#InfoAleut: Kelas Literasi Pekan Ke-51 (16/07/2016) dan Ngaleut Maribaya-Subang (17/07/2016)

Selamat berakhir pekan, Aleutians! Udah pada balik lagi dari kampung halaman belum? Kalau sudah, Aleutians bisa gabung di dua kegiatan seru pekan ini 🙂

2016-07-16 Kelas Literasi Taman Fotografi

Sabtu ini akan berlangsung Kelas Literasi pekan ke-51. Seperti pekan-pekan sebelumnya, Sabtu ini juga kita akan bersama-sama meresensi buku yang telah Aleutians baca. Tema buku yang dibahas bebas kok, jadi siapapun bisa ikut. Ga punya buku yang diresensi? Ga usah khawatir, Aleutians juga bisa datang untuk menyimak resensi lisan dan ikut berdiskusi seputar isi buku atau tema dari buku yang sedang diresensi kok 😀

Kawan-kawan bisa langsung saja merapat Sabtu ini ke Taman Fotografi (Jl. Cempaka-Bandung) mulai pukul 14.00 WIB.

2016-07-17 Touring Subang 2

Sedangkan di hari Minggu, kita akan “Ngaleut Maribaya-Subang”. Sesuai dengan judulnya, di Ngaleut kali ini Aleutians akan berkunjung dan main ke Maribaya dan ke beberapa tempat di Kabupaten Subang. Seru kan? 🙂

Sekiranya kawan-kawan tertarik untuk bergabung, langsung aja konfirmasi kehadiranmu via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @flf1345r (jangan lupa pakai “@”) lalu kumpul di Kedai Preanger (Jl. Solontongan 20-D) pukul 06.30 WIB. Cantumkan keterangan bermotor/nebeng saat konfirmasi. Oh iya, masing-masing peserta juga jangan lupa siapin jas hujan yes 🙂

Jangan lupa juga ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, mantan, rekan kerja, boss, atau gebetanmu agar kegiatan minggu ini semakin seru. Sampai jumpa 🙂

Iklan

Hal-hal yang Saya Lakukan Saat Naik DAMRI Leuwipanjang-Ledeng

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

“Ayoo, ayooo cepetan naik bu, jalanan lagi macet nih”, sebuah seruan dengan logat khas Batak terdengar dari balik kemudi lebar transportasi besar. Dengan seragam dinas berwarna biru telur asin, wajah di balik kacamata ovalnya sedikit merengut kepada ibu-ibu yang membawa barang bawaan cukup banyak ke dalam kendaraannya. Cahaya matahari siang itu cukup membuat dahinya yang agak lebar berkilauan juga dikarenakan rambut klimis berpomade-nya disisir slicked back kekinian bak anak muda jaman sekarang.

Padahal kejadian ini terjadi berkisar di tahun 2005-2010, ketika gaya rambut spike menjadi trend saat itu. Ia adalah seorang supir bis DAMRI jurusan Leuwi Panjang-Ledeng di masa itu, entah sekarang masih bertugas atau tidak. Mungkin dialah satu-satunya supir DAMRI yang bisa saya ingat sampai saat ini karena tingkah laku dan dandanannya yang cukup nyentrik kala itu. Usianya sudah paruh baya, tapi masih menggunakan sebuah tindikan di telinga kiri seperti anak muda yang gemar nongkrong di Dago sore hari sambil menenteng skateboard. Baca lebih lanjut

#InfoAleut: #KelasLiterasi Pekan ke-50 dan #Ngaleut Saguling-Ciwidey

Selamat berakhir pekan, Aleutians! Udah pada mulai mudik belum nih? Kalau belum, Aleutians bisa gabung di dua kegiatan seru minggu ini 🙂

WhatsApp-Image-20160702

Siang hari ini akan berlangsung Kelas Literasi pekan ke-50. Seperti di minggu lalu, minggu ini juga kita akan bersama-sama meresensi buku yang telah Aleutians baca. Tema buku yang dibahas bebas kok, jadi siapapun bisa ikut. Ga punya buku yang diresensi? Ga usah khawatir, Aleutians juga bisa datang untuk menyimak resensi lisan dan ikut berdiskusi seputar isi buku atau tema dari buku yang sedang diresensi kok 😀

Langsung saja merapat siang hari ini ke Kedai Preanger (Jl. Solontongan No. 20-D) mulai pukul 14.00 WIB. Kelas Literasi kemudian akan dilanjutkan dengan nonton bareng Persib Bandung vs PSM Makassar. Seru kan? Makanya langsung gabung aja 😀

WhatsApp-Image-20160701 (1)

Sedangkan di hari Minggu, kita akan “Ngaleut Saguling-Ciwidey”. Sesuai dengan judulnya, di Ngaleut kali ini Aleutians akan berkunjung dan main ke Waduk Saguling sekaligus muter sedikit ke arah Ciwidey. Seru kan? 🙂

Sekiranya kawan-kawan tertarik untuk bergabung, langsung aja konfirmasi kehadiranmu via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @flf1345r (jangan lupa pakai “@”) lalu kumpul di Kedai Preanger (Jl. Solontongan 20-D) pukul 06.30 WIB. Cantumkan keterangan bermotor/nebeng saat konfirmasi. Oh iya, masing-masing peserta juga jangan lupa siapin jas hujan yes 🙂

Jangan lupa juga ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, mantan, rekan kerja, boss, atau gebetanmu agar kegiatan minggu ini semakin seru. Sampai jumpa 🙂

Adakah yang Bisa Dituliskan dari Band Bernama Pure Saturday?

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Jika bukan kemeja, biasanya motif batik, maka pria tambun itu akan tampil di muka umum dengan atasan kaus Pure Saturday. Jika beruntung–sialnya akan selalu beruntung, saya, juga kamu, saat hari kerja bisa mendapatinya siang hari datang ke Kedai Preanger untuk mengasoh, memesan es teh manis, lalu memutar lagu-lagu dari band bergenre alternative atau britpop keras-keras. Ini kantor kedua saya, kelakarnya. Mempunyai anak bernama Kafka, namun berbeda seperti ayah dari pengarang fenomenal kelahiran Ceko yang merupakan pemilik nama tersebut, sulit membayangkan kalau pria bulat itu akan jadi seorang bapak yang bengis dan otoritatif bagi anaknya. Di senja hari Sabtu kemarin (18/06/16), dengan perut yang masih buncit seperti ibu hamil trimester tiga itu masyuk memoderatori Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-48.

clnz9n8wkaektv5

Jadi adakah yang bisa dituliskan dari band bernama Pure Saturday? Pertanyaan bodoh. Sudah jelas bahwa segalanya pasti bisa dituliskan. Untuk menulis profil seorang Pure People–sebutan bagi fans dari band tersebut–saja sangat bisa, itu pun masih banyak yang belum tergali, apalagi untuk menarasikan sebuah band yang lahir tahun 1994 itu. “Entah mau dimulai darimana soal PURE SATURDAY ini, soalnya dari mulai saya mengenal nama Pure Saturday, sampai dekat dengan para personilnya saat ini terlalu banyak cerita untuk dikisahkan,” tulis pria cengos berakun @anggicau itu di blognya Baca lebih lanjut

Membedah “Based on a True Story” di #KelasLiterasi Edisi Ke-48

Oleh: Ramadita Alya Azizah (ROI-Radio)

Ada pengalaman seru pas kemarin menghabiskan waktu menunggu adzan maghrib. Ngabuburit hari Sabtu (18/6) kemarin lebih bermanfaat ketimbang momotoran di flyover Pasupati, soalnya Komunitas Aleut Bandung bikin acara #KelasLiterasi ke-48. Kali ini Komunitas Aleut mengadakan bedah buku Based on a True Story, sebuah biografi Pure Saturday, dengan pembicaranya yaitu penulis buku itu sendiri, Kang Idhar Resmadi.

Buku ini telah terbit pada tahun 2013 lalu, namun karena Pure Saturday ini adalah band pentolan dari Bandung, maka Komunitas Aleut ingin mengangkat buku ini sebagai salah satu bahasan kelas literasi konteks urban. Acara yang bertempat di markas barudak Aleut, Kedai Preanger, Jalan Solontongan 20D, ini dimulai pukul 3 sore, dengan moderatornya gegedug Purepeople, Kang Anggi Cau. Di sini Kang Idhar menceritakan proses kreatifnya dan perjalanan penulis semasa penulisan buku yang dilakukan sekitar 1,5 tahun.

Berawal dari Kementerian Budaya yang meminta Kang Idhar untuk menulis profil sukses figur kreatif. Sempat bingung siapa subjeknya, namun dengan tekad beliau menulis tentang Pure Saturday dengan alasan subjektif: musik PS-lah yang menemani perjalanan hidupnya, dimulai dari bangku Sekolah Dasar sampai sekarang, dari album Utopia sampai Grey. Pada akhirnya Dendy Darman (UNKL 347) meminta Kang Idhar dan Anto Arief (70’s Orgasm Club) untuk membukukan suatu perjalanan kisah suatu band. Sebelumnya om Dendy menawarkan untuk menulis biografi band Shaggy Dog, Superman is Dead, dan Pure Saturday. Karena sebelumnya Kang Idhar pernah menulis tentang kisah sukses Pure Saturday, maka dibuatlah buku tentang perjalanan klise yang sangat biasa saja tentang Pure Saturday, sebagaimana dikisahkan Kang Idhar.

Klise, biasa aja. Itulah yang Kang Idhar rasakan ketika mendengar cerita dari semua personel Pure Saturday. Konflik yang umum dari semua personel band yang ada, antara harus memilih kuliah, kerja, atau nge-band. Semua musisi akan merasakan dilema seperti itu. Namun, Kang Idhar sebagai penulis melibatkan emosi dari setiap kisah itu sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk membuat angle cerita yang menarik untuk dibaca. Diakui penulis terinspirasi dari buku biografi Alex James, bassist Blur, yang jalan ceritanya pun sama: klise, tentang perjalanan hidup yang biasa aja. Namun dengan teknik menulis biografi yang melibatkan suatu konflik dan emosi, jadilah buku singkat yang katanya bisa dibaca sehari aja.

Pada bedah buku ini, Kang Idhar menceritakan bagaimana proses wawancara dengan personel PS yang anti-rockstar syndrome, dan sangat humble padahal diyakini anak muda indie kalau PS memang pionir band indie di Bandung. Santun euy. Personel PS yang basic-nya adalah penyuka genre metal ini malah terjerumus ke genre britpop. Ya, selanjutnya Purepeople bisa baca di buku Based on a True Story.

Banyak cerita yang tentunya Purepeople belum ketahui. Coba aja kemarin dateng ke Solontongan. Jadi, beli, gih, bukunya pakai uang THR, harganya 75ribu aja bisa dibeli di toko-toko buku kesayangan. Terima kasih, Komunitas Aleut. Semoga kita bertemu di #KelasLiterasi selanjutnya. Saya yang kemarin pakai kerudung abu hehehe.

 

Foto: Rheza Firmansyah

*Terima kasih kepada Kang Idhar atas koreksinya untuk nama-nama yang terlibat dalam proses pembuatan buku

Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Ngaleut Perkebunan (Teh) Sedep (26/06/2016)

2016-06-26 Sedep

Selamat berakhir pekan, Aleutians! Hari Minggu besok kita akan… “Ngaleut Perkebunan (Teh) Sedep”.

Sesuai dengan judulnya, di Ngaleut kali ini Aleutians akan berkunjung dan main di Perkebunan Teh Sedep di daerah selatan Bandung. Selain itu, bakal ada kejutan juga di perjalanan ini. Penasaran kan? 🙂

Tertarik untuk bergabung? Langsung aja konfirmasi kehadiranmu via SMS/WA ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @flf1345r (jangan lupa pakai “@”) dan langsung kumpul di Kedai Preanger (Jl. Solontongan 20-D) pukul 06.30 WIB. Cantumkan keterangan bermotor/nebeng saat konfirmasi. Oh iya, masing-masing peserta juga jangan lupa siapin jas hujan yes 🙂

Jangan lupa juga ajak teman, pacar, istri, keluarga, tetangga, mantan, rekan kerja, boss, atau gebetanmu agar Ngaleut-nya semakin seru. Sampai jumpa besok! 🙂

Ramadhan yang Sama, Kita yang Berbeda

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

“Nguuuuuuuuuuuuuungggg”, terdengar sirine panjang pukul setengah lima pagi. Berbunyi bukan karena kebakaran, bukan pula karena ada maling masuk komplek. Suara panjang yang terdengar nyaring merupakan tanda bahwa waktu imsak sudah tiba, setidaknya begitulah tandanya di Gg. Pepaya No. 109 Cijerah Bandung.

Separuh masa kecil saya dihabiskan di tempat tersebut, begitu hari libur tiba hampir pasti saya menginap di kediaman Nenek saya di Cijerah. Bukan tanpa alasan, tempat tinggal saya yang mendiami rumah orang tua dari Ibu saya di Pagarsih tidak memiliki sepupu yang sepantar dengan saya.

Seperti banyak anak-anak kebanyakan, saya dan para sepupu selalu menyambut gembira datangnya Bulan Ramadhan, selain karena kegiatannya yang selalu ramai dengan berbagai pernak-pernik, tentunya datangnya Ramadhan berarti tak jauh dengan datangnya hari raya Idul Fitri di mana anak-anak sebaya dalam keluarga ‘nagih THR’ kepada orang dewasa.

Tak jauh dengan anak-anak lainnya, berbagai macam petasan dan kembang api pun menjadi favorite permainan saya dan sepupu, selain kartu bergambar dan ‘tazoos’ yang merupakan hadiah langsung makanan ringan ‘chiki ball’. Kadang board game macam monopoli, halma dan ular tangga pun menjadi alternatif.

Tak lupa buku agenda kegiatan Ramadhan yang ikut menemani Ramadhan saya di Cijerah yang tampaknya seluruh anak-anak di nusantara memilikinya sebagai PR untuk dikerjakan selama masa libur Ramadhan-Lebaran tiba. Dan di sinilah kreatifitas anak-anak tahun 90-an diuji: 30 khutbah dalam sebulan untuk dihadiri cukup berat buat kebanyakan orang. Apalagi bila sobat akrab berada di sisi, senda gurau yang ada dan khutbah terlupa. Saya pribadi berhasil mengisi penuh isi khutbah pada agenda kegiatan penuh dengan jujur, jujur mencatat dari TV dan Koran. Baca lebih lanjut