Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Di Jalan Braga, měh pahareup-hareup pisan jeung rěstoran Braga Permai, aya toko buku nu ngaranna Toko Buku Djawa. Kira dua minggu katukang, basa babaturan kuring—wanci haneut moyan, ngaliwat ka hareupeun ěta toko, cenah katingali aya sababaraha jalma nu keur ngangkutan buku jeung majalah. Sabab teu pati yakin, nya isukna kuring … Lanjutkan membaca Pileuleuyan Toko Buku Djawa
Aleut, Beriringan Memaknai Sejarah
Minggu, 8 Maret 2015 | 12:47 WIB BERANGKAT dari kegelisahan terhadap kondisi kota, Komunitas Aleut di Bandung belajar bersama-sama mengenali sejarah. ”Ngaleut” artinya berjalan beriringan. Maka, komunitas tersebut kerap ”ngaleut” menyusuri situs penting. Mereka membuat jargon ”Ngaleut: tjara asjik mengenal Bandoeng”. Aleut dalam bahasa Sunda berarti sekelompok orang yang berjalan berbanjar atau beriringan sebagaimana … Lanjutkan membaca Aleut, Beriringan Memaknai Sejarah
#InfoAleut: Mapay Jalan Satapak
Hari Minggu (08/03/2015) kita akan... "Mapay Jalan Satapak". Mari bersama-sama mencari tahu tentang kawasan perumahan di dekat Sungai Ci Kapundung.Seperti apa kondisi perumahan di daerah ini? Apa kerajinan khas di sini? Seperti apa arsitektur kolonial di daerah ini? Mari kita cari tahu bersama! Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul dekat Titik Nol Kilometer Bandung (Jl. Asia-Afrika) … Lanjutkan membaca #InfoAleut: Mapay Jalan Satapak
Dua Dunia Trans7: Tebing Keraton
Setelah kunjungan terakhir pada bulan November 2014, hari Rabu, 5 Maret 2015, saya kembali ke Cadas Gedogan atau yang sekarang menjadi terkenal dengan nama Tebing Keraton. Kunjungan kali ini untuk keperluan sebuah program televisi, Dua Dunia dari Trans7. Belakangan ini saya beberapa kali diminta tim program ini menjadi narasumber untuk liputan beberapa lokasi di sekitar … Lanjutkan membaca Dua Dunia Trans7: Tebing Keraton
Kolot Jagjag, Tumpak Kuda, jeung Sababaraha Hal nu Can Běrěs
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Poe Ahad kamari (1 Maret 2015), basa ulin ka sababaraha taman nu aya di Kota Bandung, kuring jeung Akang Něběngers (maksudna budak anggota Něběngers, hampura poho deui ngaranna), manggihan hiji nini-nini nu yuswana geus 81 taun. Si Emak (nini-nini ěta) keur ngaběrěsan runtah botol jeung gelas palastik urut inuman di Taman … Lanjutkan membaca Kolot Jagjag, Tumpak Kuda, jeung Sababaraha Hal nu Can Běrěs
Tjilakiplein, Kini Telah Berubah
Saat mendengar nama “Cilaki”, sekarang ini mungkin warga Bandung lebih mengenalnya sebagai nama jalan yang membentang di sisi timur Komplek Gedung Sate hingga ke sekitar Taman Persib. Jalan ini berparalel dengan Jl. Cisangkuy, yang saat ini lebih dikenal dengan kekiniannya karena menjadi sentra kue cubit green tea. Padahal sampai awal tahun 2000-an, selain nama jalan … Lanjutkan membaca Tjilakiplein, Kini Telah Berubah
Inggit Garnasih dalam Foto Bersejarah
Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi) Sepi… Begitulah kesan pertama yang tertangkap ketika menginjakkan kaki di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan no 5, Bandung. Padahal menurut informasi yang diperoleh, tanggal 24-28 Februari 2015, diselenggarakan Pameran Foto dan Artefak Bersejarah Ibu Inggit Garnasih. Memasuki gedung, saya disambut oleh dua orang yang bertindak sebagai penerima tamu. … Lanjutkan membaca Inggit Garnasih dalam Foto Bersejarah
Ngawanohkeun Maněh di Radio Ardan
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Poě Seněn kamari, tegesna ping 23 Pěbruari 2015, kuring jeung opat babaturan nu sějěn ti Komunitas Aleut diondang ku Radio Ardan pikeun ngeusi hiji acara nu diběrě jejer #BdgBgt (Bandung Pisan). Saenyana ěta těh lain nu munggaran pikeun Komunitas Aleut mah, sabab saměměhna kungsi ogě diondang ku Ardan dina waktu … Lanjutkan membaca Ngawanohkeun Maněh di Radio Ardan
#InfoAleut: Ngaleut Tjilakiplein
#InfoAleut Hari Minggu (01/03/2015) kita akan... "Ngaleut Tjilakiplein". Mari bersama-sama mengenal dan mencari tahu mengenai lingkungan sekitar taman yang dulunya bernama Tjilakiplein ini. Apa saja yang dijual di sekitar taman ini? Bagaimana kebersihannya? Apa saja yang bisa kita lihat di taman ini? Mari kita cari tahu bersama 😀 Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di Masjid … Lanjutkan membaca #InfoAleut: Ngaleut Tjilakiplein
Diskriminasi Sepotong Siomay
Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho) Rasa lapar sepulang ngaleut membawa saya menuju freezer kulkas begitu tiba di rumah. Tak jelas apa yang sebetulnya dituju, toh kalau memang saya lapar, masakan siang ini sebetulnya sudah tersedia di meja makan. Rupanya saya butuh udara dingin, mengingat siang hari ini cuaca luar biasa terik. Setelah beberapa menit udara … Lanjutkan membaca Diskriminasi Sepotong Siomay
Silih Beulit jeung Oray Naga
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) “Bangsa urang jeung Cina těh harita mah asa dalit pisan. Bisa jadi pědah hirupna sarua papada susah. Anyeuna mah beunang disebutkeun euweuh Cina nu daragang ngider atawa ngawarung gowěngan těh. Bisa jadi anakna atawa turunna jaradi jalma jugala.” (Us Tiarsa dina buku Basa Bandung Halimunan) Naha enya kitu tina urusan … Lanjutkan membaca Silih Beulit jeung Oray Naga
Siapakah Chabanneau? – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (3)
Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (3) Siapakah Chabanneau? Ada informasi yang cukup mengejutkan ketika menelusuri jejak literatur yang menyinggung nama Chabanneau ini. Seorang antropolog, James T Siegel, menguak kabar bahwa ternyata sang penulis roman sesungguhnya adalah seorang pemeras. Cuplikan pemuatan artikel ini (bagian 3) di HU Pikiran Rakyat, Selasa, 17 Februari 2015. Dalam buku Siegel … Lanjutkan membaca Siapakah Chabanneau? – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (3)
Merekam Denyut Nadi Pusat Kota – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (2)
Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (2) Merekam Denyut Nadi Pusat Kota Membaca roman Rasia Bandoeng karya Chabanneau dapat membawa kita melancong ke pusat Kota Bandung pada periode awal 1916 dengan deskripsi yang cukup detail. Tampak kuat sekali kesan bahwa mobilitas orang-orang Tionghoa saat itu berada di pusat-pusat kota. Misalnya kediaman tokoh utama roman, yaitu Tan … Lanjutkan membaca Merekam Denyut Nadi Pusat Kota – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (2)
Kawin Semarga di Bandung Baheula – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1)
Berikut ini saya muatkan artikel bersambung tulisan rekan saya, Lina Nursanty, yang membahas sebuah roman baheula dengan latar cerita Kota Bandung di awal abad ke-20. Selamat membaca! Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1) Kawin Semarga di Bandung Baheula Pengantar: Roman lahir untuk melukiskan perbuatan, watak, dan isi jiwa sang tokoh yang lebih banyak membawa sifat-sifat zaman. “Rasia … Lanjutkan membaca Kawin Semarga di Bandung Baheula – Seri Tionghoa Bandung dalam Roman (1)
Cadas Gedogan atau Tebing Keraton
Ada juga yang menyebutkan keberadaan petilasan seorang Prabu di bawah tebing, dekat lokasi Gadogan (Gedogan) Kuda dan Curug Ci Kiih Kuda. Gadogan Kuda adalah tempat menambatkan kuda-kuda kerajaan halus itu.