Menantang Maut: Maribaya-Subang di Bulan Juli

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Kalau dilihat-lihat lagi, judulnya cukup menyeramkan: Menantang Maut. Sebenarnya, perjalanan kali ini tidak semenyeramkan itu, tapi cukup masuk akal kalau beberapa orang, terutama orang tua saya, menyebut perjalanan tersebut sebagai kegiatan menantang maut.

Kami tidak meloncat dari tebing, tidak mendaki gunung tinggi, tidak memasuki hutan lebat penuh dengan binatang buas, tidak. Seperti biasa, di hari Minggu (17/07/2016) pagi, saya dan beberapa pegiat Komunitas Aleut melakukan kegiatan rutin touring dari Maribaya ke Subang dengan motor yang kemudian disebut dengan istilah Ngaprak (Bahasa Sunda, memiliki makna serupa dengan kukurilingan/berkeliling). Hanya saja, rute yang akan kami lalui cukup beresiko karena pengaruh langit yang sedang senang-senangnya menangis terseguk-seguk di bulan Juli ini. Jalanan licin dan hujan lebat tentunya akan kami lalui, tapi ternyata ada satu hal yang saya pribadi tak sempat prediksi: kemungkinan terjebak longsor di tengah jalan.

Berangkat dari Kedai Preanger seperti biasanya, saya dan tandem saya Tegar mengambil posisi belakang sebagai sweeper. Ini berarti, saya dan teman saya ini harus dengan sigap memperhatikan posisi dan kondisi teman lainnya di depan. Selain itu, kami berdua bisa melihat dengan jelas berbagai macam kesulitan yang teman-teman lain hadapi selama perjalanan. Dan untuk saya pribadi, melihat teman-teman lain kesulitan membuat saya semakin parno! Motor yang kami berdua pakai adalah motor besar, meningkatkan kesulitan dalam menahan beban dan menyeimbangkan posisi di jalanan. Hufth.

Masuk melalui Dago Giri, kami meneruskan laju motor menuju daerah yang biasa  disebut sebagai Dago Bengkok lalu Buniwangi. Memasuki daerah Buniwangi, beberapa teman sudah kesulitan karena motornya tidak kuat menaiki tanjakan. Tanjakan di daerah Buniwangi ini memang tergolong sangat tinggi; salah memasukkan gigi, tak bisa naik. Keluar dari Buniwangi menuju Maribaya, kami berbelok ke akses utama Maribaya menuju Subang melalui Wangunharja dan langsung disambut oleh tanjakan yang lebih menantang lagi dibandingkan dengan sebelumnya. Selain berkelok-kelok dan sangat curam, jalan menanjak ini juga licin. Perlu ekstra hati-hati saat melewati tanjakan ini.

Perjuangan keras harus kami alami lagi memasuki perbatasan Maribaya-Subang. Beberapa kilometer menuju Puncak Eurad, beberapa teman yang dibonceng, termasuk saya, harus turun dari motor karena jalanan super licin dan beberapa teman sudah ada yang terjatuh karena memaksakan untuk berkendara berdua. Bahkan beberapa motor dalam rombongan kami harus dipegangi oleh beberapa orang supaya tidak terjatuh.

Berbeda dengan para pemotor yang berasal dari desa di sekitaran sana. Dengan motornya, membawa boncengan ataupun hasil panen luar biasa banyak, mereka meliak-liuk mahir tanpa harus tergelincir atau kesulitan mencari jalan. Tak ayal para pengendara motor itu adalah perempuan! Bukan main luar biasa mereka. Tak perlulah mereka membuat SIM, mungkin para polisi pun kalah telak dalam urusan mengendalikan motor di daerah seperti ini.

Setelah melewati Puncak Eurad dan daerah Bukanagara, kami menemukan sebuah Tugu Teh Walini. Betapa senangnya kami ketika akhirnya sampai di tugu tersebut. Tugu tersebut dikelilingi oleh bekas pabrik dan perumahan padat warga. Perumahan padat warga berarti satu hal: WARUNG NASI. Ya, saya capslock, penuh dengan penekanan dan teriakan dalam hati karena saya dan teman-teman amat sangat lapar saat itu! Dan voila, akhirnya warung nasi ditemukan tidak jauh dari tugu dan kami berkesempatan untuk mengisi bahan bakar untuk setelah dibanting-banting sepanjang perjalanan.

Sambil makan siang, kami berbincang sedikit dengan suami-istri pemilik warung perihal jalan menuju Subang. Alhamdulillah, mereka mengatakan bahwa jalan menuju Subang melalui Cupunagara yang akan kami lewati ini relatif sudah bagus dibandingkan jalanan sebelumnya. “Sebenarnya jalannya sempat tertutup dua minggu lalu karena longsor, tapi sekarang sudah bisa dilewati, jalannya juga sudah aspal kok sudah bagus,” katanya.

Mendengar hal seperti itu tentu saya sumringah. Saya dan teman-teman lainnya langsung meneruskan perjalanan melewati pegunungan yang berkelok-kelok dengan kondisi jalanan yang… ya, tidak lebih buruk dari jalur kami sebelumnya. Saya tekankan, tidak lebih buruk. Selain itu, kami melewati banyak titik longsor yang dibicarakan pemilik warung. Demi deh, saya sedikit merinding dan ketakutan, membayangkan longsoran yang bisa saja menimpa kami sewaktu-waktu. Lalu, seperti yang sudah diduga, hujan turun di tengah perjalanan. Padahal saya dan Tegar sudah sempat bercakap-cakap, “Wah, untung engga hujan. Kalau hujan, ini jalanan pasti udah licin banget dan gatau deh ini longsornya gimana!” Apa daya, kami kan tidak bisa menahan hujan turun.

Berbekal do’a dan tekad, kami meneruskan perjalanan di tengah derasnya hujan di balik pegunungan. Pemandangan bekas longsoran yang luar biasa besar di banyak titik membuat saya berdo’a semakin kencang dalam hati. Saya hanya ingin pulang ke rumah dengan selamat bersama dengan teman-teman. Itu saja. Tak terpikirkan lagi hal-hal lain.

Pohon tumbang sempat memutus akses jalan sementara

Di tengah kekhusyuan berdoa, laju motor kami sempat berhenti karena kerumunan teman-teman di depan. Semua turun dari motornya. Lalu, hal mengerikan yang saya takutkan terjadi. PEPOHONAN TUMBANG. Ya, pepohonan tumbang karena tanah tergerus hujan dan MEMUTUS satu-satunya akses jalan. Saya merinding disko dibuatnya. Teman-teman dan beberapa warga yang juga mau melintas lalu bahu-membahu menyingkirkan pohon tersebut. Teman saya yang ada di barisan depan sempat trauma, “maju sedikit, mungkin aku sudah tertimpa pohon, Chik!” Sungguh, maut tak ada yang tahu kapan datangnya. Tapi, berkat perjuangan dari teman-teman, kami dapat lolos dan memasuki Kota Subang dengan selamat dan utuh.

Sambil menyesap secangkir kopi dan menikmati keindahan perkebunan teh Ciater, kami beristirahat di warung kopi pinggir jalan sambil saling bercerita mengenai kesan perjalanan hari itu. Berbagai macam perasaan, kesan, dan pesan berhamburan di sesi sharing ini.

Pemandangan perkebunan teh Ciater dari warkop tempat singgah

Sungguh, perjalanan pertama saya menyusuri rute ini merupakan pengalaman yang membuat saya tak henti-hentinya membacakan ayat Kursi sepanjang jalan. Lucu juga kalau diingat. Banyak perjalanan ekstrim dan melelahkan yang telah kami lalui, tapi pengalaman yang saya alami dalam perjalanan ini tak akan pernah dapat terlupakan.

Bagi yang mau melihat video perjalanan kami, silahkan cek di bawah ini:

 

 

Tautan asli: http://chalnotes.blogspot.co.id/2016/07/menantang-maut-maribaya-subang-di-bulan.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s