#PojokKAA2015: Madrawi – Kisah Keluarga dan Tanah Harapan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN0703Fadly Badjuri, kakek berusia 108 tahun itu tengah membakar rokok kreteknya yang pertama. Sementara Abdul Fatah, anaknya yang bungsu sedang sibuk melayani pembeli. Tak lama kemudian Abdul Fatah masuk ke dalam rumah dan menyuguhkan minuman mineral dalam gelas, “sama bapak mah ngobrol aja ya.” Kemudian dia keluar lagi sebab ada yang hendak makan di warung nasinya.

Dengan alat bantu dengar yang terpasang, Fadly kemudian bercerita. Komunikasi hampir berjalan satu arah, sebab alat bantu dengar ternyata tak begitu banyak membantu pendengaran seseorang yang usianya sudah lebih dari satu abad.

Siapa Fadly Badjuri?

Jelang peringatan Konperensi Asia Afrika yang ke-60, nama-nama pelaku dan saksi sejarah penyelenggaran KAA yang pertamakali di tahun 1955 menuai banyak sorotan. Salahsatunya adalah Madrawi, nama dan pemilik rumah makan yang pernah meyuplai makanan untuk para delegasi KAA angkatan mula-mula. Lalu apa hubungannya dengan Fadly Badjuri?

***

Rabudin, seorang korban kerja paksa di era kolonial Belanda (rodi) yang berasal dari Madura melarikan diri ke Bandung. Kakaknya yang bernama Saibari menyuruh dua orang anaknya, yaitu Madrawi dan Badjuri untuk mencari Rabudin. Sampailah mereka, dua orang kakak beradik itu di station Cikudapateuh. Tak disangka sebelumnya, di daerah Cikudapateuh itulah mereka bertemu dengan sang paman yang dicari.

Pasca pertemuan dan tinggal beberapa saat di Bandung, Madrawi dan adiknya pulang ke Madura untuk memberitahu ayahnya ihwal keberadaan sang paman. Selain itu, mereka pun hendak meminta ijin untuk tinggal di Bandung, karena berdasarkan pengamatan dan pengalaman mereka, Bandung layak untuk ditinggali. Bagi mereka, Bandung adalah tanah harapan.

Rabudin waktu itu sudah maju di bidang sosial dan ekonomi, salahsatu “muridnya” yang bernama Busana berjualan sate di Cikudapateuh. Usahanya kurang maju, sebab Busana senang bermain judi. Oleh Rabudin, usaha sate Busana kemudian dipercayakan kepada Madrawi dan Badjuri yang sudah kembali lagi ke Bandung dari tanah Madura.

Berkat pergaulan Rabudin yang cukup luas, Wiranatakusumah V yang bergelar Dalem Haji, “memberikan” sebidang tanah di dekat Masjid Agung Bandung kepada dua bersaudara itu untuk tempat berjualan sate. “Teu kudu mayar, sok we pakě,” (tidak usah bayar, pakai saja) kata Dalem Haji. Namun karena merasa tidak enak, kedua bersaudara itu tetap membayar sewa tanah via Pos; yang waktu itu menjadi lembaga yang menangani pembayaran sewa tanah.

Gang menuju rumah Fadly Badjuri

Gang menuju rumah Fadly Badjuri

Penamaan warung sate dengan nama “Madrawi” adalah sebagai bentuk penghormatan, sebab Madrawi adalah kakaknya Badjuri, artinya menghormati yang lebih tua. Dalam perjalanannya, karena waktu itu yang berjualan sate di Bandung masih jarang, maka hal tersebut menjadi pendorong majunya usaha Madrawi. Selain sate, rumah makan tersebut menyediakan juga menu lain seperti rawon, soto, dan gulai.

“Baheula mah rumah makan Cina teu pati payu, da marakě babi. Beda jeung anyeuna, jelema těh geus bareuki babi,” (Dulu rumah makan Cina tidak begitu laku, sebab menyediakan menu daging babi. Beda dengan sekarang, orang-orang sudah menyukainya) kata Fadly. Hal ini beliau utarakan waktu menceritakan tentang majunya usaha keluarga mereka.

Di luar kesibukannya berjualan sate dan menu-menu yang lain, di lapangan kehidupan pribadi; Madrawi sempat menikah sebanyak enam kali, dan salahsatu istrinya adalah orang Cibeureum-Cimahi. Namun sampai akhir hayatnya Madrawi tidak dikaruniai anak. Kondisi demikian sempat membuatnya berniat untuk “mengadopsi” Fadly dari adiknya. Namun permintaan itu ditolak oleh Badjuri, akhirnya Fadly pun menjadi anak “bersama”.

Berbeda dengan Madrawi, Badjuri mempunyai tiga orang anak. Fadly adalah anak bungsu Badjuri dari tiga bersaudara. Fadly sendiri kemudian dikaruniai delapan orang anak. Tiga orang anaknya yang pertama sudah meninggal dunia. Dua dari delapan bersaudara itu adalah Abdul Basit (anak ke empat) dan Abdul Fatah sebagai anak bungsu, keduanya hingga kini menetap di Bandung.

Abdul Basit menjadi aparat pemerintah di daerah Dalem Kaum, rumahnya terletak tidak jauh dari gapura komplek pemakaman para Bupati Bandung. Sedangkan Abdul Fatah tinggal seaatap dengan ayahnya, dan kini menjalankan usaha berjualan nasi serta bakso di sebuah gang di bilangan Jl. Simpang-Dewi Sartika.

Di tanah harapan, selain aktif berniaga, Madrawi pun berkecimpung di bidang sosial keagamaan. Dia kerap mengadakan pengajian dengan warga NU di sekitar rumahnya. Hingga kini acara pengajian itu masih berjalan karena dilanjutkan oleh generasi yang lebih muda dari keluarga besarnya.

DSCN0656Pergaulan yang luas dan ketekukan dalam berniaga, membuat usaha Madrawi dan keluarganya mencapai puncak keberhasilan di medio 1950-an, salahsatunya adalah dipercaya oleh Presiden Soekarno (salah satu pelanggan tetap) untuk menjamu para delegasi KAA tahun 1955. Namun setelah mencapai “magnus opus” itu, usaha Madrawi cenderung mengalami kemunduran.

Tahun 1987, ketika Masjid Agung Bandung diperluas, warung Madrawi menjadi salahsatu yang tergusur proyek tersebut. Pemerintah sebenarnya menyediakan uang ganti rugi untuk mereka yang lapaknya tergusur, namun keluarga Madrawi menolaknya. Mereka tahu bahwa tanah tempat mereka usaha bukanlah hak milik mereka, melainkan milik Masjid Agung Bandung yang dulu dipinjamkan oleh Dalem Haji.

***

Dalam usianya yang sudah sangat senja, Fadly Badjuri masih bersemangat menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya maupun keluarga besarnya. Tanah Harapan yang dulu digagas oleh orangtuanya, kini salahsatunya adalah sewujud rumah di Jl. Simpang beserta usaha kecil-kecilan yang dijalankan. Mereka sudah tidak lagi berjualan sate, namun masih menerima pesanan jika ada yang meminta. Salahsatu kakak perempuan Abdul Fatah masih mewarisi resep turun-temurun dari kakeknya.

 

“Kalo mau tanya-tanya lagi datang aja ke sini ya, da udah tahu sekarang mah tempatnya. Atau kalau mau ngobrol ke Abah Basit (Abdul Basit) juga silahkan aja, bilang aja habis dari Simpang gitu,” tutur Abdul Fatah ketika saya dan dua orang kawan hendak berpamitan. Sementara Fadly Badjuri tengah menyulut lagi kreteknya, entah batang yang ke berapa. [ ]

Foto : Arsip Irfan TP

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.com/2015/04/madrawi-kisah-keluarga-dan-tanah-harapan.html

Iklan

Satu pemikiran pada “#PojokKAA2015: Madrawi – Kisah Keluarga dan Tanah Harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s