Sisi Lain di Sekitar Pasar Andir

Oleh: M. Taufik Nugraha (@abuacho)

 

Ruko yang Sepi

“Diorder sis cardigan-nya”
“Cek IG kita kakak buat liat koleksi baju terbaru”

Udah sering banget kan lihat kalimat tersebut atau kalimat-kalimat jualan lainnya yang berseliweran di timeline FB, BBM, ataupun Twitter kita. Di zaman yang serba online ini, para pedagang pun berekspansi ke dunia maya, tidak terkecuali juga para pedagang pakaian. Nah, biasanya para penjual online yang berdomisili di Bandung dengan dagangannya berupa pakaian dengan harga murah meriah, kebanyakan toko fisiknya berada di kawasan Pasar Andir dan sekitarnya.

Andir, Pasar Andir, Siti Marijam, Gang Siti Marijam, Kuburan Siti Marijam, Ngaleut Andir

Pasar Andir

Kawasan di sekitaran Pasar Andir memang sekarang ini tidak hanya dikenal sebagai pasar sayuran, namun juga sebagai sentra pakaian murah yang pemasarannya kebanyakan dilakukan secara online. Dengan harganya yang murah, jangan terlalu banyak berharap ataupun protes mengenai kualitas barangnya, karena seperti banyak orang bilang: “harga tidak pernah bohong” atau “ada rupa ada harga”.

Di balik menggeliatnya perekonomian di Pasar Andir, ada sisi lain yang menarik, yang baru saya ketahui setelah ngaleut hari minggu kemarin (06 Sep’ 2015).  Jika toko-toko pakaian yang berada di sekitaran Pasar Andir saat ini sedang menikmati perputaran uang yang cukup besar, hal yang bertolak belakang terjadi di bagian belakang (selatan) Pasar Andir. Jejeran ruko dengan gaya arsitektur Tiongkok lama yang berada di bagian belakang Pasar Andir justru tidak menampakkan aktivitas perdagangan sama sekali. Kabarnya ruko-ruko tersebut sudah mulai tidak dipergunakan lagi untuk aktivitas jual-beli karena sudah tidak menguntungkan, dan telah banyak beralih fungsi menjadi gudang penyimpanan barang.  Ruko-ruko tersebut dulunya dibuat dan dipunyai oleh Yap Lun – seorang etnis Tionghoa yang merupakan importir kain dan pengusaha properti sukses, sehingga tidak mengherankan jika ruko-ruko tersebut dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok.

Andir, Pasar Andir, Siti Marijam, Gang Siti Marijam, Kuburan Siti Marijam, Ngaleut Andir

Ruko dengan Gaya Arsitektur Tiongkok Lama yang Sudah Tidak Beroperasi

Hal menarik lainnya yang saya temui yaitu keberadaan sebagian ruko-ruko tersebut berada di jalan yang namanya berdasarkan nama ikan asin seperti Jalan Teri, Jalan Jambal, ataupun Jalan Peda, karena ternyata kawasan tersebut merupakan sentra penjualan ikan asin.

Andir, Pasar Andir, Siti Marijam, Gang Siti Marijam, Kuburan Siti Marijam, Ngaleut Andir

Jalan Teri

Gang Siti Marijam

Menyebrang dari kawasan Pasar Andir, terdapat Gg. Siti Marijam. Nama gang ini sering banget saya dengar dan cukup membuat penasaran – siapa sebenarnya Siti Marijam itu. Pas ngaleut kemarin pun tidak ada informasi pasti mengenai siapa Siti Marijam, namun disinyalir bahwa Siti Marijam ini adalah salah satu pedagang sukses di Pasar Andir dan ada hubungannya dengan pedagang yang ada di Pasar Baru.

Andir, Pasar Andir, Siti Marijam, Gang Siti Marijam, Kuburan Siti Marijam, Ngaleut Andir

Gang Siti Marijam

Kuburan Siti Marijam sendiri berada di dalam gang tersebut. Kondisi kuburannya masih cukup baik walaupun yang menyedihkannya, kuburan tersebut sudah bercampur baur dengan kandang ayam dan juga digunakan sebagai tempat jemur pakaian oleh warga sekitar.

***
Ternyata tidak hanya ada pasar di Andir, namun juga banyak hal menarik yang dapat kita temui dan eksplorasi di kawasan yang dulunya merupakan kawasan tempat tinggal para buruh yang bekerja untuk pembangunan Jalan Raya Pos tersebut.

Sumber Foto :

Foto Pribadi

Sumber Tulisan :

 

Tautan asli: https://mtnugraha.wordpress.com/2015/09/10/sisi-lain-di-sekitar-pasar-andir/

Pasar Ikan Andir

Oleh: Fajar Asaduddin (@FajarRaven)

Belakangan ini Pasar Andir cukup dikenal sebagai  salah satu pusat perbelanjaan pakaian murah meriah di Bandung. Lama sebelumnya, warga Bandung lebih mengenal Pasar Andir sebagai pasar tradisional yang selalu ramai sepanjang waktu. Aktivitas perdagangan kebutuhan pangan rumah tangga sudah sangat ramai sejak malam hari.

20150910071503

Salah satu kegiatan pasar yang sangat menarik adalah pusat penjualan ikan asin. Kios-kios ikan asin bardampingan di blok-blok rumah besar. Sebagian besar pedagangnya merupakan keturunan Tionghoa. Kios-kios ini memiliki jendela pamer yang unik. Umumnya kios-kios biasa dibuka dengan ke arah samping, nah kios-kios di pasar ikan asin ini malah dibuka ke arah atas.

20150910071446

Jendela kios ini terbagi tiga bagian, ditautkan oleh engsel-engsel yang bisa dilipat ke arah atas tergantung keperluan pemilik kios. Penjual dapat hanya membuka bagian bawah saja untuk memamerkan jualannya atau melipat seluruh jendelanya hingga berbentuk seperti warung umumnya.

Banyak sekali macam ikan  asin yang dijual di pasar ini, mulai dari ikan teri sampai potongan-potongan ikan jambal. Ikan-ikan kering ini dipajang baik di meja pamer atau digantung di kawat warung, atau ditumpuk di semacam “para” di atas warung. Menambah keunikan suasana pasar ikan asin adalah nama-nama jalan di sekitarnya, ada Jl. Teri, Jl. Peda, Jl.Gabus, dan seterusnya.

Ayo sekali-kali melihat langsung suasana pasar ikan di Andir ini, siapa tahu dapat pengalaman unik yang jarang terjadi dalam keseharian. Oya, jangan berkunjung pada hari Minggu karena jadwal perdagangannya hanya hari Senin-Sabtu.

#KelasResensi: Pekan ke-2

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Memasuki pekan ke-2, peserta bertambah satu orang. Seperti pada pertemuan sebelumnya, kali pun buku-buku yang dibaca masih didominasi oleh teks-teks sastra; tiga kumpulan cerita pendek, dan dua novel. Sisanya tentang sejarah Kota Bandung dan kumpulan esai tentang budaya sehari-hari di Jepang.

Beberapa peserta, selain meresensinya secara lisan, juga mulai ada yang menuangkannya dalam bentuk tulisan. Belum banyak memang, tapi setidaknya menegaskan satu hal, bahwa membaca dan menulis adalah dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Menulis kerap, atau bahkan selalu lahir dari proses membaca terlebih dahulu.

Berikut daftar buku yang diresensi pada pekan ke-2 itu :

  1. Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta (Puthut EA)

Ini adalah buku kumpulan cerita pendek. Diterbitkan–salah satunya, dalam rangka memperingati 15 tahun kepengarangan penulisnya. Dari 15 cerita yang disajikan, pasangan hidup—setidaknya menurut Puthut, adalah pangkal dan muara luka. Dalam jenak hidup manusia, terutama yang sadar betul akan identitasnya sebagai makhluk sosial, mempunyai pasangan tentu bukan perkara aneh. Lumrah bahkan. Namun serupa barang pecah belah, hubungan antar manusia yang kerap didominasi oleh perasaan ini, pada perjalanannya acapkali rumit.

  1. Hidup Hanya Sekali (Remi Sylado)

Kisah dengan latar kota Bandung ini menceritakan tentang dua insan yang saling jatuh cinta, namun ternyata—setelah perjalanan panjang cerita, mereka adalah bersaudara. Mereka, dua orang yang saling jatuh cinta itu adalah Satria Sofiandi dan Madalena. Sepanjang cerita, penulis banyak membangun kebetulan-kebetulan antar peristiwa. Sulur ini terus mengalir sampai di penghujung. Selain itu, barangkali salah satu kebiasaan Remi, ia mengomentari banyak hal; mulai dari kebiasaan menganggukkan kepala, sampai kecenderungan anak muda yang menyukai filsafat eksistensialisme.

  1. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Haryoto Kunto)

Dalam salah satu karya “Kuncen Bandung” ini termuat ihwal; latar belakang kelahiran kota, cerita-cerita nostalgia tempo dulu, pernik kejayaan kota, pudarnya wajah dan citra Bandung tempo dulu seiring berjalannya waktu, kisah dan nasib bangunan-bangunan bersejarah, serta Bandung dalam kerangka harapan dan kenyataan yang mesti dihadapi oleh warga kota. Cara penulis yang lancar dalam bertutur meski tak selalu kronologis, juga dilengkapi dengan kutipan-kutipan lagu dan puisi, serta ilustrasi yang menarik, membuat buku ini seolah naskah dongeng tentang perjalanan panjang sebuah kota.

 

  1. Semua Untuk Hindia (Iksana Banu)

Penulis kisah fiksi yang latar ceritanya seputar masa kolonial dan penjajahan, tak banyak yang bertutur dari sudut pandang “orang lain”. Di Indonesia, ketika sejarah ditulis dengan gelegak semangat nasionalisme, akhirnya hanya memposisikan dua kubu yang berlawanan secara abadi, yaitu kita (pribumi, si terjajah) dan mereka (orang asing, si penjajah, orang lain). Buku ini adalah sedikit dari pengecualian. Di tangan Iksana Banu, dengan menggunakan sudut pandang orang Belanda dan Indo, sejarah tak melulu sehimpun narasi hitam-putih, namun ada juga wilayah abu-abu yang kadang ditumbuhi oleh benih kemesraan kemanusiaan.

  1. Orang dan Bambu Jepang (Ajip Rosidi)

Ini adalah pengalaman dan pandangan Ajip Rosidi selama bertahun-tahun merantau di Jepang. Sebagai seorang gaijin atau orang asing, Ajip melihat dengan dekat kebudayaan sehari-hari masyarakat di sana. Buku berisi 28 esai ini, di satu sisi, bisa dijadikan semacam panduan bagi warga asing, khususnya Indonesia, yang hendak tinggal di Jepang. Namun di sisi lain, karena ada—sedikit banyak, laku membandingkan-bandingkan dengan budaya di Indonesia, maka buku ini jadi terkesan terlampau banyak menyindir.

  1. Cinta Tak Pernah Tua (Benny Arnas)

Antologi cerita pendek ini, dari satu kisah ke kisah berikutnya, tidak seperti antologi cerpen lain yang relatif mandiri antar cerita, di buku ini justru memiliki keterkaitan. 12 cerita yang dihimpun, semuanya menceritakan Tanjung Samin dan keluarganya. Poligami, cemburu, kehilangan anak, hingga kesetiaan; semuanya muncul dalam rangkaian cerita pendek ini. Diksi dan kiasan yang cenderung berlarat-larat, membuat antologi ini—bagi sebagian pembaca, agak sulit dipahami dan dinikmati.

  1. A Farewell to Arms (Ernest Hemingway)

Entah disengaja atau tidak, novel yang menurut beberapa pembacanya terasa membosankan, juga ternyata menceritakan prajurit yang sudah bosan dengan perang. Ia lalu melarikan diri dari pertempuran bersama kekasihnya. Semua peristiwa dari mula pertempuran, terluka di medan laga, melarikan diri dalam situasi peperangan, dan sampai kekasihnya meninggal—semua adegan yang mestinya subur dengan aroma ketegangan, luapan emosi, dan letupan kecemasan, justru dihamparkan dengan datar begitu saja. Seorang kawan pernah menulis, “gaya Hemingway terbaik di eranya, tapi pembaca dia di generasi setelahnya punya pandangan lain.” Sekali ini, ungkapan itu barangkali benar. [ ]

#InfoAleut: Ngaleut Andir

2015-09-06 Andir uyeah

#InfoAleut Hari Minggu (06/09/2015) kita akan… “Ngaleut Andir”. Mari bersama-sama menjelajahi daerah yang ada di sebelah barat Kota Bandung ini.

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di Alfamart Jl. Kelenteng pukul 07.00 WIB. Gunakan alas kaki dan pakaian yang nyaman agar bisa lebih enjoy saat ngaleut😀

Nah, jangan lupa untuk konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup kirim SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah🙂

BywSSCTCUAAIE_G

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut😀

Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu🙂

#KelasResensi: Pekan ke-1

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Sabtu depan, tepatnya tanggal 5 September 2015, Kelas Resensi Buku Komunitas Aleut akan memasuki pekan ke-10. Telah puluhan buku yang berhasil dibaca dan diceritakan ulang secara lisan. Ya, “berhasil”, sebab tak semua orang punya waktu dan minat yang cukup, untuk mengkhatamkan satu buku dalam waktu satu minggu.

Pada pekan ke-1, peserta kelas resensi buku hanya berjumlah enam orang. Awal yang kecil memang. Namun dari sini pula, ke depan, semangat yang telah ditabur oleh beberapa orang itu, bisa menular ke kawan-kawan yang lain. Adapun buku yang dibaca, meskipun Aleut adalah komunitas yang amat kental irisannya dengan sejarah, namun dalam kelas resensi ini, keragaman tema dan genre buku justru yang coba diangsurkan.

Ya, buku yang dibaca dan diceritakan ulang, tidak melulu tentang sejarah, namun ada pula buku tentang sastra, filsafat, budaya, dan lain-lain. Inilah catatan pendek dari beberapa buku yang dibaca pada pekan ke-1 itu :

  1. “Jalan Lain ke Tulehu” (Zen RS)

Kisah yang berlatar kerusuhan berbau agama di Timur Indonesia ini, bercerita tentang sepakbola dan kenangan yang berarak di tempurung kepala, serta ingatan yang mengejar. Gentur, seorang wartawan dari tanah Jawa terperangkap dalam kerusuhan yang pelik. Ia kemudian terdampar di sebuah perkampungan Muslim yang terlibat konflik tersebut. Dalam kondisi yang serba berbahaya, beberapa kali nyawanya sempat terancam. Namun pada akhirnya sepakbola berhasil membuka “jalan”. Sepakbola beberapakali meredakan ketegangan antar yang bertikai, juga Gentur dengan kenangannya.

  1. “Ayah” (Andrea Hirata)

Novel terbaru dari pengarang “Laskar Pelangi” ini bercerita tentang hubungan ayah-anak yang begitu karib. Namun karena hubungan ayah dan ibunya tidak mulus, terpaksa keduanya berpisah. Dengan gaya bertutur yang khas, penulis kembali menampilkan tokoh die hard yang begitu komikal. Namun justru di tokoh seperti itulah dia menyematkan pesan-pesannya.

  1. “Jugun Ianfu; Jangan Panggil Aku Miyako” (Rokajat Asura)

Kasus perbudakan seks di zaman Jepang, setidaknya di Indonesia, tidak terlalu banyak yang mengangkatnya ke dalam teks-teks fiksi. Novel berlatar sejarah ini mencoba mengetengahkan Jugun Ianfu dengan balutan kisah romantisme cinta segitiga di tengah kecamuk revolusi.

  1. Zaman Perang (Hendi Jo)

Narasi sejarah yang ditulis secara resmi oleh negara, jarang mengemukakan kisah tentang orang-orang kecil. Jutaan rakyat yang ikut berdenyut dalam pusaran sejarah, seolah hanya tokoh pinggiran yang kiprahnya tidak penting untuk diabadikan dalam catatan ingatan kolektif bangsa. Di titik ini, kumpulan kisah yang terbuhul dalam buku karya Hendi Jo, adalah sebuah ikhtiar untuk menimbang ulang; bahwa rupa sejarah bangsa, juga diwarnai oleh beragam kisah heroik orang-orang kecil. Mereka yang terpinggirkan dalam teks resmi itu, adalah–seperti kata penulisnya; “Orang biasa dalam sejarah luar biasa”.

  1. Burung Kecil Biru di Naha (Linda Chrystanti)

Kumpulan esai dan reportase berbentuk jurnalisme sastrawi ini mempunyai benang merah tentang kekerasan, konflik, dan tentu saja luka. Linda yang telah lama bergelut di dunia ini, lihai meramu fakta-fakta baru lalu menyajikannya dengan ketajaman dan kepekaan kemanusiaan. Dalam tulisannya, selain membibit semangat rekonlisiliasi, Linda juga menegaskan bahwa ketidakadilan bisa hadir dengan mengatasnamakan apa saja; suku, ras, agama, maupun ideologi. Bagi Linda semua isme hanyalah gagasan, yang bisa dinilai adalah praktek para pelakunya; apakah berguna bagi kemanusiaan atau malah sebaliknya.

  1. Dracula (Bram Stocker)

Inilah kisah vampir legendaris dari Rumania. Buku yang mula-mula terbit di tahun 1897 ini adalah cikal bakal bagi cerita-cerita drakula yang ditulis setelahnya. Drakula, sosok yang lemah di hadapan bawang putih, salib, dan roti sakramen ini hadir dalam beberapa fragmen kisah cinta manusia. “Dracula”, bisa jadi, adalah magnum opus-nya penulis yang meninggal di usia 64 tahun tersebut. [ ]

Mencari Pecinan Kota Bandung

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Setiap Ngaleut bertema daerah Pecinan dengan Komunitas Aleut, saya selalu mendengar sebuah pertanyaan yang sama berulang kali dari beberapa peserta: Di mana sebetulnya daerah Pecinan di Kota Bandung? Kami memang sering mengidentikan Pecinan di Kota Bandung dengan daerah Pasar Baru dan Cibadak, namun belum pernah sekalipun mengatakan kedua daerah ini adalah Pecinan Kota Bandung. Alasannya mudah, yaitu karena butuh penelitian mendalam untuk menentukannya.

Nah, kebetulan Hari Minggu kemarin saya diundang sebagai perwakilan Komunitas Aleut dalam acara Wisata Kawasan Pecinan yang diadakan Bandung Heritage. Asiknya lagi, Pak Sugiri Kustedja menjadi interpreter perjalanan Wisata Kawasan Pecinan ini. Pak Sugiri adalah pegiat Bandung Heritage yang sangat perhatian dengan kebudayaan Tionghoa di Kota Bandung.

Pak Sugiri Kustedja

Pak Sugiri Kustedja

***

Apa sih sebetulnya Pecinan itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan Pecinan sebagai berikut:

pecinan/pe·ci·nan/ n tempat permukiman orang Cina: pusat-pusat perbelanjaan berdampingan dng rumah-rumah model — yg sumpek.

Baca lebih lanjut

Batu Templek: Cisanggarung Hingga Gedung Sate

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Minggu (22/8/2015), saya bersama Komunitas Aleut ngaleut di Kawasan Cisanggarung. Selama ngaleut, setiap anggota Komunitas Aleut mendapat tugas untuk mengamati keadaan di Kawasan Cisanggarung. Mulai dari penambang batu hingga air terjun menjadi bahan pengamatan kami.

Batu templek

Batu templek

Untuk saya, kumpulan batu berwarna hitam yang terserak di Kawasan Cisanggarung menjadi bahan pengamatan saya. Lalu karena penasaran, saya menanyakan batu tersebut kepada penambang batu. Ternyata batu berwarna hitam yang berserakan itu bernama batu templek.

Sambil memegang batu templek, saya menanyakan asal batu templek kepada penambang batu tersebut.

Ternyata batu templek, yang saya pegang, berasal dari bongkah – bongkah batu besar di Kawasan Cisanggarung. Bongkah – bongkah tersebut kemudian digali dan dipotong oleh penambang sesuai dengan ukuran yang diperlukan-pipih atau berbentuk balok.

Batu templek, yang sudah diproses oleh penambang, digunakan sebagai lantai dan dinding dalam pembangunan rumah atau gedung.

Setelah mendengar cerita penambang batu tersebut, saya mulai mengingat – ingat buku – buku yang bercerita tentang batu templek. Lalu, muncul buku karya Haryoto Kunto berjudul Balai Agung di Kota Bandung dalam ingatan saya. Baca lebih lanjut