#InfoAleut: Ngaleut Basa Bandung Halimunan (03/04/2016)

Selamat berakhir pekan, Aleutians! Belum punya rencana di hari Minggu pagi besok? Yuk ikutan aja Ngaleut Basa Bandung Halimunan 😀

dbb914fa-4dd9-4507-a469-cc357528dc53

#InfoAleut Dalam kali ini, kita akan menyusuri tempat-tempat yang diceritakan Pak Us Tiarsa dalam buku “Basa Bandung Halimunan” Di mana aja sih? Hayoo, penasaran kan? 🙂

Daripada nanti nyesel, langsung aja konfirmasi kehadiranmu melalui WA/SMS (WAJIB) ke 0896-8095-4394 atau LINE @flf1345r (jangan lupa pakai “@”) dan langsung kumpul di Stasiun Utara Bandung (Jl. Kebon Kawung) pukul 07.00 WIB. Gunakan alas kaki dan pakaian yang nyaman, juga siapkan payung atau jas hujanmu mengingat cuaca Kota Bandung lagi susah ditebak 😀

Yuks gabung dan jangan lupa juga ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, mantan, rekan kerja, boss, atau gebetanmu. Tiada kesan tanpa kehadiranmu~

Iwang

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN4991

Hari masih pagi dan jalan Solontongan belum terlalu ramai. Iwang tengah duduk di depan tempat bimbingan belajar sambil menikmati segelas kopi sachet. “Ngopi dulu,” katanya sambil mengangkat gelas. Saya hanya mengangkat jempol sambil berlalu menuju kios penjual rokok.

Sehari-hari Iwang tinggal di tempat bimbingan belajar, dia bekerja di sana. Bukan sebagai pengajar, tapi tukang bersih-bersih, sesekali disuruh membeli ini-itu, dan sekaligus menjadi tenaga keamanan. Rumah peninggalan orangtuanya berada di Margacinta, kini dikontrakkan kepada orang lain seharga empat juta rupiah per tahun.

Ia dua bersaudara. Adiknya sudah menikah dan punya dua anak, kerja di dealer mobil di bilangan Soekarno-Hatta, dan tinggal di daerah Kiaracondong. Sesekali adiknya datang menengok, sekadar memberinya uang jajan. “Ya, namanya juga dengan saudara, meskipun jarang ketemu tapi masih ingatlah,” ujarnya.

Di sebelah utara tempat Iwang tinggal, terhalang satu ruko, ada Kedai Preanger; kedai yang menjual sajian kopi dan teh sebagai menu utamanya. Lantai bawah adalah tempat konsumen duduk menikmati sajian dan membaca buku, sementara lantai dua dipakai untuk menyimpan beberapa buku yang tidak tertampung di bawah, juga sebagai tempat tidur. Di kedai inilah saya tinggal.

Selain menjual beberapa sajian minuman dan camilan, Kedai Preanger adalah juga sekretariat atau basecamp Komunitas Aleut; sebuah komunitas peminat sejarah, khususnya sejarah Kota Bandung, dan saya salah satu anggotanya.

Karena bertetangga, kami setiap hari bertemu. Iwang tak terlalu pandai main catur, namun tak pernah gentar menerima setiap tantangan siapa saja yang hendak mengasah otak. Seingat saya, skor kami 8-2. Namun pertandingan yang tak diingat lebih banyak lagi, dan saya selalu dominan. “Anjir, teuas euy (Anjing, keras euy),” begitu ungkapnya pada satu malam waktu raja dia saya skakmat. “Keras” di sini artinya–bagi dia, saya sulit dikalahkan.

Kalau baru terima gaji, sehari dia bisa minum 4 sampai 5 gelas kopi plus krimer yang ia beli di kios tak jauh dari tempat kerjanya. Minum kopi dan merokok, dan saya sangat jarang melihatnya membeli makan di siang hari.

Pagi ketika saya melihatnya sedang minum kopi di awal hari, barangkali itu adalah gelas yang pertama.

***

Sudah hampir tiga tahun Iwang bekerja di tempat bimbingan belajar sebagai office boy merangkap satpam. Sebelumnya ia lama menganggur. Pendidikan terakhirnya SMA. Lulus 23 tahun yang lalu. Sempat juga bekerja di perusahaan listrik sebagai semacam tenaga pemasaran. Tugasnya mendatangi rumah-rumah yang belum dialiri listrik agar bisa mendaftar dengan cepat dan pencahayaan rumahnya ditangani perusahaan listrik. Pekerjaan itu dijalaninya selama dua tahun. Ia dikeluarkan karena terbukti menilep uang setoran. “Karena senior-senior saya banyak yang jadi tikus, saya juga lama-lama ikut-ikutan menjadi tikus,” ujarnya.

Sebelum ketahuan kantor, setiap hari minimal ia bisa mendapatkan uang sebesar 300 ribu rupiah yang berasal dari mark-up harga kepada calon pelanggan perusahaan listrik. Dompetnya tebal, berisi uang ratusan ribu. Waktu ibunya membutuhkan dana untuk belanja, sementara Iwang baru terbangun dari tidur siang, ia mempersilahkan ibunya mengambil sendiri uang yang dibutuhkan dari dompetnya. Ibunya kaget melihat uang sebanyak itu. “Duit dari mana ini? Sebanyak ini?!” begitu ia menirukan ucapan ibunya. Ia hanya menjawabnya bahwa itu adalah gaji dari tempatnya bekerja.

Setelah masa itu lewat, Iwang kemudian menganggur lama. Sangat lama. Sekali waktu dalam kondisi menganggur akut, saat ia rajin main ke tempat pamannya di daerah Buah Batu, seseorang bertanya, “Kamu ga kerja?” Kemudian ia ditawari untuk kerja di tempat bimbingan belajar yang ia jalani sampai sekarang.

Iwang lahir 42 tahun yang lalu, dan sampai sekarang belum berumah tangga. Seringkali di penghujung senja kami ngobrol. Membicarakan banyak hal, salah satunya tentang keluarga. Pandangannya kerap menerawang ketika bercerita tentang ibu bapaknya. Keduanya telah meninggal. Adiknya telah menikah dan punya anak. Sementara ia masih merindu kekasih dan keluarga. Pacarnya tinggal di Ciamis, dan sudah sangat jarang bertemu. Terakhir bertatap muka dua tahun lalu waktu pacarnya masih kerja di Bandung. Jarak begitu berkhianat.

Kalau laptop kawan-kawan Komunitas Aleut ada yang nganggur, Iwang kerap meminjamnya untuk sekadar membuka facebook dan membuat banyak puisi untuk kekasihnya. Komunikasi terjadi di dunia maya. “Kapan kita ngaleut ke Ciamis?” tanyanya sekali waktu. “Sekalian ngantar saya…”, lanjutnya. Sampai sekarang pertanyaannya belum terjawab, dan ia masih menunggu sampai waktu entah.

Setiap Sabtu tempat bimbingan belajar hanya buka setengah hari. Sementara di Kedai Preanger kawan-kawan Komunitas Aleut rutin mengadakan resensi buku secara lisan, dan saya yang paling sering menjadi semacam moderatornya. Iwang beberapakali ikut dalam riungan, menyimak apa yang dibicarakan kawan-kawan. Ia juga pernah sekali meresensi buku “Rasiah nu Goreng Patut”, sebuah novel berbahasa Sunda yang dulu pernah dibuat sinetron. Buku itu menceritakan Karnadi, seorang pemuda miskin dan buruk rupa namun punya kecerdasan yang nakal. Dengan kelihaiannya ia berhasil mendapatkan Eulis Awang, seorang gadis cantik dan anak orang kaya.

Dengan agak terbata Iwang memungkas resensinya dengan sebuah kesimpulan, “Jadi tak perlulah ganteng dan kaya untuk mendapatkan perempuan semacam Eulis Awang itu, yang penting pakai akal,” ungkapnya yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan kawan-kawan yang lain.

Hari Minggu libur, dan ia ikut ngaleut. Tugasnya membawa spanduk komunitas untuk disertakan dalam foto bersama di penghujung ngaleut. “Ya, kan hari Minggu mah bimbel tutup, saya ga ada kegiatan, jadi ikut ngaleut aja. Lumayan selain jalan-jalan olah raga, juga dapet pengetahuan dan teman-teman baru,” tuturnya.

Setiap Minggu siang, tepatnya setelah ngaleut selesai, sekira mulai dari pukul dua siang sampai malam, Iwang selalu nongkrong di Kedai Preanger; ngobrol, ngopi, merokok, dan main catur. Kalau pegawai kedai tengah libur, ia rajin membantu kawan-kawan Komunitas Aleut, baik melayani konsumen atau pun sekadar mencuci piring dan gelas kotor. “Sebetulnya saya pengen belajar juga membuat hidangan, seperti membuat kopi dan minuman lain, agar bisa bantu-bantulah. Ya, namanya juga dengan teman, apalagi kita bertetangga. Ga usah dikasih apa-apa, saya mah ikhlas,” ungkapnya dengan nada tulus.

***

Setelah menyelesaikan sekolah di SMA Negeri 1 Buah Batu (sekarang menjadi SMA Negeri 25 Bandung), Iwang aktif berkegiatan di Karang Taruna tingkat RW. “Waktu awal ikut, ada pelatihan dulu di Tanjungsari, Sumedang. Rombongan peserta menggunakan bis sewaan, sementara panitia mah pakai mobil yang lebih kecil. Materinya semacam dididik untuk jadi pemimpin,” ujarnya bercerita. Di Karang Taruna Iwang kerap berposisi di bagian logistik dan humas. Delapan tahun ia aktif berkegiatan dan menghidupkan lingkungan RW-nya.

Cerita Iwang tentang masa aktifnya di organisasi terbukti ketika ia mulai ikut Komunitas Aleut; tak terlihat canggung dalam bergaul dengan orang-orang baru, dan sadar akan tugas dan tanggungjawabnya. Begitu pula di tempat kerja, Iwang amat paham dengan kewajibannya. Meski jarak antara tempat dia kerja dengan Kerja Preanger hanya lima meter, dan misalnya dia tengah santai, namun Iwang selalu menolak jika ada yang mengajaknya bermain catur. “Hampura euy moal waka, keur gawé (Maaf, ga akan main catur dulu, lagi kerja),” ujarnya.

Sekali waktu, saya dan seorang kawan (Kobo) punya ide untuk mengadakan semacam malam puisi di Kedai Preanger. Tapi niat itu kemudian dirintangi oleh kenyataan bahwa mayoritas kawan-kawan Komunitas Aleut sepertinya kurang begitu berminat pada puisi. Saya lalu teringat Iwang dan puisi-puisinya yang sering ia unggah di facebook. “Kita ‘angkat’ mang Iwang aja, Bo, gimana?” Dia tidak menjawab, malah melonjak girang.

Saya membayangkan bagaimana Iwang, seseorang yang berjarak dengan kekasih dan keluarganya, membacakan isi hatinya lewat puisi-puisi. Atau beberapa penyesalan yang tidak pernah diungkapkan, tentang usia remaja atau mungkin dosa-dosa. Saya tak tahu pedalaman hatinya. Namun barangkali dengan begitu, ia bisa sedikit mengungkapkan kerinduannya yang selama ini diperam.

Ketika hujan turun begitu deras, saya melihat Iwang tengah melamun di depan tempat kerjanya, dengan sebatang rokok dan segelas kopi tentu saja. Hari masih pagi dan jalan Solontongan belum terlalu ramai. [ ]

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.co.id/2016/03/iwang.html

Catatan Perjalanan: Ngaleut Makam Pandu (Part 1)

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Pada hari Minggu (28/02/2016) yang lalu, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk berkeliling makam Pandu melalui kegiatan Ngaleut Makam Pandu. Sebenarnya sudah lama saya penasaran dengan isi dari makam Pandu ini. Berkali-kali melewatinya karena dekat dari rumah, tapi selalu tak ada waktu untuk sekedar berkeliling melihat isinya.

Rasa penasaran saya makin bertambah pada tahun 2013 lalu, ketika saya sedang KKN di Kelurahan Pajajaran. Saat sedang berjalan santai pagi dengan teman-teman, saya melihat sebuah pemakaman khas negeri barat sana yang sangat terawat dan sangat indah. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya melihat makam macam di film-film itu dengan mata kepala sendiri. Sayangnya, saya hanya dapat melihat melalui ‘lubang tikus’ di balik pagar tumbuhan tinggi yang menjadi pembatas areal pemakaman tersebut. Karena takut ketahuan oleh warga sekitar dan satpam, saya dan teman-teman langsung ngacir tanpa sempat memotret.

Saat saya bergabung dengan Komunitas Aleut, barulah saya tahu kalau ternyata nama makam tersebut adalah Ereveld Pandu; sebuah pemakaman Belanda yang tanahnya masih merupakan wilayah aktif Negara Belanda. Jadi tidak sembarang orang bisa masuk ke sana dan harus izin dulu ke Kedubes Belanda di Jakarta. Hmmm repot yah.

Ketika Komunitas Aleut mau mengadakan Ngaleut Makam Pandu ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tidak lupa baju tangan panjang dan Autan saya siapkan untuk Ngaleut kali ini. Kenapa Autan? Wilayah pemakaman selalu dipenuhi oleh nyamuk demam berdarah yang ganas, jadi kalau mau berkunjung ke pemakaman, memang ditekankan untuk memakai lotion anti nyamuk.

Yang pertama kami kunjungi dalam Ngaleut Makam Pandu adalah makam keluarga Tan Djin Gie. Untuk yang pernah membaca roman Rasia Bandoeng, mungkin familiar dengan nama ini. Tan Djin Gie merupakan seorang Tiong Hoa yang datang ke Bandung dan membuka usaha P&D di daerah Pasar Baru. Dengan kekayaannya, mereka membuat sebuah rumah dan hotel di Jalan Kebon Jati. Selain itu beliau juga mendirikan sebuah pabrik teh di Ciroyom. Meskipun seorang Tiong Hoa, namun beliau merupakan seorang penganut Kristen yang taat, karena itu jenazahnya dimakamkan di Makam Pandu.

Setelah puas mendengarkan cerita mengenai Tan Djin Gie dan keluarganya, kami melanjutkan kunjungan ke makam seorang pilot dengan mekaniknya yang gugur akibat kecelakaan di sekitaran Bandung. Kecelakaan tersebut terjadi lantaran kondisi lingkungan Bandung yang ekstrem saat itu, dan juga kondisi pesawat yang kurang baik.

Charles Phillipe

Cornelis P.

 

 

 

 

 

 

 

Di pemakaman Pandu ini terdapat dua makam pilot dan mekaniknya yang gugur akibat kecelakaan pesawat Fokker F.C.V 442 di Padalarang. Makam pertama dengan nisan berhiaskan patung orang yang bertumpu di atasnya adalah makam sang pilot yang bernama lengkap Dr. Ir. Charles Philippe Marie Mathus Bogaerts; kapten infanteri yang juga seorang insinyur mesin militer. Di sebelahnya terdapat makam rekan dari sang pilot, Johannes Cornelis Pols, yang seorang penerbang Belanda berpangkat letnan satu infanteri. Sayang sekali, informasi lebih lanjut mengenai kedua pilot ini maupun kejadian kecelakaannya tidak terdapat di buku ataupun internet.

Makam Raymond Kennedy, rumput menutupi hampir seluruh permukaan makam

Berikutnya kami mengunjungi makam Raymond Kennedy, seorang professor antropologi dari Yale University. Kennedy menulis setidaknya tiga buku mengenai etnologi di Indonesia. Dia meninggal pada tahun 1950 karena ditembak di Tomo, dekat Sumedang. Siapa penembaknya, tidak diketahui pasti, mungkin dilakukan oleh laskar-laskar pribumi. Bukan hanya Kennedy, rekannya yang bernama Robert Doyle pun menjadi korban. Baru beberapa hari kemudian jenazahnya ditemukan oleh tentara Indonesia dan dibawa ke Bandung untuk dikebumikan di Pemakaman Pandu. Mereka berdua dimakamkan bersebelahan, namun hanya makam Raymond Kennedy saja yang masih utuh. Tanah dan makam yang tak terurus membuat makan rekannya, Doyle, tidak bisa dilihat; mungkin juga sudah hilang tergerus masa.

Berdasarkan diskusi mengenai Freemasonry di Kota Bandung yang pernah diadakan beberapa bulan lalu di kediaman Rizky Wiryawan, saya sadar kalau banyak freemason yang berkediaman di Bandung, dan tentunya banyak pula yang meninggal dan dimakamkan di kota ini juga.

Makam Ben Strasters

Di pemakaman Pandu ini kami mengunjungi salah satu makam freemason yang bernama Ben Strasters. Di atas nisan tertulis namanya dan tahun kematiannya, 1936. Makam para freemason biasanya memiliki sebuah ukiran lambang freemason yang berbentuk jangka dan mistar. Uniknya, di makam Ben Strater ini terukir logo freemasonry dengan bentuk terbalik dan tulisan rust in verde (beristirahat dengan tenang). Entah apa maksud dari logo terbalik ini, masih sulit untuk mencari informasi berdasarkan literatur mengenai hal ini.

 

Ini merupakan salah satu makam yang sangat saya tunggu-tunggu, makam keluarga Ursone. Keluarga Ursone merupakan keluarga berkebangsaan Italia pertama yang ada di Bandung. Mereka adalah pemilik perusahaan susu sapi yang berlokasi di Lembang. Bukit tempat berdirinya bangunan Observatorium Bosscha pun merupakan milik keluarga Ursone. Peternakan sapi tersebut terletak tidak jauh dari observatorium dan kediaman mereka bukit Bosscha; dibangun pada tahun 1895 dan diberi nama Lembangsche Melkerij Ursone.

Pemakaman ini dinamakan Mausoleum karena dalam satu bangunan terdapat beberapa makam dan bangunan seperti ini hanya dapat ditemukan di pemakaman Pandu dan Cikadut. Pada awalnya, Mausoleum ini terletak di kerkhof (pemakaman) Kebon Jahe sebelum dipindahkan ke Pemakaman Pandu. Bangunannya sangat amat indah, dengan gaya khas Eropa, dengan dua patung malaikat berdiri di masing-masing sisi bangunan, berpose layaknya sedang berdoa. Di bagian luar dinding bangunan terdapat ukiran nama-nama keluarga Ursone yang meninggal dan dimakamkan di dalam bangunan tersebut. Total ada 11 nisan dan 8 nama di Mausoleum Ursone ini.

Disebut makam laci karena bentuknya seperti laci-laci penyimpanan mayat yang biasa kita lihat di ruang penyimpanan mayat di rumah sakit. Seram, itulah hal yang pertama kali saya rasakan saat melihatnya. Terutama ketika melihat beberapa laci yang ternyata sudah kosong dan dibiarkan begitu saja. Untungnya tidak ada benda-benda menyeramkan yang tertinggal di dalam laci yang kosong itu.

banyak makam yang kosong 😦

Satu lagi makam yang sangat ingin saya kunjungi di Pemakaman Pandu selain Mauseloum Ursone, yaitu makam C.P. Wolff Schoemaker. Nama C. P. Wolff Schoemaker sudah sangat dikenal terutama bagi para pengamat sejarah. Saya pun baru mengetahui nama Schoemaker saat pertama kali berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia. Villa Isola yang menjadi kebanggaan Bumi Siliwangi UPI merupakan salah satu karya Schoemaker yang sangat terkenal. Selain itu Schoemaker juga menjadi arsitek untuk bangunan-bangunan terkenal lainnya di Bandung seperti Gedung Landmark (Braga), Gedung Merdeka, Hotel Grand Preanger, dll.

Makam Schoemaker yang bersih dan terawat

Makam Schoemaker yang bersih dan terawat

Dimakamkan tahun 1948, nisan dari guru presiden pertama RI ini sempat tidak terurus selama puluhan tahun. Baru beberapa tahun ke belakang ini anak Sukarno, Guruh Sukarno Putra membayar pajak untuk makam Schoemaker untuk 20 tahun.  Hal ini Guruh lakukan setelah cucu dari C.P. Wolff Schoemaker menghubunginya untuk mencari makam kakeknya. Sekarang makam ini menjadi sebersih dan sebagus yang terlihat saat ini.

“Berdiri tahun 1932”

Semua foto yang ada di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi. Bila ingin mengambil gambar dan menyertakannya dalam halaman lain di luar blog ini, sila berikan kredit. Terima kasih ^^

 

Tautan asli: http://coretankoenangkoenang.blogspot.co.id/2016/03/catatan-perjalanan-ngaleut-makam-pandu.html

#InfoAleut: Ngaleut Jejak Bandung Lautan Api (27/03/2016)

2016-03-27 BLA 2
Selamat hari Sabtu, Aleutians. Belum punya rencana di hari Minggu pagi (27/03/2016) besok? Yuk ikutan aja Ngaleut Jejak Bandung Lautan Api 😀
#InfoAleut Dalam Ngaleut Jejak Bandung Lautan Api, kita akan menyusuri setiap titik yang punya peran penting saat Bandung Lautan Api 1946. Di mana aja sih? Peran penting apa yang berkaitan dengan BLA? Penasaran kan? 🙂
Daripada nanti nyesel, langsung aja konfirmasi kehadiranmu melalui WA/SMS (WAJIB) ke 0896-8095-4394 atau LINE @flf1345r (jangan lupa pakai “@”) dan langsung kumpul di Taman Braga (Depan BJB Braga) pukul 07.00 WIB. Gunakan alas kaki dan pakaian yang nyaman, juga siapkan payung atau jas hujanmu mengingat cuaca Kota Bandung lagi susah ditebak 😀
Yuks gabung dan jangan lupa juga ajak teman, pacar, keluarga, tetangga, mantan, rekan kerja, boss, atau gebetanmu. Tiada kesan tanpa kehadiranmu~

Monumen Bandung Lautan Api

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

image

24 Maret 1946, langit Bandung tak secerah hari ini.
Kepulan asap hitam dan jilatan api merah membara mewarnai jengkal udara di kota ini.
Ratusan ribu warga kota Bandung membakar bangunan dan tempat tinggalnya untuk melindungi Kota Bandung dari penjajah.

70 tahun berselang, Kota Bandung telah lahir kembali dengan membawa banyak perubahan dan inovasi. Sebuah tugu berbentuk kobaran api bertengger kokoh di Lapangan Tegallega, sebagai pengingat untuk mereka yang hidup di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Karya-karya Irfan yang lainnya bisa dilihat di http://instagram.com/fan_fin