Bandung Lautan Api (Ketika Mundur Menjadi Langkah Sebuah Perlawanan)

Oleh: Puspita Putri (@Puspitampuss)

Minggu, 24 Maret 2019, satu hari setelah peringatan peristiwa Bandung Lautan Api ke-73. Aku bangun sejak dini hari lalu bergegas menuju kamar adikku untuk membangunkannya. Seperti biasa, Minggu pagi adalah saat untuk aku berkegiatan rutin sejak pertengahan Februari lalu, ngaleut. Baca lebih lanjut

Iklan

Catatan Perjalanan Ngaleut Bagendit

WhatsApp Image 2019-03-03 at 8.47.11 PM

Momotoran Komunitas Aleut/komunitasaleut.com

Oleh: Mey Saprida (@meysaprida)

Memilukan, seseorang harus menjatuhkan hukuman mati kepada temannya sendiri, lantaran temannya itu melakukan pemberontakan. Berawal dari sana, saya penasaran bagaimana pemberontakan itu berakhir? Akhirnya dia yang memboncengku bercerita. Baca lebih lanjut

BLEKOK, DULU DAN KINI

Oleh: Aquinaldo Sistanto (@edosistanto)

Tahun 2013. Sebuah berita di surat kabar memaparkan adanya suatu perkampungan di Selatan Kota Bandung, yang menjadi habitat berbagai burung air. Blekok, kuntul sawah, kuntul kerbau dan sebagainya. Sudah tentu saya penasaran, maka saya pun menyempatkan untuk berkunjung dan melihat wujud fisiknya. Kampung Rancabayawak, Baca lebih lanjut

17:30 WIB: Waktu Indonesia bagian Blekok

1. Kampung Blekok

Oleh: Audya Amalia

“….the glory of the past, had gone to underground and people just forgot

some people try hard, to wake up in this age to take back their life….”

Hari Minggu tanggal 24 Juni 2018, sepanjang Jalan Soekarno-Hatta Bandung menuju tujuan, earphones di telinga saya terus mengulang-ngulang lagu Unperfect Sky-nya Elemental Gaze. Sambil berdoa supaya hujan sore itu di-pending dulu dan membayangkan seperti apa tempat tujuan ngaleut episode kali ini. Baca lebih lanjut

Minggu Berfaedah: Pagi dan Trotoar Jl. Homan

Barangkali, siang hanyalah cara langit menghangatkan sepi. Selepas pagi, berlari dari gelap yang sunyi. Meski nanti akhirnya kembali lagi; pada sepi. –Rohmatikal Maskur

Oleh: Qiny Shonia (@inshonia)

Sempat bingung dengan apa yang harus diabadikan saat #ngaleutmerekamkota kemarin, perhatian saya tertuju pada Jl. Homan. Jalanan kecil yang sedikit terlihat berbeda dibanding jalan-jalan di sekitar kawasan Asia Afrika yang cukup padat dan ramai. Meski matahari pagi cukup hangat, Homan terlihat teduh dari seberang. Baca lebih lanjut

Kamisan Komunitas Aleut

Kamisan Aleut

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

“Saya ke bumi untuk Jumatan, dari Senin sampai Kamis persiapan, Sabtu Minggu evaluasi.”

Jika merujuk pada pernyataan si Surayah itu, hari ini adalah hari terakhir untuk persiapan. Besok sudah mulai Jumatan, dan lusa bersiap untuk evaluasi.

Itu kata si Surayah, tapi bagi saya dan beberapa kawan sesama penggiat Komunitas Aleut, hari ini bukanlah hari persiapan, melainkan hari pertemuan. Kamisan yang dilakukan oleh Komunitas Aleut adalah pertemuan bagi kamu yang kurang senyum, kurang ketawa, kurang angguk-angguk yang nantinya dikombinasikan dengan ngocoblak hal-hal penting dan tak penting. Baca lebih lanjut

Sepotong Cerita Ngaleut Rancabali

Rombongan Aleut ngaleut Rancabali

Rombongan Aleut ngaleut Rancabali. Photo Mariana Putri

Oleh: Mariana Putri (@marianaaputri)

Hari minggu kemaren aku mengisi waktu bareng Komunitas Aleut dalam kegiatan ngaleut.  Judul ngaleut  kali ini adalah ‘Ngaleut Rancabali”. Kami mengunjungi Kampung Rancabali dan kompleks perkebunan teh yang erat kaitan dengan Max I. Salhuteru, salah satu tokoh yang berjasa dalam nasionalisasi perkebunan teh Sperata dan Sinumbra di Ciwidey, tahun 1957. Di Rancabali pula, Max I. Salhuteru dimakamkan.

Selain mengunjungi makam Max I. Salhuteru, kami pun mengunjungi sebuah patung dada Max I. Salhuteru yang berada di Ciwidey. Kondisi patung sudah tak terlalu terawat. Baca lebih lanjut