#PojokKAA2015: Sekilas Drs. R. M. P. Sosrokartono dan Asia-Afrika

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Raden Mas Panji Sosrokartono

Raden Mas Panji Sosrokartono

Buku pelajaran sejarah pernah mencatat peristiwa Konferensi Asia-Afrika 1955. Konferensi Asia-Afrika 1955 dicatat sebagai tonggak perlawanan negara-negara di Benua Asia dan Afrika atas kolonialisme. Seperti kita ketahui, banyak negara yang merdeka setelah Konferensi Asia-Afrika 1955.

Tapi sebelum 1955, pernah ada ramalan tentang bersatunya Asia dan Afrika di Bandung. Ramalan tersebut diucapkan pada tahun 1940-an. Orang yang memberi ramalan tersebut adalah Drs. R. M. P. Sosrokartono yang pernah tinggal di Bandung. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Us Tiarsa dan KAA

Oleh: Ariono Wahyu (@A13xtriple)

Bagi seorang anak berusia dua belas tahun melihat orang-orang asing dari negara-negara yang jauh diseberang lautan hadir di kotanya adalah pengalaman yang luar biasa. Untuk Us Tiarsa dan mungkin banyak penghuni Kota Bandung saat itu, yang mereka sebut dengan orang asing adalah orang Belanda, orang India dan orang Tionghoa.

Sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi dirinya dan seluruh penghuni Kota Bandung, bahwa republik yang baru saja merdeka selama sepuluh tahun, sudah mampu dan berani melaksanakan hajatan besar berupa konferensi internasional yang mampu mengundang banyak negara.

Menurutnya, penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 1955 berlangsung dengan sederhana. Semua persiapan berlangsung apa adanya dan tidak mengada-ada. Mungkin dapat dikatakan Kota Bandung saat itu tak “berdandan”, namun tetap resik dan cantik, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah bersahaja.

Dalam ingatan Us Tiarsa yang kala itu masih duduk di kelas satu SMP, persiapan penyambutan hanya sebatas pemasangan bendera terutama bagi mereka yang tinggal di rumah-rumah yang terletak di pinggir jalan yang akan dilalui oleh rombongan delegasi peserta konferensi. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Madrawi – Kisah Keluarga dan Tanah Harapan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN0703Fadly Badjuri, kakek berusia 108 tahun itu tengah membakar rokok kreteknya yang pertama. Sementara Abdul Fatah, anaknya yang bungsu sedang sibuk melayani pembeli. Tak lama kemudian Abdul Fatah masuk ke dalam rumah dan menyuguhkan minuman mineral dalam gelas, “sama bapak mah ngobrol aja ya.” Kemudian dia keluar lagi sebab ada yang hendak makan di warung nasinya.

Dengan alat bantu dengar yang terpasang, Fadly kemudian bercerita. Komunikasi hampir berjalan satu arah, sebab alat bantu dengar ternyata tak begitu banyak membantu pendengaran seseorang yang usianya sudah lebih dari satu abad.

Siapa Fadly Badjuri?

Jelang peringatan Konperensi Asia Afrika yang ke-60, nama-nama pelaku dan saksi sejarah penyelenggaran KAA yang pertamakali di tahun 1955 menuai banyak sorotan. Salahsatunya adalah Madrawi, nama dan pemilik rumah makan yang pernah meyuplai makanan untuk para delegasi KAA angkatan mula-mula. Lalu apa hubungannya dengan Fadly Badjuri? Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Penasaran Sepanjang KAA 1955

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Kebiasaan warga Bandung adalah mengikuti apa yang sedang terkini di Bandung. Mulai dari Tebing Keraton hingga sinetron Preman Pensiun diikuti oleh orang Bandung. Akhir – akhir ini, hal yang terkini di Bandung adalah semarak Konferensi Asia Afrika.

Keramaian Penyambutan Konferensi Asia-Afrika 1955 (foto: berdikarionline.com)

Keramaian Penyambutan Konferensi Asia-Afrika 1955 (foto: berdikarionline.com)

Semarak Konferensi Asia Afrika menyedot banyak warga Bandung untuk ikut serta atau hanya memantau. Tapi, seperti kita tahu, Konferensi Asia Afrika diselenggarakan pada tahun 1955. Lalu bagaimana antusiasme warga Bandung menghadapi Konferensi Asia Afrika saat itu? Apakah lebih semarak dibanding sekarang? Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Sel Soekarno di Banceuy Juga Ikut Berbenah

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Proyek Perbaikan Bekas Sel Soekarno

Proyek Perbaikan Bekas Sel Soekarno

Ada hal menarik pada saat saya berkunjung ke Jl. Banceuy pada hari Rabu kemarin. Di sekitar Bekas Sel Penjara Soekarno, terlihat tengah berlangsung proyek perbaikan. Pada saat bertanya kepada salah satu pekerja untuk menanyakan proyek apa yang sedang berlangsung, saya lansgung diarahkan untuk bertemu Pak Ahmad, petugas penjaga situs ini.

Pak Ahmad bukanlah nama yang asing bagi saya dan pegiat Komunitas Aleut, karena tahun lalu kami pernah berbincang dengan beliau seputar Soekarno dan situs yang ia jaga secara sukarela. Ia seringkali mengeluhkan tidak adanya bantuan operasional dari pemerintah maupun keluarga dari Soekarno dalam pengelolaan situs ini.

Pak Ahmad, Petugas Penjaga Sel Soekarno

Pak Ahmad, Petugas Penjaga Sel Soekarno

Saat bertemu lagi dengan Pak Ahmad, saya cukup terkejut. Di saku kemeja batiknya terlihat nametag yang bertuliskan “Provinsi Jawa Barat”. Iseng saya bertanya pada beliau, dan memang betul sejak akhir tahun 2014 Pak Ahmad diangkat sebagai pegawai Pemprov Jawa Barat yang bertugas untuk menjaga situs ini. Saya merasa lega karena akhirnya pihak pemerintah daerah mau peduli dengan Pak Ahmad dan situs ini.

Blueprint Proyek Perbaikan Sel Soekarno

Blueprint Proyek Perbaikan Sel Soekarno

Menurut Pak Ahmad, proyek yang sedang berlangsung di situs ini merupakan bagian dari persiapan perayaan Konferensi Asia-Afrika 2015 yang puncak acaranya akan berlangsung pada 24 April 2015. Nantinya, di sekitar sel ini akan dipasang patung perunggu Soekarno yang sedang duduk membaca buku. Akses masuk utama pun dialihkan ke Jl. Banceuy, bukan lagi dari Jl. Belakang Factory.

Patung Perunggu Soekarno yang Akan Ditempatkan di Situs Ini

Patung Perunggu Soekarno yang Akan Ditempatkan di Situs Ini

Proyek ini menurut Pak Ahmad diharapkan bisa selesai sebelum tanggal 20 April 2015, meskipun proyek ini sendiri baru dimulai tanggal 1 April. Untuk mengejar waktu penyelesaian, proyek ini berlangsung pagi hingga malam hari. Saat saya ajak bercanda dengan sebutan “Proyek Sangkuriang”, Pak Ahmad pun tersenyum.

Meskipun proyek ini terlihat paralel dengan proyek perbaikan yang berlangsung di Jl. Braga, dan sebagian ruas Jl. Asia-Afrika, rupanya perbaikan sel ini tidak didanai oleh biaya dari pemerintah maupun partai politik. Menurut Pak Ahmad, dana perbaikan sel ini berasal dari dana udunan beberapa warga yang peduli dengan kondisi situs ini.

Proyeksi Visual Setelah Perbaikan

Proyeksi Visual Setelah Perbaikan

Semoga saja setelah proyek perbaikan ini selesai, situs Bekas Sel Penjara Soekarno ini lebih mendapat perhatian dari warga Bandung maupun pemerintah daerah.

 

Foto: Arsip Arya Vidya Utama