Catatan Perjalanan: 4 Hari Untuk Selamanya

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Dalam nirsinar saya celangak-celinguk sedangkan film telah usai beberapa menit yang lalu. Film tersebut memberikan efek agar segera menyulut rokok untuk kemudian bergaya seperti Yusuf, tokoh dalam film itu. Saya tak kuasa untuk menghisap dalam-dalam lalu menyemburkan asapnya hingga berlarian. Tapi apa daya, tak sebatang rokok pun saya miliki. Namun manusia memang memiliki akal. Saya mencarinya ke lantai bawah, dan tak menemukannya. Saya kembali naik ke lantai atas, mencari di sekitar, dan akhirnya menemui bungkus rokok berwarna hitam berisi 4 batang rokok milik seorang kawan. Saya mengambilnya, lebih tepatnya, saya mencurinya. Bermodal korek, saya nyalakan rokok lalu menikmati setiap hisapan. Dan setelah hisapan pertama itu saya mulai menulis catatan perjalanan ini.

***

Perjalanan saya bersama Komunitas Aleut dan Tim Djeladjah Priangan untuk menyusuri Pantai Selatan dengan rute Bandung – Cidaun (Cianjur Selatan ) – Pelabuhan Ratu (Sukabumi) – Bayah pada Jumat, 24 Maret 2017 sangat memorable. Ini adalah perjalanan kami yang kedua setelah sebelumnya kami menyusuri Pantai Selatan dengan rute Bandung – Rancabuaya – Cikalong – Tasikmalaya.

Dari segi perjalanan, susur Pantai Selatan kali ini hampir sama dengan susur Pantai sebelumnya. Hanya berbeda sedikit bumbu, namun dengan rasa yang tak kalah sedap. Bagi saya, jalur yang kami lewati merupakan jalur baru. Biasanya, jika akan menuju Sukabumi, saya kerap melalui jalur perkotaan. Tapi kali ini saya melewati jalur perdesaan, berteman dengan pantai dan perbukitan.

Karena si Kuya (nama motor kesayangan saya) tidak memungkinkan untuk ikut, saya menunggangi motor seorang kawan bernama Angie. Namun sayang, bukan dia yang saya bonceng melainkan seorang fans garis keras JKT 48 bernama Ajay. Ada yang saya sesali saat saya membonceng Ajay. Apalagi kalau bukan penyesalan karena tak mengorek jauh seluk beluk tentang Kinal dkk. Padahal perjalanan kami cukup panjang, seharusnya saya dapat oleh-oleh lain dari perjalanan ini dengan mengetahui sejarah JKT48 dan perkembangannya sampai saat ini. Hahaha…

Berangkat dari markas yang berada di Jalan Solontongan 20-D sekitar pukul 21.00 WIB, kami merangsek menembus gerimis menuju jalur Ciwidey. Sesampainya di daerah Ciwidey, kami berniat menginap untuk melanjutkan perjalanan pada esok pagi. Gelapnya jalanan dan dinginnya udara malam itu membuat kami menginap di Pondok Gembyang. Penginapan yang cukup luas dengan tarif yang relatif murah. Bayangkan saja, belasan orang bisa masuk dan dapat tidur nyenyak di ruangan yang cukup luas dengan jumlah kasur yang juga cukup banyak. Bahkan, saya bisa lari-lari di atas kasur saking empuknya dan ber-smack down bersama Arif, salah seorang kawan saya. Penginapan yang recommended untuk kamu yang akan menginap dengan jumlah orang yang banyak.

Setelah beristirahat semalam, kami melanjutkan perjalanan pada pagi harinya. Udara pagi hari Ciwidey memang bersahabat. Dinginnya menyuruh untuk tak usah mandi. Dari tempat ini kami menuju Cidaun sebagai meeting point selanjutnya. Hevi, kawan kami yang menyusul untuk gabung bersama kami dalam perjalanan susur Pantai Selatan kali ini berangkat dari Pangandaran dan menunggu kami di Cidaun. Ini membuat kami memacu kendaraan sedemikian rupa agar bertemu pada waktu yang telah ditentukan.

Berjalan untuk menikmati suasana sawah dengan latar curug di daerah Naringgul

Sungai dengan air yang cukup jernih, difoto di atas jembatan Cipandak, Naringgul

Melewati daerah Naringgul, kami berkelok-kelok secara beriringan. Menikmati setiap kilometer jalanan. Di kawasan Naringgul ini kami banyak sekali mendapati curug. Sambil beristirahat sejenak kami menyempatkan berfoto lalu mencoba menikmati sensasi berjalan di pematang sawah. Kami sempat melewati sungai dengan air yang jernih. Sungai yang kami lalui itu berada di bawah Jembatan Cipandak. Tak hanya lalu-lalang motor dan mobil yang berseliweran di daerah ini, rombongan bersepeda pun tak jarang kami temui.

Sungai dan curug-curug yang banyak kami temui itu mengingatkan saya pada perjalanan susur Pantai Selatan jilid pertama, di mana saya mendapati curug Rahong di daerah Cisewu, Garut.

Kami bertemu Hevi di Cidaun. Setelahnya diteruskan menyusuri jalanan dengan rute Kertajati – Sukapura – Sindangbarang – Agrabinta. Jalur yang panjang dengan jalan yang mulus membuat beberapa kawan sedikit mengantuk saat melewati jalur ini. Ditambah panas terik, akhirnya kami memutuskan beristirahat terlebih dahulu di salah satu rumah makan.

Baca juga: Bayah dan Perjalanan Seru Lainnya

Melanjutkan perjalanan dengan perut terisi membuat kami kembali berkonsentrasi. Kami tak terlalu khawatir dengan bensin yang mulai menunduk pada speedometer. Di sepanjang jalur ini para pedagang bensin eceran sangat mudah ditemui. Tak terasa, kami mulai memasuki kawasan Tegalbuleud mengarah ke Ujunggenteng, untuk kemudian menuju Pelabuhan Ratu.

Sebelum sampai di Pelabuhan Ratu kami melewati kawasan Curug Cikaso. Lagi, ini bukan tujuan kami walaupun sebenarnya saya penasaran dengan curug ini. Kami sempat berhenti di jembatan dengan sungai berwarna kehijauan untuk mengabadikannya.

Riuhnya Pelabuhan Ratu dan Heningnya Bayah

Malam hari, kami sampai di Pelabuhan Ratu. Riuh dan ramainya kawasan pantai ini membuat kami tak sulit untuk membeli makanan agar perut kembali terisi. Bau khas laut begitu menyengat. Kami berhenti di salah satu warung di dekat pantai. Sebagian kawan selonjoran sambil istirahat, sebagian lagi mencari-cari penginapan.

Tak lengkap rasanya jika sudah berada di pantai tanpa menikmati minuman khas seperti kelapa muda. Minum air kelapa, aroma laut, dan lemparan tawa mengiringi kami di Pelabuhan Ratu ini. Sebelum akhirnya kami mendapatkan penginapan yang berada tepat di pesisir Pantai Citepus.

Setelah mendapatkan tempat penginapan, kami berkumpul untuk bercerita. Cerita selama perjalanan, pengalaman bermotor dengan jarak cukup jauh, dan pengalaman-pengalaman lainnya.

Badan gerah, mandi menjadi sesuatu yang wajib bagi kami. Setelah itu kami makan malam, dan diakhiri dengan tidur. Beberapa kawan curhat-curhat kecil karena memang suasana mendukung untuk melakukan ritual curhat. Sebagian lagi terlelap. Hanya ada suara deru ombak.

Kami melanjutkan perjalanan ke titik terakhir, Bayah. Ya, saya tidak terlalu familiar dengan daerah ini. Konon, daerah ini adalah tempat di mana Tan Malaka menjadi juru tulis. Selain itu, di Bayah ini juga pernah terjadi kejadian menggetirkan dalam sejarah Indonesia, romusha. Kami, Komunitas Aleut dan Tim Djeladjah Priangan, hendak mengunjungi kota bersejarah ini.

Esoknya kami melanjutkan perjalanan menuju Bayah, melewati jalur naik turun yang mengharuskan kami untuk cermat memainkan gas dan rem. Di salah satu spot kami berhenti, Puncak Habibi namanya. Pemandangan yang bagus, dari ketinggian kami bisa melihat perahu-perahu yang terlihat kecil di laut sana. Agak lama kami berhenti di sini karena untuk kesekian kalinya ban motor yang ditunggangi oleh Irfan dan Mey kembali bocor. Dengan raut muka kesal Irfan menuntun motornya, ditemani Mey dan beberapa kawan lainnya untuk menemani ke tempat tambal ban terdekat. Sebagian kawan lainnya menunggu di Puncak Habibi.

Jalur Pabrik Semen, dari sini Bayah sudah mulai terlihat

Selesai menambal motor, kami melanjutkan perjalanan. Menujur jalur arah Pantai Sawarna. Tak mendatanginya, kami melewati Sawarna untuk langsung menuju Bayah. Jalur ini merupakan jalur favorit saya. Sampai pada akhirnya jalanan berubah perlahan menjadi kecoklatan, kami melewati pabrik semen dan menemui jalur yang seperti monorel. Setelah menghabiskan jalanan ini kami akhirnya sampai di Bayah.

Bayah, tempat di mana Tan Malaka sempat menjadi juru tulis

Kami Berfoto di depan tugu Romusha

Di Bayah kami mencari peninggalan rel dan stasiun kereta api. Namun ternyata rel dan stasiun kereta api itu tak ditemui walaupun kami sudah mencoba bertanya kepada warga sekitar. Setelah mencari dan tidak mendapatkan jejak-jejak itu kami kemudian menuju tugu romusha. Konon di wilayah tempat inilah dahulu terdapat banyak korban akibat romusha yang terjadi pada pemerintahan Jepang.

Baca juga: Jarambah ka Bayah

Namun sayang, tugu ini seperti berbentuk tugu biasa saja tanpa ada keterangan yang menyertainya. Kami sedikit bercerita tentang kejadian romusha di masa lampau tepat di depan tugu ini. Setelah bercerita dan mendokumentasikannya akhirnya kami berlalu dan mencari tempat untuk makan siang.

Waktu yang pendek membuat kami tak sempat menjelajah lebih jauh di Bayah ini. Namun, saya sempat sedikit berimajinasi dengan membandingkan Bayah saat ini dan Bayah masa lampau.

Setelah istirahat dan makan, kami pulang dengan jalur berbeda, yakni melalui jalur Cikotok menuju Cimaja. Jalur yang lebih jauh dari sebelumnya. Jalur ini lebih menantang karena disertai hujan dan ancaman longsor. Karena tidak memungkinkan untuk langsung menuju Bandung, kami kembali menginap di Pelabuhan Ratu dengan penginapan yang berbeda. Baru esok harinya kami pulang ke Bandung melalui jalur utama, Sukabumi-Cianjur-Bandung.

Perjalanan susur Pantai kali ini kembali memberikan pengalaman baru. Seperti yang telah disebutkan di awal, perjalanan kali ini juga terasa memorable. Kedekatan dengan teman-teman begitu terasa, dan ingatan akan perjalanan selama 4 hari ini kiranya akan selalu membekas.

Iklan

2 pemikiran pada “Catatan Perjalanan: 4 Hari Untuk Selamanya

  1. Ping balik: Bayah dan Perjalanan Seru Lainnya | Dunia Aleut!

  2. Ping balik: Jarambah ka Bayah | Dunia Aleut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s