Inggit Garnasih dalam Foto Bersejarah

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Pameran Foto Inggit Garnasih

Foto: Komunitas Aleut

 

Sepi… Begitulah kesan pertama yang tertangkap ketika menginjakkan kaki di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan no 5, Bandung. Padahal menurut informasi yang diperoleh, tanggal 24-28 Februari 2015, diselenggarakan Pameran Foto dan Artefak Bersejarah Ibu Inggit Garnasih. Memasuki gedung, saya disambut oleh dua orang yang bertindak sebagai penerima tamu.

“Apa benar di tempat ini sedang Pameran Foto dan Artefak Bersejarah Ibu Inggit Garnasih?”   

Ruang pamer foto tak kalah sepi, hanya terlihat dua orang pengunjung yang sedang mengabadikan suasana ruang pamer utama. Seperti judulnya, Pameran Foto dan Artefak Bersejarah Ibu Inggit Garnasih, yang ditampilkan adalah dokumentasi foto-foto ibu Inggit selama hidup serta beberapa artefak berkaitan dengan beliau.

Selesai berkeliling, saya dipertemukan oleh panitia dengan ketua pelaksana acara tersebut, Gatot Gunawan, dari Komunitas Kelompok Anak Rakyat (LOKRA). Gatot, begitu sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa acara Pameran Foto dan Artefak Bersejarah Ibu Inggit Garnasih merupakan rangkaian acara dari Bulan Cinta Inggit Garnasih. Secara singkat, Gatot menjelaskan kaitan Bulan Cinta Inggit Garnasih dengan acara Pameran Foto dan Artefak Bersejarah Ibu Inggit Garnasih.

Bulan Cinta Inggit Garnasih merupakan suatu bentuk rasa kepedulian generasi muda terhadap perjuangan Inggit Garnasih. Rasa kepedulian tersebut diwujudkan dengan kegiatan sosialisasi tentang Inggit Garnasih di Car Free Day Dago, pada tanggal 1 Februari. Tak hanya sosialisasi, dalam kesempatan tersebut juga didekralasikan Bulan Februari sebagai  “Bulan Cinta Inggit Garnasih” oleh delapan komunitas yaitu Kawaya Seniman Bandung, Masyarakat Pencak Silat Indonesia, Lingkung Seni Reak Tibelah, Bumi Adat Gotrabimekas, Komunitas Kibaraya, Komunitas Nyusur Histori, Komunitas API dan BEM Fisip UNPAD. Rangkaian kegiatan berlanjut dengan ziarah ke makam Ibu Inggit Garnasih di Porib tanggal 14 Februari, serta pemberian gelar Ibu Agung kepada Inggit Garnasih yang secara simbolis diterima oleh alih waris, Bapak Tito Zeni Asmara Hadi.

Bertepatan dengan hari lahir Ibu Inggit, 17 Februari 2015, dilaksanakan upacara bendera di Gedung Indonesia Menggugat. Setelah upacara bendera, juga diadakan pertunjukan tari di Sungai Ci Kapundung. “Warga Babakan Ciamis seharian ikut mengibarkan bendera merah putih di rumah masing-masing. Ini membuat kami terharu,” ujar Gatot.

Rangkaian Bulan Cinta Inggit Garnasih ditutup dengan Pameran Foto dan Artefak Bersejarah Ibu Inggit Garnasih yang diselenggarakan pada tanggal 24-28 Februari. Pembukaan pameran foto secara simbolis dilakukan dengan pemotongan pita oleh juru pelihara Rumah Bersejarah Ibu Inggit Garnasih, juru pelihara Situs Penjara Soekarno, juru pelihara Gedung Indonesia Menggugat, dan juru pelihara makam Inggit Garnasih. Menurut Gatot, sosok juru pelihara seringkali terlupakan dalam kegiatan mengapresiasi sesuatu.

Siapakah sosok Inggit Garnasih?

Inggit Garnasih

Rekayasa foto oleh: Ridwan Hutagalung, diambil dari blog mooibandoeng.wordpress.com

 

Inggit Garnasih merupakan istri kedua presiden pertama Indonesia, Soekarno. Terlahir dari pasangan Ardjipan dan Amsi dengan nama Garnasih, singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, sosoknya tumbuh menjadi wanita yang hegar( segar menghidupkan) dan asih (penuh kasih sayang). Garnasih tumbuh menjadi gadis cantik sehingga ke mana pun ia pergi selalu menjadi perhatian pemuda. Tak jarang di antara mereka sering memberikan uang kepadanya hingga berjumlah seringgit. Orang-orang terdekat beliau memanggiilnya dengan sebutan Si Ringgit yang dipermanis menjadit Si Inggit.  Akhirnya, julukan inilah yang merangkai namanya menjadi nama yang indah, Inggit Garnasih.

Sekitar usia 12 tahun (1900) Inggit Garnasih memasuki gerbang perkawinan. Perkawinannya yang pertamanya dengan Nata Atmadja, seorang patih pada Kantor Residen Belanda, berakhir dengan perpisahan. Lalu, Inggit kemudian dilamar H Sanoesi, pedagang kaya dan sukses, yang juga tokoh Sarekat Islam Jawa Barat dan salah satu kepercayaan HOS Tjokroaminoto, Ketua Umum Sarekat Islam di Surabaya. Bagi Inggit, perkawinan keduanya merupakan awal kehidupan memasuki dunia politik dan pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Kehidupan rumah tangga Inggit dengan H Sanoesi berjalan mulus dan penuh kasih sayang, sampai ketika seorang pemuda bernama Soekarno datang dengan berbekal surat dari HOS Tjokroaminoto. Dalam surat itu Tjokroaminoto meminta keluarga H Sanoesi mencarikan Soekarno indekosan dalam rangka studi di THS.  Karena tidak menemukan indekos yang sesuai, akhirnya Soekarno kos di rumah H Sanusi. Hal ini pulalah yang menimbulkan prahara cinta di antara H Sanoesi, Soekarno, dan Inggit. Soekarno jatuh cinta pada Inggit, begitu juga sebaliknya. Penyelesaian dan kesepakatan antara ketiganya ibarat sebuah mimpi dalam kenyataan. H Sanoesi dengan segala keikhlasan hatinya menceraikan Inggit demi tujuan luhur untuk mendampingi Soekarno yang diyakininya akan memimpin dan memerdekakan Indonesia.

Rekayasa foto oleh: Ridwan Hutagalung, diambil dari blog mooibandoeng.wordpress.com

Rekayasa foto oleh: Ridwan Hutagalung, diambil dari blog mooibandoeng.wordpress.com

24 Maret 1923, Inggit dan Soekarno menikah di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung.. Sejak itulah Inggit mendampingi Soekarno dalam kehidupan perkawinan, dunia politik, serta pergerakan kemerdekaan Indonesia yang lebih luas dibanding sebelumnya. Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923. Replika Surat nikah tersebut juga ikut dipamerkan dalam cara ini  Tak hanya itu, dalam pameran ini juga dipamerkan dua buah batu pipisan yang digunakan Ibu Inggit untuk meracik bedak atau ramuan jamu guna memenuhi kebutuhan hidup selama menikah dengan Soekarno.

Setidaknya terdapat, 68 foto ukuran masing-masing 12R atau sekitar 30 x 40 sentimeter persegi tengah berkisah tentang penggalan hidup Inggit Garnasih dari aktif di Sarekat Islam, masa-masa mendampingi Soekarno hingga kehidupan masa-masa tuanya. Di antara foto tersebut, terdapat foto Ibu Inggit duduk berdampingan dengan Ibu Fatmawati yang diambil tahun 1980. Foto tersebut merupakan foto yang diambil ketika Ibu Fatmawati beserta keluarga berkunjung ke rumah ibu Inggit Garnasih setelah mereka tidak bertemu selama 39 tahun.

Inggit dan Fatmawati, setelah sekian lama tak bertemu

Inggit dan Fatmawati, setelah sekian lama tak bertemu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s