Perjalanan Mengenal Sosok Bosscha dan Jejaknya di Pangalengan

Pabrik Teh Malabar.jpg

Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII – Komunitas Aleut

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Sebuah plang bertuliskan “selamat datang di kawasan Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII” berhasil melempar ingatan saya ke masa empat tahun yang lalu. Saat itu saya sedang berjuang melalui satu per satu tes dari perusahaan berlabel BUMN tersebut. Siapa sih fresh graduate yang nggak kesengsem menjadi karyawan BUMN? Setidaknya itu pikiran saya dulu. Gaji besar dan raut bahagia orang tua jadi impian. Tak berapa lama keluar seorang lelaki dari sebuah ruangan, yang mungkin umurnya sama ataupun tidak lebih tua dari saya dengan menggunakan jaket agak tebal. Wajar saja, suhu Pangalengan hari itu cukup membuat pundak dan leher bergidik. Hari yang diwarnai hujan hampir sepanjang hari tersebut saya habiskan untuk menyusuri jejak seorang Belanda yang lama tinggal di area perkebunan teh Malabar bernama Karel Albert Rudolf Bosscha. Di Pabrik Orthodoks inilah salah satu tempat di mana ia pernah meninggalkan jejak sebagai administratur perkebunan selama 32 tahun. Namanya bertengger di urutan pertama pada sebuah papan daftar administratur yang pernah menjabat di Perkebunan Malabar. Baca lebih lanjut

Berkunjung ke Rumah Bosscha!

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Saya termasuk orang yang suka dengan bangunan heritage. Apapun jenis maupun nilai yang dimiliki oleh bangunan tersebut. Saat tour mengenang K.A.R Bosccha tanggal 25 November 2017 lalu bersama mooi Bandung, saya berkesempatan untuk mengunjungi rumah Bosscha, salah seorang preanger planters yang paling berpengaruh di tanah priangan.

Rumah bergaya arsitektur eropa

Rumah ini terletak di tengah perkebunan teh Malabar, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kenapa disebut rumah Bosscha? Karena rumah ini merupakan kediaman dari Karel Albert Rudolf Bosscha selama ia memimpin perkebunan teh Malabar selama 30 tahun lebih.

Dari kejauhan terlihat bangunan paling mencolok diantara bangunan lain sekitarnya. Sebuah rumah bergaya arsitektur Eropa dengan cerobong menjulang dan pilar persegi serta kolom jendela melengkung. Bagian atap berbentuk segitiga mengadaptasi atap rumah tradisional. Batuan alam warna hitam pada dinding luar diberikan agar tidak terlihat kotor saat terkena debu atau cipratan tanah saat hujan. Dinding rumah yang terpasang kaca di hampir semua bagiannya, membuat cahaya bebas masuk ke dalam rumah.  Baca lebih lanjut

Wisata Pangalengan: Satu Hari Menyusuri Jejak Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung

 

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Nama Bosscha sangat lekat dengan sebuah tempat peneropongan bintang di kawasan Lembang. Nama tersebut diambil dari nama sang inisiator yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha. Selain membangun observatorium, Bosscha juga mengelola Perkebunan Teh Malabar di daerah Pangalengan, Bandung. Di Perkebunan Teh Malabar inilah Bosscha banyak menghabiskan masa hidupnya. Saat pendidikan belum menyentuh masyarakat, ia bangun sebuah sekolah. Saat Perkampungan masih gelap gulita, ia buat listrik menerangi setiap rumah. Saat penduduk sekitar tak memiliki penghasilan, ia kembangkan perkebunan teh yang dikelolanya hingga produk tehnya kini menjadi salah satu komoditas ekspor di Jawa Barat. Beberapa waktu lalu, team dari YourBandung mencoba menyusuri jejak yang ditinggalkan oleh Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung melalui sebuah tour wisata “one day trip to heart of the tea Pangalengan” yang diselenggarakan oleh Mooi Bandoeng.

Baca lebih lanjut

Bertandang Ke Kampung Adat Cikondang

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

“Pami dipasihan widi, insya Allah bakal kengeng, pami teu aya widi ku gusti, moal ayaan eta potona” (Kalau dikasih ijin, insya Allah bakal dapat, kalau tidak direstui sama Tuhan, nggak akan itu fotonya), begitu ucap Ki Anom Juhana sang Juru Kunci Kampung Cikondang saat ditanya mengenai aturan memotret di Hutan Larangan. “Tapi ayeuna mah dinten kemis, pasti ayaan geura potona”(Tapi karena sekarang hari Kamis, pasti muncul hasil fotonya), lanjut beliau sambil mempersilahkan untuk memotret. Hutan Larangan atau forbidden forest ini seringkali saya baca dan tonton pada sebuah film fiksi seperti Harry Potter, namun tak pernah saya sangka Hutan Larangan benar-benar ada dalam dunia nyata.

Kamis (11/5) lalu, saya bersama-sama dengan Komunitas Aleut berkesempatan menginjakkan kaki ke dalam Hutan Larangan Kampung Adat Cikondang yang terletak di kawasan Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kami diperbolehkan masuk ke dalam karena kebetulan hari tersebut bukan hari larangan kunjungan. Pada hari Selasa, Jumat dan Sabtu biasanya tak seorang pun dapat berkunjung ke Hutan Larangan, termasuk warga sekalipun. Selain itu, bagi yang beragama di luar muslim serta bagi wanita yang sedang datang bulan sama sekali tak diperbolehkan masuk ke dalam, walaupun pada hari diperbolehkannya kunjungan. Baca lebih lanjut

Orang Boer jadi Bandoenger

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Maret 1903, tibalah 20 orang berkulit putih di pelabuhan Tanjungpriok. Sebagian dari mereka berkumis tebal, sebagian lagi tidak. Ada yang terlihat sepuh, dan ada pula yang muda. Tapi mereka punya satu kesamaan, yakni sama-sama orang Boer yang ikut Perang Boer.

Sebelum tiba di Hindia Belanda, mereka mendekam di Penjara Welikada, Colombo. Setelah bebas dari penjara, mereka mendapat pilihan antara kembali ke Afrika Selatan atau tinggal di Hindia Belanda. Dan rupanya mereka memilih Hindia Belanda.

Nah, kembali ke Boer-er yang baru tiba di Tanjungpriok.

Setelah tiba di Tanjungpriok, mereka meneruskan perjalanan ke arah Bandung. Tujuan mereka sederhana, yakni mencoba peruntungan dan memulai hidup baru.

Setelah tiba di Bandung, 20 boer-er ini membuka usaha. Ada yang berternak sapi di Pangalengan dan Lembang. Ada pula yang berternak kuda Australia di Parongpong. Dan sebagian dari mereka membuka perkebunan di Tatar Priangan.

Tapi apa itu saja bentuk usaha mereka? Tentu tidak. Baca lebih lanjut

Balasan Untukmu, Sarie!

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

img-20161205-wa0004
Foto: @fan_fin (Komunitas Aleut)

Dear Sarie…

Sebelumnya aku minta maaf karena baru membalas suratmu, notif di gmailku akan suratmu tertelan oleh notif dari akun sosmedku. Maklum, sosmedku banyak.

Sarie, pernah nonton film Ada Apa Dengan Cinta? Menurutku sih pasti film itu sampai juga ke Pangalengan sana. Nah, masih ingat saat Cinta di “ciee…cieoleh Maura ketika dia akan pergi ngedate sama Borne? Itu yang sekarang sedang dilakukan Preanger dan Homann ketika aku nulis surat balasan ini untukmu. Mereka berdua menggodaku, terang saja, mereka terheran-heran karena ada yang meyuratiku.

Sarie…

Kamu tak perlu khawatir, aku sama sekali tak tertarik untuk menemanimu di Pangalengan. Hmmm, iya sih, aku tau di sana sejuk, pemandangannya bagus, sepi, dan jauh dari kebisingan. Tapi asal kamu tau juga, tak ada sedikitpun niat aku untuk pindah dari sini. Tempat ini sudah enak banget loh buat aku. Di sini aku tak kekurangan teman seperti kamu di sana. Seperti katamu, aku punya si Preanger dan Homann yang sekarang sedang asyik ngobrol tak jauh dariku. Si Majestic, kalau jam segini sih dia lagi ngopi-ngopi cantik sambil berjemur. Si GEBEO di barat sana, dia tak pernah kekurangan makanan. Dia selalu diantarkan sosis bakar oleh seseorang. Kami di sini senang. Angin malam yang dingin khas Bandung tak mampu membuat kami kedinginan, riuh suara air Ci Kapundung juga tak mampu menggerus kami. Maaf-maaf aja nih, hehehe…

Bentar,,, ketika aku baca suratmu ini, jujur aku kaget. Lupa kalau kita terlahir di era yang berdekatan, seperti katamu. Tapi aku rasa sebaiknya kita emang lebih baik seperti ini, kau di selatan sana dan aku di pusat kota sini. Aku tak akan siap jika harus bertukar peran denganmu.

Aku senang di sini, tak pernah kesepian. Siang malam selalu ramai, maka ketika suratmu baru kubalas hari ini, tentu kau tau alasannya bukan? Ya, aku sibuk, eh bukan sibuk deng, waktu santaiku sedikit. Apalagi semenjak aku punya walikota stylish seperti sekarang, huhuhu aku makin gak mau beranjak dari sini, dan ku kira begitupun dengan teman-temanku yang lain.

Tapi… Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Mengumpulkan Kejutan-Kejutan Kecil di Sepanjang Jalur Pantai Selatan

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

whatsapp-image-2016-12-13-at-08-30-17
Pantai Bubujung, Cipatujah. 

Dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), ada adegan di mana Cinta membacakan puisi buatan Rangga yang diiringi petikan gitar di sebuah cafe. Dalam puisinya, “Aku” sedang dalam kebimbangan. Bosan dengan kepenatan, kesepian, dan kesendirian. Di akhir puisi, “Aku” seolah menyerah dengan menunjuk hutan dan pantai sebagai tempat menyendiri.

***

Bila boleh saya memprediksi, mungkin di antara kalian sedang bersiasat untuk merencanakan liburan akhir tahun. Ada yang sudah mempersiapkan schedule untuk menghabiskan liburan ke pantai, atau mungkin juga ada yang sedang bersiap untuk mendaki gunung. Di pojok kamar, sebagian pemuda-pemudi sedang mencari-cari destinasi wisata favorit dengan keadaan terkini melalui Instagram. Yaahh, libur akhir tahun masih sekitar dua pekan lagi, tapi persiapan harus diperhitungkan sejak dini. Mungkin begitu gumam mereka.

Sebelas motor bermacam-macam merk  dengan kemampuan mengemudi yang biasa saja bersiap untuk menyusuri jalur Pantai Selatan. Satu motor menyusul, total dua belas motor. Satu mobil berwarna putih yang dikemudikan oleh perempuan tangguh yang dengan resmi kami juluki “Bibi Lung”, ikut serta dalam perjalanan ini. Bibi Lung tak sendiri, ia ditemani oleh perempuan –entah sepupu atau keponakannya– berkerudung manis dengan senyum yang penuh kalsium. Tak berlebihan saya sebut senyumnya penuh kalsium, senyum anggunnya berhasil menurunkan tekanan darah, melenturkan otot-otot, dan juga melancarkan peredaran darah beberapa kawan laki-laki lainnya,walau hanya beberapa detik. Baca lebih lanjut

Pabrik Teh Sedep

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

image

Pabrik Teh Sedep di lingkungan pergunungan yang bener-bener sedep. Selain pabrik, bangunan-bangunan sekitarnya yang selalu menggoda itu, akhirnya dapat terkunjungi juga.

Di dalam rumah Hoofdadministrateur ada plakat yang menyebutkan angka tahun 1930 untuk pabriknya, tetapi cap pada barang-barang rumah tangga menyebutkan angka tahun 1929. Sedangkan palakat khusus untuk hoofdaministrateur menyebut angka tahun 1907 (-1932). Jadi kapan sebenarnya perkebunan ini lahir? :-))

Bosscha dan Social Entrepreneurship

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

kar bosscha social entrepreneur

Foto asli: Koleksi Troppenmuseum

Jika tak ada kebijakan CSR, akankah sebuah perusahaan mendermakan sebagian pemasukannya? Secara prinsip ekonomi mustahil, ini disebut pemborosan, kecuali pendermaan tadi termasuk dalam bagian promosi.

Namun tentunya sebagai bagian dari masyarakat, mereka yang diberi kelebihan rezeki dibebankan sebuah tanggung jawab sosial untuk menyisihkan sebagian kekayaannya. Dan ya, pengusaha menjadi salah satu kekuatan dalam memajukan sekitar. Homo homini lupus, manusia memang menjadi serigala bagi sesamanya, namun jangan lupakan bahwa dasar kita adalah sebagai hewan yang bermasyarakat. Baca lebih lanjut

Jajal Geotrek II : Pangalengan

By : Ridwan Hutagalung

Truedee (Truedee Pustaka Sejati) pada hari Sabtu lalu (28 November 2009) menyelenggarakan Jajal Geotrek II ke Pangalengan dengan jumlah peserta sekitar 60 orang (mungkin dikurangi oleh beberapa orang yang batal ikut). Para penjajal ini berangkat dari halaman kampus ITB sekitar jam 7 pagi dengan
menggunakan dua buah bis. Jajal Geotrek II hanya mengambil sebagian kecil saja rute Geotrek 9 yang terdapat dalam buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, yaitu beberapa stop (atau spot) di sekitar Pangalengan. Walaupun hanya sebagian kecil, namun waktu yang dibutuhkan untuk menjalani rute ini ternyata mencapai satu hari penuh.

Saya berada di bis pertama dengan interpreter T. Bachtiar (TB), geograf berenergi tinggi yang selalu terlihat antusias dalam membangkitkan kesadaran masyarakat agar lebih mencintai Kota bandung. Sementara di bis kedua ada geolog Budi Brahmantyo (BB) sebagai interpreter. BB yang lebih kalem ini tak kurang energinya bila sudah bercerita tentang lingkungan dan proses-proses geologi yang terjadi di sekitar kita. Sungguh beruntung seluruh peserta Jajal Geotrek II ini karena didampingi langsung oleh dua interpreter yang andal dalam berbicara mengenai lingkungan Bandung.

Stop pertama di Gunung Puntang. BB menjelaskan beberapa tipe gunung api (dan sungai) yang disambung oleh TB dengan topik toponimi (dan etimologi) Malabar. Di sini seluruh peserta dapat menyaksikan peninggalan sejarah berupa puing-puing bangunan bekas kompleks stasiun pemancar pertama di Hindia Belanda. Kegiatan dilanjutkan dengan susur sungai Cigeureuh ke arah hulu. Perjalanan di tengah arus sungai ini adalah yang paling mengesankan. Di ruang yang lebih terbuka, Masih di atas badan sungai, di ruang yang lebih terbuka, BB bercerita tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kompleks Pegungungan Malabar sambil menjawab beberapa pertanyaan dari peserta. Saya yakin kuliah di atas sungai ini akan menjadi kuliah paling menarik bagi kebanyakan peserta.

Stop kedua di Rumah Bosscha. Di stop ini acara utamanya adalah makan siang yang enak. Soto Bandung dengan tempe, perkedel, telor rebus, dan sambal yang aneh karena tidak pedas. Sebelum makan BB sempat bercerita tentang peristiwa gempa bulan September lalu dan berbagai sebab yang menjelaskan kenapa daerah Pangalengan mengalami kerusakan cukup parah. Usai makan para peserta berkesempatan untuk melihat-lihat bagian dalam Rumah Bosscha yang tampak porak-poranda. Jamuan terakhir adalah tee dan kopi yang cawerang banget, hehe..

Stop ketiga di dekat kebun teh tua dari Assam, India, untuk menyaksikan dan bercerita tentang bentang alam Gunung Wayang-Windu serta proses-proses geothermal.

Stop keempat di kebun teh tua ternyata hanya berhasil mengusir pasangan yang sedang mojok di kerimbunan pepohonan teh yang tingginya mencapai 5-6 meter. Hujan yang menderas membatalkan kuliah di stop ini.

Stop kelima di tugu dan makam Bosscha diselingi insiden kecil tertabraknya seorang peserta oleh motoris yang tidak bertanggungjawab. Sungguh luar biasa, di bawah guyuran hujan semua peserta tampak terpesona oleh ceramah umum yang disampaikan bintang tamu of the day, Pak Upir, persis di depan makam Bosscha. Ceramah luar biasa ini berakhir antiklimaks saat Pak Upir bertanya, “sebentar, ini pesertanya ada berapa orang?.”

Stop keenam di sisi Situ Cileunca. Gerimis masih berlangsung intensif sehingga tidak banyak peserta yang turun ke tepi danau. Sebagian besar berdiri saja di sisi jalan mengamati bentangan alam yang tersaji di depan. Situ Cileunca sebetulnya merupakan danau kembar buatan di kawasan hutan belantara yang mulai dibuka pada tahun 1917. Kawasan hutan ini dimiliki secara pribadi oleh seorang Belanda bernama Kuhlan. Pembangunan danau seluas 390 hektare dan berkedalaman 17 meter ini berlangsung dari 1919 hingga 1926.

Stop ketujuh atau terakhir di Cukul Tea Estate berlangsung agak muram. Setelah iming-iming dan bayangan tentang keindahan Rumah Jerman (rumah dengan gaya tradisional Eropa), ternyata para peserta harus terhenyak menyadari bahwa rumah tersebut sudah tidak ada lagi. Yang tersisa di tempatnya hanyalah tumpukan berangkal dan gudang kecil yang sebelumnya merupakan bagian belakang rumah tersebut. Bangunan indah dan langka itu ternyata telah rata tanah akibat gempa. Kesedihan terlebih melanda sebagian peserta yang pernah menikmati keindahan rumah kayu itu dalam perjalanan Tambang Emas Cibaliung bersama Mahanagari pada bulan April lalu. Apa boleh buat …

Stop ketujuh sekaligus juga menutup seluruh rangkaian perjalanan Jajal Geotrek II dari truedee hari ini. Perjalanan dengan rute yang mungkin biasa saja namun saya yakin sudah mampu memberikan efek luar biasa bagi segenap pesertanya, termasuk saya sendiri yang relatif sudah sering aprak-aprakan di wilayah ini. Terimakasih untuk truedee, T. Bachtiar, dan Budi Brahmantyo. Semoga semua upaya ini betul-betul dapat menjadi inspirasi bagi semuanya dalam menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap Kota Bandung. Kecintaan yang tidak berakhir di mulut, namun dalam perbuatan yang nyata.

Ridwan Hutagalung
30 November 2009

Sedikit catatan tambahan (aspek sejarah populer saja) tentang objek yang disinggahi dalam Jajal Geotrek II.

1) Stasiun Radio Malabar / Gunung Puntang
Kawasan wisata Gunung Puntang yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Malabar, terletak di Desa dan Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Kawasan ini sempat pusat perhatian dunia pada tahun 1923 karena saat itu pemerintah Hindia Belanda berhasil mendirikan stasiun radio pemancar yang pertama dan terbesar di Asia. Untuk memancarkan gelombang radio digunakan bentangan antena sepanjang 2 km antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun. Ketinggian antena dari dasar lembah rata-rata 350 meter. Kontur lembah di kawasan yang terpencil ini ternyata sangat mendukung efektivitas rambat gelombang yang mengarah langsung ke Nederland. Sebagai pendukung tenaga listriknya, dibangun pula sejumlah pembangkit listrik, di antaranya PLTA Dago dan PLTA Plengan dan Lamadjan (di Pangalengan) serta sebuah PLTU di Dayeuh Kolot.

Pada tahun 1923 dibangun pula sebuah kompleks hunian bagi para karyawan stasiun pemancar ini. Kompleks yang disebut sebagai Radiodorf (Kampung Radio) ini memiliki sejumlah fasilitas seperti rumah karyawan, gedung pemancar, lapangan tenis, kolam renang, dan konon juga sebuah bioskop. Sayang semuanya kini hanya tinggal puing berserakan saja. Di seantero kawasan ini bisa dengan mudah kita temui sisa-sisa bangunan, bekas-bekas fondasi yang sering tertutup semak, serta sisa-sisa antena yang masih tersebar di area pegunungan. Saat ini di reruntuhan bangunan yang tersisa dipasang plakat-plakat nama para pejabat yang pernah tinggal di situ.

Perintisan dan pembangungan Stasiun Radio Malabar dilakukan oleh seorang ahli teknik elektro Dr. Ir. C.J. de Groot sejak 1916. Pembangunan antena di Gunung Puntang sudah dilakukannya sejak 1917. Setelah mengalami kegagalan, de Groot akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya pada tahun 1923 (antena Telefunken yang diterima di Batavia pada 1919, baru selesai terpasang pada 1922). Stasiun Radio Malabar kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal de Fock pada tanggal 5 Mei 1923.
Dr. de Groot yang meninggal pada tahun 1927 kemudian hari dikenang melalui sebuah nama jalan di Bandung Utara, Dr. de Grootweg (sekarang menjadi Jalan Siliwangi), sedangkan peristiwa telekomunikasi pertama diperingati melalui pendirian sebuah monumen berbentuk dua orang anak telanjang yang sedang berkomunikasi mengapit sebuah bola dunia di Tjitaroemplein. Sayangnya monumen tersebut sudah tidak ada lagi sekarang. Di bekas lokasinya sekarang didirikan Mesjid Istiqomah.

Stasiun Radio Malabar mengakhiri masa jayanya pada tahun 1946 dengan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Saat itu empat pemuda dari Angkatan Muda PTT yang bertugas menjaga Stasiun Radio Malabar menerima perintah dari Komandan Resimen yang sedang berada di Citere, Pangalengan. Isi perintahnya adalah penghancuran Stasiun Radio Malabar.

Radiodorf dan Stasiun Radio Malabar

Berbagai peralatan pemancar radio di Stasiun Radio Malabar

Reruntuhan Radiodorf

Sisa Kolam Cinta

2) Karl Albert Rudolf Bosscha
Perkebunan Teh Malabar sudah dibuka sejak tahun 1890 oleh Preangerplanter bernama Kerkhoven yang sebelumnya sudah membuka perkebunan teh di daerah Gambung, Ciwidey. Namun popularitas kawasan Kebun Teh Malabar berkembang dan memuncak setelah Kerkhoven mengangkat sepupunya, Bosscha, untuk menjadi administratur perkebunan ini pada tahun 1896.

Selain perkebunan, sejumlah jejak Bosscha lainnya masih tersebar di kawasan ini. Di antaranya sebuah rumah tinggal yang saat ini sedang direnovasi akibat kerusakan yang cukup parah oleh gempa bumi pada bulan September lalu. Sebelum kerusakan ini, berbagai barang pribadi peninggalan Bosscha masih tersimpan dan tertata rapi di rumah ini. Saat ini barang-barang tersebut diungsikan ke sebuah gudang sampai renovasi selesai dilakukan. Salah satu spot favorit Bosscha di perkebunan ini adalah sebuah hutan kecil yang sekarang menjadi lokasi makam dan tugu Bosscha. Beberapa pohon besar (termasuk yang langka) memberikan keteduhan pada kompleks makam ini.

Tak jauh dari makam, terdapat suatu area dengan pohon-pohon teh yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Pohon-pohon teh yang mencapai tinggi hingga 6 meter ini berasal dari biji-biji teh Assam (India) yang ditanam pada tahun 1896. Biji teh dari Assam inilah yang kemudian menjadi bibit bagi perkebunan teh di sekitar Pangalengan. Di belakang pasar Malabar hingga saat ini masih dapat juga ditemui sebuah rumah panggung tempat tinggal para buruh perkebunan di masa Bosscha. Konon rumah panggung yang sekarang dikenal dengan nama Bumi Hideung ini didirikan pada tahun 1896, saat yang sama dengan berdirinya Perkebunan Teh Malabar.

Nama Bosscha sebenarnya tak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Sifatnya yang dermawan telah melibatkannya dalam berbagai perkembangan dan kemajuan Kota Bandung di masa lalu. Beberapa di antaranya : pembangunan Technische Hooge School (THS atau ITB sekarang) beserta fasilitas laboratoriumnya, Sterrenwacht (peneropongan bintang) Bosscha di Lembang, PLTA Cilaki di Gunung Sorong, serta berbagai sumbangan untuk Doofstommen Instituut (Lembaga Bisu Tuli) dan Blinden Instituut (Lembaga Buta) di Jln. Cicendo dan Jln. Pajajaran, Leger des Heils (Bala Keselamatan), dan beberapa rumah sakit di Bandung.

Pohon Teh Assam

Perkebunan ini banyak berperan dalam pembangunan Kota Bandung pada masa Hindia Belanda.

Sumber tulisan :
– Wisata Bumi Cekungan Bandung (Brahmantyo & Bachtiar, Truedee Pustaka Sejati, Bandung, 2009)
– Jendela Bandung (Her Suganda, Penerbit Buku Kompas, Bandung, 2007)
– Radio Malabar – Herinneringen aan een Boiende Tijd 1914-1945 (Klaas Djikstra, pdf version)
– Buklet Radio Station Malabar en Overige Stations op de Bandoengsche Hoogvlakte (Gouvernements Post-Telegraaf en Telefoondienst in Nederlandsch-Indie, 1928)
– catatanide.multiply.com, ketjesuretje.multiply.com
– Artikel-artikel koran PR dan Kompas.