Bayah dan Perjalanan Seru Lainnya

Oleh: Mey Saprida Yanti (@meysaprida)

Aku ikut Susur Pantai Selatan Jilid II bersama Komunitas Aleut dan Tim Djeladjah Priangan. Susur pantai pertama sangat menyenangkan, total perjalanannya sekitar 400 km dengan rute Bandung – Pangalengan – Cisewu – Rancabuaya – Pameungpeuk – Karang Tawulan – Cikatomas – Singaparna – Garut – Bandung.

Sementara kali ini kami menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat ke arah Barat: dari Cianjur, Sukabumi sampai Bayah di Banten Selatan. Meskipun aku pernah ke Bayah, tepatnya ke Pantai Sawarna, tapi aku ingin merasakan kebersamaan bersama teman-teman Aleut lagi. Seperti mimpi, perjalanan ini tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Awalnya tidak terlalu berniat, hanya ingin melakukan perjalanan saja.

Jum’at malam (24 Maret 2017), kami berkumpul di Kedai Preanger, Jalan Solontongan No. 20-D, Buahbatu. Sekitar pukul 20.00 WIB kami makan malam terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Setelah makan dan semua teman telah berkumpul, kamipun briefing. Tujuan pertama adalah Ciwidey via Bojongsoang. Ya, kami akan mencari penginapan di dataran tinggi Bandung Selatan.

Agar keuangan perjalanan terjamin, kami patungan 100 ribu per orang sebagai kas perjalanan. Dana terkumpul 1,7 juta dengan total yang melakukan perjalanan 18 orang dan 10 motor. Dua orang teman tidak punya pasangan dalam perjalanannya, yang satu tidak ikut rombongan dari awal, kami akan bertemu di Cidaun.

Ciwidey

Ciwidey Valley, kami tiba di sana sekitar pukul 22.00. Tapi kami tidak menginap di Ciwidey Valley melainkan penginapan yang ada di depannya. Kami menyewa satu kamar dengan empat tempat tidur, satu tempat tidur bisa cukup 4 sampai 5 orang. Sebagian teman tidak bisa tidur karena suhu udara yang cukup dingin, ada yang lebih memilih berbincang sehingga mengundang teman lain yang juga susah tidur untuk bergabung.

Sebelumnya telah diperingatkan kepada teman-teman semua agar istirahat yang cukup, karena esok harinya akan melanjutkan perjalanan panjang. Di luar rencana awal, esoknya kami tidak akan berhenti di Sukabumi, melainkan langsung ke Bayah. Keputusan ini diambil karena ada sebagian teman yang akan pulang duluan di hari Minggu: pekerjaannya sudah menanti, maka diupayakan agar semua bisa sampai di Bayah.

Sabtu pagi, perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai. Karena cuaca dingin, sebagian teman memilih untuk tidak mandi, walaupun begitu tapi tetap semangat untuk melakukan perjalanan.

Baca juga: Catatan Perjalanan: 4 Hari Untuk Selamanya

Keluar dari penginapan, ban salah satu teman bocor, akhirnya Upi yang berpasangan dengan Delvi menunggu motor mereka selesai ditambal, sementara kami menunggu di warung kecil yang menyediakan gorengan. Ada juga beberapa teman yang makan mie sebagai sarapan. Ada yang unik saat pembayaran, mie dan gorengan 4 buah dibandrol dengan harga 14 ribu dengan perkiraan mie 10 ribu dan gorengan seribu, padahal teman yang lain gorengan 1 saja dibandrol dengan harga 2 ribu. Sementara Popmie seharga 10 ribu sama dengan harga Indomie yang dimasak terlebih dulu.

Naringgul

Rute Ciwidey – Cidaun menyajikan pemandangan yang sangat cantik dan adem. Menemani perjalanan kami, sepanjang perjalanan hamparan karpet hijau kebun teh yang berbukit-bukit, kemudian lembah-lembah, bahkan rumah para buruh perkebunan teh pun terlihat cantik.

Setelah melewati perkebunan teh kemudian hutan kecil, jalanan menurun tajam, membawa kami ke persawahan dan sungai, kemudian terlihat curug di mana-mana. Kami bisa menjumpai curug di pinggir jalan, rupanya kami sudah sampai di Naringgul. Foto-foto sebentar, lalu melanjutkan perjalanan. Keinginan untuk guyang di sungai tertahan karena seorang teman telah menunggu di Cidaun.

Jalanan menanjak, kami berjalan keluar dari Naringgul menuju Cidaun. Pemandangan masih indah walau curug sudah tidak terlihat lagi. Sungai berkelak-kelok dan pergunungan membuatku teringat pada lukisan zaman SD, ternyata lukisan itu benar adanya, bukan hanya imajinasi saja.

Kemudian pemandangan perusakan alam mulai terlihat. Penebangan pohon di sekitar pinggiran jalan, banyak kayu-kayu potong yang sudah siap angkut dan telah diberi tanda. Entah sebanyak apa pohon yang telah ditebangi. Lalu kamipun sampai di Cidaun, teman telah menunggu di pertigaan, tepatnya di depan sebuah mini market.

Cidaun, Sindangbarang, Agrabinta, Jampangkulon

Selesai menyantap jajanan, kami melanjutkan perjalanan. Pantai sudah terlihat dan tentu saja suhu udara mulai membuat gerah. Perjalanan kami ditemani oleh lautan biru, sesekali terlihat mesin penyedot pasir.

Sebagai orang yang dibonceng, aku tidak terlalu memperhatikan jalan, tapi lebih ke pemandangan. Hari sudah semakin siang, teman-teman yang tadi pagi hanya makan gorengan sudah mulai kelaparan, tapi kami belum menemukan tempat makan yang pas, masuk hutan keluar hutan, melewati perkampungan warga, melewati perkebunan karet.

Suasana perkebunan karet membawa ingatanku ke Sumatera, tempat tinggal masa kecilku. Kemudian jalan yang berkelak-kelok, suhu udara yang panas, perut mulai lapar membuatku mengantuk, tapi bukan hanya aku, ternyata teman-teman yang lain pun mengalami hal yang sama. Akhirnya kami menemukan warung nasi, di dekat warung nasi tersebut tedapat plang yang menerangkan bahwa kami berada di PTPN Agrabinta, Kabupaten Cianjur.

Selesai makan aku berusaha agar bisa tidur sebentar, tapi cuaca panas membuatku susah tidur, akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi. Setelah keluar dari Agrabinta, kini pemandangan perkebunan karet telah tergantikan oleh hijaunya sungai Ci Kaso. Jembatan Ci Kaso kami jadikan sebagai tempat pengambilan foto. Yang memboncengku asli Sukabumi, ia berkata bahwa dulu di sekitar sungai hingga curug Ci Kaso dihuni oleh banyak buaya. Puas mengambil foto, perjalanan berlanjut. Ashar mulai datang, ban motor yang kutumpangi kempes. Teman yang lain sudah di depan dan mereka menunggu di sebuah warung, sementara aku dan yang memboncengku ditemani beberapa teman mencari tambal ban. Beruntung segera dapat, dan kami menunggu ban ditambal sembari makan cincau ice cream.

Pegal mulai menghampiri, punggung pun terasa mau copot. Kami awalnya berencana akan menginap di Jampangkulon, namun kami sedang mengejar Bayah. Karena sangat disayangkan kalau teman yang ikut Susur Pantai Selatan ini tidak sempat ke Bayah, akhirnya plang jalan menuju ke Ujung Genteng, Geopark Ci Letuh–tempat wisata yang sedang berkembang, kami lewati semua.

Di tempat sebelumnya, yaitu alun-alun Jampangkulon, kami hanya mampir sebentar untuk sekadar membeli opak dan gurandil, kemudian lanjut lagi.

Pelabuhan Ratu

Plang yang menunjukkan arah ke Pelabuhan Ratu akhirnya terlihat. Entah sudah berapa kilometer yang kami lalui. Hari sudah mulai gelap, jalan berkelak-kelok, dan tidak adanya lampu penerang jalan di antara hutan membuat kami harus merapkan barisan agar pencahayaan bisa optimal. Tegar yang lampu motornya paling terang ditempatkan di posisi kedua, agar si pemimpin rombongan bisa melihat jalan lebih jelas.

Lampu-lampu di Pelabuhan Ratu akhirnya terlihat. Jalanan terus menurun, kami harus selalu waspada karena ada bekas longsor di jalan yang kami lewati. Sesekali jalanan hancur dan berlubang menunggu di depan, maka kami tidak bisa terburu-buru untuk sampai ke tujuan.

Jam makan malam telah tiba, kami telah sampai di Pelabuhan Ratu. Jalanan cukup ramai, kami memilih berhenti sejenak di pom bensin sebelah tempat pelelangan ikan. Setelah mengisi bensin kemudian berunding mengenai tujuan selanjutnya. Perut menjadi perhatian yang utama, maka kami mencari tempat makan dulu lalu kemudian mencari penginapan. Ya, kami memutuskan pergi ke Bayah esok hari, karena khawatir di Bayah tidak dapat tempat menginap, juga karena kami telah cukup lama menempuh perjalanan, semua sudah letih.

Tempat makan yang pas tidak juga didapat. Namun karena sudah di pantai, kami memilih minum air kelapa dulu, lalu sebagian teman pergi melihat penginapan yang ditawarkan penjual kelapa. Karena sudah malam dan semua teman terlihat sudah letih, maka teman kami langsung saja menerima tawaran penginapan: 3 tempat tidur dan 2 kamar mandi plus jarak ke pantai yang hanya sepuluh langkah.

Makan, istirahat, dan sedikit membaca buku penyamaran terakhir Tan Malaka di Banten yang dibawa seorang teman. Kemudian tidur dengan sleeping bag, suhu udara cukup gerah, maklum kami sedang ada di pantai.

Pagi hari teman-teman sudah sibuk keluar ingin melihat matahari terbit, sayang mentari terbit tidak sesuai harapan. Meskipun begitu, kami tetap menikmati suasana pagi hari di pantai. Aku yang baru datang melihat teman-teman asik selfie di pantai tak mau ketinggalan, ikutan berfoto. Namun sayang, ombak tiba-tiba datang dan menghantam tubuhku yang belum siap dengan kedatangannya. Aku tak bisa melarikan diri dari jerat ombak, kemudian aku terjatuh bersama smartphone-ku.

Karena sudah terlanjur basah, maka sekalian saja bermain ombak. Smartphone-ku dititipkan, dan aku mengajak teman yang lain agar ikutan main ombak, jangan hanya diam menikmati ombak yang datang dan pergi. Tak berapa lama aku tahu smartphoneku mulai error,dia terus me-restart diri. Baterai tidak bisa dicopot karena model tanam, akhirnya aku biarkan saja.

Pagi yang ceria di pantai berakhir, perjalanan ke Bayah dilanjutkan. Pemandangan di Puncak Habibie tak kalah indah, teluk dan pelabuhan terlihat jelas dari ketinggian. Keindahan tersebut membuat kami berhenti sebentar untuk foto-foto, namun sayang saat ingin melanjutkan perjalanan,lagi-lagi ban motor yang aku tumpangi bocor. Kami terpaksa mencari tambal ban ke bawah, turunan yang sangat tajam membuat kami harus hati-hati.

Baca juga: Jarambah ka Bayah

Perjalanan ke Bayah melewati jalan masuk ke Pantai Sawarna, teman yang melihat itu sebagian mungkin kecewa, karena kami tidak mengunjungi pantai yang tengah popular tersebut. Ya, Bayah memang sering di identikkan dengan Sawarna yang keindahan pantainya bagus, namun Bayah lebih dari itu, dulu puluhan ribu korban Romusha banyak ditemui di Bayah.

Bayah, Cikotok

Dari simpang Sawarna ke Bayah masih jauh, kami melihat roda jalan yang sangat panjang, kami melewati jalan pintas yang kata warga lebih dekat menuju Bayah. Kemudian jalanan berganti menjadi tanah merah di komplek PT. Semen Merah Putih. Jalan yang kami lewati adalah jalur penambangan kars pabrik semen.

Kami akhirnya tiba di Bayah, lalu mencari bekas jalur kereta yang dulu dibangun oleh para Romusha. Bekas putaran kereta ada di belakang kandang domba, relnya sudah tidak ada dan ditutupi semak-semak, kami cukup kesulitan menemukannya. Stasiunnya sendiri kini telah menjadi tower listrik di antara rumah penduduk, jarak antara putaran kereta dengan stasiun cukup jauh, sulit membayangkan seperti apa kondisinya dulu.

Setelah itu kami salat dzuhur, makan, lalu sebelum melanjutkan perjalanan mampir ke Tugu Romusha, tempat para korban Romusha dikuburkan secara massal. Letaknya tak jauh dari bekas stasiun yang baru saja kami kunjungi.

Kami kembali ke Pelabuhan Ratu, kali ini lewat Cikotok. Kami ingin melihat bagaimana rupa bekas pertambangan emas yang sudah ada jauh sebelum Freeport hadir di Papua. Kami memasuki Cikotok kira-kira setelah Ashar, hujan turun dan rombongan tiba-tiba berkurang. Kecepatan kami kurangi, namun rombongan belakang tidak juga menyusul. Yang di depan ada tiga motor, akhirnya menunggu teman yang lain di sebuah warung.

Kami menghangatkan tubuh sambil bercerita dengan pemilik warung, ternyata kami telah melewati bekas pertambangan emas Cikotok, sementara perjalanan keluar dari jalan menuju Pelabuhan Ratu masih 3 jam lagi. Kami memutuskan menunggu teman yang di belakang, ternyata ban motor Upi yang berpasangan dengan Delvi bocor lagi.

Akhirnya rombongan sudah komplit, kami melanjutkan perjalanan dengan hujan yang tak kunjung reda. Ketika kami melewati Gunung Halimun, yang memboncengku bercerita kalau di sekitar kaki Gunung Halimun ada kampung adat yang bernama Ciptagelar. Mereka menanam padi setahun sekali, kemudian hasil panennya disimpan untuk kebutuhan pangan masyarakat kampung. Mereka tidak menjual beras, karena bagi mereka beras adalah kehidupan, dan mereka tidak menjual kehidupan.

Hujan masih belum berhenti, hari semakin gelap. Saat kami menemukan perkampungan, beberapa motor mengisi bensin untuk menambah tenaga. Kami mengatur ulang formasi berkendara, teman yang penglihatannya kurang saat gelap dan hujan ada di barisan depan, begitu pula yang motornya sering mengalami masalah.

Jika di malam sebelumnya kami melewati jalanan yang berliku, dan gelap karena kurang pencahayaan serta longsor, maka malam ini kami mengalaminya lagi, dengan tambahan hujan lebat. Bukan main serunya perjalanan.

Ada satu yang kuingat sebelum hari mulai gelap. Ada banyak tempat pemotongan kayu di dekat hutan, limbah kayu dibuang ke sungai hingga menggunung, dan bekas longsor. Betapa terlihat perusakan alam yang tiada hentinya, sungguh miris melihatnya, sayang hujan turun lumayan lebat, membuatku tak bisa mengambil foto limbah kayu yang banyak itu.

Akibat penebangan pohon, maka air hujan langsung mengalir membawa tanah liat dan bebatuan tanpa terserap pohon terlebih dahulu. Tanah liat dan kerikil itu membuat motor yang ditumpangi Agus dan Anggie terpeleset, beruntung saat itu sepi dan tidak ada yang terluka, kecuali Agus yang tertimpa motornya, sementara Anggie langsung sigap berdiri.

Tak lama setelah Agus di evakuasi, adalagi korban jatuh terpeleset karena tanah liat yang licin itu, tapi kali ini bukan rombongan kami. Beruntung dari perjalanan panjang dan medan ekstrim yang kami lewati, hanya insiden Agus yang menjadi catatan kecelakaan kecil perjalanan kami.

Pelabuhan Ratu lagi

Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pelabuhan Ratu, pom bensin kembali menjadi titik kumpul kami, tempat mendiskusikan langkah perjalanan selanjutnya. Setelah berunding, akhirnya diputuskan untuk menginap lagi di Pelabuhan Ratu, bergeser dari rencana semula yang tadinya ingin langsung ke Sukabumi.

Tempat menginap kali ini lebih murah, yaitu 60 ribu per kamar. Kami mengambil 5 kamar, tapi pada akhirnya kamar tidak dipakai, kasur digotong ke ruang tamu dan ruang tamu menjadi kamar bersama, tapi perempuan tetap berada di kamarnya masing-masing. Ya, begitulah suasana cukup bebas dari penjaga penginapan, meskipun kali ini tidak dekat dengan pantai.

Pagi hari saat mentari mulai bersinar, masing-masing mulai menjemuri baju, tas, helm, sepatu, jas hujan, dan apa saja yang sehari sebelumnya terkena air hujan. Sambil menunggu kering, kami sarapan dan bercakap-cakap. Sekitar jam 11, kami harus segera melanjutkan perjalanan, karena kalau tidak, kami harus menambah biaya sewa kamar.

Sukabumi, Cianjur

Kota Sukabumi menjadi titik pemberhentian pertama untuk istirahat dan makan siang. Cuaca yang tadinya cerah saat kami ingin melanjutkan perjalanan, kini mulai mendung. Meskipun belum turun hujan, namun kami bersiap-siap dengan mengenakan jas hujan. Nanti kalau ada yang tanya hujan dimana, tinggal bilang saja hujan dari Bayah 🙂

Dan benar saja, tak berapa lama hujan pun turun. Di sepanjang jalan banyak ditemui pabrik, bahkan pabrik semen terbesar di Asia Tenggara ada di Kota Sukabumi. Selain itu ada juga pabrik tekstil, sepatu, dan entah pabrik apa lagi. Kendaraan operasional pabrik dan para karyawan berseragam pun menjadi teman perjalanan kami. Tak berapa lama, ban motor salah satu teman ada yang bocor lagi, kami menunggu di pom bensin sambil sekalian salat ashar.

Sampai di Cianjur, mampir sebentar beli oleh-oleh. Tadinya ingin beli kue mochi waktu di Kota Sukabumi, tapi karena tidak kesampaian akhirnya beli di Cianjur, dengan tambahan manisan kedondong Bangkok yang tidak ada bijinya, anggur hutan yang katanya adalah buah langka. Karena penasaran, aku beli saja walau pun sudah mencicipi beberapa.

Sebelum melanjutkan perjalanan, smartphone salah satu teman hilang, dia lupa menyimpan. Dia mencoba membongkar tasnya, namun tidak juga ditemukan. Akhirnya ibu penjaga warung oleh-oleh sebelah memberikan smartpone Nita yang hilang. Si ibu mengaku tidak mau langsung memberikan karena khawatirkan kami hanya mengaku-ngaku saja. Karena senang smartphone-nya telah kembali, Nita membeli dagangan si Ibu. Ya, begitulah, rezeki tidak ada yang tahu.

Kembali ke Buahbatu

Jalanan Cianjur – Bandung terbilang lancar. Sepanjang ruas jalan cukup sepi, di beberapa titik kami bisa melihat Gunung Gede dengan jelas. Ketika rombongan tiba di Padalarang, jalanan mulai semrawut. Truk besar, kendaraan sedang dan kecil yang mengisi jalanan membuat kami harus terpencar-pencar. Magrib menjadi waktu yang pas untuk meluruskan punggung sebentar. Tak lama kemudian perjalanan kembali dilanjutkan, kali ini tanpa berhenti lagi, kecuali di Cimahi. Rumah Anggie di Cimahi, dan dia mengantarkan dulu Uni ke Jamika karena Ajay dan Akay yang tadinya naik motor Anggie tidak ada boncengan hingga Buahbatu.

Cimahi – Buahbatu rombongan utuh, tidak terpisah dan sampai dengan selamat. Tiba di Kedai Preanger, kami langsung saling bertukar cerita, berbagi keseruan satu sama lain.

Iklan

2 pemikiran pada “Bayah dan Perjalanan Seru Lainnya

  1. Ping balik: Catatan Perjalanan: 4 Hari Untuk Selamanya | Dunia Aleut!

  2. Ping balik: Jarambah ka Bayah | Dunia Aleut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s