dengan terlibat sebagai salah satu tokoh yang melakukan pengambil-alihan perkebunan-perkebunan Belanda di Priangan di tahun 1957. Bahkan Max Salhuteru menghembuskan nafas terakhirnya ketika sedang menunaikan tugasnya memimpin rapat kerja di Surabaya dalam fungsi jabatan terakhir yang diembannya sebagai Kepala Perkebunan Jawa dan Sumatera pada tanggal 11 Januari 1971. Meninggal saat melaksanakan pekerjaan yang dicintainya.

Baca juga: “Spirit” Max I. Salhuteru dari Sinumbra-Sperata

Kecintaan Max Salhuteru akan perkebunan disaksikan sendiri oleh putri pangais bungsunya, Camellia Salhuteru. Menurut ibu yang kini berusia 56 tahun itu, Ayahnya bukan tipe pejabat perkebunan atau Administratur yang betah hanya berdiam diri di rumah Adm. Sejak kecil Camellia kerap diajak Papinya berkeliling memeriksa kebun. Rasanya tak ada bagian dari Perkebunan Sinumbra yang luput didatangi Papi dan dirinya. Mulai dari perkebunan Sukaati, Ranca Suni hingga pelosok Nagara Kana’an.

Camellia kecil merekam kenangan bagaimana Papinya berinteraksi dan memperlakukan pekerja, buruh dan karyawan di lapangan. Hingga soal ketelitiannya saat memeriksa pabrik pengolahan teh, mulai dari pemilihan daun hingga uji rasa teh dijajal Max Salhuteru.

“Mungkin bila darah Max Salhuteru diperiksa niscaya isinya teh,” ujar Ibu Lia Salhuteru ketika berbincang-bincang dengan Komunitas Aleut. Tapi mungkin ada darah lain mengalir di nadi Max Salhuteru selain teh, yaitu darah Sunda. Dengan tidak melupakan akar dirinya sebagai orang Ambon, Max Salhuteru jatuh hati dan menjadi orang Sunda.

Masih menurut penuturan puterinya, Camellia Salhuteru, Papinya berbicara Sunda dengan fasih, menulis lirik lagu, sajak dan gending karesmen Sunda, memainkan gamelan, kecapi dan rebab, nembang dan menari tarian Sunda. Saat Max Salhuteru memimpin Perusahaan Perkebunan XII, kesenian Sunda muncul di perkebunan-perkebunan yang berada di wilayah kerjanya, mulai dari angklung buncis hingga tarawangsa.

Memang bila belajar dari kisah sukses para Tuan Kebun Belanda, penguasaan bahasa daerah yaitu Sunda adalah kunci keberhasilaan dalam mengelola perkebunan. Penguasaan bahasa dan seni Sunda mengingatkan pada tokoh perkebunan lain, K.F. Holle. Sedangkan kepiawaian memainkan rebab mengingatkan pada Adriaan Holle. Kemampuan-kemampuan tadi yang juga dimiliki oleh Max Salhuteru beroleh hormat dari pekerja-pekerja di perkebunan yang membuatnya dipanggil sebagai Juragan. Seperti panggilan bagi Eduard Julius Kerkhoven dari Perkebunan Sinagar yang disebut sebagai Juragan Sepuh. Jadi bukan panggilan Datu yang diberikan bagi lelaki yang konon, nenek moyangnya berasal dari Pulau Bacan dan marga aslinya adalah Latuhalat, namun panggilan yang hidup di kalangan Sunda, yaitu Juragan.

Pemilihan tempat dirinya dikebumikan menunjukkan kecintaan Max Salhuteru akan perkebunan. Menurut Camellia Salhuteru, Papi memberi amanat ingin dimakamkan di lahan Perkebunan Sinumbra, Ciwidey. Kisahnya ketika sedang berkeliling kebun dan tiba di lahan yang ditumbuhi pohon besar dan masih sepi. Max Salhuteru menancapkan dan menimbun tongkat besinya sambil berkata kepada pegawai yang mengiringnya bahwa kelak dirinya ingin dipusarakan di tempat tersebut. Ketika pegawainya mengingatkan bahwa tempat tersebut sepi, Max Salhuteru berkata kelak daerah tersebut akan menjadi ramai oleh orang yang berkunjung. Maka ketika Max Salhuteru tutup usia di umurnya yang ke-55, amanat tersebut dijalankan keluarga walaupun sempat ada wacana untuk memakamkan di tempat permakaman pahlawan.

Maka berbondong-bondonglah para pegawai perkebunan mengantarkan jenazahnya dimakamkan di bagian yang kemudian menjadi lahan Perkebunan Sperata. Di masa lalu, konon pemakaman K.A.R. Bosscha juga diantar secara berbondong-bondong oleh pegawai dan penduduk di perkebunan yang mencintainya.

Kemudian hari di lahan makam Max Salhuteru ditempatkan patungnya yang dibuat oleh Nyoman Nuarta. Patung dada yang dibuat setelah Max Salhuteru meninggal dunia itu bertujuan untuk mengenang jasa-jasanya. Dulu patung itu ditempatkan di Rumah Sakit Perkapen, Sinumbra, Ciwidey, namun sempat lama terbengkalai. Hingga kisah pilu patung tadi diceritakan oleh Komunitas Aleut dan kemudian mempertemukan dengan ahli waris Max Salhuteru.

Baca juga: Ngaleut Sinumbra: Bagian 2 (Sinumbra-Cipelah)

Hikmah di balik kisah menyedihkan ini adalah pertemuan Komunitas Aleut dengan keluarga Salhuteru yang diwakili oleh Camellia. Kami mendapatkan cerita lebih banyak tentang kiprah Max Salhuteru untuk kemudian bisa dituliskan dan dikisahkan ulang kepada khalayak: Sebuah pelajaran akan kecintaan dan pembauran; bahwa bangsa ini dibangun atas dasar perbedaan dan persatuan.

Selalu menyenangkan berjumpa dengan orang baru yang berkisah tentang orang-orang yang dikasihinya. Dan ini merupakan sebuah kehormatan. Terima kasih.

Baca juga artikel lainnya dari mengenai tokoh-tokoh lainnya

(komunitasaleut.com – alx/upi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s