Perjalanan Mengenal Sosok Bosscha dan Jejaknya di Pangalengan

Pabrik Teh Malabar.jpg

Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII – Komunitas Aleut

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Sebuah plang bertuliskan “selamat datang di kawasan Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII” berhasil melempar ingatan saya ke masa empat tahun yang lalu. Saat itu saya sedang berjuang melalui satu per satu tes dari perusahaan berlabel BUMN tersebut. Siapa sih fresh graduate yang nggak kesengsem menjadi karyawan BUMN? Setidaknya itu pikiran saya dulu. Gaji besar dan raut bahagia orang tua jadi impian. Tak berapa lama keluar seorang lelaki dari sebuah ruangan, yang mungkin umurnya sama ataupun tidak lebih tua dari saya dengan menggunakan jaket agak tebal. Wajar saja, suhu Pangalengan hari itu cukup membuat pundak dan leher bergidik. Hari yang diwarnai hujan hampir sepanjang hari tersebut saya habiskan untuk menyusuri jejak seorang Belanda yang lama tinggal di area perkebunan teh Malabar bernama Karel Albert Rudolf Bosscha. Di Pabrik Orthodoks inilah salah satu tempat di mana ia pernah meninggalkan jejak sebagai administratur perkebunan selama 32 tahun. Namanya bertengger di urutan pertama pada sebuah papan daftar administratur yang pernah menjabat di Perkebunan Malabar. Baca lebih lanjut

Berkunjung ke Rumah Bosscha!

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Saya termasuk orang yang suka dengan bangunan heritage. Apapun jenis maupun nilai yang dimiliki oleh bangunan tersebut. Saat tour mengenang K.A.R Bosccha tanggal 25 November 2017 lalu bersama mooi Bandung, saya berkesempatan untuk mengunjungi rumah Bosscha, salah seorang preanger planters yang paling berpengaruh di tanah priangan.

Rumah bergaya arsitektur eropa

Rumah ini terletak di tengah perkebunan teh Malabar, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kenapa disebut rumah Bosscha? Karena rumah ini merupakan kediaman dari Karel Albert Rudolf Bosscha selama ia memimpin perkebunan teh Malabar selama 30 tahun lebih.

Dari kejauhan terlihat bangunan paling mencolok diantara bangunan lain sekitarnya. Sebuah rumah bergaya arsitektur Eropa dengan cerobong menjulang dan pilar persegi serta kolom jendela melengkung. Bagian atap berbentuk segitiga mengadaptasi atap rumah tradisional. Batuan alam warna hitam pada dinding luar diberikan agar tidak terlihat kotor saat terkena debu atau cipratan tanah saat hujan. Dinding rumah yang terpasang kaca di hampir semua bagiannya, membuat cahaya bebas masuk ke dalam rumah.  Baca lebih lanjut

Wisata Pangalengan: Satu Hari Menyusuri Jejak Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung

 

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Nama Bosscha sangat lekat dengan sebuah tempat peneropongan bintang di kawasan Lembang. Nama tersebut diambil dari nama sang inisiator yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha. Selain membangun observatorium, Bosscha juga mengelola Perkebunan Teh Malabar di daerah Pangalengan, Bandung. Di Perkebunan Teh Malabar inilah Bosscha banyak menghabiskan masa hidupnya. Saat pendidikan belum menyentuh masyarakat, ia bangun sebuah sekolah. Saat Perkampungan masih gelap gulita, ia buat listrik menerangi setiap rumah. Saat penduduk sekitar tak memiliki penghasilan, ia kembangkan perkebunan teh yang dikelolanya hingga produk tehnya kini menjadi salah satu komoditas ekspor di Jawa Barat. Beberapa waktu lalu, team dari YourBandung mencoba menyusuri jejak yang ditinggalkan oleh Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung melalui sebuah tour wisata “one day trip to heart of the tea Pangalengan” yang diselenggarakan oleh Mooi Bandoeng.

Baca lebih lanjut

Bertandang Ke Kampung Adat Cikondang

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

“Pami dipasihan widi, insya Allah bakal kengeng, pami teu aya widi ku gusti, moal ayaan eta potona” (Kalau dikasih ijin, insya Allah bakal dapat, kalau tidak direstui sama Tuhan, nggak akan itu fotonya), begitu ucap Ki Anom Juhana sang Juru Kunci Kampung Cikondang saat ditanya mengenai aturan memotret di Hutan Larangan. “Tapi ayeuna mah dinten kemis, pasti ayaan geura potona”(Tapi karena sekarang hari Kamis, pasti muncul hasil fotonya), lanjut beliau sambil mempersilahkan untuk memotret. Hutan Larangan atau forbidden forest ini seringkali saya baca dan tonton pada sebuah film fiksi seperti Harry Potter, namun tak pernah saya sangka Hutan Larangan benar-benar ada dalam dunia nyata.

Kamis (11/5) lalu, saya bersama-sama dengan Komunitas Aleut berkesempatan menginjakkan kaki ke dalam Hutan Larangan Kampung Adat Cikondang yang terletak di kawasan Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kami diperbolehkan masuk ke dalam karena kebetulan hari tersebut bukan hari larangan kunjungan. Pada hari Selasa, Jumat dan Sabtu biasanya tak seorang pun dapat berkunjung ke Hutan Larangan, termasuk warga sekalipun. Selain itu, bagi yang beragama di luar muslim serta bagi wanita yang sedang datang bulan sama sekali tak diperbolehkan masuk ke dalam, walaupun pada hari diperbolehkannya kunjungan. Baca lebih lanjut

Orang Boer jadi Bandoenger

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Maret 1903, tibalah 20 orang berkulit putih di pelabuhan Tanjungpriok. Sebagian dari mereka berkumis tebal, sebagian lagi tidak. Ada yang terlihat sepuh, dan ada pula yang muda. Tapi mereka punya satu kesamaan, yakni sama-sama orang Boer yang ikut Perang Boer.

Sebelum tiba di Hindia Belanda, mereka mendekam di Penjara Welikada, Colombo. Setelah bebas dari penjara, mereka mendapat pilihan antara kembali ke Afrika Selatan atau tinggal di Hindia Belanda. Dan rupanya mereka memilih Hindia Belanda.

Nah, kembali ke Boer-er yang baru tiba di Tanjungpriok.

Setelah tiba di Tanjungpriok, mereka meneruskan perjalanan ke arah Bandung. Tujuan mereka sederhana, yakni mencoba peruntungan dan memulai hidup baru.

Setelah tiba di Bandung, 20 boer-er ini membuka usaha. Ada yang berternak sapi di Pangalengan dan Lembang. Ada pula yang berternak kuda Australia di Parongpong. Dan sebagian dari mereka membuka perkebunan di Tatar Priangan.

Tapi apa itu saja bentuk usaha mereka? Tentu tidak. Baca lebih lanjut

Balasan Untukmu, Sarie!

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

img-20161205-wa0004
Foto: @fan_fin (Komunitas Aleut)

Dear Sarie…

Sebelumnya aku minta maaf karena baru membalas suratmu, notif di gmailku akan suratmu tertelan oleh notif dari akun sosmedku. Maklum, sosmedku banyak.

Sarie, pernah nonton film Ada Apa Dengan Cinta? Menurutku sih pasti film itu sampai juga ke Pangalengan sana. Nah, masih ingat saat Cinta di “ciee…cieoleh Maura ketika dia akan pergi ngedate sama Borne? Itu yang sekarang sedang dilakukan Preanger dan Homann ketika aku nulis surat balasan ini untukmu. Mereka berdua menggodaku, terang saja, mereka terheran-heran karena ada yang meyuratiku.

Sarie…

Kamu tak perlu khawatir, aku sama sekali tak tertarik untuk menemanimu di Pangalengan. Hmmm, iya sih, aku tau di sana sejuk, pemandangannya bagus, sepi, dan jauh dari kebisingan. Tapi asal kamu tau juga, tak ada sedikitpun niat aku untuk pindah dari sini. Tempat ini sudah enak banget loh buat aku. Di sini aku tak kekurangan teman seperti kamu di sana. Seperti katamu, aku punya si Preanger dan Homann yang sekarang sedang asyik ngobrol tak jauh dariku. Si Majestic, kalau jam segini sih dia lagi ngopi-ngopi cantik sambil berjemur. Si GEBEO di barat sana, dia tak pernah kekurangan makanan. Dia selalu diantarkan sosis bakar oleh seseorang. Kami di sini senang. Angin malam yang dingin khas Bandung tak mampu membuat kami kedinginan, riuh suara air Ci Kapundung juga tak mampu menggerus kami. Maaf-maaf aja nih, hehehe…

Bentar,,, ketika aku baca suratmu ini, jujur aku kaget. Lupa kalau kita terlahir di era yang berdekatan, seperti katamu. Tapi aku rasa sebaiknya kita emang lebih baik seperti ini, kau di selatan sana dan aku di pusat kota sini. Aku tak akan siap jika harus bertukar peran denganmu.

Aku senang di sini, tak pernah kesepian. Siang malam selalu ramai, maka ketika suratmu baru kubalas hari ini, tentu kau tau alasannya bukan? Ya, aku sibuk, eh bukan sibuk deng, waktu santaiku sedikit. Apalagi semenjak aku punya walikota stylish seperti sekarang, huhuhu aku makin gak mau beranjak dari sini, dan ku kira begitupun dengan teman-temanku yang lain.

Tapi… Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Mengumpulkan Kejutan-Kejutan Kecil di Sepanjang Jalur Pantai Selatan

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

whatsapp-image-2016-12-13-at-08-30-17
Pantai Bubujung, Cipatujah. 

Dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), ada adegan di mana Cinta membacakan puisi buatan Rangga yang diiringi petikan gitar di sebuah cafe. Dalam puisinya, “Aku” sedang dalam kebimbangan. Bosan dengan kepenatan, kesepian, dan kesendirian. Di akhir puisi, “Aku” seolah menyerah dengan menunjuk hutan dan pantai sebagai tempat menyendiri.

***

Bila boleh saya memprediksi, mungkin di antara kalian sedang bersiasat untuk merencanakan liburan akhir tahun. Ada yang sudah mempersiapkan schedule untuk menghabiskan liburan ke pantai, atau mungkin juga ada yang sedang bersiap untuk mendaki gunung. Di pojok kamar, sebagian pemuda-pemudi sedang mencari-cari destinasi wisata favorit dengan keadaan terkini melalui Instagram. Yaahh, libur akhir tahun masih sekitar dua pekan lagi, tapi persiapan harus diperhitungkan sejak dini. Mungkin begitu gumam mereka.

Sebelas motor bermacam-macam merk  dengan kemampuan mengemudi yang biasa saja bersiap untuk menyusuri jalur Pantai Selatan. Satu motor menyusul, total dua belas motor. Satu mobil berwarna putih yang dikemudikan oleh perempuan tangguh yang dengan resmi kami juluki “Bibi Lung”, ikut serta dalam perjalanan ini. Bibi Lung tak sendiri, ia ditemani oleh perempuan –entah sepupu atau keponakannya– berkerudung manis dengan senyum yang penuh kalsium. Tak berlebihan saya sebut senyumnya penuh kalsium, senyum anggunnya berhasil menurunkan tekanan darah, melenturkan otot-otot, dan juga melancarkan peredaran darah beberapa kawan laki-laki lainnya,walau hanya beberapa detik. Baca lebih lanjut