Aleut, Beriringan Memaknai Sejarah

 

Komunitas Aleut berfoto bersama di depan Masjid Cipaganti, Bandung.

Komunitas Aleut berfoto bersama di depan Masjid Cipaganti, Bandung (Arsip Komunitas Aleut)

Minggu, 8 Maret 2015 | 12:47 WIB

BERANGKAT dari kegelisahan terhadap kondisi kota, Komunitas Aleut di Bandung belajar bersama-sama mengenali sejarah. ”Ngaleut” artinya berjalan beriringan. Maka, komunitas tersebut kerap ”ngaleut” menyusuri situs penting. Mereka membuat jargon ”Ngaleut: tjara asjik mengenal Bandoeng”.

Aleut dalam bahasa Sunda berarti sekelompok orang yang berjalan berbanjar atau beriringan sebagaimana para petani beramai-ramai melintasi jalan setapak. Ini pula yang kerap dilakukan Komunitas Aleut. Mereka beriringan keliling kota. Trotoar dan gang-gang dalam perkampungan di Kota Bandung yang semakin sempit memaksa mereka berjalan berbanjar seperti orang antre.

Belasan anggota Komunitas Aleut pernah menjelajahi situs-situs sejarah China Town di Bandung dengan berjalan berderet menelusuri jalan-jalan sempit atau trotoar. Mereka mengunjungi Masjid Al-Imtijaz milik komunitas Muslim Tionghoa di Jalan ABC dekat Sungai Cikapundung. Lalu mengelilingi daerah Pasar Baru. Ngaleut berakhir di Wihara Satya Budhi di Jalan Kelenteng. Mereka melihat dan menelisik perkembangan etnis Tionghoa di Bandung hingga mereka fasih berbahasa Sunda. Serta, cara mereka bertahan hidup. Dalam setiap kegiatan, mereka berdiskusi kemudian menyampaikan ulang dalam bentuk tulisan.

Adalah Ridwan Hutagalung, Direktur Program Radio Mestika FM Bandung, yang semula mencetuskan acara ”Afternoon Coffee” di radionya. Sepekan sekali acara ini menyajikan wawasan sejarah Kota Bandung yang sebagian besar bersumber dari buku karya Haryoto Kunto, Wadjah Bandoeng Tempo Doeloe.

Pada pertengahan 2005, mahasiswa baru Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran mengikuti ospek. Panitia mengusulkan agar ospek kali ini tidak lagi bernuansa kekerasan. Muncullah gagasan mengunjungi situs-situs sejarah Kota Bandung dengan melibatkan Ridwan. Acara ini rupanya mendapat respons bagus dari para mahasiswa baru. Dari situ muncul gagasan mendirikan komunitas yang kemudian pada 2006 resmi bernama Komunitas Aleut. Bentuk acaranya masih sama, jalan-jalan keliling kota untuk mengetahui lebih jauh tentang situs-situs sejarah.

”Awalnya hanya sekadar mengobati penasaran dengan keterangan yang dijelaskan dalam buku sejarah Haryoto Kunto,” kata Ridwan. Belakangan referensi mereka makin berkembang, termasuk buku karya Us Tiarsa dan beberapa buku lain yang membincang sejarah Jawa Barat, khususnya Bandung.

Rupanya, anggota Aleut banyak menemukan data menarik dari warga sekitar yang justru tidak ada di dalam buku sejarah. Misalnya, ketika mereka berkunjung ke kawasan Braga, mereka tiba di Kampung Affandi. Di dalam buku sejarah tidak pernah mereka jumpai asal-muasal nama kampung ini. Namun, warga menjelaskan bahwa dahulu kala hidup tuan tanah yang memiliki tanah luas di Braga, namanya Haji Affandi. Maka, kampung itu bernama Kampung Affandi.

Belajar menulis

Aleut kemudian mencoba merangsang anggotanya untuk belajar menulis, menulis apa saja yang mereka temukan selama ngaleut. Semula, mereka hanya menulis apa yang ditemui dan dipersepsi tentang situs sejarah. Lalu, mereka mencoba menulis dengan menggunakan literatur sehingga tulisan tentang situs sejarah itu lebih berbobot. Untuk menambah kualitas tulisan, Aleut menggelar sejenis workshop menulis. Para anggota Aleut dipersilakan untuk memperdalam kemampuan menulisnya dengan bimbingan beberapa anggota Aleut lain yang menjadi mentor.

Koordinator Komunitas Aleut, Arya Vidya Utama, menunjukkan beberapa buku karya pegiat Komunitas Aleu

Koordinator Komunitas Aleut, Arya Vidya Utama, menunjukkan beberapa buku karya pegiat Komunitas Aleut (KOMPAS/Mohammad Hilmi Faiq)

Tulisan-tulisan anggota Aleut ini kemudian diunggah ke blog Aleut di https://aleut.wordpress.com. Blog ini menjadi salah satu blog komunitas paling aktif. ”Sekarang ada sekitar 600 tulisan yang semuanya karya anggota Aleut,” kata Arya Vidya Utama, koordinator Komunitas Aleut. Bahkan, beberapa anggota Komunitas Aleut menulis buku. Saat ini sedikitnya ada enam buku hasil karya mereka, baik karya perseorangan maupun keroyokan.

Tak hanya menulis, Aleut bereksperimen dengan mengambil sudut lain dalam memahami situs sejarah. Dalam beberapa kesempatan, mereka melakukan uji berdasarkan ilmu fisika dan kimia untuk mengetahui fenomena tertentu di sekitar situs sejarah. Misalnya, ketika mereka menemukan fakta adanya lapisan kecoklatan dan mengilap mirip minyak di atas air danau di sekitar lokasi M Toha tewas. M Toha merupakan pahlawan yang menggunakan badannya untuk menutup granat yang dilempar Belanda.

”Meskipun kami belum mendapatkan jawaban yang jelas, eksperimen seperti ini sangat layak dicoba. Kalau tidak salah sudah dua kali kami melakukan eksperimen serupa,” kata Ridwan.

Eksperimen tersebut juga untuk menggugah anggota Aleut dalam mengukur seberapa berguna ilmu mereka jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anggota komunitas adalah mahasiswa teknik, matematika, keguruan, dan bahasa dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Pasundan, serta Universitas Telkom. (MOHAMMAD HILMI FAIQ)

 

Tautan asli: http://travel.kompas.com/read/2015/03/08/124700627/Aleut.Beriringan.Memaknai.Sejarah

Iklan

Satu pemikiran pada “Aleut, Beriringan Memaknai Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s