Kepingan Perjalanan Susur Pantai Geopark Ciletuh

Susur pantai Geopark Ciletuh

Susur Pantai Geopark Ciletuh | Foto Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Stop crying your heart out

stop crying your heart out

stop crying your heart out

Begitulah akhir lagu dari band Oasis yang berjudul “Stop Crying Your Heart Out.” Bukan saya sedang patah hati, kebetulan saja lagu tersebut berada pada playlist saya ketika itu. Saya mendengarkan lagu ini sembari menunggu hujan berhenti. Dalam hati saya berkata “berhentilah menangis” tentu saja yang saya tuju adalah langit. Langit sore itu terus menjatuhkan tetesan air yang membasahi bumi, padahal pada saat itu juga saya harus segera berangkat ke Kedai Preanger yang menjadi titik kumpul untuk susur pantai Geopark Ciletuh pukul 7.00 malam.

Waktu sudah  menunjukan pukul 6.30 sore tapi tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Haruskah saya menembus derasnya hujan dengan balutan jas hujan, dan menarik tuas gas lebih kencang dari biasanya sebab Riung Bandung-Buahbatu lumayan memakan waktu, belum lagi dengan kemungkinan macet dan lamanya lampu merah perempatan Carrefour Kircon. Jika saya menunggu sampai hujan reda, saya tak tahu hujan akan berhenti sampai pukul berapa, mungkin saja hujan bisa berlangsung hingga malam dan  mungkin saja saya akan sangat terlambat atau tertinggal rombongan. Baca lebih lanjut

Menantang Maut: Maribaya-Subang di Bulan Juli

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Kalau dilihat-lihat lagi, judulnya cukup menyeramkan: Menantang Maut. Sebenarnya, perjalanan kali ini tidak semenyeramkan itu, tapi cukup masuk akal kalau beberapa orang, terutama orang tua saya, menyebut perjalanan tersebut sebagai kegiatan menantang maut.

Kami tidak meloncat dari tebing, tidak mendaki gunung tinggi, tidak memasuki hutan lebat penuh dengan binatang buas, tidak. Seperti biasa, di hari Minggu (17/07/2016) pagi, saya dan beberapa pegiat Komunitas Aleut melakukan kegiatan rutin touring dari Maribaya ke Subang dengan motor yang kemudian disebut dengan istilah Ngaprak (Bahasa Sunda, memiliki makna serupa dengan kukurilingan/berkeliling). Hanya saja, rute yang akan kami lalui cukup beresiko karena pengaruh langit yang sedang senang-senangnya menangis terseguk-seguk di bulan Juli ini. Jalanan licin dan hujan lebat tentunya akan kami lalui, tapi ternyata ada satu hal yang saya pribadi tak sempat prediksi: kemungkinan terjebak longsor di tengah jalan.

Berangkat dari Kedai Preanger seperti biasanya, saya dan tandem saya Tegar mengambil posisi belakang sebagai sweeper. Ini berarti, saya dan teman saya ini harus dengan sigap memperhatikan posisi dan kondisi teman lainnya di depan. Selain itu, kami berdua bisa melihat dengan jelas berbagai macam kesulitan yang teman-teman lain hadapi selama perjalanan. Dan untuk saya pribadi, melihat teman-teman lain kesulitan membuat saya semakin parno! Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: NgAleut Rasia Bandoeng

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Malam Imlek itu, saya mendengar riuh suara kumpulan anak muda dengan baju coklat bertuliskan “Komunitas Aleut” di depan BRI Tower Asia Afrika. Lalu, saya dekati mereka karena penasaran dengan keributan yang mereka hasilkan.

“Ini lagi pada ngapain?” tanya saya kepada salah satu anak muda yang menyambut saya.

“Oh, ini Komunitas Aleut sedang siap-siap untuk NgAleut Rasia Bandoeng,” jawab anak muda yang bernama Ajay.

“Rasia Bandoeng? Bandung punya rahasia apa? Wah, ikut deh,” seru saya.

***

Sesi perkenalan

Gerimis mulai turun saat kami berkumpul dalam lingkaran. Salah satu penggiat Komunitas Aleut, Irfan TP, membuka NgAleut dengan mempersilahkan peserta memperkenalkan diri. Rupanya mereka dari berbagai institusi.

Lalu setelah perkenalan, Irfan TP bercerita tentang apa yang di-NgAleut-kan hari ini yakni Rasia Bandoeng. NgAleut kali ini berasal dari novel berlatar Bandung abad  ke-19 berjudul “Rasia Bandoeng” yang ditulis oleh Chabanneau. Dalam “Rasia Bandoeng”, Chabanneau menceritakan kisah cinta terlarang pasangan Tionghoa bermarga Tan. Nah, NgAleut malam ini menelusuri titik-titik yang dicerita dalam novel itu.

Titik pertama NgAleut malam itu adalah Bank Escomto yang sekarang Bank Mandiri. Di titik itu, penggiat Aleut berjaket merah bernama Alex mulai bercerita adegan di “Rasia Bandoeng” yang mengambil latar di Bank Escomto.

Dari penuturan Alex, saya mendapat cerita bahwa terjadi kejar-kejaran antar tokoh di “Rasia Bandoeng” bernama Tan Kong Wa serta kakak dan ibunya. Adegan yang mirip dengan film Fast and Furious terjadi di persimpangan jalan di depan Bank Escomto. Tapi berbeda dengan Fast and Furious, mereka menggunakan sado yang seperti delman.

“ Lalu, siapa Tan Kong Wa?” tanya saya pada Alex.

“ Tan Kong Wa adalah kawan baik Tan Tjin Hiauw. Nah, Tan Tjin Hiauw adalah tokoh utama dalam novel romantis ini,” jawab Alex sambil menunjuk bekas jalan di belakang Mesjid Agung yang telah tertutup oleh toko.

Bangunan di Perempatan Jl. ABC

Bangunan di Perempatan Jl. ABC

Setelah bercerita cukup lama, kami berjalan ke arah perempatan Jl. ABC. Alex nyeletuk bahwa kami akan melihat tempat Tan Tjin Hiauw bekerja sebagai akuntan di perempatan Jl. ABC.

Di titik ini, Alex dan Irfan TP bercerita tentang Hilda yang kerap mendatangi tempat Tan Tjin Hiauw bekerja. Sambil menunjuk menara di perempatan, Alex bercerita bahwa Hilda dan Tan Tjin Hiauw sering berjalan kaki dari perempatan ke Pieterspark (sekarang Taman Dewi Sartika). Mereka sering menggunakan jalan sepi di sekitar Braga untuk ke Pieterspark.

“Waduh, siapa lagi Hilda?” tanya saya kepada Alex

“Hilda teh tokoh perempuan yang jatuh cinta kepada Tan Tjin Hiauw. Hilda berkunjung ke kantor Tan Tjin Hiauw selesai les bahasa” jawab Alex.

Lalu, kami berjalan menuju bekas Sentiong atau makam Cina yang sekarang menjadi bangunan baru. Bukan cerita horror yang kami dengar dari Alex di titik ini, melainkan cerita romantis penuh kode antara Tan Tjin Hiauw dengan Hilda.

Menurut hasil membaca “Rasia Bandoeng”, Alex bercerita tentang teater Cina yang ditonton oleh Tan Tjin Huw dan dipanitiai oleh Hilda. Sepanjang teater ini berlangsung, mereka saling melempar pandangan penuh kode yang maknanya hanya diketahui oleh mereka.

“Kalem, ai teater ini di mana?” tanya saya lagi kepada Alex yang sedang terengah-engah karena lelah berjalan.

“Oh, teater ini berlokasi di Teater Apollo di depan Parapatan Kompa,” jawab Alex yang sudah mendapat nafasnya.

Belakang Pasar

Belakang Pasar

Selesai mendengar cerita pasangan penuh kode, kami melangkahkan kaki ke belokan Belakang Pasar. Di titik ini, kami menyimak cerita tentang Lie Tok Sim yang jatuh cinta ke Hilda.

Dalam “Rasia Bandoeng”, Lie Tok Sim jatuh cinta saat melewati rumah Hilda di Jl. Kebon Jati. Setelah itu, mereka saling mengirim surat dengan kurir bernama Gan Chokwim yang merupakan teman Lie Tok Sim. Sayangnya cinta Lie Tok Sim bertepuk sebelah tangan karena Hilda tidak suka Lim.

“Wait, kenapa kita berhenti di sini?” tanya saya.

“Yaa karena Lie Tok Sim tinggal di Belakang Pasar,” jawab Alex yang mulai kelelahan.

Rumah Keluarga Hilda

Rumah Keluarga Hilda

Obrolan cerita cinta bertepuk sebelah tangan ini berlangsung sepanjang perjalanan ke titik berikutnya di depan Hotel Gino Feruci. Lalu, obrolan kami berhenti setelah sampai di depan hotel. Selain berhenti, Alex menunjuk bangunan tua di depan hotel yang dahulu merupakan rumah keluarga Hilda.

Berdasarkan penuturan Alex, keluarga Hilda mulai menempati rumah itu setelah usaha batik ayahnya sukses. Pada awalnya, keluarga Hilda tinggal di sekitar Pasar Baru dan usaha awal mereka adalah Provisien en Dranken. Lalu, mereka beralih ke usaha batik yang berasal dari Solo karena lebih menguntungkan dibanding usaha sebelumnya.

“Oh iya, di situ, Hilda memandang Lie Tok Sim untuk pertama kalinya,” seru Alex sambil menunjuk bangunan tua itu.

Setelah memotret bangunan tua itu, kami berjalan kaki cukup jauh ke Jalan Sudirman. Gerimis kembali turun perlahan saat kami berjalan. Kami pun mulai berdiskusi tentang kedatangan etnis Tionghoa di Bandung sambil berjalan.

Rumah Kapiten tituler Bandoeng

Rumah Kapiten tituler Bandoeng

Lalu, kami berhenti di depan pintu masuk Kafe Jadoel. Di titik itu, Alex menunjuk ke bangunan dua lantai di seberang. Rupanya bangunan itu adalah rumah Kapitein Tionghoa di Bandung bernama Tan Joen Liong. Selain menunjuk rumah Tan Joen Liong, Alex memperlihatkan foto bangunan di belakang kami melalui IPad.

Alex mulai bercerita bahwa bangunan yang dia perlihatkan melalui IPad adalah rumah keluarga Tan Tjin Hiauw. Di rumah itu, ayah Tan Tjin Hiauw bernama Tan Sioe Tji berada di titik kejayaan melalui usaha keluarganya. Sayangnya, pada satu masa, usaha mereka bangkrut sehingga mereka harus pindah ke ujung selatan Gang Kapitein (sekarang Gang Wangsa).

Selain bercerita tentang kejayaan ayah Tan Tjin Hiauw, Alex bercerita tentang dukungan keluarganya atas cinta semarga antara Tan Tjin Hiauw dan Hilda. Menurut Alex, dukungan itu disebabkan kondisi ekonomi yang sedang mendesak keluarga Tan Tjin Hiauw.

“Eh, ai rumah keluarga Tan Tjin Hiauw masih bisa dikunjungi?” tanya saya.

“Bisa dikunjungi karena sekarang rumah itu dipakai sebagai tempat usaha,” jawab Alex sembari memperlihatkan foto rumah keluarga Tan Tjin Hiauw.

Setelah bercerita tentang usaha Tan Sioe Tji, kami berjalan kaki ke titik akhir di PERMABA yang berlokasi di Jalan Klenteng. Sepanjang perjalanan, kami bertanya tentang akhir kisah cinta semarga di “Rasia Bandoeng”.

Ternyata pasangan terlarang itu menikah setelah dua kali kabur dari keluarga Hilda. Usaha kabur pertama hanya sampai Jalan Cibadak. Sedangkan usaha kabur kedua berhasil membawa mereka ke luar dari Bandung.

Obrolan kami berhenti sejenak saat melewati Klenteng. Kami berhenti mengobrol karena bau dupa dan pemandangan penuh warna merah yang mengusik kami. Beberapa orang dari kami mengambil kesempatan ini untuk memotret keadaan sekitar Klenteng.

Foto Keluarga Komunitas Aleut di PERMABA

Foto Keluarga Komunitas Aleut di PERMABA

Akhirnya kami sampai di halaman PERMABA. Di halaman ini, Irfan TP membuka sesi sharing dengan mempersilahkan peserta untuk berbagi pengalaman sepanjang perjalanan. Setelah sesi sharing, kami berdiri di depan PERMABA untuk foto keluarga Komunitas Aleut. Sungguh perjalanan yang luar biasa menarik!

Sumber foto : @komunitasaleut dan @veccosuryahadi

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2016/02/08/catatan-perjalanan-ngaleut-rasia-bandoeng/

Catatan Perjalanan: Museum Biofarma

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Berikan satu kata yang tepat dan jujur tentang museum? Tentu saja, kata tersebut adalah membosankan. Kata membosankan menjadi pas saat kita memasuki ruangan museum dengan penerangan yang kurang. Lalu, kita sebagai pengunjung hanya bisa melihat barang – barang jadul dan foto-foto hitam putih saja, tanpa papan informasi. Sungguh membosankan bukan?

Tapi saya rasa kata membosankan tidak pas saat mengunjungi Museum Biofarma yang berlokasi di Jl. Pasteur, Bandung. “Loh, kok penulis tidak konsisten dengan pernyataannya?” tanya pembaca. Tenang, saya memiliki beberapa alasan untuk memberi pernyataan itu.

Memang pada awalnya, bayangan pertama saya tentang Museum Biofarma adalah suasana kuno dengan bayangan satu ruangan berdebu dan berisi foto-foto hitam putih yang tidak terawat. Seluruh bayangan itu berada di pikiran hingga saya berada di depan gerbang museum. Lalu, saya masuk museum dengan perasaan yang datar karena bayangan itu. Baca lebih lanjut

Naik Sepur Sepanjang Bandung – Cicalengka

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

All aboard! The Night Train! (James Brown – Night Train)

Ibu saya pernah menceritakan pengalamannya saat naik kereta api ekonomi ke Kebumen. Dalam ceritanya, gerbong kereta yang dinaiki ibu dipenuhi oleh penumpang dan barang bawaannya. Saking penuhnya, ibu saya yang masih berumur 10 tahun kerap tersenggol hingga jatuh. Selain oleh penumpang, penjual jajanan dan mainan ikut meramaikan gerbong dengan lapaknya!

Cerita ibu saya tidak selesai di gerbong yang penuh oleh manusia. Ibu menceritakan juga kondisi gerbong kereta api ekonomi. Saat dia masih berdiri di gerbong, ibu sering menginjak sampah basah yang berserakan di lantai. Selain sampah, dia pernah beberapa kali menginjak air minuman yang tumpah ke lantai gerbong.

Dari cerita ibu, bayangan banyaknya penumpang, lantai gerbong yang kotor, dan lapak penjual edan di gerbong kereta memenuhi pikiran saya saat hendak naik atau memilih jenis kereta api. Selain itu, karena cerita ibu juga, saya menjadi enggan bahkan anti naik kereta api ekonomi karena tidak mau berdesak – desakan di dalam gerbong.

***

Tapi pada hari minggu (18/10/2015), saya dengan terpaksa harus menaiki kereta api ekonomi jurusan Bandung – Cicalengka. Saat itu, saya naik kereta api bersama kawan – kawan Komunitas Aleut yang sedang Ngaleut Spoorwagen. Imajinasi saya mulai kembali ke bayangan buruk tentang kereta api ekonomi saat menunggu kereta api datang.

Kereta api ekonomi Bandung - Cicalengka

Kereta api ekonomi Bandung – Cicalengka

Setelah kereta api datang, saya tidak bisa langsung masuk ke gerbong kereta karena masih banyak penumpang yang turun. Saya akhirnya masuk ke kereta api setelah seluruh penumpang turun.

Saat menginjakkan kaki di gerbong, saya seperti anak kecil yang kegirangan karena mendapat angpao. Angpao yang saya dapat saat itu adalah tidak ada sampah berserakan di lantai gerbong. Sehingga lantai gerbong yang berwarna hijau muda terlihat terang dan mengkilat! Bayangan lantai gerbong yang kotor hilang dan lenyap dari pikiran saya saat melihat lantai ini.

Tapi, masih ada dua bayangan yang teringat oleh saya yakni banyaknya orang – orang dan pedagang di gerbong. Setelah beberapa menit, penumpang mulai memasuki gerbong dan memilih bangku – bangku yang menurut mereka nyaman. Tapi saya tidak menemukan pedagang yang membawa dagangan ke dalam gerbong. Selain itu, saya tidak merasa berdesakan saat para penumpang menaiki gerbong. Mereka sangat tertib!

Saat kereta berjalan, saya sempat bertanya ke beberapa penumpang yang telah menjadi pelanggan kereta. Mayoritas penumpang yang saya tanya tinggal di Cicalengka tapi bekerja di pusat kota Bandung. Karena hal itu, tiap hari mereka menaiki kereta api ekonomi yang memiliki tiket murah (hanya 4 ribu). Selain itu, mereka berbagi cerita pengalaman mereka menaiki kereta api ini. Menurut mereka, kondisi kereta api ekonomi sekarang jauh lebih bagus sehingga mereka merasa nyaman.

Komunitas Aleut di gerbong kereta api

Komunitas Aleut di gerbong kereta api

Selesai berbincang – bincang, saya mulai berkelana di dalam gerbong sembari mengisi bayangan tentang kereta api ekonomi. Ternyata setiap gerbong memiliki satu tempat sampah yang terbuat dari plastik. Selain tempat sampah, bagi manusia modern yang memiliki kebutuhan primer baru yakni stopkontak, sekarang setiap gerbong memiliki banyak stopkontak yang berfungsi.

Tapi lepas dari kebutuhan primer baru dan tempat sampah, ada hal baru yang mengingatkan saya akan anime yakni tempat duduk. Jika dalam anime seperti Yakitate Japan! atau Daily Live of Highschool Boy, kita akan menemui tempat duduk memanjang seperti di angkot.Nah, tempat duduk di gerbong kereta api ini memiliki hal serupa yakni tempat duduk memanjang.

Setelah satu jam perjalanan, kereta api akhirnya sampai di Stasiun Cicalengka dengan banyak pengalaman dan bayangan baru. Pertama, saya merasa bahagia dan ketagihan untuk menaiki kereta api ekonomi rute ini karena pemandangan alam yang disajikan selama perjalanan. Kedua, kondisi gerbong yang bersih dan tanpa sampah di lantai. Ketiga, banyak stopkontak yang berfungsi di gerbong. Keempat, tempat duduk yang nyaman mengingatkan saya dengan anime dan manga Jepang. Terakhir, ketepatan waktu kereta api yang luar biasa.

 

Sumber foto : Komunitas Aleut

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/10/28/catatan-perjalanan-naik-sepur-sepanjang-bandung-cicalengka/

Komunitas Aleut: Diajar Sejarah Sabari Leuleumpangan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN5195

Mun seug dibandingkeun jeung kota-kota nu aya di basisir kayaning Jakarta, Cirebon, Semarang jeung Surabaya, Bandung mah kaasup kota nu kaitung anyar kěněh. Tapi angger wě sok sanajan kitu, ari nu ngaranna kota mah pasti miboga sejarah. Kiwari di Bandung aya sababaraha komunitas nu sok nalumtik ajěn inajěn sejarah Bandung ku cara nu leuwih popilěr. Salahsahijina nyaěta Komunitas Aleut.

Naon ari Komunitas Aleut těh? Kumaha kagiatanna? Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Asia-Afrika Rasa Gasibu

Oleh: Yudha Bani Alam (@yudhaskariot)

Beraktifitas di minggu pagi memang cukup berat tapi tidak untuk yang berjiwa hidup sehat dan semangat berbelanja di pasar tumpah berkedok olahraga. Namun bagi saya daripada berdiam diri di rumah lebih baik Ngaleut dengan Komunitas Aleut. Ngaleut Minggu pagi ini (19 April 2015) bertema Ngaleut KAA. Saya berangkat dari rumah sekitar jam tujuh kurang lima belas menit, sempat tersendat di beberapa titik yang pada Minggu pagi menjadi titik pasar kaget. Mungkin untuk beberapa orang pasar kaget sudah menjadi hal yang lumrah, termasuk orang tua saya. Ada beberapa titik pasar kaget yang saya ketahui karena pasar kaget tersebut ada di jalur yang biasa saya lewati jika berpergian di Minggu pagi, seperti pasar kaget di Metro sesudah Rumah Sakit Al Islam, di kawasan Samsat yang dekat Carrefour Kiaracondong, dan yang paling terkenal adalah pasar kaget Gasibu.

Siapa yang tidak tahu seberapa terkenalnya pasar kaget Gasibu. Selain karena harga dari barang-barang yang dijual begitu miring alias kelewatan murah, yang menjadikan pasar kaget Gasibu begitu terkenal lannya adalah kepadataannya yang juga luar biasa kelewatan.  Sebelum para padagang di relokasi ke kawasan Monumen Perjuangan Rakyat yang hanya bergeser ke sisi utara dari Lapangan Gasibu, kepadatan di kawasan ini sangatlah parah yang menyebabkan kemacetan 1 kilometer di Jalan Diponogoro dan di Jalan Surapati. Kemacetan ini kadangkala tidak bisa dilewati sama sekali oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Ada langkah bagus dan baik pada kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Bandung yang baru, Bapak Ridwan Kamil dan Bapak Oded Danial yang merelokasi para pedagang di Lapangan Gasibu. Kepadatan mulai terasa berkurang dan tertata rapi tidak sampai memakan ruas Jalan Surapati walaupun kepadatan kadang masih terjadi karena banyaknya pengunjung ke pasar kaget tersebut.

Begitu kagetnya saya ketika sampai di kawasan Gedung Merdeka. Begitu padatnya di kawasan ini pada Minggu pagi kali ini, hal yang tidak pernah saya rasakan setiap berkunjung ke kawasan ini. Mulai dari Jalan Braga Selatan atau Jalan Braga Pendek yang sekarang memiliki B-R-A-G-A nya memulai kepadatan yang terjadi dikawasan ini. Huruf B-R-A-G-A yang terletak di halaman depan Gedung Denis Bank (sekarang Gedung BJB) menjadi salah satu konsentrasi foto-foto masyarakat yang mengunjungi kawasan ini. Dilanjutkan ke jalan Asia-Afrika yang kepadatannya sangat di luar dugaan. Bunyi klakson, deru mesin kendaraan bermotor dan keriuhan masyarakat yang memenuhi trotoar jalan bercampur menjadi satu yang mengingatkan kembali pada masa-masa pasar kaget Gasibu sebelum direlokasi: padat dan macet. Saking padatnya saya harus berjalan memutar dan bertemu kembali dengan B-R-A-G-A yang tadi saya lewati untuk menuju Jalan Banceuy dengan berjalan kaki bersama teman-teman dari Komunitas Aleut. Di depan Hotel Savoy Homann terjadi kepadatan yang menyebabkan kemacetan, sementara di sisi kanan dan kiri jalan ada masyarakat yang berjalan sambil menuntun sepedanya karena begitu padatnya jalan dikawasan ini dan tidak sedikit pula mayarakat yang asik berfoto-foto ria.

yudha7

Kepadatan di Depan Hotel Savoy Homann

Bisa dibilang antusiasme masyarakat terhadap wajah baru kawasan Gedung Merdeka ini sangat tinggi. Antusiasme masyarakat yang sangat tinggi ini pasti memiliki efek domino bagi kehidupan masyarakatnya, mulai dari naiknya index of happiness masyarakat sampai menjadi lahan basah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi nya. Keramaian ini menjadi faktor penarik yang kuat untuk mendatangkan teman-teman pengusaha kecil dan menengah ke bawah yang menjajakan dagangan mereka, dari minuman sampai makanan. Ingat apa yang terjadi pada Lapangan Gasibu dulu dan pada Car Free Day Dago?.

yudha9

Kepadatan dan keramaian masyarakat di jalan Asia Afrika

yudha8

Penjual makanan dan minuman di Jalan Cikapundung Timur

Biasanya titik-titik keramaian ini akan berubah wajah dan fungsi awal, awalnya tempat olahraga menjadi pasar tumpah, dulunya ruang terbuka hijau jadi lapak jual-beli, awalnya bersih menjadi kumuh dan dulunya lancar jadi macet. Mudah-mudahan dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, tinggi pula antusiasme masyarakat dalam menjaga dan melindungi kawasan ini. supaya tidak ada yang berubah satupun dari wajah dan fungsi awalnya. Itung-itung menjaga agar kita punya warisan untuk generasi selanjutnya dan mencetak sejarah dengan hilangnya pemikiran “liat aja, sebentar lagi juga rusak”.

#PojokKAA2015: Madrawi – Kisah Keluarga dan Tanah Harapan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN0703Fadly Badjuri, kakek berusia 108 tahun itu tengah membakar rokok kreteknya yang pertama. Sementara Abdul Fatah, anaknya yang bungsu sedang sibuk melayani pembeli. Tak lama kemudian Abdul Fatah masuk ke dalam rumah dan menyuguhkan minuman mineral dalam gelas, “sama bapak mah ngobrol aja ya.” Kemudian dia keluar lagi sebab ada yang hendak makan di warung nasinya.

Dengan alat bantu dengar yang terpasang, Fadly kemudian bercerita. Komunikasi hampir berjalan satu arah, sebab alat bantu dengar ternyata tak begitu banyak membantu pendengaran seseorang yang usianya sudah lebih dari satu abad.

Siapa Fadly Badjuri?

Jelang peringatan Konperensi Asia Afrika yang ke-60, nama-nama pelaku dan saksi sejarah penyelenggaran KAA yang pertamakali di tahun 1955 menuai banyak sorotan. Salahsatunya adalah Madrawi, nama dan pemilik rumah makan yang pernah meyuplai makanan untuk para delegasi KAA angkatan mula-mula. Lalu apa hubungannya dengan Fadly Badjuri? Baca lebih lanjut

Situ Cisanti; Mastaka Citarum

  Catatan Singkat Perjalanan Bersama @Komunitasaleut

Oleh :  Indra Rha

 

IMG-20131107-WA0000

Hari itu tanggal 26/10/2013 Aleut! berangkat menuju kawasan Baleendah, Ciparay, lalu menuju Pacet. Menyusuri jalanan Pacet menuju Cibeureum ini kami disuguhi pemandangan indah yang memanjakan mata. Di jalanan yang merupakan lembah pegunungan ini terhampar indah sawah-sawah dengan pola berundak-undak di bawah kaki Gunung Rakutak atau Si Rawing, menurut sebutan orang sekitar.

Melihat model sawah seperti ini mengingatkan pada persawahan di Bali. Selain sawah juga berderet undak-undakan ladang pertanian yang ditanami kentang, bawang daun, wortel, dan banyak sayuran lainnya. Di dasar lembah ini mengalir sebuah sungai yang sangat terkenal dan strategis keberadaannya sejak jaman dulu, inilah Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat itu.

Perjalanan kami berlanjut menuju Situ Cisanti, suatu kawasan danau yang merupakan hulu sungai Citarum. Yaa di danau inilah sungai Citarum berasal sebelum bermuara di daerah Karawang. Memasuki kawasan Situ Cisanti yang dikelola oleh Perhutani ini, kami diharuskan membayar sebesar 5ribu rupiah pada petugas-petugas liar yang juga bertugas sebagai juru parkir, sebenarnya saya sendiri tidak tahu berapa resminya tiket untuk memasuki kawasan ini karena kami tidak mendapati petugas ataupun tiket masuk resmi setelah membayar.

Berjalan memasuki kawasan Situ Cisanti yang sejuk ini, kami disambut pohon-pohon Eukaliptus yang menjulang tinggi dengan kulitnya yang mengelupas. Turun mengikuti tangga akhirnya kami sampai di sebuah situ atau danau seluas kurang lebih 8ha dengan air yang tenang. Di sini terdapat juga sebuah dermaga kecil dan perahu. Sekeliling danau terlihat ada satu dua pemancing ikan yang sedang termangu menatap jorannya. Situ Cisanti ini memang banyak ikannya, karena selain ikan asli endemik seperti  mujaer, paray, dan bogo, juga banyak ditabur benih-benih ikan baru seperti ikan mas, nila, dan nilem oleh instansi-instansi dan pemerhati lingkungan.

IMG-20131107-WA0003

Kawasan Situ Cisanti ini awalnya hanya danau dan rawa, tapi pada tahun 2001 pemerintah mulai membenahi dan membangun parit selebar 1,5m di pinggiran seputaran kaki gunung, sebagai usaha menahan longsoran tanah yang mungkin terbawa dan akan mengakibatkan sedimentasi danau. Selain itu dibangun juga 2 buah pintu air di kiri dan kanan yang merupakan awal aliran sungai Citarum menuju perkampungan Tarumajaya tempat masyarakat sekitar menggunakannya untuk keperluan rumah tangga, pertanian, dan peternakan mereka

Situ Cisanti berada di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasarie, Kabupaten Bandung, dan lokasinya tepat berada di kaki Gunung Wayang. Danau ini terbentuk dari beberapa mata air yang mengalir dari seputaran gunung. Ada tujuh mata air besar yang mengalir menuju danau, yaitu :

1. Mata air Cikahuripan (Pangsiraman)

2. Mata air Mastaka Citarum

3. Mata air Cihaniwung

4. Mata air Cisadane

5. Mata air Cikawedukan

6. Mata air Cikoleberes

7. Mata air Cisanti

Di mata air Cikahuripan dan Mastaka Citarum ini kita bisa melihat langsung bagaimana mata air meluap keluar dari dalam tanah, dari sela-sela pohon besar, dan dari sela-sela bebatuan. Dari dulu banyak orang sengaja datang ke sini untuk berziarah, berdoa, mandi, dan meminum air dari mata air tersebut. Kegiatan ini terutama ramai pada waktu terang bulan di Bulan Maulud. Di kawasan Situ Cisanti ini juga kita bisa mendapati suatu situs petilasan dari Dipati Ukur, seorang Wedana Bupati Priangan, berbentuk serupa makam sepanjang kurang lebih 5m.

Image_3

Setelah puas menikmati keindahan kawasan Situ Cisanti, kami ditemani Pak Atep sebagai kuncen Situ Cisanti, mendatangi sumber-sumber mata air di kaki Gunung Wayang. Sesudahnya, kami melintasi perkebunan kopi yang sedang berbuah dan beristirahat di bawah rimbunan pohon Eukaliptus sambil menyantap batagor dari seorang penjual pikulan.

Saat itu rasa lelah kami terlupakan sejenak dengan kesejukan dan keindahan Situ Cisanti. Sayangnya di sekitar terlihat agak banyak sampah yang berserakan dan coretan-coretan tangan jahil di batu dan pohon-pohon.

Sambil menikmati kopi dan susu segar dari peternakan sapi di daerah Kertasarie, saya semakin menyadari pentingnya kawasan Gunung Wayang, mata air, dan Situ Cisanti ini agar terjaga kelestariannya mengingat kawasan ini merupakan hulu sungai Citarum yang menjadi gantungan kehidupan masyarakat di sepanjang alirannya, baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian, peternakan, atau juga industri.

Aliran Sungai Citarum ini juga merupakan sumber dari tiga PLTA besar di kawasan Jawa Barat yaitu Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Hasil olahannya berupa aliran listrik yang menerangi kehidupan dan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa dan Bali. Dan yang tak kalah pentingnya, Citarum juga merupakan sumber air minum bagi masyarakat DKI Jakarta.

Entah apa jadinya nanti, jika saat ini saja aliran air dari Citarum ini sudah semakin rusak karena dijadikan pembuangan sampah, limbah rumah tangga, limbah peternakan, dan limbah industri. Seperti yang telah kawan-kawan Aleut! temukan ketika menapaki aliran sungai Citarum di kawasan Baleendah beberapa waktu lalu. Sampah dan limbah rumah tangga menyumbang sekitar 70% dari keseluruhan limbah. Diperlukan kesadaran sejak dini untuk menanggulanginya agar sungai Citarum yang indah di hulu ini tidak semakin rusak di hilir dan malah menjadi bencana bagi masyarakat dengan banjir, sampah, dan limbah yang mengakibatkan kerugian lahir dan batin.

Meskipun berbagai cara sudah dicoba oleh pemerintah untuk menghindari agar tidak terjadi bencana, namun akhirnya kitalah sebagai manusia yang harus mengerti dan beradaptasi dengan alamnya, jangan paksakan alam untuk beradaptasi dengan kita.

Image_4

Sumber foto: Dokumentasi Komunitas Aleut!

Mencatat Sudut Kota: Belajar Pelayanan Publik dari Perumahan Tua

Bandung, 3 November 2013
Oleh: Atria Dewi Sartika (@atriasartika)

Setelah beberapa kali gagal ikut serta, kali ini saya kembali mengikuti kegiatan ngaleut bersama Komunitas Aleut. Kembali berjalan-jalan dan mengenal (lebih banyak lagi!) sudut kota Bandung. Benar adanya filosofi Komunitas Aleut yang kegiatannya adalah ngaleut yang berarti berjalan bersama-sama. Dengan berjalan kaki, kita akan menemukan apa yang selama ini kita lewatkan saat berkendara.

Kali ini saya berkenalan dengan beberapa jalanan yang belum pernah saya lewati, diantaranya adalah Jl. Geusanulun, Jl. Adipati Kertabumi, dan Jl. Aria Jipang. Sedangkan jalan lain seperti Jl. Trunojoyo; Jl. Maulana Yusup; dan Jl.Pangeran Kornel sudah sering saya lewati. Nah ternyata dengan menyusurinya sambil berjalan kaki, saya merasa seperti baru pertama kali melewati ketiga jalan tersebut.

Pertama kali melewati Jl. Geusanulun membuat saya sumringah. Kenapa? Karena masih banyak rumah-rumah tua di sana. Ada sejumlah rumah yang bahkan sepertinya belum mendapatkan perubahan signifikan, kecuali perubahan pada atap; kaca jendela; dan pintu. Bahkan di sini saya dan teman-teman dari Komunitas Aleut melihat sebuah rumah yang masih memiliki nama yang terpahat di dindingnya. Rumah itu bernama “Gerardine”. Orang Belanda dahulu, biasanya menamai rumah mereka dengan nama anak perempuan pertamanya. Maka asyiklah saya menduga-duga apakah benar nama anak perempuan pertama pemilik pertama rumah ini adalah “Gerardine”? Cantikkah ia? Apakah dengan menamai rumah ini ia menjadi mudah ditemukan oleh para pemujanya? Apakah jodohnya cepat datang? *efek kebanyakan baca Historical Romance*

Rumah bertuliskan "Gerardine"

Nah di Jl. Geusanulun ini, kami juga menemukan Brandgang (baca seperti berkata: “Brangghang”). Ini adalah  Brandgang pertama yang kami temui. Kenapa yang pertama? Sebab nanti  akan ada Brandgang lainnya. Totalnya ada 3 Brandgang yang saya lihat hari ini.

Setelah dari Jl. Geusanulun, saya dan teman-teman dari Komunitas Aleut menyusuri jalan menuju Jl. Maulana Yusup. Jujur saja, jalanan ini memang tidak asing bagi saya. Setiap kali melewatinya, mata saya akan langsung menangkap tulisan “Sate Maulana Yusup”. Tapi kali ini berbeda. Saya melihat sebuah bangunan besar yang menjadi rumah pertama yang menyambut kami saat memasuki jalan tersebut. Rumah ini seperti layaknya sebuah rumah tua di zaman Belanda, ia memiliki menara, dan bentuknya mengikuti lengkungan jalan. Rumah itu tergolong megah bagi saya. Apalagi tampaknya rumah itu adalah rumah yang paling besar (di zamannya!) di sepanjang Jl. Maulana Yusup tersebut. Jika melewati jalan ini dengan berkendara, maka kemungkinan besar, kita tidak akan sempat melihat baik-baik rumah ini.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Jl. Pangeran Kornel dan segera berbelok ke Jl. Adipati Kertabumi. Kembali lagi, di jalan ini kami menemukan rumah-rumah tua. Namun kali ini kami bisa melihat keidentikan rumah-rumah di sepanjang jalan tersebut. Jika di 2 kawasan yang kami lewati sebelumnya bentuk teras rumah lebih banyak melengkung, maka kali ini kami melihat teras yang persegi (lebih mirip belah ketupat sih karena sudut runcingnya menghadap keluar).

Setelah melewati Jl. Adipati Kertabumi, kami berbelok ke kanan dan menyusuri sepotong Jl. Arya Jipa. Di sini saya melihat lagi satu Brandgang. Di sini kami juga sempat masuk ke dalam sebuah Mess TNI yang sebenarnya adalah gabungan dua rumah. Rumah di sisi kanan bertuliskan “Han-Arnold” dan rumah di sebelah kiri bertuliskan “Sonja=Bea”. Selain itu kami menemukan sebuah celah yang bertuliskan “Brieven” pada pintu rumah. Kami menduga itu merupakan celah yang berguna untuk memasukkan surat yang diterima pemilik rumah. Hari ini kami pun berkesempatan untuk masuk ke dalam rumah. Itu sebuah kesempatan yang jarang kami dapati saat ngaleut. Saat masuk ke rumah “Han-Arnold” kami mendapati bahwa sebagian besar lantai rumah masih asli yakni marmer berukuran sekitar 20cmx20cm. Ada pula satu pintu geser dan 3 kamar yang memiliki pintu penghubung dengan kamar dan ruangan lain. Jadi dalam satu kamar memiliki 2 atau 3 pintu. Saat itu, iseng kami berjalan ke belakang rumah tersebut. Tidak ada yang menarik. Namun saat salah seorang teman menaiki undakan beton, ia pun berkata bahwa ternyata Brandgang tepat berada di samping rumah ini. Sayang kondisinya sudah tidak sedap dipandang karena penuh rumput dan sampah.

Dan hari ini kompleks perumahan buatan Belanda yang terakhir kami datangi adalah yang berada di Jl. Gempol. Dari informasi yang disampaikan oleh salah seorang teman, rumah-rumah di Jl.Gempol adalah rumah-rumah yang dikhususkan bagi pribumi yang merupakan pegawai rendahan di Gedung Sate. Itulah sebabnya bangunan asli di daerah ini yang hanya tersisa sekitar 3 buah, terbuat dari kayu. Ini tentu saja berbeda dengan rumah permanen yang sedari tadi kami lihat.

Setelah mampir sebentar membeli Roti Gempol yang menurut pemiliknya sudah berdiri sejak 1958, kami pun menuju ke tempat finish yakni taman yang berada di Jl. Wirangunangun. Pada saat itu kami pun melihat rumah-rumah tua lainnya. Namun kali ini estetikanya agak kurang sedap dipandang. Di daerah tersebut, rumah yang dibangun adalah rumah “dempet” yakni dua rumah kembar yang bersebelahan dengan atap yang menyatu. Namun saat ini ada sejumlah rumah yang sudah berubah bentuknya. Jadi, di sebelah rumah tua yang seharusnya adalah bangunan rumah dengan wajah yang sama dan atap yang bersatu kini sudah memiliki pasangan yang berbeda yakni bangunan dua tingkat modern.

Nah setelah menceritakan beberapa hal yang saya lihat, saya ingin berbagi sedikit informasi yang saya temukan dalam buku “Bandung: Citra Sebuah Kota” karya Robert P.G.A Voskuil,dkk. Diceritakan bahwa pesatnya pertambahan jumlah villa atau rumah di kawasan Bandung Utara mulai terjadi di masa di tahun 1920-an. Ini ada hubungannya dengan pembuatan “Rancangan Bandung Utara” yang dibuat pada tahun 1917 yang disusul dengan “Kerangka Rencana Pengembangan Seluruh Bandung” pada tahun 1927.

Selain itu kampanye pemerintah untuk mengundang sejumlah warga Eropa khususnya para pensiunan untuk mengahbiskan masa pensiun di Bandung mulai menampakkan hasilnya. Ini karena jumlah warga Eropa di Bandung meningkat secara pesat, yakni dari 16.600 orang pada tahun 1905, menjadi 150.000 pada tahun 1927. Hal ini tentu saja menyebabkan kebutuhan untuk membangun rumah tinggal/ villa untuk warga Eropa.

Nah, jika memperhatikan rumah-rumah di kawasan lain selain Jl. Gempol, maka akan ditemukan kesamaannya yakni bangunan menggunakan batu kali di bagian pondasinya. Ini nampak di sisi bagin bawah rumah Belanda tersebut. Jadi biasanya teman-teman di Komunitas Aleut saat melihat rumah yang dibagian bawah tampak menggunakan batu kali, maka mereka akan menduga bahwa rumah tersebut dibangun di sekitar tahun 1920-1930an.

Hal menarik lainnya adalah keberadaan Brandgang dalam kawasan-kawasan yang kami lewati. Brandgang ini adalah sebuah jalur khusus yang digunakan sebagai jalur evakuasi penduduk di wilayah tersebut saat terjadi sebuah bencana seperti kebakaran. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jalur Brandgang ini bahkan dirancang saling sambung menyambung namun terkait tujuan akhir jalurnya saya belum menemukan info apapun.

Hm…sebagai penutup, saya harus mengakui tentang kejelian pemerintah Belanda dalam mengatur kota jajahannya. Menurut buku “Zaman Baru Generasi Modernis: Sebuah Catatan Arsitektur” karya Abidin Kusno, bahwa tata kota yang mulai dibuat pada tahun 1920-an punya tujuan lain yakni untuk mengawasi warga kota. Ini dilakukan untuk mencegah berbagai pergerakan kota seperti pemogokan dan protes kaum buruh. Namun di luar itu semua, saya harus mengakui pertimbangan pemerintah Belanda yang tampaknya membuat sebuah pola baku untuk sebuah kompleks bangunan. Tampaknya keberadaan Brandgang dan taman menjadi salah satu hal wajib yang dipenuhi oleh perumahan-perumahan tersebut. Selain itu aturan bahwa bangunan baik kantor maupun rumah yang berada dibelokan jalan harus dibangun mengikuti bentuk lengkungan jalan. Ini tentu secara estetika bagus dilihat dan lebih aman karena orang akan sadar bahwa di depan mereka ada belokan jalan.

Baiklah, itu cerita saya tentang kegiatan menyusur kota yang dilakukan pada hari ini, 3 November 2013. Selamat menyusur sudut-sudut kota Bandung dan buktikan kebenaran tulisan saya (^_^)v

Tulisan ini di reblog dari http://filosofilandak.blogspot.com/2013/11/mencatat-sudut-kota-belajar-pelayanan.html