Diskriminasi Sepotong Siomay

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Seporsi Siomay (Bukan Ilustrasi Kreatif, Sumber: harianlampung.co.id)

Rasa lapar sepulang ngaleut membawa saya menuju freezer kulkas begitu tiba di rumah. Tak jelas apa yang sebetulnya dituju, toh kalau memang saya lapar, masakan siang ini sebetulnya sudah tersedia di meja makan. Rupanya saya butuh udara dingin, mengingat siang hari ini cuaca luar biasa terik. Setelah beberapa menit udara dingin freezer berhembus ke muka yang bercucuran keringat, terlihat ada satu kotak kecil siomay. “Kayaknya enak nih!”, teriak saya dalam hati.

***

Siomay, sekarang ini lebih dikenal sebagai kuliner khas Bandung. Setidaknya itu yang saya temui setiap main ke Jakarta. Abang-abang penjual siomay seringkali menaruh embel-embel “Bandung” di gerobak atau pikulannya.  Padahal jika kita merunut lagi lebih jauh, siomay ini merupakan makanan yang berasal dari negeri Tirai Bambu.

Siomay berasal dari kata shumai. Shumai awalnya berbahan dasar daging babi yang dicampur dengan udang kemudian dibungkus dengan adonan tipis yang terbuat dari terigu. Siomay yang kita kenal saat ini umumnya terbuat dari ikan tenggiri. Ada beberapa variasi siomay, seperti di dalam dunia dim sum. Siomay di dunia dim sum tebuat dari udang, yang berkulit warna kuning lazim disebut… siomay udang, sedangkan siomay yang terbuat dari udang dibungkus kulit berwarna putih atau bening dikenal dengan nama hakkau.

Siomay kini sudah menjadi salah satu warisan kuliner Nusantara, yah setidaknya itulah yang jadi jargon salah satu kecap yang rutin mengadakan festival jajanan. Harga siomay bervariasi, mulai dari yang harganya Rp 2.000,00 untuk 3 potong siomay sampai yang (katanya) berkualitas dengan harga Rp 15.000,00 per potongnya. Sebagai salah satu penggemar siomay, buat saya kuantitas is numero uno. Makanya jangan heran kalau badan saya seramping ini.

***

Entah kenapa, di siang yang panas ini siomay dalam freezer mengingatkan saya pada salah satu bentuk diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Siomay sejatinya adalah kuliner khas Tionghoa yang menjadi favorit rakyat Indonesia setelah berakulturasi, tapi dalam kenyataan kadang masih saja ada perbedaan perlakuan antara etnis Tionghoa dan etnis non-Tionghoa yang masih saya lihat dan rasakan hingga saat ini.

Pada awal kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia di masa penjajahan, mereka sebetulnya hidup berdampingan dan berhubungan baik dengan warga pribumi.  Jurang pemisah pertama kali dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda karena kedekatan ini dianggap berpotensi memperkuat warga pribumi dan membuat Pemerintah Hindia Belanda kesulitan menanganinya. Jurang ini sukses dibuat. Orang Tionghoa diposisikan sebagai perantara perdagangan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan pribumi.

Toh pada saat masa persiapan kemerdekaan, warga etnis Tionghoa kembali merapat ke warga pribumi. Pemilik rumah di Rengasdengklok, tenpat penyekapan Soekarno dan Hatta, merupakan etnis Tionghoa. Belum lagi diyakini ada beberapa etnis Tionghoa yang membantu persiapan kemerdekaan Indonesia. Kehidupan yang harmonis ini berlangsung hingga menjelang berakhirnya masa Orde Lama.

Keharmonisan ini mulai rapuh pada saat Peristiwa Gerakan 30 September. Banyak warga etnis Tionghoa yang terdaftar sebagai anggota Partai Komunis Indonesia dibantai secara massal. Pembantaian ini berlangsung secara membabi buta. Saking membabibutanya, banyak juga mereka yang sebetulnya bukan anggota PKI ikut menjadi korban.

Saat rezim Orde Baru berkuasa, keadaan semakin memburuk. Etnis Tionghoa dilarang (walaupun tak secara tertulis) untuk menjadi anggota ABRI maupun menjadi PNS. Jurang pemisah pun semakin lebar. Di Bandung misalnya, jurang pemisah ini melebar pada tahun 1970-an karena insiden antara tukang delman dengan warga beretnis Tionghoa yang berujung menjadi kerusuhan etnis.

Di akhir rezim Orde Baru, kembali warga beretnis Tionghoa menjadi korban. Entah apa kaitan antara krisis ekonomi tahun 1998 dan mundurnya Soeharto setelah 32 tahun berkuasa, tapi keduanya berujung pada terjadinya penjarahan masal. Kejadian paling besar terjadi di Jakarta. Banyak toko yang dijarah dan kemudian dibakar. Untuk menyiasatinya, banyak toko yang menempel label “Milik Pribumi” di depan toko. Belum lagi banyak warga etnis Tionghoa yang menjadi korban kebrutalan aksi ini. Ah, meskipun saat itu saya baru berumur 7 tahun, tapi memori ini menjadi memori buruk bagi saya, apalagi setelah mendengar kesaksian korban di berbagai media.

***

Buat saya, diskriminasi etnis seperti ini, apapun etnisnya, seharusnya tak lagi terjadi. Toh kita semua ber-KTP Indonesia, toh sila ketiga kita berbunyi “Persatuan Indonesia”, toh 87 tahun yang lalu pemuda berbagai etnis pernah berkumpul untuk menyerukan Sumpah Pemuda. Bukankah kita semua satu tanah air?

Perut saya mulai berbunyi. Sepertinya siomay yang nangkring di freezer ini memang harus dikukus dan masuk ke perut saya.

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/02/25/diskriminasi-sepotong-siomay/

Iklan

Satu pemikiran pada “Diskriminasi Sepotong Siomay

  1. Kalau diperhatikan lagi secara detail, interaksi kaum Cina dengan pribumi tidaklah semanis itu. Secara kronologis, Interaksi prakolonial dilalui dengan hubungan yang cenderung egaliter, baik secara ekonomi maupun politik.

    Setelah era kolonial, interaksi itu dikotak-kotakkan dengan berbagai peraturan kependudukan. Hubungan kaum Cina dengan pribumi dengan sendirinya berjarak akibat kesenjangan politis, dan terutama, ekonomi.

    Begitu pula dalam era pergerakan di akar rumput. Pendirian Syarikat Dagang Islam, sebagai embrio Syarikat Islam, memiliki motif persaingan dagang dengan para pedagang Cina. Pedagang Cina juga menjadi “musuh” dari ISDV hingga PKI. Memang antar elit politik dan ekonomi, ada beberapa tokoh Cina yang ikut aktif dalam pergerakan, baik dalam golongan nasionalis, sosialis, maupun komunis.

    Dalam Orde Lama, hubungan ini di golongan akar rumput dan elit cukup membaik dan egaliter, namun hingga Orde Baru, para pengusaha besar keturunan Cina banyak mendapat previlege dalam menjalankan usahanya.

    Sebenernya kalau mau dibedah, akan cukup panjang untuk mendapatkan kesimpulannya, karena kita harus melihat dari beberapa level of analysis.

    But actually, this is a good start!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s