Villa Isola

image

Villa Isola dulu dikenal dengan nama Villa Beretty. Dominic Willem Beretty, pemilik awal villa ini, adalah seorang miliuner berkebangsaan Italia pendiri Kantor Berita Aneta.

Villa ini merupakan rancangan C.P. Wolff Schoemaker yang bergaya art deco. Villa ini selesai dibangun pada tahun 1933. Pada tahun 1936, villa ini dibeli oleh Hotel Savoy Homann dan namanya diganti dengan nama sekarang.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan, villa ini sempat digunakan sebagai markas pejuang di daerah Bandung Utara. Sekarang, Villa Isola difungsikan sebagai kantor rektorat Universitas Pendidikan Indonesia.

Menara Pemancar Radio Malabar

image

Menara pemancar ini merupakan bagian dari sisa kejayaan Radio Malabar. Radio ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1917 dan kemudian diresmikan pada tahun 1923. Radio ini pula yang pertama kali bisa menghubungkan saluran komunikasi antara Hindia Belanda dengan Belanda yang berjarak 12.000 km.

Dari 13 menara yang pernah ada di kawasan Universitas Telkom ini, kini tinggal menyisakan dua buah saja. Kedua menara kini difungsikan sebagai base transceiver station (BTS).

Stasiun Cikajang +1.530

image

Stasiun Cikajang, stasiun kereta api paling tinggi di Indonesia (+1.530 m). Dibangun pada tahun 1926 dan kemudian dinonaktifkan pada tahun 1983 karena mulai rusaknya jalur kereta dan penurunan jumlah penumpang.

Kondisi stasiun ini sudah rusak karena lama tidak dipakai dan semakin lama semakin mengkhawatirkan, tembok-tembok sudah mulai terkelupas dan rusak, bagian atap juga sudah banyak bolong-bolong. Pada bagian tembok belakang sudah menempel tembok sebuah bangunan baru. Di bagian atas satu sisi bangunan masih dapat terbaca tulisan “Cikajang”.

Jalur-jalur rel di depan stasiun sudah banyak yang terkubur tanah, sebagian masih dapat dilihat tersingkap di atas tanah. Sekitar 15-20 meter di depan rel ada sebuah jalur rel yang walaupun samar masih dapat ditelusuri arahnya, menuju ke kampung. Di ujung rel yang terdapat di tengah kampung ada sebuah sisa bak besar yang sudah dipenuhi oleh sampah. Menurut warga lokasi itu memang sudah menjadi TPS.

Bila memerhatikan rangkaian rel di atas bak yang membulat ini, dapat diduga dulunya lokasi itu merupakan tempat pemutaran lokomotif. Sayang sekali, semuanya sudah tidak terperhatikan lagi. Bahkan di sekitar kampung ini sudah sulit untuk mencari bangunan lama. Hanya satu rumah tembok yang sudah setengah hancur masih berdiri di tengah kepungan bangunan-bangunan baru. Pada bagian depan rumah tua ini terdapat plakat seng bertuliskan PT KAI.

Rumah yang tampak berantakan ini ternyata masih berpenghuni, seorang nenek renta yang tinggal sendirian. Suaminya dulu memang bekerja sebagai pegawai kereta api. Kondisi hidupnya menyedihkan. Di ruang depan kasur tanpa seprai menggeletak begitu saja, kain-kain serta pakaian bertebaran, sebuah lemari sederhana berdiri miring seperti menunggu runtuh. Bagian lain dari rumah ini dibiarkan kosong karena bocor di sana-sini. Bagian atapnya banyak yang sudah runtuh. Untuk keperluan memasak, sebuah kompor sederhana diletakkan di ruang yang sama dengan ruang tidur.

Pintu depan rumah ini sudah lepas dari engselnya, sehingga agar dapat tetap berdiri, nenek itu perlu memasang sebuah palang yang menahan pintu dari luar. Untuk keluar masuk rumah, nenek ini menggunakan jendela di depan kasurnya, tentu dengan cara memanjatnya. Stasiun, bak pemutar lokomotif, rumah tua, dan nenek tua ini, semua tampak begitu menyedihkan…

Kropak 632

Oleh: Mooi Bandoeng (@mooibandoeng)

Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna.

Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy.
______________________

Kropak 632 adalah sebuah naskah yang terdiri dari enam lembar lontar yang ditulis dengan tinta hitam dengan perkiraan pembuatan pada abad ke-15, lebih tua dari naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian (1518 M) atau Carita Parahyangan (1580 M). Naskah ini ditemukan di Kampung Ciburuy yang terletak di lereng Gunung Cikuray.

Adalah Karel Frederik Holle, pengusaha perkebunan teh Waspada, yang pertama kali menyebutkan keberadaan naskah ini dalam Bijdragen tot de Geschiedenis der Preanger-Regentschappen (1869). Di situ Holle menyebut tentang tiga buah naskah Sunda kuno yang diserahkan oleh Raden Saleh ke Bataviaatsch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tahun 1867.

Naskah ini dikumpulkan oleh Jan Laurens Andries Brandes dan dicatat oleh Nicolaas Johannes Krom dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (Laporan Kepurbakalaan Jawa Barat) pada tahun 1914. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Karel Frederik Holle, kemudian dilanjutkan oleh Cornelis Marinus Pleyte dan Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka (1917).

Penelitian awal tidak ada yang berhasil tuntas sehingga terbengkalai sampai kemudian Atja dan Daleh Danasasmita melakukan penelitian ulang pada tahun 1987. Atja dan Saleh memberikan judul “Amanat Galunggung” untuk pembahasan enam lembar naskah ini. Menurut Atja, inti naskah ini memang merupakan nasihat Rakeyan Darmasiksa kepada puteranya, Sang Lumahing Taman. Menurutnya nasihat itu berasal dari Penguasa Kerajaan Galunggung.

Lembar kelima kropak 632 ini menyuratkan nasihat yang belakangan ini sering disebut sebagai “kesadaran sejarah”. Dua baris dari lembar kelima ini sudah lama juga dikutip jadi moto kegiatan2 @KomunitasAleut selama ini: “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke”.

*Salinan naskah di atas diambil dari “Amanat Galunggung” karya Atja dan Saleh Danasasmita.

 

Tautan asli: http://mooibandoeng.com/2016/01/26/kropak-632/

#InfoAleut: Ngaleut Kedokteran (24/01/2016)

2016-01-14 Kedokteran

#InfoAleut Hari Minggu (24/01/2016) kita akan “Ngaleut Kedokteran”. Mari mengenal beberapa dokter dari nama jalan di daerah utara Kota Bandung 😀

Tertarik untuk bergabung? Konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394 (SMS/WA) dan langsung saja kumpul di Indomaret Jl. Eyckman (totogan Jl. Rumah Sakit) pukul 07.00 WIB. Ingat, konfirmasi kehadiran itu hukumnya WAJIB yah. Sekali lagi, WAJIB 🙂

Cara Gabung Aleut-1C

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut 😀

Sekian saja Info Aleut sore hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu 😀

Keluyur Cianjur

IMG-20160114-WA0144

Berbarengan dengan kegiatan @sahabatbosscha @mooibandoeng @KomunitasAleut berupa tour Riwayat Preangerplanters ke Garut-Cikajang, hari Minggu, 17 Januari 2016 lalu, sebetulnya @KomunitasAleut juga menjalankan dua kegiatan lain di kota berbeda.

Yang pertama adalah Ngaleut Cianjur atau Sejarah Kota Tua Cianjur, untuk ini kami pilih nama Keluyur Cianjur dengan penggerak Rendi Marliyadi. Pendaftaran dibuka beberapa hari saja sebelum hari-H dan terkumpullah +50 orang peserta. Ngaleut Cianjur berlangsung dengan lancar dan mulus, bahkan memunculkan beberapa rencana ke depan. Semoga dapat berjalan konsisten.

Satu kegiatan lainnya berlangsung di Jakarta, yaitu sebuah persiapan untuk mengadakan Kelas Resensi mingguan seperti yang sudah dilakukan selama ini setiap hari Sabtu oleh @KomunitasAleut dengan tempat di @KedaiPreanger Jl. Solontongan No.20-D, Bandung 40264. Semoga kegiatan ini segera berjalan dan dapat konsisten juga untuk jangka panjang. Penggerak kegiatan ini adalah rekan kami, Indra Pratama.

Kontak dan info2 @KomunitasAleut: 0896-8095-4394

Cimurah, Garut

mooibandoeng

12534112_432399326964972_454091360_n

Salah satu sudut Bamboo House di Cimurah, Garut, yang akan dikunjungi dalam tour Riwayat Preangerplanters, Minggu, 17 Januari 2016.

Di dalam komplek rumah ini terdapat banyak pohon yang menyejukkan, bale2, pawon, hawu, saung2 bilik, yang dibuat secara sederhana tapi dengan semangat yang patut dipuji.
Berbagai kliping foto dan tulisan menarik seputar Preangerplanters ditempel di sana-sini, termasuk beberapa kunjungan dari para keturunan Preangerplanters yang sampai sekarang masih sering datang bernostalgia, atau ziarah, sampai untuk keperluan menulis buku2 seputar perkebunan teh tempo dulu.

Lihat pos aslinya