Momotoran Nyaba ka Pangalengan: Bosscha dan Makamnya.

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh : Wildan Aji

‘t Oude moedertje zat bevend

Op het telegraafkantoor

Vriend’lijk sprak de ambt’naar

Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor

Trillend op haar stramme benen

Greep zij naar de microfoon

En toen hoorde zij, o wonder

Zacht de stem van hare zoon

(Potongan lirik lagu “Hallo Bandoeng” – Wieteke van Dort)

Sebelum mengikuti kegiatan momotoran ke kawasan perkebunan teh di Pangalengan pada hari Sabtu pagi lalu, saya mendengarkan sebuah lagu berjudul “Hallo Bandoeng” yang dinyanyikan oleh Wieteke van Dort. Lagu ini rasanya cocok sekali untuk menemani perjalananku kali ini bersama rombongan Komunitas Aleut. Rasanya seperti akan kembali melihat masa lalu Bandung dan kawasan sekitarnya.

Anggota rombongan yang berangkat ada 14 orang menggunakan 8 motor yang berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut di Jalan Pasirluyu Hilir, Buah Batu. Ketika waktu menunjukkan pukul 11.30, kami tiba di kawasan Perkebunan Teh Malabar, setelah sebelumnya mampir dulu ke bekas perkebunan kina di Cinyuruan, Kertamanah, dan ke Pusat Penelitian Teh & Kina di Chinchona, Cibeureum.

Perkebunanan Teh Malabar tentunya sudah tidak asing lagi sebagai tempat wisata. Perkebunan ini bisa dibilang paling terkenal dan merupakan salah satu penghasil teh terbesar di dunia pada masanya dengan kapasitas produksi mencapai 1.200.000 kg/tahun. Sejak era Hindia Belanda produksi teh dari Perkebunan Malabar sangat terkenal dan produksinya dijual di pasar Eropa. Produksi teh hitam menggunakan metode orthodox dan hanya memakai tiga pucuk terbaik. Dengan metode ini proses pengolahan teh tidak dicacah namun digiling sehingga dapat menghasilkan citarasa teh yang lebih nikmat mengalahkan kualitas teh dari Tiongkok dan Srilanka yang saat itu juga menguasai pasar Eropa. Hingga saat ini Perkebunan Teh Malabar masih beroperasi dan konsisten menghasilkan teh dengan kualitas ekspor. Untuk proses pemasarannya, 90% produksi perkebunan teh ini untuk ekspor dan hanya 10% yang dipasarkan di dalam negeri.

Di balik suksesnya Perkebunan Teh Malabar hingga ke mancanegara tentunya ada tokoh yang punya jasa. Yupp, dialah Karel Albert Rudolf Bosscha, administratur Perkebunan Teh Malabar selama kurang lebih 32 tahun. Di bawah pegelolaan pria kelahiran Den Haag, Belanda 15 Mei 1865 tersebut, Perkebunan Teh Malabar dapat berkembang pesat dan menjadi teh kualitas nomor satu di dunia mengalahkan teh dari Tiongkok dan Srilanka.

Perkebunan Malabar sesaat sebelum diguyur hujan lebat. Foto: Aleut.

Semasa hidupnya, KAR Bosscha banyak sekali memberikan kontribusi bagi pembangunan Kota Bandung. Ia juga sangat memperhatikan kesejahteraan dan pendidikan bagi keluarga karyawan pribumi yang bekerja di perkebunannya. Menurut Penuturan Teh Rani (Koor. Komunitas Aleut), salah satu bentuk perhatian KAR Bosscha adalah dengan mendirikan sekolah dasar yang bernama Vervoloog Malabar. Sekolah ini didirikan untuk memberi kesempatan belajar secara gratis bagi kaum pribumi, khususnya anak-anak karyawan dan buruh di Perkebunan Teh Malabar agar mampu belajar setingkat sekolah dasar selama empat tahun. Walaupun sekolah ini memiliki kualitas di bawah sekolah untuk orang belanda, namun sekolah ini sangat berjasa bagi dunia pedidikan kaum pribumi di Pangalengan saat itu. Untuk buruh perkebunannya, Bosscha membangun rumah-rumah bedeng yang layak. Dari ratusan rumah bedeng di masa Bosscha, hanya satu saja yang masih tersisa di kawasan perkebunan ini.

Selain itu Teh Rani menambahkan informasi bahwa K.A.R Bosscha juga meninggalkan banyak sekali peninggalan yang bermanfaat dan masih dapat dilihat sampai saat ini di penjuru Kota Bandung, di antaranya Observatorium Bosscha,  Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), Rumah Sakit Hasan Sadikin, Rumah Sakit Mata Cicendo, Gedung Merdeka, Wisma Khusus Tunanetra (Wyata Guna) dll. Dan atas jasanya bagi pembangunan Kota Bandung maka pada tahun 1928 K.A.R Bosscha dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama Kota Bandung dengan upacara kebesaran yang dilakukan oleh Gemeente Kota Bandung.

Kembali ke cerita perjalanan. Sekitar 5 menit berkendara dari gapura masuk kawasan Perkebunan Teh Malabar, kami tiba di makam KAR Bosscha. Biaya tiket untuk memasuki kawasan makam Bosscha yaitu Rp. 5000 per orang. Para peserta Ngaleut Momotoran APD 2020 yang dipimpin oleh Bang Ridwan diberikan waktu 30 menit untuk melakukan observasi dan dokumentasi di sekitar makam Bosscha.

Di sekitar makam kami disambut pemandangan lepas kehijauan Perkebunan Teh Malabar. Di sebelah makam Bosscha terdapat hutan kecil Cagar Alam Malabar yang oleh warga sekitar disebut sebagai leuleuweungan. Di depan makam Bosscha terdapat sebuah prasasti yang menjelaskan jasa-jasa Bosscha semasa hidupnya.

Di makam Bosscha saya bertemu dengan Pak Aca dan Pak Ujang. Mereka adalah petugas jaga yang sedang membersihkan kompleks makam Bosscha. Saya berkesempatan berbincang dan mencari tahu tentang sejarah makam ini. Menurut penuturan mereka berdua, cerita ini didapat dari orang tua mereka yang dahulu bekerja bersama KAR Bosscha. Orang tua mereka bercerita dulu cagar alam ini sengaja dibuat oleh Bosscha karena beliau memang suka dengan suasana hutan dan sering menghabiskan waktu beristirahat di sini dan duduk di bangku yang dia buat ditengah Cagar Alam Malabar.

Bangku di makam Bosscha. Foto: Wildan Aji.

Mereka menambahkan bahwa selain cagar alam Malabar, tempat favorit kedua Bosscha adalah Gunung Nini yang letaknya tidak jauh dari lokasi makam Bosscha. Dari atas Gunung Nini Bosscha dapat memantau para pekerja yang sedang memetik daun teh sembari menunggangi kuda dan menikmati pemandangan hijaunya kawasan Perkebunan Teh Malabar.      

Menurut cerita, Bosscha kehilangan nyawanya karena kecelakaan kuda yang ditunggangi terperosok jatuh dan terluka yang menyebabkannya terkena tetanus. Menjelang kematianya, Bosscha berpesan agar dimakamkan di Cagar Alam Malabar yang terletak di tengah-tengah Perkebunan Teh Malabar. Pada tanggal 26 November 1928, di usia 63 tahun, Bosscha meninggal dunia. Makamnya sampai saat ini terawat dengan baik dan terbuka untuk dikunjungi orang.

Bentuk makam Bosscha sangat unik karena terbuat dari marmer yang kokoh. Di sekitarnya terdapat delapan tiang penyangga yang menahan atap berbentuk topi di atasnya. Topi itu adalah tiruan dari topi yang biasa digunakan oleh Bosscha sehari-hari. Di dalam cungkup makam terdapat foto dan nisan Bosscha. Pak Aca dan Pa Ujang kembali bercerita, bahwa ketika Bosscha meninggal, banyak sekali pekerja kebun yang merasa kehilangan dan menangisinya.

Cungkup makam Bosscha. Foto: Annisa Almunfahannah.

Di Kawasan Makam Bosscha dan Cagar Alam Malabar saat ini banyak sekali tumbuh pohon-pohon yang sudah tua, di antaranya berusia ratusan tahun. Pohon yang banyak tersebar di sana adalah: saninten, puspa, kesambi, ki beusi, hanjuang, dan lain-lain. Beberapa puluh meter di belakang Cagar Alam Malabar terdapat kelompok pohon teh dari Assam yang tidak pernah dipotong, dibiarkan tinggi hingga mencapai tujuh meter.

            Saat ini Kawasan Perkebunan Teh Malabar, termasuk kawasan Cagar Alam Malabar, Gunung Nini, dan Rumah Bosscha dijadikan lokasi wisata agrikultur dan dikelola oleh PT. Perkebunan Nasional (PTPN) VIII.

            Ngaleut momotoran APD 2020 ini penuh arti dan banyak hal baru yang dipelajari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s