Arca-arca yang Hilang di Gunung Wayang

Arca-arca yang hilang

Dari kanan ke kiri : Gunung Windu, Gunung Wayang, Gunung Bedil |Foto Ariyono Wahyu Widjajadi

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Saat itu hari mendung, kabut menyelimuti Gunung Wayang menambah kental aura misteri yang meliputi gunung ini. Ini kali kedua bagi saya mengunjungi Situ Cisanti, mata air Sungai Citarum yang berada di kaki Gunung Wayang. Setiap kali  Komunitas Aleut menyambangi kawasan Pangalengan, Gunung Wayang selalu jadi pusat perhatian saya. Terkadang memandang dari kejauhan gunung ini tampak bersanding dengan dua gunung lainnya yaitu Gunung Windu dan Gunung Bedil.

Dalam halaman-halaman awal buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya” karya Haryoto Kunto, terdapat sebuah foto yang memperlihatkan seorang juru kunci yang sedang duduk bersimpuh dengan takzim di depan sebuah arca begaya Polinesia. Keterangan pada foto tadi menyebutkan bahwa arca tersebut berada di Gunung Wayang. Baca lebih lanjut

Mencari Pusat Pemerintahan Ukur

Oleh: Hevi Fauzan (@bandungtraveler)

Tafsiran atas masa lalu dan pemahaman masyarakat tentang tentang sejarah serta ingatan kolektif menciptakan identitas kolektif masyarakat tersebut.” (Reza A.A Wattimena)

Minggu 19 Maret 2017, setelah mengunjungi Gunung Lumbung, pada di hari Minggu sebelumnya, kali ini Komunitas Aleut mengunjungi tempat yang pernah menjadi ibu kota Tatar Ukur, Pabuntelan. Daerah yang letaknya tidak jauh dari Kota Ciparay, sebuah kota di sebelah selatan kota Bandung tersebut adalah bekas ibu kota Tatar Ukur. Daerah tersebut kemudian ditinggalkan oleh Dipati Ukur dan pengikutnya, setelah mereka gagal merebut Kota Batavia dan memutuskan untuk memberontak dari Mataram.

Tempat baru yang dituju oleh pasukan dan pengikut Dipati Ukur adalah Gunung Lumbung. Gunung ini berada di dekat Cililin sekarang. Di gunung tersebut, Dipati Ukur kemudian menyerah kepada pihak Mataram yang menyerbu dengan menggunakan pemimpin dan pasukan dari wilayah Sunda sebelah timur.

Nama Pabuntelan secara administratif, memang telah hilang. Daerah itu sekarang telah berganti nama menjadi Desa Mekarjaya dan Mekarsari. Walaupun telah hilang di peta atau dokumen-dokumen resmi saat ini, nama Pabuntelan masih melekat di kalangan orang-orang yang mendalami tirakat. Menurut penduduk setempat, banyak sekali orang yang mengunjungi darah Pabuntelan saat ini, baik untuk ziarah, maupun bertapa.

“Nama Pabuntelan telah lama hilang. Tapi, para peziarah yang berasal dari Cirebon, Mataram, dan banyak tempat lainnya di Jawa, masih menyebut tempat ini dengan nama Pabuntelan,” ujar Komar, seorang penduduk setempat yang bisa kami temui di sana. Baca lebih lanjut

Komunitas Aleut: Diajar Sejarah Sabari Leuleumpangan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN5195

Mun seug dibandingkeun jeung kota-kota nu aya di basisir kayaning Jakarta, Cirebon, Semarang jeung Surabaya, Bandung mah kaasup kota nu kaitung anyar kěněh. Tapi angger wě sok sanajan kitu, ari nu ngaranna kota mah pasti miboga sejarah. Kiwari di Bandung aya sababaraha komunitas nu sok nalumtik ajěn inajěn sejarah Bandung ku cara nu leuwih popilěr. Salahsahijina nyaěta Komunitas Aleut.

Naon ari Komunitas Aleut těh? Kumaha kagiatanna? Baca lebih lanjut

Situ Cisanti; Mastaka Citarum

  Catatan Singkat Perjalanan Bersama @Komunitasaleut

Oleh :  Indra Rha

 

IMG-20131107-WA0000

Hari itu tanggal 26/10/2013 Aleut! berangkat menuju kawasan Baleendah, Ciparay, lalu menuju Pacet. Menyusuri jalanan Pacet menuju Cibeureum ini kami disuguhi pemandangan indah yang memanjakan mata. Di jalanan yang merupakan lembah pegunungan ini terhampar indah sawah-sawah dengan pola berundak-undak di bawah kaki Gunung Rakutak atau Si Rawing, menurut sebutan orang sekitar.

Melihat model sawah seperti ini mengingatkan pada persawahan di Bali. Selain sawah juga berderet undak-undakan ladang pertanian yang ditanami kentang, bawang daun, wortel, dan banyak sayuran lainnya. Di dasar lembah ini mengalir sebuah sungai yang sangat terkenal dan strategis keberadaannya sejak jaman dulu, inilah Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat itu.

Perjalanan kami berlanjut menuju Situ Cisanti, suatu kawasan danau yang merupakan hulu sungai Citarum. Yaa di danau inilah sungai Citarum berasal sebelum bermuara di daerah Karawang. Memasuki kawasan Situ Cisanti yang dikelola oleh Perhutani ini, kami diharuskan membayar sebesar 5ribu rupiah pada petugas-petugas liar yang juga bertugas sebagai juru parkir, sebenarnya saya sendiri tidak tahu berapa resminya tiket untuk memasuki kawasan ini karena kami tidak mendapati petugas ataupun tiket masuk resmi setelah membayar.

Berjalan memasuki kawasan Situ Cisanti yang sejuk ini, kami disambut pohon-pohon Eukaliptus yang menjulang tinggi dengan kulitnya yang mengelupas. Turun mengikuti tangga akhirnya kami sampai di sebuah situ atau danau seluas kurang lebih 8ha dengan air yang tenang. Di sini terdapat juga sebuah dermaga kecil dan perahu. Sekeliling danau terlihat ada satu dua pemancing ikan yang sedang termangu menatap jorannya. Situ Cisanti ini memang banyak ikannya, karena selain ikan asli endemik seperti  mujaer, paray, dan bogo, juga banyak ditabur benih-benih ikan baru seperti ikan mas, nila, dan nilem oleh instansi-instansi dan pemerhati lingkungan.

IMG-20131107-WA0003

Kawasan Situ Cisanti ini awalnya hanya danau dan rawa, tapi pada tahun 2001 pemerintah mulai membenahi dan membangun parit selebar 1,5m di pinggiran seputaran kaki gunung, sebagai usaha menahan longsoran tanah yang mungkin terbawa dan akan mengakibatkan sedimentasi danau. Selain itu dibangun juga 2 buah pintu air di kiri dan kanan yang merupakan awal aliran sungai Citarum menuju perkampungan Tarumajaya tempat masyarakat sekitar menggunakannya untuk keperluan rumah tangga, pertanian, dan peternakan mereka

Situ Cisanti berada di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasarie, Kabupaten Bandung, dan lokasinya tepat berada di kaki Gunung Wayang. Danau ini terbentuk dari beberapa mata air yang mengalir dari seputaran gunung. Ada tujuh mata air besar yang mengalir menuju danau, yaitu :

1. Mata air Cikahuripan (Pangsiraman)

2. Mata air Mastaka Citarum

3. Mata air Cihaniwung

4. Mata air Cisadane

5. Mata air Cikawedukan

6. Mata air Cikoleberes

7. Mata air Cisanti

Di mata air Cikahuripan dan Mastaka Citarum ini kita bisa melihat langsung bagaimana mata air meluap keluar dari dalam tanah, dari sela-sela pohon besar, dan dari sela-sela bebatuan. Dari dulu banyak orang sengaja datang ke sini untuk berziarah, berdoa, mandi, dan meminum air dari mata air tersebut. Kegiatan ini terutama ramai pada waktu terang bulan di Bulan Maulud. Di kawasan Situ Cisanti ini juga kita bisa mendapati suatu situs petilasan dari Dipati Ukur, seorang Wedana Bupati Priangan, berbentuk serupa makam sepanjang kurang lebih 5m.

Image_3

Setelah puas menikmati keindahan kawasan Situ Cisanti, kami ditemani Pak Atep sebagai kuncen Situ Cisanti, mendatangi sumber-sumber mata air di kaki Gunung Wayang. Sesudahnya, kami melintasi perkebunan kopi yang sedang berbuah dan beristirahat di bawah rimbunan pohon Eukaliptus sambil menyantap batagor dari seorang penjual pikulan.

Saat itu rasa lelah kami terlupakan sejenak dengan kesejukan dan keindahan Situ Cisanti. Sayangnya di sekitar terlihat agak banyak sampah yang berserakan dan coretan-coretan tangan jahil di batu dan pohon-pohon.

Sambil menikmati kopi dan susu segar dari peternakan sapi di daerah Kertasarie, saya semakin menyadari pentingnya kawasan Gunung Wayang, mata air, dan Situ Cisanti ini agar terjaga kelestariannya mengingat kawasan ini merupakan hulu sungai Citarum yang menjadi gantungan kehidupan masyarakat di sepanjang alirannya, baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian, peternakan, atau juga industri.

Aliran Sungai Citarum ini juga merupakan sumber dari tiga PLTA besar di kawasan Jawa Barat yaitu Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Hasil olahannya berupa aliran listrik yang menerangi kehidupan dan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa dan Bali. Dan yang tak kalah pentingnya, Citarum juga merupakan sumber air minum bagi masyarakat DKI Jakarta.

Entah apa jadinya nanti, jika saat ini saja aliran air dari Citarum ini sudah semakin rusak karena dijadikan pembuangan sampah, limbah rumah tangga, limbah peternakan, dan limbah industri. Seperti yang telah kawan-kawan Aleut! temukan ketika menapaki aliran sungai Citarum di kawasan Baleendah beberapa waktu lalu. Sampah dan limbah rumah tangga menyumbang sekitar 70% dari keseluruhan limbah. Diperlukan kesadaran sejak dini untuk menanggulanginya agar sungai Citarum yang indah di hulu ini tidak semakin rusak di hilir dan malah menjadi bencana bagi masyarakat dengan banjir, sampah, dan limbah yang mengakibatkan kerugian lahir dan batin.

Meskipun berbagai cara sudah dicoba oleh pemerintah untuk menghindari agar tidak terjadi bencana, namun akhirnya kitalah sebagai manusia yang harus mengerti dan beradaptasi dengan alamnya, jangan paksakan alam untuk beradaptasi dengan kita.

Image_4

Sumber foto: Dokumentasi Komunitas Aleut!