S.H. Autobus Dienst, Perusahaan “travel” Milik Tuan Sato Shigeru

S. H. Autobus Dienst, Tuan Sato Shigeru.jpg

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada tahun 1924, koran Jepang berjudul Jawa Nippo menerbitkan sebuah iklan perusahaan “travel” baru bernama S.H. Autobus Dienst yang didirikan di Garut. Pendiri sekaligus pemilik “travel” baru ini ialah Tuan Sato Shigeru yang sebelumnya telah menjadi pemilik Perkebunan Sato Noen. Rute pertama yang dibuka ialah Bandoeng-Garoet.

Lambat laun perusahaan ini memperluas jaringannya di Jawa Barat. Jaringan pertama yang ditambah ialah Bandoeng-Soekaboemi, Garoet-Tjikadjang, Garoet-Pameungpeuk. Selanjutnya dibuka rute Batavia-Soekaboemi dan Bandoeng-Cheribon untuk menyambungkan jalur-jalur sebelumnya. Hingga pada akhir tahun 1927, total jaringan “travel” Tuan Sato sepanjang 557 km! Baca lebih lanjut

Iklan

Rasia Bandoeng

WhatsApp Image 2016-08-03 at 6.51.43 PM

RASIA BANDOENG
atawa 
Satu percinta-an yang melanggar peradatan “Bangsa Tiong Hoa” satu cerita yang benar terjadi di kota Bandung dan berakhir pada tahon 1917.

Diceritaken oleh Chabanneau *******

Diterbitkan pertama kali oleh Gouw Kim Liong, tahun 1918
Dicetak oleh Drukkerij Kho Tjeng Bie & Co., Batavia
Diterbitkan ulang dengan penambahan oleh Ultimus

Disalin dan diberi catatan oleh Komunitas Aleut!
Disunting oleh Ridwan Hutagalung
Rancangan sampul oleh Ridwan Hutagalung

Novel Rasia Bandoeng pertama kali terbit pada tahun 1918 secara bersambung dan seluruhnya terdiri dari tiga jilid.

Novel ini memang sempat heboh pada masanya karena isinya yang mengungkap sebuah kisah nyata hubungan cinta terlarang sesama marga Tionghoa di Bandung tempo dulu.

Sudah lama isi novel Rasia Bandoeng menjadi perhatian Komunitas Aleut, tidak melulu karena isi ceritanya tetapi juga karena banyaknya nama tempat yang disebutkan di situ. Di awal tahun 2016 ini Komunitas Aleut mengemas novel Rasia Bandoeng dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti Ngaleut Rasia Bandoeng, Tjerita Boekoe, dan terakhir, menerbitkan ulang novel lama itu dalam bentuk yang Anda terima sekarang ini.

Untuk penerbitan ulang novel Rasia Bandoeng ini, ketiga jilid yang semula terpisah sekarang digabung menjadi satu buku saja. Pada isi naskah dilakukan sedikit perubahan ejaan lama ke dalam ejaan baru, selebihnya disalin sesuai dengan aslinya. Selain itu ada tambahan catatan kaki untuk berbagai istilah yang sudah tidak umum sekarang, serta lampiran artikel investigatif oleh Lina Nursanty Rasia Bandoeng yang pernah dimuat secara serial di HU Pikiran Rakyat.

Penerbit : Ultimus
Cetakan : 1, Jun 2016
Pengarang: Chabanneau *******
Halaman : 296
Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
ISBN : 978-602-8331-75-3

Harga umum 85,000

Pemesanan: 0859-7490-5769
Atau datang langsung ke
Kedai Preanger
Jl. Solontongan No.20-D, Buahbatu,
Bandung 40264

Harga di Kedai Preanger 75,000

Tidak Selamanya Mantan Itu Buruk: Perencanaan Kota Kolonial vs Modern

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

“Mantan adalah seseorang istimewa yang diciptakan Tuhan untuk mengambil uangmu, dan memberimu kenangan buruk sebagai gantinya.”

Oke, semoga sedikit joke tentang mantan barusan bisa menjadi pembuka yang menarik untuk tulisan agak serius berikut. Seperti diketahui, ada sebuah kutipan indah yang menyebutkan jika “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”.  Tidak salah memang. Bandung dikaruniai berbagai anugerah dari Tuhan: pemandangan yang indah, kesuburan tanah, iklim yang sejuk, air yang jernih, serta wanita-wanita yang luar biasa cantik. Tapi tentu saja berbarengan dari anugerah tersebut terdapat tanggung jawab yang besar dari masyarakat untuk menjaganya. Ketika pemandangan yang indah terhalangi oleh gedung-gedung tinggi, tanah yang subur hanya ditanami beton, air yang jernih hanya mengalir ke apartemen, tampaknya Tuhan akan menyesal memberikan segala anugerah itu ke Bandung. Untung saja masih ada wanita-wanita cantik, tapi itu pun banyak direbut oleh orang luar Bandung!

Bersiaplah untuk kehilangan seluruh pesona Bandung di masa depan apabila masyarakat dan pemimpin Bandung saat ini gagal merencanakan tata ruang ideal ke depannya. Mengapa perencanaan begitu penting? Karena inilah yang menjadi visi Bandung di masa depan. Apa yang direncanakan memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan, namun apabila perencanaan sudah dilakukan dengan buruk, maka kenyataannya akan jauh lebih buruk. Sebelum membicarakan perencanaan Bandung terbaru yang mengecewakan, sebagai bahan perbandingan, berikut akan dibahas sekilas sejarah perencanaan kota Bandung dari zaman kolonial.

Perencanaan Kota Kolonial

Pada awal didirikannya Bandung pada tahun 1811 di lokasi alun-alun sekarang, belum dikenal konsep tata kota yang baik. Hingga awal abad 20, bisa dibilang bahkan tidak ada perencanaan yang dibuat untuk mengantisipasi perkembangan Bandung yang masih berbentuk “desa” itu. Contoh terbaik dalam hal ini bisa ditemukan di kawasan “Kota Lama” Bandung yang sekarang menjadi pusat kota, di mana kantor-kantor pemerintah, swasta, pemukiman, pertokoan, pasar, dan kampung hingga pemakaman bisa ditemukan pada satu kawasan itu.

Seiring dengan perkembangan Bandung menjadi “pusat perkebunan” di akhir abad-19, pengaturan zonasi kota masih mengadaptasi konsep pembagian ras kolonial. Kelompok ras Pribumi, Tionghoa, Arab, dan Belanda mendiami kawasan tertentu, walau tidak diterapkan seketat kota kolonial lainnya.

Perencanaan Awal Kota Bandung – Hanya Mengatur Batas-Batas dan Jalur Jalan.

Perencanaan Awal Kota Bandung – Hanya Mengatur Batas-Batas dan Jalur Jalan.

Tidak ada kata terlambat! Setelah menjadi gemeente (kotapraja) tahun 1906, baru sekitar sepuluh tahun kemudian pemerintah kota menyadari pentingnya keberadaan suatu perencanaan. Utamanya setelah Thomas Karsten memperkenalkan konsep perencanaan kota ke Nusantara pada awal abad-20. Karena kawasan alun-alun dan sekitarnya sudah terlanjur pabaliut sulit ditata kembali, perencanaan kota lebih ditujukan pada kawasan pengembangan kota ke bagian utara – yang dibatasi oleh rel kereta api.

Seiring wacana pengangkatan Bandung sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda, pada tahun 1917  dimulailah pengkajian rencana perluasan Bandung. Beberapa kajian awal dibuat oleh “Commissie voor de Beoordeeling van de Uitbreidingsplannen der Gemeente Bandoeng” (Komisi Untuk Penilaian Terhadap Rancangan Pemekaran Gemeente Bandung) yang dikepalai oleh Tuan E.H. Karsten (bukan Ir. Thomas Karsten). Dilanjutkan dengan penggunaan jasa arsitek swasta “AIA” yang dipimpin Ghijsels untuk membuat rancangan tata kota Bandung.

Entah kenapa kerja sama antara pemkot Bandung dan AIA tidak berlanjut. Namun yang pasti peta perencanaan buatan AIA tetap digunakan sebagai panduan tata Kota Bandung oleh Pemkot Bandung. Lewat tangan besi Walikota Bandung, perencanaan itu mendasari pembangunan fisik Kota Bandung khususnya di bagian utara. Sebagai buktinya, sekarang kita masih  bisa menyusuri jalanan di Bandung utara dan mengamati sisa-sisa pembangunan era kolonial yang serius: villa-villa kolonial yang indah, trotoar yang besar, taman-taman yang magnificat,  saluran air yang baik, jalur hijau, jalan-jalan yang lebar, dan banyak lagi. Semua itu demi menciptakan lingkungan yang ideal bagi warga Bandung (khususnya orang Eropa).

Perlu diketahui bahwa istilah-istilah “Parijs van Java”, “Tuinstad” (Kota Taman), “Garden of Allah”, tidak ditujukan untuk Bandung secara keseluruhan, melainkan hanya merujuk pada kawasan Bandung Utara saja. Bagaimana mungkin misalnya kawasan Tegalega yang sejak dulu kurang mendapatkan perhatian bisa disebut sebagai “Garden of Allah”? Sekarang ini jangan juga mengumbar Bandung sebagai “Parijs van Java” sebelum melihat kondisi lingkungan Pasar Baru atau Ciroyom. Bisa malu kita. Julukan “Tuinstad” bahkan seringkali diartikan sebagai kota dengan banyak taman, seperti yang sedang giat dijalankan pemkot sekarang. Padahal, dalam bahasa Belanda, taman-taman yang menjadi landmark kota disebut dengan “Park” bukan “Tuin”. “Tuin” sendiri adalah halaman/taman rumah. Julukan “Tuinstad” diperoleh Bandung karena rumah-rumah villa di bagian utara Bandung memiliki taman-taman/halaman rumah yang indah, semarak dengan bunga.

Sebuah Villa dengan Halamannya yang Indah di Bandung

Sebuah Villa dengan Halamannya yang Indah di Bandung

Supaya bisa mudah menata kota (dan tidak terganggu oleh pengusaha hitam dan spekulan), Pemkot Bandung membentuk Dinas Pembangunan Kota (Dienst Van Het Grondbedrijf) yang tugasnya mengatur pembangunan kota. Beda dengan Distarcip sekarang, Dinas Pembangunan jaman kolonial  terlebih dahulu membeli seluruh tanah yang akan dibangun. Selanjutnya dinas yang awalnya dipimpin tuan Hetjas itu bertugas menyediakan persil-persil bangunan dan berbagai kelengkapannya seperti penyediaan lahan, pembuatan jalan, pengairan, dan sarana kota lainnya  berdasarkan perencanaan tata kota yang  telah disusun. Berbeda dengan pemerintah sekarang yang seringkali menyerahkan pada swasta untuk melakukan pembangunan fisik, lewat pengerjaan proyek yang dilakukan pemerintah sendiri lewat Dinas Pembangunan Kota, pemerintah bisa meminimalisir pengeluaran dan di sisi lain menciptakan hasil yang maksimal. Seperti diketahui, berbeda dengan swasta yang bekerja hanya untuk mendapatkan profit, pengerjaan proyek pembangunan kota oleh instansi pemerintah kota memiliki keuntungan di antaranya :

  1. Mengawal percepatan pembangunan Bandung serta menciptakan lapangan kerja;
  2. Menghindari spekulasi harga tanah;
  3. Menjaga harga tanah tetap rendah;
  4. Menyelesaikan pekerjaan jalan dan sarana kota lainnya yang membutuhkan keahlian teknik khusus serta menjaganya agar tetap higienis;
  5. Menjaga dan membuat kota Bandung yang hebat, indah, dan sehat;
  6. Tidak membebani pembayar pajak;

Seperti diketahui, pembangunan kota yang dilakukan Dinas Pembangunan Kota terbilang sangat sukses karena konsistensinya terhadap perencanaan tata ruang kota yang telah disusun. Dalam dokumen perencanaan tata kota saat itu, Bandung dibagi dalam 11 distrik (plan) yang memiliki karakteristik tertentu, contohnya:

Peta Kawasan Plan VIII di Sekitar ITB

Peta Kawasan Plan VIII di Sekitar ITB

Plan I atau disebut sebagai distrik Kebon – Djamboe, terletak di bagian timur kawasan Nusantara (Archipelwijk). Ditujukan untuk diisi bangunan besar yang kebanyakan digunakan instansi militer, serta kompleks bangunan kecil yang terletak di Cihapit.

Plan II berlokasi di utara Riouwstraat dan timur Dagoweg. Ditujukan untuk pusat pemerintahan. Di sana terdapat Gedung Gouvernementsbedrijven (Gedung Sate) dan bangunan departemen lain sebagai titik pusatnya.

Plan III dan VIII – Berlokasi di barat Dagoweg, sepanjang lembah Cikapundung.  Ditujukan untuk menjadi pemukiman elit, dengan lingkungan yang sunyi dan memiliki pemandangan yang sangat indah.

Plan VII – Berlokasi di utara Plan V (Jalan Padasuka – Cihampelas – Cipaganti), ditujukan untuk perumahan villa (landhuizen). Setiap persilnya memiliki luas antara 1000 – 3000 M2 . Diatur juga bahwa pemilik dilarang membangun rumah lain dalam satu persil untuk menjaga keindahan lingkungan.

Plan IX  – Berlokasi di bagian timur Dagoweg, sekitar Cikapayang, atau sebelah utara dari Plan II. Pada kawasan ini tersedia sedikit persil, bervariasi antara 600 – 1000 M2 yang ditujukan untuk didiami pejabat-pejabat pemerintahan di Bandung.

Plan XI –  Dikarenakan Pemerintah Kota Bandung terbilang sangat ketat dalam membatasi pembangunan industri atau perusahaan di kawasan pemukiman di Bandung. Untuk itu disediakan kawasan khusus untuk tujuan industri, yaitu pada kawasan Plan XI yang terletak di selatan Grootepostweg Timur atau sekarang daerah Cicadas, Kebonwaru, Kiaracondong dll.

Intinya, pembangunan Bandung pada zaman kolonial bisa berjalan baik berkat disiplin yang kuat Walikota serta Dinas Pembangunan Kota (Dienst Van Het Grondbedrijf). Pada zaman kolonial, jangan harap bisa menemukan pom bensin di tengah-tengah kawasan pemukiman (seperti di Jl. Dago dan Riau) atau menemukan gedung-gedung pencakar langit di tengah pemukiman. Peraturan pembangunan diterapkan sangat ketat. Sayangnya pemerintah Kota Bandung pasca kemerdekaan tampaknya tidak mampu meneruskan pembangunan yang terencana tersebut, sehingga banyak pelanggaran tata ruang dilakukan tanpa pertanggungjawaban.

Peraturan Panduan Pendirian Bangunan Bandung Zaman Kolonial

Peraturan Panduan Pendirian Bangunan Bandung Zaman Kolonial

Perencanaan Kota Terbaru.

Sekarang kita kembali ke zaman sekarang dan melihat perencanaan yang dibuat oleh Pemerintah Kota Bandung dalam dokumen RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dan RDTR (Rencana Detail Tata Ruang). Pada dasarnya RDTR harus dibuat mengacu kepada RTRW yang lebih tinggi. Namun perhatikanlah perbandingan berikut:

RTRW Bandung Tahun 2011-2021 dan RDTR Tahun 2015 yang Sudah Resmi

RTRW Bandung Tahun 2011-2021 dan RDTR Tahun 2015 yang Sudah Resmi

Sekilas ada beberapa perbedaan. Tapi yang paling mencolok dalam RDTR (yang harusnya mengacu ke RTRW) adalah banyaknya area berwarna merah yang artinya kawasan tersebut diperuntukan untuk kepentingan komersial. Bahkan kawasan berwarna merah dalam RDTR itu tampak mewarnai seluruh jalan utama yang ada di Bandung. Suatu mimpi buruk bagi mereka yang menyadari dampaknya. Antara lain:

Bandung Kota Kembang akan menjadi Bandung Kota Kemang. Bagi mereka yang pernah mengunjungi kawasan Kemang di Jakarta pasti bisa membayangkan keadaan di sana. Jalanan yang kiri-kanannya diisi berbagai usaha kuliner dan lainnya. Kemacetan sudah menjadi hal biasa di sana. Dengan “merahnya” jalanan Bandung dalam perencanaan. Bukan hal aneh apabila di masa depan nanti tidak akan bisa ditemukan rumah tinggal yang asri dengan halamannya yang indah di pinggiran jalan utama Bandung. Semuanya toko, restoran, café, ruko, kantor, apartemen, dan usaha lainnya. Saat itulah Bandung tidak lagi menjadi “Parijs van Java” melainkan “Little Jakarta”.

Kawasan Berwarna Merah bahkan Merambah Bagian Utara Bandung

Kawasan Berwarna Merah bahkan Merambah Bagian Utara Bandung

Naiknya harga tanah secara gila-gilaan. Bagaikan petir di siang bolong, mereka yang tinggal di kawasan berwarna merah tersebut akan dikagetkan dengan tagihan PBB yang melonjak tinggi. Walau nilai asetnya bertambah, Pada akhirnya para pensiunan dan pemilik rumah-rumah indah yang tidak mampu membayar PBB  terpaksa menjual tanahnya kepada investor yang ingin memanfaatkan sepetak tanah itu dengan maksimal – dibangunlah bangunan-bangunan vertikal pencakar langit yang menghalangi pemandangan gunung-gunung indah di seputaran Bandung. Nantinya, jangan harap juga bisa tinggal di sekitaran kawasan “merah” itu kecuali anda berdompet tebal. Bagi mereka yang kemampuan finansialnya pas-pasan, silakan tinggal di pinggiran Bandung, di apartemen atau rumah susun. Bandung itu mahal bung!

Ibaratnya jalan-jalan utama berwarna merah itu adalah urat nadi dalam tubuh. Keberadaan bangunan-bangunan komersial di pinggirannya adalah layaknya lemak-lemak yang menghalangi kelancaran peredaran darah. Tanpa pembangunan transportasi massal, bisa dipastikan kota Bandung akan mengalami “stroke” – kemacetan parah. Untungnya warga Bandung sudah mulai bisa menikmati kemacetan sehingga index of happiness tetap tinggi.

Bagi penikmat keindahan bangunan heritage, saat ini mungkin menjadi kesempatan terakhir untuk mengabadikan keberadaan heritage di jalur berwarna merah tersebut. Saat ini saja bisa dilihat banyak bangunan heritage sudah ditutupi pagar seng – tanda kematian bangunan tersebut. Bisa saja seseorang mengatakan bangunan heritage itu sebagai peninggalan “mantan” yang tidak perlu dilindungi. Untuk apa mempertahankan sebuah bangunan tua yang tidak bernilai ekonomi apabila sebuah hotel/cafe bisa didirikan di sana. Tapi perlu diingat bahwa bangunan heritage menjadi bagian dari identitas Bandung yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa heritage tersebut Bandung hanyalah sebuah kota yang kering, tanpa ciri khas, tanpa jejak sejarah…

Bangunan-Bangunan Heritage yang Sudah “Divonis Mati”

Bangunan-Bangunan Heritage yang Sudah “Divonis Mati”

***

Pertanyaan-pertanyaan akan terlintas di pikiran kita. Mengapa perencanaan itu begitu buruk ? Siapa yang membuatnya ? Bukankah masyarakat harusnya dilibatkan ? Pada prinsipnya pembuat rencana itu adalah Pemerintah Kota, menggunakan jasa konsultan yang pastinya merupakan para ahli dengan kemampuannya tidak diragukan lagi. Jadi jangan sok tahu mengatakan perencanaan ini buruk, memangnya kompetensi anda apa ? (jawaban yang menohok). Masyarakat tentunya sudah dilibatkan, bukankah investor dan pemodal itu masyarakat juga ?

Pertanyaan terakhir. Walikota Bandung kan bagus banget, kenapa bisa mengesahkan perencanaan ini ? Well anak muda… Janganlah terlalu naif.. Walikota Bandung sekarang memang terbilang sangat piawai dalam mengelola kota. No doubt lah. Namun perlu diketahui bahwa sebaik-baiknya pemimpin kota Bandung, masih ada kekuatan lain yang melebihi kekuasaannya. Selain dipengaruhi kualitas legislatif yang meragukan. Ada invisible hand yang senantiasa menjaga beberapa permasalahan kota agar tetap tidak tersentuh perubahan. Kekuatan inilah yang mendorong pembuatan perencanaan tadi.

Lalu kita bisa apa ? Mari kita menyibukkan diri kita dengan masalah kejombloan dan mantan saja. Buat apa mikir yang berat-berat… Saya tutup tulisan ini dengan kesimpulan “Tidak selamanya mantan itu buruk…”.

 

Catatan Perjalanan: Museum Biofarma

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Berikan satu kata yang tepat dan jujur tentang museum? Tentu saja, kata tersebut adalah membosankan. Kata membosankan menjadi pas saat kita memasuki ruangan museum dengan penerangan yang kurang. Lalu, kita sebagai pengunjung hanya bisa melihat barang – barang jadul dan foto-foto hitam putih saja, tanpa papan informasi. Sungguh membosankan bukan?

Tapi saya rasa kata membosankan tidak pas saat mengunjungi Museum Biofarma yang berlokasi di Jl. Pasteur, Bandung. “Loh, kok penulis tidak konsisten dengan pernyataannya?” tanya pembaca. Tenang, saya memiliki beberapa alasan untuk memberi pernyataan itu.

Memang pada awalnya, bayangan pertama saya tentang Museum Biofarma adalah suasana kuno dengan bayangan satu ruangan berdebu dan berisi foto-foto hitam putih yang tidak terawat. Seluruh bayangan itu berada di pikiran hingga saya berada di depan gerbang museum. Lalu, saya masuk museum dengan perasaan yang datar karena bayangan itu. Baca lebih lanjut

Wajah Bandung Tempo Dulu di Mata Haryoto Kunto

Oleh: Ridwan Hutagalung (@pamanridwan)

An4pjIUkv9l0l1AKl3NycbaJa3PP-Nox-YCE_IH376oB

Setiap kota pasti menorehkan kesan tersendiri bagi penghuninya, lepas dari apakah dia penghuni tetap ataupun sekadar singgah karena tuntutan sekolah atau pekerjaan. Kalau dibalik, setiap orang pasti menyimpan kesan tersendiri tentang kota yang ditinggalinya baik itu hanya untuk sementara ataupun dalam jangka waktu yang sangat lama.

Haryoto Kunto (1940-1999) menuangkan kesan-kesannya tentang Kota Bandung dalam banyak buku, dua di antaranya sudah  menjadi legenda dalam dunia perbukuan seputar sejarah Bandung, yakni Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Granesia, 1984) dan “Semerbak Bunga di Bandung Raya (Granesia, 1986).

Haryoto Kunto memang bukan yang pertama menulis buku “sejarah” Kota Bandung, sebelumnya sudah ada 2 jilid buku berbahasa Sunda, “Bandung Baheula” karangan Moech. Affandi (Guna Utama, 1969), dan “Keur Kuring di Bandung” karangan Sjarif Amin (…). Dalam bahasa Belanda juga banyak buku yang khusus membahas Kota Bandung seperti “Bandoeng” karangan H. Buitenweg (Katwijk, Holland, 1976) atau “Gids van Bandoeng en Omstreken” karangan S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland (Vorkink, Bandoeng, 1921). Di dalam bahasa Inggris ada “Bandung & Beyond” karangan Richard & Sheila Bennet (Aneka Karya, Bandung, 1980).

Daftar di atas hanya secuil saja dari banyak buku lain yang sudah membicarakan Kota Bandung sebelum Haryoto Kunto menerbitkan buku-bukunya. Yang cukup menarik perhatian dan menjadi pembeda buku-buku karangan Haryoto Kunto adalah keluasan bahasan dan penggunaan bahasa yang sangat longgar, nyaris seperti bahasa lisan yang digunakan sehari-hari. Mungkin faktor bahasa ini pula yang membuat buku-buku Haryoto Kunto menjadi begitu populer dan dikenang oleh banyak orang.

Dalam salah satu bagian tulisannya, Haryoto Kunto menulis: “Wah, bila Cuma berbenah diri kalau ada penggede pusat yang datang meninjau, benar-benar brengsek dong.” Kalimat ini dilanjutkan dengan kutipan “”Emang, Kota Bandung sih Brenk-sex!” kata si Dolly yang sering mangkal di Kebon Raja, nimbrung bicara.” Ya, begitulah gaya Haryoto Kunto menulis atau berbicara, nyaris ceplas-ceplos. Dalam menyimak ceritanya pembaca bahkan tak pernah dipusingkan dengan apakah tokoh Dolly yang disebutkannya itu benar-benar ada atau hanya rekaannya saja dalam mengemas cerita. Di banyak bagian tulisan, Haryoto Kunto cukup banyak menggunakan dialog (entah karangan atau bukan) dalam menyampaikan ceritanya. Sepertinya saat menulis itu Haryoto Kunto mengandaikan dirinya sedang bercerita secara lisan kepada para pendengarnya.

Faktor lain yang membedakan buku-buku Haryoto Kunto dengan buku lainnya yang membahas Kota Bandung, disampaikannya lewat judul buku yang digunakan, “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe”. Dengan sumber referensi begitu banyak buku antik yang berhasil dikumpulkan di rumah tinggalnya di Jl. H. Mesrie No. 5, Haryoto Kunto mereka-reka seperti apa rupa Kota Bandung di masa lalu. Dari buku-buku lama digalinya informasi sebanyak mungkin, lalu disusun sedemikian rupa sehingga mendapatkan gambaran umum rupa Kota Bandung dari waktu ke waktu.

Yang berikut ini khusus tentang buku Wajah Bandung Tempo Doeloe. Saya tak ingat berapa kali buku ini keluar masuk koleksi bukuku, aktivitas jual-beli buku bekas membuat banyak koleksi bukuku bisa keluar masuk dengan agak leluasa. Sejak diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Granesia tahun 1984, buku yang legendaris ini ternyata tidak mengalami banyak cetak ulang. Sampai tahun 2014, baru 5 kali cetak ulang, semua oleh penerbit yang sama. Dapat dibandingkan dengan banyak buku best-seller masa kini yang dalam satu tahun saja bisa cetak ulang sampai belasan kali.

Kebetulan buku yang sedang saya pegang ini merupakan cetakan yang kelima. Seingat saya, dua cetakan terakhir (2008 & 2014) buku ini dicetak dengan ukuran yang lebih besar (24 x 18 cm) dibanding sebelumnya (22 x 15 cm), selain itu sampulnya dibuat hard-cover. Perbedaan lainnya, dua buku edisi terakhir memiliki gambar sampul yang berbeda dan menggunakan bahan kertas berwarna kuning pucat yang belakangan ini memang banyak dipakai untuk penerbitan buku.

Pada bagian isi, ada penambahan pengantar dari Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan. Di penerbitan awal, pengantar hanya diberikan oleh Walikota Bandung, Ateng Wahyudi. Pada bab terakhir yang merupakan kumpulan foto perbandingan antara foto zaman baheula dengan foto terkini juga mengalami perubahan, tidak lagi memuat foto-foto tahun 1984 seperti dalam terbitan pertamanya, melainkan foto-foto yang diambil tahun 2007. Saya tidak menemukan keterangan kenapa buku terbitan 2014 ini menggunakan foto-foto pembandingnya dari tahun 2007 dan bukan 2013 atau 2014. Saya juga tidak berhasil menemukan siapa nama fotografer untuk foto-foto “baru” ini.

Isi buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dibagi ke dalam 18 Bab, dimulai dengan Bab I ”Pendahuluan” lalu Bab II “Negorij Bandong”, yang sebagian ceritanya sudah saya kutipkan di atas, yaitu latar belakang kelahiran Kota Bandung. Selanjutnya adalah bab-bab yang tidak terlalu ketat dengan urutan waktu namun secara umum ada gambaran kronologis. Bab-bab awal diisi oleh nostalgia Kota Bandung, cerita-cerita tempo dulu atau di sini sering disebut “zaman normal”, uraian pernik sejarah yang dianggap ikut membangun kejayaan Kota Bandung. Bab XIV memasuki “Wajah Pudar Bandoeng Tempo Doeloe” yang dilanjutkan dengan Bab XV “Pemugaran Bangunan Bersejarah”, kemudian kembali ke nostalgia dengan pilihan tema yang agak spesifik pada Bab XVII “Seabad Jalan Braga”. Rangkaian ini ditutup oleh Bab XVIII dengan judul “Bandung Antara Harapan dan Kenyataan”.

Haryoto Kunto membuka cerita dari mention pertama nama Bandong oleh Juliaen de Silva pada tahun 1641: “Aan een negrije genaemt Bandong, bestaende uijt 25 a 30 huijsen. (Ada sebuah negeri bernama Bandong yang terdiri dari 25-30 rumah)”. Lalu pencarian sulfur untuk campuran bubuk mesiu oleh Abraham van Riebeek yang sampai mendaki Gunung Papandayan dan Tangkubanparahu, berlanjut ke cerita tentang orang kulit putih pertama yang menjadi warga Tatar Bandung, yaitu Kopral Arie Top, yang mendapatkan tugas dari Kompeni (1741) sebagai Plaatselijk Militair Commandant (Komandan Militer Menetap di Satu Daerah). Sebagian besar Tatar Bandung saat itu masih berupa hutan dan rawa-rawa dengan beberapa kampung kecil di beberapa tempat.

Setelah itu cerita bersambung ke kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda H.W. Daendels yang membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg) membentang dari Anyer di Jawa Barat sampai Panarukan di Jawa Timur. Pembangunan jalan raya ini mengakibatkan ibukota Kabupaten Bandung harus dipindahkan dari Krapyak, Citeureup (Dayeuhkolot sekarang) ke lokasi Alun-alun Bandung sekarang. Tanggal dikeluarkannya surat keputusan resmi perpindahan ibukota ini dijadikan sebagai patokan kelahiran Kota Bandung, yaitu 25 September 1810. Dapat dibayangkan saat itu pembangunan fasilitas pemerintahan yang baru dipusatkan di sekitar Alun-alun: Pendopo, masjid, paseban, kompleks kapatihan, pasar, banceuy, dan pesanggrahan. Disebutkan saat itu sudah ada  sejumlah kampung tua di Tatar Bandung, seperti Cikalintu, Balubur, dan Cikapundung Kolot.

Perpindahan ibukota kabupaten diikuti dengan perpindahan pusat pemerintahan Karesidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1864. Artinya ada perkembangan situasi kota Bandung mengikuti perpindahan ini, jalur-jalur jalan baru dibuat, dan orang-orang baru berdatangan. Groneman mencatat pada tahun 1870-an banyak orang sibuk membuka lahan di kota untuk dijadikan kebun dan bermukim di situ. Haryoto Kunto mencatat paling sedikit lahir sekitar 20 nama kampung dengan kata kebon di depannya, seperti Kebon Kawung, Kebon Jati, Kebon Kalapa, Kebon Jeruk, dst.

Masuknya jalur kereta api ke Bandung tahun 1884 menambah semarak kota kecil ini, disusul pembangunan berskala besar oleh Bupati RAA Martanagara yang bertindak sebagai Mandor Besar memimpin para kuli pribumi. Beberapa karya Martanagara adalah:

  • Lahan kota Bandung bagian selatan yang kebanyakan masih berupa rawa dijadikan persawahan, kolam ikan, atau disaeur (ditimbun tanah) seperti bisa dilihat dari nama tempat Situ Saeur.
  • Menggali dan memperbaiki saluran air (kanal) seperi Cikapayang dan Cikakak.
  • Penggantian atap dan tembok rumah menggunakan bata dan genteng yang dibuat di Merdika Lio.
  • Pembangunan jembatan-jembatan, termasuk penggantian bahan jembatan yang tadinya barbahan kayu dan bambu menjadi batu, tembok, dan besi.
  • Menata kawasan Grote Postweg sekitar Alun-alun menjadi kawasan perkantoran (Eropa) dan Braga menjadi kawasan pertokoan.

Pada Bab XII dengan judul “Bandung Penuh Sanjung”, Haryoto Kunto menceritakan bagaimana sejumlah orang Indo atau Belanda yang sudah kembali ke negerinya memendam kerinduan yang mendalam kepada kota ini. Cerita ini dilanjutkan dengan membahas berbagai julukan yang pernah disematkan kepada Kota Bandung, seperti Paradijs op Aarde, Paradise in Exile, sampai Bandung Kota Intelektual. Cerita berlanjut ke sekolah-sekolah tempo dulu, kehidupan kesenian, kelahiran Bandoengsche Radio Vereeniging (BRV), lalu beranjak sampai cerita soal kamp interniran di Bandung.

Bab XIII dengan judul Bandung adalah Bandung diisi oleh perbandingan perkembangan kota di Jakarta. Haryoto Kunto menyoroti pembangunan kota yang mengarah Jakarta-sentris. Tulis Haryoto Kunto: “Adalah usaha yang sia-sia, melawan dan membendung arus modernisasi dan kemajuan yang melanda masyarakat, maupun kota-kota besar di Indonesia. Namun kita harus cukup selektif dalam memilih bentuk teknologi yang akan diterapkan dalam planning dan pembangunan kota. Sebagai contoh: apakah tepat pengoperasian bis kota dengan ukuran long chassis dan mempunyai berat melebihi kekuatan jalan di Bandung yang sempit dan penuh tanjakan?”

Hampir di setiap bab yang ditulisnya Haryoto Kunto menyelipkan catatan dan pertanyaan tentang arah pembangunan dan perubahan kota yang dinilainya tidak memiliki kesadaran sejarah, sehingga Kota Bandung mengalami kerugian sejarah-budaya kota yang besar. Banyak harta karun sejarah-budaya yang musnah begitu saja. Pada bagian akhir Bab XIV Haryoto Kunto juga mempertanyakan soal penggantian nama-nama jalan dengan nama baru yang ternyata tidak menunjukkan identitas atau kaitan erat dengan sejarah yang terjadi di Kota Bandung.

Haryoto Kunto seperti hendak terus menegaskan betapa cantiknya Kota Bandung tempo dulu, betapa rinci perancangannya, dan betapa nyaman suasananya. Sayang semua itu hanya cerita tempo dulu. Perkembangan yang terjadi, terutama setelah masa kemerdekaan, justru berlawanan dengan keadaannya dulu. Kecantikan dan kenyamanan itu pelan-pelan memudar akibat pembangunan yang tidak terkendali dan kesadaran sejarah para penghuni kota yang dirasa sangat kurang.

Satu hal yang khas dari buku-buku karya Haryoto Kunto adalah kehadiran kutipan-kutipan di setiap pembukaan bab. Begitu juga dengan buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, penggalan puisi, lirik lagu, atau pepatah, menghiasi di sana-sini. Bila karya masterpiece-nya, “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (Granesia, 1986), dibuka dengan cuplikan dari naskah Kropak 632 Kabuyutan Ciburuy: hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke…, maka buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dibuka dengan cuplikan dari “Wawacan Purnama Alam” karya R. Soeriadiredja: Beunang nungtik ti leuleutik, nyutat-nyatet ti bubudak, tataros ti kolot kahot, juru dongeng alam kuna, ayeuna ditukilna, disurup kana lagu, ditulad dijieun babad. (Diteliti sejak kecil mula, dicatat sejak kanak-kanak, bertanya kepada orang tua, tukang cerita dulu kala, sekarang diungkapkan, digubah jadi lagu, direka jadi cerita).

Kiranya kutipan terakhir ini cukup menjelaskan proses berkarya Sang Kuncen Bandung, Haryoto Kunto, bahwa bukan hanya catatan dan tulisan yang dikumpulkannya, melainkan juga cerita-cerita, obrolan, lagu, dan semua sudah dilakukannya (secara konsisten) sejak kecil.

 

***

Tulisan ini dibuat untuk keperluan Kelas Resensi di Komunitas Aleut, sebuah kegiatan mingguan baru yang diadakan di Perpustakaan Kedai Preanger

#PojokKAA2015: Gedung Swarha

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

Sumber foto: kitlv.nl

Sumber foto: kitlv.nl         

Foto ini menggambarkan suasana keramaian di Bandung saat merayakan Jubileum Ratu Wilhelmina pada tahun 1923. Foto diambil di sudut barat daya Alun-alun, di depan sebuah toko pakaian dan kelontong, Toko Tokyo. Pada gambar dapat dilihat plang nama Toko Tokyo di atas pintu gedung di sebelah kanan.

Toko Tokyo dibangun tahun 1914 dan hancur pada tahun 1940-an, kemungkinan pada sekitar peristiwa Bandung Lautan Api. Angka tahun pembangunan didapatkan dari angka yang tercetak besar pada atap gedung sebelah kanan. Dari sebuah foto udara yang dibuat oleh ML-KNIL tahun 1946 dan dimuat dalam buku karya RPGA Voskuil, “Bandung; Citra Sebuah Kota”, tampak lahan Toko Tokyo kosong dan belum ada bangunan penggantinya. Baca lebih lanjut

Monteiro

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

Kalau melintas di jalan raya Bandung-Tangkubanparahu, mata ini sering melirik ke sebuah bangunan unik bertembok hitam dengan arsitektur yang tampak kuno. Di dinding bagian depan terdapat tulisan yang cukup jelas untuk dibaca dari jauh, “ Dolce Far Niente”, lalu di bawahnya, “Monteiro”. Sebenarnya saya cukup sering berada di dekat bangunan ini, terutama saat salah seorang paman saya mengelola hotel besar yang berada di dekatnya. Pagi-pagi berjalan kaki dari hotel sering melintas dekat bangunan hitam ini, tapi tidak juga ada keinginan untuk mampir. Yang saya tahu, sejak dulu di rumah itu diproduksi selai yang konon sempat populer di kota Bandung.

Tapi pagi ini ada pengalaman lain yang membuat saya mendatangi rumah hitam ini. Suasana sekitar bangunan tampak sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang sedang parkir. Semua pintu dan jendela rumah tertutup, begitu juga garasi yang berwarna merah di sebelahnya. Tak jauh dari rumah utama ada seorang ibu. Saya hampiri dan menyampaikan maksud ingin bertemu penghuni rumah hitam itu. Ibu ini mengantar saya ke sebuah rumah lain di belakang rumah hitam.

IMG-20150406-WA0025_1Di rumah belakang saya diterima oleh seorang ibu muda bernama Herni Monteiro. Saya langsung menangkap, Monteiro yang dikenal sebagai nama produk selai ini ternyata berasal dari nama kelurga. Ibu yang ramah ini mengajak masuk. Di dalam rumah saya lihat ada beberapa puluh botol selai di atas meja. Saya kira saya akan ngobrol soal selai saja sebagai pembuka perkenalan. Ibu yang baik ini menyerahkan beberapa lembar kertas fotokopian sambil menunjukkan botol-botol selai dan bungkus-bungkus dodol produksi keluarganya, YH Dodol Strawberry Milk. Ternyata cerita-cerita berloncatan dengan cepat dan tiba juga pada nama itu, Monteiro.

 

Adolph Bernard Monteiro, menilik namanya saja dia bukanlah orang Indonesia. Tapi Beni, begitu nama kecilnya, tak pernah melihat negeri lain selain Indonesia selama hidupnya. Beni dilahirkan di Manado pada tahun 1917 dari ayah kelahiran Blitar bernama Herman Christian Monteiro dan ibu kelahiran Cirebon, Eugenie Geerath.

 

Dari garis ayahnya, Beni mendapatkan darah Portugis, sementara dari ibunya darah Belanda. Konon kakeknya datang dari Portugis ke Indonesia bersama dua orang saudaranya untuk berkelana. Mungkin mencari penghidupan di negeri yang sempat berada dalam kekuasaan Portugis ini.  Kakeknya wafat dan dimakamkan di Banyuwangi, sementara kedua saudara kakeknya tak ada kabar berita. Makam kakeknya masih ada di Banyuwangi, namun Beni tak pernah melihatnya langsung.

 

Masa kecil dan remaja Beni dihabiskan di Pekalongan. Karena kenakalannya, sekolahnya berantakan. Ia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 3 SD saja. Saat itu ia lebih senang blusukan ke kampung untuk mengadu ayam atau jangkrik daripada bersekolah. Untunglah ia masih sempat belajar membaca dan menulis. Bekal kecil ini membuatnya gemar mengoleksi dan membaca buku2 filsafat di kemudian hari, terutama karya2 MAW Brouwer.

 

Pada tahun 1941 terjadi Perang Dunia II. Saat itu usia Beni 24 tahun dan ia bekerja bertani membantu ayahnya yang ahli pertanian. Namun perang menyeretnya untuk ikut mobilisasi massa dan masuk ketentaraan KNIL. Tahun 1942 Beni menjadi tawanan Jepang dan dipekerjakan secara paksa untuk membangun sebuah lapangan terbang di Pulau Amahai, Ambon. Seluruh keluarganya tercerai berai tak tentu rimba. Selama menjadi tawanan Jepang, Beni mengalami banyak kekerasan yang membuatnya trauma hingga kini. Pekerjaan yang terlalu berat bahkan membuatnya mengidap pembengkakan jantung. Kelaparan sudah menjadi pengalamannya sehari-hari.

 

Beni bertahan hingga Indonesia mencapai kemerdekaan di tahun 1945.  Beni yang bebas segera berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan. Nasibnya sedang mujur, ia diterima bekerja di Amacap, suatu lembaga yang bergerak di bidang sosial. Pengalamannya dengan dunia pertanian membuatnya dipekerjakan untuk mengolah suatu lahan pertanian di Lembang. Hasil tani ini dipakai oleh rumah sakit rumah sakit yang berada di Bandung.

 

Sekitar tahun 1948, Beni dan kawan2nya keluar dari Amacap dan mendirikan sebuah kelompok tani. Mereka menyewa tanah dan menanam arbei serta sayur2an. Ketika itu produksi arbei dari Lembang sedang sangat bagus. Dalam satu hari, Beni bisa memetik arbei sampai seberat 1 kuintal.

Organisasi bentukan Beni tidak bertahan lama, bahkan kemudian terjadi boikot terhadap warga Belanda dan Eropa. Beni kemudian berusaha sendiri dengan berbagai keterbatasan. Sampai sini persoalannya belum selesai karena strawberry miliknya tidak diterima lagi oleh pabrik-pabrik yang melihatnya sebagai seorang Belanda. Saat itu semangat nasionalisme di Indonesia sedang tinggi dan di mana-mana terjadi gerakan anti-asing.

 

Beni tidak menyerah, sebuah ide lain segera muncul. Ia berpikir mungkin tumpukan strawberry di gudangnya bisa diolah menjadi selai. Setelah membuat beberapa eksperimen, Beni menemukan olahan yang dianggapnya pas tanpa menggunakan campuran apapun. Selai ini dipasarkannya sendiri ke masyarakat sekitar dengan merek Monteiro & Sons. Banyak orang asing yang tinggal di sana menggemarinya, terutama karena rasanya yang khas dan pembuatannya yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia.

IMG-20150406-WA0026B

Usaha yang tidak besar ini dikelolanya sendiri dibantu istrinya, mojang asli Lembang, dan anak-anaknya. Ia juga mempekerjakan 10 orang pegawai untuk membantunya. Usaha ini tidak selalu berjalan mulus. Walaupun selai buatannya yang diberi merek Monteiro & Sons itu sudah cukup dikenal luas, tetapi bahan baku buah arbei tidak selalu tersedia dari kebunnya sehingga kadang-kadang ia harus mendatangkannya dari tempat lain seperti Sukabumi. Lalu pengemasannya pun punya masalah sendiri, untuk pengemasan selainya Monteiro mendapatkan botol-botol ini dari pedagang botol bekas yang ia bersihkan sendiri.

 

Semua itu cerita dulu. Usaha ini berkembang naik-turun hingga akhir tahun 1980-an. Produk selai Monteiro memang tak pernah menjadi industri yang besar, namun namanya cukup dikenal warga Bandung baheula. Monteiro mengelola usaha ini hingga akhir hayatnya di tahun 1987, setelah itu dilanjutkan oleh istrinya, Atikah, dan anak-anaknya. Saat ini minat terhadap selai Monteiro sudah tidak seramai dulu, namanya tersamarkan di tengah produk-produk modern yang sangat beragam.

 

Sampai beberapa tahun lalu selai Monteiro & Sons masih dapat ditemukan di Toko Setiabudhi atau di Roti Gempol yang memang selalu menggunakan selai ini sebagai salah satu pelapis rotinya yang terkenal itu. Bagi generasi sekarang yang mungkin ingin mencicipi selai Monteiro, dapat mencoba mencari di kedua tempat itu atau langsung berkunjung ke rumah Monteiro di Lembang. Dari arah Bandung, letaknya di sebelah kanan setelah Hotel Putri Gunung, lihat sebuah rumah bertembok hitam dengan tulisan “Dolce Far Niente”.

0299f47bbd87e0c5_w300

Foto: http://indischekwestie.nl/

Adolph Bernard Monteiro
1917 Manado
1989 Lembang

Foto-foto: Vecco Suryahadi @veccosuryahadi & Ridwan Hutagalung @pamanridwan

http://indischekwestie.nl/

Update, 11/04/2015

Senang sekali hari ini mendapatkan email dari seseorang bernama Tony yang ternyata keponakannya Ben(i). Ibu Tony beradik-kakak dengan Ben, tetapi sayang sudah wafat juga. Tony juga bercerita bahwa bibit strawberry yang diolah oleh Oom Ben – begitu Tony memanggilnya – dikirimkan oleh ayahnya pada masa-masa sulitnya Oom Ben. Tony dan keluarganya berencana akan berkunjung ke Bandung, semoga kami dapat berjumpa..

Terima kasih sudah mampir, Tony.

Salam.

 

Tautan asli: https://mooibandoeng.wordpress.com/2015/04/07/monteiro/