“Spirit” Max I. Salhuteru dari Sinumbra-Sperata

“Spirit” Max Salhuteru dari Sinumbra-Sperata

Max I. Salhuteru | Photo Komunitas Aleut

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@alexxxari)

Seperti sudah jadi sebuah kewajiban atau fardhu setiap rombongan khafilah musyafir Komunitas Aleut berkelana ke Sperata-Sinumbra, Ciwidey, selalu singgah ke kue balok Bah Ason. Nama lengkapnya Sonbahsuni, letaknya jongkonya di pinggir pasar dekat perempatan Pabrik Sinumbra dengan jalan ke arah Perkebunan Nagara Kana’an. Jadi bukanlah fardhu ain atau fardhu kifayah tapi fadhu Bahsuni lebih tepatnya.

Di sebrang jongko kue balok Bah Ason terdapat sebuah mesjid yang pada dindingnya terpasang dua prasasti. Prasasti yang paling besar merupakan prasasti pendirian mesjid. Di sana tertulis beberapa nama yang telah berjasa dalam pendirian Mesjid. Namun yang paling menarik adalah terdapat satu nama yang rasanya bukan nama orang sunda, yakni Max I. Salhuteru. Baca lebih lanjut

Ngaleut Sinumbra: Bagian 2 (Sinumbra-Cipelah)

Oleh: Warna Sari (@rie1703) dan Chyntiami Ayu Dewi (@chyntiami)

Karena catatannya terlalu panjang, jadi tulisannya dibagi dua saja, masing-masing mewakili kegiatan satu hari. Berikut ini adalah kegiatan hari kedua, Minggu, 21 Mei 2017.

Baca juga: Ngaleut Sinumbra: Bagian 1 (Cibuni Estate)

Benar saja dugaan semalam, pukul 07.30 pagi, rumah ini sudah riuh, ada para penjual gorengan dan sarapan yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya, ada penjaja stoberi yang bolak-balik menawarkan stroberi dengan suara kencang dan tak mudah menerima jawaban “Henteu, Mang/Bu.” Beberapa bahan sarapan kami beli untuk dimakan bersama juga, ada nasi, sayuran, lauk-pauk, mie, berbagai macam camilan, dan entah apa lagi. Sambil sarapan, sebagian sudah bergantian menggunakan kamar mandi satu-satunya agar hemat waktu.

Setelah semua siap dan isi rumah sudah rapi kembali, kami sudah berada di atas motor lagi. Oya, walaupun kami menyewa rumah, membayar, tapi membersihkan rumah sudah jadi kewajiban bersama di Komunitas Aleut. Nah, balik lagi ke motor, jumlah peserta sudah bertambah dengan beberapa kawan yang datang susul-menyusul sejak sore kemarin, kami sudah mengarah ke Perkebunan Teh Sinumbra. Sama seperti kemarin, jalanan relatif sepi sehingga perjalanan lancar jaya sampai ke Pabrik Teh Sinumbra. Di jalur jalan ini kami berhenti sebentar menengok patung dada salah satu pejuang perkebunan yang sudah hampir terlupakan, Max Salhuteru. Kondisi patung dada ini semakin mengenaskan saja, pagar besi di depannya copot dan menimpa bagian kepala patung. Pihak sekolah tempat patung itu berada belum membetulkan pagar ini. Siapakah Max Salhuteru? Menurut cerita Bang Alek, Max adalah satu dari empat orang Indonesia yang bertugas mengambil alih perkebunan-perkebunan milik Belanda pada tahun 1957. Baca lebih lanjut

Ngaleut Sinumbra: Bagian 1 (Cibuni Estate)

Oleh: Warna Sari (@rie1703) dan Chyntiami Ayu Dewi (@chyntiami)

Ini catatan seadanya aja dari mengikuti kegiatan perayaan ulangtahunan Komunitas Aleut yang ke-11 tanggal 20 dan 21 Mei kemarin ke Sinumbra. Di dalam poster kegiatan yang selalu ada setiap minggu itu, judul Ngaleutnya memang begitu saja, “Ngaleut Sinumbra” ditambah keterangan kecil “Refleksi 11 Tahun Komunitas Aleut.” Pun engga banyak tambahan informasi tentang apa saja yang akan dilakukan selama di Sinumbra. Entah kegiatan seperti apa yang namanya refleksi itu. Paling-paling setelah bertanya langsung ke cp Aleut saja baru dapat sedikit bayangan, itu pun di ujung jawabannya ditambahkan keterangan “Ini rundownnya engga fix kok, bisa tiba-tiba berubah tergantung spontanitas di lapangan nanti.”

Okelah, saya putuskan saja untuk ikut Ngaleut Sinumbra ini. Paling engga, satu kegiatan sudah pasti bisa diikuti, yaitu Kelas Literasi pekan ke-94 yang diberi judul “Sejarah Perkebunan Teh.” Saya suka teh dan saya suka suasana perkebunan teh, dua hal ini sudah cukup jadi alasan buat mengikuti kegiatan Komunitas Aleut di Sinumbra. Lagi pula, seminggu ini pekerjaan di kantor bener-bener padat, dan mengikuti kegiatan Komunitas Aleut seperti biasanya sudah bisa jadi jaminan untuk refreshing yang menyenangkan. Iya, semua kegiatan Komunitas Aleut yang rutin setiap minggu itu memang selalu menyenangkan, nah apalagi kalo edisi spesial seperti ini.

Sabtu pagi, saya dan sekitar 18 kawan lain sudah siap berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut di Kedai Preanger, Jl. Solontongan 20-D Buahbatu, menggunakan 10 buah motor biasa, kebanyakan sih motor matik. Jalur yang akan kami lalui sudah diumumkan, yaitu Cibaduyut – Rancamanyar – Cilampeni – Ciwidey – Rancabali – Cibuni dan nanti akan ada kawan lain yang bergabung di sekitar Margahayu. Perjalanan di jalur yang sudah sangat umum ini sangat lancar, engga ada macet atau kepadatan kendaraan kecuali sedikit saja di pusat kota Ciwidey. Katanya jalur biasa ini dipilih supaya cepat sampai di Rancabali dan punya lebih banyak waktu eksplorasi daerah di sekitar perkebunan teh nanti. Baca lebih lanjut

John Berger atau Seni Momotoran ala Komunitas Aleut

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Riding has become a pas de deux.  Rider and road are partners dancing.  It can even happen that you fall in love.

  • John Berger

Kalau bulan bisa ngomong, dan motor bisa nulis. Sayangnya tidak. Kalau saja saya bisa merenungkan dan merumuskan pengalaman dan menuliskannya sebaik John Berger. Sayangnya belum. Tapi kalau sekadar berandai-andai, terus-terusan begitu, tak akan ada yang tercipta. Pengalaman momotoran tiap minggu selama sebulan kemarin hanya akan lenyap begitu saja. Tak akan ada yang tertuliskan.

Oke, pertama-tama siapa itu Berger? Singkatnya, dia itu kritikus seni, pelukis, novelis, dan penyair. Seorang intelektual dan humanis Marxis yang meninggal Januari 2017 kemarin, yang banyak pemikirannya akan terus hidup. Lalu apa hubungannya Berger dan motor? Dia juga seorang motoris. Tonton John Berger or The Art of Looking (2016), dan kita bakal melihat seorang aki-aki di usia 90 masih gagah naik motor gede Honda CBR1100XX alias Blackbird. Ini boleh diikuti atau tidak, saat tinggal di pedesaan Prancis, dia hobi membawa motor tadi di jalanan pegunungan Alpen dengan kecepatan tinggi. Yang pasti, beragam pemikirannya soal momotoran sesuatu yang enggak boleh dilewatkan.

Dalam Bento’s Sketchbook, Berger menyebut bahwa selama bertahun-tahun dia terpesona oleh hubungan paralel antara tindakan mengemudikan motor dan tindakan melukis. Hubungan itu mempesonanya karena bisa mengungkapkan suatu rahasia. Tentang apa? Tentang perpindahan dan penglihatan. Bahwa melihat membuat kita lebih dekat. Kamu mengendarai motor dengan matamu, dengan pergelangan tanganmu dan dengan bersandar pada tubuhmu. Matamu yang paling penting dari ketiganya. Motor mengikuti dan membelok ke arah apapun yang diarahkan. Ini menuruntukan penglihatanmu, bukan pikiranmu. Tidak ada pengemudi kendaraan roda empat yang bisa membayangkan ini. Jika kamu melihat dengan susah payah halangan yang ingin kamu hindari, ada risiko besar justru kamu akan menabraknya. Lihatlah dengan tenang jalan di hadapan dan motor akan menempuh jalan itu. Baca lebih lanjut

Ngaleut Citambur: Ketika Semuanya Terasa Pas

Oleh: Angie Rengganis (@angiesputed)

“Lihat banyak banget air terjunnya,” sahut Farhan menunjuk kearah pegunungan. Ada sekitar tiga air terjun ditemui di kawasan Desa Cipelah. “Tau gak film Point Break, itu loh yang tentang extreme sports, pas si Bodhi nya lompat jatuh dari air terjun Angel Falls di Venezuela,” tambah saya mengingat-ingat film yang pernah saya tonton. Ternyata Cianjur juga punya banyak air terjun yang gak kalah menarik untuk dijelajahi. Memasuki salah satu jalan di daerah Rawaeceng, kami harus dihadapkan dengan jembatan darurat yang dibuat dari kayu karena jalan tersebut sedang dalam perbaikan.

Beberapa motor sukses melewati jembatan. Sialnya saya dan Farhan terjatuh dari motor karena permukaan jembatan yang tidak rata dan licin. Motor TRX yang kami naiki jatuh menimpa salah satu kaki saya dan otomatis badan saya juga menimpa Farhan yang posisi jatuhnya diujung bibir jembatan. Dengan responsif, Farhan langsung berpegangan ke gagang jembatan dan segera menetralkan motor. Saya sedikit-sedikit berusaha mengeluarkan kaki yang tertimpa motor. Sebelum saya mengeluarkan kaki, beberapa teman dan warga setempat bergegas membantu kami berdiri. Bobot motor TRX terbilang ringan dan fleksibel digunakan di medan ekstrim, jadi kondisi jatuh tidak terlalu jadi masalah untuk motor tersebut. Tapi untuk kami, kecelakaan kecil tadi cukup mengagetkan. Baca lebih lanjut