Sumenep, Permata di Ujung Timur Pulau Garam

Oleh: Moch. Fathonil Aziz (@aziztony)

Sumenep yang merupakan kabupaten paling timur di pulau garam memang menyimpan banyak peninggalan sejarah. Ditempuh kurang lebih selama 4 jam dari ibukota provinsi Jawa Timur, yaitu Kota Surabaya dengan melewati ikon fenomenal Jawa Timur yaitu Jembatan Nasional Suramadu. Sama seperti kota-kota di Jawa pada umunya, Sumenep menganut sistem tata kota Catur Gatra Tunggal di mana keraton, masjid agung, dan pasar berada pada 1 komplek dengan dengan alun-alun sebagai pusatnya. Meskipun Sumenep merupakan sebuah kerajaan bawahan dari kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit dan Mataram, namun Sumenep dibangun dibangun dengan lebih besar dan mewah dibanding kerajaan-kerajaan bawahan lain. Hal ini dikarenakan Sumenep sejak dulu termasuk dalam kategori “mancanegara”. Hal lain mungkin dikarenakan perlakuan istimewa akibat jasa-jasa Arya Wiraraja dalam membantu leluhur Majapahit, yaitu Raden Wijaya.

 

Sebagai awal perjalanan kali ini, saya mengunjungi Keraton Sumenep. Keraton Sumenep ini lebih lengkap dan besar jika dibanding rumah-rumah kediaman bupati di seantero Pulau Jawa dan Madura, namun masih sangat jauh jika dibanding Keraton Surakarta dan Yogyakarta yang  merupakan pusat dari kebudayaan Jawa. Berbeda pula dengan keraton-keraton lain yang secara posisi menghadap ke alun-alun, Keraton Sumenep dibangun di sebelah timur alun-alun dengan menghadap ke arah selatan. Hal ini diindikasikan untuk menghormati penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, yang menjadi legenda bukan hanya di tanah Jawa melainkan juga di Madura. Keraton Sumenep dibangun dengan gaya arsitektur campuran Jawa dan Tionghoa, serta sedikit gaya Eropa. Gaya Tionghoa sangat terasa di keraton karena hampir setiap bangunan di keraton menggunakan bubungan atap bergaya Tionghoa. Bahkan pendopo keraton yang dibangun dengan model joglo Jawa juga diberi nuansa Tinghoa pada ujung gentengnya. Hal ini dikarenakan arsitek yang membangun keraton adalah seorang Tionghoa bernama Lauw Piango yang mengungsi ke Sumenep pasca tragedi Geger Pecinan.

Keraton Sumenep sama seperti keraton pada umumnya dilindungi dengan pagar benteng yang mengelilinya. Pada benteng di muka keraton, terdapat suatu pintu gerbang masuk yang cukup megah. Gerbang tersebut terbuat dari kayu dengan daun pintu yang cukup besar berbentuk melingkar di bagian atas. Pada bagian atas gerbang terdapat sebuah loteng yang digunakan untuk memantau musuh yang akan menyerang keraton.

tony1

Di belakang gerbang tersebut berdiri sebuah pendopo bergaya joglo jawa. Pendopo tersebut juga dikombinasikan denngan arsitektur gaya Tionghoa dengan bubungan yang dibentuk menyerupai rumah-rumah orang Tionghoa. Pendopo tersebut sampai saat ini masih sering dipergunakan, baik untuk acara kerabat keraton ataupun acara budaya yang biasanya diselenggarakan pada peringatan berdirinya Kabupaten Sumenep.  Dikarenakan waktu kunjungan yang sudah habis, jadi saya hanya bisa melihat-lihat bagian depan dari Keraton Sumenep saja.

tony2

Perjalanan dilanjutkan mengunjungi sisa dari stasiun KA Sumenep. Pada masa kolonial, Pulau Madura dibentangi rel KA mulai dari Kamal hingga Sumenep dan dijalankan oleh perusahaan bernama Madoera Stoomtram Maatschappij. Riwayat KA di Madura harus berhenti pada tahun 1987 akibat kalah bersaing dengan moda transportasi lain. Seiring dengan matinya jalur KA di Madura, stasiun-stasiun yang dilewati pun kini terbengkalai. Stasiun KA Sumenep pun kini hilang hamper tak berbekas. Sisa-sisa yang masih dapat dijadikan bukti bahwa stasiun KA Sumenep pernah berdiri di lahan tersebut adalah sebuah menara air yang digunakan untuk menjalankan lokomotif uap pada masanya. Kini stasiun tersebut sudah berubah menjadi gedung Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sumenep.

tony3

Tempat selanjutnya yang dikunjungi adalah Asta Tinggi. Asta Tinggi merupakan komplek pemakaman raja-raja Sumenep. Asta Tinggi terletak di sebuah perbukitan sehingga memungkinkan untuk melihat jauh hingga ke daerah pantai. Karena posisinya ini Asta Tinggi pernah digempur oleh tentara Inggris karena disangka istana Raja Sumenep. Asta Tinggi dibangun bersamaan dengan Keraton dan Masjid Jamik oleh Panembahan Somala. Selain Asta Tinggi, di bukit tersebut juga terdapat beberapa komplek pemakaman bangsawan lain, namun masih di bawah Asta Tinggi. Asta Tinggi sampai sekarang masih ramai dikunjungi peziarah, baik dari Pulau Madura maupun Pulau Jawa.

tony4

Asta Tinggi terbagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian utama dengan sayap kanan dan kiri. Sebelum memasuki bagian utama terlebih dahulu kita melewati sebuah gerbang yang sangat megah. Gerbang ini dibangun dengan beton dengan daun pintu dari kayu dan sangat kental dengan gaya Eropa. Sekilas jika kita lihat, gerbang ini hampir serupa dengan Amsterdam Port di Batavia. Selanjutnya kita harus melewati sebuah tembok di balik gerbang yang digunakan sebagai aling-aling. Tembok ini sangat kaya dengan relief tumbuh-tumbuhan. Pada bagian depan depan tembok terpampang sebuah prasasti yang ditulis dalam aksara Jawa, sedangkan pada bagian dalam prasasti ditulis dalam aksara Arab.

Di bagian utama terdapat sebuah bangunan berkubah dengan gaya arsitektur perpaduan Eropa dan Arab. Pada bangunan tersebut terdapat makam Panembahan Somala dengan beberapa kerabatnya. Di depan bangunan utama terdapat 3 cungkup yang terdiri 2 cungkup kembar kanan kiri dan 1 cungkup di samping cungkup kembar sebelah kanan.

Sayap kanan memiliki memiliki luas yang lebih besar dibanding bagian utama dan terdiri dari bagian luar dan dalam. Pada bagian luar terdapat makam-makam dari kerabat keraton dengan sebuah pendopo di bagian tengah. Pada bagian dalam terdapat 3 cungkup utama yang sering dikunjungi oleh para peziarah. Ketiga cungkup tersebut memiliki gaya arsitektur yang berbeda satu sama lain. Ketiga cungkup tersebut adalah cungkup Bindara Saod di sebelah kiri, cungkup Pangeran Pulang Djiwo di sebalah kanan, dan cungkup Pangeran Jimat di belakang cungkup Pangeran Pulang Djiwo.

tony7

Kondisi sayap kiri adalah yang paling berbeda. Kompleks ini cukup sepi dikunjungi peziarah.

Ada suatu cerita yang berkembang di lingkungan Asta Tinggi, yaitu adanya suatu makam yang disembunyikan identitasnya. Konon makam tersebut adalah pusara dari Pangeran Diponegoro. Hal ini didasarkan naskah Babad Sumenep. Saya sendiri belum mengetahui di mana lokasi makam tersebut.

Waktu sudah menunjukkan masuk waktu sholat Maghrib, saatnya saya menjejakkan kaki di Masjid Agung Sumenep atau orang sekitar lebih sering menyebut dengan istilah Masjid Jamik.  Hal yang paling istimewa dari masjid ini dan yang membuatnya terkenal adalah gerbang masuknya. Gerbang ini dibangun dengan sangat megah dan anggun dengan perpaduan warna kuning dan putih yang merupakan warna khas dari Keraton Sumenep. Di depan sebelah kanan gerbang tersebut berdiri sebuah tugu kecil. Tugu ini merupakan tugu peringatan 1 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Memasuki gerbang tersebut, di sebelah kiri dapat kita temukan sebuah jam matahari atau yang biasa bagi orang jawa disebut Bencet.

tony8

Berjalan semakin ke dalam, kita akan melewati serambi masjid dan kemudian memasuki ruang sholat utama. Untuk memasukinya kita terlebih dahulu akan melewati sebuah pintu kayu dengan ukiran-ukiran khas bergaya Madura dengan warna dasar hijau lumut. Ruang sholat utama ini berbeda dengan masjid tradisional jawa pada umumnya karena tidak ditopang 4 soko guru, melainkan sebuah soko tunggal di bagian tengah dengan 12 soko lain yang mengelilinginya. Ruang sholat ini hanya digunakan untuk jama’ah pria, sedangkan untuk jam’ah wanita menggunakan pawestren sebagai tempat sholat. Ruang sholat ini memiliki atap tumpang bersusun 3. Pada bagian depan terdapat sebuah mihrab dengan bentuk setengah lingkaran dengan relief yang indah. Mihrab tersebut diapit mimbar dan maksura di kanan kiri dengan bentuk yang serupa. Maksura adalah tempat sholat yag diperuntukkan bagi raja.

tony9

Hal lain yang cukup unik pada Masjid Agung Sumenep dibanding masjid-masjid lain di Pulau Jawa dan Madura adalah keberadaan menaranya. Menara masjid tidak terletak di bagian timur masjid, melainkan di bagian barat masjid.

tony10

Mungkin tidak banyak yang tempat bersejarah yang bisa dikunjungi pada perjalanan yang sangat singkat itu. Sumenep adalah kota yang sudah sangat tua yang menyimpan banyak harta karun berharga peninggalan masa lalu. Miris ketika mengetahui banyak pemuda Sumenep yang tidak mengetahui cerita di balik tempat-tempat yang sebenarnya menyimpan sejarah berharga kotanya.

#PojokKAA2015: Madrawi – Kisah Keluarga dan Tanah Harapan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN0703Fadly Badjuri, kakek berusia 108 tahun itu tengah membakar rokok kreteknya yang pertama. Sementara Abdul Fatah, anaknya yang bungsu sedang sibuk melayani pembeli. Tak lama kemudian Abdul Fatah masuk ke dalam rumah dan menyuguhkan minuman mineral dalam gelas, “sama bapak mah ngobrol aja ya.” Kemudian dia keluar lagi sebab ada yang hendak makan di warung nasinya.

Dengan alat bantu dengar yang terpasang, Fadly kemudian bercerita. Komunikasi hampir berjalan satu arah, sebab alat bantu dengar ternyata tak begitu banyak membantu pendengaran seseorang yang usianya sudah lebih dari satu abad.

Siapa Fadly Badjuri?

Jelang peringatan Konperensi Asia Afrika yang ke-60, nama-nama pelaku dan saksi sejarah penyelenggaran KAA yang pertamakali di tahun 1955 menuai banyak sorotan. Salahsatunya adalah Madrawi, nama dan pemilik rumah makan yang pernah meyuplai makanan untuk para delegasi KAA angkatan mula-mula. Lalu apa hubungannya dengan Fadly Badjuri? Baca lebih lanjut

Halim Perdanakusumah, Berjuang dari Udara

Oleh : Vecco Suryahadi, dengan tambahan dari Ghera Nugraha dan Arya Vidya Utama

Abdul Halim Perdanakusumah atau Halim Perdanakusumah lahir pada tanggal 18 November 1922 di Sampang, Madura. Halim memiliki ayah bernama Haji Abdul Gani Wongsotaruno dan ibu bernama Asih yang merupakan istri ke tujuh. Halim juga memiliki adik yang kelak juga berkarir di Angkatan Udara, yaitu Makki Perdanakusumah, dan nantinya juga menjadi Direktur PT Dirgantara Air Service. Makki sendiri menikah dengan Indriati Iskak, anggota Tiga Dara dan anak dari seniman R. Iskak.

Halim Perdanakusuma

Halim Perdanakusuma

Dikarenakan pekerjaan ayahnya yang seorang Patih di Sumenep, beliau mendapat pendidikan yang mengarahkan dirinya sebagai pamongpraja. Pendidikan pertamanya yakni HIS pada tahun 1928. Kemudian MULO pada tahun 1935. Lalu MOSVIA Magelang pada tahun 1938. Tapi dikarenakan perang dunia kedua, Halim yang tingkat dua diharuskan mengikuti wajib militer.

Kehidupan Halim setelah perang kedua berubah. Pemerintah Hindia Belanda menempatkan Halim di Surabaya sebagai opsir torpedo. Dikarenakan ketahuan oleh Jepang di Perairan Cilacap, armada yang ditumpangi Halim kalah telah. Beberapa awak – awak armada laut termasuk Halim diselamatkan oleh kapal Inggris. Kapal inggris membawanya ke Australia kemudian India.

Di India, Halim bertemu dengan Laksamana Mounbatten. Saat itu, Halim ditawari pendidikan militer di Eropa oleh Mounbatten. Lanjutlah kehidupan militernya di Kanada sebagai anggota AU Kanada sebagai navigator. Tahun 1943, Halim ke Inggris sebagai Flight lieutenant dan terlibat 44 serangan udara di Jerman dan Perancis.

Setelah perang dunia usai, Halim yang tergabung tentara sekutu ditangkap oleh TRI di Kediri. Setelah itu dilepaskan oleh Amir syarifudin yang saat itu sebagai Menteri Pertahanan. Halim diminta oleh Amir syarifudin untuk melatih angkatan perang udara RI.

Halim memberikan arahan kepada anakbuahnya.

Halim memberikan arahan kepada anakbuahnya.

Tahun 1947, Halim ditugaskan untuk membina angkatan udara di Sumatera. Pada tanggal 14 Desember 1947, Halim, Ishwahyudi, dan penumpang berkebangsaan Australia bernama Keegan terbang ke Bangkok untuk mengantarkan Keegan pulang dan membeli persediaan untuk militer Indonesia. Dalam perjalanan pulang, pesawat Halim jatuh di Pantai Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Tidak ada kepastian alasan jatuhnya. Jasad Halim dikebumikan di Tanjung Hantu pada tanggal 14 Desember 1947. Namun pada 10 November 1975, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Iswahyudi

Iswahyudi

Halim meninggalkan seorang istri bernama Kosadelina, dan seorang putra bernama Ian Santoso Halim Perdanakusumah. Ian kelak juga mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi anggota TNI Angkatan Udara.

Sisi lain dari peristiwa jatuhnya pesawat Halim adalah misteri keberadaan Iswahyudi. Ketika pencarian, tim pencari tidak bisa menemukan jasad Iswahyudi. Maka ISwahyudi pun dimakamkan secara simbolik (tanpa jasad) di TMP Kalibata. Ada legenda yang menyatakan Iswahyudi masih hidup dan menjadi aktivis komunis Malaysia. Legenda ini timbul ketika seorang wartawan Malaysia meliput perjanjian gencatan senjata di Haadai antara Pemerintah Malaysia dan Partai Komunis Malaysia, ia menyatakan melihat seseorang indonesia yg mirip Iswahyudi.

Sumber :

Www.Tni-au.mil.id/content/halim-perdanakusuma

Ajisaka, Arya; Damayanti, Dewi. 2010. Mengenal Pahlawan Indonesia. Jakarta: Kawan Pustaka

Achmad Juniarto, Tangguh Sutjaksono, Ardiatmiko dan Nunik Sumasni. . Abdul Halim Perdanakusuma. Pahlawan Nasional dan Tokoh AURI yang Gugur Dalam Tugas. Diakses via dianrana-katulistiwa.com/halim_pk.pdf