Ngaleut Déwata: Tanjakan, Halimun, jeung Béntang

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Panon poé geus meleték di belah wétan, basa kuring hudang tuluy gura-giru indit ka cai. Minggu, 30 April 2017, kuring saparakanca rék ngaleut ka Déwata. Indit téh tangtu waé kudu isuk-isuk, da ari pabeubeurang mah pamohalan, teuing boa iraha balik deui ka Buahbatu. Cai karasa nyecep kana awak, ma’lum da teu unggal poé kuring mandi isuk-isuk téh, sasarina mah biasa wé mun geus deukeut ka waktu lohor.

Barudak geus jul-jol, sawaréh aya nu anyar, munggaran milu ngaleut. Kira wanci ngaluluh taneuh, rombongan geus siap, nya teu lila bring waé ka belah kidul. Eureun sajongjonan di POM béngsin Sékélimus, teu lila tuluy méngkol ka arah Batununggal, mapay Mengger, tuluy bras ka Jalan Mohamad Toha. Palasari, Cisirung, Rancamanyar diliwatan. Wahangan Ci Tarum katempo coklat kawas bajigur. “Tah, ieu Ci Tarum heubeul, mun itu Ci Tarum anyar,” ceuk kuring ka Méy. Nu dibéré nyaho padu ngabetem, sigana keur ngaregepkeun.

Mun momotoran kieu kuring sakapeung sok kapikiran méré ngaran ka motor sorangan nu geus dibabawa kaditu-kadieu. Ti Sedep, Cikajang, Pameungpeuk, Bayah, Cisalak, Brebes, Majenang, jeung patempatan séjénna ku motor kuring geus katincak. Bagéan handapna geus rujad basa diteunggar ku batu sagedé orok di leuweung saméméh Papandayan. Tapi naon kira-kira pingaraneunana? Mun motor Akay geus boga ngaran nyaéta Si Kuya, tapi motor kuring mah nepi ka anyeuna can boga asma. Kungsi kapikiran rék dibéré ngaran “Aya Jalan Komo Meuntas”, tapi panjang teuing, jeung asa kurang merenah wé deuih. Cag, tunda heula sual ngaran motor, anyeuna urang tuluykeun carita lalampahanna.   Baca lebih lanjut

John Berger atau Seni Momotoran ala Komunitas Aleut

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Riding has become a pas de deux.  Rider and road are partners dancing.  It can even happen that you fall in love.

  • John Berger

Kalau bulan bisa ngomong, dan motor bisa nulis. Sayangnya tidak. Kalau saja saya bisa merenungkan dan merumuskan pengalaman dan menuliskannya sebaik John Berger. Sayangnya belum. Tapi kalau sekadar berandai-andai, terus-terusan begitu, tak akan ada yang tercipta. Pengalaman momotoran tiap minggu selama sebulan kemarin hanya akan lenyap begitu saja. Tak akan ada yang tertuliskan.

Oke, pertama-tama siapa itu Berger? Singkatnya, dia itu kritikus seni, pelukis, novelis, dan penyair. Seorang intelektual dan humanis Marxis yang meninggal Januari 2017 kemarin, yang banyak pemikirannya akan terus hidup. Lalu apa hubungannya Berger dan motor? Dia juga seorang motoris. Tonton John Berger or The Art of Looking (2016), dan kita bakal melihat seorang aki-aki di usia 90 masih gagah naik motor gede Honda CBR1100XX alias Blackbird. Ini boleh diikuti atau tidak, saat tinggal di pedesaan Prancis, dia hobi membawa motor tadi di jalanan pegunungan Alpen dengan kecepatan tinggi. Yang pasti, beragam pemikirannya soal momotoran sesuatu yang enggak boleh dilewatkan.

Dalam Bento’s Sketchbook, Berger menyebut bahwa selama bertahun-tahun dia terpesona oleh hubungan paralel antara tindakan mengemudikan motor dan tindakan melukis. Hubungan itu mempesonanya karena bisa mengungkapkan suatu rahasia. Tentang apa? Tentang perpindahan dan penglihatan. Bahwa melihat membuat kita lebih dekat. Kamu mengendarai motor dengan matamu, dengan pergelangan tanganmu dan dengan bersandar pada tubuhmu. Matamu yang paling penting dari ketiganya. Motor mengikuti dan membelok ke arah apapun yang diarahkan. Ini menuruntukan penglihatanmu, bukan pikiranmu. Tidak ada pengemudi kendaraan roda empat yang bisa membayangkan ini. Jika kamu melihat dengan susah payah halangan yang ingin kamu hindari, ada risiko besar justru kamu akan menabraknya. Lihatlah dengan tenang jalan di hadapan dan motor akan menempuh jalan itu. Baca lebih lanjut

Bayah dan Perjalanan Seru Lainnya

Oleh: Mey Saprida Yanti (@meysaprida)

Aku ikut Susur Pantai Selatan Jilid II bersama Komunitas Aleut dan Tim Djeladjah Priangan. Susur pantai pertama sangat menyenangkan, total perjalanannya sekitar 400 km dengan rute Bandung – Pangalengan – Cisewu – Rancabuaya – Pameungpeuk – Karang Tawulan – Cikatomas – Singaparna – Garut – Bandung.

Sementara kali ini kami menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat ke arah Barat: dari Cianjur, Sukabumi sampai Bayah di Banten Selatan. Meskipun aku pernah ke Bayah, tepatnya ke Pantai Sawarna, tapi aku ingin merasakan kebersamaan bersama teman-teman Aleut lagi. Seperti mimpi, perjalanan ini tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Awalnya tidak terlalu berniat, hanya ingin melakukan perjalanan saja.

Jum’at malam (24 Maret 2017), kami berkumpul di Kedai Preanger, Jalan Solontongan No. 20-D, Buahbatu. Sekitar pukul 20.00 WIB kami makan malam terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Setelah makan dan semua teman telah berkumpul, kamipun briefing. Tujuan pertama adalah Ciwidey via Bojongsoang. Ya, kami akan mencari penginapan di dataran tinggi Bandung Selatan.

Agar keuangan perjalanan terjamin, kami patungan 100 ribu per orang sebagai kas perjalanan. Dana terkumpul 1,7 juta dengan total yang melakukan perjalanan 18 orang dan 10 motor. Dua orang teman tidak punya pasangan dalam perjalanannya, yang satu tidak ikut rombongan dari awal, kami akan bertemu di Cidaun.

Ciwidey

Ciwidey Valley, kami tiba di sana sekitar pukul 22.00. Tapi kami tidak menginap di Ciwidey Valley melainkan penginapan yang ada di depannya. Kami menyewa satu kamar dengan empat tempat tidur, satu tempat tidur bisa cukup 4 sampai 5 orang. Sebagian teman tidak bisa tidur karena suhu udara yang cukup dingin, ada yang lebih memilih berbincang sehingga mengundang teman lain yang juga susah tidur untuk bergabung.

Sebelumnya telah diperingatkan kepada teman-teman semua agar istirahat yang cukup, karena esok harinya akan melanjutkan perjalanan panjang. Di luar rencana awal, esoknya kami tidak akan berhenti di Sukabumi, melainkan langsung ke Bayah. Keputusan ini diambil karena ada sebagian teman yang akan pulang duluan di hari Minggu: pekerjaannya sudah menanti, maka diupayakan agar semua bisa sampai di Bayah.

Sabtu pagi, perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai. Karena cuaca dingin, sebagian teman memilih untuk tidak mandi, walaupun begitu tapi tetap semangat untuk melakukan perjalanan. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: 4 Hari Untuk Selamanya

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Dalam nirsinar saya celangak-celinguk sedangkan film telah usai beberapa menit yang lalu. Film tersebut memberikan efek agar segera menyulut rokok untuk kemudian bergaya seperti Yusuf, tokoh dalam film itu. Saya tak kuasa untuk menghisap dalam-dalam lalu menyemburkan asapnya hingga berlarian. Tapi apa daya, tak sebatang rokok pun saya miliki. Namun manusia memang memiliki akal. Saya mencarinya ke lantai bawah, dan tak menemukannya. Saya kembali naik ke lantai atas, mencari di sekitar, dan akhirnya menemui bungkus rokok berwarna hitam berisi 4 batang rokok milik seorang kawan. Saya mengambilnya, lebih tepatnya, saya mencurinya. Bermodal korek, saya nyalakan rokok lalu menikmati setiap hisapan. Dan setelah hisapan pertama itu saya mulai menulis catatan perjalanan ini.

***

Perjalanan saya bersama Komunitas Aleut dan Tim Djeladjah Priangan untuk menyusuri Pantai Selatan dengan rute Bandung – Cidaun (Cianjur Selatan ) – Pelabuhan Ratu (Sukabumi) – Bayah pada Jumat, 24 Maret 2017 sangat memorable. Ini adalah perjalanan kami yang kedua setelah sebelumnya kami menyusuri Pantai Selatan dengan rute Bandung – Rancabuaya – Cikalong – Tasikmalaya.

Dari segi perjalanan, susur Pantai Selatan kali ini hampir sama dengan susur Pantai sebelumnya. Hanya berbeda sedikit bumbu, namun dengan rasa yang tak kalah sedap. Bagi saya, jalur yang kami lewati merupakan jalur baru. Biasanya, jika akan menuju Sukabumi, saya kerap melalui jalur perkotaan. Tapi kali ini saya melewati jalur perdesaan, berteman dengan pantai dan perbukitan.

Karena si Kuya (nama motor kesayangan saya) tidak memungkinkan untuk ikut, saya menunggangi motor seorang kawan bernama Angie. Namun sayang, bukan dia yang saya bonceng melainkan seorang fans garis keras JKT 48 bernama Ajay. Ada yang saya sesali saat saya membonceng Ajay. Apalagi kalau bukan penyesalan karena tak mengorek jauh seluk beluk tentang Kinal dkk. Padahal perjalanan kami cukup panjang, seharusnya saya dapat oleh-oleh lain dari perjalanan ini dengan mengetahui sejarah JKT48 dan perkembangannya sampai saat ini. Hahaha…

Berangkat dari markas yang berada di Jalan Solontongan 20-D sekitar pukul 21.00 WIB, kami merangsek menembus gerimis menuju jalur Ciwidey. Sesampainya di daerah Ciwidey, kami berniat menginap untuk melanjutkan perjalanan pada esok pagi. Gelapnya jalanan dan dinginnya udara malam itu membuat kami menginap di Pondok Gembyang. Penginapan yang cukup luas dengan tarif yang relatif murah. Bayangkan saja, belasan orang bisa masuk dan dapat tidur nyenyak di ruangan yang cukup luas dengan jumlah kasur yang juga cukup banyak. Bahkan, saya bisa lari-lari di atas kasur saking empuknya dan ber-smack down bersama Arif, salah seorang kawan saya. Penginapan yang recommended untuk kamu yang akan menginap dengan jumlah orang yang banyak. Baca lebih lanjut

Jarambah ka Bayah

Oleh: Hevi Fauzan (@pahepipa)

Bayah adalah kota kecil di selatan Provinsi Banten. Walaupun kecil, Bayah pernah menjadi kawasan yang penting, terutama saat pendudukan Jepang.

Komunitas Aleut bersama Tim Djeladjah Priangan kembali menyelenggarakan perjalanan susur Pantai Selatan. Pantai yang kata almarhum sejarawan Prof. Leirissa merupakan halaman belakang pulau Jawa ini, disusuri untuk kedua kalinya. Program susur Pantai Selatan pertama adalah menyusuri pantai selatan dari Bandung-Ranca Buaya ke arah timur menuju Cikalong Tasikmalaya. Susur pantai kali kedua menyusuri Pantai Selatan dari Bandung-Cidaun-Pelabuhan Ratu, sampai Bayah di provinsi yang berpisah dengan Jawa Barat tersebut di tahun 2000.

Bayah adalah kawasan yang terkenal dengan kandungan batu bara. Di awal abad 20, para peneliti Belanda menemukan kandungan batu bara yang sangat banyak di sana. Karena keadaan alam Banten Selatan yang bergunung, perusahaan Belanda gagal mengeksplotasi batu bara. Salah satu sebabnya adalah karena mahalnya ongkos pembangunan infrastruktur transportasi.

Eksploitasi batu bara baru terjadi di masa pendudukan Jepang. Mereka yang telah mengetahui laopran-laporan kandungan alam Bayah, memutuskan untuk mengeksploitasi batu bara sebagai bahan bakar perang di tahun 1943.

Rombongan Aleut berangkat dari Bandung pada hari Jumat (24/3) malam. Mereka kemudian memutuskan untuk menginap di Ciwidey, sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya menuju Cidaun. Saya sendiri, berangkat dari Pangandaran Sabtu (25/3) pagi, menyusuri sepanjang pantai melewati Cikalong, Cipatujah, Pameungpeuk, Ranca Buaya, sepanjang 150 km sebelum akhirnya sampai di Cidaun, tempat kami janjian untuk bertemu. Baca lebih lanjut