Catatan Perjalanan: Museum Biofarma

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Berikan satu kata yang tepat dan jujur tentang museum? Tentu saja, kata tersebut adalah membosankan. Kata membosankan menjadi pas saat kita memasuki ruangan museum dengan penerangan yang kurang. Lalu, kita sebagai pengunjung hanya bisa melihat barang – barang jadul dan foto-foto hitam putih saja, tanpa papan informasi. Sungguh membosankan bukan?

Tapi saya rasa kata membosankan tidak pas saat mengunjungi Museum Biofarma yang berlokasi di Jl. Pasteur, Bandung. “Loh, kok penulis tidak konsisten dengan pernyataannya?” tanya pembaca. Tenang, saya memiliki beberapa alasan untuk memberi pernyataan itu.

Memang pada awalnya, bayangan pertama saya tentang Museum Biofarma adalah suasana kuno dengan bayangan satu ruangan berdebu dan berisi foto-foto hitam putih yang tidak terawat. Seluruh bayangan itu berada di pikiran hingga saya berada di depan gerbang museum. Lalu, saya masuk museum dengan perasaan yang datar karena bayangan itu.

Rupanya bukan suasana kuno yang saya dapat setelah masuk ke dalam museum, melainkan suasana modern. Terdapat televisi dan proyektor yang menampilkan video tentang Biofarma. Ada layar sentuh interaktif yang memuat informasi Biofarma. Lalu, dinding berwarna putih dengan cahaya putih menjadikan ruangan museum begitu modern.

Walau suasana modern terasa di Museum Biofarma, saya masih merasakan sedikit suasana kuno di Museum Biofarma. Suasana tersebut berasal dari foto-foto hitam putih dan alat pembuat vaksin yang dipamerkan oleh Biofarma.

Lalu, apakah suasana kuno dan suasana modern terlihat terpisah di Museum Biofarma? Tentu saja tidak, suasana kuno dan modern terlihat bersatu di Museum Biofarma. Suasana modern seperti televisi dan media interaktif lainnya menjadikan foto dan barang jadul begitu informatif. Sehingga saya rasa Museum Biofarma berhasil memadukan suasana kuno dan suasana modern dengan ciamik!

“Tapi terasa membosankan jika hanya melihat video, foto, dan alat pembuat vaksin, bukan?” tanya pembaca. Tenang, Museum Biofarma juga memamerkan koleksi ular yang diawetkan dalam botol, penghargaan yang diterima Biofarma, dan manekin yang memakai baju lab. Sehingga kita tidak hanya melihat video, foto, dan alat pembuat vaksin saja.

 

Jika masih bingung membayangkan seperti apa Museum Biofarma, datang saja ke Museum Biofarma di Pasteur, Bandung. Jadwal buka museum hanya di hari rabu dan kamis. Jam buka museum mulai 09:00 – 12:00 dan 13:00 – 15:00. Tapi untuk masuk ke museum, kita harus daftar ke website Biofarma. Lalu, kita bisa menikmati Museum Biofarma setelah mendapat konfirmasi dari pihak Biofarma.

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/12/21/catatan-perjalanan-museum-biofarma/

Iklan

Satu pemikiran pada “Catatan Perjalanan: Museum Biofarma

  1. wah baru tahu ada museum di biofarma. tadinya baru tahu masjid, apotek, klinik, serta kantin yang bisa diakses oleh publik.

    trims info mengenai jadwal buka museum biofarma. pastinya akan menarik ya kalau keluarga kami berkunjung ke sana. karena museum biofarma sudah menggunakan media televisi dan media interaktif lainnya sehingga tidak membosankan untuk anak2 kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s