Inggit Garnasih

Mengenal peran wanita di ruang privat dalam pendampingan perjuangan pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia

Oleh: Puspita Putri (@Puspitampuss)

Minggu, 17 Februari 2019, pagi-pagi sekali aku bangun lalu mandi, sarapan dan melakukan kegiatan persiapan lainnya. Aku bersiap untuk pergi ke pelataran Gedung Merdeka, memenuhi janji kepada salah satu temanku dari Jakarta untuk menemaninya mem-Bandung hari itu. Baca lebih lanjut

Dari Situs Penjara Banceuy

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Dari Situs Penjara Banceuy

Saya melihat Sukarno sedang termenung ditemani buku dan pena. Kegelisahan begitu jelas terlihat dari raut wajahnya. Walaupun hanya dalam bentuk patung, keberadaannya terasa esensial. Di tempat inilah Sukarno mendapatkan gagasan dan juga mengumpulkan berbagai rumusan untuk menulis pledoi yang terkenal: Indonesia Menggugat.

Inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di Penjara Banceuy, Bandung. Sebuah penjara yang penuh sejarah, terutama yang berkaitan dengan Sukarno.

Angga menuntun saya ke setiap penjuru, “Nah lihat dan bayangkan, di kamar nomor 5 dengan ukuran 1,5 x 2,5 meter ini Sukarno pernah tinggal,” ujarnya sambil menunjuk ke arah bangunan serupa kamar.

“Haaaah!!!!” saya tertegun. “Gilaaaa… Sempit banget.” Baca lebih lanjut

Medan Prijaji, De Expres, dan Sipatahoenan yang Terbenam di Pusat Kota Bandung

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Perjalanan sejarah memang tak terduga. Tiga tempat bersejarah di Bandung zaman pergerakan, kini menjadi ini: Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, tanah lapang, dan Parahyangan Plaza.

SEIRING DENGAN perkembangannya menjadi pusat perkebunan di akhir abad ke-19, dibukanya jalur kereta api, dan setelah diresmikannya menjadi gemeente (kotapraja) pada tahun 1906, Bandung makin menggeliat. Hingar-bingarnya Bandung di awal abad ke-20 itu, setidaknya, bisa dirasakan jika membaca Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa: Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 (Ultimus, 2016).

Membaca roman karya Chabanneau******* tadi membawa kita melancong ke pusat kota Bandung dengan deskripsi yang cukup detail. Bandung memang sudah ramai. Pengaturan zonasi kota masih mengadaptasi konsep pembagian ras kolonial: kelompok Pribumi, Tionghoa, Arab, dan Belanda mendiami kawasan tertentu, walau tidak diterapkan seketat kota kolonial lainnya. Lewat kabar mulut, ditambah promosi pariwisita yang gencar saat itu, dengan penyebutan ‘Garden of Allah’ atau ‘Parijs van Java’, semua ingin ke Bandung. Kota ini menjadi semacam melting pot.

Namun bagi mereka, Bandung bukan soal pelesiran. Gemerlap kamar bola, pusat perbelanjaan, berbagai bangunan Art-Deco tak menarik minat mereka. Bagi mereka, Bandung adalah sisi lain dunia yang dihisap oleh kolonialisme yang harus dibangunkan dan digerakkan. Seperempat pertama abad kedua puluh itu, mencatut judul bukunya Takashi Shiraishi, adalah “Zaman Bergerak”. Bergesernya arah kebijakan politik pemerintah kolonial seiring dengan adanya pergantian kekuasaan parlemen oleh kemenangan kaum liberal Belanda, dan munculnya kebijakan baru bernama Politik Etis, menjadikan awal abad ke-20 sebagai masa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Baca lebih lanjut

Karena di Sirnaraga Kamu tak Bisa Lagi Mengeluh

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Hembusan angin di pagi hari serta merdunya desahan gerimis membasahi Jalan Pajajaran, Kota Bandung. Aku tak terlalu risau, juga tak perlu mengeluh pada semburat langit pagi yang sudah beberapa hari ini seolah menyuruhku berselimut. Cuaca seperti ini sudah akrab denganku. Ya, pilihannya hanya dua; kalau tidak gelap ya terang. Aku nikmati pagi itu sambil ngobrol dengan kawan di sebelahku, sebut saja si A.

“Wihh sepertinya ada orang meninggal nih. Coba lihat, gerombolan orang-orang itu mendekati kita” ujarku pada si A.

“Mana mana?” Si A menimpali sambil lirik kanan-kiri.

“Oiya ya… singkirkan selimutmu, segera cuci muka agar kau terlihat segar !” Si A memerintah.

“Oke, saat ada yang bergerombol seperti ini, dalam cuaca seperti apapun, kita memang harus terlihat segar,” jawabku.

“Iya iya.” Si A menggerutu sambil sedikit melirik lagi pada rombongan itu.

Aku dan si A saling bertatapan, siap memberikan senyum terbaik bagi gerombolan orang yang tengah menghampiri kami.

Dengan cuaca gerimis di pagi hari dan dinginnya Sirnaraga yang tak bermentari, tak mungkin ada orang-orang yang berniat berziarah. Kecuali ada yang meninggal bukan?” tanyaku pada si A.

Si A mengangguk. Kami senang karena akan ada asupan nutrisi baru yang akan kami peroleh. Baca lebih lanjut

Presiden Seumur Hidup itu Ditetapkan di Bandung

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

Di Bandung-lah Soekarno merintis perjuangannya melawan penjajah, dan di kota ini pula Soekarno menegaskan dirinya sebagai tiran. Setelah mengalami masa-masa kekacauan tak berkesudahan akibat perseteruan politik, pada tanggal 15 Mei 1963 Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) menggelar sidang umum II di Bandung. Dalam sidang itu, dihasilkanKetetapan MPRS Nomor III/MPRS/1963 yang mengangkat Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia seumur hidup.

13330903_10207736664869166_7651125239698858644_n

Dalam foto yang diambil saat rapat umum di Alun-alun Bandung, terlihat Presiden Soekarno mengangkat Piagam Ketetapan MPRS yang berisikan penetapannya sebagai Presiden Seumur Hidup. Bung Karno menyampaikan pidato berjudul “Sosialisme Bukan Benda yang Jatuh dari Langit”… Baca lebih lanjut

Gedung Indonesia Menggugat

image

Gedung Indonesia Menggugat, dulunya berfungsi sebagai pengadilan. Nama gedung diambil dari judul pledoi Sukarno dengan judul sama yang ia tulis selama mendekam di Penjara Banceuy.

Nah, lokasi ini merupakan titik kumpul kegiatan Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo Dulu hari Minggu besok. Sudahkah Aleutians memastikan diri bergabung?

Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Ke Bandung-lah Sukarno Akan Kembali…

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Kota Bandung memiliki keterikatan yang sangat erat di dalam diri seorang Sukarno. Ya, meskipun ia lahir dan besar di daerah Jawa Timur, namun di Bandung-lah dirinya ditempa hingga menjadi sosok yang kini kita kenal.

Di Kota Bandung ia memulai kiprah politiknya. Awalnya ia dikenal masyarkat sebagai orator yang ulung. Kemudian, Sukarno memperluas kiprahnya dengan membentuk Partai Nasional Indonesia di Kota Bandung. Partai ini kemudian meluas hingga ke hampir seluruh pelosok Pulau Jawa. Di Kota Bandung pula ia mendekam di balik jeruji besi karena dianggap Pemerintah Hindia Belanda melakukan makar melalui pergerakan politiknya. Di Bandung, Sukarno menjadi Sukarno yang kita kenal melalui banyak sumber literasi.

Tak hanya soal politik dan pergerakan nasional, di Bandung inilah ia menemukan sosok wanita yang menjadi cinta sejatinya. Wanita yang bisa menjadi ibu, kawan, sekaligus isteri yang memang betul-betul dibutuhkan seorang Sukarno. Wanita ini bernama Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung pada 17 Februari 1888. Ia terlahir dengan nama Garnasih saja. Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih kecil menjadi sosok yang dikasihi teman-temannya. Begitu pula ketika ia menjadi seorang gadis, ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Di antara mereka beredar kata-kata, “Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit.”

Sukarno pertama kali bertemu dengan Inggit saat ia indekos di Bandung. Sukarno yang pada saat itu masih menjadi menantu mentornya, Tjokroaminoto, dikirim ke Bandung untuk mengenyam pendidikan di THS (sekarang ITB). Tjokro menitipkan Sukarno kepada Haji Sanusi, seorang kawan yang merupakan anggota Sarekat Islam dan merupakan suami Inggit Garnasih.

Seiring berjalannya waktu, muncul benih-benih cinta di antara keduanya. Retaknya situasi rumah tangga masing-masing pasangan ini membuat benih cinta mereka kian bersemi. Hubungan Sukarno dengan isterinya, Utari, kian renggang karena sejak awal memang tidak pernah ada cinta di antara keduanya. Sukarno menikahi Utari semata karena ingin mengasuh anak mentornya setelah Utari kehilangan ibunya. Sedangkan hubungan Inggit dengan Haji Sanusi juga semakin renggang setelah Haji Sanusi lebih sering di luar rumah untuk berjudi bilyar.

Akhirnya Sukarno mengambil sikap. Ia mengembalikan kembali Utari kepada Tjokroaminoto, untuk kemudian menikahi Inggit. Sukarno sendiri pula yang langsung mengutarakan maksudnya kepada Haji Sanusi untuk melangsungkan pernikahan dengan isterinya. Tanpa adanya drama, akhirnya Sanusi setuju dan kemudian pasangan yang terpaut tiga belas tahun ini menikah pada tanggal 24 Maret 1923.

inggit-10

Inggit dan Sukarno (foto: Mooibandoeng)

Meskipun tidak berlatar belakang pendidikan yang tinggi seperti Sukarno, namun Inggit mampu merebut hatinya. Di dalam diri Inggit-lah Sukarno menemukan perempuan yang selama ini ia cari: sosok ibu, teman, dan isteri sekaligus. Inggit tahu persis kapan harus menjadi teman berbicara saat Sukarno membutuhkan teman untuk berdiskusi, kapan harus menjadi sosok pengayom Sukarno yang sedang rapuh, dan kapan menjadi sosok istri idaman Sukarno.

Untuk menyokong cita-cita politik Sukarno, Inggit bahkan rela berkorban. Di awal perjuangan, saat Sukarno belum memiliki uang untuk menjalankan kiprah politiknya, Inggit-lah yang menjadi tulang punggung keluarga sekaligus penyandang dana dengan berjualan jamu, bedak, hingga menjahit. Saat Sukarno ditahan, Inggit berkorban lebih keras lagi. Ia menurunkan berat badannya agar bisa menyusupkan surat kabar untuk Sukarno.

Pasangan yang terlihat ideal ini pada akhirnya menemui keretakan. Setelah hampir 20 tahun menikah, keduanya belum juga memiliki keturunan. Sukarno yang usianya lebih muda dari Inggit menginginkan keturunan, sesuatu yang Inggit tak bisa berikan. Maka, ia ingin menjadikan Inggit sebagai istri pertamanya, lalu menikahi Fatmawati, perempuan yang ia anggap sebagai anak angkatnya saat diasingkan di Bengkulu, untuk memperoleh keturunan.

Inggit menolak rencana ini. Sejak awal ia memang sudah punya pendirian: Inggit lebih memilih untuk berpisah dibandingkan harus dimadu. Dengan berat hati, Sukarno akhirnya menceraikan Inggit di Jakarta dengan disaksikan Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kiai Haji Mas Mansur. Setelah keputusan itu diambil oleh Sukarno, Inggit merasa ia harus kembali ke Bandung, ke tempat asalnya.

Meski bercerai di tahun 1943 dan menikah sebanyak 7 kali setelahnya, rupanya Inggit masih memiliki tempat di hati Sukarno. Ya, sepertinya sejak bercerai, ia belum lagi menemukan cinta sejatinya, karena cinta sejatinya tetaplah Inggit Garnasih yang tinggal di Bandung.

“Dan aku kembali ke Bandung, kepada cintaku yang sejati…” – Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/12/11/ke-bandung-lah-sukarno-akan-kembali/

Kuli Gadungan

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

Pak Ahmad adalah opas (office boy) Bung Karno ketika tahun 1927 mendirikan Biro Teknik Bangunan. Tetapi sebenarnya tugasnya bukan hanya sebagai opas saja, melainkan juga sebagai agen PNI. Dia bertugas menyebarkan pamflet ke ranting-ranting di seluruh Bandung. Dari Cimahi sampai Cililin dan Cicalengka, yang jauhnya 30 km lebih dari Kota Bandung. Tugasnya hanya dikerjakan dengan sepeda.

Gajinya? Jangan ditanya. Pak Ahmad tidak mendapat gaji. Hanya mendapat makan dari Bu Inggit. Apa yang dikerjakannya murni demi perjuangan bangsanya.

Tatkala Bung Karno dipenjara, Pak Ahmad berusaha mengadakan kontak dengan pimpinannya yang sekarang mondok di Sukamiskin itu. Tapi bagaimana caranya? Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Enam Alinea untuk Alina *)

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Alina sayang, apa kabar? Dari depan Rathkamp, sore ini aku ingin mengirimmu beberapa alinea. Kata, sebagaimana kau tahu, selalu lebih berhasil menarik minatku. Kini, di sini, di tepi Jalan Asia-Afrika yang tengah ramai oleh pengendara dan pejalan kaki, aku mencoba merekamnya dalam redup dan remang bahasa; untukmu. Aku sengaja tidak mengerat dan memotong beberapa gambar, untuk apa? Orang-orang sudah terlampau banyak mengantongi rupa; di depan Gedung Merdeka, tepi Jalan Cikapundung Timur, pinggir sungai yang keruh itu, sekitar monumen Dasasila Bandung, di depan kantor Harian Pikiran Rakyat, dan masih banyak lagi. Mereka mencoba mengawetkan semesta dirinya dalam dekapan yang mulia kamera. Tidak Alina, aku tidak mau mengirimmu keriuhan yang banal itu lewat gambar. Aku ingin mendekatimu dengan kata.

Selepas hujan sore ini, mentari masih malu-malu menampakan diri. Sementara orang-orang justru girang memenuhi ruas trotoar dan sebagian bahu jalan. Arus lalu-lintas tersendat, sesekali klakson bersahutan. Hotel Savoy Homann, de Vries, Visser, dan Gedung Merdeka mulai tersaput temaram. Beberapa saat lagi adzab maghrib akan berkumandang dari Masjid Agung. Menjelang sore dijemput malam, keramaian semakin riuh. Tua-muda, laki-laki perempuan, semuanya menyesaki trotoar yang sudah dipercantik. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Kabar dari Jalan Pajajaran

Oleh: Deris Reinaldi

Para delegasi Konperensi Asia-Afrika 2015 akan tiba di Bandung pada hari Jum’at, 24 April 2015, baik melalui jalur darat ataupun jalur udara. Untuk delegasi yang melalui jalur udara dari Jakarta akan melewati Jl. Pajajaran. Jl. Pajajaran sudah berbenah diri, meskipun tidak seperti Jl. Asia Afrika dan sekitarnya. Meskipun begitu, jalanan nampak terlihat bersih karena setiap hari terlihat beberapa kelompok orang sedang membersihkan jalan. Sepertinya kalau Jl. Pajajaran dibenahi seperti di Jl. Asia Afrika, dipastikan suasana jalan akan ramai juga.

deris10

Terlihat dari sekitar patung Husein kini tampil rapi, tanaman hias pun ada yang baru ditanam karena terlihat masih segar. Dalam area taman patung Husein kondisinya bersih dan terawat, lalu di sisi kiri taman patung Husein ada yang terpajang berupa kata sambutan Welcome to Bandung. Di sekitar ini juga terdapat beberapa polisi dan polisi militer yang sedang bertugas mengamankan lalu lintas. Baca lebih lanjut