Susur Pantai #5 Ciletuh: Dimulai dari Solontongan, Berakhir pula di Solontongan

Ciletuh

Susur Pantai #5 Ciletuh | Foto Hendi Abburahman

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Minggu malam yang dingin. Jalan Solontongan 20-D yang beberapa hari ke belakang sepi tiba-tiba kembali ramai dengan berderetnya beberapa motor dan tampang orang-orang yang kelelahan. Mereka selonjoran sambil menceritakan pengalaman-pengalaman seru yang telah mereka lewati. Meski dengan muka letih, gelak tawa masih saja berhamburan. Sebagian membuka handphone, sebagian menyulut rokok, dan sebagian lainnya menunggu makanan yang sedang dipesan. Sedangkan motor-motor yang terparkir sudah tak ingin lagi bergerak. “Cukup 544 kilometer yang kami tempuh,” begitu ujarnya. Meski sebagian motor-motor itu sadar, kilometer akan Baca lebih lanjut

Susur Pantai Jilid 5: Ciletuh-Ujunggenteng

Oleh: Mariana Putri (@marianaaputri)

Ini kali kedua saya ikut susur pantai bersama @komunitasaleut. Setelah Susur Pantai Jilid 4 terlewat begitu saja tanpa ada catatan perjalanan dan sekarang mulai lupa-lupa, kali ini saya bertekad untuk menulis catatan perjalanan. Minimal biar ingat terus sama kamu.

26 Januari

Izin untuk Susur Pantai sebenarnya sudah turun dari berminggu-minggu lalu, dan nggak ada halangan. Sialnya, pagi itu saya terbangun dengan keringat di punggung dan kening. Asma saya kambuh, dan ini nggak luput dilihat Mamake. Sebenarnya saya nggak terlalu khawatir, karena biasanya menuju siang bakal sembuh sendiri. Apalagi kalau dibawa jalan-jalan, malah makin sehat. Memang aneh. Baca lebih lanjut

Menyemai Ramai di Ujung Genteng

Oleh : Fauzan (@BandungTraveler)

“Aku tak pernah melihat laut tertawa, Biarpun kesejukkan bersama tariannya” (Cerita Tentang Gunung dan Laut – Payung Teduh).

Ujung Genteng, nama itu saya ingat beberapa tahun yang lalu. Seorang teman seprofesi, pencari dan penulis berita tim Persib Bandung mengajak teman lainnya untuk mengunjungi tempat yang berada di barat daya Provinsi Jawa Barat ini. Mempunyai jarak yang cukup jauh dari Bandung, melewati jalan hening di sela kawasan tengah perkampungan, perkebunan, dan perhutanan menjadi alasan mengapa saat melewati jalur ini, kita membutuhkan teman.

Saat itu, saya membayangkan Ujung Genteng yang seperti Baca lebih lanjut

Susur Pantai 5 – Ciletuh

P_20180127_154736_PN

Susur Pantai 5 | Foto Tegar Bestari

Oleh : Tegar Bestari (@teg_art)

Hari itu adalah perjuangan bagi Persib Bandung yang harus memenangkan pertandingan sedikitnya tiga gol tanpa balas jika ingin lolos ke babak berikutnya dalam gelaran Piala Presiden 2018. Sore menjelang malam cuaca sudah mendung, bahkan ketika saya memacu Si Kuda Besi Imut menuju Kedai Preanger – cuaca hujan.

Sesampainya di Kedai Preanger, beberapa kawan sudah berkumpul menunggu kick off pertandingan. Sejatinya kami berkumpul di Kedai Preanger ini bukan untuk menonton Persib yang yang sedang dibawah performanya, kami berkumpul untuk melakukan perjalanan #susurpantai5 menuju Ciletuh. Tapi sambil menunggu kawan lain

Baca lebih lanjut

Kepingan Perjalanan Susur Pantai Geopark Ciletuh

Susur pantai Geopark Ciletuh

Susur Pantai Geopark Ciletuh | Foto Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Stop crying your heart out

stop crying your heart out

stop crying your heart out

Begitulah akhir lagu dari band Oasis yang berjudul “Stop Crying Your Heart Out.” Bukan saya sedang patah hati, kebetulan saja lagu tersebut berada pada playlist saya ketika itu. Saya mendengarkan lagu ini sembari menunggu hujan berhenti. Dalam hati saya berkata “berhentilah menangis” tentu saja yang saya tuju adalah langit. Langit sore itu terus menjatuhkan tetesan air yang membasahi bumi, padahal pada saat itu juga saya harus segera berangkat ke Kedai Preanger yang menjadi titik kumpul untuk susur pantai Geopark Ciletuh pukul 7.00 malam.

Waktu sudah  menunjukan pukul 6.30 sore tapi tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Haruskah saya menembus derasnya hujan dengan balutan jas hujan, dan menarik tuas gas lebih kencang dari biasanya sebab Riung Bandung-Buahbatu lumayan memakan waktu, belum lagi dengan kemungkinan macet dan lamanya lampu merah perempatan Carrefour Kircon. Jika saya menunggu sampai hujan reda, saya tak tahu hujan akan berhenti sampai pukul berapa, mungkin saja hujan bisa berlangsung hingga malam dan  mungkin saja saya akan sangat terlambat atau tertinggal rombongan. Baca lebih lanjut

Bayah dan Perjalanan Seru Lainnya

Oleh: Mey Saprida Yanti (@meysaprida)

Aku ikut Susur Pantai Selatan Jilid II bersama Komunitas Aleut dan Tim Djeladjah Priangan. Susur pantai pertama sangat menyenangkan, total perjalanannya sekitar 400 km dengan rute Bandung – Pangalengan – Cisewu – Rancabuaya – Pameungpeuk – Karang Tawulan – Cikatomas – Singaparna – Garut – Bandung.

Sementara kali ini kami menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat ke arah Barat: dari Cianjur, Sukabumi sampai Bayah di Banten Selatan. Meskipun aku pernah ke Bayah, tepatnya ke Pantai Sawarna, tapi aku ingin merasakan kebersamaan bersama teman-teman Aleut lagi. Seperti mimpi, perjalanan ini tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Awalnya tidak terlalu berniat, hanya ingin melakukan perjalanan saja.

Jum’at malam (24 Maret 2017), kami berkumpul di Kedai Preanger, Jalan Solontongan No. 20-D, Buahbatu. Sekitar pukul 20.00 WIB kami makan malam terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Setelah makan dan semua teman telah berkumpul, kamipun briefing. Tujuan pertama adalah Ciwidey via Bojongsoang. Ya, kami akan mencari penginapan di dataran tinggi Bandung Selatan.

Agar keuangan perjalanan terjamin, kami patungan 100 ribu per orang sebagai kas perjalanan. Dana terkumpul 1,7 juta dengan total yang melakukan perjalanan 18 orang dan 10 motor. Dua orang teman tidak punya pasangan dalam perjalanannya, yang satu tidak ikut rombongan dari awal, kami akan bertemu di Cidaun.

Ciwidey

Ciwidey Valley, kami tiba di sana sekitar pukul 22.00. Tapi kami tidak menginap di Ciwidey Valley melainkan penginapan yang ada di depannya. Kami menyewa satu kamar dengan empat tempat tidur, satu tempat tidur bisa cukup 4 sampai 5 orang. Sebagian teman tidak bisa tidur karena suhu udara yang cukup dingin, ada yang lebih memilih berbincang sehingga mengundang teman lain yang juga susah tidur untuk bergabung.

Sebelumnya telah diperingatkan kepada teman-teman semua agar istirahat yang cukup, karena esok harinya akan melanjutkan perjalanan panjang. Di luar rencana awal, esoknya kami tidak akan berhenti di Sukabumi, melainkan langsung ke Bayah. Keputusan ini diambil karena ada sebagian teman yang akan pulang duluan di hari Minggu: pekerjaannya sudah menanti, maka diupayakan agar semua bisa sampai di Bayah.

Sabtu pagi, perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai. Karena cuaca dingin, sebagian teman memilih untuk tidak mandi, walaupun begitu tapi tetap semangat untuk melakukan perjalanan. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: 4 Hari Untuk Selamanya

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Dalam nirsinar saya celangak-celinguk sedangkan film telah usai beberapa menit yang lalu. Film tersebut memberikan efek agar segera menyulut rokok untuk kemudian bergaya seperti Yusuf, tokoh dalam film itu. Saya tak kuasa untuk menghisap dalam-dalam lalu menyemburkan asapnya hingga berlarian. Tapi apa daya, tak sebatang rokok pun saya miliki. Namun manusia memang memiliki akal. Saya mencarinya ke lantai bawah, dan tak menemukannya. Saya kembali naik ke lantai atas, mencari di sekitar, dan akhirnya menemui bungkus rokok berwarna hitam berisi 4 batang rokok milik seorang kawan. Saya mengambilnya, lebih tepatnya, saya mencurinya. Bermodal korek, saya nyalakan rokok lalu menikmati setiap hisapan. Dan setelah hisapan pertama itu saya mulai menulis catatan perjalanan ini.

***

Perjalanan saya bersama Komunitas Aleut dan Tim Djeladjah Priangan untuk menyusuri Pantai Selatan dengan rute Bandung – Cidaun (Cianjur Selatan ) – Pelabuhan Ratu (Sukabumi) – Bayah pada Jumat, 24 Maret 2017 sangat memorable. Ini adalah perjalanan kami yang kedua setelah sebelumnya kami menyusuri Pantai Selatan dengan rute Bandung – Rancabuaya – Cikalong – Tasikmalaya.

Dari segi perjalanan, susur Pantai Selatan kali ini hampir sama dengan susur Pantai sebelumnya. Hanya berbeda sedikit bumbu, namun dengan rasa yang tak kalah sedap. Bagi saya, jalur yang kami lewati merupakan jalur baru. Biasanya, jika akan menuju Sukabumi, saya kerap melalui jalur perkotaan. Tapi kali ini saya melewati jalur perdesaan, berteman dengan pantai dan perbukitan.

Karena si Kuya (nama motor kesayangan saya) tidak memungkinkan untuk ikut, saya menunggangi motor seorang kawan bernama Angie. Namun sayang, bukan dia yang saya bonceng melainkan seorang fans garis keras JKT 48 bernama Ajay. Ada yang saya sesali saat saya membonceng Ajay. Apalagi kalau bukan penyesalan karena tak mengorek jauh seluk beluk tentang Kinal dkk. Padahal perjalanan kami cukup panjang, seharusnya saya dapat oleh-oleh lain dari perjalanan ini dengan mengetahui sejarah JKT48 dan perkembangannya sampai saat ini. Hahaha…

Berangkat dari markas yang berada di Jalan Solontongan 20-D sekitar pukul 21.00 WIB, kami merangsek menembus gerimis menuju jalur Ciwidey. Sesampainya di daerah Ciwidey, kami berniat menginap untuk melanjutkan perjalanan pada esok pagi. Gelapnya jalanan dan dinginnya udara malam itu membuat kami menginap di Pondok Gembyang. Penginapan yang cukup luas dengan tarif yang relatif murah. Bayangkan saja, belasan orang bisa masuk dan dapat tidur nyenyak di ruangan yang cukup luas dengan jumlah kasur yang juga cukup banyak. Bahkan, saya bisa lari-lari di atas kasur saking empuknya dan ber-smack down bersama Arif, salah seorang kawan saya. Penginapan yang recommended untuk kamu yang akan menginap dengan jumlah orang yang banyak. Baca lebih lanjut