Situ Cisanti; Mastaka Citarum

  Catatan Singkat Perjalanan Bersama @Komunitasaleut

Oleh :  Indra Rha

 

IMG-20131107-WA0000

Hari itu tanggal 26/10/2013 Aleut! berangkat menuju kawasan Baleendah, Ciparay, lalu menuju Pacet. Menyusuri jalanan Pacet menuju Cibeureum ini kami disuguhi pemandangan indah yang memanjakan mata. Di jalanan yang merupakan lembah pegunungan ini terhampar indah sawah-sawah dengan pola berundak-undak di bawah kaki Gunung Rakutak atau Si Rawing, menurut sebutan orang sekitar.

Melihat model sawah seperti ini mengingatkan pada persawahan di Bali. Selain sawah juga berderet undak-undakan ladang pertanian yang ditanami kentang, bawang daun, wortel, dan banyak sayuran lainnya. Di dasar lembah ini mengalir sebuah sungai yang sangat terkenal dan strategis keberadaannya sejak jaman dulu, inilah Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat itu.

Perjalanan kami berlanjut menuju Situ Cisanti, suatu kawasan danau yang merupakan hulu sungai Citarum. Yaa di danau inilah sungai Citarum berasal sebelum bermuara di daerah Karawang. Memasuki kawasan Situ Cisanti yang dikelola oleh Perhutani ini, kami diharuskan membayar sebesar 5ribu rupiah pada petugas-petugas liar yang juga bertugas sebagai juru parkir, sebenarnya saya sendiri tidak tahu berapa resminya tiket untuk memasuki kawasan ini karena kami tidak mendapati petugas ataupun tiket masuk resmi setelah membayar.

Berjalan memasuki kawasan Situ Cisanti yang sejuk ini, kami disambut pohon-pohon Eukaliptus yang menjulang tinggi dengan kulitnya yang mengelupas. Turun mengikuti tangga akhirnya kami sampai di sebuah situ atau danau seluas kurang lebih 8ha dengan air yang tenang. Di sini terdapat juga sebuah dermaga kecil dan perahu. Sekeliling danau terlihat ada satu dua pemancing ikan yang sedang termangu menatap jorannya. Situ Cisanti ini memang banyak ikannya, karena selain ikan asli endemik seperti  mujaer, paray, dan bogo, juga banyak ditabur benih-benih ikan baru seperti ikan mas, nila, dan nilem oleh instansi-instansi dan pemerhati lingkungan.

IMG-20131107-WA0003

Kawasan Situ Cisanti ini awalnya hanya danau dan rawa, tapi pada tahun 2001 pemerintah mulai membenahi dan membangun parit selebar 1,5m di pinggiran seputaran kaki gunung, sebagai usaha menahan longsoran tanah yang mungkin terbawa dan akan mengakibatkan sedimentasi danau. Selain itu dibangun juga 2 buah pintu air di kiri dan kanan yang merupakan awal aliran sungai Citarum menuju perkampungan Tarumajaya tempat masyarakat sekitar menggunakannya untuk keperluan rumah tangga, pertanian, dan peternakan mereka

Situ Cisanti berada di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasarie, Kabupaten Bandung, dan lokasinya tepat berada di kaki Gunung Wayang. Danau ini terbentuk dari beberapa mata air yang mengalir dari seputaran gunung. Ada tujuh mata air besar yang mengalir menuju danau, yaitu :

1. Mata air Cikahuripan (Pangsiraman)

2. Mata air Mastaka Citarum

3. Mata air Cihaniwung

4. Mata air Cisadane

5. Mata air Cikawedukan

6. Mata air Cikoleberes

7. Mata air Cisanti

Di mata air Cikahuripan dan Mastaka Citarum ini kita bisa melihat langsung bagaimana mata air meluap keluar dari dalam tanah, dari sela-sela pohon besar, dan dari sela-sela bebatuan. Dari dulu banyak orang sengaja datang ke sini untuk berziarah, berdoa, mandi, dan meminum air dari mata air tersebut. Kegiatan ini terutama ramai pada waktu terang bulan di Bulan Maulud. Di kawasan Situ Cisanti ini juga kita bisa mendapati suatu situs petilasan dari Dipati Ukur, seorang Wedana Bupati Priangan, berbentuk serupa makam sepanjang kurang lebih 5m.

Image_3

Setelah puas menikmati keindahan kawasan Situ Cisanti, kami ditemani Pak Atep sebagai kuncen Situ Cisanti, mendatangi sumber-sumber mata air di kaki Gunung Wayang. Sesudahnya, kami melintasi perkebunan kopi yang sedang berbuah dan beristirahat di bawah rimbunan pohon Eukaliptus sambil menyantap batagor dari seorang penjual pikulan.

Saat itu rasa lelah kami terlupakan sejenak dengan kesejukan dan keindahan Situ Cisanti. Sayangnya di sekitar terlihat agak banyak sampah yang berserakan dan coretan-coretan tangan jahil di batu dan pohon-pohon.

Sambil menikmati kopi dan susu segar dari peternakan sapi di daerah Kertasarie, saya semakin menyadari pentingnya kawasan Gunung Wayang, mata air, dan Situ Cisanti ini agar terjaga kelestariannya mengingat kawasan ini merupakan hulu sungai Citarum yang menjadi gantungan kehidupan masyarakat di sepanjang alirannya, baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian, peternakan, atau juga industri.

Aliran Sungai Citarum ini juga merupakan sumber dari tiga PLTA besar di kawasan Jawa Barat yaitu Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Hasil olahannya berupa aliran listrik yang menerangi kehidupan dan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa dan Bali. Dan yang tak kalah pentingnya, Citarum juga merupakan sumber air minum bagi masyarakat DKI Jakarta.

Entah apa jadinya nanti, jika saat ini saja aliran air dari Citarum ini sudah semakin rusak karena dijadikan pembuangan sampah, limbah rumah tangga, limbah peternakan, dan limbah industri. Seperti yang telah kawan-kawan Aleut! temukan ketika menapaki aliran sungai Citarum di kawasan Baleendah beberapa waktu lalu. Sampah dan limbah rumah tangga menyumbang sekitar 70% dari keseluruhan limbah. Diperlukan kesadaran sejak dini untuk menanggulanginya agar sungai Citarum yang indah di hulu ini tidak semakin rusak di hilir dan malah menjadi bencana bagi masyarakat dengan banjir, sampah, dan limbah yang mengakibatkan kerugian lahir dan batin.

Meskipun berbagai cara sudah dicoba oleh pemerintah untuk menghindari agar tidak terjadi bencana, namun akhirnya kitalah sebagai manusia yang harus mengerti dan beradaptasi dengan alamnya, jangan paksakan alam untuk beradaptasi dengan kita.

Image_4

Sumber foto: Dokumentasi Komunitas Aleut!

Iklan

Satu pemikiran pada “Situ Cisanti; Mastaka Citarum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s