Nasib Renta Teleskop Zeiss Bosscha Jelang Satu Abad

Lensa teleskop Carl zeiss Observatorium Bosscha. tirto.id/Irfan Teguh Pribadi

Lensa teleskop Carl zeiss Observatorium Bosscha. tirto.id/Irfan Teguh Pribadi
Polusi cahaya di Lembang kini menjadi tantangan terbesar bagi Observatorium Bosscha yang selesai dibangun 1928 atau 90 tahun lalu.
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Carl Zeiss lahir di Weimar, Jerman, pada 11 September 1816. Ia adalah pakar optik yang pada 1846 mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang sistem optik di Kota Jena. Perusahaan inilah yang pada 1921, dikunjungi oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang juragan perkebunan teh di Malabar, Bandung, Jawa Barat. Baca lebih lanjut

Berkunjung ke Rumah Bosscha!

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Saya termasuk orang yang suka dengan bangunan heritage. Apapun jenis maupun nilai yang dimiliki oleh bangunan tersebut. Saat tour mengenang K.A.R Bosccha tanggal 25 November 2017 lalu bersama mooi Bandung, saya berkesempatan untuk mengunjungi rumah Bosscha, salah seorang preanger planters yang paling berpengaruh di tanah priangan.

Rumah bergaya arsitektur eropa

Rumah ini terletak di tengah perkebunan teh Malabar, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kenapa disebut rumah Bosscha? Karena rumah ini merupakan kediaman dari Karel Albert Rudolf Bosscha selama ia memimpin perkebunan teh Malabar selama 30 tahun lebih.

Dari kejauhan terlihat bangunan paling mencolok diantara bangunan lain sekitarnya. Sebuah rumah bergaya arsitektur Eropa dengan cerobong menjulang dan pilar persegi serta kolom jendela melengkung. Bagian atap berbentuk segitiga mengadaptasi atap rumah tradisional. Batuan alam warna hitam pada dinding luar diberikan agar tidak terlihat kotor saat terkena debu atau cipratan tanah saat hujan. Dinding rumah yang terpasang kaca di hampir semua bagiannya, membuat cahaya bebas masuk ke dalam rumah.  Baca lebih lanjut

Wisata Pangalengan: Satu Hari Menyusuri Jejak Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung

 

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Nama Bosscha sangat lekat dengan sebuah tempat peneropongan bintang di kawasan Lembang. Nama tersebut diambil dari nama sang inisiator yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha. Selain membangun observatorium, Bosscha juga mengelola Perkebunan Teh Malabar di daerah Pangalengan, Bandung. Di Perkebunan Teh Malabar inilah Bosscha banyak menghabiskan masa hidupnya. Saat pendidikan belum menyentuh masyarakat, ia bangun sebuah sekolah. Saat Perkampungan masih gelap gulita, ia buat listrik menerangi setiap rumah. Saat penduduk sekitar tak memiliki penghasilan, ia kembangkan perkebunan teh yang dikelolanya hingga produk tehnya kini menjadi salah satu komoditas ekspor di Jawa Barat. Beberapa waktu lalu, team dari YourBandung mencoba menyusuri jejak yang ditinggalkan oleh Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung melalui sebuah tour wisata “one day trip to heart of the tea Pangalengan” yang diselenggarakan oleh Mooi Bandoeng.

Baca lebih lanjut

Berziarah ke Makam RE Kerkhoven

Oleh: Hevi Fauzan (@hevifauzan)

Rabu, 1 Maret 2017, untuk pertama kali, saya berkesempatan berziarah ke makan Kerkhoven di Gambung. Di sana, terdapat 3 makam, yaitu makam Rudolph Eduard Kerkhoven, Jenny, dan satu makam lagi yang kemungkinan sebagai tempat peristirahat pengasuh anak-anak mereka. Perjalanan ini terwujud bersama rekan-rekan dari Komunitas Aleut.

Perkebunan teh Gambung berada di Desa Cisondari, Kecamatan Pasir Jambu. Dari Bandung, tempat ini bisa diakses melalu jalan raya yang menghubungkan Soreang dan Ciwidey. Dari SPBU Pasirjambu, kita harus berbelok ke kiri, menuju Gunung Tilu.

Sempat dihentikan hujan dan berteduh di warung yang juga sebuah tempat penggilingan biji kopi, kami berempat masuk ke kompleks pusat penelitian teh dan kina. Setelah melewati pintu utama dan beberapa pos satpam, kami harus berhenti di dekat pabrik dan memarkirkan kendaraan di sana. Ternyata, untuk masuk ke makam, pengunjung harus membayar sekian rupiah. Pihak perkebunan memberikan list fasilitas apa saja yang bisa digunakan oleh pengunjung, termasuk list harga didalamnya. Untuk masuk ke kompleks makam Keluarga Kerkhoven yang letaknya terpencil di belakang, pengunjung harus membayar Rp 15.000 rupiah/orang bagi WNI dan 50.000/orang bagi non-WNI.

Sosok R.E. Kerkhoven bagi saya, menepiskan sosok para penjajah yang selalu digambarkan datang untuk mengeksploitasi alam Nusantara dan manusianya. Baca lebih lanjut

Sang Juragan Teh

Oleh : Hevi Fauzan* (@hevifauzan)

Buku ini menceritakan perjuangan seorang petani teh, Rudolf Eduard Kerkhoven, yang berhasil membuka lahan di Gambung, sebuah daerah di sebelah selatan kota Bandung. Mula-mula terbit tahun 1992.

Dalam bahasa Belanda, buku ini diberi judul “Heren Van de Thee”. Buku biografi ini disusun berdasarkan surat-surat koresponden sekitar pelaku utama, keluarga, dan para pemodal perkebunan. Walaupun berdasarkan fakta sejarah, namun uraian di buku ini mampu menghidupkan tokoh-tokohnya karena penuturannya lebih mendekati pada novel. Mungkin kita bisa menyebutkan buku ini sebagai novel sejarah non-fiksi.

Latar waktu peristiwa terjadi di sekitar akhir abad 19, ketika Priangan sedang beristirahat dari sistem Preanger Stelsel yang berlangsung selama 150 tahun. Di tahun 1870, UU Agraria yang mulai diberlakukan di Hindia Belanda membuat para pengusaha partikelir mulai memasuki Hindia, termasuk kawasan Priangan.

Priangan adalah daerah yang sangat cantik dan juga subur. Keadaan ini membuat Martinus Antonius Weselinus Brouwer mengatakan bahwa “Bumi Pasundan (Priangan) lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. Bagaimana tidak? Bagi Negeri Belanda, Priangan adalah anugerah. Sebelum menerapkan system tanam paksa (Cultuur Stelsel), VOC dan pemerintah Belanda terlebih dahulu mengeksploitasi Priangan lewat tanaman kopi dari tahun 1720.

Dalam buku disertasinya yang berjudul “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan Dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870”, Jan Breman menjelaskan bahwa keuntungan pemerintah Belanda dari tanam paksa di Jawa termasuk Priangan dari tahun  1831 sampai 1866 mencapai 500 juta Gulden, suatu jumlah yang mampu melunasi hutang sekaligus membuat Belanda mampu melakukan modernisasi dengan lebih leluasa.

Karena sangat mencintai Priangan dan daerah sekitarnya, pemerintah Hindia Belanda sangat memanjakan daerah ini. Misalnya saja, daerah ini merupakan daerah non-Pantai Utara yang dilalui Jalan Raya Pos Besar. Bandung, ibukota karesidenan Priangan dicalonkan sebagai bakal ibu kota Hindia menggantikan Batavia walaupun rencana ini kemudian gagal.

Bukti lainnya, provinsi Jawa Barat merupakan provinsi pertama yang dibuat pemerintah dibandingkan provinsi lainnya, terutama yang ada di Jawa, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jawa Barat dibentuk pada tahun 1926, sedangkan Jawa Timur di tahun 1929, dan Jawa Tengah tahun 1930. Priangan pun menjadi daerah yang dikuasai Belanda pasca perjanjian Renville (1948) yang membuat pasukan Siliwangi harus hijrah ke barat.

Kembali ke buku “Sang Juragan Teh”, Hella S. Haase—sang penyusun, merupakan penulis Belanda yang lahir di Batavia. Bukunya yang semula berbahasa Belanda dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dicetak oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama di tahun 2015, dan mempunyai ketebalan 430 halaman. Sampulnya menggambarkan seorang pria dengan gagah berkuda melewati perkebunan teh, didominasi warna hijau dan coklat, dua kombinasi warna pepohonan dan tanah.

Perjalanan hidup Rudolf Eduard Kerkhoven setelah dia mendarat di Jawa, yaitu membuka perkebunan, membina keluarga dan mengurus anak-anaknya, sampai terakhir dia meninggalkan Gambung diceritakan dengan cukup baik dan informatif. Gaya penerjemahan buku ini pun sangat baik sehingga saya tidak mendapatkan kesulitan ketika membaca buku ini dalam edisi bahasa Indonesia.

Buku ini memupuskan bayangan saya bahwa orang Belanda yang datang ke Nusantara tinggal menikmati hasil alamnya, tanpa harus bekerja keras, terus berfoya menikmati harta hasil eksploitasi mereka. Bayangan ini pupus setelah membaca kehidupan pria yang lahir di Avereest, Belanda , 25 April 1847 itu, yang disusun penulis sebagai suami, ayah, dan pengusaha yang baik. Dia digambarkan sebagai sosok idealis yang menjauhi sifat hura-hura.

Selain itu, buku ini menggambarkan bagaimana sistem modal berjalan di perusahaan-perusahaan teh Priangan. Diceritakan, bahwa Rudolf Eduard Kerkhoven membangun perkebunan tehnya dengan tanaman modal dari rekan dan keluarganya, sehingga untuk melakukan perubahan struktur keuangan misalnya, suami dari Jenny Elisabeth Henriete Roosgaarde Bisschop–salah satu cicit Gubernur jendral Daendels ini, harus berusaha keras memperoleh ijin dari para pemodal.

Kehidupan masyarakat Sunda, terutama etos kerja mereka disinggung sedikit di buku ini, juga pemandangan alam sekitar Gambung. Buku ini juga bercerita bagaimana transportasi sebelum masuknya jalur kereta api di Priangan. Perjalanan dari Gambung ke Bogor dan Batavia harus dilalui dengan menggunakan kereta kuda menyusuri Jalan Raya Pos dalam waktu yang lama. Dalam buku ini diceritakan bagaimana jalur Bandung-Cianjur memakai kereta kuda menghabiskan waktu 16 jam perjalanan.

Buku ini cocok bagi pecinta sejarah, utamanya bagi pembaca yang mencari biografi seorang pengusaha teh di Hindia Belanda karena menceritakan perkembangan awal perkebunan teh. Selain itu, kisah ini layak untuk dijadikan bahan dalam mempelajari kehidupan sosial, ekonomi, bahkan transportasi Hindia Belanda sebelum masuknya jalur kereta api ke Priangan.

Di atas itu semua, buku “Sang Juragan Teh” kiranya bisa dinikmati oleh siapa saja; untuk sekadar mengusir kesepian, sambil menikmati secangkir teh, di malam yang berhiaskan rintik dan rintih hujan. [ ]

  • Hevi Fauzan lebih senang memposisikan dirinya sebagai Bobotoh Persib. Berminat pada dunia per-keretaapi-an, dan bergiat di Komunitas Aleut.

 

Tautan asli: https://pustakapreangerblog.wordpress.com/2015/12/17/sang-juragan-teh/

Tudung Lampu Sang Penyelamat Bosscha

Oleh: Deris Reinaldi

20150516_083924

Kian hari penduduk Indonesia teruslah meningkat, tentu saja ada korelasinya dengan kebutuhan ekonomi dan pemukiman yang meningkat. Dunia seakan semakin sempit dan penuh sesak yang bisa juga disebut heurin ku tangtung. Bumi yang semakin hari semakin tua mulai menghadapi berbagai macam permasalahan akibat peningkatan laju penduduk dan ekonomi. Salah satu masalah yang dihadapi dunia adalah polusi cahaya. Polusi ini tidak bisa dielakkan dari kehidupan ini karena pengaruh teknologi yang digunakan masyarakat.

Polusi cahaya ini berpengaruh terhadap pengamatan benda-benda langit di Observatorium Bosscha. Dahulu dengan mudah benda langit dapat diamati di Observatorium Bosscha, tapi sekarang begitu sulit untuk mengamatinya. Maka dari itu, pihak Observatorium memulai aksinya untuk mengurangi polusi cahaya agar Observatorium Bosscha tetap bisa dijadikan obyek pengamatan benda langit. Aksinya berupa pembagian tudung lampu kepada setiap rumah-rumah penduduk sekitar Observatorium Bosscha.

Saat membuat tudung lampu

Saat membuat tudung lampu

 Pihak Observatorium Bosscha telah membagikan 300 tudung lampu ke setiap rumah sekitar Observatorium Bosscha pada Februari lalu. Dalam pembuatan tudung lampu ini, dananya berasal dari pengunjung Observatorium Bosscha. Biaya pembuatan per tudung lampu terbilang murah, hanya dengan Rp. 10.000,00 saja. Pembuatan tudung lampu cukup sederhana dan mudah, tinggal mengetahui petunjuknya.

Baca lebih lanjut

Komunitas Aleut: Diajar Sejarah Sabari Leuleumpangan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN5195

Mun seug dibandingkeun jeung kota-kota nu aya di basisir kayaning Jakarta, Cirebon, Semarang jeung Surabaya, Bandung mah kaasup kota nu kaitung anyar kěněh. Tapi angger wě sok sanajan kitu, ari nu ngaranna kota mah pasti miboga sejarah. Kiwari di Bandung aya sababaraha komunitas nu sok nalumtik ajěn inajěn sejarah Bandung ku cara nu leuwih popilěr. Salahsahijina nyaěta Komunitas Aleut.

Naon ari Komunitas Aleut těh? Kumaha kagiatanna? Baca lebih lanjut

Beda Nasib Observatorium Mohr dan Observatorium Bosscha

Oleh: Kedai Preanger (@KedaiPreanger)

observatorium mohr 1

Gambar di atas merupakan observatorium abad ke-18 milik Tuan Mohr di Glodok yang berlokasi di dekat Klenteng Ji Den Yuen, Petak Sembilan, Batavia. Ketika Kapten Cook memperbaiki Kapalnya Endeavour di Pulau Onrust, Batavia, dia mencatat mengenai Observaturium Johan Mauritz Mohr ini. Lewat Observatorium miliknya, Pastor Mohr mengamati Transit Venus. Misi yg sama juga diemban oleh James Cook, di samping misi utamanya menemukan Benua di belahan Selatan. Nasib observatorium ini berakhir di tangan bencana alam.  Baca lebih lanjut

Bosscha dan Social Entrepreneurship

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

kar bosscha social entrepreneur

Foto asli: Koleksi Troppenmuseum

Jika tak ada kebijakan CSR, akankah sebuah perusahaan mendermakan sebagian pemasukannya? Secara prinsip ekonomi mustahil, ini disebut pemborosan, kecuali pendermaan tadi termasuk dalam bagian promosi.

Namun tentunya sebagai bagian dari masyarakat, mereka yang diberi kelebihan rezeki dibebankan sebuah tanggung jawab sosial untuk menyisihkan sebagian kekayaannya. Dan ya, pengusaha menjadi salah satu kekuatan dalam memajukan sekitar. Homo homini lupus, manusia memang menjadi serigala bagi sesamanya, namun jangan lupakan bahwa dasar kita adalah sebagai hewan yang bermasyarakat. Baca lebih lanjut

Rel Kereta Api memiliki Arti

Oleh: Alek alias @A13Xtriple

Semenjak suka ikut-ikutan jalan-jalan dengan @KomunitasAleut, saya jadi terpacu dan senang memperhatikan detail setiap benda, terutama benda-benda lama yang memiliki nilai sejarah. Benda-benda tersebut tak lagi hanya menjadi benda mati tanpa arti, namun memiliki cerita di dalamnya. Dalam beberapa minggu di akhir bulan September dan awal bulan Oktober 2013 @KomunitasAleut mengadakan rangkaian perjalanan yang juga berhubungan dengan sejarah perkembangan kereta api di Bandung dan wilayah sekitarnya.

Pada tanggal 21 September 2013 saya mengikuti survey untuk kegiatan reguler @KomunitasAleut, rutenya mulai dari Lapangan Sidolig (Stadion Persib), Kosambi, hingga Parapatan Lima, di rute ini kami melewati pintu perlintasan Kereta Api Kosambi. Pada pintu perlintasan tersebut ada sebuah pos penjaga yang halamannya dipagari menggunakan bilah rel kereta api bekas yang dicat dengan warna biru dan putih. Saya perhatikan pada bilah rel itu terukir tulisan nama dengan deretan angka. Pada pagar rel di pos perlintasan ini dapat kita temukan beberapa rel yang bertuliskan KRUPP 1883 dan KRUPP 1890. Tulisan yang serupa juga ditemukan pada potongan rel kereta yang digunakan sebagai tiang net lapangan volleyball di dekat bekas stasiun kereta api Soreang (KRUPP 1890). Yang terakhir ini adalah bagian dari kegiatan @KomunitasAleut menyusuri jalur rel kereta api Soreang-Banjaran pada tanggal 28 September 2013.

Dalam penyusuran itu, kami melewati daerah Citaliktik di sisi jalan raya Soreang-Banjaran. Di situ kami menemukan bekas rel kereta api yang menggantung di atas tanah. Saat saya perhatikan, terdapat tulisan CARNEGIE USA 1919 SS. Tulisan serupa juga ditemukan pada pagar pos perlintasan kereta api di Kosambi dalam kegiatan Jelajah Kawasan Kosambi pada tanggal 6 Oktober 2013, tulisannya CARNEGIE USA 1920 SS.

Saya juga menemukan tulisan CARNEGIE USA 1921 SS di sisa rel dekat bekas stasiun kereta api Cikajang (+1246m), Garut. Yang ini saya dapatkan saat mengikuti kegiatan Jelajah Kawasan Perkebunan di Priangan, tanggal 12-14 Oktober 2013. Pada sekitar daerah bekas stasiun kereta api Cikajang, Garut, ini juga ditemukan tiang dari bekas rel kereta api yang bertuliskan KRUPP 1890.

Perkembangan dan masuknya jalur-jalur kereta api khususnya di daerah Bandung dan Priangan lagi-lagi tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih perkebunan-perkebunan di tanah Priangan. Beberapa tahun setelah keluarnya Undang-Undang Agraria (1870), daerah Priangan menjadi terbuka bagi para pemilik modal yang ingin membuka dan menanamkan modal mereka di sektor perkebunan swasta di Hindia. Hal ini tentu saja memacu laju pertumbuhan jumlah perkebunan. Priangan di masa itu memiliki sebanyak 150 perkebunan atau 80% dari jumlah total perkebunan di seluruh Hindia Belanda. Pada tahun 1902, di Hindia Belanda terdapat 100 pekebunan teh, 81 perkebunan terletak di Priangan. Sedangkan perkebunan kina ketika itu berjumlah 80 perkebunan, dan 60 di antaranya terletak di Priangan. Kebanyakan perkebunan-perkebunan tersebut berada di kawasan pergunungan Priangan.

Tentu bisa dibayangkan sumbangsih sektor perkebunan Priangan bagi pemasukkan pemerintah Belanda. Sebagai gambaran besarnya sumbangan sektor perkebunan Priangan, hasil ekspor produk perkebunan kina Priangan pada tahun 1939 sebanyak 12.391 ton atau 90% dari seluruh produksi kina dunia. Karena besarnya sumbangan sektor perkebunan daerah Priangan dengan produk-produk ekspor unggulan di pasar dunia seperti teh, kopi, kina, dan karet, tak heran bila daerah ini mendapatkan prioritas untuk pembukaan jalur kereta api. Jalur kereta api ini tentu saja untuk mempermudah, memperlancar dan mempercepat pergerakan barang dan modal di daerah ini.

Memang sebelumnya sudah ada jalur jalan Onderneming yang dibangun pemerintah Hindia sebagai sarana transportasi hasil-hasil bumi dari program Tanam Paksa atau Cultuurstelsel. Salah satu hasil Revolusi Industri adalah penemuan kereta api uap yang membuat sistem transportasi menjadi lebih cepat dan efisien. Akhirnya Bandung mendapatkan akses jalur kereta api pada tahun 1884, lalu Bandung-Ciwidey, dan jalur kereta api ke Cikajang pada tahun 1890. Jalur ke daerah Bandung selain memudahkan pengangkutan hasil-hasil perkebunan, juga dalam rencana jangka panjang adalah sebagai sarana pendukung pemekaran Gemeente Bandoeng pada tahun 1919.

Jalur kereta api ke Ciwidey dibangun juga untuk memfasilitasi transportasi hasil perkebunan di daerah pedalaman (hinterland), tempat perkebunan-perkebunan besar seperti N.V. Assam Thee Onderneming Malabar (milik Preangerplanter K.A.R. Bosscha), atau perkebunan teh “Gamboeng” dan “Ardjasari” milik sepupu K.A.R Bosscha, Ir. Rudolf Eduard Kerkhoven. Di Cikajang, Garut, ada perkebunan teh Waspada (Bellevue) milik K.F. Holle atau perkebunan karet Boenisari Lendra, dll.

Masa jaya perkebunan kolonial sudah berlalu, banyak lintasan kereta api saat ini sudah tidak lagi beroperasi. Banyak juga artefak sejarah kereta api yang tertinggal dan masih dapat ditemukan, misalnya bilah-bilah rel seperti yang sudah diceritakan di atas. Bilah-bilah rel termasuk yang masih mudah dan banyak ditemukan di sekitar jalur mati atau di pos-pos perlintasan seperti di Kosambi itu.

Lalu apa makna nama Krupp atau Carnegie yang tercetak pada bilah-bilah rel itu?

Krupp adalah nama pabrik pembuat rel tersebut, sedangkan 1883 adalah angka tahun pembuatan rel tersebut. Tahun yang sangat menarik karena bertepatan dengan meletusnya Gunung Krakatau. Krupp adalah perusahaan baja Jerman yang terkenal memproduksi seamless railway tires atau roda (rel) kereta api tanpa sambungan yang terkenal anti retak. Rel buatan Krupp sangat terkenal walaupun harganya tinggi. Kualitasnya sangat baik. Rel Krupp juga digunakan pada jaringan rel kereta api di Amerika Serikat sejak sebelum Perang Sipil, karena pada saat itu pabrik-pabrik di Amerika Serikat belum mampu memproduksi baja dalam kapasitas besar dan dengan kualitas yang sebaik itu.

Dari 100.000 ton jalur kereta yang digunakan di Amerka Serikat pada tahun 1869, hanya 5000 ton berasal dari pabrik-pabrik baja di Amerika, sisanya diproduksi oleh parik baja di Sheffield, Inggris, dan oleh pabrik Krupp, Jerman. Pemasukan pabrik baja Krupp pada tahun 1860-an, 92% diperoleh dari penjualan di luar negeri/ekspor. Tak heran jika jalur rel kereta api di Hindia Belanda, khususnya di Priangan, juga menggunakan rel dari Krupp.

Produk rel ini dikembangkan oleh Alfred Krupp (1812-1887), anak pendiri pabrik baja Krupp, Friedrich Krupp. Alfred harus berhenti sekolah pada usia 14 tahun untuk melanjutkan operasi pabrik baja Krupp setelah Friedrich meninggal pada tahun 1824. Alfred mengembangkan teknik cast steel pada tahun 1841 yang kemudian dia patenkan. Teknik ini sebelumnya dikenal hanya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan baja di Inggiris, khususnya di perusahaan–perusahaan baja di daerah Sheffield.

Kemajuan produksi pabrik baja Krupp juga diuntungkan ketika Napoleon melakukan blokade laut terhadap Inggris. Sehingga Krupp menjadi pemasok baja utama di Eropa. Alfred mengembangkan perusahaannya dengan membeli peleburan-peleburan baja, tambang-tambang besi, dan membeli cadangan biji besi. Pada tahun 1858, Krupp membuat senjata ketika memperoleh kontrak dari Kerajaan Prusia.

Seperti sebagian Preangerplanters, Krupp juga sangat peduli pada kesejahteraan karyawannya. Krupp menyediakan perumahan bagi para pekerjanya atau bagi para pensiunan dari pabriknya. Krupp menyediakan asrama bagi pegawainya yang masih lajang, asuransi kesehatan, program tunjangan pensiun, koperasi, dan sekolah teknik untuk memperoleh tenaga kerja yang terampil.

Lalu ada CARNEGIE. Carnegie adalah nama perusahaan pembuat rel tersebut, USA adalah negara asal perusahaan, 1920 angka tahun pembuatan, sedangkan SS adalah singkatan dari Statspoorwagen/Perusahaan Kereta Api Negara. Statspoorwegen adalah perusahaan yang menjadi operator untuk transportasi kereta api di wilayah Priangan. Kantor pusat SS berada di Bandung pada tempat yang dulunya merupakan Grand National Hotel. Yang menarik adalah membahas perusahaan pembuat rel kereta api tersebut, Carnegie Steel Company.

Perusahaan ini didirikan tahun 1892 oleh Andrew Carnegie. Ia meraih sukses dengan menciptakan metode peleburan baja yang efisien dan menghasilkan baja dengan kualitas yang baik. Pada tahun 1900-an, produksi baja Amerika Serikat melampaui produksi baja Inggris, dan sebagian besar produksi tersebut berasal dari pabrik yang dimiliki oleh Andrew Carnegie. Pada tahun tahun 1901 Andrew Carnegie menjual perusahaannya senilai $480 juta, untuk kemudian menjadi perusahaan baja “US Steel”. Dari uang tersebut, Carnegie membuat donasi untuk berbagai kegiatan amal, perpustakaan, lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, sekolah, universitas, hingga menyumbang bagi pembangunan Hooker Telescope di Observatorium Mount Wilson. Mirip dengan sifat dermawan K.A.R. Bosscha, pemilik perkebunan Malabar di Pangalengan, Bandung.

Dari kedua potongan rel kereta api tadi, dapat pula kita menyimpulkan perkembangan perusahan baja dunia. Bahwa sebelum tahun 1900, produksi baja dunia dikuasai oleh produk-produk baja dari Inggris (Sheffield) dan Eropa (Krupp). Baru setelah Perang Sipil Amerika, produksi baja negara tersebut mengalami kemajuan yang memuncak pada awal tahun 1900. Saat itu produksi baja Amerika Serikat dapat melampaui produksi baja Inggris.

Copy of SAM_1313

Copy of SAM_1309

Copy of SAM_1921

Copy of SAM_1919

Copy of SAM_1830

SAM_1815